The Prince and The Lazyass
Chapter 2: The Start of the Friendship betweeen The Prince and The Lazyass.
[]
From: InoYamanaka
To: ShikamaruNara
Subject: ROSE-COLORED SCHOOL LIFE
Haaaai Shikamaru!
Di Konoha cerah seperti biasa dan sekolah akhirnya sudah dimulai. Semua orang menanyakan kamu, katanya mereka tidak percaya kalau kau bisa masuk Akademi Sunagakure yang terkenal, ahhahaha C:
Gimana kabarmu Shikamaru? Apa teman sekamarmu ganteng? Hihihi 3 xx
From: ShikamaruNara
To: InoYamanaka
Subject: NOT
Hahaha, fakta bahwa aku sekamar dengan orang paling menyebalkan di kosmos adalah membuktikan kalau kehidupan sekolahku rose-colored.
Troublesome.
From: InoYamanaka
To: ShikamaruNara
Subject: OOOOH sounds juicy
Oh, jarang aku mendengarmu benar-benar tidak suka dengan seseorang. Siapa laki-laki beruntung ini?
From: ShikamaruNara
To: InoYamanaka
Subject: Shut up, Ino.
Sabaku Temari. Stingy rich bastard. I mean, aku tahu kalau dia anak kepala sekolah, tapi dia sangat merepotkan. Dia selalu cari-cari alasan untuk ribut denganku.
From: InoYamanaka
To: ShikamaruNara
Subject: OMGGGGGGGGGGGGGGGGGGGGGGGG 3
SABAKU TEMARI? SABAKU "PRINCE" TEMARI? SERIUS? OMGGGG 3 3
Shikamaru! Aku fans beratnya dia! Kau tidak sadar ya, aku kan punya banyak posternya di kamar! OMGGG mintain tanda tangannya dong Shikamaruuuuuuuuuu ;DDDDDD
Aku tahu kalau dia sekolah di Akademi Sunagakure tapi aku nggak nyangka kalau kamu bakalan sekamar sama dia!
From: ShikamaruNara
To: InoYamanaka
Subject: RE: OMGGGGGGGGG
What the fuck, In|
"Emailing pacar, huh?"
Shikamaru berhenti mengetik di komputer.
"Oh, akhirnya kau pulang. Tumben masih sore sudah pulang," Shikamaru berkata sarkastik. Saat itu jam menunjukkan pukul 11 malam. Selama ini Temari selalu pulang diatas jam 12. Pasti dia pergi bermain dengan cewek-cewek, pikir Shikamaru sambil mematikan komputer, mentang-mentang anak kepala sekolah, dia bisa berbuat semaunya. Dia tidak mau membalas email Ino dengan keberadaan Temari di kamar. Dia pasti akan melayangkan berbagai macam komentar sarkastik.
Temari melempar tasnya begitu saja di lantai dan meloncat ke kasur. Shikamaru memandangnya dengan tidak percaya.
"Kau tidak gosok gigi dulu?" komentar Shikamaru seakan itu penting. Temari menatapnya dengan pandangan mencela.
"Bukan urusanmu, anak desa," tukas Temari sambil menutup tirai tempat tidurnya. Shikamaru memandang tas Temari yang terbuka karena dilempar. Isinya bertebaran kemana-mana. Sebuah agenda terbuka diatas kaki Shikamaru. Disana tertulis jadwal yang sangat padat. Shikamaru menggaruk kepala dan menghela nafas. Ternyata Temari memang benar-benar model. Pantas saja mukanya terlihat familiar. Shikamaru sempat berkunjung ke rumah Ino beberapa kali dan memang di kamar Ino terpajang banyak poster Temari. Hanya saja saat itu dia beberapa tahun lebih muda. Shikamaru merasa sedikit bersalah. Setelah beberapa saat, pelan-pelan dia merapikan barang Temari yang bertebaran.
Keesokan harinya, Shikamaru terbangun tanpa ingat kapan dia tertidur. Saat dia bangun, matahari sudah lumayan tinggi dan kamarnya terang benderang meski gorden jendela masih tertutup rapat.
"Shit," kutuk Shikamaru sambil melihat jam wekernya di meja. Jam sudah menunjukkan pukul 8 pagi, sehingga Shikamaru hanya punya waktu kurang lebih 15 menit untuk bersiap-siap. Dengan cepat Shikamaru melempar piyamanya dan menggantinya dengan seragam akademi. Hari ini dia takkan sempat sarapan.
Sabaku Temari pasti sudah berangkat dari tadi, pikirnya kesal sambil memandang tempat tidur Temari...yang tirainya masih tertutup rapat.
Huh?
Biasanya kalau Temari sudah bangun, tirainya terbuka dan selimut sudah dilipat rapi dibawah bantal. Tapi kali ini tirai tempat tidurnya masih tertutup rapat. Shikamaru juga menyadari bahwa tas Temari yang tadi malam dia rapikan masih tergeletak di samping meja belajarnya. Mungkinkah Temari masih tertidur?
"Sabaku-senpai?" panggil Shikamaru pelan dari balik tirai.
"Hnggh," sebuah suara terdengar dari balik tirai, tapi setelah itu hening lagi.
"Sabaku-senpai!"
Tidak ada respon.
Shikamaru yang tidak sabar membuka tirai Temari.
"Sabaku-senpai, sudah jam delapan lewat!"
Shikamaru terdiam melihat sosok Temari yang sedang tertidur. Temari tertidur dengan seragamnya seperti tadi malam. Setelah melihatnya dari dekat, Shikamaru baru menyadari bahwa Temari sangat tampan. Entah kenapa juga dia terlihat feminim bagi Shikamaru. Mungkin karena kulit Temari yang nyaris pucat, atau tulang dadanya yang sedikit menonjol dari kerah seragam...
Temari membuka matanya secara tiba-tiba. Mata hijau bertemu mata hitam.
"M-MESUM!" teriak Temari sebelum menonjok Shikamaru. Yang ditonjok terlempar mundur dengan keras.
"O-ow! Apa masalahmu, senpai?" teriak Shikamaru kesakitan.
"Ngapain kamu melihatku tidur?" balas Temari keras, wajahnya memerah.
"Aku hanya ingin membangunkanmu! Lihat ini jam berapa? Geez,thank you very much," Shikamaru kemudian meninggalkan kamar dan membanting pintu.
[]
"Kau bolos,"
Shikamaru menghirup rokoknya tanpa menghiraukan suara di belakangnya. Dia tahu tanpa melihat siapa yang berbicara. Sabaku Temari-senpai. Dia sudah terlalu sering mendengar nada bossy Temari, sampai-sampai omelan ibunya di telepon terdengar seperti suara nyanyian Ayumi Hamasaki.
"aku tidak tahu kau merokok. Kupikir kau hanya anak desa,"
Temari berdiri di belakang Shikamaru sambil berkacak pinggang.
"Aku bisa melaporkanmu ke ayah kalau kau bolos...,"
"Argh, maumu apa?" potong Shikamaru sambil memandang Temari kesal, "Memang hidupmu hanya untuk mencelaku ya? Kupikir orang seperti senpai punya waktu yang sangat berharga untuk dihabiskan daripada mencela anak desa sepertiku?"
Temari terdiam. Angin berhembus kencang di atap pagi itu, membuat rambut pirangnya berantakan. Dia menggigit bibirnya.
"Terima kasih, Nara," ucap Temari setelah beberapa saat sambil mengambil tempat di sebelah Shikamaru, "Dan maaf,"
Kini giliran Shikamaru yang terdiam. Sabaku Temari, sang Pangeran, mengucapkan dua kata yang Shikamaru takkan bermimpi dia akan mengucapkannya.
"Kau merapikan tasku tadi malam dan sudah susah payah membangunkanku...," tambah Temari pelan.
"Heh, kupikir kau tidak bisa mengucapkan dua kata itu," Shikamaru berkata sambil menghembuskan asap rokok. Wajah Temari memerah.
"Jangan membuatku mengucapkan kata itu lagi," kata Temari sambil memandang kearah lain agar Shikamaru tidak tahu kalau wajahnya memerah. Keduanya diam untuk beberapa saat.
"Sejak kapan kau merokok?" tanya Temari penasaran. Wajah Shikamaru seperti anak desa, ah, oke, anak baik-baik. Tidak pernah Temari mengira kalau Shikamaru merokok dan membolos ke atap sekolah seperti berandalan.
"Sejak Asuma-sensei meninggal," jawab Shikamaru sambil lalu.
"Asuma?"
"Ah, kau juga tidak kenal dia," tukas Shikamaru seraya mengambil rokok baru dari kotaknya. Temari memandangnya dengan kesal. Sepertinya Shikamaru senang bisa mempermainkan dirinya.
"Boleh aku minta satu?" katanya ragu. Shikamaru mengangguk karena dia sedang menyalakan rokoknya. Temari meletakkan rokok Shikamaru diantara bibirnya. Rasanya manis dan seperti mint. Shikamaru menyalakan rokok Temari dengan rokoknya. Wajahnya hanya berjarak beberapa centimeter dari wajah Temari. Temari dapat melihat dengan jelas dan menghitung bulu mata Shikamaru. Dia tidak jelek juga, pikir Temari, malahan...
Wajah Temari tiba-tiba memerah dan dia tersedak asap rokok.
"Uhuk, uhuk!" dia terbatuk-batuk. Mata Temari berair. Shikamaru memandangnya dengan terkejut, kemudian mulai tertawa terbahak-bahak.
"Kalau kau memang tidak pernah merokok, tidak usah sok," katanya sambil menahan airmata yang keluar karena tertawa.
"DI-uhk-AM!" bentak Temari malu sambil terus terbatuk-batuk.
Shikamaru terus tertawa, kemudian dia menepuk pundak Temari dengan pelan.
A/N
Also, thanks a lot for the reviews, maaf nggak bisa balas satu-satu, but I appreciate it very much ;) love y'all
