Disclaimer : nyaaa...senangnya hatiku Bleach itu punyaku *digepok fans dan Kubo Tite*

aku belum selesai tau....senangnya bleach punyaku -spasi- tapi bohong

punya Kubo Tite kok

Chapter 5

Confusing memories

And confusing history

Both were mixed

Into a confusing facts

Hinamori berjalan kembali menuju kamarnya. Tangannya menggengam buku bersampul kain biru yang diberikan oleh Rukia. "Apa maksud Rukia nee-chan memberiku buku ini?" pikir Hinamori. "Ini kan buku sejarah negeri ini." pikirnya sambil membuka lembaran halaman buku tersebut.

Seperti buku sejarah yang biasanya, halaman pertama biasanya bercerita mengenai legenda terbentuknya negara tersebut. Hinamori membaca dengan enggan. Membaca legenda ini berarti mengingatkannya bahwa ia terlahir sebagai seorang miko princess.

Hinamori membaca baris pertama, akan tetapi tiba-tiba ia berhenti berjalan. Ia membaca dengan serius. Bola matanya bergerak-gerak dengan cepat. Wajahnya menunjukkan kebingungan dan ketidakmengertiannya. Hinamori menghentikan bacaannya dan kemudian berlari menuju kamarnya sambil memeluk buku tersebut. Tidak dihiraukannya tundukan hormat para dayang dan para penjaga. Yang ada di pikiran gadis tersebut hanya satu, ia ingin kembali ke kamarnya untuk membaca buku tersebut secara lengkap.

Hinamori dapat melihat pintu kamarnya, ia membuka dan menutup pintu kamarnya secara kasar. Dari dalam, ia berpesan kepada para dayang di luar kamarnya untuk tidak mengganggunya untuk membaca.

***

Para dayang di luar kamar Hinamori gelisah. Pasalnya karena sudah sehari semalam Hinamori berada di kamarnya dan tidak membiarkan seorangpun memasuki kamarnya. Jika hanya itu saja, mungkin para dayang tidak akan begitu gelisah, masalahnya adalah Hinamori menolak untuk makan minum selama seharian. Hal inilah yang membuat mereka gelisah. Apakah putri mereka itu sakit, atau mungkin pingsan? Tak ada seorangpun yang tahu.

Mereka mencoba memaksa masuk, tentu saja. Akan tetapi rupanya kekuatan spiritual Hinamori yang sangat kuat telah memasang kekkai pada kamarnya tersebut sehingga tak dapat dimasuki oleh siapapun. Hal ini makin membuat para dayang dan penjaga istana merasa resah. Mereka sangat khawatir kepada putri mereka tersebut. Perihal Hinamori yang mengunci diri dalam kamar tersebut sampai juga ke telinga Ichigo.

Ichigo langsung datang ke kamar adiknya tersebut dengan ditemani oleh Rukia. Wajah mereka menunjukkan kecemasan yang sangat.

"Kenapa bisa begini?" Tanya Ichigo dengan tenang kepada para dayang, akan tetapi wajahnya menunjukkan ia panik memikirkan keadaan adiknya tersebut.

"Entahlah, kemarin Putri Hinamori melarang kami untuk memasuki kamarnya, akan tetapi beliau tidak menyahut ketika kami menawarinya makanan. Kami pikir beliau tertidur, baru pagi ini kami merasa curiga dan memaksa masuk, akan tetapi tidak berhasil." Jawab salah seorang dayang.

"Kenapa begini? Harusnya kalian curiga lebih awal!" tegur Ichigo kepada para dayang tersebut.

Para dayang hanya menunduk pasrah, mereka tidak tahu harus menjawab apa.

"Ichigo, tidak perlu membentak. Engkau hanya akan membuat para dayang merasa takut dan khawatir." Tegur Rukia dengan lembut. Ichigo hanya terdiam saja ditegur oleh Rukia. Perasaan paniknya kepada adiknya membuatnya kehilangan kemampuan untuk mengontrol emosi.

"Pantas saja tidak ada yang bisa masuk ke kamar ini." Ucap Rukia kepada semua yang ada di sana. "Kamar ini dilapisi kekkai yang sangat kuat dan hanya bisa ditembus oleh orang yang memiliki kekuatan spiritual yang tinggi." Jelas Rukia. "Apakah kau bisa masuk kedalam?" Tanya Ichigo. Rukia tersenyum lembut kepada Ichigo.

Suasana menjadi tenang. Rukia menutup matanya dan berkonsentrasi. Tangannya tersender pada pintu geser kamar Hinamori. Cahaya berwarna pelangi berpendar keluar dari tubuh Rukia. Angin bertiup mengelilingi tubuh Rukia, semakin lama tubuh Rukia semakin transparan sehingga tidak terlihat sama sekali.

Semua yang menyaksikan kejadian tersebut hanya terpana. Tidak tahu harus melakukan apa.

***

Rukia muncul di dalam kamar Hinamori. Di dalam, Rukia melihat Hinamori sedang menangis tersedu-sedu. Di sekeliling gadis itu bertebaran buku-buku dan lembaran kertas. Rukia hanya bisa terdiam dan memandang gadis itu dengan sendu.

"Rukia nee-chan, apa maksudnya ini..?" Tanya Hinamori dengan tersedu-sedu dan mengacungkan buku yang kemarin Rukia pinjamkan kepada Hinamori. Rukia hanya terdiam. "Apa maksudnya buku ini?" ulang Hinamori sambil mengacungkan buku tersebut ke Rukia. "Inilah kenyatannya. Inilah kebohongan yang terkubur dalam dari pendahulu kita." Ucap Rukia. Hinamori hanya terdiam. Gadis itu hanya menangis, karena tidak tahu lagi harus melakukan apa.

***

Semua orang yang menunggu di depan kamar Hinamori tampak tegang. Mereka sangat gelisah memikirkan keadaan putri mereka tersebut. Begitu pula Ichigo. Selain karena ia khawatir memikirkan keadaan adiknya, ia juga khawatir memikirkan keadaan istrinya tersebut.

"Ichigo, engkau dan yang lain sudah bisa masuk." Terdengar suara Rukia dari dalam kamar Hinamori. Ichigo membuka pintu kamar Hinamori. Di dalam ia dapati adiknya itu sedang tertidur dan Rukia yang sedang memangku kepala Hinamori. Buku-buku dan lembaran kertas bertebaran di sekeliling kamar itu.

"Bagaimana keadaan Hinamori?" Tanya Ichigo dengan cemas. "Tidak perlu cemas, ia hanya tertidur karena kelelahan." Ujar Rukia dengan tersenyum. Ichigo menari nafas lega lalu langsung terduduk, kemudian ia memperhatikan keadaan sekitar. "Apa yang terjadi?" Tanya Ichigo kepada Rukia, akan tetapi yang ditanya hanya menunduk terdiam dan memasang wajah yang sendu.

Ichigo meraih sebuah buku yang terdapat dalam jangkauannya. Sebuah buku bersampul kain biru dengan sampul Ketika Kegelapan Membunuh Bulan. Ichigo membuka buku tersebut dan membacanya, tak lama kemudian ia terdiam membaca isi buku tersebut. "Apa maksudnya ini Rukia?" Tanya Ichigo kepada Rukia, yang ditanya hanya memasang wajah yang sendu.

Rukia hanya terdiam, akan tetapi Ichigo juga terdiam menunggu respon Rukia. Merasa tak mungkin untuk berbohong, Rukia akhirnya bersuara.

"Apakah engkau mengetahui legenda terbentuknya negara ini?" Tanya Rukia kepada Ichigo.

"Tentu saja, legenda itu selalu diceritakan turun temurun, dari generasi ke generasi agar kami tak pernah melupakan leluhur kami." Jawab Ichigo.

"Ceritakanlah padaku tentang legenda tersebut." Pinta Rukia. Ichigo hanya terdiam, tidak mengerti maksud Rukia. Tapi akhirnya ia bersuara juga.

Pada zaman dahulu, terdapatlah sebuah daratan

Dimana kegelapan menguasai, dan cahaya tidak bisa menyinari

Seorang pemuda Amaterasu, mengusir kegelapan tersebut

Dengan gagah berani, menyinari semua kegelapan yang ada

Menghapus jejak kegelapan

Dan mengutuk agar kegelapan tidak pernah datang lagi

Setelah pertempuran tersebut

Amaterasu diangkat menjadi raja

Dan menikahkan pemuda tersebut

Dengan seorang gadis Tsukuyomi

Yang suci hatinya

Dan suci kekuatannya

Kegelapan yang penuh dendam

Mengutuk agar Tsukuyomi

Menjalani kehidupannya

Dengan penuh kesedihan

Tanpa dicintai

Tanpa mencintai

Hingga akhirnya

Kegelapan sendiri yang akan mengambil nyawanya

Demi dendamnya kepada Amaterasu

Tidak hanya Tsukuyomi

Kegelapan juga mengutuk anak perempuannya

Juga keturunannya di masa yang akan datang

Untuk mengalami hal yang sama dengan Tsukuyomi

Terlambat sudah bagi Amaterasu

Untuk menangkal kutukan tersebut

Sudah terlambat

Tak ada lagi yang dapat dilakukan

Dengan kekuatan terakhirnya

Amaterasu mengutuk kegelapan

Suatu saat nanti

Kegelapan akan mencintai Tsukuyomi

Dan cinta itulah

Yang akan membebaskan Tsukuyomi

Dari takdir yang menyedihkan

"Demikianlah legenda negeri ini." Ujar Ichigo mengakhiri ceritanya, "Bukankah engkau juga memahami legenda ini?" lanjut Ichigo tak mengerti. Rukia terdiam, "Bagi penduduk negeri ini, mungkin memang begitulah yang terjadi di masa dahulu. Akan tetapi bagi kami, bukan begitu peristiwa yang kami saksikan." Jelas Rukia.

"Apa maksudmu?"Tanya Ichigo tak mengerti, "Legenda kalian, penuh dengan kebohongan." Ucap Rukia tanpa ragu-ragu.

A/N : Untuk temen-temenku yang setia menunggu dan membaca, mind to review? tapi diriku suka malau deh baca review kalain, abis kesannya kayak orang tenar gitu deh *ditendang sampai bimasakti nun jauh ke sana*