Disclaimer :

Naruto © Masashi Kishimoto

My Client and Me © Pearl Jeevas

Genre : Romance (maafkan saya sebesar-besarnya kalo saya menghapus genre friendship *sembah sujud*, maafkan atas kekhilafan saya sebelumnya)

Rating : T

Pairing : SasuxFemNaru

Warning : OOC , ada Typo , Shou-ai (?). DON'T LIKE DON'T READ pokoknya

Summary :

Kau tahu tentang masa lalu Mikhail?

Ia memberi kebahagiaan bagi orang lain, namun dirinya sendiri tidak bahagia.

Ironis, bukan?

Yang terulis disini adalah imajinasi author semata *halah*.

Fict pertama saya di fandom Naruto yang jauh dari kata sempurna.

Hope you like it.


My Client and Me

Chapter 2

Laugh


Sasuke duduk sendirian di kursi kafe yang pengunungnya lumayan ramai ini, wajar saja-lah kafe ini ramai. Selain letaknya tepat di tengah kota, kafe ini mempunyai dekorasi yang terkesan elegan dan elit. Warna dinding yang casual, sepadan dengan warna setiap kursi di dalam kafe itu. Dan sebagai pelengkapnya, ada panggung kecil sebagai tempat para penyanyi kafe, band akustik, dan terkadang 'pengunjung' untuk ikut berpartisipasi menyumbangkan suara ataupun kemampuan bermain music mereka. Kafe ini menjadi tempat favorit bagi semua kalangan. Pemilik kafe ini pasti mempunyai selera yang sangat tinggi.

Penyanyi kafe berbaju merah sedang melantunkan sebuah lagu klasik, diiringi petikan gitar dan permainan harpa yang membuat penampilan itu sungguh sempurna. Semua yang hadir di situ mendengarkan setiap nada yang mengalun, tak jarang mereka menghentakkan kaki atau mencoba meirukan setiap bait lirik yang dinyanyikan oleh wanita penyanyi kafe tersebut. Semua tampak menikmati, minus Sasuke.

Otaknya sedang memikirkan sesuatu , hingga membuatnya melamun dan memasang ekspresi tak senang.

"Hidup?" ujar Sasuke pada dirinya sendiri. Sepertinya ia sedikit menemukan kejanggalan pada kata-kata yang baru saja di ucapkan seorang gadis manis bernama Naruto. Sebelum akhirnya Naruto meminta izin untuk pergi ke kamar mandi, Sasuke tau itu hanyalah sebuah alasan klasik untuk seseorang yang sedang menyembunyikan sesuatu. Penasaran? Ya, Sasuke memang penasaran dengan sikap anek klien barunya itu. Tapi Sasuke tak ingin mempertanyakan rahasia itu pada Naruto, biarlah Naruto menyimpan privasinya. Lagipula, itu memang bukan tugas dari seorang 'pacar bayaran' ,kan?

'Memangnya kau sekarang tak hidup ,ya? Dasar orang aneh' gumam Sasuke. Ia menghela napas. Ia menegakkan punggungnya dan bersandar pada sandaran kursi, tanda bahwa sesi berpikir sudah selesai.

Tiba-tiba Sasuke tersenyum kecil. Mengingat baru kali ini ia mendapat seorang klien teman satu sekolahnya sendiri. Klien yang sedikit aneh, pemalu, tak banyak bicara, tidak seperti klien-klien Sasuke sebelumnya. Yang terlalu banyak perintah dan seenaknya sendiri. Tak pernah mempedulikan waktu, kegiatan, ataupun kehidupan Sasuke.

Sasuke maklum saja, karena dia sudah 'disewa' oleh majikan berkedok pacar dengan imbalan yang tidak sedikit.

Di dalam kisahnya, Sasuke hanya berperan sebagai budak pemuas keinginan sang majikan. Hey.. ini hanyalah sebuah 'job' bagi Sasuke, ia tak pernah menggunakan hati dan perasaanya dalam menghadapi majikan yang telah menyewanya. Hanya berkencan dan memberi kebahagiaan ,kan?.

"Maaf lama, aku ada sedikit urusan tadi," ujar seseorang yang baru saja duduk dan sukses membuyarkan lamunan Sasuke, yang bicara itu Naruto.

"Hn" jawab Sasuke singkat, entah sejak kapan mood untuk menggombalnya hilang tak bersisa sama sekali.

Naruto menyadari perubahan pada Sasuke, Ia jadi lebih 'dingin' pada Naruto. Berbeda dari tiga puluh menit yang lalu, tepatnya sebelum ia pergi ke toilet.

Naruto menghela napas, sebelum akhirnya bergeser pelan menuju ke samping Sasuke. Sekarang Ia duduk tepat di samping Sasuke.

DEG!

Dalam hitungan detik, jantung Sasuke sudah berdetak tak karuan seperti mau copot dan migrasi ke ginjal (?). Panas… Hey.. ini adalah pertama kalinya Sasuke berdebar untuk seorang perempuan, rona merah di pipi Sasuke adalah buktinya. Sasuke melengos ke arah yang berlawanan, Ia tak mau Naruto mememukan rona merah di pipinya. Apa lagi dengan tatapan innocent-nya yang sangat manis itu.

Oke… untuk pertama kalinya ia berkata 'manis' pada seorang gadis.

Pada Naruto, teman sesekolah sekaligus kliennya.

"Mikhail, aku tidak membayarmu untuk mendinginkanku!" protes Naruto yang langsung menopang dagunya dengan tangan kanan, disertai dengan gembungan pipi yang membuat wahanya makin 'manis'.

Kedua kalinya Sasuke berkata 'manis' , masih dengan gadis yang sama.

Sasuke yang sudah berhasil menghilangkan rona merah di pipinya langsung menghadap Naruto, disertai sebuah senyuman yang membuat semua gadis mabuk kepayang. "Maafkan aku, nona cantik," gombal Sasuke untuk kesekian kalinya, namun yang gigombali hanya memasang wajah stoic.

Naruto mendengus, dan memalingkan wajahnya .

"Aku tidak suka diacuhkan, Mikhail," ujar Naruto.

"Maafkan aku, nona, takkan terjadi kedua kalinya," kata Sasuke dan kamudian memakai sebuah jutsu andalan, yaitu pegang-tangan-plus-senyum-menggoda.

Tapi Naruto tidak memberikan ekspresi apapun, datar.

Ingin sekali Sasuke memaki gadis without expression di depannya, jika saja ia bukanlah klien dan bukan seorang gadis manis.

"Oh ya, uangnya sudah ku transfer di rekeningmu," sahut Naruto.

"Eh?"

"Apa?" jawab Naruto galak.

"Iya, soal uang itu bisa belakangan, karena yang utama adala-"

"Tidak usah berbohong, aku tahu kau tak mungkin menggeluti pekerjaan ini kalau bukan karena uang," sela Naruto. Sasuke hanya berdecak dalam hati melihat kelakuan sang primadona anggun yang dipuja di sekolahnya, bersikap sangat tidak sopan pada orang yang baru dikenalnya. Ternyata ia hanya gadis yang tak pernah memikirkan perasaan orang lain !

Namun Sasuke segera menyangkal semua itu. Haruskah diingatkan lagi bahwa Sasuke hanyalah seorang budak yang sudah dibeli oleh sang majikan. Atau Mikhail yang telah disewa oleh Naruto, tugasnya hanyalah membuat klien bahagia? Benar,kan?

"Terserah nona sajalah," Jawab Sasuke dengan tetap mempertahankan senyumannya. Senyuman palsu…

"Hng, aku ingin membuat jadwal pertemuan kita," kata Naruto.

"Silahkan, cantik," sumringah Sasuke.

"Setiap hari?"

"Eeh.. maaf nona, tapi saya…" belum sempat Sasuke menyelesaikan kalimatnya, Sudah dipotong oleh Naruto.

"Ya, aku tahu,"

Tidak sopan? Lagi? Hey.. jatuhlah martabat seorang primadona sekolah di mata Sasuke. Sasuke ingin sekali mencabut kata-katanya tadi, ternyata dia bukanlah seorang gadis pemalu. 'Naruto adalah gadis yang pintar menutupi kedoknya' pikir Sasuke.

"Kalau begitu tiga hari sekali, tidak ada protes," ketus Naruto.

Sasuke mengangguk pelan tentu tak melupakan senyum 'palsu', seperti biasa.

-O-O-O-O-O-


"Nona, boleh ku tahu namamu?" Tanya Sasuke sambil meletakkan garpu dan pisau yang ia gunakan untuk memotong plain-cake yang sama sekali tidak manis.

"Namikaze Naruto, " singkat Naruto.

Sasuke menghela napas. 'klien teraneh' yang pernah ia temui. Coba saja ia bersikap ramah seperti biasanya di sekolah, jobnya pasti akan berjalan mulus dan sangat mudah.

Sasuke berpikir sejenak , Ia ingin membuat gadis yang makan orange-cake di depannya ini tersenyum. Mengingat dari tadi Ia hanya memasang wajah stoic dan sesekali memanyunkan bibir, tanda cemberut, tidak suka, muak atau hal buruk lainnya.

Membuat klien tertawa adalah salah satu misi yang harus dijalankan agen Sasuke. Apapun caranya, yang penting sang klien bisa tertawa atau minimal tersenyumlah~…

"Namikaze-san?" Tanya sasuke.

Yang dipanggil namanya langsung menatap Sasuke dengan ekspresi 'sedikit' tidak suka.

"Naruto" sahutnya tidak ramah "Aku tidak terlalu suka dengan nama Namikaze,".

Dahi Sasuke berkerut? Hey, apa yang membuat dirinya membenci marga sendiri? Aneh, mengapa bisa? Bagaimana bisa? Memang kenapa? Kenapa membenci?. Bertubi pertanyaan bersahutan di dalam hati Sasuke. Tapi Sasuke meredam rasa keingin tahuannya ,Ia tidak ingin membahas suatu hal yang mungkin akan menyulut emosi sang klien. Sebagai agen, tidak sepantasnya mengecewakan klien, bukan?

"Baiklah Naruto-chan… hari ini kau ku traktir, jadi kau bisa makan sepuasnya… " tutur Sasuke.

"Eh?" Naruto melongo.

"Sudahlah… jangan cuma bengong, Naru-chan," rayu Sasuke dengan jurus mautnya.

Nampaknya jurus itu tak mempan pada Naruto yang tetap memperlihatkan ekspresi wajah 'bengong'.

"Ano.. tapi.." lirih si gadis.

"Tenang saja…" Sasuke mengacak rambut pirang Naruto pelan "Aku adalah teman dari pemilik kafe ini, aku sudah biasa mendapat diskon besar-besaran darinya," bohong Sasuke.

Sebetulnya ia tak pernah sekalipun berkunjung ke kafe ini, walaupun ini adalah kafe yang terkenal. Ia sama sekali tak tertarik pada tempat seperti kafe.

Naruto yang tadinya memasang wajah stoic without expression langsung berubah 180°. Warna kulit wajahnya sedikit memreah dan matanya mulai berair ,sepertinya ia sedang menahan tawa.

Dan tak lama kemudian tawa sang gadispun pecah.

"Eeh.. mengapa kau tertawa?" Tanya Sasuke yang heran bercampur senang karena upayanya membuat klien tersenyum sukses besar.

Tak ada jawaban dari Naruto, Ia terus saja terkikik sambil memegangi perutnya.

"Sudahlah Naru-chan.. aku sungguh tak keberatan mentraktirmu di kafe milik temanku ini,"

"Ta..tapi, Mikhail…"

"Jangan sungkan~"

"Ngg.. Ano.. Mikhail.. tapi.. sebenarnya kafe ini milikku.."

'Ha?'

" jadi, kau tak mungkin kan mentraktirku di kafe milikku sendiri?"

"Eeeeh?" malu Sasuke, ada sebercak noda kemerahan di pipinya.

Jatuhlah harga diri seorang Uchiha Sasuke detik itu juga.

Walaupun Sasuke malu setengah mati dibuatnya, Ia tetap bersyukur karena telah berhasil membuat kliennya tertawa. Ide gila itu mampu membuat Namkaze Naruto tertawa lepas, dan baru berhenti ketika waktu sudah menginjak menit ke sepuluh sejak ia memulai tertawa.

Sasuke jadi ingin melihat tawa Naruto lagi…

"Sepertinya aku menyukaimu, Mikhail," ujar sang gadis sambil tersenyum lembut.

-O-O-O-O-O-


Butiran air hujan tak hentinya turun dari langit berwarna keputihan sejak 2 jam yang lalu. Membuat seorang pemuda tampan berbaju merah-hitam yang sedang berdiri mematung di depan kafe kecil di pusat kota.

Hujanlah yang membuatnya berdiri 'sendirian' disitu, hujanlah yang menghalanginya kembali ke rumahnya yang hangat.

Hujan…

Hujan… mengingatkannya pada sebuah kejadian yang ia ingin kubur dalam-dalam agar menghilang dari benaknya, dan takkan pernah muncul lagi.

Namun, sekeras apapun Ia mencoba melupakan kejadian 'itu'. Sekelebat bayangan terus saja menghantuinya.

Masuk dalam setiap mimpinya…

Sebuah memori menyedihkan yang telah merenggut kebahagiaannya.

Membuat hatinya membeku…

Pemuda itu memejamkan matanya sambil menghirup udara disekitarnya yang terasa dingin.

Flashback

Hujan turun sama derasanya dengan hari ini.

Pada malam itu.. Seorang anak lelaki berumur 15 tahun duduk sendirian di dalam kamarnya, Ia sedang berkutat dengan buku pelajaran yang tebalnya nyaris menyamai bantal. Wajar saja, karena ia akan menjalani ujian akhir di junior high school besok pagi.

Sesekali ia melirik ke arah jam dinding berbentuk rumah burung yang tergantung di dekat sebuah foto ukuran besar yang terbingkai kayu halus dan membuatnya makin indah dipandang. Foto keluarganya…

Ia menghela napas…

Terlihat kegelisahan dari mata onyx-nya.

Jam dinding sudah menunjukkan pukul 23.35 malam hari, namun tak ada tanda-tanda akan kepulangan ibu, ayah, dan kakaknya.

'memangnya menghadiri pesta ulang tahun pulangnya akan selama ini?' tanyanya pada diri sendiri. Ia meletakkan kepalanya di atas buku tebalnya tadi, Ia tak bisa lagi berkonsentrasi dengan soal-soal siap ujian akhir di depannya.

Jantungnya berdetak lebih kencang dari biasanya, kedua tangannya mengeluarkan keringat dingin, sepertinya akan terjadi sesuatu yang buruk.

Pemuda itu berjalan perlahan kearah foto dirinya dan keluarganya yang tergantung di dinding. Tangannya mencoba meraih sudut pigura, mencoba melepas paku yang mengaitkannya pada dinding. ia melakukannya dengan hati-hati, tak mau foto itu jatuh dan pecah. Kalau pecah, bisa-bisa ia di marahi habis-habisan oleh ayahnya.

Ia melepas empat kaitan yang menyangga foto itu dan menurunkannya perlahan.

"Twitch"

Sebuah benda atau lebih tepatnya seekor makhluk kecil berwarna krem jatuh dari langit-langit dan mendarat mulus di atas foto keluarga bahagia itu.

Cicak?

Si Pemuda kaget, tanpa sadar ia melepaskan pegangannya pada di sudut pigura. Dan sukses membuat pigura itu meluncur kabawah.

"Prang.."

Suara pecahnya kaca pigura tersebut menggema di seluruh ruangan, pecahan kaca berserakan dimana-mana membuat ruangan itu menjadi berantakan dalam sekejap.

Tiba-tiba rasa takut menyergap pemuda tersebut. Jantungnya makin beradu, keringat dingin mengucur dari pelipisnya.

Takut..

Ia sangat takut.. bukan takut akan dimarahi oleh ayahnya karena telah memecahkan kaca. Bahkan harga kaca itu sangat murah dibandingkan dengan seluruh harta miliknya. Ia takut.. akan hal lain, tapi ia tak tahu apa…

Ia mulai berjongkok memunguti pecahan kaca yang berserakan disekitar kakinya, kemudian berpindah ke tempat lain. Tak jarang pula serpihan kaca yang kecil masuk kedalam telapak kakinya. Sakit? Memang sakit.. namun rasa sakit di dadanya mengalahkan rasa sakit di kakinya. Ia tak peduli, Ia terus saja memunguti pecahan kaca dengan tangan kanannya dan menyimpannya di telapak tangan kirinya.

"Tuan muda Sasuke… Ayah anda.." sapa seorang pria bejas dengan tergopoh-gopoh dari arah pintu, Pemuda yang dipanggil langsung menoleh kearah sumber suara.

"Kakashi? Ada apa?"

Pria yang dipanggil Kakashi tak melanjutkan kata-katanya, ia bingung akan bicara apa pada tuan muda di depannya yang sedang berjongkok memunguti pecahan kaca.

"Bicaralah yang jelas, Kakashi" geram sang tuan muda.

"Mobil yang ditumpangi Fugaku-sama, Mikoto-sama dan Itachi-sama… terbakar"

Apa?

"Itachi-sama sedang kritis…"

Aku tidak mendengarnya

"Sedangkan, Ayah dan Ibu anda…" Kakashi tak melanjutkan ucapannya, ia yakin tuan mudanya mengerti apa yang ia maksudkan.

Aku tidak tahu, aku tidak mendengarnya, aku tahu Kakashi hanya membohongiku..kau pembohong, Kakashi ! ayah akan murka karena menyebar kebohongan.

Namun Sasuke sadar, Kakashi takkan berbohong untuk hal seperti ini. Ia hanya berusaha menyangkal kenyataan.

Rasa gelisah yang sedari tadi menyergapnya terbukti sekarang.

"Terimakasih informasinya, Kakashi.. kau boleh pergi," ujar Sasuke getir seraya menundukkan kepalanya.

Hati Kakashi mencelos, ingin sekali ia memeluk pemuda remaja di depannya ini sekarang juga. Berbagi kehangatan sambil mengucapkan kata-kata penyemangat. Tapi ia tahu betul, tuan mudanya tak suka dipeluk.

"Apakah Sasuke-sama tidak ingin pergi ke rumah sa-,"

"Tidak,"Sela Sasuke,

"Biarkan aku sendiri, Kakashi." Sasuke mendongakkan kepalanya, ia menatap Kakashi dengan mata sayu. Bola matanya memerah dan mengeluarkan air mata namun ia, tersenyum?

Senyuman pahit terukir di bibir mungil Sasuke, sedikit bergetar…

Kakashi merasa Iba pada tuan muda di depannya yang mulai meremas pecahan kaca di genggaman tangannya, dan mulai mengeluarkan darah.

"Kalau begitu, saya mohon diri,"

Kakashi beranjak dari tempatnya berdiri dan meninggalkan Sasuke sendiri di kamarnya.

Kaki Sasuke melemas, tak kuasa lagi menahan berat badannya. Ia terduduk di lantai yang penuh pecahan kaca.

Entah beberapa kali Sasuke mengepalkan kedua tangannya. Bibirnya beberapa kali dikatupkan untuk menahan air mata yang memang sudah mengucur deras dari matanya. Ia mencoba melupakan kemalangan yang menimpa dirinya, namun tak berhasil…

"Ayah…" lirih Sasuke.

Ia merangkak perlahan kearah foto keluarganya yang sedang tersenyum.

"Ibu…"

Ia mengusap potret ibunya yang sedang tersenyum lebar.

"Kakak…"

Air matanya terjatuh diatas gambar kakaknya yang sedang merangkul pundahnya, tanda sayang.

Sasuke merebahkan dirinya diatas foto keluarganya, tak peduli serpihan atau potongan kaca yang berserakan akan melukainya. Luka di luar tubuhnya tak bisa ia rasakan, yang terasa hanyalah rasa sakit di rongga dadanya. Ia memejamkan matanya, mencoba mencari kehangatan dari wajah-wajah yang disayanginya tersebut.

Namun nihil..

Dingin..

Sama sekali tak ada kehangatan disana. Yang terasa hanya dinginnya lantai.

Hujan di luar tak kunjung berhenti..

Seolah langit ikut menangisi kepergian orang yang dicintai Sasuke.

-O-O-O-O-O-


Sasuke mendorong pintu depan dengan kasar. Ia merasa sudah cukup lelah hari ini, walaupun hanya satu klien yang ditemuinya. Itu sudah cukup menguras waktu, perhatian, dan energi Sasuke.

Ia berjalan gontai kearah dapur, maksud hati ingin menyegarkan tenggorokan dengan segelas air. Namun, sesuatu hal membuat kakinya melangkah kearah ruang tv.

Sayup-sayup terdengar suara..

Siapa?

Sasuke memperlambat jalannya, mengendap-endap di rumahnya sendiri? Konyol.

Ketika ia sampai di ruang tv, matanya melebar dengan sempurna ketika melihat seseorang yang dikenalnya sedang duduk menikmati acara televisi.

"Kakak?"

TBC


Chapter kedua saya update ! sudah saya updatee xD *teriak-teriak gaje

Saya nggak menyangka kalau bakalan banyak yang penasaran fict ini xD.. whoa.. saya senang sekaliii :*

Soal cicak jatoh.. itu emang kenyataan.. dan saya mengalaminya sendiri. Kemarin saya habis kejatuhan cicak.. nggak sampe 1 menit kemudian saya dapet telepon kalo ada seseorang yang saya kenal meninggal dunia *horor beh..*

Maaf kalo saya updatenya lama~.. soalnya lagi musim ulangan… yang membuat otak saya kerja ekstra..

Lagipula, ada alasan lain updatenya lama (soalnya saya habis baca fict yang chapternya 29 dalam kurun waktu 4 hari nonstop.. hehehe)

Buat yang mereview, maafkan saya kalo belum sempat saya balas.. saya janji bakan saya balas kalo ulangan beruntun dari guru saya udah berhenti -.-.

Bagaimana menurut anda dengan di updatenya chapter 2 ini? Apakah fict saya jelek? Mengecewakan? Membosankan? Banyak typo?

Oh.. ayolah.. berikan saya review/flame anda tentang fict ini. Bantulah saya memperbaiki fict ini.

Terimakasih sudah mau baca~

P e a r l