Disclaimer : tetep, Bleach bukan punya saya
Chapter 2
For your life
and your happiness
I will pry for you
Subuh telah tiba, suara burung-burung yang berkicau membangunkan Hinamori. Perlahan-lahan gadis tersebut membuka matanya. Rupanya ia tertidur sewaktu memikirkan mimpinya tersebut. Bekas air mata masih terlihat di wajahnya. Hinamori menghapus bekas air matanya tersebut. Ia tidak ingin terlihat sehabis menangis oleh dayang-dayang penunggunya di luar sana. Jika mereka melihat Hinamori menangis, maka seluruh Istana akan mengetahui bahwa gadis tersebut menangis, ujung-ujungnya Hinamori sendiri yang repot.
"Hinamori hime, apakah anda sudah bangun?" tanya dayang penunggunya di luar kamar sana.
"Ya, saya baru saja bangun." Jawab Hinamori.
"Apah anda ingin mandi sekarang?" tanya dayang tersebut.
Hinamori terdiam sebentar, lalu tiba-tiba gadis tersebut tersenyum.
"Mungkin nanti saja, sekarang saya ingin menemui kakak di halaman belakang istana." Jawab Hinamori kepada dayang tersebut.
"Baiklah." Lanjut dayang tersebut.
Hinamori bangkit dari tempat tidurnya. Beralih ke lemari pakaian. Gadis tersebut mengambil kimono berwarna putih dan hakama berwarna biru miliknya. Setelah memakai pakaian tersebut Hinamori mengikat rambutnya dan menyanggul rambut hitam miliknya.
"Sempurna." Pikirnya sambil memandangi sosoknya dari cermin.
Hinamori keluar dari kamarnya. Tampaklah olehnya enam orang dayang menunggu di depan pintunya sambil membungkuk hormat kepada dirinya.
"Selamat pagi Hinamori hime" sapa mereka kepada Hinamori
"Selamat pagi." Jawab Hinamori sambil tersenyum. Ia berusaha tersenyum sambil berusaha tidak mengingat mimpinya semalam.
Hinamori berjalan menuju taman belakang Istana. Sambil menghirup segarnya udara di subuh hari, Hinamori berusaha menenangkan pikirannya agar tidak mengingat lagi mimpinya tersebut. Walaupun ia tahu, sia-sia saja karena mimpinya tersebut adalah takdir di masa depan yang akan terjadi. Tapi, Hinamori berusaha agar mimpinya tersebut tidak mempengaruhi suasana hatinya hari ini.
Tak terasa Hinamori telah tiba di taman belakang istana. Di sana Hinamori berusaha mencari sesosok orang yang telah dikenalnya.
"Hoo...subuh sekali kau datang." Ucap seseorang dari belakang Hinamori
Hinamori menoleh ke belakang.
Hinamori tersenyum melihat sesseorang tersebut.
"Ah, nii-sama datang juga. Akhirnya."balas Hinamori kepada seorang pemuda berambut warna orange.
"Apa Ichigo nii-sama akan berlatih pedang hari ini?" tanya Hinamori kepada pemuda berambut orange yang dipanggil Ichigo tersebut.
"Tentu saja, karena itulah aku datang ke sini." Jawab pemuda bernama Ichigo tersebut.
"Apakah kau mau menjadi lawan tandingku hari ini?" tanya Ichigo kepada Hinamori, adiknya tersebut.
Hinamori mengangguk sambil tersenyum.
Datanglah seorang dayang yang membawakan dua buah pedang di tangannya. Ichigo dan Hinamori masing-masing mengambil sebilah pedang tersebut.
"Peraturanya sederhana, siapa yang dapat membuat lawannya terluka terlebih dahulu berarti dia yang menang." Jelas Ichigo kepada Hinamori.
Hinamori mengangguk mendengarkan peraturan tersebut.
Mereka berdua bersiap-siap. Memasang kuda-kuda tempur mereka.
"MULAI!" teriak seorang dayang yang menandakan bahwa battle kakak beradik tersebut dimulai.
Akan tetapi, mereka tetap diam saja. Tidak melakukan suatu gerakan untuk menyerang. Masing-masing hanya diam. Saling memandangi satu sama lain.
Mereka hanya saling memandang.
Seolah saling membaca hati dan perasaan masing-masing.
Tidak ada gerakan sama sekali.
Sudah beberapa saat tapi tidak ada tanda-tanda akan saling menyerang.
Tiba-tiba…..
Mereka sudah berpindah posisi, akan tetapi mereka saling memunggungi satu sama lain.
Rambut Hinamori yang semula disanggul tiba-tiba terlepas. Pita rambutnya jatuh ke tanah dan tercabik.
Sementara itu, pemuda Ichigo tersebut sedikit tercabik kerah kimononya.
"Wah, wah…..kemampuan berpedangmu sudah hebat sekali. Tidak disangka ternyata seorang putri mampu memainkan pedangya dengan indah." Komentar Ichigo kepada Hinamori. "Tentu saja, saya berguru kepada guru yang paling handal berpedang, anda yang telah mengajari saya berpedang, nii-sama." Jawab Hinamori sambil tersenyum.
"Tidak salah kalau aku menyebutmu sebagai ahli pedang teranggun di negeri ini. Sayangnya kau tak ingin aku mengumumkannya." lanjut Ichigo. "Apalah gunanya? Nanti saya hanya akan disibukkan dengan kemampuan berpedang dan pedekar berpedang yang menantang duel." Jawab Hinamori. Hinamori sangat mengerti, bahwa Ichigo, kakaknya yang kaisar negeri Jepang tersebut sering didatangi orang-orang yang ingin mencoba kemampuannya dengan sang kaisar.
"Yah, mungkin itu yang terbaik bagimu."lanjut Ichigo. Dia memandangi Hinamori, adiknya,dengan penuh sayang.
Tiba-tiba, datanglah seorang gadis berambut hitam berkilau dengan mata berwarna biru gelap menghampiri mereka.
"Aih, waktu subuh begini kalian pun masih berlatih pedang? Benar-benar kakak adik yang penuh dengan semangat ya….?"
Hinamori dan Ichigo serentak langsung melihat ke arah sumber suara tersebut, "Rukia nee-chan!" panggil Hinamori kepada gadis tersebut. Yang dipanggil hanya tersenyum saja memandangi mereka berdua. "Maaf,apa kami menggangu istirahatmu?" tanya Ichigo kepada gadis Rukia tersebut.
Rukia hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya. "Aku sudah tahu, bahwa ini kesukaan suamiku, berlatih pedang di subuh hari dengan adiknya." Jawab Rukia. Ichigo hanya tersenyum mendengarnya. "Nii-sama sangat beruntung mempunyai istri yang pengertian seperti dirimu Rukia nee-chan." Komentar Hinamori kepada pasangan tersebut. Yang dikomentari hanya diam sambil tersenyum.
"Hinamori hime, matahari hampir muncul, sudah waktunya anda bersiap-siap." Seorang dayang menghampiri Hinamori. Sesaat, mata gadis tersebut tampak sedih. "Baiklah, saya akan bersiap-siap. Saya pamit dulu, nii-sama, Rukia nee-chan." pamit Hinamori kepada pasangan tersebut. "Sesekali, datanglah ke tempatku, kita bisa bercerita bersama." Tawar Rukia kepada Hinamori. "Akan saya usahakan, permisi."pamit Hinamori sambil tersenyum. Gadis tersebut kemudian membalikkan diri dan hilang dari pandangan mereka berdua.
"Kenapa kau tadi tidak mencegahnya?" tanya Rukia kepada Ichigo selepas gadis tersebut menghilang dari pandangan mereka. "Apa maksudmu?" tanya Ichigo sambil memandangi istrinya tersebut. "Jangan pura-pura tidak tahu, kau lihat kan pandangan sedihnya tadi?" jelas Rukia kepada Ichigo.
Tentu saja Ichigo melihatnya, tidak, bukan sekedar melihat kesedihannya, Ichigo juga memahami arti kesedihan dari pandangan mata adiknya tersebut. "Kau ingin aku melakukan apa?"tanya Ichigo kepada Rukia. "Walaupun aku adalah kaisar negeri Jepang ini, aku tidak dapat melakukan apa-apa untuk mengubah takdir adikku itu." jawab Ichigo
"Di dunia ini, tidak ada yang tidak dapat dirubah selama kita selalu berusaha, kita bahkan dapat mengubah takdir kita."timpal Rukia. Dia membenci sikap pesimis suaminya ini jika mereka membicarakan Hinamori. "Ya, kita dapat mengubah takdir kita. Tapi, hanya satu saja yang tidak dapat kita ubah.."Ichigo berhenti sebentar. "Hanyatakdir kematian saja, yang tidak dapat kita ubah."lanjut Ichigo. Pandangan matanya memancarkan kesedihan. Rukia terdiam. Sesaat, keheningan menguasai.
"Yang bisa kulakukan hanyalah berdoa, semoga Hinamori dapat menjalani hidup yang membahagiakan." lanjut Ichigo sambil memandangi Istrinya dengan tersenyum. "Perasaanmu itu, pasti akan tersampaikan kepada Hinamori." komentar Rukia sambil tersenyum."Ya, semoga saja."doa Rukia dalam Hati.
***
Di singgasananya, Ichigo, sang Kaisar negeri Jepang sedang membahas masalah pemerintahannya dengan para menterinya.
"Hari ini, ada seseorang yang ingin saya perkenalkan kepada anda semua." Tegas Ichigo kepada para menterinya. "Dia adalah seorang pemuda yang telah lulus ujian seleksi kerajaan dengan nilai tertinggi dan akan menjadi menteri yang sederajat dengan anda semua."jelas Ichigo kepada para menterinya.
Sekejap suasana menjadi ramai. Baru kali ini dalam sejarah negeri Jepang seseorang yang lulus seleksi kerajaan langsung ditunjuk menjadi menteri pembantu sang Kaisar. "Harap saudara sekalian tenang, baiklah, persilahkan pemuda tersebut masuk." Perintah Ichigo kepada pengawal.
Pemuda tersebut melangkahkan kakinya dan masuk ke dalam ruangan tersebut. "Selamat datang." Sambut Ichigo. "Mulai hari ini, kami harapkan kerja anda untuk kelangsungan negeri Jepang ini."lanjut Ichigo kepada pemuda tersebut.
***
Hari sudah malam, kegelapan telah menyelimuti. Malam ini bukanlah malam yang indah. Tidak ada bintang dan bulan tersaput oleh awan. Hanya kegelapan yang mencekam. Hinamori memandangi langit malam tersebut. Hatinya dipenuhi rasa takut. Gadis tersebut takut untuk tidur. Dia takut untuk tidur dan harus melihat mimpi kehancuran itu lagi. Dia sangat takut sekali.
"Hinamori hime, malam sudah larut, anda harus tidur sekarang." Tegur seorang dayang kepada Hinamori. "Baiklah,saya tidur sekarang." Jawab Hinamori pasrah. "Perlukah kami menunggu di depan kamar anda?" tanya seorang dayang yang lain. "Tidak, tidak perlu, kalian pasti sudah lelah harus melayani saya seharian ini, kalian butuh istirahat untuk besok."jawab Hinamori. Dia tidak ingin merepotkan para dayangnya. "Baiklah, kami akan kembali untuk beristirahat, jika anda memerlukan kami, berteriaklah, dan kami akan segera datang." Lanjut dayang tersebut. Hinamori tersenyum dan menggangguk. "Kami permisi Hinamori hime." Pamit para dayang tersebut. Hinamori mengangguk.
"Hhh…."Hianomori mendesah. "Tak ada gunanya aku takut dengan mimpi itu." pikir Hinamori. "Lebih baik aku tidur saja."lanjut Hinamori. Hinamori kemudian mematikan lilin penerangan di kamarnya. Kegelapan mengelilingi gadis tersebut. Kemudian Dia membaringkan tubuhnya di kasurnya. Berusaha untuk tidur.
***
Di luar kamar Hinamori, sesosok bayangan sedang mengintai kamar tersebut. Sesosok pemuda berambut warna putih dengan mata berwarna hijau yang menusuk. Pemuda tersebut berpakaian hitam segelap malam saat itu. Hitsugaya bersembunyi di balik rimbunnya dedaunan pohon halaman kamar Hinamori. Hitsugaya melihat beberapa dayang keluar dari kamar Hinamori, kemudian menjauh dari tempat tersebut.
"Jadi ini kamar sang Tsukuyomi itu?" pikir Hitsugaya. "Lebih baik aku menyusup ke dalam untuk melihat seperti apa rupa orang yang akan kubunuh itu." lanjut Hitsugaya.
Lampu kamar tersebut padam. Hitsugaya menunggu dulu untuk memastikan bahwa sang Tsukuyomi telah tertidur. Setelah dua jam menunggu, Hitsugaya mulai menjalankan rencananya. Ia memakai topeng hitam untuk menyembunyikan wajahnya.
Ia melompat turun dari pohon dan mendarat tanpa suara ke tanah. Dengan cepat dan tanpa bersuara, dia berlari menuju pintu kamar tersebut. Dengan perlahan, ia membuka pintu geser kamar tersebut. Sangat pelan hingga Hitsugaya sendiri tidak dapat mendengar suara geser pintu tersebut. Setelah terbuka, Hitsugaya masuk ke kamar tersebut dan menutup kembali pintu geser tersebut. Belum selesai Hitsugaya menutu pintu tersebut sebilah pedang telah menempel di lehernya.
"Siapa kau?"tanya Hinamori sambil mengarahkan pedangnya ke leher Hitsugaya.
"Beraninya kau masuk ke daerah terlarang ini, rupanya kau tidak takut mati ya?" lanjut Hinamori.
Pedang Hinamori memantulkan seberkas cahaya.
