A/N : SORRY FOR THE LONG LONG LONG LONG LONG LONG HIATUS , WELL THIS IS THE LAST CHAP...HAVE A NICE READ
Disclaimer : Sama sekali bukan punyaku.....you-know-who
"Kau mendengar bisikanku."
Hitsugaya memandang asal suara bisikan tersebut. Hinamori memandang Hitsugaya sambil tersenyum, tatapan matanya terlihat letih dan rapuh.
Chapter 9
The End
"Bisikanmu?" Tanya Hitsugaya tak mengerti
"Atau negeri ini akan musnah." Bisik Hinamori
Hitsugaya tertegun, "Jadi itu benar-benar kau?" Tanya Hitsugaya
Hinamori mengangguk lemah sambil terus tersenyum kepada Hitsugaya. Ia memegang tangan Hitsugaya yang masih menyentuh pipinya. Hinamori menutup matanya, seakan ingin menikmati kehangatan tangan itu di pipinya. Hitsugaya hanya mampu melihat tanpa bisa mengucapkan apa-apa.
"Kapan kau sadar dari komamu?" Tanya Hitsugaya,tangannya masih di pipi Hinamori.
"Saat engkau menyentuh pipi ini, saat itulah saya tersadar." Jawab Hinamori masih sambil menutup matanya dan memegang tangan Hitsugaya.
Hinamori membuka matanya kemudian memandang Hitsugaya. "Walau tubuh ini tertidur, tapi tidak dengan jiwaku." Lanjut Hinamori sambil tersenyum.
Hinamori berusaha bangkit dari tidurnya,
"Apa yang….?" Cegah Hitsugaya.
"Tidak apa-apa, Saya baik-baik saja." Ucap Hinamori lembut sambil berusaha bangkit.
Hinamori berjalan menuju lemari pakaiannya, ia mengambil sebuah kimono putih dan hakama berwarna merah dan memakainya dobel dengan kimono tidur yang sedang dipakainya. Ia juga melepas ikatan rambutnya sehingga rambutnya tergerai dengan indah.
Setelah berganti baju, Hinamori memberi isyarat kepada Hitsugaya untuk mengikutinya. Hinamori berjalan dengan sempoyongan hingga harus dipapah oleh Hitsugaya. Di kanan kiri Hitsugaya dapat melihat bahwa para penjaga jatuh tertidur.
"Kenapa para penjaga tertidur?" pikir Hitsugaya penasaran.
"Saya membuat mereka tertidur dengan kekuatan saya." Ucap Hinamori seakan-akan dapat membaca pikiran Hitsugaya.
"Saya juga membuat semua penghuni istana ini tertidur." Lanjut Hinamori
Hitsugaya terdiam, tak mengerti.
"Saya tak ingin diganggu oleh siapapun."
Hitsugaya menoleh kearah Hinamori. Gadis itu tersenyum dengan lembut.
"Mau kemana kita?" Tanya Hitsugaya,
"Engkau akan tahu." Jawab Hinamori lembut.
***
Seluruh penghuni istana telah tertidur, kecuali satu orang, dialah Rukia.
"Apa yang kau rencanakan, Hinamori?" pikir Rukia sambil memandang bulan purnama.
"Percayakan saja kepada Tsukuyomi." Ucap Unohana.
Rukia menoleh kearah Unohana, wajahnya tampak cemas.
***
"Ini…" ucap Hitsugaya menggantung.
Di hadapan Hitsugaya terbentang pemandangan kolam dan hutan bamboo yang indah.
"Tempat kita pertama kali bertemu kan?" ucap Hinamori sambil tersenyum,
"Mau apa kita disini?" Tanya Hitsugaya tak mengerti,
"Melanjutkan apa yang terhenti." Ucap Hinamori.
Hitsugaya tertegun, Hinamori tersenyum lembut.
"Seingat saya, dulu engkau mengatakan akan membunuh saya bukan?" lanjut Hinamori, rambutnya terurai ditiup angin.
Hitsugaya terdiam, "Bahkan sampai sekarang, tekad itu masih ada." Lanjut Hitsugaya
Hinamori tersenyum,ia merentangkan kedua tangannya,
"Bunuhlah saya sekarang."
***
Hitsugaya kaget, tak tahu harus mengatakan apa.
"Tubuh ini mulai melemah, doa saya tak dapat lagi melindungi negeri ini, hanya akan membawa kehancuran." Gumam Hinamori,
"Apa maksudmu?" Tanya Hitsugaya tak mengerti,
"Akhirnya saya mengerti arti dari mimpi kehancuran itu." Lanjut Hinamori
"Mimpi?" ulang Hitsugaya tak mengerti,
"Dalam mimpi itu, saya selalu melihat sosok pemuda yang menghancurkan negeri ini." Cerita Hinamori, Hitsugaya hanya bisa terdiam.
Hinamori menatap Hisugaya.
"Kaulah penyebab kehancuran negeri ini." Tuduh Hinamori.
Hitsugaya hanya terdiam Terlalu terkejut.
"Saya pikir begitu, tapi akhirnya saya mengerti, bukan engkau penyebab kehancuran itu." Jelas Hinamori.
"Sayalah penyebab kehancuran negeri ini, sayalah yang bersalah atas masa sulit yang dialami negeri ini." Ucap Hinamori sambil memadangi bulan.
"Apa maksudmu?" Tanya Hitsugaya tak mengerti.
"Semua ini, karena saya mencintaimu." Ungkap Hinamori sambil tersenyum lembut.
Suasana hening, angin bertiup lembut menerbangkan rambut Hinamori.
***
Hitsugaya terdiam, tak menyangka akan mendengar pengakuan cinta di saat seperti ini.
Tiba-tiba
Hinamori terjatuh, Hitsugaya langsung menangkapnya. Nafas Hinamori berat, peluh keluar dari tubuhnya, ia memegang dadanya yang sakit.
"Sakit lagi?" Tanya Hitsugaya cemas,
Hinamori menggelengkan kepalanya sambil memegang dadanya,
"Inilah akhir." Ucap Hinamori dengan berat, Hitsugaya tak mengerti.
"Kata cinta ini, adalah terlarang untuk saya ucapkan." Jelas Hinamori lagi, gadis itu tampak pucat.
Hinamori memegang pipi Hitsugaya, "Hanya engkaulah yang bisa mengakhiri ini." bisik Hinamori dengan nafas tersengal,
"Bunuhlah saya." Pinta Hinamori,
Hitsugaya terpaku, ia merasa bingung,
"Atau negeri ini akan musnah." Desak Hinamori.
Hitsugaya bimbang, ia meraih belati yang ia selipkan di pinggangnya dan memasang ancang-ancang untuk menikam Hinamori. Dengan tangan bergetar, Hinamori mengenggam tangan Hitsugaya yang memegang belati itu.
"Saya mencintaimu." Ucap Hinamori sambil tersenyum yang lalu kemudian menutup matanya.
Hitsugaya tak punya pilihan, ia mengayunkan belatinya.
Saat belati itu menikam tubuh Hinamori, tubuh Hinamori berubah menjadi jutaan kupu-kupu yang beterbangan.
Hitsugaya terpukau, kupu-kupu itu beterbangan menuju bulan yang berwarna merah.
***
"Bulan bersinar berwarna merah." Ucap Rukia kepada Unohana,
"Kegelapan telah membunuh bulan." Ucap Unohana
"Takdir yang terus terulang, dulu maupun nanti, takdir Tsukuyomi." Lanjut Unohana
Suasana sunyi, hanya terdengar suara jangkrik yang berbunyi.
Unohana menoleh kearah Rukia, dapat dilihat Rukia tampak menangis.
"Hinamori telah meninggal." Gumam Rukia dengan lirih
Unohana memandang Rukia,
"Tabahlah Rukia,karena suatu saat nanti, anakmu juga akan mewarisi nama Tsukuyomi ini." Ucap Unohana
"Ia juga akan mewarisi takdir yang menyedihkan ini." Keluh Rukia
Unohana terdiam, Rukia memandang bulan berwarna merah tersebut, suasana hening.
***
Hitsugaya pulang ke rumahnya, wajahnya tampak murung, ia bahkan tak menyadari bahwa ayahnya berdiri menunggunya. Hitsugaya berjalan begitu saja melewati ayahnya.
"Sepertinya kau sudah membunuhnya." Tegas Yamamoto,
Hitsugaya menghentikan langkahnya,
"Ia yang meminta." Jawab Hitsugaya yang kemudian berjalan meninggalkan ayahnya.
Yamamoto hanya terdiam, kembali teringat masa lalunya
"Aku mencintaimu Yamamoto…"
"Bunuhlah aku…"
"Atau negeri ini akan musnah."
Yamamoto tersenyum, "Tak kusangka, kau pun akan mengalami hal yang kualami." Pikir Yamamoto.
"Apakah ini hukuman bagi kegelapan?" ucap Yamamoto sambil memandangi bulan.
***
Pagi ini, Nihon no Kuni sedang berduka. Telah diberitakan bahwa Hinamori telah meninggal karena sakit. Tidak ada yang mengetahui kejadian yang sebenarnya.
Tidak ada, kecuali Hitsugaya, Yamamoto, Rukia dan Ichigo. Semua rakyat mengucapkan rasa belasungkawa yang mendalam.
Ataukah
Mereka merasa lega, karena sang gadis pembawa sial telah meninggal?
Tak ada yang tahu
Hanya Tuhan saja yang tahu.
***
Hitsugaya sedang duduk menyendiri di sebuah padang rumput hijau yang luas. Angin bertiup lembut, membawa wangi harum rumput.
"Apakah engkau menyesal telah membunuhnya?"
Hitsugaya menoleh kearah sumber suara, ia melihat seorang wanita yang mengenakan furisode dan selendang melilit di kedua lenganya, selain itu ia juga melayang di udara.
"Siapa kau?" Tanya Hitsugaya kepada wanita itu
"Nama saya Unohana, sang Bidadari Langit." Unohana memperkenalkan diri,
"Ada perlu apa seorang bidadari langit menemuiku?" Tanya Hitsugaya angkuh,
Unohana tersenyum, "Ada pesan untukmu yang harus saya sampaikan." Ucapnya menggantung,
"Pesan dari Hinamori." Lanjutnya lagi,
Hitsugaya tersentak, ia langsung menolehkan kepalanya kearah Unohana.
"Hinamori mengatakan semoga engkau dan ia bisa bertemu kembali di surga yang sama." Ucap Unohana lembut,
Wajah Hitsugaya mendadak menjadi sedih, ia menundukkan kepalanya.
"Bisakah aku masuk surga?" ucapnya putus asa
Unohana tersenyum lembut,
"Hanya Tuhan saja yang tahu." Ucapnya lirih.
***
A/N : ANEH KAH?......REVIEW DITERIMA .....
