Galerians, in.

Seperti yang udah kalian liat, fic ini sangat sangat gaje. Kalian akan menemukan kegilaan, ketidakwarasan, keganjilan, dan segala macam keanehan yang bisa membuat pikiran sehat kalian terancam. Ingatlah, Anda telah diperingatkan!

Reviews' Replies:

akuanakbaik: "Telat gak papa, yang penting kan kau juga ngasih review. Makasih banyak ya (^_^)."

Ray Ichimura: "Yosh! Ini apdetannya!"

arget delois: "Oke, bro! Ini lanjutannya!"

Zhan: "Syukurlah kalau bagus! Padahal hamba ini paling gak pede kalo sudah bikin humor lho!"

Aiko Uchiha: "Hm, secara statistic, hamba lebih suka Kyuubi dari Sakura. Lalu kalo Hinata, gak bisa aja ngebayangin dia berperan jadi Tuan Putri yang suka berjudi."

Micon: "Hmm, memang sebenarnya lebih mudah kalo nulis kayak biasanya. Cuma, hamba pingin nyoba sekali-kali nulis bahasa santai gini. Supaya ada variasi dikit, gitu."

Yuusaki Kuchiki: "Yep, muka hamba belum berubah kok, tapi mungkin 'topeng'nya aja yang ganti. Maksudmu Pure Love itu…yang Pure Love Kamikaze Captain itu ya?"

Pedestrian: "Kalo gitu, silakan baca fic hamba yang berjudul A New Love Story. Di sana pairingnya juga Narukyuu, namun dengan setting canon."

Lady Regenbogen: "Makasih atas reviewnya ya!"

Warning:

Abal, aneh, jelek, AU dan EXTREMELY OOC. Bagi kalian yang nggak suka, segera tekan tombol back sekarang juga!

Disclaimer: This is purely a fanfiction, made only to bring about entertainment of Narukyuu's bittersweet romance for those who read!

Selamat membaca!

~••~

Usual Monday…or Is It?

Hari Senin, sekolah dimulai lagi. Hari yang indah dan cerah bagi para pelajar untuk bertemu kembali…

"Pagi!"

"Met pagi!"

"Eh, lo udah ngerjain pe er belom?"

"Ih, tugas bahasa Inggrisnya susah-susah amat sih!"

"Gue lupa belajar buat ulangan nih!"

"Eh, lo yang kemaren nyerempet gue di parkiran ya!"

"Enak aja, lo yang ngelindes gue pake mobil roller!"

"…"

Ya, memang hari yang indah…

Sayang, di antara semua kebahagiaan hari pertama sekolah, satu pemuda merasa idupnya bener-bener sumpek abis.

"Hah~…"

Orang bilang, rejeki jangan ditolak. Tapi bagi Naruto, apa yang baru saja datang ke rumahnya malam tadi mungkin lebih deket ke malapetaka daripada rejeki.

'Ah, udahlah…' gumam Naruto dalam hati, toh mikirin itu terus cuma bikin dia makin suntuk.

Langkah gontai diseretnya, memasuki gerbang sekolah dimana berjubel-jubel anak dari segala ras jalan sama-sama. Ada negro afro, ada kulit putih homo, sampe alien kulit hijau yang antenenya nongol di idung.

Setelah jalan selama 3 menit-an, Naruto nyampe di pintu dengan tanda 3-3, kelas yang dari Senin sampe Sabtu menjadi ajangnya membanting otak dan menghempas pantat.

Baru aja pintu dibuka, udah ada sapaan menyambutnya.

"Ahoy, senor Naruto," suara cempreng berlagak Prancis unjuk gigi. "Moi senang bisa bertemu denganmu lagi!"

"Ou, met pagi, Neji…" jawab Naruto lesu.

"Aih, senor kenapa murung?" tanya si rambut panjang hitam dengan make up setengah bini di depannya. "Diare ya? Jangan-jangan ketelen batu pas breakfast tadi?"

"Kalau beneran gitu, sekarang gue dah radang usus dan ambrahum, bego."

"Oh, jadi ternyata kurang semangat aja? Capiche, kalo gitu, pelototi dulu wajah moi ini, biar semangat lagi!"

"Lo mau bikin gue muntah nih, ceritanya…?"

"Senor Naruto emang berlebihan, paras moi ini kan-"

Belum selese dia ngomong, angin berdesing dari samping dan detik berikutnya, wajah Neji udah mampir ke dinding.

"SELAMAT PAGI, NARUTO!" teriakan ala King Kong membahana, bersamaan dengan nampaknya dua mata segede bola tenis. "Mari biarkan jiwa muda kita terbakar lagi hari ini!"

"…" Naruto diem, lalu bertanya gemas. "Gimana kalo lu gue siramin bensin trus gue nyalain pake geretan?"

"OI! SENOR LEE!" abis dipaksa nyium dinding, Neji mencak-mencak. "Apa hak dikau sampai berani nendang kepala moi, hah!"

"…" Rock Lee diam sebentar sambil ngeliatin Neji, trus ngomong. "Eh, ada Neji…! Pa kabar?"

"Pa kabar, dengkulmu!" muncul udah logat asli Neji. "Tak putusin lehermu sekarang juga!"

Ngeliat dua temannya berkelahi, Naruto mah cuma pasang tampang indiferen, alias gak peduli. Ogah ngurusin, dia jalan ke mejanya trus ngeistirahatin pantat, sampe temannya yang lain nyapa, "Oi, Naruto. Suntuk amat sih muka lo."

"Jarang-jarang lo komentar soal wajah gue, Kiba," kata Naruto sambil nyandar di punggung kursi.

"Eh, gak penting itu. Lo udah ngerjain pe er sejarah gak, Nar?"

"…" Naruto nginget-nginget. "Anjrit! Gue lupa!"

"Tuh kan," Kiba manggut-manggut. "Cepetan cari contekan sana gih, gue aja nyontek punya si Shika."

"Shikamaru?" Naruto noleh ke samping jendela, mandangin si kepala nanas yang dengan syahdunya tidur di atas mejanya, sampe-sampe ada gelembung kembang kempis keluar dari idungnya. "Lu nyontek punya tu muka molor? Nasib lu, Kiba."

"Biarin! Pokoknya ada!"

"Tapi gue minjem sama siapa nih?" tanya Naruto sambil panik celingak-celinguk kanan dan kiri.

"Gimana kalo sama Hinata?" usul Kiba.

"Yah, lu. Kayak gak tahu aja gimana si Hinata…" kata Naruto sambil berdiri dan ngambil satu langkah ke arah kursi si cewek yang terpisah 3 meja darinya.

Si cewek rambut biru tiba-tiba aja jadi kejang-kejang, matanya muter ke belakang dan mulutnya ngeluarin busa. Gak seberapa lama, ntu anak langsung pingsan, tepar di tempat.

"…Tuh kan." Naruto ngehela napas sebal. "Baru satu langkah gitu aja udah serangan jantung. Gimana kalo gue samperin? Bisa-bisa besok dia jalan pake kepala…"

"Terserah deh."

Denger jawaban yang (sumpah) gak solider banget itu, Naruto nyerah, toh sejarah dimulainya habis istirahat ke-2. Dia punya banyak waktu buat ngerjain (baca: nyontek) nantinya. Lagipula bel udah bunyi, dan sebentar lagi homeroom akan dimulai.

"Semuanya berdiri…!" Sai, sang ketua kelas, berseru saat The Masked Teacher (a.k.a Pak Kakashi) masuk ke ruangan. Tapi tak disangka, lanjutannya malah, "Pak ketipak timprung suara gendang bertalu-talu…"

Satu kelas hanya ngeliatin ke arah si ketua kelas yang lagi kumat usilnya dengan wajah tak berekspresi, sebelum-"SOMPRET!" "Ketua kelas edan!" "Kasih salam yang biasa aja, nape!"-ledakan kemarahan yang biasa terjadi.

Naruto hanya manyun. Satu hari sekolah yang menyebalkan dan membosankan kini dimulai lagi.

~•~

"GROOOK…"

Jam pelajaran kedua, di tengah kelas yang lagi berapi-apinya belajar biologi di bawah seorang generasi lelaki dengan brewok seksi bernama Sarutobi Asuma (hooeek!), sebuah anomali berupa suara-suara serak gak jelas menunjukkan frekuensinya.

Kadang riuh, kadang rendah, dan kadang juga cukup meriah untuk membuat telinga Pak Asuma bergetar sendiri seperti senar gitar. Dan hal itu terus berlangsung sampe dia gak tahan lagi.

"NARUTOO! BANGUN, WAHAI ANAK MUDA BERTENAGA KUDA!"

"Psst…! Naruto, bangun euy…!" Sakura, yang sialnya kebagian tempat duduk di samping Naruto, secara langsung gak langsung-?- ikut bertanggung jawab. "Dipanggil Pak Asuma, tuh…!"

Dia colek-colek, ga ngaruh. Dia dorong bahunya, eh Naruto malah balas dorong. Sakura dorong lebih kuat lagi, Narutonya juga ngebales dorong lebih keras lagi.

Sakura gemes, dia getok kepalanya.

Naruto ngegampar wajah Sakura.

"Hoah, 'paan sih?" tanya Naruto ga jelas, ngeliatin Sakura yang kini menggelepar pingsan dengan mulut berbusa di lantai. "Lagi enak tidur juga…"

"Naruto!" panggil Pak Asuma yang udah kelewat gemes, langsung tereak-tereak sambil nunjuk Naruto sementara Sakura ditandu keluar kelas. "Jawab! Apa yang menyebabkan cahaya jadi kabur kalau dihalangi awan?"

"Yah, mungkin karena Cahaya punya utang besar sama Awan, jadi dia kabur terus, Pak." Naruto menjawab sekenanya. Padahal dia sendiri masih bingung, apa jangan-jangan Cahaya bikin anak haram sama Awan, trus kabur karena gak mau bertanggung jawab?

Satu kelas sweatdrop, sedang Pak Asuma hanya geleng-geleng. Dia udah tahu tentang tabiatnya Naruto ini, tapi gimana menyembuhkannya kalau udah separah ini?

Padahal, menurut buku sejarah, dulu pas TK Naruto sangat pinter. Saat teman-temannya baru bisa hitung 1-10, Naruto udah bisa pertambahan dan pengurangan, bahkan sampai sedikit perkalian.

Tapi setelah masuk SMP, dia tiba-tiba berubah. Jadi gak suka sekolah, gak mau belajar, juga gak doyan mimi tutu lagi (jelaslah!). Dan makin lama masalah ini jadi makin mengkhawatirkan, karena setiap hari seorang siswa gak belajar, maka kecerdasannya juga akan semakin menurun.

Dan sekarang, IQ Naruto udah benar-benar pas-pasan. Kalau matematika, dia hanya bisa bilang, "X ditambah Y sama dengan…gak tahu". Kalau bahasa Nasional, "Budi sayang Ibu.". Dan kalau bahasa Inggris, dia bakal berdiri, jalan ke pak guru, ngacungin jari tengahnya terus tereak, "FUCK YOUU!"

Para guru jadi bingung. Ini anak manusia atau babi berjalan?

"Naruto, Naruto," Pak Asuma geleng-geleng lagi. "Kalau begini terus, kau bisa gak naik kelas lho."

"Ngapain naik kelas? Kita kan dah kelas 3, naik ke mana lagi?"

"Oke, ralat, lulus sekolah!" teriak Pak Asuma kesal. "Kamu tau gak kalau nilaimu itu pas-pasan banget?"

"Yah, asalkan ngepas, Pak. Biar hanya nilai kita kan gak boleh serakah."

Pak Asuma kapok. Susah nasehatin anak bebal yang kelihatannya memang tumbuh liar di kandang ayam, sehingga hukum hidup manusia ga dianggep sama sekali.

~•~

"Lu gak makan, Nar?"

Kiba nanya sambil asik ngunyah sandwich isi telor penyu, sama Naruto yang lagi asik nyedot-nyedot isi botol air mineral dengan sebatang sedotan sambil duduk bersandar di kandang kawat yang mengelilingi atap.

"Gak, dompet ketinggalan di rumah…"

Naruto hanya ngeliatin temen-temennya makan dengan wajah mengenaskan. Kiba bawa bekal dari rumah, sedangkan Chouji sukses ngeborong setengah kantin setelah nyeruduk antrean.

Shikamaru lagi menyantap bento dari secret admirernya, yang entah gimana caranya selalu nongol setiap kali dia bangun tidur. Sedangkan Sai dan Neji kini asyik menikmati bekal bikinan pacar tercinta, yang secara berurutan bernama Ino dan Tenten.

"Kenapa gak minta bekal Sasuke? Ada setumpuk tuh…"

Naruto noleh, dan ketangkep oleh matanya pameran setumpuk kotak bento di samping Sasuke, yang lagi menyantap salah satunya dengan mata terpejam nikmat. Jumlahnya naujubile, minimal ada 20-an tuh.

Gak heran sih, kalau idola sekolah yang juga playboy kelas kakap kayak dia mah, cewek juga pasti ngantri buat ngasih bekal makan siang. Entah untuk yang keberapa kalinya, Naruto tetap sukses dibuat heran, gimana caranya dia bisa punya temen yang berkharisma tingkat tinggi gini?

Memang, secara garis besar, Naruto memang tidak punya banyak teman. Tapi lingkaran pertemanannya yang kecil itu justru elit-elit semua.

Ada Kiba si ace tim basket sekolah, ada Neji si cowok kemayu tapi sekaligus model sabun, Chouji si pemenang kejuaraan sumo SMA, Sai si pelukis taraf nasional walau usilnya setengah mati, Shikamaru si jenius yang pemalas, sampai si Sasuke yang notabene idola di sekolah. Dan di antara mereka semua, hanya Chouji dan Sasuke yang beda kelas.

Masih ada sih, si Rock Lee. Cuma saat ini tu kapten karateka gak tahu juntrungannya ada di mana.

Gimana ceritanya mereka jadi teman itu masih menjadi misteri yang bahkan Sherlock Holmes sekalipun sampe botak berusaha mecahinnya ('mang batu dipecahin), tapi toh keenam cowok ini adem-adem aja tuh sahabatan.

…udah dulu, lanjut cerita.

"Gak ah," tolak Naruto. "Gue jengah kalo makan makanan yang ada tulisan 'I LOVE SASUKE'nya itu…"

"Kalo gitu cari pacar dong. Jadi bisa diminta bikinin bento tiap hari," ejek Kiba sambil tertawa.

"Berisik lu," semprot Naruto. "Gue kan bukan elu, pacarannya ama anjing hutan gitu."

"Hei, Akamaru itu piaraan tahu! Bukannya pacar!"

"Oh ya? Wong lu ajak tidur sama-sama terus tiap malam gitu."

"Udahlah, Dobe. Niat Kiba itu baik kok," sela Sasuke yang lagi ngelap mulutnya karena udah selesai makan. "Dia hanya kasihan sama kamu yang udah 17 tahun tapi gak pernah merasakan hangatnya perempuan…"

"Lu ngomong kayak udah nidurin cewek satu kampung aja, Sas," balas Naruto sambil menghabiskan 'makan siang' air putihnya. "En jangan salah sangka ya. Gue bukannya gak punya…"

"APAAAA!" dari arah jam 9, Neji tiba-tiba histeris. "SENOR NARUTO UDAH PUNYA CEWEK? SEJAK KAPAN?"

"Lu kalau mau teriak ngasih sinyal dulu kenapa. Kentut dulu kek, apa kek. Telinga gue jadi ngingir nih," gerutu Naruto. "Dan itu salah. Gue gak punya cewek."

"Eh? Tapi tadi bilangnya…"

"Iya, tapi jenisnya bukan cewek. Gue dapetnya siluman perempuan."

Tepat ketika Naruto bilang begitu, dia tiba-tiba ngerasa ada jarum nusuk-nusuk tengkuknya. Kayak ada yang lagi ngeliatin gitu, lu ngerti kan?

Apa? Gak ngerti? Perlu gua hajar dulu?

Naruto cepet-cepet berbalik, trus ngarahin matanya ke halaman depan sekolah yang bisa keliatan jelas dari atap. Tapi kayaknya dia telat, soalnya pas dia udah mencari-cari dengan teliti, tu sensasi jarum-jarum tiba-tiba aja udah ilang.

'Apa ya…?' gumam Naruto dalam hati sambil ngusap-ngusap tengkuknya. 'Kok gue tiba-tiba jadi merinding…?'

GEBLAK!

Pintu atap tiba-tiba berdebam terbuka, dan muncullah makhluk adem anyem berwarna ijo dari baliknya. "HEI! GUE PUNYA KABAR YANG PUANAS BANGET!"

"Ada kebakaran di mana, Lee?" tanya Shikamaru santai sambil nyedot teh kotaknya.

"Anjing! Bukan lagi!" dengan antusiasme yang (seperti biasa) sangat berlebihan, Rock Lee ngibas-ngibasin tangannya. "Tadi ada anak cewek yang ga dikenal masuk sekolah kita!"

"Hm?" antene Sasuke langsung berdiri, sampe rambut pantat ayamnya tiba-tiba upgrade jadi burung merak. "Cewek? Murid baru ya?"

"Bukan! Gue juga tadi udah tanya-tanya, tapi kayaknya gak ada yang kenal dia tuh! Bukan anak sini kayaknya!" jawab Lee bersemangat. "Gue udah liat sendiri! Sumpah, orangnya cantik banget!"

BRAK.

Saking terkejutnya, suasana satu atap langsung jadi sepi, sunyi kayak kuburan. Setiap pasang mata di sana langsung terarah hanya pada satu hal, pintu yang terbuka.

Di sana, berdiri satu sosok berpakaian sebuah jaket merah dengan hood yang terbuka, mini jeans yang simpel, dan sneakers biru malam yang matching. Hal pertama yang cowok-cowok di sana sadari ada dua hal, mata dan rambut yang merah menyala bagai api membara.

Orang itu lirik kanan kiri sebentar, trus senyum, lalu berjalan dengan santainya ke arah gerombolan yang duduk-duduk paling ujung, a.k.a Naruto cs.

Entah dia emang gak ngeh, atau hanya ga peduli aja pada Rock Lee yang ngiler, Sasuke yang masih ngebenerin rambutnya yang mekar, atau Shikamaru yang cuek. Dia berjalan ke depan Naruto, yang kini bener-bener pucat pasi, lalu menyorongkan sebuah kotak yang dibungkus saputangan biru bermotif bunga tulip warna-warni.

"Hai, Naru-kun," suara yang dia pake sekarang entah kenapa bener-bener beda dengan yang tadi malem. Feminin abis, gila. "Kau lupa bekalmu."

…All Hells break loose.

"UAPAAAA!" Neji, Kiba, dan Rock Lee histeris berjamaah.

"Impossible!" Sasuke menyambung dengan English yang anggun.

"Oh." Shikamaru dan Sai menanggapi.

"Nyam nyam," Chouji makan.

"Guk guk!"

"Cuit cuit! PRIIIT!"

"…"

"LO!" Naruto tereak sambil nunjuk si cewek dengan wajah horor. "NGAPAIN LO DI SINI?"

"…" sambil dengan tenangnya menyunggingkan senyum yang bisa bikin besi meleleh, si cewek cuma ngulangin perkataannya. "Kau lupa bekalmu, Naru-kun."

"NARRUUTOO!" Kiba tiba-tiba berdiri dan mencekal kerah baju Naruto, sambil nangis-nangis bombay. "Bukannya dulu kita pernah berjanji kalau kita berdua bakal jomblo selamanya!"

"Janji apaan, kampret, gue gak inget!" semprot Naruto. "Lepasin gue!"

"Ah, kau temannya Naru-kun ya?"

Pertanyaan lembut itu segera ngebuat Kiba ngelempar Naruto, lalu (setelah membenarkan kerah bajunya) berbalik menghadap si penanya sebelum menjabat tangannya dengan mata yang 'bling-bling kling', "Ahem…! Ya, namaku Kiba, Nona."

Setelah itu, si cewek dengan santai menyalami semua yang ada di sana satu-persatu. Reaksinya macem-macem, Rock Lee bercucur air mata sambil kepalin tangannya kuat-kuat, Neji tiba-tiba jadi 'laki' asli dan ngangguk maskulin, Shikamaru indiferen, Sasuke pake senyum terkeren, Chouji asyik makan, sedangkan si Sai nyoba salaman pake kaki (dan ditendang Naruto sebelum niatnya kesampean).

"Ah, salaman dengan cewek secantik ini! Gue bisa mati ni hari tanpa penyesalan!" teriak Rock Lee kesenangan…

…sebelum lehernya tiba-tiba saja dicekik Neji sekuat tenaga. "Beristirahatlah dengan damai, my friend."

"OI! GUE GAK SERIUS, SETAN!"

Dan sebelum satupun temen-temennya itu bisa ngeluarin satu kata lagi (terutama Sasuke, karena matanya udah jadi merah kayak serigala ketemu mangsa) Naruto tiba-tiba muncul, menyabet tangan si cewek lalu dengan mendengus-dengus langsung menariknya.

"Lo…" desis Naruto sambil ngasih tatapan pisau belati.

"…" si cewek diem sebentar. Trus tiba-tiba tersipu malu sambil noleh ke samping. "A-anu, Naru-kun. Aku ngerti kalau kau sudah tak sabar, tapi kan malu kalau diliat orang begini…"

Naruto terperangah, baru nyadar kalo sikapnya dari tadi emang mirip banget dengan orang yang udah siap menggagahi si cewek. Darahnya berkumpul di kepala, dan Naruto pasti beruntung kalau ga ada asap yang ngepul dari sana.

Dan gara-gara omongan si cewek, temen-temennya juga langsung jadi kalap.

"Wei, gila lo, Nar! Gak punya urat malu apa lu!" teriak Kiba kayak orang stres.

"NARUTO BENAR-BENAR SEDANG DIBAKAR JIWA ANAK MUDA! GUE BENER-BENER TERHARU!" teriakan Rock Lee membahana, namun efeknya cuma cukup untuk bikin para sobatnya sweatdrop aja.

"Dobe," Sasuke mendadak nepuk bahu Naruto dengan senyum aneh, sebelum berbisik, "Kalian cari kamar aja sana gih."

"AAAAGHH!" kesabaran Naruto retak, dan tiba-tiba melesat sambil nyeret si cewek di belakangnya.

"Hn," angguk Sasuke sambil ngacungin ibu jari pada Naruto yang lagi lari. "Good luck."

Setelah pintu atap berdebam tertutup, Naruto ngadepin si cewek trus tereak sekuat tenaga, "KYUUBI! MAU LO APAAN SIH!"

"Duh, Naru-kun, musti bilang berapa kali sih. Aku kemari nganterin bekalmu."

"…" Naruto naikin sebelah alis. "…Alasan aslinya?"

"Cuma mau ngisengin kamu." Kyuubi bilang sambil julurin lidahnya.

"…Kyuubi…" wajah Naruto jadi gelap, matanya jadi putih dan dari mulutnya tiba-tiba keluar asap. "Lo punya pernyataan terakhir sebelum gue kirim ke alam baka?"

"Apaan sih! Becanda lagi!" jawab Kyuubi sebelum Naruto tambah kesetanan. "Aku punya alasan bagus kok datang ke sini."

"…" untuk sementara, Naruto balik ke wujud manusianya. "Apa?"

"Kau itu kan bodyguard-ku. Tapi kalo kau pergi sekolah gini, aku kan jadi ditinggalin sendirian," kata Kyuubi. "Selain nggak aman, rasanya kan juga kesepian. Makanya, mulai hari ini…

"Aku juga bakal sekolah di sini…!"

Hening.

"…Hoeh?"

To be Continued…

~••~

Ada dua karakter yang paling jelas OOC-nya, Neji dan Sasuke. Sungguh maaf bagi fans Sasuke dan Neji di luar sana yang kebetulan membaca fic gila-gilaan ini.

Makasih udah membaca!

Galerians, out.