Disclaimer : Perlukah saya memberi tahu lagi? Bleach bukan punya saya tapi punya Kubo Tite

A/N : Minna, sebentar lagi ceritanya selesai nih....tetap bertahan ya untuk baca cerita ini....

"Kenapa kau menyia-nyiakan kesempatan baik tadi?" Tanya Yamamoto dengan suara menuduh.

Chapter 8

Love

Angst

Hurt

Revenge

Destiny

"Ayah…aku.." Hitsugaya berusaha menjawab dengan bingung.

"Cukup, aku bisa melihat tekadmu mulai melemah hanya karena melihat gadis itu menderita." Potong Yamamoto dengan dingin.

Hitsugaya hanya terdiam, mengakui bahwa tekadnya untuk membunuh menjadi lemah karena melihat penderitaan gadis itu. Pria mana yang tidak menjadi lemah melihat seorang gadis yang tak berdaya sedang menderita?

"Aku tak ingin menunggu lagi." Ucap Yamamoto, "Dua bulan lagi umur gadis itu 19 tahun, aku ingin ia mati sebelum ia mencapai umur tersebut." Perintah Yamamoto dengan dingin.

Hitsugaya hanya menunduk dan terdiam.

"Ini adalah perintah! Jangan berani untuk berkhianat!" Tegas Yamamoto, kemudian ia membalikkan badannya dan pergi.

***

Hinamori memasuki kamarnya dengan tubuh yang lemah. Ia membaringkan badannya di tempat tidur, memikirkan rasa sakit yang dialaminya seharian itu. Ia menoleh dan berusaha mengambil sebuah buku yang terletak di sampingnya. Sebuah buku bersampul kain biru yang berjudul Ketika Kegelapan Membunuh Bulan.

"Pasti ada alasannya kenapa tubuhku mendadak menjadi seperti ini." Pikir Hinamori sambil memandang buku tersebut. Hinamori membaca buku itu.

***

"Ini adalah perintah!."

Masih terbayang di benak Hitsugaya perintah ayahnya untuk membunuh Hinamori.

"Jangan berani untuk berkhianat!"

Hitsugaya menutup matanya. "Pasti ada alasannya kenapa keluarga kami secara generasi bertugas membunuh Tsukuyomi." Pikir Hitsugaya.

"Maafkan saya."

Hitsugaya tersentak, "Kenapa bayangannya yang muntah darah muncul di benakku?" gumam Hitsugaya pelan.

***

Keesokan pagi, terjadi kegemparan di Istana. Hinamori ditemukan pingsan di kamarnya. Seluruh penghuni istana kalang kabut mengkhawatirkan kesehatan putri itu. Ichigo bahkan sudah memanggil seluruh dokter di penjuru negeri itu untuk memeriksa Hinamori.

"Dokter, bagaimana keadaan adikku?" Tanya Ichigo cemas.

"Maafkan kami baginda, kami tidak dapat menemukan penyebab penyakit sang putri." Jawab sang dokter sambil membungkuk hormat.

"Kenapa bisa begitu?" Tanya Ichigo galak yang membuat para dokter yang menghadap menjadi ketakutan.

"Ichigo, tenanglah." Tegur Rukia, "Apakah penyakit Hinamori belum dapat disembuhkan?" Tanya Rukia lembut.

"Maafkan hamba Yang Mulia, hamba hanya dapat menjawab bahwa penyakit yang dialami oleh putri Hinamori sama dengan yang di derita oleh almarhumah Tsukuyomi yang terdahulu." Jawab sang dokter.

Rukia tertegun, Ichigo kaget, tak ada seorang pun yang bersuara.

"Terima kasih dokter, kalian boleh pergi." Perintah Ichigo, para dokter pun langsung menunduk hormat kemudian pergi keluar.

"Ichigo.." panggil Rukia lembut.

"Jika penyakit Hinamori sama dengan penyakit Bibi Tsukuyomi, maka tak ada harapan hidup lagi bagi Hinamori." Gumam Ichigo.

"Ichigo." Tegur Rukia.

"Dan negeri ini pasti akan mengalami masa yang sangat sulit." Lanjut Ichigo

"Ichigo, kau menuduh penyakit Hinamori ini sebagai pembawa sial?" tegur Rukia.

"Ini adalah kenyataan, sejarah selalu membuktikan bahwa setiap generasi Tsukuyomi pasti akan mengalami hal ini." Balas Ichigo

"Tapi…" bantah Rukia

"Tak ada yang dapat kulakukan, kecuali melepasnya pergi." Lanjut Ichigo putus asa.

Rukia terdiam, tak dapat berkata apa-apa. Ia tahu, semua pasti akan berakhir seperti ini, tak ada yang bisa menghentikan roda takdir. Rukia tahu semua pasti akan berakhir seperti ini, karena ia juga telah melihat hal ini di dalam mimpinya.

Bukan hanya Hinamori, Rukia juga melihat dalam mimpinya apa yang selalu dilihat oleh Hinamori. Kehancuran negeri ini, kematian semua orang, dan semua kehancuran tersebut dilakukan oleh satu orang.

Hitsugaya Toushirou

Hinamori sudah memulai takdirnya, tinggal bagaimana Hitsugaya mengakhiri takdir tersebut

***

"Hei apa kau sudah dengar? Ternyata penyakit yang diderita oleh Tsukuyomi-Hime juga pernah dialami oleh Tsukuyomi yang sebelumnya."

"Apa itu berarti nona Hinamori akan mati?"

"Kabarnya nyawanya tak akan selamat."

"Katanya setiap generasi Tsukuyomi pasti akan mengalaminya."

"Hee, kenapa begitu?"

"Entahlah, tapi yang lebih gawat lagi, kalau keadaan Tsukuyomi seperti itu, pasti negara akan mengalami masa sulit."

"Pantas saja akhir-akhir ini masa panen sangat sulit."

"Tidak hanya itu, mata air juga semakin kering."

"Ternyata Tsukuyomi hanyalah PEMBAWA SIAL bagi negara kita."

***

Hitsugaya berjalan melintas merasa muak dengan gosip yang dilontarkan oleh para penghuni istana itu. Kemanapun ia pergi pasti topic yang dibicarakan selalu sama, Tsukuyomi adalah gadis pembawa sial.

Matahari bersinar terik, menyebabkan daun-daun berguguran dari pohonnya. Sumber air telah mengering dan para penduduk telah kesulitan air dan makanan. Rakyat memakan rumput untuk bertahan hidup. Tak ada hewan ternak, semuanya telah mati. Semua kesulitan ini terjadi bersamaan dengan hari dimana Hinamori pingsan. Sudah satu bulan Hinamori pingsan akan tetapi tak ada tanda-tanda bahwa keadannya akan membaik. Sudah satu bulan juga negara mengalami masa kesulitan dengan dampak yang begitu buruk. Ichigo hanya bisa pasrah jika adiknya meninggal.

"Inikah sebabnya ayah memerintahkanku untuk membunuhnya secepatnya?" pikir Hitsugaya.

"Keadaan tubuh Tsukuyomi menyebabkan keadaan negeri ini menjadi sulit." Lanjut Hitsugaya.

"Bunuhlah gadis itu!"

Hitsugaya tertegun, lagi-lagi perintah ayahnya memenuhi benaknya.

"Atau negeri ini akan musnah."

Hitsugaya terkejut, ia memandang sekelilingnya. Barusan adalah suara Hinamori, seakan-akan Hinamori berbisik di telinganya.

"Bunuh gadis itu atau negeri ini akan musnah?" pikir Hitsugaya.

"Kalau itu yang kau inginkan akan kulakukan, karena itu adalah tujuanku." Tekad Hitsugaya.

***

Malam ini sangat pekat, lebih pekat dibandingkan dengan waktu ia menyusup dulu. Hitsugaya mengenakan setelan pakaian dan jubah berwarna hitam, bedanya kali ini ia tidak mengenakan topeng.

Penjagaan di Istana Tsukuyomi berjalan biasa, tidak terlalu ketat. Hal yang mudah bagi Histugaya untuk menyelinap masuk. Ia hanya perlu berlari cepat dan bersembunyi agar tidak ketahuan oleh penjaga.

Tak lama kemudian, ia tiba di pintu kamar Hinamori. Ia menggeser pintu itu dengan pelan hingga tidak menimbulkan suara. Hitsugaya masuk dan menggeser kembali pintu itu agar menutup.

Kamar Hinamori gelap, akan tetapi Hitsugaya dapat melihat Hinamori yang terbaring di tempat tidur. Hitsugaya mendekati Hinamori, ia memandang wajah Hinamori yang sedang koma selama sebulan. Wajahnya begitu tenang dan damai, gadis itu koma dengan senyum di bibirnya.

Hitsugaya mengulurkan tangannya untuk menyentuh gadis itu. Sekejap ia ragu, takut jika ia menyentuhnya maka gadis itu akan mengalami rasa sakit. Akan tetapi egonya lebih besar sehingga ia meletakkan tangannya di pipi Hinamori.

"Begitu lembut dan rapuh." Pikir Hitsugaya

"Kau mendengar bisikanku."

Hitsugaya memandang asal suara bisikan tersebut. Hinamori memandang Hitsugaya sambil tersenyum, tatapan matanya terlihat letih dan rapuh.

***

AYO....BACA.....REVIEW......