Disclaimer : Apa mau dikata.....Bleach bukan punyaku, maunya sih punyaku, tapi karena aku baik hati jadinya punya Kubo Tite aja deh

eh, tapi story ini punyaku lho, buktinya aku ngegaji mereka untuk mainin story ini :D

Chapter 6

The tiniest emotion

The smallest actions

All will be tied to the future

Hinamori berdiri di antara reruntuhan negerinya. Dengan putus asa ia kembali bertanya, "Siapakah yang ingin menghancurkan negeriku?", "Akulah orangnya." Jawab seseorang di baliknya. Hinamori menoleh, tidak seperti biasanya, akhirnya Hinamori dapat melihat sosok tersebut. Sosok yang akan menghancurkan negerinya. Hinamori tertegun, sosok tersebut….

Hinamori tersentak. Ia terbangun dari tidurnya, peluh mengalir deras dari keningnya. Ia terbangun dan mendapati dirinya berada di pangkuan Rukia. "Kau sudah terbangun?" Tanya Rukia lembut, "Sudah berapa lama saya tertidur?" Tanya Hinamori. "Setengah hari." Jawab Rukia, "Engkau telah membuat kami semua khawatir, memasang kekkai di kamarnu dan tidak membiarkan seorangpun boleh masuk. Para dayang juga panik karena menurut mereka engkau belum makan setelah engkau mengunjungi kamarku kemarin pagi." Jelas Rukia panjang lebar.

Hinamori diam saja, ia tidak merespon apapun yang dijelaskan oleh Rukia. "Rukia nee-chan, saya bermimpi dan mimpi ini semakin jelas dibandingkan yang dulu." Ungkap Hinamori. Rukia hanya terdiam, "Jika mimpi masa depan semakin jelas seiring berlalunya waktu, maka hal tersebut menandakan bahwa mimpi itu segera akan terjadi." Jelas Rukia. Hinamori terdiam, inilah yang ditakutinya, mimpi kehancuran akan menjadi sebuah kenyataan.

Hinamori terdiam, "Saya harus bertemu dengannya." Ucap Hinamori tiba-tiba. "Siapa yang engkau maksud?" Tanya Rukia. "Orang yang ada di dalam mimpiku, Sang Penghancur." Ucap Hinamori.

***

Ichigo duduk di meja kerjanya, tidak berkonsentrasi pada pekerjaan yang ada di hadapannya. Padahal kertas-kertas yang menggunung di meja kerjanya adalah laporan mengenai rakyat negerinya tersebut. Para menteri berulang kali masuk ke kamar kerjanya untuk meminta tanda tangan atau melaporkan suatu kejadian. Akan tetapi, pikirannya hanya dipenuhi tentang adiknya tersebut.

"Kelihatannya anda sedang tidak berkonsentrasi ya, Raja." Sapa seorang menteri kepada Ichigo. "Ah, kau rupanya, bagaimana hari-harimu menjadi seorang menteri yang masih muda dibanding menteri yang lain?" Tanya Ichigo kepada menterinya yang baru dilantik tersebut. "Yah, lumayan, hanya saja beberapa orang membicarakan saya di belakang saya." Ujar pemuda tersebut. "Yah, sebenarnya memang setiap pejabat yang baru dilantik seharusnya di doakan oleh Miko Princess negeri ini, hanya saja …." Putus Ichigo.

"Hanya saja?" kejar pemuda tersebut. "Tidak, adikku itu hanya sedang sakit." Elak Ichigo, pemuda tersebut hanya mengangguk paham. "Aku berharap engkau mau bersabar hingga adikku itu sembuh." Harap Ichigo, pemuda tersebut hanya mengangguk sambil tersenyum. "Baiklah, ayo bekerja demi negeri ini, kami sangat mengharapkanmu sebagai seorang menteri, Hitsugaya Toushirou." Ucap Ichigo sambil melanjutkan kerjanya.

***

"Eeh, Ichigo nii-sama punya menteri baru?" Tanya Hinamori, Rukia mengangguk sambil tersenyum. "Iya, menteri ini adalah pemuda yang lulus ujian negara dan ia telah bekerja selama seminggu." Jelas Rukia. "Hee..kenapa tidak menyuruh saya untuk mendoakannya? Bukankah ia harus didoakan?" Jelas Hinamori. "Memang, tapi melihat kondisi tubuhmu akhir-akhir ini, Ichigo tidak tega untuk memaksamu. Ichigo ingin menunggu hingga tubuh dan hatimu benar-benar siap." Jelas Rukia.

"Aih, kasihan menteri itu, tentu ia penasaran mengapa saya belum mendoakannya." Gumam Hinamori. "Kalau engkau mau, kapan engkau siap untuk mendoakannya?" Tanya Rukia, "Besok pagi saja, lebih cepat lebih baik bukan?" jawab Hinamori

***

"Apa…Hinamori mau mendoakan menteri baru?" Tanya Ichigo tak percaya, Rukia mengangguk, "Begitulah yang Hinamori katakan." Jelas Rukia lembut. "Kenapa tiba-tiba?" Tanya Ichigo tak mengerti, "Justru menurut Hinamori semakin cepat akan semakin lebih baik." Jelas Rukia kembali.

" Bagaimana keadaan tubuhnya?" Tanya Ichigo cemas, "Tenang saja, Hinamori sudah tidak apa-apa, begitu juga hatinya." Tambah Rukia. Ichigo terdiam lama, kemudian "Baiklah, aku akan menyiapkan acara pendoa'an untuk Hitsugaya Toushirou besok pagi." Putus Ichigo.

***

Hitsugaya sedang duduk di ruang kerja menterinya sambil membaca gulungan surat yang baru diterimanya. "Hmm, jadi besok kerajaan akan mengadakan upacara doa untukku." gumam Hitsugaya, "Sepertinya kedudukanku sebagai menteri akan mempermudahku untuk bermain denganmu, Tsukuyomi." Lanjut Hitsugaya dengan senyum misterius

***

Alun-alun Istana tampak sedang dipersiapkan. Para dayang hilir mudik menyiapkan segala keperluan untuk upacara pendoa'an Para menteri dan rakyat akan datang untuk melihat upacara tersebut. Hal ini juga akan disaksikan oleh raja dan permaisurinya. Bagi rakyat, ini adalah hal yang sangat ditunggu karena mereka dapat melihat para pemimpin negeri juga miko princess mereka yang sangat mereka sayangi.

Para menteri dan pejabat memasuki alun-alun dan duduk di tempat mereka masing-masing. Tak lama kemudian Ichigo yang ditemani Rukia datang dan duduk di tempat yang telah disediakan. Para rakyat mengelu-elukan kedatangan mereka. Ichigo dan Rukia tersenyum, membalas sambutan para rakyat.

Tak lama kemudian, Hinamori memasuki alun-alun Istana tersebut. Semua rakyat langsung terdiam, begitu terpana dengan penampilan putri mereka tersebut. Hinamori mengenakan setelan seorang miko princess. Gadis tersebut mengenakan kimono upacara besar yang sederhana. Akan tetapi, kecantikan gadis tersebut seakan-akan membuat semua yang ia kenakan tampak mewah. Gadis tersebut juga melepas rambutnya sehingga rambut panjangnya terurai indah.

Hinamori siap untuk mendoakan menteri yang baru. Ia berdiri menghadap para rakyatnya. Seorang menteri bangkit dari tempat duduknya kemudian berjalan menuju arahnya. Hinamori terkejut, akan tetapi keterkejutannya itu hanya terlihat dari matanya. Sosok menteri yang ia lihat adalah pemuda yang berniat untuk membunuhnya. Hinamori terdiam, untuk sesaat Hinamori merasa bingung.

***

Ichigo menangkap tatapan kaget Hinamori, hanya saja tak mungkin ia langsung bertindak. Ichigo menoleh kepada Rukia, yang ditatap hanya menundukkan kepalanya dengan wajah yang sedih. Tanpa penjelasan, Ichigo mengerti tatapan kaget Hinamori kepada menteri barunya tersebut.

***

Hitsugaya Toushirou datang mendekat padanya kemudian berlutut di hadapan Hinamori. "Apa yang saya lakukan adalah untuk negara ini, apa yang saya miliki adalah untuk negara ini, di sini, dengan nama yang saya miliki, saya bersumpah kepada Tuhan Yang Maha Esa, untuk berkorban demi negara ini." Sumpah Hitsugaya sambil berlutut di hadapan Hinamori. Hinamori mengangkat tangannya dan berdoa, "Saya mendoakanmu takdir yang baik, Hitsugaya Toushirou." Ucap Hinamori. Seberkas sinar putih bersinar terang dari tubuh Hinamori. Untuk beberapa saat, semua yang hadir tidak dapat melihat apapun, akan tetapi sebentar kemudian semua menjadi kembali normal.

Semua yang hadir mengelu-elukan menteri yang baru didoakan tersebut dan semua pejabat negara. Mereka juga mengelu-elukan Hinamori beserta Ichigo dan Rukia. Hitsugaya bangkit dari berlututnya dan kembali ke tempat duduknya. Hinamori hanya terdiam, mengawasi punggung pemuda itu dengan wajah penuh waspada.

***

Hitsugaya sedang berjalan di koridor istana, bermaksud pergi ke ruang kerjanya. Sebagai seorang menteri, tak ada kata libur baginya. Tiba-tiba ia berhenti melangkahkan kakinya, "Aku tahu engkau di sana, tunjukkan sosokmu." Ucap Hitsugaya secara tegas. Sesosok bayangan keluar dari persembunyiannya, Hinamori. "Tak kusangka, seorang putri sepertimu gemar memata-matai orang lain." Ucap Hitsugaya sambil tersenyum mengejek.

"Saya ingin tahu." Ucap Hinamori, "Apa yang ingin kau ketahui?" Tanya Hitsugaya. "Apakah kau sungguh-sungguh mengucapkan sumpah yang tadi?" Tanya Hinamori, Hitsugaya terdiam, "Tentu saja aku bersungguh-sungguh demi negeri ini." Lanjut Hitsugaya. "Lalu, kenapa engkau mencoba membunuhku pada malam itu.? Tanya Hinamori

A/N : Maluuuu............mind to review?

tapi malu bacanya