Previous Chapter
Saki beranjak dari sofa, "ah, satu lagi! Chihaya!"
"y..ya?" Chihaya tertegun, merasakan ketegangan melihat tatapan dari wajah Saki yang membuatnya membujur kaku. Saki mengambil sepotong kue kering dari dalam toples, lalu melahapnya.
"aku mau kau merayu Ookami, untuk menjadi Chef School"
o00o
Ookami menarik sebuah kursi dan meletakan tasnya begitu ia sampai disebuah restauran junk-food dekat sekolah. Ia menarik nafas panjang lalu menduduki kursi yang baru saja ditariknya. ia menopang dagunya sambil melirik kearah wanita berambut biru yang kini cemberut kearahnya.
"Aku minta maaf karena sudah menjauhkanmu dari kue-kue itu, Hime..." ucapnya pelan sambil menghemmpaskan pandangannya kearah lain. "cih, itu sudah kuucapkan 10 kali sejak kejadian tadi siang" ucapnya setengah berbisik.
Hime mendengar hal itu, ia semakin cemberut, bahkan kini ia menyilangkan tangannya didada dan menolak untuk menatap Ookami. Ookami hanya menarik nafas panjang lalu beranjak dari kursinya. "Aku mengerti, apakah dua burger dan cola cukup?"
Hime melirik kearah Ookami yang kini menatap daftar menu besar yang menggantung di kepala penjaga kasir dari kejauhan. "dan waffle dengan eskrim coklat dan topping nanas, oh! oh! jangan lupa kentang goreng!"
"Kau yakin mau memakan semuanya? sebentar lagi makan malam, dan aku berencana membuat pasta malam ini"
Hime terdiam sejenak mencoba mengingat bahwa tadi disekolah Ookami mengajaknya makan malam bersama dirumah. kedua tangannya tampak sedang menimbang sesuatu.
"Kalau begitu, satu burger saja cukup, dan tak perlu pakai topping nanas"
Ookami tak menggubrisnya, ia berjalan kearah antrian.
"psst! psst!" sebuah suara berbisik mencoba meraih perhatian Hime.
Hime menoleh kekanan dan kekiri, memastikan tak ada seorangpun yang berbicara padanya.
"Hey, Hinagiku Hime-san!"
Hime mendapati seorang pria berambut keemasan melambai kearahnya, Hime menoleh kekanan dan kekiri lagi, mencoba memastikan tak ada seorang pun disana yang bernama sama dengannya. begitu yakin pria itu tengah memanggilnya, Hime berdiri dari kursinya dan mendekati pria itu.
"Maaf mengganggumu, tapi... apakah kau mau bergabung dengan School?" pria itu menyodorkan sebuah brosur dengan fotonya disalah satu sisi. Hime tampak bingung. "Maaf, anda siapa?"
"Kau tak mengenalku? Maaf, namaku Chihaya salah satu seniormu disekolah dan aku diperintahkan oleh Saki untuk memintamu menjadi anggota School"
Hime menggaruk pipinya "Saki? oh, kamu pasti salah satu teman Sa-chan, kan?"
belum sempat menjawab, sesosok bayangan membuat pandangan Chihaya gelap. bayangan itu merangkul Hime tepat dilehernya lalu merebut brosur yang ada ditangan Hime.
"Maaf, Chihaya, tapi Hime tak akan bergabung dengan klub manapun tanpa seizinku, termasuk klub bodoh kecilmu itu"
Ookami meremas brosur yang ia pegang lalu menyerahkannya pada Chihaya yang dipenuh kebingungan. Ookami menarik Hime mundur lalu mengambil tasnya dari meja dan berjalan keluar dari ruangan.
"TUNGGU DULU!" jerit Hime histeris saat mereka keluar dari restauran tersebut. cukup keras hingga membuat orang-orang menatap mereka dan terdiam. "Bagaimana dengan waffle dan eskrim coklatnya? lalu burger dan kentang gorengnya?"
"Kita pulang sekarang, aku lupa bawa uang"
"heeeee?" Hime menjerit tak percaya kearah Ookami. "Tapi...Tapi..."
"Kau boleh makan jatah makan malamku, sebagai gantinya"
"Benarkah?"
Ookami hanya mengangguk lalu berjalan sambil membawa tas di punggungnya. dan Hime mengikuti dengan riang dibelakangnya.
setelah beberapa menit berjalan, Ookami berbelok kearah pasar, membuat Hime bingung. Ookami berhenti disalah satu kios penjual daging dan tampak sibuk memilih.
"Ookami, kau sedang apa?"
"Memilih daging, aku agak bosan menggunakan potongan ayam untuk saus pasta"
"lalu uangnya?"
"cukup untuk membeli daging, tapi tak akan cukup untuk membelikan makanan di restauran"
Hime tak mengerti apa maksudnya, namun ia memilih untuk tetap diam dan mempercayakan apa yang diucapkan Ookami. Hime menanamkan prinsip, apapun yang dikatakan Ookami adalah benar, karena ia jauh lebih pintar daripada dirinya sendiri.
Begitu sampai di apartemen Ookami, pria berambut hitam itu bergegas menuju dapur dan mengenakan celemek putih yang digantungnya didinding. Pria itu meraih kenop pintu laci dan mengeluarkan beberapa peralatan memasak.
"Hime, bisa bantu aku melap meja?" Ookami berteriak dari arah dapur, "Kalau kau tak mau aku akan menambahkan garam pada makananmu!" ancam Ookami. Ookami tahu betul, Hime bukan tipe pecinta rasa asin atau bahkan garam. yang disukainya hanya makanan manis. Tanpa menunggu lama, Hime memasuki dapur dan meraih sebuah lap meja yang diberikan Ookami.
kurang lebih 20 menit berlalu, dan makanan siap dihidangkan. Ookami meletakan dua buah piring diatas meja dan menghidangkan pasta diatasnya. tanpa menunggu lama, Hime meraih garpu yang tadi disusunnya saat melap meja. "Selamat makan!"
Ookami hanya diam, ia mengambil garpunya dan mulai makan dengan perlahan.
"Hey Ookami, sebenarnya School itu apa?"
Ookami tak menoleh, ia tetap menatap makanannya. "kau tak perlu tahu, itu hanyalah tempa berbahaya bagi wanita"
Hime mengangguk pelan, "aku hanya penasaran, kenapa mereka memaksaku untuk bergabung... dan tadi, entah bagaimana caranya Sa-chan menelponku dan menawari apakah aku mau bergabung"
"Lebih baik kau tolak" ucap Ookami, lagi-lagi tanpa menoleh.
"Dan Sa-chan bilang, aku akan makan kue enak setiap hari jika aku bergabung"
"semua itu omong kosong"
"Dan aku menerimanya"
Ookami menjatuhkan garpunya diatas sepiring pasta yang sedang dimakannya, ia menatap Hime dengan mata terbuka lebar, seperti tak mempercayai apa yang ia dengar.
To Be Continued
