Halo, Kuro disini :D *uhuk*
Salam dari kami, Snow Jou dan Kuroka ^_^

Akhirnya fic kedua kami (Project Three) diupdate juga, hehehe... (sumringah)
hem, daripada cape ngeliatin basa-basi saya yang nggak mutu ini... jadi, silahkan gunakan mouse atau tombol page down pada keyboard anda untuk menskipnya... :)

Akhir kata, selamat membaca dan semoga kalian terhibur... ^__^ (emangnya sirkus pake hibur-hiburan segala? ^^a *swt*)


Disclaimer: ATLUS owns Persona 4

Chapter 2: Mysterious Maiden

Kujikawa Rise biasanya adalah orang pertama yang menyadari bahwa ada masalah yang sedang menimpa sahabat baiknya, Shirogane Naoto. Di bawah cahaya lembut yang dipancarkan sang surya pagi itu, gadis berambut kemerahan dan berkuncir dua tersebut berlari ke sekolah setelah berpamitan dengan neneknya.

Setelah berjalan melintasi Samegawa River, gadis itu memperlambat langkahnya ketika ia melihat Naoto yang tampak lebih murung dari biasanya, berjalan pelan sambil menundukkan kepala di depannya.

"Naoto!!" Rise menyapa dengan cara yang terkadang dilakukannya pada Souji; gadis berkuncir dua itu melompat ke arah Naoto dan memeluknya hangat dari belakang. Naoto sempat terkejut dan kehilangan keseimbangan ketika Rise memeluknya seperti itu secara tiba-tiba, bahkan gadis itu nyaris saja menarik revolvernya.

"Ri-Rise… tolong… jangan mengagetkanku seperti itu…" Naoto menjawab dengan suara yang terdengar agak bergetar. Rise segera melepaskan pelukannya setelah menyadari bahwa tangan kanan Naoto telah menggenggam revolvernya, siap menarik benda itu kapan saja. Naoto lalu membalik tubuhnya, menghadap Rise.

"Naoto… kau seharusnya sudah terbiasa dengan caraku menyapamu, kan?" ujar Rise kebingungan. "Hari ini… kau tampak lebih… err… berhati-hati…" Rise berkata ragu seraya jari telunjuknya menunjuk revolver yang masih digenggam Naoto. Naoto akhirnya menyadari tindakannya barusan, yang secara refleks menarik revolver miliknya. Gadis itu lalu melepaskan revolver tersebut, membiarkannya tetap tergantung rapi pada tempatnya.

"Ah… maaf, Rise…" Naoto berkata lirih. "…Semua ini… disebabkan surat-surat itu, aku… sudah tidak tahan lagi…" ia berkata pahit, memalingkan sorot matanya ke arah aliran sungai Samegawa. Rise mendesah pelan.

"Oh, soal surat-surat itu? Aku juga cukup sering mendapatkan banyak surat penggemar…" kata Rise sambil meregangkan kedua tangannya, "Yah… agak melelahkan, memang… tapi menurutku, menyenangkan juga saat membaca surat-surat yang datang dari fans." Senyum tersungging di bibir Rise, yang tidak lain adalah seorang idola terkenal. Naoto tampak tidak terhibur sama sekali dengan perkataan Rise. Gadis itu membalik tubuhnya, membelakangi Rise dan melanjutkan perjalanannya. Rise segera menyamakan langkahnya dengan Naoto, berjalan di samping sahabatnya.

"Aku adalah seorang detektif, bukan idola." Kata Naoto datar. " Surat-surat yang kuterima seharusnya berisi tantangan, permintaan penyelidikan kasus, ataupun semacamnya, bukannya…" Naoto menghentikan perkataannya sesaat. Rise mendekatkan wajahnya pada Naoto.

"Bukannya… surat cinta…?" Rise berbisik pelan. "…Apa benar yang kukatakan barusan?" gadis itu menyunggingkan senyum penuh makna ketika ia melihat wajah Naoto mulai merona merah.

"Y-ya…" jawab Naoto canggung. Rise tertawa kecil.

"Naoto-kun, seharusnya kau senang dengan semua itu…" Rise kembali memposisikan dirinya di sebelah Naoto tanpa melepas pandangan dari wajahnya. "Itu berarti, banyak orang yang menyukaimu… Lagi pula, banyak gadis-gadis di dunia ini yang mengharapkan surat cinta dari laki-laki." Jelas Rise mengutarakan opininya.

Naoto menghentikan langkahnya sejenak. "Surat-surat cinta itu… bukan dari laki-laki." Naoto berkata tiba-tiba.

Rise mengerutkan keningnya. "Eh?"

"Surat-surat itu… dari perempuan…" ujar Naoto perlahan, melanjutkan perkataannya sementara ia mempercepat langkah kakinya. Rise tampak sedikit terkejut, namun gadis berkuncir dua itu sebenarnya sudah dapat menduga hal tersebut.


Di Shirogane Estate, seorang pria paruh baya dengan kacamata hitam yang melindungi iris kristalnya, terbengong-bengong begitu melihat setumpukan abu hitam di ruang tamu.

"Naoto-sama, bukankah anda sudah berangkat ke sekolah tadi?" Yakushiji mengangkat alis matanya, menunjukkan kebingungan dari wajahnya. Naoto tidak menjawab pertanyaan sang sekretaris, ia segera mempercepat langkahnya ke arah ruang tamu. Gadis itu akhirnya membuka mulutnya.

"Yakushiji-san, tolong… nyalakan perapian…" Naoto meminta tanpa ekspresi. Yakushiji dapat melihat kedua tangan gadis itu menahan setumpukan surat, menekankannya ke dada, agar surat-surat itu tidak berjatuhan.

Yakushiji tampak belum mengerti apa yang terjadi, namun pria itu hanya mengangguk menuruti.

"Yakushiji, abu hitam apa ini?" sang kepala keluarga Shirogane memasuki ruang tamu. Yakushiji sempat terkejut.

"Ah… Shirogane-sama… ini… saya tidak tahu mengapa, akan tetapi pagi ini Naoto-sama membakar banyak sekali surat…" Yakushiji menjawab. Rupanya pernyataan Yakushiji tadi menarik perhatian kakek Naoto.

"…Membakar?" ekspresi wajah bingung yang sama dengan sang sekertaris terpancar dari wajah sang tuan rumah. "Cucuku nyaris tidak pernah membakar banyak sekali surat seperti ini… terkadang ia suka meminjam mesin pemotong kertas untuk menghancurkan surat-surat yang diterimanya… namun seingatku, surat-surat itu hanya berjumlah tiga atau empat surat…" ingat sang kakek.

"Kelihatannya… keadaan sudah bertambah menjadi semakin parah, Shirogane-sama…" ucap Yakushiji.

Kepala keluarga Shirogane hanya mengangguk pelan. "Hm, sepertinya begitu…"

Yakushiji kemudian pergi mengambil peralatan untuk membersihkan bekas abu surat.

'Akan tetapi… surat-surat yang diterima Naoto-chan akhir-akhir ini rasanya tidak sebanding jumlahnya dengan yang biasa ia dapatkan… rasanya, seperti ada sesuatu yang mengganjal.' Tambah sang kepala keluarga Shirogane dalam hati. 'Kuharap masalah ini dapat segera selesai…'


Momen yang biasanya paling ditunggu-tunggu oleh para siswa, bahkan oleh para guru Yasogami High School sekalipun, adalah pada saat jam istirahat. Inilah waktu yang tepat untuk melepaskan rasa penat yang melingkupi mereka di sela-sela jam pelajaran yang melelahkan. Bel tanda jam istirahat pun berbunyi, sebagian siswa kelas 1-1 berseru senang, membiarkan buku-buku pelajaran mereka terbuka begitu saja di atas meja. Mereka segera berhamburan keluar, siap melaksanakan rencananya masing-masing.

Tak terkecuali satu-satunya gadis bertopi yang berada di kelas tersebut, Shirogane Naoto. Setelah merapikan meja tempat di mana ia duduk, gadis itu berdiri, membalikkan tubuhnya ke arah pintu kelas, hendak pergi menuju suatu tempat dengan tergesa. Namun ketika ia berjalan menuju pintu kelasnya, sebuah suara menghentikannya.

"Naoto-kun, kau ingin makan siang bersama kami?" ajak seorang gadis manis berwajah bulat, menawarkannya untuk menyantap makan siang bersama. Ia tersenyum pada Naoto sambil menepuk-nepuk kursi kosong di sebelahnya. Sementara gadis berkuncir dua yang duduk di depan gadis berwajah bulat tadi menambahkan, "Ya, ayolah Naoto-kun. Jangan malu-malu… sudah, duduk saja di sini."

Tanpa perlu berpikir dua kali, Naoto menolak tawaran tersebut. "Maaf, ada urusan penting yang harus kuselesaikan terlebih dahulu…" ujarnya tergesa. "…Mungkin, lain kali saja. Aku permisi dulu."

Sesaat kemudian, terdengar bunyi gesekan pintu kelas yang terbuka lalu menutup.

"Yah, sayang… padahal tadinya kupikir dia mau makan siang bersama kita." Keluh si gadis berwajah bulat kepada gadis berkuncir di depannya.

"Mungkin dia memang sedang sibuk, atau memang kita yang sedang tidak beruntung…" timpal si gadis berkuncir. "Ya sudahlah, ayo kita makan!"

"Huh, bisa-bisanya dia berkata seperti itu…" sahut sebuah suara secara tiba-tiba. "Tidak usah pakai bilang ada urusan penting segala, bilang saja kalau kau memang tidak suka dekat-dekat dengan orang lain."

Setelah mengucapkan hal tersebut, seorang gadis anggun keturunan campuran Jepang-Kanada itu menarik kursi kosong yang tadi ditawarkan kepada Naoto, lalu mendudukinya, menimbulkan suara gesekan pelan saat ia menariknya. Dilihat dari cara bicara hingga penampilannya, tampaknya gadis itu bukan sembarang gadis biasa.

"Err, kau… anak kelas sebelah, kan?" Tanya si gadis berkuncir, sementara otaknya terus mencoba mengingat-ingat siapa gadis anggun tersebut. "Kenapa kau… tiba-tiba duduk di sini?"

Gadis yang keeleganannya tidak kalah dari Yukiko itu tersenyum lalu menjawab, "Yah, hanya sekedar untuk mampir, sesederhana itu saja." Jawabnya enteng. "Jadi, apa kalian berpendapat sama denganku?"

"Maksudmu?" Tanya gadis berwajah bulat, heran. "Soal… Shirogane barusan…?" tambahnya dengan ragu.

"Benar sekali," jawab gadis anggun tersebut. "Kalian sebagai teman sekelasnya pasti lebih tahu, kalau dia sering seperti itu—yah, semacam menolak tawaran baik-baik kalian, yang jelas-jelas hanyalah sebuah tawaran sederhana, misalnya ajakan untuk makan siang bersama… seperti tadi." Papar gadis itu dengan intonasi suara yang meyakinkan.

"…Yah, memang sejak awal Shirogane pindah ke sekolah ini, dia selalu menolak tawaran kami…" sang gadis berkuncir berkata jujur. Sementara gadis berwajah bulat hanya terdiam, mengoreksi memorinya sejenak.

"Kalian tahu? Mungkin dia seperti itu, karena… yah, dia menganggap bahwa menghabiskan waktu bersama dengan teman sekelasnya sendiri hanya akan membuang-buang waktunya saja." Tutur gadis dari kelas sebelah itu dengan senyum misterius yang belum memudar dari paras anggunnya, sambil melirik ke arah pintu kelas, di mana Naoto keluar dari kelas tanpa menerima tawaran mereka tadi. "Pernahkan kalian melihatnya menghabiskan waktu dengan salah seorang dari kalian?" kedua gadis yang diajaknya berbicara hanya mampu menggeleng.

"Jika dibandingkan dengan kalian, teman sekelasnya sendiri," ujar gadis itu memprovokasi. "…Kelihatannya Shirogane lebih menyukai teman-temannya yang lebih… istimewa."

"…Istimewa?" wajah sang gadis berkuncir mengerut, ia lalu meletakkan kotak bekalnya di atas meja. Kemudian ia memutar kedua bola matanya, berpikir. "Oh…!" serunya tiba-tiba, "Maksudmu… seperti Kujikawa Rise dan Seta-senpai?"

"Bingo." Jawab gadis anggun yang ternyata berada dalam satu kelas dengan Rise tersebut. "Dan, bukan hanya mereka saja. Masih ada beberapa orang 'istimewa' lainnya…" tambah gadis itu, senyum puas yang ada di wajahnya semakin mengembang.

"Hm, selain dengan mereka berdua…" pikir si gadis berkuncir dua, "Shirogane sering menghabiskan waktu dengan…"

"Ah, aku ingat!" timpal si gadis berwajah bulat, "Dulu, saat aku sedang menemani ibuku berbelanja bahan-bahan untuk makan malam di Junes, aku pernah melihat Shirogane sedang berkumpul bersama Amagi-senpai, Hanamura-senpai, dan… Tatsumi Kanji, siswa yang paling ditakuti di sekolah ini."

"Tunggu, kau benar…" sahut si gadis berkuncir kepada gadis berwajah bulat, wajahnya tampak terkejut. "Amagi-senpai adalah putri keluarga Amagi, yang nantinya akan meneruskan usaha penginapan Amagi yang diturunkan secara turun-temurun itu, dan…" gadis berkuncir itu memasang wajah serius, "penginapan Amagi adalah salah satu kebanggaan kota ini…" gadis itu menyelesaikan kalimatnya.

Kemudian gadis berwajah bulat di depannya ikut menambahkan, "Dan Hanamura-senpai, dia adalah putra dari seorang manajer Junes cabang kota ini," gadis berkuncir mengangguk menyetujui.

"Kalau dipikir-pikir, kau… benar juga," gadis berkuncir menyimpulkan. "Shirogane lebih sering bergaul dengan anak-anak yang… istimewa," tambahnya, volume suaranya kian mengecil.

Sedangkan gadis berwajah bulat mengerutkan dahinya, kedua matanya menyipit. "Tidak kusangka, Shirogane ternyata orang yang seperti itu." Katanya kesal. "Mentang-mentang sudah terkenal dan sering muncul di TV, dia hanya ingin bergaul dengan orang-orang istimewa saja…!" dengusnya sambil menyantap lauk makan siang terakhirnya.

"Sayang sekali…" ujar sang gadis dari kelas sebelah, ekspresi sedih bercampur kecewa yang terpancar dari wajahnya terkesan meyakinkan. "Tadinya kupikir dia orang yang baik, seperti yang kelihatannya ada di TV…" lalu ia melirik keluar jendela, langit yang pada sebelumnya berwarna biru cerah, kini mulai tertutupi awan hitam yang tipis, bersamaan dengan banyaknya burung-burung yang beterbangan gesit di langit, hendak mencari perlindungan dari hujan deras.

Senyum tiba-tiba merekah pada bibir gadis anggun tersebut, ia kemudian melanjutkan perkataannya. "…Tapi, stasiun televisi bisa menipu kita, sama seperti ketika kita mengira bahwa Shirogane Naoto, sang Detective Prince, adalah seorang laki-laki." Gadis itu kemudian mengembalikan perhatiannya kepada kedua gadis teman sekelas Naoto. "Jelas-jelas itu namanya penipuan, padahal sebenarnya Detective Prince adalah seorang perempuan," tatapan matanya menajam, wajahnya menunjukkan ekspresi kebencian. "Dia telah menipu ribuan, bahkan jutaan orang yang melihatnya di TV… benar-benar sebuah tindakan yang rendah."

"Bahkan membuat dirinya tenar saja tidak cukup baginya, coba kalian pikirkan baik-baik… kalian sendiri tentu pernah melihatnya dengan mata kepala kalian sendiri, saat dia menyia-nyiakan semua surat-surat yang ditujukan padanya, membuangnya ke tempat sampah sekolah begitu saja, tanpa mempedulikan perasaan sang penulis surat," paparnya dengan ekspresi kesal. "Padahal, bukankah ia seharusnya bisa membuangnya di tempat lain, selain di sekolah ini? Tetapi ia justru membuangnya tanpa membaca isi suratnya terlebih dahulu semudah itu…" gadis itu menyelesaikan kalimatnya, wajahnya dipenuhi ekspresi kekecewaan dan kemarahan yang dipendam. Lalu ia mendekatkan wajahnya pada kedua gadis di hadapannya, senyum penuh makna menghiasi bibir gadis anggun itu, seolah-olah menghipnotis kedua gadis di hadapannya. "…Bagaimana pendapat kalian tentang hal itu?


"Jadi… keadaan bertambah semakin parah dari sebelumnya? Kulihat kau memang pernah mendapat surat cinta, namun tidak sampai sebanyak kemarin…" seorang pemuda tampak berpikir keras. Ia lalu menoleh pada gadis yang duduk di sampingnya, yang tidak lain adalah Naoto. "…Kita lihat dulu saja bagaimana keadaannya, setelah itu, kita akan bertindak. Tenang saja, aku akan membantumu."

"Terima kasih telah meluangkan waktumu untuk mendiskusikan masalah ini, Senpai… dan… karena telah mengundangku untuk makan siang." Naoto tersenyum pada pemuda yang duduk tepat di sampingnya. Gadis itu kemudian menghabiskan bekal makanannya dan menutup kotak bekal tersebut.

"Tidak masalah." Jawab pemuda tersebut singkat. Pemuda itu lalu merasakan angin yang bertiup mulai menampar wajahnya. "Sebaiknya, kita segera kembali ke kelas, terlalu lama duduk di atap juga tidak baik… sepertinya hujan deras akan turun, atau mungkin… badai." Sang pemuda yang tidak lain adalah Seta Souji menyarankan.

Naoto mengangguk perlahan. "Ya, sebaiknya kita segera kembali."

Souji segera berdiri dari tempat duduknya, diikuti oleh Naoto. Angin mulai bertiup semakin kencang dan Naoto menahan topinya agar tidak terbawa angin kencang.

"Sebaiknya kau lepas saja topi itu dari kepalamu, lalu dekap dengan kuat-kuat, Naoto." Souji menoleh pada gadis yang berjalan di belakangnya. "Bisa bahaya nanti kalau topimu sampai terbang terbawa angin," tambahnya. "Terkadang ada cara lain yang bisa digunakan untuk menyelesaikan sesuatu, akan tetapi tidak semua orang menyadari hal itu."


Sesuai apa yang dikatakan Souji, hujan deras yang disertai angin kencang mulai melanda Inaba. Saat bel tanda jam pelajaran usai berbunyi nyaring, Naoto segera membereskan buku-bukunya dan menyimpannya ke dalam tas, sebelum ia berjalan keluar kelas menuju loker sepatunya. Gadis itu lalu mulai membuka loker sepatunya dan—

…SRAK!

Seperti apa yang terjadi pada kemarin-kemarin, surat-surat beramplop merah muda tersebut jatuh berhamburan dari loker sepatunya. Naoto seakan-akan kehilangan tenaganya sesaat. Ia mulai berlutut, memunguti surat-surat itu dengan enggan, menatap surat-surat tersebut dengan tatapan penuh kebosanan.

Belum lama ia memunguti surat-surat itu, gadis itu menyadari bahwa surat-surat tersebut tidak terlihat lagi berhamburan di lantai. Ia kemudian merasakan keberadaan seseorang di belakangnya.

"Ini…" terdengar sebuah suara yang familiar di telinganya, gadis itu segera menoleh dan mendapati Souji telah berdiri di belakangnya, menyodorkan surat-surat yang dipungut oleh pemuda itu kepada Naoto.

"…Senpai… um… terima kasih." Ujar Naoto pelan. Lalu ia segera berdiri, meraih surat-surat tersebut dari tangan Souji.

"Peristiwa yang sama… lucunya, kurasa kau menerima lebih banyak surat cinta daripadaku." Senyum merekah dengan lebar dari bibir Souji. Naoto menghela napas.

"Kesabaranku… sudah hampir habis…" gumam gadis itu perlahan dengan volume suara kecil, tanpa ditujukan kepada siapapun. Namun Souji tampaknya mendengar gumaman gadis itu. Senyum pemuda itu memudar, kemudian ia mendesah pelan, iris kristal abu-abunya memperhatikan Naoto yang meremas-remas seluruh surat-surat tersebut dan membuangnya ke tempat sampah dengan tatapan iba. Setelah menarik nafasnya sekali, Souji akhirnya membuka mulutnya.

"…Naoto."

"Ya, senpai…?" Naoto menjawab lirih tanpa mengalihkan pandangannya kepada Souji.

"Bagaimana kalau kita—"

Kilat yang seakan-akan membelah langit mengeluarkan suaranya yang menggelegar, meredam kata terakhir yang diucapkan oleh Souji. Naoto tampaknya tidak mendengar apa yang dikatakan Souji barusan.

"Um… Senpai, apa yang tadi kau katakan?" tanya Naoto seusai membuang surat-surat tersebut. Souji menutup kedua matanya, lalu membukanya lagi, memperlihatkan kristal abu-abu jernihnya yang menatap sang gadis dalam-dalam. Senyum tipis kemudian merekah di bibirnya.

"… berpacaran?" ujar pemuda tersebut, mengulang kata yang sempat tertutupi oleh bunyi guntur, diiringi bunyi rintik-rintik hujan yang menghantam tanah dan atap sekolah.


A/N: Hai hai! Jo di sini :D

ahaha, mungkin di chapter ini masih seperti biasa, banyak kekurangan
dan kami usahakan untuk mengupdate lebih cepat dan taat jadwal...

thanks to kyriell, MelZzZ, heylalaa, Shina Suzuki dan DeathCode atas kesediaan memberikan reviewnya yang berharga dan meniupkan semangat kami

hmm... seperti yg disebutkan di atas, mungkin masih banyak kekurangan...
mau berkomentar, flame, kritik, dan lain" silahkan tekan tombol hijau di bawah, arigatou~