Pertama-tama, saya mau mengucapkan DIRGAHAYU KEMERDEKAAN RI KE-65! Selamat ulang tahun Indonesiaku tercinta! Semoga di umurmu yang ke-65 (udah tua ya -disambit-) ini kau bisa menjadi bangsa yang maju dan berdikari. Seandainya diriku bertalenta seperti peserta Indonesia Mencari Bakat, tentu diriku bisa memberikan hadiah yang lebih layak daripada fanfic abal ini.
Tadinya fic ekstra garing ini mau saya bikin supaya selesai tanggal 17, tapi berhubung koneksi internet saya diberhentikan gara-gara kebiasaan buruk saya (yaitu pakai komputer untuk internetan berjam-jam) akhir-akhir ini sering kambuh gara-gara kondisi mood yang sedang nggak enak, terpaksa saya menunggu sampai sekarang untuk publish chapter ini.
Omong-omong, di sini Indonesia, Malaysia, Singapura, Brunei, dan Myanmar laki-laki. Kalau Laos, Kamboja, dan Filipina perempuan. Sedang para province-tan alias personifikasi provinsi Indonesia, saya tidak menentukannya secara spesifik, jadi terserah Anda saja. Mau perempuan, laki, hermafrodit, atau banci, semua boleh. *disambit*
Langsung aja gan~
Title: Tujuh Belasan Hetalia Version
Disclaimer: Hetalia punya Hidekaz Himaruya, Dora the Explorer punya Nickelodeon, Barney punya Sheryl Leach, dan semua lagu yang ada di fanfic ini punya pencipta masing-masing. Saya hanya penulis fanfic abal-abal yang cuma bisa menggunakan (baca: menistai) hasil karya orang-orang yang jauh lebih kreatif daripada saya.
Warning: Penggunaan nama-nama negara dalam bahasa Indonesia, OOC akut, perusakan image karakter stadium XXI, banyak OC gaje dan nista berupa personifikasi provinsi-provinsi Indonesia dan negara-negara ASEAN, sumpah serapah dari karakter-karakter bermulut kotor, humor garing di sana-sini, HINT SLASH, dan sarat bumbu-bumbu kenistaan dan ke-lebay-an racikan author idiot. Lebih baik dibaca setelah buka supaya nggak batal puasanya.
=w=w=w=w=w=w=w=w=w=w=
Tujuh Belasan Hetalia Version
Chapter 3: Hari Pertama
=w=w=w=w=w=w=w=w=w=w=
.
LOMBA 1: Balap bakiak
Penanggung jawab: Kalimantan Tengah, Jambi
Peserta:
Grup A: Cina, Polandia, Swiss, Eslandia
Grup B: Vietnam, Filipina, Laos, Kamboja
Grup C: Inggris, Prancis, Kanada, Austria
Grup D: Hongaria, Finlandia, Latvia, Hong Kong
.
"Hadeuh... Kalo pake alas kaki kayak begini gimana bisa jalan? Lagian yang namanya bakiak itu nggak banget deh. Nggak berkelas dan nggak elegan sama sekali." Feliks mengeluh.
"Cerewet kau!" bentak Vash.
"Jangan bertengkar, aru," kata Cina. "Kita harus kerja sama."
"Oke, kita nggak boleh kalah! Kita tunjukkan kalau perempuan juga bisa!" kata Vietnam penuh semangat pada teman-temannya.
"Sudah siap semua?" tanya Jambi. "Kalau sudah siap kita mulai saja."
"Jadi, kalian harus adu cepat dengan bakiak ini sampai ke garis finis di sana. Yang paling cepat sampai menang." Kalimantan Tengah menjelaskan. "Kelihatannya sih gampang, tapi susah lho kalau tidak kompak."
"Siap? Mulai!"
"Ayo semua! Kiri! Kanan! Kiri! Kanan!" Vietnam memberi arahan dengan semangat.
"Hei, cewek-cewek! Menang ya!" Indonesia menyemangati.
"Ayo, kita juga—KAU NGAPAIN, JENGGOT KAMBING?" teriak Arthur. Rupanya Francis memanfaatkan kesempatan itu untuk menjamah-jamahi rekannya. "LAGI BULAN PUASA TAHU!"
"Abang kan enggak puasa, jadi enggak apa-apa dong..." jawab Francis sekenanya.
"AH—A*****! TANGAN LO! STOP! B*******! SINGKIRIN TANGAN LO!"
"WOI! KALAU GINI KITA BAKAL KALAH!" Roderich emosi.
Berhubung lagi bulan puasa, terpaksa panitia mengamankan tim kacau itu. Mereka pun kena diskualifikasi. Sedangkan grup yang lain lancar sampai garis finis.
.
=w=w=w=w=w=w=w=w=w=w=
LOMBA 2: Membengkokkan sendok
Penanggung jawab: Kalimantan Tengah, Jambi
Peserta:
Grup A: Norwegia
Grup B: Thailand
Grup C: Australia
Grup D: Rusia
.
Predikat lomba paling curang sungguh layak disandang lomba ini.
Lihat saja Norwegia yang mengandalkan trollnya, Thailand yang dibantu gajah putih kesayangannya, Australia dan kanggurunya, dan Ivan yang kekejamnya cukup untuk membuat sendok bengkok.
Kalimantan Tengah dan Jambi yang menjadi panitia cuma bisa sweatdrop melihat "kecurangan" para peserta. Karena tidak ada larangan menggunakan tenaga bantuan seperti itu, jelas saja tidak bisa disebut curang.
Akhirnya lomba dimenangkan Ivan yang sukses membengkokkan 300 sendok hanya dengan aura kejamnya.
.
=w=w=w=w=w=w=w=w=w=w=
LOMBA 3: Staring contest
Penanggung jawab: Sumatera Utara, Jawa Timur
Peserta:
Grup A: Belarus
Grup B: Singapura
Grup C: Italia Selatan
Grup D: Swedia
.
Pertandingan pertama: Grup B (Singapura) vs Grup D (Swedia)
"Kenapa lawan gue kayak gitu?" Singapura merutuki nasib sialnya dapat undian yang tidak menguntungkan. "Ini semua gara-gara... What the?"
Singapura kaget melihat rekan-rekan satu timnya semua membawa karangan bunga dan saputangan.
"Oi Singapur! Bertahan hidup ya!" teriak Indonesia sembari melambai-lambaikan saputangan ungu gambar Barney koprol.
"Singapura... Semoga setelah ini kamu masih hidup..." Filipina akting nangis dengan lebaynya.
"SROOOTTT!" Myanmar buang ingus di saputangan pink bergambar Dora the Explorer.
"Semoga damai di sana, ana~" Thailand berucap penuh simpati sambil membawa karangan bunga yang biasa dipesan untuk pemakaman.
"Enak aja! Gue belum mau mati!"
"Kita lihat saja apakah kamu akan berhasil melewati lomba ini hidup-hidup," kata Kamboja kalem.
"Yak, pertandingan pertama antara Grup B melawan Grup D. Perwakilan tim diharap siap!" komando Sumatera Utara.
"Siap... Mulai!"
"Tahan... Tahan!" Singapura menguatkan dirinya dalam hati.
Tiga detik berlalu.
"Sumpah ini orang nyeremin banget! Maaak! Gue udah nggak tahan mak! Tolong Singa, Mak!"
Lima detik.
"Ampun, DJ!"
Dan Singapura pingsan dengan suksesnya di bawah deathglare maut Berwald.
"Singapura... Turut berduka cita..." kata Laos.
"Lumayan juga dia, bisa bertahan lima detik," komentar Thailand.
.
Pertandingan kedua: Grup A (Belarus) vs Grup C (Italia Selatan)
"Pertandingan kedua, Grup A melawan Grup C! Harap bersiap di tempat!" seru Jawa Timur.
"Siap... Mulai!"
"Duh, ini cewek nyeremin banget! Takuuut!" pikir Lovino. "Eh, bego! Ngapain gue takut? Dia cuma cewek!"
Lima detik.
"Nyadar dong, dia cuma cewek! Cuma cewek! Cuma... MAMIII! LOVI TAKUT! HUWAAAAA!"
"Pemenangnya, Grup A!"
.
Final: Grup A (Belarus) vs Grup D (Swedia)
Lima detik...
Sepuluh detik...
Satu menit...
Sepuluh menit...
Belum ada yang berkedip. Kedua peserta masih saling men-deathglare satu sama lain.
"Bakalan lama nih."
"Berapa jam ya kira-kira?"
Tiga puluh menit...
"Nggak selesai-selesai nih?"
Satu jam...
"Kapan selesainya?"
Dua jam...
"'ku kalah."
"Pemenangnya, Grup A!"
"Kenapa tadi kamu menyerah, Su-san?" tanya Tino.
"'ku takut..."
.
Perebutan juara ketiga: Grup B (Singapura) vs Grup C (Italia Selatan)
"..."
"..."
Singapura menarik ahoge Lovino.
"Ah... Ah...!"
"Juara ketiga, Grup B!"
.
=w=w=w=w=w=w=w=w=w=w=
LOMBA 4: Adu panco
Penanggung jawab: Riau, Kepulauan Riau
Peserta:
Grup A: Belarus
Grup B: Myanmar
Grup C: Kanada
Grup D: Rusia
.
Pertandingan pertama: Grup A (Belarus) vs Grup D (Rusia)
"NII-SAN..."
"HUWAAA!"
Ivan ngibrit meninggalkan meja pertandingan. Otomatis Grup A dinyatakan sebagai pemenang.
.
Pertandingan kedua: Grup B (Myanmar) vs Grup C (Kanada)
"Mana nih lawannya? Kok nggak ada," Myanmar bertanya-tanya.
Ditunggu lama ia tak juga melihat lawannya—yang sebenarnya ada di situ dari tadi, tapi eksistensinya terlupakan. Sementara Riau dan Kepulauan Riau yang harusnya tugas jaga malah asyik adu panco. Lha?
"Woi, panitia! Gimana ini, enggak ada lawannya?"
"Oh, kalo gitu pemenangnya Grup B!" kata Riau.
"Aku ada di sini dari tadi, kali..."
Kasihan Matthew, lagi-lagi ia tak dianggap. Padahal dari tadi ia ada di situ.
.
Pertandingan final: Grup A (Belarus) vs Grup B (Myanmar)
Pertandingan belum mulai, tapi Myanmar sudah keder duluan terintimidasi aura maut Natalya.
"Siap? Satu... dua... tiga!" Kepulauan Riau memberi aba-aba.
KREK!
BRAK!
"GYAAA!"
Sudah jelas kan siapa yang menang?
Untung tidak ada tulang Myanmar yang patah.
.
Perebutan juara ketiga: Grup C (Kanada) vs Grup D (Rusia)
"Mana lawannya?" tanya Ivan.
"Nggak ada, jadi kamu menang WO." Kepulauan Riau menjawab dengan santai.
"Udah kubilang, aku ada di sini dari tadi..."
Kasihan kau Matthew. Sudah takdirmu menjadi mahkluk yang tidak terlihat.
.
=w=w=w=w=w=w=w=w=w=w=
LOMBA 5: Lari gendong
Penanggung jawab: Papua Barat, Kalimantan Selatan
Peserta:
Korea Selatan-Sealand
Singapura-Brunei
Spanyol-Italia Selatan
Jerman-Italia Utara
.
"Kita kalahkan mereka, da ze~!" seru Yong Soo.
"Kita pasti menang, desu yo!" Peter tidak kalah semangat.
"Peter, berjuang ya!" teriak Tino.
"Kamu kok dukung mereka?" tanya Ivan.
"Udahlah, ibu-ibu kan biasa khawatir sama anaknya," ucap Denmark, tidak jelas membela atau menyindir.\
Tino membalas dengan memukulnya memakai wajan Elizabeta.
"Ve~ Doitsu! Posisiku nggak enak nih!" kata Feliciano
"Mau gimana dong?" tanya Ludwig.
"Gimana aja yang lebih enak!"
Ludwig mengganti gaya menggendongnya dengan gaya pengantin baru nikah. Istilah kerennya, bridal style.
Jepret! Kamera Elizabeta pun beraksi.
"Begini kan enak~" ujar Feliciano.
Elizabeta langsung teriak-teriak gak jelas. "Gyaaa! Liat tuh! Liat tuh! Keren banget!"
"Ah, aku lebih suka pairing Germancest," sahut Belgia datar.
"Itu kan inses! Lagian Gilbert itu sama Roderich!"
"Dasar otak nista! Tega sama mantan sendiri!"
"Kayak otakmu nggak nista aja! Aku tahu di HP dan flashdiskmu banyak gambar-gambar adegan rate M plus plus!"
"Ehm... Maaf mengganggu, tapi menurutku Gilbert lebih cocok dengan Matthew," Vietnam ikut beropini.
Ukraina senyam-senyum mendengar debat tiga fujoshi itu. "Ahahaha... Terserah kalian saja, tapi aku tetap milih pairing Russia/Prussia..."
Ukraina, selamat. Anda kembali sukses menakuti teman-teman Anda.
"Eh, Kalsel! Tahan! Puasa!" Papua Barat menenangkan Kalimantan Selatan yang sedari tadi mendengarkan obrolan nista para fujoshi dengan wajah mupeng. Alias muka pengen.
Kalsel tersadar. "Eh? Eh, iya!"
"Udah, mulai aja lombanya!"
"Iya, iya!"
"Jadi, tujuan lomba ini yaitu lari sambil menggendong partner kalian sampai ke garis akhir. Yang partnernya jatuh harus mengulang dari titik awal dan hanya boleh mengulang tiga kali. Paham?" tanya Papua Barat pada para peserta.
"Paham!"
"Bersedia... siap..."
PRIIIT!
Lomba dimulai.
"Ve~ Ve~ Doitsu! Ayo kebut!"
"Iya, iya... Ini udah pake akselerasi Ronaldo nih!" jawab Ludwig rada senewen. Dikiranya menggendong orang yang makanannya pasta melulu enak?
"Woi, bego! Ngegendong sih ngegendong, tapi kenapa posisinya nggak enak begini?" teriak Lovino.
"Nggak enak gimana, Lovi?"
"Itu pantat gue jangan dipegang-pegang!"
"Udah, tahan aja!"
"Hosh... hosh..." Sementara itu Singapura kepayahan. "Brun! Makan apa sih kamu? Berat!"
"Minyak."
"HA?"
"Bercanda."
"Wahaha! Lomba ini asyik juga!" Peter tertawa-tawa di atas punggung Yong Soo.
"Iya, da ze~!" Yong Soo menyetujui.
"ASYIK PALA LO!" teriak Lovino nggak terima.
"Singapura! Brunei! Jangan kalah lho!" teriak Filipina.
Elizabeta asyik ber-fangirling ria. "Ludwig! Feliciano! So sweet!"
"Elizabeta, jangan kalap! Aduh, pake nosebleed segala!" Roderich kelabakan melihat mantan istrinya mimisan. "Dilap gih, pakai sapu tangan!"
"Antonio! Lovino! Berjuanglah OTP-ku!" Belgia ternyata tidak kalah edan.
"APA?" Muka Lovino langsung merah.
Antonio malah nyengir-nyengir. "Oke deh Belgi!"
"Yong Soo! Kalau kalah nanti kamu nggak boleh makan kimchi sebulan!" teriak Yao. Yang diteriaki langsung mempercepat larinya.
"Aku jadi ingat festival menggendong istri di negaraku," Tino tersenyum melihat para peserta.
"Ha? Ada festival gituan ya?" tanya Indonesia. "Kalau gitu aku mau bikin lomba lari sambil gendong suami buat tujuhbelasan tahun depan."
"Aduh! Si Lovino pake jatuh segala!" teriak Denmark.
"Yah, dari tadi dia berontak terus sih. Mungkin karena yang menggendong Antonio. Kalau yang menggendong aku pasti beda." Francis menimpali.
"Beda banget, pasti tim kita udah didiskualifikasi," kata Denmark sarkastis.
Di saat yang bersamaan Ludwig dan Feliciano sudah mencapai garis finis.
"Ve~ Ve~ Doitsu! Kita menang!"
"Haaah, capek tahu nggendong kamu," kata Ludwig.
Yong Soo dan Peter finis kedua.
"Yang penting enggak kalah, da ze~"
Beberapa saat kemudian Antonio-Lovino menyusul.
"Turunin gue! Cepet!"
"Aduh Lovi, padahal aku pengen ngegendong kamu lebih lama lagi..."
"Diam, Spanyol bego!"
Terakhir, di posisi keempat, Singapura-Brunei yang sempat jatuh dua kali. Mereka disambut Vietnam yang langsung menyodok pantat mereka masing-masing.
Sepuluh poin untuk Grup D, lima poin untuk Grup A, tiga poin untuk Grup C, dan nol poin untuk Grup B.
.
=w=w=w=w=w=w=w=w=w=w=
LOMBA 6: Joget balon
Penanggung jawab: DKI Jakarta, Kalimantan Timur
Peserta:
Grup A: Swiss-Polandia
Grup B: Thailand-Vietnam
Grup C: Amerika Serikat-Inggris
Grup D: Jerman-Swedia
.
"Lomba apaan nih, pesertanya nggak jelas semua!" komentar Seychelles melihat para peserta yang sedang bersiap-siap mengikuti lomba.
"Apalagi Grup D, tuh! Serem!" Taiwan bergidik melihat dua perwakilan Grup D (yang, kalau dilihat dari ekspresinya, 250% tidak ikhlas mengikuti lomba).
"Ah, lumayan kok, ada USUK." Elizabeta tersenyum licik.
"Kamu sih enak. Pairing favoritku hampir semua beda grup," keluh Belgia.
"Enak ya, mereka bisa fangirling karena nggak puasa," Kalimantan Timur ikutan mengeluh melihat para fujoshi.
"Sabar, kan cuma satu bulan," hibur Jakarta.
"Satu bulan itu lama tahu..."
.
"MUSIK!"
"Jangan memilih... aku..."
Musik diputar. Para peserta mulai berjoget dengan balon ditahan di antara dahi mereka.
"Ebuset, lagu pertama lagunya Anang-Syahrini?" Kalimantan Timur melotot.
Jakarta malah siul-siul gak jelas.
"Kakak..." Liechtenstein tidak tahu harus merasa illfeel atau apa melihat kakaknya menari mengikuti alunan suara Anang dan Syahrini. Sambil berpegangan tangan dengan Feliks lagi.
"Iggy, rileks dong. Kalau gini kita bakalan kalah." kata Alfred.
"Siapa yang bisa rileks kalau harus ikut lomba beginian? Harus dansa sama orang macam kamu lagi!"
Lagu berganti.
"Bertahan satu ciiiiiiinta... bertahan satu C-I-N-T-A…"
"BUSET! Kuping gue sakit dengernya!"
"Mendengar sedikit saja, kepalaku rasanya sudah mau pecah, ana~"
"Lagu apaan nih?" teriak Arthur.
"Bikin orang pengen muntah aja..." kata Alfred.
"Astaga, lagunya nggak banget deh," Feliks sweatdrop. "Yang tadi mendingan."
"Kalau aku kenal yang bikin, bakal aku dor," gumam Vash.
Grup B dan Grup D seakan tidak terpengaruh.
"Thailand sama Vietnam kayaknya menikmati banget," komentar Laos.
"Yah, namanya juga suami-istri bahagia..." ujar Kamboja.
"Memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan nih! Inget loh, lagi puasa!"
"Mereka kan nggak puasa..."
Ganti lagu lagi.
"Dasar kau, keong racun, baru kenal udah ngajak tidur..."
"DKI! Apa-apaan kamu pakai lagu keong racun aransemen death metal? Yang asli aja udah parah tahu!" teriak Kaltim sambil menutupi kupingnya.
Jakarta cuma bisa membuat tanda peace dengan jarinya.
"TELINGA GUE! TELINGA GUE YANG AWESOME! TOLONG! LAGU YANG SAMA SEKALI NGGAK AWESOME INI BAKAL NGERUSAK TELINGA GUE YANG AWESOME INI!" Gilbert teriak-teriak layaknya orang gila. Elizabeta terpaksa menenangkannya dengan wajan legendarisnya.
"Te, telingaku udah nggak bisa buat denger lagi nih kayaknya..." kata Feliciano.
"Lagunya mendingan, daripada gerakan mereka..." Tino menunjuk Ludwig dan Berwald yang berjoget ala Sinta dan Jojo.
"Astojim! Belajar dari mana tuh mereka?" Indonesia kaget.
"A-aku nggak tahan liatnya..." Filipina pingsan.
"FILIPINAAA!" Laos dan Kamboja teriak berbarengan melihat Filipina pingsan. Entah kenapa, adegan ini terasa familiar.
"Lagunya... Sumpah, nggak banget..." kata Feliks.
"O-oi! Tenang dong! Kita kalah nanti!" kata Vash yang sebenarnya juga jadi mual gara-gara dengar lagu yang rada gaje itu.
"Aku udah nggak tahan..."
Balon Grup A jatuh.
"Grup A didiskualifikasi!" teriak Jakarta.
Dengan ekspresi lega luar biasa Vash dan Feliks segera lari ke kamar mandi untuk muntah.
Tinggal tiga grup.
"Cinta satu malam, oh indahnya, cinta satu malam, buatku melayang..."
Lagunya tambah cepat (dan kacau). Alfred dan Arthur terlihat makin kesulitan. Thailand dan Vietnam tetap asyik berjoget. Ludwig dan Berwald sama sekali tidak terpengaruh. Mereka tidak sadar kalau mereka membuat penonton merasa mual.
"Lagu apa ini, cinta kok cuma satu malam," komentar Denmark.
"Yang membuat lagu tidak tahu arti cinta yang sebenarnya," timbrung Francis.
"Kalau arti cinta yang sebenarnya menurutmu itu sama dengan apa yang kamu tunjukkan selama ini, bukannya sama aja?"
"Lay lay lay lay lay lay, panggil aku si jablay..."
"Lagu macam apa ini?" teriak Antonio. "Sumpah, lebih parah dari yang tadi!"
"Lay, dipanggil tuh!" ledek Indonesia.
Malaysia menghadiahinya jitakan (sok) ganteng di kepala (?).
"Sumpah lagu ini nggak banget!" ujar Alfred.
"Cepet ganti lagu kek..." doa Arthur.
"Ve~ Aku baru tahu Doitsu bisa joget kayak penari dangdut..." komentar Feliciano.
"I-iya... Aku juga baru tahu kalau Su-san mau nari kayak begitu..." ujar Tino.
"Kawin, kawin, minggu depan aku kawin!"
"Lagunya kocak! Kesesesese!" Gilbert ngakak.
"Seleramu jelek banget," ejek Roderich.
"Ah!" Tiba-tiba Arthur kesandung batu.
"Eits!" Alfred menahan tangan Arthur. Sayang balon mereka jatuh.
Tinggal dua grup.
"Susis, owowo susis... Suami sieun istri..."
"Uyeee... uyeee... Prikitiew! Pake lagunya Sule, man!" teriak Indonesia.
"Cie cie! Ihiiiy! Prikitiew!" Myanmar meneriaki Thailand dan Vietnam yang berdansa mengikuti siulan Sule. Kalau dipikir-pikir, background musicnya nggak pas ya? Ah, sudahlah.
"Diobok-obok airnya diobok-obok, ada ikannya kecil-kecil pada mabok..."
"BWAKAKAKA! Lagunya gaul, man!" Antonio ketawa terbahak-bahak.
"Jadi ingat masa kecilku," kata Indonesia.
"A-Aku udah nggak tahan lihat lomba ini..." Tino memalingkan wajahnya, menghindari pemandangan tidak sedap berupa Ludwig dan Berwald yang berputar-putar tidak jelas sambil berpegangan tangan. Persis kayak om-om gaje dengan masa kecil yang sangat amat tidak bahagia sekali.
"Ve~ aku juga..." Feliciano susah payah menahan hasrat ingin muntah.
Karena sedikit kesalahan, akhirnya balon Grup B jatuh. Grup D pun didapuk menjadi juara.
Sepuluh poin untuk Grup D, lima poin untuk Grup C, tiga poin untuk Grup B, dan nol poin untuk Grup A.
.
=w=w=w=w=w=w=w=w=w=w=
.
"Berikut perolehan poin sementara. Grup A 61 poin, Grup B 81 poin, Grup C 17 poin, Grup D 52 poin. Lomba hari kedua selesai. Sekian dan sampai besok!"
"Kenapa kita kalah terus dari kemarin?" tanya Gilbert.
"Ke-awesome-anmu itu yang bikin kita kalah," sindir Roderich.
.
=TBCotNGC=
To Be Continued on the Next Gaje-er Chapter
.
(A/N SESSION!)
GARING. GARING. GARIIING. MAAF, SEMUANYA. MAAFKAN SAYA. Selera humor saya hilang entah ke mana gara-gara stres mengerjakan soal lomba cerdas cermat di sekolah (nggak menang, lagi). Kenapa sih OSIS sekolah saya nggak bisa bikin lomba tujuh belasan yang simpel? Seandainya saya ketua OSIS, bakal saya bikin lomba-lomba kayak di fic saya!
Buat yang nggak suka GerIta, saya minta maaf. Saya nggak punya ide untuk pairing lain. Dan soal lomba joget balon, bagian situ benar-benar gagal total. Aaah! Deutschland, Sverige, maafkan saya! -dibantai-
Terima kasih banyak kepada MooMoo yang sudah mengusulkan joget balon! Btw, no offense buat lagu-lagu yang tadi disebut-sebut di joget balon. Saya lumayan suka lagu Susis-nya Sule kok. Kocak. Batal Kawin dan Cari Jodoh juga nggak jelek. Paling nggak bisa buat ngeledekin om-om jomblowan umur 30 tahun ke atas. Diobok-Obok itu lagu kesukaan saya waktu masih kecil, waktu suara si Joshua masih khas anak-anak dan logat Jawanya masih kental. Kalau lagu yang lain dimasukkan berdasar usul dari teman-teman saya.
Saya juga mau berterima kasih pada Hana Senritsu atas idenya soal balap bakiak. Sayang otak mesum saya lagi mati. Onderdilnya rusak! Maafkan saya... ;A;
Sudahlah, daripada pusing mendengarkan curcolan dan permintaan maaf saya yang sudah mulai berlebihan, lebih baik saya akhiri saja fic yang makin lama makin hancur ini!
Btw, nanti grup yang kalah bakal dikasih hukuman, tapi saya masih bingung menentukan hukumannya apa. Ada yang punya usul?
