Narutoy weits, Naruto.,.

Claiming from Masashi Kishimoto.,.

Itachi & Akatsuki

Humor / Parody/ Drama...

Being a Bakpao?


Request dari Ototo[Black'MirR0r] wakwkakw

Sumari eh, Summary : Itachi jadi tukang bakpao [kerja 9 [sambilan]]? Bagaimana kelangsungan bakpaonya, eh hidupnya? Apa teman - temannya masih akan berteman dengannya? [?] Ya, pokok'e dibaca dan dipahami, makna dari fict ini, semoga berkenan di hati rider[lho? pengendara?], maksudnya reader...


Bakpao's Fortune

"Hemmm," pria berambut oranye terang duduk di sebuah sofa merah yang terlihat [belom yakin] mahal, "ya, ya," gumamnya, "keberuntungan ada di tangan kita, manis..." lanjut pria tersebut sembari merayu wanita muda berambut biru-ungu yang duduk tak jauh disampingnya.

"Ta-tapi, tuan..." kata wanita tersebut terbata - bata.

"Sssst," pria tersebut memegang bibir si wanita, "kita tahu, semua ini akan segera terlaksanakan, Konan..." kata pria tersebut memandang wanita bernama Konan yang sedari tadi hanya bisa berbicara terbata - bata di depan si pria.

"Ya, baik, tuan Pein..." kali ini wanita bernama Konan tersebut memang tidak berbicara terbata - bata.

"Sekarang menarilah..." suruh tuan bernama Pein itu dengan cibiran, "Pakai..." suruhnya sambil memberikan beberapa helai baju yang terlipat rapi.

"I-ini?" tanya wanita malang [bukan Malang, Jawa Timur] itu sambil meremas helaian baju yang diberikan beberapa saat lalu oleh si tuan Pein.

"Ya, iyalah.,. Masa ya iyadong? Oncom aje dibelah bukan dibedong!" cibir Pein lagi.

"Mu-mungkin maksud tuanku duren?" Konan semakin terbata - bata menghadapi pria di depannya.

"Halah! Lakukan! Ahahahah~" bentak Pein lagi seteres diikuti tertawaan yang... err... menjijikkan. Mungkin Boss yang satu ini sudah gila.

XxX

Hidan mengambil seember air [yang tak tahu darimana asalnya] dan menyiramkan isinya ke diri Itachi yang sedang tidur, atau tepatnya tak sadarkan diri.

"Puah!" pemuda tersebut tersadar dari ketidaksadarannnya dan mengangkat kepalanya melihat dua pria yang berdiri dihapannya.

"Hei! Kau bukan sedang syuting iklan Spret [nama minuman ringan berkarbonasi yang tetap disamarkan], sekarang sadar, bocah! Kerjaanmu disini hanya pingsan, bangun, pingsan, bangun kau kira kau itu Mbah Sulip [nama masih disamarkan] apa?" jelas Hidan yang memegang ember kosong dan melemparkannya ke arah kirinya melepas ikatan di tangan Itachi dan di seluruh tubuhnya.

Eh? Eh? Kok gitu sih? Lho kok marah? [kok nyanyi, onyon?] Urgh... Maksudku kenapa aku pingsan lagi? Rasanya ada yang aneh? Seperti ada sesuatu yang membuat kepalaku berputar pikir pemuda yang kini dipaksa berjalan oleh kedua orang yang berada disampingnya.

"Ayo! Ikut kami!" perintah Hidan lagi sembari memegang tangan pemuda itu dari belakang dan menyuruh si pemuda berjalan lebih dahulu diikuti oleh Kakuzu.

"Ke-kemana?" pemuda tersebut masih belum sadar betul. Duo Maya, eh, duo partner tersebut tidak menjawab pertanyaan si pemuda sampai mereka tiba di depan pintu kayu yang seornamen dengan lukisan kumuh di sampingnya. Hidan membanting pintu tersebut membuat si pemuda takut. Kakuzu lalu menahan pintu sementara Hidan menghempaskan badan Itachi di lantai kamar berdinding dan berornamen putih.

"Tetaplah di sini! Dan," kata Hidan yang sudah berada di ujung pintu hendak menutupnya [menguncinya], "jangan coba - coba teriak, karna di sini kampung, you know? Kau teriak semua pasti dengar!" lanjutnya sambil membanting pintu dan menguncinya meninggalkan si pemuda yang masih jatuh terduduk di lantai.

"?" pemuda tersebut bangkit dan mengelilingi kamar itu berniat mencari jalan keluar, kamar itu hanya punya satu jendela kecil itupun di dalam kamar mandi. Pemuda tersebut mengurungkan niatnya dan menghempaskan badannya di tikar yang ia temukan tergeletak [masa berdiri?] di bawah lantai.

"Adaaw! Atit kali!" katanya menyesali perbuatannya sendiri, "Hmmm.,." desahnya, "Bagaimana kabar Pak Bakpao ya? Apa mungkin sekarang dia sudah menganggap aku ini terpecat?" tanyanya pada diri sendiri.

"Laparr..." eluhnya lagi sambil terduduk di atas tikar, "Oh, ada kue!" ketika ia melihat ada 5 potong kue ape[*] dan tanpa basa dan basi ia mengambil dan melahap kue itu. "Itadakimasu... Baik sekali!" setelah ia mengahabiskannya ia berkata begitu. Bodohnya...

XxX

"Sekarang tuan Pein..." kata pria bercadar yang sedang duduk tenang di bawah pohon tak jauh dari markas mereka.

"? Tuff-an Fee-inn?" tanya pria disebelahnya sambil memakan sebongkah semangka merah.

"Ya, tuan Pein akan segera mempekerjakan pemuda itu, kau tahu Hidan?" pria cadar itu terlihat tegang saat ini, untuk masalah ini.

"? Ke-naa-ffa?" sambil terus berusaha mengunyah semangka yang tidak dipotong terlebih dahulu itu Hidan kembali bertanya.

"Karena..."

"?"

"Sebenarnya,"

XxX

"Kemana, ya?" seorang pemuda tegap berbaju hitam rapi dengan setelan jas VIVI** [merek jas tetap disamarkan demi... ya anda tahulah] berjalan mengitari pasar yang hari itu sedang ramai.

"Permisi, mbak," pemuda berkulit biru keabuan tersebut menoel mbak - mbak yang sedang menawar barang di toko beras [barangnya itu ya beras], "apa mbak tahu kemana tukang bakpao yang biasa mangkal depan toko Haji Makmur [udah apal] sebelah sana?" lanjutnya disambut gelengan 'Idonnow'[**] dari mbak tersebut yang melanjutkan aktivitasnya, "Oh, terima kasih..."

Pemuda tersebut menanyai siapa saja yang lewat di depannya dan orang - orang yang sedang berjualan di sana, meski hari masih pagi namun pemuda tersebut tak henti - hentinya berjalan dan terus mondar dan mandir mencari dan terus melihat dimana orang atau sesuatu yang ia cari terdapat. Sampai hari siang dia tak kunjung menemukan orang atau sesuatu tersebut.

"Huh! Dimana si?" tanya pemuda biru tersebut pada diri sendiri. Ia kembali berjalan hendak keluar dari pasar tersebut namun dari kejauhan ia melihat seseorang pemuda yang tengah duduk di kursi kecil. Pemuda tersebut mengusap mat atk percaya dengan apa yang ia lihat. Itu dia! [*DOWENG!* Dia... siapa?]

"IT-" pemuda biru tersebut hendak memanggil pemuda berinisial I namun... siapa itu?

"Itachi..." dengan kata - kata tersebut dia berjalan mendekati pemuda berambut hitam legam bernama Itachi tersebut namun ia mengurungkan niatnya dan mencari tempat bersembunyi untuk memata - matai ketika ia melihat Itachi bersama dua orang yang kelihatannya tidak baik dan berusaha mendengar percakapan mereka dari jauh.

"Ti-tidak om! Saya gak denger apa - apa! Saya hanya," pemuda berambut hitam itu memberanikan diri untuk berdiri dan berbicara dengan kedua pria dihadapannya, "hanya ingin menjual bakpao, Apa om - om sekalian mau?" tanya pemuda tersebut menatap ceria kedua pria di depannya tersebut.

"Tidak! Kami tidak ingin! Kami bukan orang china, kami asli jepang, Kami ini organisasi DAMN I LOVE JAPAN!*" teriak pria bercadar, sampai ada pedagang yang melihatnya sinis hendak menancapkan golok namun ditahan oleh orang - orang disekitarnya.

"Tunggu Kakuz!" teriak pria yang memakai kemeja yang sedikit memperlihatkan dadanya yang bedang, maksudnya bidang mulut pria bercadar, "Kita harus memanfaatkan ini, aku tahu, fufufu..." sahutnya sinis, "Aku punya rencana dengan bocah bakpao ini..." lanjut pria berambut mengkilap tersebut.

Pria berambut mngkilap tersebut lalu mengeluarkan sehelai sapu tangan dan membekapkannya pada pemuda bernama Itachi itu.

"Itachi!" sempat pemuda biru tersebut ingin keluar dari tempat persembunyiannya hendak menyelamatkan pemuda berambut hitam itu. Namun, sepasang mata mengawasinya memberi peringatan jangan kesana dari pria bercadar itu. Meski berusaha melawan namun pemuda bernama Itachi tersebut langsung pingsan ditangan pria berambut mengkilap itu.

Pria tersebut langsung membopongnya dan segera pergi meninggalkan sepeda bergentong berisi bakpao yang dijual pemuda tersebut. Sempat ada pedagang bertanya mengapa, namun mereka menjawab "Ah! Tidak! Dia kurang tidur, emaknya nyariin... hehe...."

XxX

"Haff?" Hidan seakan baru sadar bahwa tadi dia makan semangka yang tidak dipotong sesegera mungkin ia menelan habis semangka yang sedari tadi masih saja bersarang di mulutnya, ia terkejut, "Kau! Dia akan mengikuti kita sampai ke sini, bodoh!" lanjutnya.

"Ya, aku tahu, maka dari itu..."

"Apa lagi?" hidan langsung berdiri diikuti pria disebelahnya, "Kita harus bersiap, kalau tidak tuan Pein akan menghukum kita, lagipula seharusnya kau beri tahu aku kalau saat itu ada yang mengawasi kita. Bisa langsung kita habiskan, Kakuz!" teriak pria berambut mengkilap itu.

"Ya, maafkan aku..." pria bernama Kakuzu itu mengikuti temannya atau partnernya itu masuk ke dalam markas mereka kembali.

"Tidak ada! Sekarang persiapan! Boss sudah menunggu." balas Hidan

Akan dibawa kemanakah dan diapainkah Isabella, eh, Itachi? Akankah sahabatnya menyelamatkannya? Atau membiarkannya berada di tempat itu dan dijadikan budak, atau pekerjaan - pekerjaan lain yang mengerikan? Itachi... Biarlah hanya JADI Itachi...


[*] : kue kampung gitu pinggirannya keris[patih]pi tapi tengahnya ya gtu. Enak, coba saja...

[**] : maksudnya I-don't-know.,.


HUAHAAHAH yang ini panjang [dibelain kagak les]

Gomen nee, yang belom itu gaje, yang ini tambah gaje

Chapter nanti ada kisame

Capeee

Reviewnya angka genap, oke [ngarep banyak yang review]? Gbu always reader.,. ikut vote saya ye.,.