Akhirnya UKK selesai juga =) Maaf kalo update nya lama, ini juga Hikari publish karena kebetulan ada waktu luang.. Enjoy this chapter, hope you like it!

Disclaimer: Gakuen Alice belongs to Higuchi Tachibana-san


Should I Confess It?

Chapter 03

Melihat pintu kelasnya terbuka dengan sendirinya, Mikan yang penakut langsung bersembunyi di balik punggung Hotaru. Perlahan tapi pasti, Hotaru mendekati pintu tersebut, dan di balik pintu itu dia menemukan...

Hayate Matsudaira, si pemilik Wind alice.

Semua langsung terlihat lega. Terutama Mikan, karena dia berpikir bahwa akan muncul kuntilanak, pocong, atau berbagai setan lainnya dari balik pintu tersebut.

"Mau apa kau, baka?" tanya Hotaru.

Hayate yang terkejut melihat yang menyambutnya adalah Hotaru Imai, langsung tersipu dan berkata, "Cool Blue Sky.. Maukah kau.. emm.. berkencan denganku nanti sore?"

"Apa? Aku tidak ada waktu untuk berkencan dengan orang sepertimu," jawab orang yang dipanggil Cool Blue Sky. Ya, dia adalah Hotaru.

"Emm.. Bagaimana kalau aku yang.. mengunjungi.. kamarmu?" tanya Hayate.

"That's annoying, baka!" jawab Hotaru dengan menggunakan bahasa Inggris.

Hayate yang mendengar jawaban Hotaru mengerutkan keningnya. Sepertinya dia tidak mengerti apa yang diucapkan Hotaru.

"Hayate-senpai, itu artinya mengganggu," kata Mikan.

"Ah, begitu ya! Baiklah, kalau kau berubah pikiran, langsung saja hubungi aku, 08572032xxxx. Bye, Cool Blue Sky!" kata Hayate sambil pergi dan melambaikan tangannya pada Hotaru.

"Apa kau akan menghubunginya, Hotaru?" tanya Mikan setelah Hayate tidak terlihat lagi.

"Mungkin," jawab sang Inventor.

"Apa kau menyukai Hayate-senpai, Hotaru?"

"Mungkin," jawabnya, sama dengan sebelumnya.

"APAAAAAAAAAA? IMAI MENYUKAI COWOK KAMAITACHI ITU? BAHKAN DIA LEBIH BODOH DARIPADA MIKAN!" teriak Luna, anak yang sepertinya membenci Mikan.

"Berisik, Koizumi!" kata Hotaru sambil mengarahkan baka gunandalannya yang baru saja di-upgrade ke arah Luna.

Luna baru saja bersiap menggunakan alice-nya untuk membuat Hotaru menjadi budaknya, sebelum..

"STOP! Jangan bertengkar di sini! Kalau kalian masih bertengkar, lebih baik kalian keluar dari fic ini!" bentak Mikan yang (mungkin) merasa terganggu dengan dua orang itu.

Setelah Mikan berkata seperti itu, Hotaru kembali menekuni kegiatannya, sedangkan Luna terpaksa berhenti, karena Hotaru sudah mengacuhkannya.

.o.o.o.o.o.

Beberapa hari kemudian..

"Ng, Hyuuga, hmm.." panggil Mikan saat istirahat.

"Apa baka polka senpai?" jawab Natsume.

"Ng.. Kakimu.. masih sakit? Maaf ya.." kata Mikan gugup.

Natsume mengerutkan keningnya setelah mendengar ucapan senpai-nya itu.

"Hanya terkilir, baka. Dan itu bukan salahmu," katanya sambil membalikkan badannya dan hendak meninggalkan Mikan.

"Tunggu!" cegat Mikan sambil menarik tangan Natsume.

"What?"

"Ngg.. Aku cuma.. Kau membenciku ya? Kau tidak pernah tersenyum di depanku."

"Bukan urusanmu. Apa kau pikir aku selalu tersenyum pada orang lain?"

"Kau.. hanya tersenyum pada adikmu ya? Aoi?"

Pertanyaan Mikan berhasil membuat Natsume tersentak. Ia memang tak ingin ada yang melihat senyumnya selain keluarganya, termasuk Aoi.

"Dari mana kau tau aku tersenyum pada adikku? Kau memata-mataiku?" tanya Natsume.

"Ti.. tidak kok! Aku hanya.. tidak sengaja melihatmu tersenyum, dan setelah ku perhatikan, kau tersenyum pada Aoi."

"Mengakulah, kenapa kau memata-mataiku? Aku hanya bertemu dengan Aoi saat aku pulang ke rumah."

"I.. itu karena.. aku.."

"Sudahlah, kau tak perlu menjawabnya."

Natsume pun pergi meninggalkan Mikan. Namun saat Mikan hendak mencegahnya lagi, Natsume menepis tangan Mikan untuk yang kedua kalinya.

.o.o.o.o.o.

"Hhh.. Kenapa Hyuuga begitu membenciku ya? Padahal aku menyukainya, apa aku benar-benar harus mengatakannya dengan jelas?" gumam seorang gadis sambil memandang indahnya langit di malam hari, seolah bertanya pada bintang-bintang. Ya, dialah Mikan Sakura.

"Ah, ada bintang jatuh!" serunya gembira.

Mikan pun langsung memohon pada bintang jatuh tersebut. Dia memohon dengan sangat serius hingga ia tidak sadar ada orang yang memasuki kamarnya.

"Saatnya tidur!" kata Mikan setelah memohon.

Ketika membalikkan badannya, ia mendapati seseorang telah berada di depan matanya. Seseorang yang lebih tinggi darinya, yang memiliki rambut raven dan mata crimson.

"HYUUGA?" teriak Mikan.

"Hai, baka polka senpai," jawab Natsume.

"Jangan memanggilku dengan sebutan konyol itu! Aku punya nama, Mikan Sakura! Yang lebih penting, apa yang kau lakukan disini? Ini kamarku tau!"

"Aku hanya mengunjungi orang yang kucintai, Mikan," kata Natsume yang kemudian memeluk Mikan dari belakang.

"Apa? Maksudmu..."

"Ya, aku mencintaimu, Mikan Sakura, my baka polka senpai."

"A.. aku juga.."

"Diamlah, Mikan, aku punya permintaan padamu, bisakah kau curi alice-ku dengan Stealing alice yang kau miliki?" pinta Natsume. Dia pun melepaskan pelukannya.

"Stealing alice? Aku memilikinya?"

"Ya, kumohon, bangkitkanlah alice itu, dan kembalikan tubuh ESP menjadi dewasa," katanya. "Hanya kau yang bisa, Mikan."

"Tapi.. bagaimana caranya?" tanya Mikan yang sepertinya masih shock dengan perkataan Natsume yang menyebutkan bahwa ialah pemilik alice yang selama ini dibutuhkan ESP.

"Mungkin kau bisa tanya pada Kaa-san mu saat kau pulang nanti, atau, telepon Kaa-san mu."

"Baiklah, besok akan kutanyakan. Sekarang, bisakah kau keluar dari kamarku? Aku ingin tidur," kata Mikan memelas.

"Tidurlah bersamaku," kata Natsume sambil tersenyum jahil. Membuat Mikan terpesona sesaat karena melihat senyumnya.

"Natsume baka hentai! Keluar!" bentak Mikan sambil mendorong Natsume keluar kamarnya.

BRAKK!

Dibantingnya pintu kamarnya dengan kasar dan cepat. Tetapi setelah pintu tertutup, Mikan terduduk mengingat kata-kata Natsume tadi, 'benarkah tadi Hyuuga bilang ia mencintaiku? Ah, semoga ini bukan mimpi' pikirnya.

Di luar sana, Natsume berjalan menuju kamarnya sambil tersenyum puas. Ia merasa lega telah mengatakan perasaannya pada Mikan.

.o.o.o.o.o.

Keesokan harinya, semua murid Alice Academy pulang ke rumahnya.

"Kaa-san! Aku pulang!" seru Mikan sesampainya di rumah.

Hening. Tak ada jawaban.

Mikan pun masuk dan mendapati secarik kertas di atas meja yang bertuliskan:

Dear Mikan,

Jika kau sudah sampai, pergilah ke rumah keluarga Hyuuga. Mereka baru saja pindah. Kaa-san sedang bertamu ke sana, rumahnya tidak jauh, hanya dua blok ke timur, yang berpagar putih.

-Yuka-

"Rumah keluarga Hyuuga? Apa itu rumah Natsume Hyuuga? Ah, lebih baik aku ganti baju dan segera ke sana!" kata Mikan pada dirinya sendiri.

"Pakai baju apa ya, yang kira-kira pantas?" gumamnya sambil mengeluarkan beberapa baju dari lemarinya. "Ini saja lah!"

TING TONG! (bel keluarga Hyuuga)

"Ah, cari siapa ya?" tanya seorang wanita berambut raven. 'Mirip dengan Natsume' pikir Mikan.

"Apa disini ada Natsume Hyuuga?" kata Mikan.

"Sebentar ya, NATSUMEEE!" panggilnya.

Tidak lama kemudian, Natsume datang dengan kaos oblongnya. Sepertinya dia juga baru datang dari academy, sama seperti Mikan.

"Mikan? Darimana kau tau rumahku?" tanyanya heran. Tapi dia tidak menunjukkannya.

"Anu.. Kaa-san ku sedang berkunjung ke sini. Rumahku tidak jauh dari sini."

"Oh, jadi kamu Mikan Sakura ya?" tanya Kaoru, wanita tadi.

"Lalu kenapa kau mencariku?" tanya Natsume.

"Aku.. ngg.." kata Mikan sambil melirik ke arah Kaoru.

"Bisakah Kaa-san pergi?" pinta Natsume.

"Ah iyaaaa. Gomen Mikan-chan, nanti kuberitau Kaa-san mu kalau kau datang ke sini," kata Kaoru sambil pergi menjauhi dua remaja itu.

"Jadi, apa urusanmu?" tanya Natsume dingin, padahal dalam hatinya, 'Yeah! Mikan datang ke sini!'

"Aku.. mau menjawab.. kata-katamu tadi malam."

"Yang mana?"

"Yang kau bilang bahwa kau men.. cintaiku.." kata Mikan ragu.

"Tak usah dijawab," potong Natsume.

"Tapi aku.. aku sama sepertimu!"

"Maksudmu, kau menyukaiku?"

"Apa aku perlu mengatakannya? Kupikir kau pintar, Natsume," kata Mikan.

"Baiklah, kau tak perlu mengatakannya, karena aku mengerti kalimatmu, Mikan," jawabnya.

"Kenapa kau tidak memanggilku 'baka polka senpai' lagi?"

"Apa aku perlu mengatakannya? Kupikir kau pintar," kata Natsume sambil tersenyum licik. Dia membalikkan kata-kata Mikan.

"Sudahlaaaaaah, aku bosan! Hey, aku yakin kau pasti belum tau daerah sini kan? Mau kuajak berkeliling?" tanya Mikan.

"Boleh, tapi jangan harap kau bisa berduaan denganku."

"Baiklaaaah! Dua jam lagi, kau kutunggu di depan rumahku, dua blok ke barat, oke?"

"Hn."

Dua jam kemudian..

"Ayo kita pergi, Natsume!" kata Mikan semangat.

"Ke mana?" tanya Aoi.

"Eh, ada Aoi-chan ya, kita ke taman dulu saja!" ajaknya.

Sesampainya di taman, Natsume dan Mikan duduk di kursi taman, sedangkan Aoi langsung menuju kumpulan bunga mawar merah, bunga kesukaannya.

"Hhh..." Mikan menghela nafasnya.

"Sudah kubilang, jangan harap bisa berduaan denganku, karena Aoi pasti ikut," kata Natsume mengingatkan.

"Siapa juga yang mau berduaan denganmu?" kata Mikan.

"Jadi, bagaimana? Kau sudah bertanya tentang alice-mu?" tanya Natsume.

"Sudah, Kaa-san bilang aku harus mencoba konsentrasi penuh dan berpikir untuk mengambil alice orang lain," jelasnya.

"Coba ambil alice-ku."

"Apa? Tidak! Aku tidak mau melakukannya padamu! Lagipula, aku sudah mencoba mengambil alice Kaa-san, dan ini alice stone-nya," kata Mikan sambil menunjukkan alice stone berwarna kuning.

"Alice apa ini?" tanya Natsume.

"Teleportation."

"Kalian sedang bicara apa? Pulang yuk! Aoi bosan," kata Aoi. Ternyata tanpa mereka sadari hari sudah sore.

"Ah, baiklah," kata Mikan dan Natsume bersamaan. Membuat Mikan blushing, sedangkan Natsume hanya tersenyum tipis.

To Be Continued


Like it or hate it?

Saran atau apapun, sampaikan lewat review ;)