Disclaimer : tetep....Bleach is not my own

Chapter 4

My heart is aching

Am I in love?

Is this what you called love?

"Saya jatuh cinta….?" ucap Hinamori dengan pelan

Ia tidak yakin dengan perasaan yang ada dalam hatinya tersebut. Jatuh cinta? Ia? Pada pemuda tersebut? "Itu adalah hal yang mustahil" pikir Hinamori. Kenapa ia harus jatuh cinta pada seseorang yang akan membunuh dirinya.

Akan tetapi, ia tidak memungkiri, bahwa hatinya begitu bahagia bila mengingat pemuda tersebut. Warna rambutnya, warna matanya, sulit untuk diungkapkan. "Andai aku tahu namanya…" Hinamori berandai, "Hei, tunggu…." tiba-tiba Hinamori tersadar, "Memangnya kenapa kalau aku tahu namanya? Tidak ada gunanya, yang aku perlu tahu hanyalah ia mencoba membunuhku." sentak Hinamori pada dirinya sendiri.

Mengingat tujuan pemuda itu untuk membunuhnya, hati Hinamori menjadi sakit. Sakit sekali, bagaikan ditusuk seribu jarum. Begitu pedih, hingga mungkin ia sanggup mengeluarkan air mata darah.

"Apa yang terjadi padaku? Mengapa hanya mengingat pemuda itu hatiku bisa merasakan perasaan bahagia dan sakit seperti ini?" pikir Hinamori tidak mengerti.

"Seperti yang saya katakan, engkau jatuh cinta." ucap seorang wanita.

Hinamori menoleh kearah sumber suara tersebut. Lagi-lagi ia melihat sosok wanita yang sama sewaktu ia selesai bertarung dengan pemuda itu.

***

Sesosok wanita yang memakai furisode sedang duduk di depan pintu kamarnya yang menghadap langsung ke kebun. Ia duduk sambil memandang Hinamori dengan tatapan penuh kasih sayang. Rambutnya hitam berkilau dikepang ke depan. Matanya berwarna biru yang menenangkan siapa saja yang menatapnya. Sehelai selendang berkibar di antara kedua tangannya,

"Unohana-san" ucap Hinamori kepada wanita tersebut, "Kenapa anda…." Hinamori tidak melanjutkan pertanyaannya. Wanita yang dipanggil Unohana tersebut hanya tersenyum. Melihat senyum itu, hati Hinamori merasa tenang.

"Saya hanya khawatir, sepertinya engkau sedang bingung dengan hatimu." ucap Unohana. Hinamori hanya diam. "Saya pikir, mungkin saya dapat membantu." lanjut Unohana, "Apakah saya salah?" tanyanya lagi.

Hinamori terdiam, kemudia ia menutup matanya dan menundukkan kepalanya, "Anda benar, saat ini saya sedang bingung dengan perasaan di hati saya ini." aku Hinamori. "Apakah ini…cinta?" ucap Hinamori dengan ragu.

"Engkau sudah mengetahui jawabannya kan?" ucap Unohana sambil tersenyum lembut "Akan tetapi, ini tidak boleh. Saya TIDAK BOLEH merasakan cinta." bantah Hinamori dengan penekanan pada kata tidak boleh. "Kenapa tidak boleh?" tanya Unohana dengan lembut, "Karena, jika saya merasakan cinta, maka Negara ini akan…" Hinamori tidak melanjutkan perkatannya. Unohana hanya memandang Hinamori dengan tatapan yang lembut.

"Engkau mengetahui akibatnya kan jika seorang Tsukuyomi merasakan cinta?" tanya Unohana dengan nada suara yang sedih. "Haruskah saya menghapus rasa cinta ini?" tanya Hinamori ragu-ragu. Unohana hanya mengangkat bahunya sambil tersenyum lembut, "Semua ini, tergantung padamu," jawabnya lembut.

Unohana bangkit dari duduknya. Kelopak bunga sakura bertebangan ditiup angin. Dengan selendangnya, Unohana melayang dan terbang menuju langit. Hinamori memandang kepergian Unohana dengan perasaan yang berat di hatinya.

"Haruskah aku membunuh perasaan yang indah ini?" pikir Hinamori.

***

Hinamori berdiri di tengah puing-puing bangunan yang berserakan. Semua bangunan di sekelilingnya hancur. Semuanya terjilat oleh api. Tidak ada apapun yang tersisa. Tidak makhluk hidup maupun semua rakyatnya. Pemandangan di sekelilingnya bagaikan neraka.

"Ini….mimpi kehancuran lagi kah?" pikir Hinamori

"Siapa…yang menghancurkan negaraku?" ucap Hinamori dengan putus asa

"Akulah orangnya." Sebuah suara terdengar dari belakang Hinamori.

Hinamori mendadak menoleh kearah suara itu. Sebelum melihatnya, pandangan Hinamori menjadi gelap. Hitam.

Hinamori terbangun dari tidurnya. Ia memperhatikan keadaan sekelilingnya. Ia masih di kamarnya. Rupanya ia tertidur. Hinamori menghela napas dengan putus asa. "Siapa yang hendak menghancurkan negeriku?" pikir Hinamori.

***

Hari sudah pagi, tapi tak ada perasaan yang menyenangkan dalam hati Hinamori. Ia masih bingung dengan mimpinya, dengan hatinya, dan juga tentang pemuda itu. Mengingat pemuda itu wajah Hinamori langsung memerah.

"Gawat, ini benar-benar gawat, rupanya saya telah jatuh cinta padanya." pikir Hinamori sambil menggelengkan kepalanya. Kepala Hinamori sangat pusing memikirkan semua kejadian tersebut. "Mungkin, lebih baik saya mencari udara segar saja." pikir Hinamori kepada dirinya sendiri. Ia keluar dari kamarnya dan menemukan para dayang sedang duduk di depan pintu kamarnya.

"Putri, anda hendak kemana?" tanya salah seorang dayang. Semenjak kejadian tadi malam, rupanya Ichigo tidak mau ambil resiko kalau pembunuh yang mengincar nyawa adiknya tersebut dapat menyusup lagi ke kamarnya. Yah, Hinamori sendiri tidak ambil pusing dengan apa yang telah dilakukan kakaknya. Ia memahami kekhawatiran kakaknya.

"Saya…hendak ke…tempat permaisuri Rukia." ucapnya tanpa ia sadari. "Kami akan menemani anda." kata dayang tersebut. "Tidak usah, hari sudah pagi, penjaga juga sedang berjaga, lebih baik kalian beristirahat." Hinamori menolak dengan halus. Jujur, ia ingin sendiri. "Tapi…." bantah seorang dayang, "Kumohon…." mohon Hinamori kepada dayang tersebut. Mendengar Hinamori yang memohon para dayang tidak dapat melakukan apa-apa kecuali mengabulkan permohonan Hinamori tersebut.

***

Hinamori berjalan ke tempat permaisuri Rukia dengan pikiran yang kosong. "Yah, mungkin aku bisa meminta pendapat kakak Rukia." pikir Hinamori. Hinamori sudah sampai di depan istana permaisuri Rukia. Ia menyuruh dayang penjaga untuk mengumumkan kedatangan Hinamori kepada kakak iparnya tersebut.

"Permaisuri Rukia, Putri Hinamori hendak bertemu dengan anda." umum dayang penjaga tersebut. "Persilahkan putri untuk masuk." terdengar sahutan dari dalam. Hinamori masuk ke dalam ruangan terebut. Di dalam, ia melihat Rukia sedang menulis sesuatu. Rukia menyuruh seorang dayang yang menunggu di dalam ruangan tersebut untuk keluar. Setelah dayang tersebut keluar ruangan, barulah Rukia berbicara kepada Hinamori.

"Hinamori, bgaimana keadaanmu? Semalam tentu kau telah menjalani malam yang melelahkan." tanya Rukia secara beruntun. Hinamori hanya tersenyum lemah mendengar pertanyaan kakak iparnya tersebut. "Apakah ada sesuatu yang mengganggu pikiranmu?" tanya Rukia.

Hinamori hanya terdiam. Rukia menunggu respon Hinamori dengan sabar. "Kakak Rukia, menurutmu…salahkah jika diriku merasakan cinta?" tanya Hinamori dengan ragu-ragu. Rukia terkejut dengan pertanyaan Hinamori, tapi kemudian tersenyum lembut memandang adik iparnya tersebut.

"Saya dengar dari Ichigo, penyusup semalam adalah seorang pemuda. Apakah…" tanya Rukia secara menggantung. Wajah Hinamori memerah mendengar pertanyaan tersebut. Rukia hanya tersenyum melihat wajah Hinamori memerah. "Saya tidak bisa memutuskan apakah merasakan cinta itu adalah suatu kesalahan." jawab Rukia dengan wajah yang sedih, "Saya tidak bisa menjawabnya, jika yang mengalami hal itu adalah dirimu Hinamori." lanjut Rukia lagi.

"Tapi, satu hal yang saya bisa katakan, semua pilihan ada resikonya." Rukia terhenti sejenak. "Jika engkau memilih satu pilihan, jangan menyesali apa yang telah engkau pilih. Hadapi semua resiko dengan tegar." jelas Rukia. "Walaupun….apa yang kupilih, akan mendatangkan kehancuran bagi negeri ini?" tanya Hinamori ragu-ragu. Rukia tersenyum, "Itu adalah resiko dari jalan yang kau pilih." jawab Rukia lembut.

Hinamori hanya terdiam, tidak tahu harus mengatakan apa. "Aku ingin engkau membaca buku ini." kata Rukia sambil menyodorkan sebuah buku. "Apa ini?" tanya Hinamori, "Ini adalah buku legenda negeri kita ini." jawab Rukia, "Semua hal mengenai lahirnya negeri kita ini, ada di dalam buku ini." lanjut Rukia. Hinamori menerima buku bersampul kain biru yang disodorkan oleh Rukia. Di sampulnya tertulis Ketika Kegelapan Membunuh Bulan.

"Apa yang…." tanya Hinamori akan tetapi langsung dipotong oleh Rukia, "Baca saja, dan suatu saat engkau akan mengerti."desak Rukia. Hinamori menerima buku itu tanpa pertanyaan lagi.

"Kalau begitu, saya permisi dulu kakak Rukia." Hinamori berpamitan. "Iya, seringlah ke sini. Engkau boleh bercerita apa saja." tawar Rukia. Hinamori hanya tersenyum lalu keluar dari ruangan tersebut.

***

Rukia memandang sosok Hinamori hingga gadis itu menghilang dari hadapannya. Kemudian Rukia mengalihkan pandangannya ke pintu yang menghadap kearah kebun. Kelopak bunga sakura bertebangan ditiup oleh angin. "Nasihat yang cukup bijaksana, tidak kurang dari apa yang kuharapkan." Sesosok wanita melayang dengan menggunakan selendang di antara dua tangannya.

"Unohana-san." sapa Rukia pada wanita itu. "Sebuah nasihat yang bijaksana untuk Tsukuyomi yang begitu rapuh." Unohana berbicara dengan suara yang lembut. Rukia hanya tersenyum mendengar perkataan Unohana. "Engkau sengaja meminjamkan buku itu." kata Unohana. "Saya hanya ingin agar dia menemukan kebenaran." jawab Rukia dengan wajah sedih. "Kebenaran, harus diungkap walaupun satu kata." lanjut Unohana dengan wajah yang sedih.

"Kami, selalu berharap, agar Hinamori dapat menemukan kebahagiaan miliknya." kata Rukia dengan wajah yang sedih, "Untuk itu, yang bisa saya dan Ichigo lakukan hanyalah membimbing Hinamori menuju kebenaran tersebut." lanjut Rukia.

Angin kembali bertiup lembut, membawa kelopak bunga sakura. Kedua sosok itu hanya terdiam.

A/N

huwaaa...gaje baget gak sih?

Review?