Disclaimer : Apakah Bleach punyaku? Yang benar saja, kalian sudah tahu jawabannya kan?

. "Lalu, kenapa engkau mencoba membunuhku pada malam itu.? Tanya Hinamori

Chapter 7

Only both of us

And I will be yours

Only both of us

And my soul will be taken

"Kau tanya kenapa?" ulang Hitsugaya, dengan senyum misterius ia menjawab "Tentu saja untuk negeri ini, bukankah aku sudah bersumpah untuk melakukan apapun demi negeri ini? Akan kulakukan apapun, bahkan jika harus membunuhmu." Jelas Hitsugaya. Hinamori tertegun, "Apa maksudmu? Demi negeri ini?" ulang Hinamori tak mengerti.

Hitsugaya hanya terdiam, tak menjawab pertanyaan Hinamori, Pemuda itu hanya menatap Hinamori. Ditatap oleh Hitsugaya, Hinamori merasa mukanya panas dan memerah. Perasaan cinta memenuhi hatinya. Tiba-tiba….

Hinamori jatuh terduduk di lantai sambil memegang dadanya. Sakit sekali, begitu sakitnya hingga ia terbatuk dan mengeluarkan darah. Peluh keluar dari badannya, nafasnya tersengal. Sulit sekali baginya untuk bernafas dengan dadanya yang begitu sakit. Pandangan matanya berputar. Hal yang mampu dilihatnya hanyalah Hitsugaya masih berdiri di depan memandangi dirinya. Perlahan pandangan matanya gelap. Hinamori pingsan.

***

Hinamori membuka matanya, rasa sakit di dadanya sudah hilang. Hinamori memegang dadanya, masih teringat rasa sakit di dadanya. "Kau sudah bangun?", Hinamori menoleh kearah sumber suara. Hitsugaya duduk sambil memandangi dirinya dari jarak satu meter di sisinya. Hinamori berusaha bangun, "Tak usah memaksakan diri, kau masih lemah." Cegah Hitsugaya, mendengar itu Hinamori kembali merebahkan diri.

"Di mana ini?" Tanya Hinamori, "Ini di kamar dinasku di istana." Jelas Hitsugaya. "Sudah berapa lama saya ada di sini?" Tanya Hinamori lagi, "Kau sudah pingsan selama satu jam, aku membawamu ke sini karena jaraknya lebih dekat dibanding ke istanamu." Jelas Hitsugaya lagi. Hinamori memandang Hitsugaya kemudian tersenyum., "Apa yang kau tertawakan?" Tanya Hitsugaya. "Tidak ada." Jawab Hinamori sambil tersenyum.

Tiba-tiba, rasa sakit di dada Hinamori kembali melanda. Hinamori merintih kesakitan, peluh kembali keluar dari tubuhnya. "Ada apa?" Tanya Hitsugaya sambil mendekati Hinamori, "Sakit lagi?" Tanya Hitsugaya cemas. Hinamori meremas dadanya, mukanya juga pucat, terlihat sekali gadis itu merasa tersiksa. Hitsugaya memegang tubuh Hinamori, akan tetapi Hinamori merasakan dadanya lebih sakit lagi. Dengan kekuatannya yang tersisa Hinamori mendorong Hitsugaya menjauh darinya. Hinamori terjatuh ke lantai, nafasnya tersengal. Perlahan rasa sakit di dadanya berkurang dan akhirnya menghilang.

Hinamori memandang kearah Hitsugaya. Hitsugaya memandang Hinamori dengan tatapan tak mengerti. "Maaf." Ucap Hinamori diantara nafasnya, Hitsugaya memandang Hinamori dengan tatapan yang sulit diartikan yang kemudian membuang muka, "Sudah saatnya kau pulang ke istanamu." Ucap Hitsugaya, Hinamori masih memegangi dadanya. "Biar kuantar." Ucap Hitsugaya, ia kemudian datang mendekati Hinamori dan menggendong gadis itu dengan kedua tangannya. Hitsugaya berlari menuju istana Hinamori.

***

"Alam mulai berubah." Ucap Rukia sambil meminum tehnya, "Sepertinya sudah mulai terjadi perubahan pada Tsukuyomi itu." Ucap seorang pria tua dengan rambut dan jenggot panjang yang berwarna putih. Rukia menoleh pada pria tua tersebut, "Apakah dulu juga seperti ini? Alam juga berubah?" Tanya Rukia kepada pria tua tersebut, "Bahkan lebih parah, kekeringan melanda hingga penduduk harus memakan tanah karena tak ada tumbuhan yang hidup." Jelas pria tua tersebut.

"Sebagai seorang dari kegelapan, pastilah terasa menyakitkan harus melihat keluarga anda menjadi penyebab terbunuhnya Tsukuyomi." Ucap Rukia kepada pria tua tersebut. "Ini sudah merupakan tugas kami, sebagai kegelapan kami akan terus membunuh Tsukuyomi, hingga saatnya tiba." Jelas pria tersebut. Rukia terdiam sejenak, ia meminum tehnya, "Yamamoto-sama, apakah anda memerintahkan putra anda, Hitsugaya, untuk membunuh Hinamori?" Tanya Rukia pada pria tua tersebut. Pria tua yang dipanggil Yamamoto hanya terdiam, "Saya terkejut melihat Tsukuyomi tersebut masih hidup." Jawabnya.

Rukia tidak menyukai jawaban Yamamoto tersebut, "Yamamoto-sama, tolong jangan bicara sembarangan. Saya tidak suka dengan ucapan anda." Tegur Rukia. "Kau tidak terlibat dalam hal ini., jadi kau yang jangan bicara sembarangan." Balas Yamamoto kepada Rukia. Rukia terdiam, tetapi wajahnya menunjukkan tidak suka. "Hanya kami, kegelapan saja yang mengetahui penderitaan Tsukuyomi." Ujarnya, "Apa yang kami lakukan, hanyalah untuk menghindari penderitaan dari Tsukuyomi tersebut." Lanjutnya, "Yah, walaupun mungkin bagi Tsukuyomi yang sekarang, dia telah merasakannya." Lanjutnya lagi sambil memandang Rukia. Rukia hanya terdiam, tetapi wajahnya serius. "Kau mungkin tak bisa mengerti semua ini, walaupun kalian adalah para bidadari langit yang menyaksikan semua ini." Tambahnya lagi.

"Mungkin kami memang tidak mengerti, akan tetapi kami dapat membantu", Rukia dan Yamamoto menoleh kearah sumber suara, Unohana dengan selendang yang melilit di lengannya muncul di sisi taman kamar Rukia. "Hoo, Unohana rupanya." Sapa Yamamoto kepada Unohana. Unohana tersenyum kepada Yamamoto, "Lama tak jumpa Yamamoto-sama, sejak Tsukuyomi yang sebelumnya meninggal." Ujar Unohana dengan lembut, Yamamoto hanya terdiam.

"Kami para bidadari langit tidak bermaksud mengacau, hanya ingin membantu anda." Jelas Unohana pada Yamammoto. Yamamoto meminum tehnya, "Yang dapat kalian lakukan hanyalah untuk tidak mengganggu rencana kami, termasuk jika kami harus membunuh Tsukuyomi." Jelasnya. Rukia terkejut dan hendak membantah akan tetapi langsung dicegah oleh Unohana. "Baiklah, kami percaya pada anda." Jawab Unohana sambil tersenyum. Yamamoto mengangguk dan kemudian keluar dari kamar Rukia tersebut, Rukia dan Unohana hanya memandang kepergian Yamamoto.

"Kenapa anda membiarkannya untuk membunuh Hinamori?" tuntut Rukia kepada Unohana, "Karena hanya kegelapan saja yang dapat memahami Tsukuyomi." Jelas Unohana. "Tapi bukan berarti mereka dapat membunuh Hinamori." Bantah Rukia, "Tak bisakah kita mencegah kegelapan untuk membunuh?" Tanya Rukia kepada Unohana. Unohana menutup matanya, "Kita berdoa saja, semoga takdir menentukan hal yang lain." Ujar Unohana sambil membuka matanya. Rukia terdiam, tidak tahu harus mengatakan apa.

***

Hitsugaya berhenti, mereka sudah sampai di depan kamar Hinamori, lalu menurunkan Hinamori dari gendongannya. Wajah Hinamori memerah, tiba-tiba ia kembali merasakan sakit di dadanya. Ia kembali jatuh terduduk dan terbatuk walaupun tidak mengeluarkan darah. Melihat hal ini, Hitsugaya mengulurkan tangannya untuk membantu Hinamori, akan tetapi mendadak tangannya berhenti. Hitsugaya teringat akan kejadian ia berusaha menolong Hinamori. Hitsugaya berusaha memapahnya akan tetapi sepertinya gadis itu merasa lebih tersiksa jika Hitsugaya menyentuhnya. Karena itu, ia menarik kembali tangannya dan hanya bisa diam memandang Hinamori.

Perlahan nafas Hinamori kembali normal, akan tetapi peluh masih membasahi wajahnya. "Lebih baik kau cepat masuk ke dalam." Ujar Hitsugaya pada Hinamori, mendengar itu Hinamori memandang kearah Hitsugaya dan tersenyum lemah. "Terima kasih." Ucap Hinamori sambil tersenyum, mendengar itu Hitsugaya buru-buru menoleh kearah lain, "Tapi ini bukan berarti kita berteman. Aku akan membunuhmu, karena itu bersiaplah." Ujarnya sambil menghilang dari hadapan Hinamori. Hinamori memandangi arah dimana Hitsugaya berada beberapa detik yang lalu. Ia tersenyum lemah, kemudian akhirnya masuk ke dalam kamarnya.

***

Hitsugaya memandangi Hinamori memasuki kamarnya dari tembok pembatas. Wajahnya menunjukkan ia cemas terhadap gadis itu. "Apa yang kau lakukan di sini Hitsugaya?", Hitsugaya menoleh kearah sumber suara tersebut. Ia melihat Yamamoto berdiri memandangi dirinya dengan tatapan menusuk. "Ayah." Ujar Hitsugaya kaget, "Bukankah seharusnya kau membunuh Tsukuyomi itu?" Tanya Yamamoto dingin, "Kenapa kau menyia-nyiakan kesempatan baik tadi?" Tanya Yamamoto dengan suara menuduh.

***

A/N : maaf yaa...sebenarnya Tsuki mau pisahin dialog dari dekripsi cerita...

tapi ternyata susah banget....

mind to review....please....*puppy eyes*