Title: Tujuh Belasan Hetalia Version

Disclaimer: Hetalia punya Hidekaz Himaruya. Serial Upin dan Ipin punya Les' Copaque Production. Kaskus punya Andrew Darwis. Barbie punya Mattel, Inc. We Are the Champions punya Queen. The Winner Takes It All punya ABBA. Viva la Vida punya Coldplay. IMB punya Trans TV. Semua produk yang disebut di sini punya pemilik masing-masing. Saya hanya author newbie yang cuma bisa memanfaatkan (baca: menistai) karya orang.

Warning: Penggunaan nama-nama negara dalam bahasa Indonesia, OOC akut, perusakan image karakter, banyak OC gaje dan nista berupa personifikasi provinsi-provinsi Indonesia dan negara-negara ASEAN, sumpah serapah dari karakter-karakter bermulut kotor, humor garing di sana-sini, HINT SLASH, dan sarat bumbu-bumbu kenistaan dan ke-lebay-an racikan author idiot. Lebih baik dibaca setelah buka supaya nggak batal puasanya.

Catatan Tambahan: Di sini Indonesia, Malaysia, Singapura, Brunei, dan Myanmar laki-laki. Kalau Laos, Kamboja, dan Filipina perempuan. Untuk para province-tan alias personifikasi provinsi Indonesia, saya tidak menentukannya secara spesifik, jadi terserah Anda saja. Mau perempuan, laki, hermafrodit, atau banci, semua boleh. -ditusuk bambu runcing-


.

Tujuh Belasan Hetalia Version

Chapter 5: Hari Ketiga

.


Selasa, 17 Agustus 2010

Lomba hari ketiga

.

"Aku penasaran, kegilaan macam apa yang bakal terjadi hari ini," Sadiq nyengir.

"Yang pasti, lomba hari ini bakal kacau kayak kemarin," Kuba mengomentari.

Gupta hanya tersenyum kecil sambil berharap lomba hari ini akan sama hancurnya seperti yang sudah-sudah. Lumayan untuk hiburan sambil menunggu waktu buka.

"Tapi kenapa kita nggak diundang jadi peserta ya?" tanya Bulgaria.

"Kalau itu, salahkan saja authornya!" tandas Seychelles.

.


.

Lomba 1: Balap karung

Penanggung jawab: Nusa Tenggara Barat, Banten

Peserta:

Grup A: Jepang

Grup B: Indonesia

Grup C: Australia

Grup D: Belanda

.

"Aku cukup yakin kali ini kita menang," ujar Indonesia dengan percaya diri.

"Dari mana datangnya pede seperti itu?" tanya Laos.

"Ah, aku kan sudah latihan dengan teman baikku."

"Siapa?"

"Pocong."

.

"Bersedia... Siap... Mulai!"

Aba-aba dari Nusa Tenggara Barat mengawali perlombaan itu.

"Indonesia! Jangan kalah!" teriak Kamboja.

"Tenang aja! Aku kan punya jurus andalan Jurus Pocong Mau Nonton Konser!" Indonesia memamerkan jurus yang ia pelajari dari teman baiknya, Pocong.

"Nesia-chaaannn! Tungguuu!" Belanda mempercepat lompatannya. Seandainya gaya lompatnya yang aneh itu punya nama, mungkin namanya Jurus Waria Kabur dari Razia Kamtib.

Melihat mantan penjajahnya itu mendekat, Indonesia makin mempercepat lompatannya.

"Kalau gitu aku juga mau pakai jurus andalanku. Jurus Kangguru Kabur dari Sunatan Massal!" Australia mengganti gaya lompatannya dengan gaya yang sepuluh kali lebih gaje dari gaya sebelumnya.

"Sukses! Ane Pertamax, gan!" Indonesia tertawa-tawa usai melewati garis finis.

"Selamat Gan! Cendol menyusul setelah buka puasa!" Laos menyelamati kawannya.

"Lumayan, dapat peringkat kedua," Australia nyengir bangga ketika sampai finis. "Latihan sama kangguru berguna juga."

Dua negara mantan penjajah Indonesia, Belanda dan Jepang, finis di peringkat ketiga dan keempat.

Sepuluh poin untuk Grup B, lima poin untuk Grup C, tiga poin untuk Grup D, dan nol poin untuk Grup A.

.


.

Lomba 2: Futsal

Penanggung jawab: Sulawesi Barat, Sumatera Selatan

Peserta:

Grup A: Jepang, Korea Selatan, Swiss, Yunani, Sealand

Grup B: Indonesia, Malaysia, Singapura, Brunei, Myanmar

Grup C: Denmark, Prusia, Spanyol, Inggris, Amerika Serikat

Grup D: Jerman, Rusia, Swedia, Belanda, Hongaria

.

"Untuk futsal, kita menggunakan peraturan yang biasa. Berarti tidak boleh ada bantuan dari pihak ketiga seperti mahkluk gaib atau hewan." Sumatera Selatan menjelaskan.

"Dan ada perubahan peraturan. Kalian harus mengambil satu kostum dari kantong itu," Sulawesi Barat menambahkan, "kemudian kalian harus bertanding futsal dengan kostum yang kalian ambil."

"Bahkan kostum bunny girl?" Denmark iseng bertanya.

"Iya."

"Tunggu, kostum kayak gitu kalau dipakai perempuan yang badannya bagus sih nggak apa-apa. Tapi kalau yang pakai macam si Francis, bukannya bisa bikin mata katarak permanen?" Arthur memprotes.

"Ah, bilang saja kalau kau ingin melihat Abang pakai kostum itu~" goda Francis sambil mengedip-ngedipkan matanya. Kasihan, mungkin dia kelilipan (?).

"Kalau ada yang mau liat, cuma ada dua kemungkinan: orang itu gegar otak parah atau buta."

.

"Lumayan juga ini kostum, nggak parah-parah amat," Elizabeta memandangi kostum hansipnya. Lengkap dengan pentungan sebagai senjata. Tak ada panci, pentungan pun jadi.

"Kamu sih enak! Gue nggak!" bentak Vash yang dapat daster pink gambar Barbie.

"Serasa muda kembali! Hahaha!" Antonio tertawa-tawa melihat seragam SD-nya. Ckckck, dasar om-om MKKB, masa kecil kurang bahagia!

"Hero kayak gue emang pantes banget pake baju kayak gini! Hehehehehe!" Alfred memamerkan kostum Superman-nya.

"Grup kita memang paling awesome!" tambah Gilbert yang dapat jatah kostum Batman.

"Pasti deh kita yang menang!" seru Denmark dengan kostum Spiderman-nya.

Dan ketiga orang itu pun tertawa dengan nistanya.

"Diam, bodoh!" Arthur emosi.

"Kenapa kau, Iggy? Ahahahahaha! Kostummu cocok deh!" Alfred terbahak melihat Arthur memakai kostum maid.

"Cerewet!"

"Kenapa aku harus dapat kostum Upin?" teriak Indonesia histeris.

"Kenapa aku harus dapat kostum Ipin?" teriak Malaysia tak kalah histerisnya.

"Aku tidak mau jadi kembarannya Malon!" teriak Indonesia.

"Aku tidak mau jadi kembarannya Indon!" teriak Malaysia pada saat yang sama.

"Senjata makan tuan nih ye!" ledek Myanmar.

"Jangan ketawa dulu kamu! Ngaca dong!" balas Indonesia menuding pakaian adat Sumatera Selatan yang dikenakan Myanmar.

"Mendingan kali, daripada kostum ini. Malu-maluin." Brunei mengeluh.

"Kostum malaikat memang cocok dengan kau yang selalu alim," sindir Malaysia.

Kostum malaikat? Nyolong kostum Britannia Angel kah?

"Paling nggak, nggak separah Singapura..."

"Memang kostum dia apa?"

"Baju balet..."

.

Pertandingan pertama: Grup B vs Grup C

"Cih, apa itu Grup B. Nggak ada yang masuk World Cup. Kesese! Cupu! Pasti deh kita bisa menang dengan mudah!" Gilbert tertawa melecehkan.

"Heh, jangan songong kau," Indonesia sewot mendengar Gilbert omong besar.

"Sudahlah," Brunei menenangkan. "Lagi pula itu kan kenyataan. Grup kita tidak ada yang masuk World Cup, sedangkan mereka semua masuk."

"Hei, Upin! Dua tiga hantu bencong, kalahin tuh grup songong!" Laos meneriaki Indonesia dengan pantun maksa plus gaya Jarjit yang khas.

"Iya, iya! Tapi aku bukan Upin!" seru Indonesia.

Kedua tim berkumpul di lapangan untuk bertanding. Sebelum bertanding, mereka berjabat tangan.

Priiit!Tiupan peluit dari Sulawesi Barat sang wasit menandai mulainya pertandingan.

Sejak awal sudah terlihat jelas bahwa pertandingan dikuasai oleh Grup C. Grup B terlihat agak kewalahan menghalau serangan Grup C. Mari kita skip saja bagian ini karena author malas mendeskripsikan kekalahan Grup B.

Pertandingan berakhir dengan skor 23-0 untuk Grup B.

"Kesesesese! Sudah kubilang, kita pasti menang lawan grup cupu itu!" Gilbert tertawa sombong.

"Cupu sok asik lo!" Myanmar menyahut.

.

Pertandingan kedua: Grup A vs Grup D

"Firasatku, Grup A bakal dibantai kayak kita," prediksi Myanmar.

"Astaga, kostumnya Grup A. Serasa cosplay deh," komentar Singapura. Kiku berdandan ala Dora the Explorer, Yong Soo mengenakan baju bodo, Vash dengan daster Barbie warna pink ngejreng, Heracles berbaju adat Betawi, dan Sealand memakai kostum Naruto.

"Liat tuh Grup D. Indonesia banget!" Indonesia menunjuk Grup D. Ludwig berkebaya, Ivan berdandan ala penjual sate Madura lengkap dengan kipas dan kumis tebal yang khas, Berwald pakai baju Pramuka, Belanda bersarung, dan Elizabeta berbaju hansip.

"Hei, Bang! Abis sunatan ya? Udah tua kok baru sunatan? Hahaha!" Alfred menertawakan Belanda yang memakai sarung.

"Bang, kalau baru sunatan terus main futsal bisa gawat lho," ledek Gilbert.

"Iya, kalau kena 'itu'-nya gawat, Bang," Denmark ikut mengompori. "Nggak bisa punya anak nanti!"

Ketiga mahkluk itu langsung kena hajar sang mantan Kompeni.

"Awas ya kalau ada yang berani ketawa!" Vash mengancam orang-orang di sekitarnya dengan pistolnya.

"Kakak, daster itu cocok kok," Liechtenstein mengomentari.

"Mau beli sate, дa?" Ivan menawari teman-temannya. "Yang beli boleh bersatu denganku."

"Ng-nggak usah, makasih..." Toris menolak.

"Kostum ini memalukan," Kiku memandangi kostum Dora-nya.

"Parah mana denganku?" tanya Ludwig.

"Hahahaha! Pertandingan ini keren!" Sadiq tertawa-tawa. "Indonesia memang hebat bikin festival!"

"Bilang keren lagi, dan kubuat kau pakai daster ini!" Vash menghardik.

"Pertandingan akan segera dimulai, harap bersiap," Sumatera Selatan mengumumkan.

Kedua tim yang akan bertanding memasuki lapangan. Setelah berjabat tangan, pertandingan dimulai.

Pertandingan didominasi Grup D. Grup A memang mendapat kesempatan untuk mencetak gol, tetapi karena keberadaan Ivan sebagai penjaga gawang mengintimidasi setiap pemain yang akan mencetak gol, berkali-kali mereka gagal. Pada saat itulah Grup D merebut bola dan menyerang balik.

Pada akhirnya pertandingan dimenangkan Grup D dengan skor 15-0.

.

Perebutan juara ketiga: Grup A vs Grup B

Grup B cukup kesulitan menghadapi Grup A. Pertahanan Grup A solid dan mereka juga bagus dalam offense. Tetapi Grup B tetap berjuang sampai akhir.

Untuk mempersingkat cerita, Grup B dikalahkan Grup A dengan skor 8-1.

"Paling tidak, bisa ngegolin satu..." kata Indonesia.

.

Final: Grup C vs Grup D

"Gilbird, coba kamu prediksi siapa juaranya." Gilbert menyuruh Gilbird.

"Cip," Gilbird mengambil salah satu dari dua kartu yang disodorkan Gilbert. Setelah dibalik, ternyata kartu itu bertuliskan GRUP D.

"Ah, kamu sama aja sama Paul!" Gilbert ngamuk.

"Udahlah, siapa tahu dia salah," Antonio menenangkan. "Sayang aku nggak bawa Paul."

"Jangan sebut-sebut nama pengkhianat itu!" Gilbert tambah emosi.

"Menurut prediksi Gurita Cikeas, Grup D yang menang," Indonesia memberitahu teman-temannya.

Sementara itu di Grup D, api semangat menjalari kelima pemain.

"Saatnya balas dendam pada Spanyol!" Belanda berapi-api.

"Mari kita balas dendam kita," ujar Ludwig ambisius.

"Tendang pantat mereka!" Elizabeta mengompori.

"G'nyang m'reka," tambah Berwald.

"Pulangkan mereka, дa~" imbuh Ivan ceria.

"Apapun hasilnya, pertandingan ini bakal seru," kata Belgia antusias kepada Ukraina di bangku penonton.

Dia benar. Pertandingan memang berlangsung seru. Terutama karena semua anggota Grup D—bukan hanya Ivan saja—mengeluarkan aura membunuh.

"Seram, euy!" komentar Alfred.

"Jangan bengong, siap dong!" Gilbert berseru. Wow, ucapannya berima!

Belanda berlari dengan kecepatan paling cepat yang bisa ia usahakan dalam keadaan bersarung menuju gawang Grup C.

"Nggak akan kubiarkan dia ngegol!" Alfred merebut bola dari Belanda.

"Bagus!" teriak Australia dari bangku penonton.

Alfred menendang bola ke arah Antonio. Niatnya mau mengoper. Tapi malah meleset dan mengenai kaki Denmark sehingga bola meluncur ke gawang sendiri. Arthur yang menjaga gawang gagal mengantisipasi bola tersebut sehingga... GOL!

"WOT DE PAK?" Alfred bengong.

"Gol bunuh diri nih!" Myanmar terbahak dengan gaya melecehkan. "Rasain!"

"Kok serasa déjà vu ya..." gumam Denmark.

"Memang ini déjà vu!" geram Arthur jengkel.

Pertandingan berlanjut. Kali ini Antonio menyerbu ke gawang Grup D. Niatnya mau mencetak gol. Tapi...

"Antonio, kamu mau apa?" tanya Ivan dengan aura kejam berkoar-koar di sekitarnya. Pakaian tukang sate Madura dan kumis palsu yang ia kenakan memperkuat aura kejamnya.

"Hiii..." Bukannya menendang dengan penuh tenaga, tendangan Antonio seolah kehilangan kekuatannya. Bola bergulir lemah ke arah gawang. Dengan mudah Ivan menangkapnya.

"Siap-siap ya, aku mau nendang," Ivan menendang bola dengan kecepatan dan kekuatan penuh. Bola melesat dengan dahsyat melewati tengah lapangan sampai ke gawang Grup C. Lagi-lagi Arthur yang tidak menduga akan terjadi gol gagal mengantisipasi.

"GOL!" Pemain-pemain Grup D langsung menyerbu Ivan. Niatnya mau memeluk, tapi tidak jadi. Takut mungkin.

"Kok bisa?" Gilbert cengo. "Ivan pasti punya semacam tenaga dalam!"

Mari kita persingkat saja cerita ini.

Pada akhirnya, ramalan Gurita Cikeas dan Gilbird terbukti. Pertandingan dimenangkan Grup D dengan skor 12-0.

Hampir saja Gilbert memasak Gilbird kalau tidak dilarang Ludwig.

.

"Kok nggak ada yang kebagian jatah pakai koteka ya?" Sulawesi Barat bertanya-tanya.

"Malah bagus kan?" Sumatera Selatan keringat dingin sendiri membayangkan seandainya ada yang pakai koteka. Apalagi kalau si Abang Francis yang pakai. Bisa-bisa dunia kiamat dini.

.


.

Lomba 3: Sepeda lambat

Penanggung jawab: Lampung, Gorontalo

Peserta:

Grup A: Yunani

Grup B: Filipina

Grup C: Austria

Grup D: Latvia

.

Lomba berikutnya adalah sepeda lambat. Walaupun kedengarannya gampang, lomba ini sebenarnya cukup sulit. Karena mengayuh sepeda lambat-lambat membuat orang kehilangan keseimbangan, sudah pasti ada saja yang terjatuh.

"Aduh!" Filipina terjatuh.

"Aduh!" tidak sampai lima menit kemudian Raivis juga jatuh.

"Kenapa harus aku yang ikut?" Roderich bersungut-sungut. "Konyol sekali, mengayuh sepeda lambat-lambat begini."

"Kenapa orang tidak sabaran seperti dia yang ikut?" tanya Arthur. "Tuh, dia sampai paling cepat lagi."

"Habis nggak ada orang lain lagi yang bisa disuruh..." kata Matthew.

Seperti yang sudah bisa diduga, pemenangnya adalah Heracles.

"Kalau itu mah udah bisa ditebak dari awal..." kata Lampung.

"Nggak usah dibikin lomba juga semua udah tahu..." kata Gorontalo.

.


.

Lomba 4: Lari tiga kaki

Penanggung jawab: Bangka Belitung, Sulawesi Tengah

Peserta:

Grup A: Jepang-Cina

Grup B: Laos-Kamboja

Grup C: Inggris-Prancis

Grup D: Lituania-Estonia

.

Perlombaan keempat hari itu adalah lomba lari tiga kaki. Tahu lari tiga kaki kan? Yup, dalam lomba ini salah satu kaki peserta pertama diikat ke salah satu kaki peserta kedua. Jadi seperti berlari dengan tiga kaki. Kesulitan lomba ini terletak pada koordinasi gerak pesertanya.

"Kiku-nii, Yao-ge, berjuang! Kalian pasti bisa!" Taiwan menyemangati dua kakaknya. Keduanya terlihat agak kesulitan.

"Laos, Kamboja, ayo terus!" Filipina menyuporteri Laos dan Kamboja yang berlari dengan penuh semangat.

"Toris, Eduard, kalau kalah kalian kuhukum lho~" Ivan mengancam. Toris dan Eduard langsung mempercepat gerak mereka.

"Aku punya firasat buruk kalau grup kita bakal kalah lagi," gumam Lovino.

"Kenapa?" tanya Australia.

"Lihat tuh..." Lovino menunjuk Francis yang malah mencoba menggrepe-grepe Arthur.

"Woi, Jenggot! Stop! Kita jadi susah gerak!" Arthur membentak partnernya yang kelewat mesum itu.

"Diam dong, Abang jadi nggak bisa memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan nih..." Francis manyun.

"Kira-kira kek!" sembur Arthur.

Teman-teman segrup mereka langsung facepalm berjamaah.

"Bener-bener... Mestinya yang ikut yang lain saja..." Roderich menyesali kelakuan dua orang nista itu.

"Ah! Gawat! Cepet pisahin mereka!" seru Australia melihat mereka Arthur dan Francis jatuh dengan posisi yang mencurigakan (?).

Australia dan Alfred segera membantu kedua penanggung jawab lomba memisahkan Arthur dan Francis sebelum terjadi kejadian yang tidak diinginkan (?).

Lagi-lagi Grup C kalah karena rusuh. Dan lagi-lagi Grup B berjaya. Pasangan Laos-Kamboja yang atletis sampai garis finis lebih cepat dari yang lain.

.


.

Lomba 5: Menggambar alis

Penanggung jawab: Nusa Tenggara Timur, Bali

Peserta:

Grup A: Jepang

Grup B: Filipina

Grup C: Amerika Serikat

Grup D: Italia Utara

.

"Peserta lomba gambar alis, tolong bersiap di sini dengan alat gambar masing-masing!" kata Nusa Tenggara Timur.

"Hahaha! Lomba ini bakal kayak gimana ya? Denger namanya aja udah ngakak!" komentar Denmark. "Oi, Arthur! Kenapa kamu nggak ikut gambar alis aja? Kan lumayan! Ahahahaha!"

"Banyak bacot kau!" bentak Arthur jengkel.

"Kami akan membagikan gambar wajah orang tanpa alis. Kalian harus menggambar alis di wajah itu dengan mata tertutup dalam waktu lima belas menit." Bali menjelaskan aturan kepada para peserta. "Yang menggambar alis paling bagus dan paling artistik menang. Jelas?"

"Jelas."

"Baik, siapkan alat gambar kalian masing-masing. Kami akan membagikan gambar dan menutup mata kalian sekarang."

Para partisipan menyiapkan alat-alat mereka. Sementara Bali dan NTT membagikan gambar wajah. Anehnya gambar wajah itu terlihat begitu... familiar.

"WAKAKAKAKAK! Ini kan Arthur?" Alfred ngakak. Gambar yang dibagikan ternyata adalah gambar wajah Arthur, tetapi tanpa alis tebal enam lapis yang biasa menghias wajahnya.

Arthur ngamuk. "SIAPA SIH YANG PUNYA IDE? AWAS YA! GUE KUTUK ITU ORANG BIAR ALISNYA PINDAH KE PANTAT!"

"Apa? Kamu nantang aku ya?" tanya Bali dengan aura hitam menjalar-jalar ke sekelilingnya. Soal ilmu sihir, Bali lebih kuat. Jelas Arthur bungkam.

"Beh, muka lo tambah jelek kalo gak punya alis!" Alfred mencibir. "Punya alis aja udah jelek!"

"Sori ya kalo gue jelek!"

"Makanya, bikinin dia alis yang bagus..." ujar Francis.

"Gak usah ikut-ikut lo! Lo pengen jenggot kambing lo gue bakar?"

"Jangan khawatir, Arthur-san, saya akan membuatkan alis yang lebih elegan dan enak dilihat," Kiku tersenyum.

"Gak butuh!"

"Ternyata dia lebih suka alis tebal," Norwegia mengomentari dengan wajah datar.

"Diem lo, banci! Seenggaknya gue gak pake jepit rambut norak kayak lo!"

"Jepit? Ini lambang Nordic Cross (1), alis tebal bodoh!"

"Tolong jangan ribut, lomba akan segera dimulai!" pinta NTT. Arthur jadi tak dapat kesempatan membalas.

"Saya sudah menutup mata kalian semua, jadi sekarang silakan mulai," Bali mempersilakan.

Keempat perwakilan grup pun mulai menggambar dengan mata tertutup.

Lima belas menit kemudian...

"Waktunya habis! Silakan berhenti dan buka penutup mata kalian!"

Keempat partisipan membuka mata. Dan...

"Hehehe! Gue salah gambar! Sori, Arthur!" Alfred ngakak lihat gambarnya sendiri. Bukannya menggambar alis di tempat yang seharusnya—di atas mata—dia malah menggambar alis di bawah hidung! Jadilah Arthur berkumis tebal yang botak alisnya!

"Sumpah, itu gambar paling awesome yang pernah gue lihat!" Gilbert ngakak.

"Setuju!" Antonio mengamini.

"FOR THE SAKE OF MY EYEBROWS! APA-APAAN LO, BLOODY GIT?" Arthur ngamuk. Reaksi yang sudah bisa diduga.

"Ah, kamu lumayan ganteng kok kalau begitu. Seenggaknya alismu yang berlapis-lapis kayak lapis legitnya Indonesia nggak ada," goda Francis.

"Gak tanya pendapat lo!"

"Maaf, gambarmu bagus sekali, tapi kami terpaksa mendiskualifikasimu," kata NTT.

"Loh? Kenapa? Hasil karyaku ini kan awesome! Lagipula, hero sepertiku ini seharusnya tidak didis!" protes Alfred. Ya ampun Alfred, kau benar-benar ketularan virus (sok) awesome dari Gilbert!

"Iya, itu memang awesome. Tapi ini lomba gambar alis. Bukan lomba gambar kumis." NTT menjelaskan.

"Ve~ Ve~ Lihat punyaku~" kata Feliciano. Dia menggambar alis berbentuk... PASTAAAAAAAAAA! Plus dua piring kecil di pangkal alis dan dua garpu kecil di ujung alis.

"Artistik!" puji Bali.

"Ini punyaku," Filipina menunjukkan gambar alis buatannya. Di tempat alis, ia menggambar pelangi dengan awan kecil di kedua ujungnya. Jadilah Arthur yang beralis pelangi.

"Warna-warnanya cerah dan berkesan seperti cerita anak-anak," ujar NTT. "Simpel, tapi bagus!"

"Arthur, kalau alismu seperti itu bagus lho," ledek Francis. "Kesannya cerah."

"Cerewet lo!"

Giliran Kiku. "Silakan nilai milik saya." Ia menggambar unicorn sedang melompat.

"Hebat sekali! Lihat detilnya!" seru NTT.

"Pasti dibuat dengan teknik tinggi," Bali memuji.

"Kami akan mempertimbangkan dahulu siapa pemenangnya," kata NTT. "Silakan tunggu sebentar."

.

"Sekarang kami akan mengumumkan hasil lomba. Sebenarnya kami kesulitan menentukan pemenang karena semua karya kalian bagus, bahkan entri dari Grup C. Tapi kami harap pilihan kami bisa diterima semua pihak." NTT mengumumkan. "Pemenangnya adalah Grup A!"

Kiku membungkuk hormat. "Suatu kehormatan bagi saya bisa mendesain alis yang bagus untuk Arthur-san."

"Siapa juga yang mau punya alis bentuk unicorn?" teriak Arthur.

"Juara kedua Grup D, dan ketiga Grup B," Bali melanjutkan, "tapi harap jangan berkecil hati, karena gambar-gambar kalian memang bagus."

"Sayang, sebenarnya Abang lebih suka kalau alis Arthur bentuknya seperti pelangi kayak di gambarannya Filipina," Francis mendesah. "Pasti kesannya lebih ceria. Daripada alisnya yang sekarang, kayak ulat bulu. Suram."

.


.

Lomba 6: Pindah belut

Penanggung jawab: Sulawesi Tenggara, Bengkulu

Peserta:

Grup A: Korea Selatan, Islandia, Cina, Swiss, Polandia

Grup B: Vietnam, Singapura, Malaysia, Myanmar, Brunei

Grup C: Denmark, Prusia, Australia, Amerika Serikat, Spanyol

Grup D: Hongaria, Finlandia, Estonia, Lituania, Hong Kong

.

"Kalian harus memindahkan belut dari ember besar ini ke botol-botol di ujung sana," Bengkulu menjelaskan peraturan lomba. "Belut yang tidak masuk ke botol tidak dihitung!"

"Katanya pakai ember?" tanya Yong Soo.

"Peraturannya diubah supaya lebih sulit. Lagi pula kami kekurangan ember."

"Tim yang memasukkan belut paling banyak dalam waktu tiga puluh menit akan dinyatakan sebagai pemenang." Sulawesi Tenggara menambahkan. "Sekarang, silakan mulai!"

Maka keempat tim mulai bergerak. Memindahkan belut dari ember ke botol.

"Licin, aru," keluh Yao saat belutnya terjatuh.

"HYAAA! Apaan nih? Basah, licin, bikin geli lagi!" Denmark teriak-teriak histeris.

"Oi, Den! Jangan manja!" sembur Alfred. "Apa salahnya mindahin belut barang seekor?"

"Jijik tahu!"

"Payah lo!" Gilbert tertawa mengejek.

Sementara itu Myanmar iseng memasukkan belut ke baju Malaysia. Kontan saja Malaysia berteriak kegelian.

"HUWAAA! APAAN NIH? SETOP! SETOP! AMPUN MAK!"

Vietnam langsung menggetok kepala Myanmar dengan tongkat saktinya sebagai ganjaran atas keisengannya. Sedangkan Brunei membantu Malaysia mengeluarkan belut dari bajunya. Cukup makan waktu juga, karena belut yang dimasukkan terus bergerak-gerak.

Bukan cuma Denmark yang jijik pada belut, tapi juga Feliks.

"Ih, jijik!" Feliks bergidik memandangi belut-belut dalam ember.

"Jangan cerewet, cepat pindahkan!" bentak Vash.

"Susah ya memasukkan belut ke botol," kata Singapura. Leher botol yang sempit menyulitkan proses memasukkan belut.

"Kayaknya enak ya kalau digoreng," komentar Islandia saat memasukkan belut ke botol.

"Iya," Hong Kong yang ada di dekatnya nimbrung.

"Enak apanya? Mahkluk menjijikkan kayak gini!" protes Denmark.

"Betul, apanya yang enak dari hewan berlendir yang menggeliat-geliat seperti itu," Feliks menimpali.

Setelah tiga puluh menit, lomba berakhir. Sampai lomba berakhir Denmark dan Feliks tidak berhasil memindahkan satu belut pun. Grup D—satu-satunya grup yang mampu memindahkan belut tanpa gangguan—dinyatakan sebagai pemenang.

.


.

Lomba 7: Panjat pinang

Penanggung jawab: Sumatera Utara, Jawa Timur, Sulawesi Selatan, Nusa Tenggara Barat, Kalimantan Tengah, Papua

.

Lomba terakhir adalah panjat pinang yang sudah ditunggu-tunggu. Memang, tujuh belasan tanpa panjat pinang terasa tak lengkap. Menurut peribahasa, bagai sayur tanpa garam! Rasanya tujuh belasan tak afdol tanpa aksi gerilya para peserta memanjat pohon pinang yang batangnya dilumuri oli demi hadiah-hadiah yang digantung. Apalagi hadiahnya bermacam-macam. Ada ponsel No*ia, HP So*y Eri***on, setrika, gitar listrik, poster timnas Spanyol, sampai ban serep.

"Kalian hanya boleh mengambil tiga benda." Sulawesi Selatan memberitahu para peserta.

"Jangan lupa, pinang yang harus kalian panjat sudah kami lumuri oli dan pelumas," Nusa Tenggara Barat mengingatkan.

"Dan harap tidak menggunakan tenaga hewan atau mahkluk gaib." Kalimantan Tengah menambahkan.

"Berarti kalian harus berusaha dengan cara kalian sendiri," imbuh Papua, "tetapi kalian diizinkan menggunakan segala cara."

"Hah, nggak seru. Padahal aku mau minta bantuan teman-temanku dari dunia lain." Indonesia mengeluh.

"Kalau gitu kan nggak seru, nggak ada panjat-panjatan dan jatuh-jatuhan nanti..." Filipina nimbrung.

.

Grup A

"Aduh, jatuh lagi," keluh Feliks setelah dirinya jatuh untuk ketiga kalinya.

"Makanya, yang serius!" bentak Vash.

Dengan tubuh belepotan oli, Feliks berjuang menginjak Vash dan Kiku untuk bisa memanjat pinang.

"Giliranku, da ze~!" Tanpa kesulitan Yong Soo memanjat teman-teman segrupnya.

Keempat rekannya yang lebih senior memudahkan Peter untuk memanjat ke puncak. Walau sempat jatuh sekali, ia berhasil meraih hadiah-hadiah yang digantung.

"Sip! Sekarang ambil kamera digitalnya!" seru Feliks.

"Oke!"

"Sepeda gunung juga!" pinta Yong Soo.

"Yoi!"

"Lemparkan set pisau itu untukku," pinta Natalya.

Tanpa ada yang berani protes, satu set pisau dapur dalam berbagai ukuran dilemparkan ke bawah.

.

Grup B

"Hiyaaa!"

BRUK!

"Oi, Lay! Manjat yang betul dong! Jatuh terus dari tadi!" teriak Indonesia.

"Licin tahu!" bentak Malaysia sambil mengusap-usap pantatnya yang sakit karena jatuh.

"Payah kau," cibir Indonesia.

"Iya, payah. Udahlah, aku dulu aja!" Myanmar segera melesat ke atas tanpa kesulitan.

"Tuh liat, Myanmar aja bisa! Masa kau nggak bisa, Lay?" ledek Indonesia.

"Jangan sombong kau!" ucap Malaysia jengkel. Ia pun mencoba memanjat lagi.

"Malaysia, jangan injak kepalaku, ana~" kata Thailand.

"Maaf, Om."

"Bisa juga kau sampai ke sini," sindir Myanmar. "Brunei! Cepetan!"

Dengan susah payah dan dua kali jatuh, Brunei memanjat ke atas.

"Bagus! Ambilin beras, Brun! Lumayan buat buka puasa!" perintah Indonesia.

Brunei pun menjatuhkan karung berisi beras satu kilogram yang langsung ditangkap Vietnam di bawah.

"Ambilin gue iPhone!" seru Singapura dari bawah.

"Bukannya kamu barusan beli?"

"Buat cadangan!"

Sambil menghela napas panjang, Brunei melemparkan iPhone pada Singapura.

"Terakhir, ambilin TV 90 inci! Buat nobar Piala Dunia 2014!" Indonesia mengomando.

"Masih lama kali..."

"Ya udah, buat nobar IMB aja!"

Maka TV itu pun dilemparkan ke anggota lain yang menunggu di bawah.

"Woi, kira-kira kek kalo ngelempar! Masih untung bisa ditangkap!" omel Kamboja.

.

Grup C

"Aduh! Rambut lo nusuk pantat gue!" teriak Gilbert.

"Salahnya pantat ditaruh situ!" balas Denmark.

"Mau gimana lagi? Kalau mau manjat sampai atas, harus gini!" kata Gilbert. Kemudian ia berseru pada Antonio, "Oi, Antonio! Cepet manjat!"

Dengan susah payah Antonio memanjat dua teman segrupnya yang sudah stand by terlebih dulu. "Alfred! Giliran lo!"

"Oke!" Alfred pun segera memanjat.

"Aduh, sakit! Woi, Alfred! Kepala gue jangan diinjak!" teriak Denmark rada emosi.

"Sori, sori!" Alfred nyengir. "Tapi rambut lo tajam banget! Kaki gue juga sakit!"

"Tapi lo tuh berat tahu!"

"Berat? Gue ini langsing!"

"BERASA LANGSING LO!" bentak Denmark, Gilbert, dan Antonio bersamaan.

"Apa? Gue emang langsing kok. Hehehehe!"

"LANGSING DARI HONG KONG?" tiga rekannya lagi-lagi membentak Alfred secara berjamaah.

Di bawah mereka, Hong Kong bersin.

"Kenapa nama gue mesti dibawa-bawa sih? Nasib. Gara-gara Indonesia nih nama gue dibawa-bawa mulu!" batinnya.

Di suatu tempat tak jauh dari situ, Indonesia bersin.

"Plis deh, Alfred. Mana bisa orang makan junk food terus dan tetap langsing? Nyadar kek!" bentak Antonio.

"Aduh!" Tiba-tiba Alfred mengaduh.

"Apa? Kenapa? Di mana? Siapa? Kapan? Bagaimana?" Gilbert bertanya dengan pola 5W + 1H komplit.

"Perut gue mules! Gue pengen kentut!"

"Geblek! Kenapa nggak dari tadi?"

"Kan nggak bisa dijadwal! Aduh!"

DUUUT!

"HUWAAA!"

BRUK!

BRUKK!

BRUKKK!

KA-BOOOM!

Bom kentut bombastis itu sukses menjatuhkan keempat lakon kita ke tanah. Sudah jatuh, berlumur oli pula.

"ALFRED! DASAR #$%¡^&*¿×!" Antonio langsung misuh-misuh.

"Sumpah, itu kentut paling gak awesome yang pernah ada!" teriak Gilbert. Memang kentut yang awesome itu kayak apa?

"Bujug dah! Kentut apa ngebom sih?" Denmark ikutan sewot. "Mana kentutnya di depan kepala gue lagi!"

"Hehe. Sori bin mori! Gue gak bisa nahannya!"

"Sialan lo! Kita harus ngulang dari awal kan?" omel Antonio.

Keempatnya terpaksa harus mengulang memanjat dari awal.

"Alfred, jangan kentut lagi lho!" teriak Antonio saat dipanjat Alfred.

"Iya, iya," kata Alfred. "Matthew, gue udah sampai atas nih! Cepetan panjat!"

"Iya..." Dan Matthew pun memanjat hingga ke atas tanpa kesulitan.

"Ambil apa nih?" tanyanya pada teman-temannya.

"Voucher makan gratis di McDon*ld!" teriak Alfred.

"Jangan! BlackBerry aja!" teriak Gilbert.

"Ambil laptop aja! BlackBerry udah di-ban Arab Saudi!" Denmark ikut memberi sugesti.

"Majalah Playboy edisi terbaru aja! Ntar kita baca sama-sama!" usul Francis dari bawah.

"Aduh, diam dong! Aku jadi nggak bisa nentuin mau ngambil apa nih!" protes Matthew. "Laptop aja gimana?"

"Oke!"

"Tangkap ya!"

Satu per satu, Matthew melemparkan laptop, peralatan makan merek Tupp***are, dan voucher McDon*ld.

"Kok voucher McDon*ld sih? Ah sudahlah, lumayan buat makan gratis," kata Australia.

"Hehehehe! Asyik, makan gratis di McD!" Alfred kesenangan.

"Yang senang cuma kamu tahu!" kata Arthur.

"Mendingan daripada masakanmu yang nggak enak itu!" Alfred membalas.

"Kok kayaknya ada yang ketinggalan di atas ya?" tanya Gilbert.

"Ah, udah turun semua kok!" bantah Antonio.

"Udah turun semua apanya, aku masih di atas!" teriak Matthew yang masih gelantungan di atas. Seperti biasa, dia terlupakan.

.

Grup D

Berbeda dengan grup yang lain, Grup D tidak menemui kesulitan. Dengan mudah (?) Hong Kong sampai ke puncak setelah mempertaruhkan nyawanya (?) menginjak-injak Ivan, Berwald, dan Ludwig.

"Hong Kong, ambilin doujinshi USUK yang di sebelah situ dong!" teriak Elizabeta.

Hong Kong melemparkan doujin itu ke arah Elizabeta yang kegirangan. "Apa lagi?"

"Tiket nonton IMB untuk satu grup, дa~" rikues Ivan.

"Hah?" Yang lain cengo.

"Rusia, kamu ngikuti IMB juga?"

"Дa. Aku dukung Brandon lho~"

"He?" Ternyata Ivan adalah seorang Brandonizer, Saudara-saudara!

Tanpa banyak cingcong Hong Kong melemparkan tiket ke bawah.

"Netbook dong!" pinta Eduard.

Kali ini Hong Kong tidak melempar netbook ke bawah, tetapi membawanya sambil sekalian merosot turun.

.

"Ngomong-ngomong kalian dukung siapa di IMB?" tanya Indonesia setelah para personil Grup D selesai memanjat.

"Brandon dong~" jawab Ivan.

"B-Brandon," gagap Raivis.

"Kalau aku, Funky Papua," ujar Belanda.

"Funky Papua keren!" timpal Tino.

"Putri Ayu," kata Berwald, agak di luar dugaan.

"Aku paling suka Hudson," kata Ludwig.

"Hudson memang unik," Elizabeta menyetujui, "tapi Putri Ayu juga luar biasa!"

"Aku dukung Klantink. Mereka kreatif banget." Eduard berpendapat.

"Ve~ aku dukung Rumingkang! Tapi semuanya bagus!" ucap Feliciano.

"Memang semuanya bagus. Jadi bingung mau dukung siapa. Dukung yang menang saja deh." kata Hong Kong.

"Nggak punya pendirian kamu..."

.

"Kenapa nggak ada grup yang gagal manjat sih?" Myanmar mengeluh.

"Jangan ngarepin yang jelek-jelek gitu!" tegur Brunei.

.


~XD~XD~XD~XD~XD~XD~XD~XD~XD~XD


.

"Juara umum lomba tujuh belasan adalah Grup B!" Jawa Timur sang ketua panitia mengumumkan.

Thailand sang ketua grup maju ke depan untuk menerima piala diiringi suara tepuk tangan. Sebagai BGM alias background music panitia memutar lagu We Are the Champions-nya Queen.

"Selamat!" Jawa Timur menjabat tangan Thailand.

"Terima kasih, ana~"

"Sedangkan, juara pertama dari bawah diraih dengan suksesnya oleh Grup C!" lanjut Jawa Timur. "Hukuman untuk grup yang kalah menyusul besok!"

Semua menertawakan kelompok sial itu diiringi lagu The Winner Takes It All-nya ABBA sebagai BGM.

"Sialan, kita ditertawakan. Mana backsound-nya nggak enak lagi. Nggak awesome banget." Gilbert mengeluh.

"Padahal, kalau dikalkulasi, dalam sirkumstansi normal seharusnya kita menang," Alfred sok berteori.

"Situasi normal itu kayak apa?" tanya Matthew.

"Ya kayak keadaan tanpa mahkluk gaib, gajah, dan Francis."

"Semoga hukumannya memuaskan kami para fujoshi!" doa Elizabeta.

"Setuju! Kalau itu sih wajib hukumnya!" sambut Belgia.

Sementara itu backsound berganti jadi Viva La Vida-nya Coldplay.

"Entah kenapa aku merasa dilecehkan lagu ini," gumam Alfred.

"Kayaknya itu emang disengaja deh," kata Antonio.

.


~XD~XD~XD~XD~XD~XD~XD~XD~XD~XD


.

Acara hari itu ditutup dengan buka puasa bersama sekaligus perayaan ulang tahun Indonesia. Semua menyelamati negara kepulauan yang berulang tahun ke-65 itu.

"Indonesia, selamat ulang tahun. Sebagai hadiah dariku, kubawakan masakanku untuk buka puasa bersama," ucap Arthur.

"Er... makasih, Arthur. Taruh di meja situ saja ya," kata Indonesia sambil mengingatkan dirinya untuk segera membuang makanan itu saat Arthur tidak melihat.

"Nesia, selamat ulang tahun," ujar Belanda pada negara yang pernah berada di bawah kekuasaannya itu.

"Makasih," Indonesia tersenyum. Ia membalas jabat tangan Belanda dengan cengkeraman yang nyaris mematahkan tangan mantan "pengasuh"-nya itu.

"Selamat ulang tahun," Gupta memberi selamat.

"Terima kasih banyak!" Indonesia tersenyum tulus pada negara yang pertama kali mengakui kemerdekaannya itu.

"Ini hadiah dariku!" Alfred menyodorkan selembar kertas.

"Undangan makan hamburger bersama Obama? Makasih, Alfred!" Indonesia berterima kasih pada negara adikuasa di hadapannya itu, walau dalam hati ia berharap hadiah dari Alfred adalah Obama sendiri. Hitung-hitung membantu bosnya mengatasi masalah negerinya.

"Ini dariku," Malaysia menyodorkan selembar kertas.

"Oh? Makasih, Ma—MALON! APAAN INI? HAH?" bentak Indonesia begitu membaca kertas tersebut.

"Itu nota protes untuk kementrian luar negerimu!" (2)

"Apa? Bukannya KAMU yang mulai duluan?"

"Enak saja menuduh. Semuanya salahmu, tahu!"

Dan perayaan ulang tahun yang damai diakhiri oleh mulainya babak baru konfrontasi Indonesia-Malaysia.

=TBCotNGC=

To Be Continued on the Next Gaje-er Chapter


~XD~XD~XD~XD~XD~XD~XD~XD~XD~XD


(1) Nordic Cross: pola salib pada bendera-bendera negara-negara Nordik (kecuali Greenland)

(2) Tanggal 17 Agustus 2010, pemerintah Malaysia melayangkan nota protes kepada Kemenlu Indonesia terkait masalah perusakan kantor Kedutaan Malaysia di Kuningan, Jakarta pada Senin, 16 Agustus yang dilakukan demonstran Laskar Merah Putih. Demonstrasi ini digelar sebagai bentuk protes atas aksi yang dilakukan Pasukan Operasi Laut Malaysia yang menangkap 3 petugas KKP di perairan Bintan, Riau.

A/N TIME!

Kembali dengan saya, Rin. Maaf untuk update yang agak terlambat. Minggu ini ada beberapa tes evaluasi, jadi saya harus belajar. Untuk chapter ini, Yuki membantu saya menulis bagian futsal (walau tidak banyak membantu). Soal IMB, abaikan saja bagian yang tak jelas itu. Bagian itu memang ditulis di sela-sela menonton IMB.

Untuk penggemar Alfred, saya minta maaf karena sudah merusak image Alfred. Jangan bunuh saya plis! –dibantai–

Saya belum menentukan hukuman untuk tim yang kalah. Ada lagi yang mau memberi masukan? Makin nista makin baik~

Omong-omong, kalau ada yang mau berbaik hati menggambar fanart dari cerita ini, terutama gambar Arthur berkumis tebal dan beralis botak, silakan! Tapi kasih tahu saya ya! Saya juga mau lihat! -disantet Arthur-