Diclaimer : Bleach is not my own

Chapter 3

When I see you

There is no happiness in my mind

But only a sorrow

"Siapa kau?"tanya Hinamori sambil mengarahkan pedangnya ke leher Hitsugaya.

"Beraninya kau masuk ke daerah terlarang ini, rupanya kau tidak takut mati ya?" lanjut Hinamori.

Pedang Hinamori memantulkan seberkas cahaya.

***

"Hmmm…." Hitsugaya tersenyum dari balik topengnya.

"Apa yang kau tertawakan?" tanya Hinamori dengan suara yang lembut tapi mematikan.

Tiba-tiba….

DUARRRRR

Asap memenuhi seisi kamar Hinamori. Terkejut, Hinamori menutup mata dan hidungnya, takut jika itu asap beracun. Begitu gadis itu membuka matanya, asap sudah menipis dan pintu kamarnya terbuka. Hinamori meraih pintu kamarnya dan langsung berlari untuk mengejar sosok bertopeng hitam tersebut.

"PENJAGA….!!!" teriak Hinamori sambil berlari membawa pedangnya. Suasana menjadi hiruk-pikuk dengan adanya bunyi bom asap yang dilempar serta teriakan Hinamori memanggil para penjaga.

Di tembok pembatas istana, Hinamori dapat melihatnya, sosok hitam yang berlari cepat. Dengan segera Hinamori meloncat ke atas dinding pembatas tersebut dan mengejar sosok tersebut. Sambil mengejar Hinamori berteriak kepada para penjaga dibawah yang berpapasan dengannya untuk mengejar sosok hitam yang dikejarnya tersebut.

Hinamori terus mengejar sosok tersebut. Terus hingga ke tempat yang paling terdalam dan terlarang di istana tersebut.

"Aneh…" pikir Hinamori. "Dia, mengetahui seluk-beluk istana yang rumit ini. Apalagi, dia bukan orang sembarang. Dia begitu lincah berlompatan dari satu tembok ke tembok yang lain. "pikir Hinamori.

Di tengah pemikirannya itu, tiba-tiba sosok yang ia kejar berhenti dan menunggunya. Sontak, Hinamori langsung berhenti mengejarnya. Mereka saling memandang. Tiba-tiba sosok tersebut membuka topeng hitamnya. Wajahnya tetap tidak terlihat karena cahaya bulan terhalang oleh awan.

"Kau cukup lincah juga untuk ukuran seorang putri." puji sosok hitam tersebut. Hinamori diam saja mendengar pujian dari sosok hitam tersebut. "Tak kusangka, kau bisa mengejarku sampai sini." lanjut sosok hitam tersebut. "Siapa kau? Kenapa kau paham seluk-beluk istana ini?" tanya Hinamori kepada sosok itu. Sosok hitam itu hanya terdiam mendengar pertanyaan Hinamori. "Hmmm…" sosok itu tersenyum. "Apa yang kau tertawakan?" tanya Hinamori, berusaha tenang tapi emosinya telah naik.

"Katakan saja, untuk membunuh keluarga kerajaan, aku harus paham seluk-beluk istana kan?" jawabnya dengan nada enteng. Hinamori kaget. Ini bukan jawaban yang ia harapkan. "Kau hendak membunuh kami?" tanya Hinamori tidak percaya "Kau hendak membunuh kami semua?" lanjutnya lagi. "Tenang saja, aku tidak akan membunuh kalian semua. Hanya satu orang saja yang menjadi sasaranku." lanjut sosok hitam tersebut.

"Siapa sasaranmu?" tanya Hinamori sambil berusaha tenang. "Kau pikir untuk apa aku membawamu ke tempat sepi ini?" jawab sosok hitam itu dengan nada yang dingin.

***

Hinamori tidak dapat mempercayai pendengarannya. Sosok itu mengatakan akan membunuhnya dengan nada bicara seakan sangat mudah untuk membunuh Hinamori.

"Aku…tidak akan menyerahkan nyawaku padamu." jawab Hinamori sambil mengacungkan pedangnya. "Hati-hati nona, aku harap kau mengerti cara menggunakan pedang." jawab sosok hitam itu dengan nada mengejek.

Mereka berdua telah memasang kuda-kuda mereka masing-masing, akan tetapi mereka tidak langsung menyerang. Sepertinya mereka sedang mengukur kemampuan lawannya dan cara terbaik untuk merobohkan lawan mereka.

Tiba-tiba, pedang mereka telah saling bertentangan satu sama lain. Kelihatan sekali dari kemampuan bertarung, mereka seimbang. Pedang mereka saling terkunci sehingga tidak bisa bergerak sama sekali.

Secepat kilat Hinamori melesat kebawah untuk menendang kakinya. Taktik itu berhasil karena sosok itu kehilangan keseimbangan dan jatuh dari tembok pembatas. Akan tetapi, sosok itu berputar sehingga mendarat dengan mulus. Hinamori meloncat kebawah dan melakukan sabetan dengan pedangnya akan tetapi ditahan oleh pedang lawannya.

Petarungan itu terus berlangsung. Hinamori terus menyerang dan sosok hitam itu dapat menepis semua serangan Hinamori. Mereka terus berloncatan kesana kemari hingga mereka tiba di hutan bambu di dalam istana. Mereka memanjat dan berpegangan pada dahan bambu tersebut. Pohon bambu yang dipegang sosok itu melengkung kearah bawah sementara pohon bambu yang dipegang Hinamori terayun ke atas. Di tengah, mereka saling bertemu dan berusaha menyerang dengan pedang mereka.

Mereka terus bertarung dan meyerang hingga mereka berdua terduduk jatuh karena kelelahan. Entah berapa lama mereka bertarung, akan tetapi jelas sudah lama karena tubuh mereka sudah tidak tahan lagi. Mereka tidak melonggarkan kewaspadaan mereka, takut jika lawan mereka memanfaatkan kesempatan tersebut untuk menjatuhkan dirinya.

"Aku akui, dirimu sangat hebat. Jauh lebih hebat dari yang kubayangkan."ucap sosok hitam tersebut memecah keheningan. "Kuakui aku terlalu sombong menganggap diriku dapat membunuhmu sekarang." lanjut sosok hitam tersebut. Awan perlahan bergerak sehingga sinar bulan mulai muncul. Hinamori memperhatikan sosok hitam yang berbicara kepadanya. Sinar bulan mulai menampakkan pada Hinamori siapa sosok hitam tersebut.

"Di saat kita bertemu lagi, itulah saat kematianmu." lanjut sosok hitam tersebut. Sinar bulan makin jelas menyinari sosok hitam tersebut. Hinamori bahkan tidak medengarkan perkataan terakhir dari sosok hitam tersebut. Gadis tersebut terlalu terpana oleh sosok hitam yang di depannya. Yang ia lihat adalah sosok pemuda dengan rambut secerah bulan dan mata sewarna padang rumput yang hijau.

Hinamori tidak lagi mendengar apa yang dikatakan oleh pemuda itu, ia hanya terpana melihatnya. Dan tiba-tiba, pemuda itu berlari menjauh darinya dan kemudian hilang dari pandangan gadis tersebut.

***

Ada rasa kecewa dalam hati Hinamori begitu pemuda itu menghilang. Ia masih ingin menatap wajah pemuda itu, wajah yang menunjukkan kekuatan tekad untuk mencapai maksudnya. Dalam hatinya, ada perasaan yang begitu membahagiakan sewaktu menatap wajahnya. Akan tetapi di saat yang bersamaan, ada perasaan menyakitkan dalam hatinya.

Hinamori masih terduduk di tanah. Mengagumi sosok yang baru saja pergi dari pandangannya. Bulan bersinar dengan terang, dan angin bertiup lembut membawa kelopak bunga sakura yang berguguran.

Hinamori tidak menyadari sesosok wanita datang menghampiri Hinamori. "Saya bisa lihat engkau jatuh cinta pada pemuda itu." ucap sesosok wanita tersebut. Hinamori menoleh kearah sumber suara tersebut dan kaget melihat wanita tersebut. "Anda…." ucapan Hinamori terpotong.

***

Hitsugaya berlari menjauhi istana. Ia masih mendengar hiruk-pikuk penjaga istana yang masih berusaha mencarinya. "Heh, penjaga yang tak berguna." pikir Hitsugaya "bahkan level mereka masih di bawah putri itu." pikir Hitsugaya sambil kembali mengingat gadis Tsukuyomi itu.

Ia berhenti berlari. Sekarang ia sudah sangat jauh dari istana dan berada di padang rumput yang luas. Ia memandang bulan. Memandang bulan membuatnya mengingat gadis itu kembali. "Gadis yang cantik" pikirnya "Begitu cantik dan mempesona, sorot matanya seperti mengetahui segalanya. Terlihat kuat tapi sangat rapuh."pikir Hitsugaya lagi.

"Sepertinya sayang jika aku membunuhnya dengan cepat. Mungkin sedikit permainan dengannya tidak akan mengganggu tujuanku membunuhnya." pikir Hitsugaya. "Sepertinya aku menemukan mainan yang baru."lanjutnya lagi. "Aku menunggu pertemuan kita yang berikutnya Tsukuyomi." ucap Hitsugaya sambil memandangi bulan.

***

"Hah, aku sangat khawatir dengan keadaanmu." Kata Ichigo sambil duduk bersila sementara satu tangannya memegang kepalanya. "Maafkan saya telah membuat kakak merasa khawatir." Hinamori menundukkan kepalanya, tanda menyesal yang mendalam. "Tapi syukurlah engkau baik-baik saja." lanjut Ichigo. Hinamori terdiam, ia masih mengingat kembali kejadian yang baru dialaminya.

"Jadi, akhirnya mereka datang untuk membunuhmu?" tanya Ichigo kepada adiknya. Hinamori hanya mengangguk. "Tak kusangka, dendam mereka dari generasi ke generasi akan mendalam seperti ini." lanjut Ichigo. Hinamori hanya terdiam. "Apakah kau yakin aku tidak usah membantumu menghadapi situasi ini?" tanya Ichigo lagi. "Tolong, percayalah pada saya."akhirnya Hinamori menjawab. Ichigo terdiam, "Baiklah, aku harap engkau mengetahui apa yang kau lakukan Hinamori." akhirnya Ichigo mengalah.

Ichigo berdiri dan membuka pintu kamar Hinamori, "Engkau pasti lelah, istirahatlah." kata Ichigo lalu keluar dari kamar itu. Hinamori hanya terdiam. Ia masih mengingat pemuda itu lagi. Selintas ia mengingat apa yang dikatakan oleh wanita itu, "Saya jatuh cinta….?"

A/N

mind to review?