After the Journey

Author: ai-mage dheechan

Disclaimer: Hiromu Arakawa owns FMA

Summary: Tentang kelakuan Hughes di Surga.

A/N: chapter ini didedikasikan untuk kak Luxam. Terima kasih untuk ceritanya yang 'Halo, Tuhan' chapter tentang doa Elysia yang sukses membuat saya bikin chapter ini. Arigatou!


Hughes in Heaven


Arwah Hughes sedang senyum-senyum sendiri melihat foto-foto anaknya, Elysia yang dia bawa dari kamarnya di dunia manusia beberapa hari setelah hari dimana badannya telah bersatu dengan tanah. Terima kasih Tuhan sudah mengizinkannya untuk menghantui rumahnya dalam waktu yang singkat.

Selama berada di dalam 'Surga', Hughes selalu berpikiran seperti ini. Dia sudah mati mengenaskan –makasih Envy. Dia terpaksa meninggalkan keluarganya, sahabatnya, dan dunia karena telah mati. Dan... Hiburannya di Surga itu apaan? Paling dijamu makanan enak, hiburan yang menyenangkan, dan yang lainnya.

Untuk itu, dia menghadap kepada Tuhan untuk dapat diizinkan mengambil foto-foto keluarganya sekaligus kameranya. Dan, Tuhan mengizinkan hal itu. Kau tahu, dia memfoto Gracia dan Elysia melalui lensa kameranya dari Surga.

Yah... di dinding kamarnya yang ada di Surga, terpampang foto-foto Elysia sejak bayi sampai di saat Elysia memakai seragam sailor pada hari pertama ia resmi menjadi murid SMP. Tak lupa dengan foto dirinya dan Gracia yang ia koleksi sejak mereka pacaran.

Dan seperti yang biasa ia lakukan saat dia masih menjadi manusia, Hughes memamerkan kedua anggota keluarganya kepada arwah-arwah lain yang tinggal di surga. Tak terkecuali Trisha dan Hohenheim, orang tua Ed dan Al yang secara tak sengaja Hughes temui saat memamerkan foto Elysia pada para penjaga pintu surga alias malaikat.

Dan Hughes pasti akan berkata seperti ini.

"Lihat! Elysiaku sekarang sudah masuk SMP!"

atau

"Lihat! Gracia sedang memasak makanan kesukaanku!"

Yup. Seperti itu.

Walaupun dia dikenal sebagai sosok ceria di kalangan para arwah, Hughes tetap tidak dapat menyembunyikan kesedihannya. Tak dapat mendampingi anaknya di hari ulang tahunnya. Tak dapat mencium bibir istrinya di hari ulang tahun pernikahannya. Tak dapat menepuk pundak sahabatnya di saat dia sudah diangkat menjadi seorang 'Brigjen' –dan akhirnya sepangkat dengan Hughes. Dan tak dapat mengucapkan 'Selamat tinggal' dengan baik kepada setiap orang yang dia kenal.

Tapi, hal itu tidak dapat membuatnya menyesal. Dia mati karena dia lengah. Tidak lebih maupun kurang.

Lagipula, di dunia manusia maupun di dunia akhirat, Hughes akan selalu menjadi Hughes yang kita kenal.

Seorang laki-laki berpangkat Brigjen yang mengidap penyakit daughter complex yang suka memamerkan keluarga yang dicintainya kepada orang yang dia kenal dengan cara sedikit menyebalkan.


Oke, ini mungkin akan menghina Tuhan. MAAFKAN SAYA, TUHAN!

Aku rindu Hughes, sih... Jadi, aku bikin deh ni chapter :d

Gajekah? Baguskah? REVIEW!

Maaf kalau banyak typo, gaje banget, lebay gila, karakter OOC, bikin bingung, dll.

naamuu~

XP

ai-mage dheechan