Salam! here's Jo
chapter ini agak terlambat di-update, maaf... dan... yak, ga perlu banyak basa-basi pointless dari saya, hope you enjoy!
Disclaimer: ATLUS owns Persona 4
Chapter 3: The Beginning of the Plans
"Bagaimana kalau kita berpacaran?"
Itulah kalimat singkat yang dilontarkan Souji kepada Naoto, yang membuat gadis itu merasa perlu mengoreksi pendengarannya.
"H-huh…?" sebuah senyum kikuk terbingkai di wajah sang gadis yang sedang bingung, perasaannya tidak menentu. "E… tadi… apa yang senpai katakan…?" Naoto bertanya gugup, ingin memastikan bahwa ia pasti salah mendengar.
Melihat reaksi normal seorang gadis 'belum berpengalaman' yang tiba-tiba saja mendapat pernyataan cinta dari seorang pria, Souji merasa harus menjelaskan maksud dari kata-katanya barusan.
"Ah, maaf…" Souji berusaha menenangkan adik kelasnya yang terlihat kebingungan itu, menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Maksudku… bukan seperti itu, tapi..." ia memberi sedikit jeda pada perkataannya, "…bagaimana kalau kita… pura-pura berpacaran?"
Mendengar tawaran yang terlontar dari mulut kakak kelasnya itu justru semakin membuat Naoto tidak mengerti. "…Maksud… senpai?" ia mengerutkan keningnya, meskipun rona merah pada pipinya masih belum pudar seutuhnya. Souji mengambil nafas sejenak.
"Jadi, begini…" Souji mencoba mengencangkan suaranya, agar tetap terdengar di sela-sela bunyi ribuan rintik hujan yang jatuh menghujam tanah. "Aku punya sebuah rencana, yang mungkin bisa membantumu agar kau bisa terbebas dari masalah ini."
"…Rencana?" kini aura keseriusan terpancar pada wajah Naoto, membuatnya semakin mirip dengan sang tokoh detektif terkenal yang sempat naik daun di TV, Detective Prince. Souji tersenyum menanggapi pertanyaan singkat gadis itu.
"Saat kita makan siang bersama tadi, kau sempat mengatakan bahwa kau selalu menerima surat-surat tersebut, tak peduli meskipun kau secara terang-terangan sengaja membuangnya ke tempat sampah sekolah, bukan begitu?" Souji mengingatkan.
Gadis yang sedang berdiri di hadapannya mengangguk pelan. "Ya, setiap hari memang selalu begitu…" ujar gadis itu lirih.
"Dan…" pemuda bermarga Seta itu menambahkan, "seluruh surat-surat itu berasal dari… perempuan, bukan?" Souji berusaha menahan tawa yang seakan-akan siap meledak dengan cara mengontrol setiap intonasi suaranya saat ia berbicara, berharap gadis di hadapannya itu tidak merasa tersinggung, atau Souji akan berakhir dengan dua lubang peluru bersarang di kepalanya.
Namun perasaan yang dengan sekuat tenaga pemuda itu tekan, luntur seketika begitu keheningan menyelubungi mereka. Kemudian pemuda itu menghela nafasnya, kembali menatap wajah tertunduk gadis di depannya dengan tatapan hangat, namun menunjukkan keprihatinannya.
Di tengah derasnya hujan, keduanya terdiam dalam atmosfer yang senyap.
"…Baiklah," suara pelan sang gadis memecah keheningan. "Aku… akan menjalankan rencana senpai… apapun itu, yang jelas..." suaranya agak bergetar, "…aku bisa terbebas dari semua ini…" ucapnya lirih. "Aku… ingin semua ini segera berakhir," katanya menambahkan. Sementara cahaya pada kristal biru keabuan jernihnya mulai memudar.
"Sudahlah…" Souji kemudian melangkah mendekati gadis di hadapannya, mengelus pelan kepala Naoto, membuat gadis itu sedikit tersentak. "Tidak usah memikirkan hal itu dulu… nah, sekarang," hibur Souji sambil menatap Naoto dengan senyum terbingkai di wajahnya, "…ada baiknya kalau kita segera pulang," ujarnya mengingatkan. "Murid-murid yang lain, kelihatannya… mereka semua sudah pulang sejak tadi."
Raut wajah Shirogane Naoto berubah seketika, begitu menyadari bahwa siswa yang masih berada dalam sekolah itu hanya tinggal mereka berdua saja. Naoto cepat-cepat merogoh tasnya, mencari benda berangka besi pelindung dari air hujan itu.
Namun apa yang dicari sang gadis, tidak dapat ditemukannya. Tampaknya payung kecilnya tertinggal di Shirogane Estate. Melihat Naoto yang tampak kebingungan, Souji segera menarik sebuah payung dari tas yang disandangnya.
"Kau mau sepayung denganku?" Souji tersenyum, menunjuk payung yang digenggamnya. Naoto memandang Souji sesaat. Raut wajahnya tampak bingung.
"Apa aku… tidak terlalu merepotkan senpai…?" tanya gadis itu tiba-tiba, membuat Souji mengangkat salah satu alisnya. Namun Souji segera tersenyum kembali, menepuk pundak gadis di hadapannya.
"Bukankah sudah pernah kukatakan, bahwa menolong orang lain sama saja dengan menolong diriku sendiri?" perkataan Souji membuat raut wajah Naoto sedikit cerah.
"Um… baiklah, terima kasih… senpai."
"Lagipula…" Souji melengkapi kalimatnya. "Tidak perlu ada alasan untuk menolong orang lain."
Mendengar penuturan tersebut, sesaat Naoto merasa kagum pada kakak kelasnya itu. "Akan tetapi," rupanya kalimatnya masih bersambung, "…ada alasan bagi seseorang untuk tidak menolong orang lain." Souji akhirnya tertawa kecil, puas dengan candaannya sendiri. Seketika, tembok kekaguman yang baru saja dibangun sang gadis runtuh berjatuhan.
"Senpai ini… bercandanya aneh-aneh saja…" bisik Naoto pelan, kemungkinan besar orang lain tidak dapat mendengarnya, terlebih lagi karena hujan deras yang dapat meredam suara kecilnya.
"Hm? Kau mengatakan sesuatu, Naoto?" selidik Souji.
"Hah? Oh… bukan apa-apa." Gadis itu segera menutup mulutnya.
Rintik hujan masih menghujam tanah, ketika Souji dan Naoto berjalan keluar gerbang sekolah, dengan payung milik Souji melindungi mereka berdua.
"Naoto, mendekatlah sedikit, atau payung ini tidak dapat melindungi kita berdua sekaligus, jangan terlalu menjaga jarak…" Souji menyarankan. Wajah Naoto mulai merona merah.
"Ehm… tapi… m-maaf…" Naoto melangkah mendekati Souji. Tiba-tiba saja, ia mengungkit masalah yang dibicarakannya tadi. "Senpai… aku… apa yang kukatakan barusan… aku serius… aku ingin segera terbebas dari surat-surat itu…" katanya ragu, tubuhnya sedikit bergetar, sementara matanya terus melihat jalan yang terbentang di hadapan mereka.
Senyum hangat menghiasi wajah Souji. "Aku tidak memaksamu, tapi… apa kau yakin?" Souji bertanya hati-hati pada Naoto, yang kemudian mendapatkan anggukan pelan dari gadis itu sebagai jawaban.
Keesokan paginya, gerimis masih membasahi bumi. Awan-awan hitam menutupi langit, nampaknya sang surya masih belum tersenyum di Inaba pagi itu.
Cuaca yang mendung, sangat sesuai dengan suasana hati Naoto saat itu, ketika dibukanya kotak surat Shirogane Estate yang lagi-lagi berisi setumpukan surat beramplop merah muda. Untungnya, Yakushiji yang sedang berdiri tidak jauh dari kotak surat tersebut mencoba membantu gadis itu.
"Naoto-sama, anda berangkat saja ke sekolah, biar saya yang mengurus surat-surat ini." Katanya tersenyum pada Naoto, yang kemudian dibalas dengan anggukan kecil dari Naoto.
"Maaf merepotkan, Yakushiji-san," ujar Naoto yang kemudian berlari keluar Shirogane Estate dengan payung kecil yang digenggamnya sebagai pelindung dari hujan.
Naoto berjalan menuju ke sekolah, menelusuri jalan beraspal di samping sungai Samegawa yang mengalir lebih deras dari biasanya. Dapat dilihatnya beberapa murid lain juga berjalan menuju arah dan tujuan yang sama dengannya, dengan payung masing-masing yang melindungi mereka.
"Selamat pagi, Naoto." Terdengar suara familiar yang memanggilnya, membuat Naoto segera menoleh ke belakang, mendapati Souji sedang berdiri tersenyum padanya, menggenggam payung kecil yang terbuka.
"Selamat pagi, Souji-senpai," senyum menghiasi wajah gadis itu. Entah kenapa, Souji adalah satu-satunya orang yang ingin ditemuinya saat ini. Souji segera menyamakan langkahnya dengan Naoto, berjalan di samping gadis itu. Namun tiba-tiba Souji merasakan seseorang berjalan di belakangnya. Ia melirikkan matanya sedikit ke belakang, dan mendapati seorang gadis cantik yang tampak anggun dan elegan, nyaris seperti Yukiko, berjalan di belakang mereka seorang diri dengan membawa payung juga. Wajah gadis itu seperti gadis keturunan campuran Jepang dan Kanada (itulah prediksi Souji saat itu, yang sebenarnya tepat). Souji merasakan gadis tersebut sejak tadi terus mengawasi mereka.
Secara tiba-tiba, Souji segera mencondongkan tubuhnya, membisikkan sesuatu pada Naoto yang berjalan di sampingnya.
"Lepas payungmu," bisik Souji pelan, membuat Naoto kebingungan.
"Eh?" itulah respon singkat gadis itu. Namun tanpa menunggu Naoto, Souji langsung meraih payung dari tangan Naoto, menutup payung tersebut dan memayungi gadis itu dengan payung yang dibawanya.
Tanpa sang gadis sempat berkomentar apapun, Souji langsung berbisik. "Kita sepayung berdua… rencana kita kemarin… kau ingat?"
"A-ah… ya…?" Naoto menjawab kikuk. Souji kemudian kembali melirik ke belakang, melihat sekilas gadis di belakangnya tampak sedikit bereaksi atas tindakan mereka. Tanpa pikir panjang, Souji segera menyentuh pundak Naoto dari belakang, menariknya sedikit lebih dekat dengan dirinya. Wajah Naoto langsung merah padam.
"S-senpai…!" gadis itu masih berhasil menahan volume suaranya agar tidak terlalu keras. Namun Souji hanya terdiam, tidak merespon kata singkat dari Naoto. Ekspresinya tampak serius, sementara matanya terus memandang lurus ke depan.
'…Gadis itu… memandang Naoto dengan tatapan murka… sebenarnya apa yang diinginkannya…?'
"S-senpai… ini… agak terlalu berlebihan…" Naoto berbisik perlahan, menyadarkan Souji dari lamunannya. Souji segera menyadari tindakannya dan melepaskan tangannya dari pundak Naoto.
"A-ah… maaf…" tanpa disadarinya, wajah Souji ikut memerah. Sesaat, pemuda itu merasa ingin melindungi Naoto dari gadis yang berjalan di belakangnya, dan tanpa sadar langsung menarik Naoto untuk berjalan lebih dekat dengannya.
Sementara, gadis Jepang-Kanada yang berjalan di belakang mereka, memandang mereka dengan tatapan penuh kebencian.
"Senpai, memang kemarin aku mengatakan bahwa aku menyutujui rencana senpai," ucap seorang gadis berambut biru pada seorang pemuda berambut abu-abu di hadapannya. Sama seperti kegiatan mereka kemarin, mereka berdua sedang beristirahat dan makan bersama di atap sekolah. "Tapi, a-aku masih tidak mengerti… tolong jelaskan padaku, sebenarnya rencana senpai itu seperti apa…?" ucapnya sedikit depresi. Sepertinya tindakan yang dilakukan Souji padanya pagi tadi membuatnya sedikit kaget. Hal itu benar-benar di luar dugaan sang gadis.
'Oh, iya… aku lupa kalau Naoto agak bebal dengan hal-hal seperti ini… mungkin ini cukup membingungkannya…' batin Souji, yang akhirnya teringat akan kepolosan adik kelasnya itu mengenai hal-hal yang berhubungan dengan masalah 'percintaan' ataupun semacamnya.
Pemuda berambut abu-abu itu kemudian membuka mulutnya. "Ah, aku lupa menjelaskan rencanaku padamu… kupikir, kemarin kau mengatakan bahwa kau serius akan menjalankan rencanaku, apapun itu…?" ujar Souji, berniat untuk sedikit menguji gadis bertopi biru di hadapannya dengan senyum jahil tersungging pada bibirnya.
Namun ekspresi Souji berubah seketika begitu ia mendengar suara genggaman sebuah revolver yang siap ditarik kapan saja, membuatnya berdeham sejenak, kemudian kembali melanjutkan kalimatnya. "Kupikir, memang ada seorang gadis yandere yang menyukaimu…" ujarnya setengah serius, masih sedikit bermaksud menjahili adik kelasnya tersebut.
"Jangan bercanda, senpai…" ucap Naoto dengan dingin. Souji merasakan aura 'dewa kematian' menyelimuti Naoto, gadis itu tampak siap mengeksekusi pemuda itu kapan saja.
Souji kembali berdeham, berniat untuk menghentikan niatnya menjahili Naoto. "Jadi, begini…" Souji berkata dengan nada suara yang dibuat seserius mungkin, "Pada awalnya, kupikir gadis-gadis yang mengirimu surat-surat itu, hanyalah para gadis yang… agak keras kepala," Souji mengambil jeda sesaat pada perkataannya untuk mengambil nafas sebentar, "Jadi, kurasa kalau mereka tahu kalau kau… yah, sudah memiliki pacar… mungkin, mereka akan putus asa, lalu mulai berhenti mengirimimu surat-surat lagi…"
'Akan tetapi… entah mengapa, aku punya firasat kalau masalah ini tidak sesederhana itu…' Souji berkata dalam hati, kemudian mengingat gadis Jepang-Kanada yang pagi tadi terus menatap mereka berdua. '…Ah,mungkin itu hanya perasaanku saja… Semoga tidak terjadi sesuatu yang buruk,' batinnya sambil menutup kedua matanya, menyilangkan kedua lengannya, lalu menggeleng pelan.
'…Tetapi… sebaiknya aku terus waspada… kelihatannya gadis yang tadi pagi kulihat, dia… agak berbahaya…'
"Jadi…" suara Naoto menyadarkan Souji dari lamunannya, "…kalau para gadis itu berpikir bahwa aku sudah memiliki seorang kekasih… mereka… akan berhenti mengirimiku surat…?" Naoto terdiam beberapa saat, mencerna perkataan Souji barusan. "…Apa senpai yakin, kalau rencana ini akan berhasil…?"
"Yah, aku sendiri kurang begitu yakin, tapi… apa kau punya rencana lain?" pertanyaan Souji hanya disambut gelengan lemah oleh gadis berambut biru itu. "Jadi, kau sudah siap bertaruh dengan rencana ini?"
"Aku bersedia mempertaruhkan nama keluargaku sebagai taruhannya, yang jelas, taktik yang kita rencanakan harus berjalan sempurna, Souji-senpai." Secara tiba-tiba semangat mengerikan mulai tersulut dan berkobar-kobar dalam diri Naoto, seolah-olah ia akan menghadapi sebuah medan pertempuran antara hidup dan mati. Sementara Souji merinding tatkala ia merasakan aura menekan dalam diri Naoto. "Mulai sekarang, mohon kerja samanya," ucap Naoto sambil menatap Souji serius.
'…Hah, wanita memang sulit dimengerti, mereka cepat sekali berubah-ubah…' pikir Souji kemudian, disambut oleh helaan nafas panjangnya.
Seorang gadis elegan tersenyum sambil bersandar pada pintu menuju atap sekolah, kedua lengannya disilangkan ke depan dadanya, kemudian ia menutup kedua matanya. 'Sepertinya Shirogane cukup menikmati permainan kecilnya… Baiklah, akan kulayani sesuai keinginannya.' Kemudian pada wajahnya terbayang seringai tipis.
"Baiklah, jadi begini… biasanya sepasang kekasih selalu berjalan berdampingan ketika mereka bepergian, seperti saat mereka berangkat atau pun pulang sekolah berdua," tutur Souji memberikan ceramah singkat kepada Naoto di sebuah gazebo dekat sungai Samegawa ketika mereka berdua pulang dari sekolah. Sementara gadis itu menelungkupkan tangannya ke dagu, menganggukkan kepalanya. Bola matanya memandang Souji serius, sementara otaknya terfokus pada setiap perkataan Souji, berusaha mencerna informasi dari pemuda berponi mangkok tersebut.
Gadis itu tiba-tiba membuka mulutnya. "…Kulihat, tampaknya senpai begitu memahami hal-hal semacam ini secara mendetail… kelihatannya senpai seperti orang yang sudah berpengalaman… apa sebelumnya… senpai pernah memiliki seorang kekasih?" selidik gadis itu di tengah-tengah kepolosannya. Souji tampak sedikit kaget begitu mendengar pertanyaan Naoto.
"H-ha? Itu… belum… belum pernah…" jawab Souji agak kaku. "Aku… hanya menilai dan menyimpulkannya dengan melihat dari kebanyakan pasangan kekasih, hanya itu saja..." jawab Souji apa adanya. Tentu saja, pada kenyataannya banyak gadis yang jatuh cinta kepada Seta Souji, itu merupakan suatu hal yang wajar. Namun yang tidak wajar adalah, sampai saat ini Souji sama sekali belum pernah memiliki seorang kekasih. "Kurasa… belum ada yang cocok." Itulah jawaban singkat Souji ketika Yosuke pernah menanyakan hal itu kepadanya.
"Oh, begitu…" itulah reaksi singkat Naoto, wajahnya datar, nyaris tanpa ekspresi. "Silahkan senpai lanjutkan kembali…" sementara Souji menghela napas lega. Sesungguhnya, ia merasa sedikit malu menjelaskan hal-hal seperti ini pada adik kelasnya yang masih 'hijau'. Namun, melihat Naoto yang sedang berjuang membuat Souji merasa ingin membantunya.
"Lalu, biasanya mereka berdua berjalan sambil bergandengan tangan…" Souji melanjutkan kembali penjelasannya, sementara raut wajah Naoto mulai sedikit memucat. Mungkin ini hal yang cukup sulit baginya, berhubung ia sama sekali belum terbiasa dalam melakukan tindakan semacam ini, apalagi ia harus melakukannya dengan lawan jenis… meskipun hanya pura-pura, tentu saja. Akan tetapi tak dapat dipungkiri lagi, hal ini cukup mengganggu dirinya. Namun bagi Naoto, masalah surat-surat yang terus berdatangan selama sebulan terakhir itu lebih mengganggunya daripada masalah 'sandiwara cinta'nya dengan Souji, membuat gadis ini berusaha untuk tetap mendengarkan penjelasan Souji meskipun sebenarnya ia tidak begitu menyukainya.
"…Kemudian, biasanya—"
"Maaf, Senpai… um, mungkin penjelasannya cukup sampai di sini dulu saja…" tangan kanan Naoto terangkat, sementara kepalanya tertunduk dalam. Sejujurnya, Naoto sama sekali tidak paham akan penjelasan Souji sejak 15 menit terakhir, disebabkan kepalanya sulit mencerna materi-materi semacam itu.
Souji tersadar bahwa ia menjelaskan terlalu rinci, padahal gadis di depannya sulit sekali menangkap informasi semacam ini. Hal itu membuat wajah Souji sedikit memerah, merasa malu atas tindakannya barusan: mengajari terlalu detail tentang percintaan pada adik kelasnya yang masih 'polos' itu. "Ah… maafkan aku, Naoto. Sepertinya, aku agak terlalu… bersemangat..." ujarnya seraya menggaruk pipinya pelan.
"Tidak apa-apa, senpai…" setidaknya itulah yang diucapkan oleh Naoto, berusaha agar tidak membuat kakak kelasnya itu merasa kecewa, karena sebetulnya… tak ada satupun perkataan Souji yang menyangkut dalam pikirannya.
"Huft, baiklah… mungkin kita coba pelan-pelan saja…" Souji menatap Naoto dengan tatapan lembut yang tidak gadis itu sadari. "Apa kau sudah siap, Naoto?" tanya Souji memastikan.
"Entahlah…" Naoto menjawab tanpa semangat, menyebabkan Souji mendesah.
"Jangan bersedih, Naoto. Bersemangatlah, kau lihat alam di sekitar kita ini?" Souji kemudian berdiri dari tempat duduknya dan memperhatikan sekeliling mereka. Naoto ikut memperhatikan sekelilingnya.
"...Um... maksud senpai...?" tanya Naoto yang masih kebingungan. Souji kemudian tersenyum dan berjalan keluar gazebo, mengisyaratkan sang gadis untuk mengikutinya. Seketika Naoto berjalan keluar, ia merasakan angin lembut menerpa wajahnya.
Beberapa helai daun menari-nari mengikuti hembusan angin, aliran sungai Samegawa tampak berkilau dan mengalir teratur. Bunyi gemerisik dedaunan dan aliran tenang dari sungai terpadu bagai musik di telinga mereka. Sementara bentangan tak terbatas dari langit dilukis oleh matahari yang bersiap untuk tidur di ufuk barat tebing cakrawala, memanggil kawannya, sang bulan, untuk bersiap-siap menjaga tanah Inaba. Tanpa disadarinya, Naoto menyunggingkan senyuman, dan wajahnya merona merah memperhatikan sekelilingnya.
"Aku tidak pernah menyangka sore hari akan terasa seindah ini," ujar sang gadis sambil mengagumi sekitarnya. "Aku tidak pernah menyadarinya."
"Bersemangatlah," ucap Souji di sampingnya. "Angin membelai rambut kita dengan lembut, anggap saja... sang angin sedang menghiburmu. Jika sekelilingmu indah, bukankah kau merasa harus menjadi indah juga? Dan tidak ada yang terasa indah jika kau bersedih, atau kau ingin menjadi bebek di antara angsa?" Souji tertawa, bermaksud menjahili gadis di sampingnya.
"Hmm... terima kasih, senpai." Di luar dugaan Souji, Naoto justru tersenyum lembut sambil menatap Souji dengan kilau indah dari kristal biru kelabunya, membuat Souji terpana sesaat dan menyadari bahwa semburat kemerahan mulai mewarnai wajahnya.
"E-eh? Oh, sama-sama..." Jawab Souji mengalihkan wajahnya sedikit agar dapat menutupi semburat merah muda yang merona pada wajahnya. Tak perlu waktu yang lama untuk mengembalikan kondisinya pada keadaannya semula, ia kemudian melangkah ke arah jalan beraspal yang terbentang di depan mereka. Ia membalikkan tubuhnya, menghadap Naoto, kemudian mengangkat satu tangannnya.
"Biar kuantar pulang, dan aku tidak menerima 'tidak' sebagai jawaban." Souji tersenyum lembut. Naoto merasa wajahnya merona sesaat, kemudian ia segera melangkah menghampiri Souji. Gadis itu kemudian mengangkat tangannya dan menepuk telapak tangan Souji yang terulur, cukup keras hingga membuat pemuda itu meringis kecil.
"Senpai yang memintaku untuk bersemangat, jangan menyesal," jawab Naoto tanpa kehilangan senyumannya.
Dan mereka berdua melangkah bersama, sementara angin menghembus dedaunan dan mahkota bunga-bunga, memberi arahan pada mereka untuk melambaikan tangan pada kedua remaja yang berjalan pulang bersama-sama, sementara langit semakin menggelap dan matahari siap berbaring untuk beberapa jam.
A/N: A..saya (Kuro) di sini... ^^v
Maaf (beribu-ribu maaf) sebelumnya (karena chapter ini amat sangat telat apdet dan) kalau di chapter ini masih terdapat kekurangan-kekurangan yang mengganjal... - -a
Oleh karena itu, kami sangat memohon kesediaan dari pembaca sekalian untuk memeberi kritik/masukan/saran (dan kawan-kawannya)...
Balon kecil di halaman akhir chapter ini telah menunggu~ :D
Kemudian, yang paling penting...
Terima kasih banyak untuk DeathCode, MelZzZ, Shina Suzuki, lee0, dan heylalaa atas reviewnya yang berharga di chapter sebelumnya...^^
Review-review dari kalian telah membangkitkan kembali semangat kami, hehe. _
Well, adios to the next chapter! XD
OMAKE
Souji dan Naoto sedang duduk di gazebo dekat Samegawa River. Sang pemuda berniat mengajar sang gadis tentang bagaimana menjadi sepasang kekasih.
Sang pemuda rupanya terlalu bersemangat hingga tak menyadari bahwa sang gadis merasa kesulitan untuk memahami perkataan yang dilontarkan olehnya. Akhirnya sang pemuda memutuskan untuk menerangkan penjelasannya dengan perlahan-lahan dan lebih tenang.
"Huft, baiklah, mungkin kita coba pelan-pelan saja..." Souji menatap Naoto dengan tatapan lembut yang tidak gadis itu sadari. "Apa kau sudah siap, Naoto?" tanya Souji memastikan.
"Entahlah..."
Melihat adik kelasnya yang tampak tidak bersemangat, Souji berusaha membangkitkan semangat sang gadis kembali. "Ayolah, kemana perginya seorang gadis yang rela mempertaruhkan nama keluarganya itu?" Souji tersenyum hangat, sementara wajah Naoto merah padam seketika.
"Bersemangatlah sedikit, Naoto. Kalau kau cemberut terus seperti itu, nanti tidak akan ada seorang pria yang mau menjadi suamimu," kata Souji sambil tertawa.
"Hmm... ngomong-ngomong tentang suami, tiba-tiba terlintas di kepalaku..." rupanya Souji masih melanjutkan candaannya. "...Mungkin kau sekarang sedang berada dalam masalah besar akibat penampilanmu yang menyerupai laki-laki itu. Orang-orang mengira kau adalah laki-laki, bahkan para gadis mengejarmu. Bukankah itu berbahaya? Bagaimana kau bisa mendapatkan suami nanti? Aku jadi ragu..." Souji meneruskan perkataannya sambil tertawa puas akan candaannya sendiri.
Selang beberapa detik kemudian, burung-burung yang hinggap di pohon mulai mengepakkan sayap mereka melintasi cakrawala tatkala dua suara tembakan menggema, mengiringi tenggelamnya matahari.
