The Prince and The Lazyass
Chapter 3: The Prince's Melancholy
[]
"Ada hal yang bagus, Temari? Hari ini kau terlihat berbeda," komentar Miyazaki-san, fotografer yang memotret Temari hari ini untuk Vogue. Temari mengelap keringat di dahinya dengan handuk sambil menatap Miyazaki dengan tidak percaya. Sesi pemotretan mereka baru saja selesai. Hari ini pemotretan Temari mengambil tempat di studio Shibuya, dimana fotografer profesional, Miyazaki-san bekerja. Temari dan Miyazaki-san sudah mengenal satu sama lain sejak lama. Sebenarnya Miyazaki-san yang menyadari bakat Temari. Karena Miyazaki-san Temari bisa memulai karier sebagai model. Miyazaki-san adalah laki-laki berusia sekitar 30 tahun dengan rambut panjang.
"Masa? Aku selalu bagus, Miyazaki-san,"
"Hahaha, percaya diri seperti biasa huh Temari?" kata Miyazaki-san sambil tertawa, "Tapi hari ini benar-benar berbeda lho. Lihat, senyummu pun berbeda," Miyazaki-san menunjukkan foto-foto hasil jepretannya hari ini di depan Temari yang tersenyum puas, "Oh aku tahu, kau pasti ada kencan kan hari ini?"
Temari memuncratkan air yang baru dia minum. Jasnya yang mahal basah kuyup.
"ohhhhhh rupanya aku benar!" Miyazaki-san berkata riang, "Siapa orang beruntung yang berhasil mendapatkan hati sang pangeran?"
"Miyazaki-san!" bentak Temari salah tingkah sambil mengelap mulutnya dengan handuk buru-buru, "Bukan kencan!"
"Haaa? Bukan kencan? Tapi itu berarti setelah ini kau akan pergi dengan seseorang kan?" kejar Miyazaki-san dengan wajah tertarik.
Sekarang semua kru di studio memandangi mereka berdua. Temari memandang kesana kemari dengan wajah memerah.
"Miyazaki-san, awas ya!" kata Temari sambil berlari keluar studio dengan tergesa-gesa.
"Ahahahaha," Miyazaki-san tertawa, "Temari tambah manis, ya?"
Seluruh kru di studio ikut tertawa dan kembali ke pekerjaannya masing-masing. Beberapa dari mereka kemudian mengobrol soal Temari. Sejak pertamakali memulai karier sebagai model, Temari tidak pernah terlibat dalam skandal. Banyak model lain yang menyukai Temari, tapi semuanya tidak pernah digubris. Meskipun agak angkuh, Temari sebenarnya sangat baik sehingga hampir semua kru menyukainya. Belum lagi kalau Temari sedang bersama Gaara, adiknya yang paling kecil. Situasi di antara mereka sangat manis sehingga para kru jatuh hati. Gaara juga bekerja sebagai model, meski dia baru memulai karier akhir-akhir ini. Namun banyak orang memperkirakan bahwa tidak akan makan waktu lama sebelum kepopuleran Gaara mengejar Temari.
"Miyazaki-san!" manajer Temari, Matsuri, menegur Miyazaki-san, "Jangan menggoda Temari seperti itu...,"
Matsuri adalah gadis berusia 15 tahun yang merupakan teman masa kecil Temari. Temari sendiri yang memintanya menjadi manajer karena Matsuri adalah salah satu dari sedikit orang yang tahu bahwa Temari adalah perempuan. Selain itu Matsuri juga bekerja sangat bagus dan dapat dipercaya.
"Iya, aku tahu kok Matsuri-chan," Miyazaki-san tersenyum, "Dia sudah 17 tahun kan sekarang? Rasanya cepat sekali. Kariernya sebagai model laki-laki pun sepertinya hanya tinggal beberapa saat lagi. Dia sudah menjadi wanita sekarang,"
"Aku mengerti," kata Matsuri pelan dengan tatapan menerawang, "Tapi paling tidak sedikit lagi...,"
Stasiun Shibuya.
"Kau telat, senpai," Shikamaru berkata kepada Temari yang berlutut di depannya karena lelah berlarian. Temari memakai kemeja berwarna hijau dengan jaket dan topi yang hampir menutupi wajahnya.
"Hei, aku baru saja selesai pemotretan!" tukas Temari galak. Dengan sedikit terengah Temari memandangi Shikamaru dari atas sampai bawah. Biasanya di asrama Shikamaru hanya memakai T-shirt berwarna hitam dengan jeans tapi sekarang dia agak berpakaian lebih pantas. Dia tampak lebih tampan, pikir Temari.
"Yeah, tapi aku menunggu disini hampir setengah jam. Serius deh, senpai, kau benar-benar merepotkan," Shikamaru berjalan menjauh dari Temari. Temari mengikutinya dari belakang dengan cepat.
"Apa? Seharusnya kau bersyukur ya model terkenal seperti aku mau menemanimu ke toko buku!"
"Aku tidak minta kok,"
"Shikamaru!"
Seminggu yang lalu.
"Hei, apa itu buku Haruki Murakami?" Temari menunjuk pada buku yang ada di pangkuan Shikamaru. Anak laki-laki itu berhenti merokok sebentar. Saat itu sedang istirahat siang. Seperti biasa Shikamaru pergi ke atap untuk merokok. Akan tetapi sejak mereka mulai berdamai beberapa hari yang lalu Temari selalu mengikutinya untuk makan siang di atap. Shikamaru tidak protes, tapi dia bertanya-tanya apa Temari tidak punya teman sehingga dia terus mengikuti Shikamaru.
"Aah, ya, Kafka on the Shore," jawab Shikamaru malas sambil melambaikan buku bersampul putih tersebut.
"Bohong!" Temari mengambil buku itu dari tangan Shikamaru dan memandanginya dengan mata berbinar, "Aku fans Haruki Murakami! Baru kali ini aku lihat ada anak laki-laki yang membacanya...selain aku, tentunya," Temari buru-buru menambahkan.
"Karena aku anak desa, mungkin," kata Shikamaru sambil merebut kembali bukunya dari Temari.
"Hei, aku minta maaf, oke?" kata Temari dengan sedikit kesal, "Aku memang sempat brengsek padamu, tapi jujur, aku menyesal,"
Shikamaru meletakkan kaleng fantanya yang dingin ke wajah Temari.
"Aku tahu, berisik," kata Shikamaru. Temari memegang kaleng fanta tersebut dengan bingung, "Kau tidak tahu bercanda ya?"
Wajah Temari memerah. Dia meletakkan kaleng fanta Shikamaru di dahinya untuk menutupi wajahnya.
"Hei, Shikamaru. Sabtu depan buku terbaru Murakami akan dilepas di toko buku besar di Shibuya. Kalau kau mau aku bisa menunjukkan jalannya,"
Shikamaru memandang Temari dengan curiga, "Kau tidak berencana menjualku atau membuangku di jalan?"
"Tidak! Maksudku kau kan belum lama disini dan Baki-sensei menyuruhku menjagamu dan sebagainya...," Temari salah tingkah. Uh-oh, kenapa kedengarannya seperti undangan kencan? Shikamaru pasti takut diajak seperti itu, apalagi dia tahunya Temari adalah laki-laki...
"Ngapain kau salah tingkah begitu? Merepotkan sih, tapi aku memang sudah berencana membelinya sejak beritanya keluar," kata Shikamaru sambil memasukkan bungkus rokoknya ke saku dan memadamkan rokoknya yang terakhir. Pada saat yang sama bel tanda berakhirnya istirahat makan siang berbunyi.
"Jadi? Sampai jumpa Sabtu depan?"
Temari tersadar dari lamunannya, "A-a, ya, sampai jumpa."
"Heh," dan Shikamaru pun pergi.
Sejujurnya, sejak saat itu Temari tidak dapat berhenti memikirkan Shikamaru. Setelah dilihat-lihat, Shikamaru memang tidak jelek, cakep, malahan, dan dia sangat pandai. Temari punya banyak kenalan model laki-laki lain, mereka memang jauh lebih tampan daripada Shikamaru, tapi kebanyakan tidak berotak. Pikiran mereka hanya perempuan dan uang saja. Temari tidak suka mereka, makanya Temari jarang mau hangout dengan teman-temannya sesama model. Selalu saja habis pemotretan selesai, mereka main ke klub malam dan minum-minum. Temari punya banyak hal yang harus dilakukan selain hanya bermain-main.
Lama kelamaan Temari mengerti kenapa ayahnya ingin sekali Shikamaru masuk ke akademi Sunagakure. Dia memang kelihatan malas dan tidak niatan, tapi apabila Shikamaru benar-benar berusaha, apa saja bisa dia lakukan. Temari baru dengar (mencuri dengar, sebenarnya) dari guru matematika kalau Shikamaru baru saja mendapat nilai sempurna untuk ulangan pertamanya.
"Apa itu Prince Temari?" Temari mendengar bisik-bisik sekelompok anak perempuan yang hanya berjarak beberapa meter darinya. Temari menoleh. Ide yang buruk.
"Kyaaaaa, itu benar-benar Prince Temari!"
"Ugh," Temari mengutuk dalam hati dan menarik tangan Shikamaru.
"Shikamaru, lari!"
"Oh, hei!" Shikamaru berlari karena diseret Temari dengan kebingungan. Dia menoleh ke belakang dan satu batalyon fangirl Temari mengejar mereka dengan tatapan bernafsu. Beberapa dari mereka mengambil foto dengan handphone. Shikamaru tiba-tiba merasa nyawanya terancam.
"Prince Temariiiiiiiiiiiiii!"
"Lebih cepat, Shikamaru!"
Shikamaru memandang tangannya yang diseret dengan kencang oleh Temari. Pasti akan meninggalkan bekas, pikirnya. Tapi rasanya tidak jelek. Tangan Temari halus, seperti perempuan. Tiba-tiba hati Shikamaru berdebar. Huh?
Tentu saja tangannya mulus, dia kan model! Tidak mungkin dong Shikamaru berdebar gara-gara laki-laki!
"Shikamaru, lebih cepat lagi!" Temari memandang ke belakang untuk menatap Shikamaru, kemudian tiba-tiba dia tersenyum lebar. Shikamaru merasa wajahnya menjadi panas. Hatinya berdebar.
No way!
A/N Thanks thanks for the reviews! Banyak banget review yang masuk ke inbox tapi maaf aku tidak punya waktu untuk balas satu-satu...Yang pasti, terima kasih banyak untuk reviewnya. Aku sendiri baru baca satu buku Murakami, Kafka on the Shore. Belum bisa dibilang fans juga hahaha.
Next chapter: Saingan cinta Shikamaru? | The Lazyass' Love Rival
