Disclaimer :

Naruto © Masashi Kishimoto

My Client and Me © Pearl Jeevas

Genre : Romance

Rating : T

Pairing : SasuxFemNaru

Warning : ada Typo , Shou-ai (?). DON'T LIKE DON'T READ pokoknya (ada OOC -.-)

Summary :

"Hidup adalah anugrah dari Tuhan yang paling berharga dan harus dijaga,"

"Kau tahu… dirimu adalah anugrah yang paling berharga bagiku setelah hidup?"

Yang terulis disini adalah imajinasi author semata *halah*.

Fict pertama saya di fandom Naruto yang jauh dari kata sempurna.

Hope you like it.


My Client and Me

Chapter 3

Godsend


"Naruto…" panggil seorang pemuda berambut pirang kemerahan yang sedang duduk santai di sofa hitam di ruang baca, dengan sebuah buku tebal di pangkuannya.

Yang dipanggil menengok malas-malasan ke arah si pemuda itu duduk dan menampakkan wajah datar 'without expression'seperti biasanya. "Apa?" jawab Naruto ketus.

Yang memanggil menaikkan sebelah alisnya, tanda heran."Hey, begitukah sikap seorang 'Tuan Puteri' kepada sepupu jauhnya yang baru saja datang, setelah 7 tahun tidak bertemu?",tanyanya sembari menutup buku tebal di pangkuannya.

Naruto tidak menjawab, hanya diam sambil mempertahankan wajah without expressionnya.

"Setidaknya," pemuda itu angkat bicara lagi.

Jeda

"Berilah aku sebuah pelukan 'selamat datang' pada sepupumu ini, Naruto," cengirnya sambil membuka kedua tangannya seakan siap menangkap gadis di depannya.

Namun, Naruto tetap diam melihat tingkah kekanakan sepupu yang berusia dua tahun lebih tua darinya itu. Umurnya sudah Sembilan belas tahun, tapi tingkahnya sama saja seperti anak-anak yang baru saja lulus sekolah dasar.

Melihat Naruto tak bergeming seperti itu, si pemuda menghela napas berat. Kemudian memejamkan kedua matanya.

"Sepertinya Deidara benar, tentangmu," sahutnya lirih.

"Aku tak mengerti maksudmu, Kyuubi," jawab Naruto yang akhirnya mengeluarkan suaranya.

"Kau sudah berubah, Naru-chan," Kyuubi tersenyum pahit pada Naruto.

"Perasaanmu saja…" ujar Naruto singkat, kemudian duduk di sofa hitam tepatnya di samping Kyuubi.

"Tidak mungkin hanya perasaanku saja…" Kyuubi melipat tangannya di depan dada, seakan tak mau kalah.

"Kubilang tidak, ya tidak! "

"Kau sudah berubah!" Kyuubi makin ngotot.

"Terserah…"

"Tuh kaaan…" rengek Kyuubi seperti anak sd yang minta dibelikan permen lollipop.

"Maumu apa, Kyuu!" bentak Naruto yang sudah mulai risih pada sepupunya, sedangkan yang dibentak langsung bergidik ngeri pada gadis di depannya.

Beberapa detik kemudian, Kyuubi angkat bicara. "Kau jadi sedikit 'pendiam'… atau bahkan cuek? kata Deidara kau jadi dingin padanya, bahkan pada semua orang, tidak pernah ceria seperti dulu, suka mengurung diri dalam kamar, suka temperamental, jarang ikut makan malam, terkesan menutup diri," cerocos Kyuubi.

Sang gadis menatapnya, tajam. Membuat Kyuubi bergidik untuk kedua kalinya.

"Ngg.. Ano.. itu semua Deidara yang cerita," ujar Kyuubi sambil menempelkan kedua ujung jari telunjuknya, disertai dengan sebuah cengiran.

Naruto menghela napas, sambil menyandarkan punggungnya ke sofa yang ia duduki. Kepalanya mendongak ke langit-langit, seakan menerawang jauh.

"Hmm…" lirih Naruto dengan tetap mendongakkan kepalanya.

"Heem?" Tanya Kyuubi sambil memiringkan kepalanya, memang sepertinya tingkah anak sdnya tidak bisa dihilangkan.

"Berhentilah bersikap bodoh, Kyuubi,"

"Eeeeeh? Tidak sopan sekali kau berkata begitu pada orang yang lebih tua darimu!" protes Kyuubi.

Naruto mencoba menulikan telinganya dari ocehan-omelan-protesan-cerocosan Kyuubi yang menurutnya sangat-tidak-penting. Berkali-kali ia memutar bola mata ketika Kyuubi mulai memakai kata 'lebih tua' dalam sesi omelannya. Memang sih Kyuubi lebih tua dua tahun darinya, tapi tingkahnya itu… sama sekali tidak dewasa, lebih seperti anak sd seperti yang sudah dijelaskan tadi.

"…tahu? Sekali lagi, aku ini lebih tua darimu… jadi jangan sekali-kali bersikap seperti itu, oke Hime-sama? Ingat! Aku lebih–"

"Maaf," sela Naruto, yang berhasil membuat Kyuubi berhenti dari sesi omelannya dan sukses membuat matanya membulat.

Hanya berlangsung beberapa detik saja, yang terjadi setelah itu adalah 'Kyuubi memeluk Naruto dan sebaliknya'.

"Aku merindukanmu, Kyuubi… terlalu lama kau pergi dari konoha… sehingga banyak hal yang terlewatkan olehmu," ujar Naruto dengan nada yang sudah tidak sedingin tadi, bahkan terkesan lebih hangat.

"Tidak semuanya, Naruto… aku masih sering berhubungan dengan Deidara lewat e-mail," jawab Kyuubi sambil mempererat pelukannya.

Naruto diam, tak membalas pernyataan Kyuubi. Keheningan menyergap keduanya.

"Mau bercerita padaku, Naruto?" Tanya Kyuubi lembut.

"Ya…"

"Apa yang mengganjal di hatimu, Hime-sama?"

"Wanita itu…"

"Whoaa… sudah kuduga, ternyata benar penyebapnya adalah wanita itu,"

"Bagaimana kau bisa tahu?"

"Deidara yang cerita," Kyuubi memasang tampang sumringah.

"Kurasa Deidara terlalu banyak bicara," balas Naruto.

-O-O-O-O-O-


"Kakak?" tanya Sasuke heran.

"Ba..bagaimana bisa kau kemari?" Tambah Sasuke, ia melangkah ke arah sofa di depan TV yang kini di duduki oleh kakaknya– Itachi.

Pria bermata onyx berparas tampan, wajahnya mirip dengan Sasuke. hanya saja ia mempunyai rambut hitam panjang dikuncir bawah.

"Oh… Sasuke, kau sudah pulang?" Tanya Itachi, sepertinya itu bukanlah pertanyaan yang perlu diberi jawaban.

"Hn"

Keduanya terdiam, tidak ada yang berusaha membuat suasana dingin antara mereka mencair. Itachi tidak menjawab pertanyaan awal dari Sasuke, dan Sasukepun hanya terdiam.

Akhirnya Sasuke memutuskan untuk mengulangi pertanyaannya yang belum dijawab Itachi.

"Bagaimana kau bisa kemari, Itachi?" Tanya Sasuke pada kakaknya.

"Tadi,"

Jeda

"Tadi siang Deidara mampir, dan ia yang menggendongku kemari," Jawab sang kakak malu-malu.

Sasuke mengerutkan dahinya, "Kalau kau bosan di dalam kamar, harusnya kau bilang padaku, Itachi,". Bukannya merasa puas akan jawaban Itachi, Ia makin menyerang Itachi dengan pernyataannya barusan.

Hanya sebuah senyum tipis dari bibir sang kakak yang menjawab pertanyaan si adik. Sasuke berpikir, sepertinya ia perlu memindahkan televisi di ruang tengah ke kamar Itachi setelah ini. Seakan Ia lupa bahwa kakaknya adalah seorang manusia normal yang punya rasa jenuh bila seharian dikurung dalam kamar tanpa fasilitas hiburan apapun, selama Sasuke pergi ke sekolah dan bekerja.

Terlebih lagi karena Itachi tidak bisa berjalan sendiri ke ruang tengah…

"Bisa kau membantuku kembali ke kamar, Sasuke? Aku lelah," pinta Itachi pada Sasuke yang tengah melamunkan sesuatu hal.

"Hn"

Sasuke berjalan ke hadapan Itachi dan menawarkan punggungnya pada sang Kakak. Itachi segera merangkul leher Adiknya dari belakang dan berpegangan erat di bahu Sasuke. Sasuke memegangi Itachi agar terjatuh dan mulai berdiri. Singkat kata, Sasuke menggendong kakaknya.

Sasuke sedikit membungkukkan badannya, menghindari kamungkinan Itachi akan merosot, dan berjalan pelan kearah kamar Itachi di lantai dua.

"Terimakasih…" bisik Itachi tepat di telinga Sasuke.

"Hn"

Hening.

.

.

.

"Maafkan aku,Sasuke," lirih Itachi untuk kedua kalinya.

"Untuk apa?"

"Aku selalu merepotkanmu, hehehe.." jawab Itachi disertai tawa hambar yang keluar dari mulutnya. "Manusia cacat sepertiku seharusnya mati saja bersama ayah dan ibu, supaya tidak menjadi bebanmu saja, hmm…"Sasuke dapat merasakan tubuh kakak yang digendongnya bergetar setelah mengatakan kalimat yang baru saja diselesaikannya.

Tanpa Sasuke tahu, kedua bola mata Itachi memanas dan mulai tergenangi cairan bening. Sebentar-sebentar ia menggigit bibir bawahnya, mencoba menahan airmata yang sudah akan tumpah dan membanjiri kedua pipinya.

Seorang Uchiha Itachi menangis? konyol.

Hey, Uchiha Itachi yang sekarang bukan lagi Itachi yang dulu. Bukanlah seorang Itachi yang tenang dan dewasa, bukan juga seorang Itachi yang selalu melalui hari-harinya dengan kewibawaan dan senyuman. Yang tersisa sekarang adalah seorang Itachi yang emosional dan gampang menangis, juga seorang Itachi yang penuh akan keputusasaan bersama dengan senyum palsu yang terukir di bibirnya.

Sikap tenang, dewasa, dan kewibawaan Itachi telah mati dan terkubur bersamaan dengan wafatnya kedua orangtuanya. Senyum tulus yang biasa ia pasang ikut menghilang jua bersama dengan fungsi kedua kakinya. Ia bagaikan sebuah boneka porselen yang rapuh. Kehidupan sehari-harinya hanya berputar diatas kasur.

Hanya sesekali mengobrol bila Sasuke sudah pulang dari sekolah dan kerja sambilannya, atau Deidara yang sengaja mampir ke rumah kakak beradik Uchiha.

Selebihnya?

Hanya melamun dan menatap langit-langit kamar dengan pandangan kosong.

Sudah hampir tiga tahun orang tuanya meninggal.

Namun sepertinya Itachi masih belum terbiasa akan kehilangan.

Dan lagi, ia hanya jadi seorang useless bagi Sasuke…

Tanpa kaki, Ia hanya menyusahkan Sasuke…

Hanya menambah penderitaan Sasuke karena harus bekerja ekstra demi menghidupinya, dan Sasuke sendiri tentunya…

Memberatkan Sasuke, karena harus repot-repot mengurusi kakaknya yang lumpuh…

Terlebih lagi jika Sasuke malu terhadap kondisi kakaknya sekarang ini…

Bukankah lebih baik mati saja?

"Kau tahu, Itachi?" ujar Sasuke membuyarkan lamunan Itachi, Ia mempererat pagangannya pada tubuh Itachi.

"Hidup adalah anugrah dari Tuhan yang paling berharga dan harus dijaga,"

DEG!

Tes…

Jebol sudah upaya Itachi dalam mempertahankan airmatanya tidak jatuh.

"Ya… aku tahu, Sasuke," Jawab Itachi, getir.

"Kau tahu… anugrah yang paling berharga bagiku setelah hidup?"

Itachi menggeleng pelan.

"Kau,"

Hati Itachi mencelos… Bisa-bisanya ia mengeluh minta mati, padahal adiknya berjuang untuk hidupnya. Harusnya Itachi tahu itu, tapi kabut keputusasaan yang selama ini telah membuat matanya dibutakan akan kebenaran. Kebenaran bahwa adiknya tak pernah sekalipun menganggap dirinya beban..

"Bukankan aku selalu merepotkanmu, Sasuke?"

Sasuke menghela napas mendengar kalimat melankolis kakaknya.

"Yaa~ memang, sudah dari dulu kau selalu merepotkanku," canda Sasuke pada sang kakak, Ia memutar daun pintu kamar Itachi dan mendorongnya. Ia berjalan perlahan ke arah ranjang dan merebahkan tubuh kakaknya.

Sang kakak tak bergeming, perlahan bibirnya menyunggingkan sebuah senyuman. Senyuman tulus yang berbeda dari senyum palsunya.

Terkesan lebih hidup.

-O-O-O-O-O-


Seorang pemuda berambut oranye kemerahan klimis sedang sibuk membaca sebuah komik hero didepannya. Nampaknya ia begitu serius dengan komik itu, seakan badai tornado dan tsunami tidak dapat menggoyahkan keteguhannya damam membaca serial hero terbaru itu. Yap, benar sekali, pemuda itu adalah Juugo. Salah satu dari personil trio otaku ajaib. Kacamata minusnya yang tebal nggak ketulungan menutupi seluruh bagian matanya.

Sedangkan yang duduk di bangku depannya, pemuda berambur hitam kebiruan yang turun semua alias klimis plus kacamata yang nggak kalah tebalnya dari kepunyaan Juugo, alias Sasuke. Sedang sibuk dengan sebuah buku–perlu di garisbawahi bahwa ia tidak sedang membaca komik. Namun hanya berkutat dengan sebuah buku catatan kecil berisi jadwal kegiatannya.

Atau lebih tepatnya jadwal kegiatan kerja sebagai pacar bayaran…

Mendapat klien baru yang membayarnya dengan harga tinggi membuatnya harus memperlakuan sang klien secara spesial. Sasuke sendiri merasa ngeri kertika mengecek jumlah uang direkeningnya bertambah 200juta dolar. Hasil transfer dari rekening kliennya.

Siapa klien itu? Tentu saja Namikaze Naruto.

Tak kusangka dia akan membayarku dengan uang sebanyak itu…

Sasuke memijit pelipisnya yang terasa penat, bukan hanya penat karena masalah 'kebanyakan' uang. Namun karena mengingat percakapannya dengan Itachi kemarin malam.

Flashback

"Bagaimana uang sekolahmu, Sasuke?" Tanya Itachi sambil menyeruput segelas teh panas ditangannya.

"Baik," singkat Sasuke.

"Apa kau bekerja?" tutur Itachi dengan nada khawatir.

"Hn"

Sempat terjadi keheningan beberapa saat diantara kakak beradik itu, sampai suara Itachi memecah keheningan tersebut.

"Kalau boleh tahu, memangnya kau bekerja dimana?"

Mata Sasuke membulat dengan sempurna ketika mendengar pertanyaan dari Itachi, hampir saja ia tersedak teh hijau yang masih diminum separuh.

Sasuke terdiam… Jika ia menjawab jujur, 70% emungkinan Itachi akan murka dan membencinya. Jika mengetahui pekerjaan Sasuke yang 'ilegal' itu. Namun, Jika ia menjawab dengan sebuah kebohongan… hati kecilnya pasti akan merasa bersalah telah membohongi orang yang paling disayanginya sekarang.

"Aku bekerja sebagai waiter di Namikaze café," bohong Sasuke.

Ada sedikit rasa sakit di relung dadanya ketika mengatakan enam kata itu pada Itachi. Tapi Sasuke hanya bisa tersenyum hambar,dan kembali menyeruput teh ditangannya.

End of Flashback

"Su..su.. Ssuigetsu!" teriak Juugo terbata ketika melihat salah satu sahabatnya yang baru saja datang, sedang berdiri tegak plus nyengir kuda di depan meja Juugo. Sasuke yang keget setengah mati karena suara melengking Juugo langsung menoleh, dan melihat 'perubahan' pada sahabatnya (Suigetsu).

Mulut Sasuke menganga, matanya melebar dengan sempurna dibalik kacamata tebal yang dipakainya.

Melihat reaksi kedua sahabatnya yang terkesan sedikit 'berlebihan', Suigetsu hanya bisa nyengir lebih lebar dan menampakkan gigi hiunya yang…

"Mengapa kau memasang kawat jemuran digigimu, Suigetsu?" omong Juugo asal jeplak. Suigetsu yang tadinya nyengir lebar sambil memamerkan gigi hiu plus behelnya langsung mengatupkan bibirnya, rapat. Terlihat mimik wajah kecewa, dan terlecehkan atas pertanyaan Juugo.

Suigetsu langsung duduk di bangkunya dengan wajah masam tanpa menggubris Juugo yang sedang mengocehkan dirinya .

Sedangkan Sasuke, hanya memandang Suigetsu atau tepatnya behel yang sekarang memagari gigi hiunya dengan sebelah alis terangkat. Sasuke masih speechless dengan apa yang baru saja ia lihat.

Hari yang aneh…

"Hei, kawat jemuranmu punya nilai seni yang tinggi!" ejek si Juugo.

"…" Suigetsu tidak merespon.

"Warna merah kawat jemuranmu punya daya tarik tertentu,"

"…" Suigetsu mengaduk-aduk tasnya dan mengeluarkan sebuah komik hero, dan mulai membacanya.

"Jika kawat jemuranmu dijadikan objek fotografi, pasti hasilnya bagus sekali,"

"…" Suigetsu tetap diam dan memilih untuk tidak merespon pernyataan tidak penting dari sahabatnya.

"Mungkin akan lebih bagus bila diambil dari sudut– ini !" Juugo membuat persegi dari ibu jari dan telunjuknya. Ia dekatkan persegi itu di depan bibir Suigetsu seakan mencoba menemukan 'angel' yang tepat.

"Berhentilah bersikap bodoh, JUUGO!" bentak Suigetsu pada orang yang sedang bergaya ala fotografer di depannya.

Yang dibentak langsung diam tak bergerak.

Sasuke yang dari tadi masih speechless Cuma bisa menghela napas melihat tingkah kedua sahabatnya.

Bodoh!

Juugo langsung ngibrit kembali ke bangkunya dan mulai berkutat dengan komik hero yang sempat terlupakan. Meninggalkan Suigetsu yang masih berapi, dan Sasuke yang speechless.

"Kalau boleh tahu, mengapa kau memutuskan memakai behel, Suigetsu?" Tanya Sasuke yang sudah bangkit dari speechlessnya.

"Karena sebulan lalu, ibu melahirkan adikku," datar Suigetsu.

"Itu bukan jawaban," hardik Sasuke.

"Aku belum selesai!"

Jeda

"Karena bayi sial itu selalu mengangis ketakutan ketika melihat gigiku," ujar Suigetsu sembari menunjuk deretan giginya yang memang taring semua.

(Skip time sampai siang menjelang sore gitulah)

Sasuke memandangi hand phone ditangannya, seperti sedang menunggu pesan atau telepon dari seseorang. Tapi hand phone itu tetap meredup, tak ada pesan atau telepon masuk. Sesekali ia membuka flip dan menutupnya kembali.

Bosan…

Sudah hampir satu jam Ia duduk sendiri di sini, di atap sekolahnya. Memandang langit demi mengusir kebosanan yang menyergap saat pelajaran si tua bangka– begitu dia menyebut Danzou si guru fisika. Sasuke lebih memilih merenung di atap daripada mengikuti pelajaran guru yang tak ia sukai itu.

Lagipula, pikirannya sedang tertuju pada seorang 'klien' barunya. Dalam 3 tahun ia menjalani profesi sebagai pacar bayaran. Baru kali ini ia memikirkan kliennya.

Aneh…

Sasuke mengadahkan kepalanya keatas dan mulai mengamati arak awan. Terus begitu hingga suara pintu terbuka mengagetkannya.

Seorang gadis berambut pirang panjang selutut yang dikuncir dua yang tengah ia lamunkan– Naruto, berjalan gontai kearah pagar pembatas. Raut wajahnya Nampak kusut, langkah kakinya terlihat berat dan ogah-ogahan, bibirnya yang biasanya selalu melengkung keatas kini sedikit manyun. Singkat kata, mungkin saja dia sedang 'bad mood'

Mungkin hanya kebetulan, atau takdir telah menggariskan mereka bertemu disini?

Gadis pirang itu tidak menyadari keberadaan makhluk lain yang sedang memandanginya. Ia merentangkan kedua tangannya di depan pagar pembatas dan mulai berteriak.

"Aaaaaargh! Kurenai bodooh! Minato bodooh !" Suara cemprengnya sampai melengking.

Naruto memegang pagar pembatas dan terdiam sejenak, napasnya memburu. Tentu saja, tidak mungkin seorang manusia normal akan bereaksi 'biasa saja' setelah berteriak sekencang itu.

"Aaaaaaaaaahh! Aku bodooooh !" teriaknya untuk yang kedua kalinya, kali ini sukses membuat Sasuke– orang yang melihatnya terheran-heran.

Naruto merosot hingga terduduk sambil memegangi pagar, benar-benar seperti orang depresi. Ia menoleh ke belakang dan mendapati seseorang sedang duduk santai disana.

Ouh.. Kuso ! apakah dia melihatnya… umpat Naruto.

"Uchiha-san?"

"Hn,"

"Kau melihatnya?"

"Ya," Sasuke mengangguk pelan, dan si Gadis langsung nyengir plus menggaruk belakang kepalanya yang sama sekali tidak gatal.

-O-O-O-O-O-


"Kita sudah sampai, kau boleh membuka matamu, Nona," tutur Sasuke yang sudah ber-metamorfosa menjadi Mikhail, pada Gadis pirang di hadapannya yang sedang menutup matanya.

Perlahan si gadis mulai membuka matanya…

"Eh?"

Sebuah meja dinner yang dilapisi taplak berwarna putih , berikut kursi dan perangkat lainnya semua berwarna putih, lilin yang mengelilinginya, setangkai mawar merah di atas meja. Dekorasi yang cantik dan sempurna untuk acara dinner romantis.

"Kau menyukainya, Nona?" Sasuke menyeringai, plus memasang jutsu pegang-pegang tangan.

Naruto mengangguk. "Suka," dan memandang 'pacar bayarannya' dengan ekspresi -datar-.

"Kalau begitu, tunggu apa lagi?"

Sasuke mearik Naruto kearah meja dinner, menarikkan kursi dan menyuruh Naruto duduk. Suasana romantis, meja yang nyaman, pelayanan kelas S, dan seorang malaikat tampan seharusnya sudah membuat orang yang mendapatkannya merasa senang. Tapi tidak bagi Naruto.

Gadis aneh ini sama sekali tidak melengkungkan bibirnya untuk sebuah senyuman. Terkesan tidak menghargai usaha sang pacar, tapi itulah kenyataannya. Ia makin terlihat gusar.

"Ada yang salah, Nona?" Tanya Sasuke.

"…" Tak ada jawaban dari Naruto, yang Ia lakukan hanya menggeleng pelan.

"Kau berbohong,"

"Tidak"

"Ceritakan!" Nada Sasuke sedikit meninggi.

"Apa yang harus kuceritakan?" Imbang Naruto.

"Tentu saja hal yang perlu diceritakan!" Sasuke tak mau kalah.

"Mikhail!"

"Naru-chan!"

"!"

Keduanya terdiam, menyadari akan tindakan bodoh yang baru saja mereka lakukan.

"Mikhail?"

"Ya, Nona?"

"Aku ingin bercerita tentang kisah seorang pelacur dan tuan putri, padamu" lirih Naruto.

Sasuke melipat tangannya diatas meja, dan menajamkan pendengarannya. Sementara Naruto mengatur napas dan mulai bercerita.

TBC


Kepotongnya nggak enak ! *dirajam* *kabur*

Maafkan saya kalau nggak berkenan dihati… dipersilahkan mengkritik,dan kawan kawannya…

OMG! Sudah saya baca berulangkali ini fict… masihkah ada typo? (susah sekali mendeteksi yang namanya typo ituu *nangis lebay)

Saya udah janji mau bales review… x)


Uzumaki winda : Terimakasih sudah double review *hug*… terimakasih sudah penasaran juga x).. emang saya sengaja tuh bikin si sasu malu.. biar tau rasa *dendam kesumat

Nisca31tm-emerald : Terimakasih sudah mau review xD, waduh kalo disuruh update kilat enggak bisaa… para sensei saya di sekolah lagi gencar-gencarnya ngasih ulangan *marahmarah*…

Qieya, Sasunaru, Femnaru : Terimakasih sudah mau review… whee, bagus? Saya kira bakal jadi fict abal -.-.

Hyuzura Namikaze Hyuuga : Terimakasih sudah mau double review… sudah di update tuh chapter 2,3 xP.. bagaimana? Pertanyaannya terjawab atao tidak? Kalo belum terjawab yaa~ tunggu chapter 4 ! *maksa* *ditendang*.. itachinya lumpuuh~.. hehe.. kan kasian kalo orang lumpuh disuruh kerja..

Kiky : Terimakasih sudah mau review dan penasaran.. hehe… sudah saya update nih sampe 3…

Himayuume : Terimakasih sudah mau review.. mau beli? Boleh boleh… bayar 200jutaa xD

CCLoveRuki : Terimakasiih double reviewnyaa! Iyaaa! Anda benar sekalii *treak gaje*, tapi saya Cuma nonton iklannya doing.. khu..khu..khu.. ini sudah di update chapter 3nya xD. Kencannya naru sama sasu.. detailnya di chap depan… sudikah anda menanti fict ini?

Orange Naru : double-review! Arigatou~.. Ampuun, jangan bunuh sayaa.. dirumah saya masih punya anak kucing yang harus di kasih makan tiap harii *lebay*… Ini sudah di update chapter 3.. jelekkah x(? nggak ada sad story.. chapter depan ada, kok !

Himawari Ichinomia : TERIMAKASIIH.. double review ! *hug* xD ini sudah di update yang terbaru.. mengecewakan kaah?

Cendy Hoseki : Terimaksih sudah review + sudah penasaran xD… sudah di updateeee…

Fujoshi Nyasar : 200jutaa.. ayo.. dibeli…dibeli…dibeli… (sasu : woi.. lu kira gue barang dagangan apa!).. gimana? Ntar kalo pengen kencan, transfer ke rekening saya saja xP.. oyah.. terimakasih sudah reviu

Seo Hyo-Rin : Salam kenal juga, Hyo-rin xD… terimakasih sudah review.. sudah di update nih..

Kafuyamei Vanessa-hime : Aaa.. terimakassiiih sudah di review n fave x).. sudah di update nih x)..

Peaphro : Eee.. typonya bertebaran yaa -.-.. terimaksih sudah review xD

Mayyurie Zala : terimakasih mayyurie-san sudah sudi me review x)… yosh ! sudah di update x)

Zaivenee : terimakasih sudah review.. wew.. saya sendiri juga ngerasa aneh si sasu jadi klimis gitu.. hehe.. sengaja saya siksa *khukhu*

Vii no kitsune : terimakasih Vii-san sudah mau review… terimakasih semangatnyaa.. termakasiih.. terimaksiih *konser*

Namikaze Qieya : terimakasih sudah dibilang kereen ! yeey! Chapter ini sudah saya panjangiin.. masih kurang panjang, kah?

kuraishi cha22dhen : terimakasih sudah penasaraan xD, wah saya senang sekali… ini chapter 3 sudah di update…

Misyel : terimakasih sudah reviuu.. ini sudah di update..

Waw.. saya merasa terhormat sekali ketika FBSN team (Light) ikutan review.. terimakasih Light-san sudah membenahi fict ini xD.. khuu..khuu..khuu…

Ohya.. saya nggak

tau apa itu IC.. *maklum.. newbie*


Bagaimana dengan di updatenya chapter 4 ini? Jelekkah? Membosankan? Mengecewakan?

Berilah saya sepatah dua patah kata dalam review or flame xD

Kritikan dan saran sangat membantu…

Review ana menyumbang 1000 semangat saya untuk menulis…

Terimakasih sudah mau baca~

P e a r l