Title: Tujuh Belasan Hetalia Version
Disclaimer: Hetalia punya Hidekaz Himaruya. Semua produk yang ada di sini punya pemilik masing-masing. Semua lagu yang ada di sini punya penciptanya masing-masing. Tolong jangan tuntut saya atas tuduhan pelanggaran undang-undang hak cipta karena saya cuma author newbie yang cuma bisa memanfaatkan (baca: menistai) karya orang. Saya nggak punya uang untuk bayar pengacara.
Warning: Abal, garing, penggunaan nama-nama negara dalam bahasa Indonesia, OOC akut, perusakan image karakter, banyak OC gaje dan nista berupa negara-negara ASEAN, sumpah serapah dari karakter-karakter bermulut kotor, humor garing di sana-sini, HINT SLASH, dan sarat bumbu-bumbu kenistaan dan ke-lebay-an racikan author idiot. Lebih baik dibaca setelah buka supaya nggak batal puasanya.
Catatan Tambahan: Di sini Indonesia, Malaysia, Singapura, Brunei, dan Myanmar laki-laki. Laos, Kamboja, dan Filipina perempuan.
~ΰ~ΰ~ΰ~ΰ~ΰ~ΰ~ΰ~ΰ~ΰ~ΰ~
Tujuh Belasan Hetalia Version
Chapter 6: Hukuman
~ΰ~ΰ~ΰ~ΰ~ΰ~ΰ~ΰ~ΰ~ΰ~ΰ~
.
Para negara berkumpul untuk membicarakan hukuman apa yang pantas diterima Grup C.
"Jadi Grup C dihukum apa nih?" Indonesia meminta pendapat negara-negara lain.
"Bersatu dengan Rusia, дa?" Keluarlah ancaman Ivan yang biasa.
"Wilayahmu sudah terlalu besar, bagaimana kalau bersatu dengan Indonesia saja?" usul Indonesia.
"Jangan bercanda, Indon. Wilayah segitu saja kau sudah kesulitan mengurus!" ejek Malaysia.
"Aduh Malon, kau ini tidak smart ya," komentar Indonesia dengan gaya tokoh anime Eyesh*eld 21 bernama Sa**ki K****o. "Kan nanti kekayaan mereka bisa kuperas?"
"Enak di elu dong!" teriak yang lain.
"Suruh mereka crossdress, pakai baju maid!" seru Feliks.
"Eh, jangan! Ciuman aja!" teriak Elizabeta.
"Hei, lagi bulan puasa," Vietnam mengingatkan. "Tapi kalau ciuman nanggung. Sekalian rate M aja!" Sama aja, kali! Malah lebih parah!
"Nyanyi Keong Racun sambil joget pakai daster!" usul Ludwig.
"Merelakan diri merasakan cinta (baca: digrepe-grepe) Abang~" ujar Francis.
"Kau masuk grup yang kalah, tahu! Kau tidak berhak mengajukan usul!" Vash meneriakinya.
"Akui kemerdekaanku!" tuntut Peter.
"Kau bukan negara! Tidak usah promosi begitu!" Arthur membentak adiknya.
"Jadikan saja mereka sasaran latihan tembakku," ujar Vash.
"Ide bagus! Tapi bukannya lebih baik membuat mereka melakukan sesuatu yang berguna? Kerja paksa—maksudku, kerja bakti—misalnya," Belanda tersenyum licik. Kompeninya keluar.
"Romusha," Sifat penjajah Kiku ikut keluar.
Mau tidak mau, Indonesia merinding juga melihat senyum licik dua mantan penjajahnya.
"Biar lebih menyiksa, suruh mereka makan scone buatan Arthur! Satu orang lima kardus, tiap pagi selama sebulan!" Yong Soo ikut mengompori suasana yang memanas.
"Diam, semuanya!" teriak Ludwig. "Daripada rusuh karena kelamaan memilih satu hukuman, kenapa tidak masukkan semua usulan kalian?"
Sesaat semua terdiam.
Kemudian semua ribut.
"Ide bagus tuh! Biar kena hukuman yang banyak!"
"Apaan tuh, West? Nggak awesome banget!"
"Hahaha! Tahu rasa deh!"
"Satu aja kenapa, maniak kentang sialan?"
"Bagus, da ze~! Biar kapok!"
"Gue gak terima! Hero kayak aku ini nggak pantas kena hukuman!"
"Ganyang abis tuh grup!"
"Rate M! Rate M!"
"DIAM!" seru Ludwig.
"Diam, дa?" Ivan menodongkan pipa keran legendarisnya.
Semua diam.
"Bagus. Kalian," Ludwig menunjuk orang-orang sial di Grup C, "keluar dulu. Biar kami yang mengatur."
Para anggota Grup C beranjak dari kursi mereka dengan perasaan tidak rela.
"Benar-benar mengesalkan. Sekelompok dengan kalian hanya membawa sial saja." Roderich mengomel.
"Pembawa sialnya tuh orang culun macam lo, tahu. Orang awesome kayak gue nggak mungkin bawa sial," Gilbert mencemooh.
"Ya, saking awesome-nya dirimu itu, kita kalah," balas Roderich sinis.
ΰ~ΰ~ΰ~ΰ~ΰ~ΰ~ΰ~ΰ~ΰ~ΰ~
1. Joget Keong Racun pakai baju maid
2. Ngesot keliling kompleks Istana Negara
3. Kerja bakti membersihkan Istana Negara
4. Menulis sepuluh ribu kali "Saya tidak awesome, saya tidak keren, saya jelek, saya payah, saya tidak berguna, dan saya ini maho parah"
5. Makan scone Arthur lima kardus
6. Keliling kampung nyanyi lagu pakai toa
.
Para anggota Grup C cengo memandangi daftar yang disodorkan kepada mereka.
"Apaan nih?" tanya Gilbert.
"Itu daftar hukuman kalian, tolol," ujar Feliks.
"Harus dilakuin semua?" Alfred mangap dengan sangat tidak elit. Wajahnya yang bodoh itu makin terlihat bodoh.
"Ya iyalah! Secara penyanyi aja Mulan Jamilah bukan Mulan Jamidong. Cape deh." Feliks mengeluh dengan gaya waria kecapekan habis lari dikejar kamtib.
Pada saat yang sama di suatu tempat di Indonesia, seorang penyanyi wanita bersin.
Oke, lupakan saja dia. Kita kembali ke Grup C.
"OGAH!" koor Grup C.
"HARUS!" koor yang lain.
"Kalau tidak mau, kalian bisa memilih alternatif yang lain. Mau dikitik-kitik Natalya pakai pisau, didor Vash, bersatu dengan Ivan, mijetin Ludwig (?), masakin pasta buat Feliciano selama sebulan, staring contest lawan Berwald, tidur ditindih gajah Thailand, disodok Vietnam, atau disantet Indonesia?" tawar Kiku.
"Nggak ada opsi lain?" Roderich mencoba bernegosiasi.
"Ada. Rate M terus divideo Elizabeta."
"Kusarankan pilih yang itu," Elizabeta nyengir nista.
"Jadi mau yang mana?"
"..."
Krik. Krik. Krik.
Sunyi.
Semua diam.
Hanya terdengar suara jangkrik berderik di tengah rerumputan yang dibuai angin.
Maaf, author salah memasukkan setting. Mari kita kembali ke topik awal.
"Gimana?"
Akhirnya Grup C hanya bisa pasrah menerima hukuman.
~ΰ~ΰ~ΰ~ΰ~ΰ~ΰ~ΰ~ΰ~ΰ~ΰ~
Hukuman #1: JOGET KEONG RACUN PAKAI BAJU MAID
.
"Malu-maluin aja pake baju maid!" Denmark menggerutu.
"Benar. Gak awesome banget!" Gilbert ikut menggerutu.
"Gue kan hero, kenapa malah pake baju maid? Gak elit!" Alfred mengeluh.
"Sudah, diam, jangan mengeluh!" bentak Arthur.
"Mataku sakit liat mereka," bisik Taiwan pada Seychelles.
"Iya, apalagi itu," Seychelles menunjuk Francis. "Aku nggak kenal ah."
"Kalian cocok deh pakai baju itu!" Feliks mengejek.
"Aaah, eikeh jadi malu bo," kata Francis dengan gaya banci kaleng yang penuh penghayatan (?).
"Sudah siap, ladies?" tanya Yong Soo. "Music! Bring it on, DJ!" teriaknya sok gaul (?) dan sok menginggris (?).
Sang DJ—Ivan—memutar lagu Keong Racun-nya Lissa.
Suara musik dangdut memenuhi ruangan.
"Ayo joget! Kemon kang!" seru Ivan ketularan sok asyik (?).
Kesepuluh orang sial itu mulai menggoyang badan mereka dengan sangat amat tidak ikhlas sekali. Begitu tidak ikhlasnya sehingga author menggunakan kalimat tidak efektif untuk mendeskripsikannya.
"Dasar kau, keong racun, baru kenal eh ngajak tidur..."
"Jijik ah lihatnya," gumam Peter sambil menutup mata. Menghindari pemandangan tidak sedap berupa sepuluh om-om geje berjoget ala Sinta-Jojo diiringi lagu Keong Racun. Bahkan Gilbird pun ikut goyang pinggul di atas kepala Gilbert.
"Iya, menjijikkan," Raivis ikut-ikut menutup mata.
"Jadi DJ asyik juga, дa? Aku banting setir jadi DJ aja ah," ujar Ivan ceria.
Segera benak teman-temannya terisi pemikiran yang sama: Yang kamu lakuin itu bukan nge-DJ, kali! Lagian kalau DJ-nya kamu, emang ada yang mau datang?
"Argh! Gue harus laporin mereka ke Komnas HAM! Mereka udah menistai harga diri gue yang awesome ini!" rutuk Gilbert di sela-sela goyang pinggul. Sempet-sempetnya mengeluh.
"Jangan Komnas HAM! FPI aja sekalian! Diganyang habis deh!" Australia mengomentari.
"Hohoho, dapat foto-foto bagus!" Elizabeta sibuk memotret ini dan itu di sana dan di sini.
"Bisa dijual di internet!" komentar Kiku—yang juga sibuk memotret—dengan antusias.
"Sori sori sori bang, ku bukan cewek murahan..."
Joget itu berakhir dengan hancurnya harga diri kesepuluh anggota Grup C. Harga diri mereka benar-benar luluh lantak direndahkan.
Ingat, ini baru hukuman pertama.
~ΰ~ΰ~ΰ~ΰ~ΰ~ΰ~ΰ~ΰ~ΰ~ΰ~
Hukuman #2: NGESOT KELILING KOMPLEKS ISTANA NEGARA
.
"Hukuman macam apa ini? Gak awesome banget! Gue gak terima!" Di tengah ngesot, Gilbert masih menyempatkan diri meraung-raung memanggil harga dirinya yang sudah hilang entah ke mana.
"Pantat gue sakit!" keluh Denmark.
"Pantat lo sih kegedean!" ledek Alfred.
"Pantat lo lebih gede dari pantat gue ya!"
"Tau dari mana lo? Pernah liat?"
"Hei, mahkluk-mahkluk nista yang ada di sana! Ayo lanjutin ngesotnya! Jangan ngomongin pantat!" Indonesia mengultimatum dengan toa curian dari Hat**ne M*ku. Tahu kan? Itu lho, Vocalo*d.
"Wah, ada bule ngesot!" seseorang yang tidak dikenal—entah siapa, yang jelas orang lewat—berkomentar kegirangan. Mungkin dia senang dapat hiburan di tengah udara panas yang menyiksa tenggorokan orang-orang yang tengah menunaikan ibadah puasa.
"Mana?" tanya temannya.
"Itu tuh!" Orang-yang-kebetulan-lewat pertama menunjuk.
Orang-yang-kebetulan-lewat kedua tertawa. "Haha! Bugil! Bule Gila!"
Dua orang itu tertawa berderai-derai.
"Kita dibilang edan!" Denmark ngamuk. "Bakal gue penggal tuh kepala pake kapak!"
"Dilarang menanggapi orang lewat!" bentak Indonesia.
"Iya, iya! Udah! Budeg gue denger lo tereak pake toa!" Denmark membentak balik dengan suara yang tidak kalah keras walaupun tanpa toa.
"Kalo gitu terusin ngesotnya! Cuma satu putaran aja manja!" Indonesia balas membentak.
"Berjuang, ya! Hehehe!" Laos melambai sambil tertawa-tawa.
"Pantatnya jangan sampai lepas ya Bang!" teriak Belanda balas dendam.
"Yang paling lambat sampai ntar dicomblangin sama Suster Ngesot lho!" Kamboja ikut jahil.
"TIDAK!"
Dan orang-orang yang ketiban hukuman ngesot itu pun membercepat kecepatan ngesot mereka.
~ΰ~ΰ~ΰ~ΰ~ΰ~ΰ~ΰ~ΰ~ΰ~ΰ~
Hukuman #3: KERJA BAKTI MEMBERSIHKAN ISTANA NEGARA
.
"Nah, ngesot selesai, sekarang kalian kerja bakti ya. Bersihkan Istana Negara." Indonesia menyerocoskan instruksi hukuman ketiga.
"Lagi-lagi hukuman yang gak awesome," Gilbert mengeluh. Dia nggak ada kerjaan lain selain mengeluh ya? Oh, ada kok. Bilang awesome dan bernarsis diri.
"Nggak awesome gimana? Sudah bagus kalian bisa jadi cleaning service sementara di sini. Susah tahu minta izin pada bosku! Atau kalian mau membersihkan rumahnya Kuntilanak saja?" Indonesia mengancam.
Jelas semua memilih pilihan pertama.
.
Empat jam kemudian.
"Kayaknya segini cukup kinclong," komentar Indonesia. "Nggak buruk."
"Paling nggak, bilang awesome kek!" protes Gilbert yang sudah tepar.
"Heh, jangan tepar dulu. Ayo kita cabut ke hukuman keempat!"
"Firasatku, kita nggak akan pulang hidup-hidup..." gumam Matthew.
~ΰ~ΰ~ΰ~ΰ~ΰ~ΰ~ΰ~ΰ~ΰ~ΰ~
Hukuman #4: MENULIS 10000 KALI "SAYA TIDAK AWESOME, SAYA TIDAK KEREN, SAYA JELEK, SAYA PAYAH, SAYA TIDAK BERGUNA, DAN SAYA INI MAHO PARAH"
.
"Sejauh ini, ini hukuman yang paling merendahkan harga diri gue!" Denmark membanting kepalanya ke meja. Istilah kerennya, headbang.
"Br*****k! Kenapa kita dapat hukuman kayak gini sih?" Lovino ngamuk.
"Gu... gue yang awesome ini masak disuruh nulis 'Saya tidak awesome' sih..." ratap Gilbert merana dengan suara pilu.
"Itu mendingan, daripada bagian maho-maho itu," komentar Roderich. "Masa sih aku maho?"
"Iya, gue kan bukan maho..." Australia mengeluh.
Lovino membanting bolpoinnya karena jengkel. "Kenapa nggak nulis 'Ini Budi, Budi bermain bola' aja?"
"Karena Budi tidak jadi bermain bola," gumam Antonio.
~ΰ~ΰ~ΰ~ΰ~ΰ~ΰ~ΰ~ΰ~ΰ~ΰ~
Hukuman #5: MAKAN SCONE ARTHUR LIMA KARDUS
.
Setelah bersusah-payah menyelesaikan hukuman menulis yang menyiksa, hukuman lain yang jauh lebih menyiksa sudah menanti di depan mata.
"Hukuman berikutnya, makan scone Arthur! Satu orang lima kardus!" kata Belgia ceria sambil menumpukkan kardus besar berisi scone di depan wajah para peserta.
"Cih, hukuman apaan nih! Si Arthur kan enggak kenapa-napa!" Denmark menggerutu.
"Khusus buat Arthur, makan masakan Finlandia!" Kiku tersenyum lebar.
Arthur langsung pucat pasi. "Plis deh! Kenapa bukan masakan Thailand atau Padang?"
"Enak di elu dong kalo gitu!" semprot yang lain.
"Karena yang lain makanannya nggak enak, kamu juga harus makan makanan yang nggak enak! Sekarang cepat habiskan!" perintah Belgia.
Dengan wajah jijik kesemuanya memasukkan makanan yang nggak enak itu ke dalam mulut mereka.
Baru sesuap saja, tapi mereka sudah bereaksi macam-macam. Seperti juri-juri dalam serial Yak***te! Ja*an saja.
Wajah Roderich memucat seolah-olah seluruh darah di wajahnya tersedot. "Benar-benar makanan yang tidak punya taste..."
"Sumpah, itu tadi makanan paling gak awesome yang pernah gue cerna!" Gilbert jumpalitan (lebay). Bahkan Gilbird pun ikut-ikut.
"The hell? Masih lebih enak makanan kangguru gue!" teriak Australia.
"Ng... nggak enak..." Matthew kepayahan.
"Mending gue puasa hamburger satu bulan daripada disuruh makan beginian!" ucap Alfred. Padahal dia puasa hamburger satu hari aja mungkin nggak bisa.
"TOMAT! TOMAT! GUE UDAH GAK TAHAN! GUE MAU TOMAT!" Antonio jerit-jerit laksana orang kesurupan.
"Harus gue akui, kali ini gue setuju..." ujar Lovino dengan suara orang tercekik.
Francis sudah hampir mencapai ambang batas kehidupannya. "Aku sekarat..."
"Ba... baru kali ini gue makan masakan yang lebih nggak enak daripada masakan gue..." Arthur merinding.
"Memang masakanku segitu nggak enaknya?" tanya Tino polos.
"Nggak enak? ENAK BANGET! Gue sampai mau muntah!" bentak Arthur sarkastis.
"Hei, masih banyak lho! Dan ritual ini harus dijalani tiap hari selama satu bulan mulai dari hari ini!" Belanda menyeringai licik.
"TIDAAAK!"
Mari kita berdoa demi keselamatan jiwa mereka supaya mereka tidak mati.
~ΰ~ΰ~ΰ~ΰ~ΰ~ΰ~ΰ~ΰ~ΰ~ΰ~
Hukuman #6:KELILING KAMPUNG NYANYI LAGU PAKAI TOA
.
Pukul setengah tiga pagi. Para terhukum berkumpul di depan rumah Indonesia.
"Kalian semua sudah pegang toa?" Indonesia memastikan. "Oke, bagus. Sekarang kalian keliling kampung ini sambil nyanyi. Yang keras, ya! Pake toa!"
"Tapi kan masih jam setengah tiga pagi?" tanya Matthew.
"Nggak apa! Itung-itung ngebangunin orang buat sahur!" Indonesia nyengir nista sambil menunjukkan dua ibu jarinya.
"Aku punya firasat buruk," gumam Roderich.
"Gue juga," Lovino menimpali.
"Kalian berpencar ya. Berdua-dua. Ini daftar pembagian tim dan lagu yang harus kalian nyanyikan." Indonesia menyodorkan daftarnya.
.
~ PEMBAGIAN TIM DAN DAFTAR LAGU ~
1. Amerika Serikat-Inggris:
Mau Dibawa Ke Mana – Armada
Sekarang Atau Lima Puluh Tahun Lagi – Warna
2. Spanyol-Italia Selatan:
Aku Padamu – ST 12
Cinta Satu Malam – Melinda
3. Prancis-Kanada
Jablay – Titi Kamal
Belah Duren – Julia Perez
4. Prusia-Austria
P.U.S.P.A. – ST 12
Yolanda – Kangen Band
5. Australia-Denmark
Papa Rock n Roll – The Dance Company
Cari Jodoh – Wali
.
Daftar itu sukses membikin Grup C sport jantung. Bahkan Matthew dan Roderich nyaris pingsan.
"Heh, jangan pingsan dulu! Hukumannya belum mulai!" bentak Indonesia. "Dan jangan coba-coba kabur, karena kalian akan diawasi tim pengawas selama menjalankan hukuman!"
"Tim pengawas?"
"Mereka." Indonesia menunjuk empat orang lain yang berdiri di sebelah kanannya. Ivan, Vash, Berwald, Elizabeta, dan Natalya.
Satu hal sudah jelas bagi Grup C. Tidak ada pilihan lain selain mulai berkelana di kampung tempat tinggal Indonesia dengan toa curian dari masjid terdekat di tangan mereka.
Sepuluh orang melanglang buana di kampung, mengemban satu misi mulia: membangunkan kaum Muslim yang menunaikan ibadah puasa untuk sahur.
Ҹ—Ґ—Ҹ—Ґ—Ҹ—Ґ—Ҹ—Ґ
"Ayo cepat nyanyi!" Elizabeta merongrong Alfred dan Arthur.
"Tunggu, nggak salah nih? Kenapa lagunya kayak gini semua? Pasti ada campur tangan fujoshi!" tuntut Alfred menunjuk kertas di tangannya. "Gue nggak sudi duet bareng dia! Apalagi lagunya kayak begono!"
"Lo kira gue sudi apa?" Arthur tak kalah ngotot.
"Diam! Pokoknya cepat nyanyi! Sekarang!" Elizabeta mengancam dengan pisau di tangan kanan (hasil pinjam dari Natalya) dan aura kejam di wajahnya (hasil privat kilat dengan Ivan).
Kalau sudah begini, tak ada pilihan lain.
"MAU DIBAWAAA KE MANAAA... HUBUNGAN KITAAAAA!"
"ASTOJIM! POR DE SEIK OF MAI KUMIS! WAT DE PAK IS DET? HAH?" teriak seorang bapak-bapak berkumis baplang yang terbangun gara-gara mendengar nyanyian (tepatnya, raungan) dua orang laki-laki bersuara cempreng nan nyaring. Sudah gitu pake toa lagi!
(Sekadar tambahan, biar author terjemahkan: "Astojim! For the sake of my kumis! What the f**k is that? Hah?")
"Aih, duet yang so sweet..." desah Elizabeta sambil mengabadikan semua itu dengan handycam setianya.
"JIKA KAU TERUS... MENUNDA-NUNDAAA..."
"EH! GILA YA LO? LO KIRA INI JAM BERAPAAA? HAAAH?" kepala seorang pemuda menjulur dari jendela kamarnya, meneriakkan kemarahan akibat tidurnya terganggu.
"DAN TAK PERNAH... MENYATAKAN CINTAAAH..."
BRUAGH!
Sebuah ember dilempar seorang ibu-ibu bertubuh tambun dari balkonnya. Lemparannya sukses mengenai kepala Alfred, menyisakan kenangan manis berupa benjolan segede telur burung puyuh.
"DASAR ORANG GAK TAU DIRI! SUARA CEMPRENG AJA PAKE NYANYI SEGALA!"
"SIALAN LO PAKE LEMPAR-LEMPAR SEGALA!" Alfred nggak mau kalah.
"YANG SIALAN ITU KAMU!"
PLAKK!
Kali ini kepala Arthur yang kena lemparan. Kena sandal jepit busuk.
Ҹ—Ґ—Ҹ—Ґ—Ҹ—Ґ—Ҹ—Ґ
Di suatu sudut lain dari kampung yang sama, personifikasi Kongeriget Danmark dan Commonwealth of Australia berteriak-teriak dengan penuh semangat.
"PAPA NGGAK PULAAANG... BEIBEEEHHH!"
"PAPA NGGAK BAWA UANG... BEIBEEEHHH!"
Sepertinya cuma mereka yang semangat.
"BERISIK!"
BYURRR!
Seseorang—entah siapa—mengguyur keduanya dengan air dari atas balkon.
"B*****T! GUE BUKAN KUCING TAU!" Denmark sewot. Rambutnya—yang tiga puluh detik sebelumnya masih berjingkrakan melawan hukum gravitasi dengan bangganya di atas kepalanya—jatuh dengan suksesnya, jadi lepek.
Ҹ—Ґ—Ҹ—Ґ—Ҹ—Ґ—Ҹ—Ґ
"KU MENCINTAIMU SEPENUH HATIKUUU..." Antonio berteriak dengan penuh semangat.
'WOI, BEGO! TOANYA JANGAN DIARAHIN KE GUE! BUDEG GUE!" bentak Lovino dengan wajah jijik laksana orang habis melihat korban pembantaian yang isi perutnya keluar dan tercecer di mana-mana. Segitu jijiknya, ya?
"Kan buat kamu," jawab Antonio iseng.
"Siapa juga yang minta?"
"Kamu juga nyanyi dong," Ivan menodongkan pipa kerannya ke punggung Lovino.
"Gak sudi! Mending gue makan muntahan gue sendiri!" teriak Lovino.
"Nyanyi, дa?" ancam Ivan.
Lovino menelan ludah. Tidak ada pilihan lain, Lovino. Mau tidak mau kau harus menyanyi.
"CINTAKU PADAMU, SAYANG, BEGITU INDAAAH..." Lovino menyanyi sambil menahan hasrat ingin muntah yang terpendam (?).
"AIM STIL IN LAVING YU, AIM JAST IS OPER YU!" Antonio menyambut dengan penuh semangat '45 dan bahasa-Inggris-ngawur-logat-Jawa-medhok.
"Woi, nyang di sane! Jangan tereak-tereak! Les bahasa Inggris dulu sana!" seru seorang lelaki dengan wajah mengantuk. "Ane jadi kagak bisa tidur nih!"
"Bangun, Bang! Sahur!" Antonio balas berseru. "Bangun pagi bagus buat kesehatan loh!"
"Bangun pagi dengan cara kayak gini malah memperpendek umur, kali," kata Lovino.
Ҹ—Ґ—Ҹ—Ґ—Ҹ—Ґ—Ҹ—Ґ
"Heran gue, kenapa gue dapat partner lo," Gilbert geleng-geleng kepala.
"Nasibmu," kata Roderich ketus.
"Kayak nasib gue nggak jelek, dapat tugas ngawasi dogol-dogol macam kalian," gerutu Vash.
"Dogol? Siapa yang dogol?" tanya Gilbert.
"Lo, tau!"
"Gue terlalu awesome buat jadi dogol," Gilbert sesumbar.
"Kau pasti belum pernah tes IQ," kata Roderich.
"Tahu dari mana?"
"Soalnya kamu nggak nyadar kalau IQ-mu itu nungging."
"Sudah! Aku di sini bukan buat mendengarkan kalian ngomongin level IQ kalian yang di bawah semut! Cepat mulai!" Vash menodongkan pistolnya.
Sekedar info, IQ semut (kabarnya) cuma 4.
"JANGAN JANGAN KAU MENOLAK CINTAKU! JANGAN JANGAN KAU RAGUKAN HATIKU! KU KAN SELALU SETIA MENUNGGU UNTUK JADI PACARMU!"
"SOM***T! SIAPA ITU NYANYI LAGU 4L4yZz (baca: alay) PAKE TOA? NGEGANGGU MIMPI ANE AJA!" Seorang pemuda bertampang sangar melompat keluar dari pintu depan rumahnya (wow). Dilihat dari wajah yang sangar, badan yang berotot, tato naga di lengan kanan, tato "I LUV MOM" di lengan kiri, dan celana boxer gambar trio Ed**rd Cu*len, Be*la S**n, dan Ja*ob Bl*ck, Vash menarik kesimpulan dia preman yang anak mami, suka film percintaan, dan tipe orang yang nangis kalau nonton film Hach**o.
"MAS-MAS YANG DI SANA! YANG RAMBUTNYA PUTIH! ENTE YANG TEREAK-TEREAK TADI YA? KAM***T! ENAK AJA NGERUSAK MIMPI ANE SUNGKEMAN SAMA LA*Y GA*A!"
"Bukan gue! Gue terlalu awesome untuk itu!" Gilbert ngeles. "Si culun ini yang teriak!"
"Bu-bukan saya, Mas! Dia!" Roderich gelagapan. "Main lempar kesalahan aja kamu!" bentaknya pada Gilbert.
"Jadi, yang mana neh?" bentak si preman.
"Dia!" Roderich dan Gilbert saling menunjuk.
"Doh, ane jadi bingung," kata si preman. "Ane hajar aja ente dua biar adil, gimana?"
"LARIII!" Gilbert dan Roderich segera mengambil langkah seribu.
"JANGAN LARI!" Si preman mengejar.
"Bre****k, nambah kerjaan aja!" Vash (terpaksa) ikut mengejar keduanya.
Ҹ—Ґ—Ҹ—Ґ—Ҹ—Ґ—Ҹ—Ґ
"Lay lay lay lay lay lay, panggil aku si jablay..." Francis menyanyi dengan gaya sok mendayu-dayu ala penyanyi dangdut keliling.
Matthew bersyukur ia tidak kelihatan. Ia tidak perlu ikut menyanyi karena Natalya bahkan tidak menyadari keberadaannya.
"Untung aku tidak kelihatan ya, Kumajirou," katanya pada beruang peliharaannya.
"Siapa?"
"Aku Kanada..."
Ҹ—Ґ—Ҹ—Ґ—Ҹ—Ґ—Ҹ—Ґ
"IBU-IBU BAPAK-BAPAK SIAPA YANG PUNYA ANAK BILANG AKU, AKU YANG TENGAH MALU, SAMA TEMAN-TEMANKU KARNA CUMA DIRIKU YANG TAK LAKU-LAKU!" Australia menyanyi tanpa tahu malu diiringi tatapan illfeel dari kucing hitam yang melintas.
"PENGUMUMAN PENGUMUMAN SIAPA YANG MAU BANTU TOLONG AKU, KASIHANI AKU! TOLONG CARIKAN DIRIKU KEKASIH HATIKU, SIAPA YANG MAU!" Ketidaktahumaluan Denmark juga tidak kalah.
"Eh, mas bule yang di sono! Sama eikeh aja..." Seorang banci menowel (bahasanya nggak enak ya) Denmark.
"NGGAK MAU!" Denmark langsung jerit-jerit. "GUE CUMA MAU SAMA NORGE!"
Di tempat lain, seorang pemuda Norwegia bersin.
"Anko uzai."
"Aih, yey sok jual mahal ya," Si banci makin ngelunjak.
"AAAH! GAK MAU! GUE MASIH PERAWAN!" Apa hubungannya? "SVERIGE, TOLONG GUE!" Denmark ngacir ke belakang Berwald.
"K'lau yang ngomong k'mu, susah dip'rcaya," gumam Berwald.
"Ah, kalo gitu sama mas yang ini aja," Si banci mencolek Australia.
"OGAH! MENDING GUE THREESOME-AN SAMA KOALA DAN KANGGURU GUE DI RUMAH!" Australia kabur, ikut ngumpet di belakang Berwald.
Melihat dua orang yang ngumpet di balik punggungnya, Berwald memutuskan ia harus mengusir si banci (walau harus diakui menyaksikan Denmark digodain banci adalah salah satu pemandangan paling membahagiakan dalam hidupnya).
"P'rgi."
Si banci tak berkutik di bawah deathglare maut Berwald. Siapa sih yang nggak? Ivan dan Natalya mungkin.
"E-eh, mas, nggak bilang sih kalau situ kamtib? Hehe. Maaf ya. Yang tadi cuma bercanda. J-jangan dimasukin hati! Ampun!"
Si banci langsung kabur setelah mengucapkan permintaan maaf tak jelas itu. Menyisakan satu pertanyaan yang menggantung.
"M'mang aku mirip kamtib?"
Ҹ—Ґ—Ҹ—Ґ—Ҹ—Ґ—Ҹ—Ґ
"Hosh... hosh... akhirnya bisa kabur dari si preman itu..." Roderich ngos-ngosan.
"Karena premannya sudah pergi, ayo lanjutkan ke lagu berikutnya," Vash menodong Gilbert dan Roderich.
"Jangan todong-todong, kek. Gue masih pengen hidup lama. Hidup gue terlalu awesome untuk diakhiri sekarang." cerocos Gilbert.
"Gak peduli hidup lo awesome apa kagak. Sekarang jalan atau gue akhiri hidup lo yang katanya awesome itu sekarang juga!"
Dengan sangat amat terpaksa sekali, Gilbert dan Roderich menyanyikan lagu dari Kangen Band, Yolanda.
"KAMU DI MANA, DENGAN SIAPA, SEKARANG BERBUAT APAAA?"
"KAMU DI MANA, DENGAN SIAPA, DI SINI AKU MENUNGGUMU DAN BERTANYAAA!"
Segera saja terjadi hujan lokal menimpa duo penyanyi dangdut dadakan itu. Hujan? Ya, hujan. Orang-orang kampung yang marah melempari mereka dengan barang apa saja yang paling dekat dengan tangan mereka. Dari poster Bang Haji Rh*ma Ir*ma, kertas ulangan Matematika bernilai nol, kaset video bokep yang rusak lantaran keseringan diputar, gulungan tisu berisi ingus, sampai serpihan upil. Dan tiap lemparan barang selalu diiringi backsound teriakan-teriakan kemarahan bernada menghujat.
"PAGI BUTA UDAH BIKIN ORANG MARAH!"
"KIRA-KIRA KEK! BESOK GUE ADA TES FISIKA KUANTUM, BEGO!"
"DASAR ORANG GILA! NGAMEN JANGAN DI SINI!"
"NYANYI LAGI, DAN SAYA SUNAT ITU-NYA SAMPEYAN SAMPAI HABIS!"
"Sialan, kita dilempari terus. Nggak nyadar apa mereka sudah melempari orang ter-awesome sejagad raya, dunia, dan akhirat?" Gilbert sempat-sempatnya bernarsis diri.
"Selamat menderita ya," ujar Vash datar. Dengan santainya ia menangkis semua barang yang dilempar ke arahnya dengan sebuah payung lusuh bergambar beruang kutub salto. Entah dari mana dia mendapat payung itu, mungkin dari lemparan orang.
Ҹ—Ґ—Ҹ—Ґ—Ҹ—Ґ—Ҹ—Ґ
"Makan duren dimalam hari, paling enak dengan kekasih~"
Kenapa Francis senang sekali? Mungkin karena ia merasa semua lagu yang harus ia nyanyikan pas sekali dengan dirinya. Mari kita doa berjamaah demi kesehatan jiwanya.
"Amit-amit, amit-amit... Untung Natalya tidak sadar aku di sini. Bisa-bisa aku harus nyanyi lagu nista itu..." gumam Matthew.
"Dibelah bang, dibelah~" Francis mengedip pada sekumpulan pemuda yang sedang nongkrong di pos ronda.
"BANCI!" jerit salah seorang pemuda. Ia langsung ngacir entah ke mana.
"HUWAAA! BANCI!" teman-temannya menjerit. Beberapa langsung mengikuti langkah bijak temannya: ngacir!
"BANCI? MANA? MANAAA?" Seorang pemuda yang sedari tadi tertidur bangun karena kaget.
"ITU!"
"Enak bang, silahkan dibelah~"
"AMPUN OM, EH, TANTE! SAYA MASIH NORMAL!"
Dalam beberapa saat saja pos ronda itu kosong.
Ҹ—Ґ—Ҹ—Ґ—Ҹ—Ґ—Ҹ—Ґ
Mari kita tengok duo Alfred-Arthur.
"SEKARANG ATAU LIMA PULUH TAHUN LAGI, KU MASIH AKAN TETAP MENCINTAIMUUU!"
Keduanya bernyanyi tanpa tahu malu diikuti handycam Elizabeta. Mungkin mereka tak punya kemaluan (?).
"TANGKAP DUA BULE GEBLEK ITU!" Seseorang berseru dari belakang.
"Hah?" Alfred dan Arthur menengok.
Mereka berhadapan dengan pemandangan mengerikan. Orang-orang kampung bersatu padu mengejar mereka! Bahkan mereka bersenjata! Ya, Saudara-saudara, senjata! Amunisi mereka lengkap! Mulai dari tongkat hansip, tongkat pramuka, pentungan baseball, obeng, pisau cukur, sampai pianika!
"Iggy. Mereka mengejar kita?"
"Kayaknya..."
Arthur dan Alfred berpandang-pandangan.
"KABUR!"
Lagi-lagi, cara penyelesaian masalah yang sangat klise dan klasik. Kabur!
"Heh, jangan kabur! Kalian harus tetap nyanyi!" komando Elizabeta.
"Lo gak liat apa hidup kami lagi terancam?" teriak Arthur.
"Gak peduli! Atau lo mau gue tunjukin foto-foto rate M kalian berdua?" ancam Elizabeta. Bahasa lo-guenya keluar deh.
"Foto rate M dari Hong Kong! Gue nggak pernah begituan, apalagi sama dia!"
Di suatu tempat, seorang pemuda Asia berambut hitam lurus dan beralis tebal bersin.
"Nama gue pasti dibawa-bawa lagi." keluhnya.
"Hohoho, jangan bohong ya! Mau bukti?" Elizabeta menunjukkan selembar foto. Foto yang sangat bombastis, sensasional, kontroversial, dan pastinya, membuat fujoshi nosebleed!
"FITNAH! DEMI SEMUA YANG BERALIS TEBAL, GUE NGGAK PERNAH BEGITUAN!" seru Arthur.
"FITNAH! DEMI SEMUA RESTORAN JUNK FOOD LANGGANAN GUE, GUE NGGAK PERNAH BEGITUAN!" seru Alfred pada saat yang sama.
"Fitnah gimana? Ini autentik! Kalian mau foto-foto ini beredar?" ancam Elizabeta.
"NGGAK!" kedua korban intimidasinya berseru berbarengan.
"Kalau gitu, cepat teruskan nyanyi!"
"TAK ADA BEDANYA RASA CINTAKUUU! MASIH SAMA SEPERTI PERTAMA BERTEMUUU!" duet duo dogol.
"Video ini harus disebarin di internet!" Elizabeta merekam dengan penuh nafsu.
"ITU DIA!" seseorang menunjuk.
"GAWAT!" Alfred dan Arthur mempercepat lari mereka.
"Woi, nggak ada lirik kayak gitu! Woi, jangan kabur!" Elizabeta terpaksa ikut mempercepat larinya.
"TANGKAP BULENYA!"
"BOTAKIN RAMBUTNYA!"
"CUKUR ALISNYA!"
"JADIIN PEMBANTU!"
"AWAS YA! BIAR NANTI NGEBERSIHIN KAMPUNG, TAHU RASA!"
Alfred dan Arthur terus berlari dari warga yang mengamuk. Hingga akhirnya jalan yang lalui bercabang menjadi dua, ke kiri dan ke kanan.
"IGGY! BELOK KANAN!" seru Alfred.
"KENAPA NGGAK BELOK KIRI?"
"AKU MAUNYA KANAN!" Alfred ngotot.
"KIRI!" Arthur juga ngotot.
"SUDAH, CEPAT LARI!" bentak Elizabeta. Di saat seperti ini masih aja beradu pendapat!
Akhirnya ketiganya mengambil arah kanan.
"Sembunyi!" perintah Elizabeta menunjuk kandang kambing terdekat.
"HAH?"
"SEMBUNYI! DARI PADA DITANGKAP!"
Karena mereka masih sayang pantat dan kulit kepala, ketiganya menyusup ke kandang kambing. Mbeeek!
"Di mana mereka?"
"Nggak ada..."
"Cari di situ!"
"Di mana-mana nggak ada..."
Akhirnya para warga tidak berhasil menemukan mereka. Mereka pulang dengan dongkol.
"Fuh, selamat," Elizabeta menarik napas lega.
"Selamat sih selamat, tapi gue habis nginjak tahi kambing nih!" Arthur bersungut-sungut.
"Sudah, cepat keluar! Kita ke rumah Indonesia!" Elizabeta mengomando dari atas sepeda motor. Entah motor nyolong dari mana. Tiba-tiba saja dia sudah bawa motor.
"Motor dari mana tuh?"
"Nemu." Elizabeta menjawab dengan santai. Sama sekali tidak ada tanda-tanda perasaan bersalah pada wajahnya.
Ketiganya keluar dari kandang kambing. Mereka menuju rumah Indonesia. Tetapi sialnya di tengah jalan mereka berpapasan dengan seorang ustadz.
"Hah! Itu kan toa masjid yang ilang?" seru sang ustadz. "MALING!"
Teriakannya mengundang warga berdatangan.
"Maling?"
"Mana malingnya?"
"Itu kan motor saya!"
"Hah! Maling!"
"Eh, itu kan bule yang tadi!"
"Kejar!"
"Tangkap!"
"KABUR LAGI!"
Ronde kedua kejar-kejaran antara warga kampung versus duo USUK plus Elizabeta dimulai! Eng ing eng! Eeeng!
"Huwaaa! Ada USUK!" teriak seorang gadis remaja yang terbangun gara-gara keributan para nation dari balkon rumahnya. "Kalian OTP-ku lho!"
"Wah, OTP kita sama!" seru Elizabeta.
"Ada Mbak Liza juga!" Cewek tadi makin heboh.
"Jangan lari!"
"Hah, Pak Ustadz? Oh, jadi USUK mau kawin lari nih ceritanya?" Si cewek salah tafsir melihat pasangan Alfred-Arthur dikejar warga.
"KAWIN LARI PALA LO PEYANG KETIBAN TANK!" sergah Alfred dan Arthur berbarengan.
"Semoga berbahagia!" teriak si cewek. Dilambaikannya tangannya kepada sang seme dan ukenya yang terus berlari tanpa menghiraukan si fujoshi-gila-penggemar-USUK-yang-kebetulan-numpang-eksis-di-fanfic-abal-buatan-Schneeglocke.
Ketika sosok OTP-nya menikung di belokan dan menghilang dari pandangan, sang fujoshi menitikkan air mata haru.
"Ini momen paling membahagiakan dalam hidupku."
Lebay ah.
"Alfred! Arthur!"
Terlihat Francis cs menyongsong dari arah berlawanan.
"Francis! Natalya! Denmark! Australia! Berwald!"
"Aku?" tanya Matthew. "Aku gimana?"
"Kita senasib (dikejar massa—Red.) ya," Francis terkekeh.
"Gak lucu, tahu! Kita sedang dalam bahaya maut!" sembur Denmark.
"Lewat sini!" Australia menunjuk sebuah gang. Agak sempit, tapi masih bisa dilalui motor.
Para buronan berlari menyusuri gang kecil itu.
"Natalya! Ayo!" ajak Elizabeta, menunjuk bagian belakang jok motornya (sebenarnya bukan motornya sih, itu curian entah dari siapa).
Natalya melompat ke atas motor. Elizabeta langsung tancap gas.
"Mas, p'njam motornya," pinta Berwald pada seorang lelaki muda yang sedari tadi bengong di atas sepeda motornya, memandangi drama bule-bule geblek lari dari amukan massa.
"Ampun Mas! Ampun! Ambil aja!" Lelaki itu ngibrit entah ke arah mana.
"..."
Karena merasa motor itu sudah dipasrahkan kepadanya, Berwald langsung membawa motor itu pergi. Setelah memasang helm berstandar SNI tentunya. Untung helmnya cukup.
"Ngomong-ngomong, kalau mau ke rumah Indonesia dari sini lewat mana, ya?" tanya Elizabeta.
"Gak tahu!" Australia menjawab dengan santai.
Gubrak!
"Lewat sini aja!" Francis menunjuk.
Mereka mengikuti Francis. Tetapi mereka malah dihadapkan dengan jalan yang berakhir pada sebuah tembok.
"Wah, buntu!"
Double gubrak!
"Lompat aja!" Selincah koala (?), Australia melompat ke atas tong sampah tertutup yang bersandar pada tembok. Dari situ ia melompat ke atas tembok dan terjun ke sisi sebaliknya.
Yang lain meniru aksinya. Tinggal Alfred yang masih tertinggal.
"Cepat lompat, you git!" seru Arthur yang masih nangkring di atas tembok.
"Aku takut!"
Triple gubrak!
"Cepat naik! Kau mau disate warga? Masa hero [gadungan] yang [nggak] awesome sepertimu takut?"
Akibat dirinya tak kunjung naik, Arthur, Denmark, dan Australia terpaksa turun tangan.
"Ngomong-ngomong, motor yang tadi kalian naiki gimana?" tanya Matthew.
"D'tinggal," jawab Berwald datar tanpa emosi.
Jawaban yang membuat sweatdrop.
"Nggak apa-apa?"
"Ah, nggak usah khawatir!" Elizabeta tertawa.
Double sweatdrop.
"Hei, itu Antonio dan Lovino!" Alfred menunjuk.
"Dan Gilbert dan Roderich!" kata Denmark.
"Dan Ivan dan Vash!" kata Francis.
"Teman-teman! Tolong! Kami dikejar!" seru Antonio memelas.
"Hah! Jadi kalian juga?" Denmark kaget.
"Oi, teman-teman! Ke sini!"
"INDONESIA!"
Para buronan mengikuti Indonesia ke rumahnya. Sebuah rumah besar bercat putih.
"Masuk, cepat!"
Tanpa perlu diminta dua kali mereka berebutan masuk.
Indonesia memicingkan mata melihat ke ujung gang depan rumahnya. "Wah, ada Pak Erwe datang."
Benar saja, datang ketua RW setempat diikuti beberapa orang warga.
"Mas Indo! Tadi lihat gerombolan bule edan lewat sini?" tanya Pak Erwe.
"Lihat Pak, tapi udah pergi," jawab Indonesia tanpa berbohong, tapi juga tidak sepenuhnya jujur.
Pak Erwe garuk-garuk pecinya. Tadinya mau garuk-garuk kepala, tapi dia lupa kepalanya masih berpeci.
"Nggak usah diurusi, Pak. Mending pulang aja. Nanti keburu imsak," Indonesia membujuk dengan sangat meyakinkan.
"Iya, ya. Ya sudah. Kita pulang saja. Assalamualaikum!"
"Walaikumsalam!" Indonesia nyengir memandangi kepergian mereka. Dengan langkah santai ia melenggang masuk rumahnya.
"Selamat! Kalian sudah menyelesaikan semua hukuman!" Ia menyelamati Grup C yang tepar kecapekan berlari.
"SELAMAT DARI HONG KONG!"
Di suatu tempat (lagi-lagi), seorang pemuda Asia berambut hitam lurus dan beralis tebal bersin.
"Hei, jangan Hong Kong terus! Kasihan! Dari mana gitu kek!" protes Indonesia. Ia agak merasa bersalah pada Hong Kong. Yang mulai tradisi "dari Hong Kong" itu kan dia.
"Kalau gitu dari mana?" tanya Matthew.
"Dari Finlandia aja! Orang kan nggak pernah mengusut sampai ke situ!" usul Alfred.
"Kayak film Conf***ions of A Sho***olic aja. Tapi, ya sudahlah," ujar Arthur.
"SELAMAT DARI FINLANDIA!"
Di suatu tempat lain, seorang laki-laki muda berambut pirang, bermata violet, dan bertubuh pendek bersin.
"Aneh, biasanya Finlandia nggak pernah disebut," gumamnya, "kecuali di film Conf***ions of A Sho***olic."
"Karena kalian sudah berhasil melalui semua hukuman, kalian berhak mendapat hadiah!"
"Hadiah?"
"Hukuman tambahan! Cium partner kalian masing-masing!"
"TIDAAAKKK!"
.
FIN
—Tamat dengan Sangat Tidak Awesome Sekali—
A/N
Maaf soal update yang terlambat dan chapter yang hiper-abal, hiper-panjang, dan hiper-kacau (terutama hukuman terakhir yang nggak jelas, malah jadi fanfic action mini, dan makan tiga belas halaman MS Word) ini. Saya kena writer's block mendadak. Hiks. Untung cuma sebentar. Tolong jangan bantai saya! Salahkan guru IPS dan guru Bahasa Inggris saya yang sudah membuat hidup saya sengsara! *main nyalahin orang*
Akhirnya fic ini (secara resmi) selesai. Terima kasih sudah mau membaca apalagi mereview! Special thanks buat semua yang sudah setia mengikuti apdetan fic ini! Nggak nyangka fic saya dapat sambutan yang cukup positif. *geer mode on* *dilempar pentungan hansip*
Review dari kalian adalah insulin bagi saya. Membaca review kalian selalu menyemangati saya untuk mengupdate fic ini, tidak peduli seberapa buntunya pikiran saya. Mungkin karena kebahagiaan seorang penulis yang sejati terletak pada apresiasi pembacanya. Pembaca senang, penulis juga senang. Ya kan? *sotoy* *di-deathglare*
Buat semua yang sudah memberi usul untuk hukuman, makasih banyak! Maaf saya nggak bisa masukin semuanya, apalagi ciuman dan rate M (padahal pengennya gitu *dihajar Grup C*). Maaf, semuanya! *bungkuk-bungkuk minta maaf*
Akhir kata, izinkan saya kembali mengucapkan terima kasih kepada Anda semua yang sudah mau membuang waktu membaca fic aneh ini. Salam nista dan sampai jumpa di fic selanjutnya!
