Tanpa pikir panjang Hime mendorong pintu besar itu dengan sekuat tenaga, dan semerbak harum kue yang sejak tadi tercium oleh penciumannya semakin kuat. Hime tersenyum senang, pikirannya sudah dipenuhi oleh ratusan macam kue yang biasa ia lihat di tv.
"ah, ada yang datang..."
"jarang-jarang kita kedatangan tamu"
"kuharap ia bukan siswa yang tersesat..."
o00o
"Permi...si" Hime mengintip ragu sambil mengelilingkan pandangannya. ia tertegun sejenak, menatap 2 orang pria yang sedang menatapnya bingung. salah satu dari mereka, lelaki berambut hijau lumut gelap berjalan kearahnya, membuka pintunya dan mempersilahkan Hime masuk kedalam. Hime memberi salam dengan membungkuk. "ma, maaf. aku tak bermaksud mengganggu... hanya saja aku tadi tersesat dan aku mencium...AH!" Hime memekik begitu melihat sepiring kue kering yang terletak diatas meja.
Rupanya penciumanku benar... pikir Hime bangga dalam hati.
Pria berambut emas tertawa kecil. ia berdiri kesisi sofa lalu mengambil sebuah cangkir dan mengisinya dengan teh. "Kau mau kue? masuklah" ajaknya masih dengan tawa elegannya. Hime mengangguk ragu. "bolehkah?"
"tentu saja. kami jarang kedatangan tamu, jadi kalau ada kue seperti ini pasti tak akan habis. masuklah, cicipi kue kebanggaan sekolah ini" ucap pria berambut emas itu sambil tersenyum dan meletakan cangkir tadi diatas meja.
"siapa namamu?" pria berambut hijau lumut bertanya begitu hime menduduki salah satu sofa. "ah, maaf aku lupa memperkenalkan diri. namaku Hime, Hinagiku Hime dari kelas 1B"
Pria berambut emas itu bertepuk tangan sebentar lalu tersenyum sambil menopangkan dagunya. "namaku Chihaya dari kelas 2C dan pria disebelahmu Lee, dia kelas 3A"
Hime mengalihkan perhatiannya pada Lee, pria itu hanya diam sambil meneruskan minum tehnya. "ke..kelas 3A? anu, bukankah kelas A itu..."
"kelas khusus? iya benar. Lee ini peringkat 2 sekolah ini loh, dia juga wakil olimpiade matematika tingkat provinsi. hebatkan?" Chihaya tersenyum usil sambil menyesap tehnya. "lalu, Hinagiku-san..."
"Ah~ Hime saja cukup"
"baiklah, Hime-san. apa kau sudah memutuskan mau bergabung dg eskul apa?"
Hime berhenti mengunyah. ia menatap Chihaya bingung dan memiringkan sedikit kepalanya. "eskul?"
"kau wajib masuk minimal satu eskul jika ingin bersekolah disini. kalau tidak, silahkan angkat kaki" Lee berkata dg nada dingin tanpa menoleh. "hey! hey! Lee, sudah kubilang jangan bicara dengan nada ketusmu. lihat! kau menakutinya..."
"a..aku tidak bermaksud..." Lee menunduk. terlihat penyesalan diwajahnya. Hime tertawa pelan melihatnya. "jadi?" Chihaya bersuara, terdengar memastikan. Dengan satu gelengan pelan dari kepala Hime, Chihaya menuai seutas senyuman diwajahnya. ia berdiri lalu berjalan perlahan kearah rak buku yang terletak tak jauh dari sofa.
"coba kulihat... apa hobimu?" Chihaya terlihat mencari-cari disela-sela buku.
Hime berpikir sejenak, "hmm. aku suka makan kue buatan Ookami. lalu aku juga suka berpose didepan cermin, aku tak suka membaca! itu melelahkan. lalu aku juga tak suka bersih-bersih, memasak dan berkebun. tapi aku suka menghitung dan menulis, walaupun kata Ookami tulisanku tidak begitu bagus"
Lee menarik nafas panjang, dia tidak lebih dari seorang putri manja yang bergantung pada pelayannya. anak kecil! . Lee menoleh kearah Chihaya, tampaknya pria berambut keemasan itu telah menemukan apa yang ia cari. Sebuah buku besar dengan logo sekolah mereka, dibagian bawahnya terdapat simbol S dan tulisan kecil yang melingkari hurup S itu.
"kalau kau mau membantu gadis ini mencari eskul yg cocok, jangan berharap, Chihaya!" Lee mengambil sepotong biskuit lalu melahapnya. "klub berkebun, klub pecinta buku, klub olahraga dan bahkan klub memasakpun tak akan cocok untuknya"
"kalau begitu dia harus masuk School" Chihaya menutup buku yang dipegangnya sambil tersenyum melihat ekspresi melongo Lee yang terkejut mendengar kata-kata Chihaya. "ka..kau bercanda!"
"tidak"
Lee beranjak dari sofa yang ia duduki lalu menghampiri Chihaya, merangkul pundaknya lalu berbisik. "ta..tapi gadis ini kan..."
"kalian tidak sopan!"
sebuah suara terdengar dari balik punggung Lee dan Chihaya, disusul dengan dua tangan yang mengarah ketelinga mereka. memijitnya perlahan lalu menariknya dg sangat keras. menghasilkan jeritan keras Chihaya dan Lee.
"SA...SAKI!"
"A..AAW! ADUH ADUH TELINGAKU! ADUUUUH..."
To Be Continued
