Tittle : Flying Without Wings
Pair : Draco x Harry
Warn : OOC, alur kecepeten, dsb :P
-ooooo-
...Aku terbang tanpa sayap...
...Dan itu lah kebahagiaan yang kau bawa untukku...
-ooooo-
"Kemana saja kau, Draco?" Tanya Blaise yang baru saja masuk ke kamarnya. Disana terdapan Draco yang sedang merebahkan dirinya dengan muka yang ditutupi oleh lengannya sendiri.
"Tidak apa-apa... Aku hanya malas untuk makan malam." Jawab Draco yang masih menutupi wajahnya. Blaise menghela nafas dan duduk ditepi ranjang milik Draco.
"Ini untukmu, setidaknya perutmu harus diisi sesuatu." Ujar Blaise yang sambil menyerahkan sebuah coklat kesukaan Draco disamping Draco. Tetapi, Draco masih tak mau menggerakkan badannya sedikitpun dan hanya mengucapkan terima kasih pada Blaise.
Blaise pun akhirnya beranjak dan mulai berjalan untuk mengganti pakaiannya. Tapi sebelum ia beraktifitas lebih lama, Draco mencoba memanggil nama sahabatnya itu dengan pelan. Blaise menoleh lagi ke arah Draco.
"Ya?" Tanya Blaise bingung.
"Apa.. Potter benar-benar sudah tak ada?" Tanya Draco dengan hati-hati agar isakannya tak terdengar.
"eh? Tentu saja.. 7 bulan lalu tepatnya. Bukankah kau sudah tahu? Tapi kenapa masih tanya?" Balas Blaise heran. Draco menggerakkan lengannya dan mengubah posisinya menjadi duduk.
"Kau tak bohong kan?" Tanya Draco yang sambil menatap Blaise. Lelaki yang ia pandangi itu terkejut ketika melihat mata kelabu milik sahabat yang ada dihadapannya ini kini begitu sayu.
"Draco, kau baik-baik saja?" Blaise langsung berjalan kembali ke ranjang milik Draco.
"Aku bilang, kau tak bohong kan?" Tanya Draco yang sambil menatap tajam ke Blaise. Terdengan keluhan nafas yang berasal dari Blaise.
"Tentu tidak, Draco. Untuk apa aku berbohong?" Jawab Blaise. Draco kembali menenggelamkan wajahnya. Keheningan kembali terjadi dan akhirnya Blaise beranjak kembali. Tanpa jawaban dari Draco pun, Blaise sudah tahu mengapa wajah Draco kalang kabut seperti itu.
-ooooo-
Draco termenung memandang bulan yang sedang menyinari langit malam, sambil memakan coklat Honeydusk pemberian Blaise tadi. Kedua sahabatnya, Blaise dan Nott sudah terlelap dalam tidurnya. Draco masih bertanya-tanya tentang ingatannya yang tiba-tiba saja menghilang... Kepergian Harry pun sangat mengganggu fikiran Draco. Ia menyesal telah melupakan moment terpenting itu. Ia sangat ingin melindungi Harry dan menjaganya. Karena bagi Draco, keberadaan Harry pun sudah cukup membuatnya bahagia, walaupun ia tak bisa berada disamping Harry... Hanya melihat Harry bahagia saja sudah cukup bagi Draco.
Draco memang bodoh, apa yang dilakukannya sangat bertolak belakang dengan apa yang ada di hatinya. Hal itu hanya ingin membuat Harry selalu mengingatnya, selalu tahu kalau dalam hidupnya terdapat seseorang yang bernama Draco Malfoy. Ia mencoba menahan diri ketika dirinya melihat Harry yang sedang berduaan bersama Cho, maupun Ginny. Ia tak rela melihat pemandangan itu... Tapi apa lagi yang harus dilakukannya? Draco belum cukup berani untuk mengungkapkan perasaannya itu.
Memendam cinta selama 6 tahun bukanlah waktu yang sebentar. Draco telah banyak merasakan kepedihan dalam hidupnya, ia muak dengan kehidupannya. Menjadi Death Eater, berada di arah yang berlawanan dengan orang-orang yang disayanginya, dan semuanya. Hanya dua alasan yang mampu membuatnya bersemangat untuk hidup, Harry Potter, dan Sahabat-sahabatnya.
Tak lama kemudian, anak tunggal bermarga Malfoy itu menghempaskan tubuhnya ke ranjang. Menutup kelopak matanya, dan mengucapkan sesuatu sebelum ia terjatuh dalam tidurnya.
"Good night, Harry."
-ooooo-
Kicauan burung mulai terdengar, menandakan bahwa pagi hari telah tiba. Pagi ini pagi yang sangat cerah, terkecuali bagi Blaise dan Theo.
"Kemana perginya si pangeran Slytherin itu sih!" Tanya Theo panik ketika tahu kalau Draco Malfoy sudah tak ada di kamar mereka. Blaise mulai mencari dan menanyakannya ke beberapa orang, namun tak ada yang tahu. Theo pun membantu mencarinya tapi tetap saja tak bertemu dengan Draco. Akhirnya mereka menghentikan aktifitas pencarian sang pangeran Slytherin itu, dikarenakan kelas pertahanan ilmu sihir hitam akan dimulai. Hermione dan semuanya pun bingung kenapa Draco tak bersama Blaise dan Theo.
"Hei, kalian tak usah panik gitu... Bukankah kali ini 'dia' yang bergerak?" Tanya Pansy. Ron, Hermione, Blaise, Theo, Astoria, dan Ginny saling memandang satu sama lain.
-ooooo-
"There you are.." Sapa gadis berambut pirang dari asrama Ravenclaw itu. Lelaki yang disapanya menghela nafas dan mendongakkan kepalanya untuk melihat ke arah sumber suara.
"Ada perlu apa, Lovegood?" Tanya lelaki berambut pirang itu. Luna segera duduk disampingya sambil tersenyum.
"Hihihi, tidak ada. Hanya ingin meng-relax-kan diri saja~" Jawab Luna yang sambil masih tersenyum. Tawa Luna sempat membuat Draco merinding sesaat.
"Oh." Jawab Draco singkat. Jarang sekali ia berdua seperti ini dengan Luna. Luna yang eksentrik sangat susah didekati, tapi Draco sama sekali tak keberatan untuk bersahabat dengannya. Dan ia akan marah betul jika masih ada orang-orang yang berani menjahili Luna Lovegood lagi.
"Tumben kau bolos masuk kelas, Draco?" Tanya Luna yang kini sedang menopang dagunya. Draco melirik tajam ke Luna, ingin memprotes karena perempuan yang sudah tak mempunyai ibu itu telah memanggilnya dengan nama depannya. Namun niatnya itu dibuang bersamaan dengan helaan nafasnya. Wajah bingung Luna tergambarkan, walaupun ia masih tersenyum.
"Sama seperti mu, mau me-relax-kan diri saja..." Jawab Draco dengan nada yang datar.
Luna memandang lelaki yang ada disampingnya itu dengan tatapan yang penuh arti. Meskipun Draco tak menatap ke arah Luna, tapi ia tahu kalau Luna sedang memandanginya.
"Kau tahu Draco..." Gumam Luna yang memecah keheningan. Tangannya digerakkan dan mengelus rambut Draco.
"Kata Daddy, jika seseorang mempunyai masalah... Maka janganlah dipendam. Karena akan berbahaya bagi diri kita." Jelas Luna. Merasa risih dengan sentuhan Luna, ia menepis tangan Luna dari kepalanya. Tapi Luna malah tersenyum diperlakukan seperti itu.
"Lalu? Apa hubungannya?" Tanya Draco kesal. Luna tertawa kecil mendengar kalimat Draco, entah apa yang lucu dari kalimat Draco barusan.
"Kata Daddy, jika seseorang sedang mempunyai masalah, kita bisa mengetahuinya dari sorot mata mereka..." Jawab Luna lagi. Ia semakin menatap Draco dalam-dalam. Draco pun menatap mata Luna. "Dan aku bisa melihatnya Draco, kau sedang mempunyai masalah kan?" Lanjut Luna. Kalimat Luna cukup membuat Draco melebarkan matanya, dan ia langsung membuang muka.
"Aku tak apa-apa, Lovego.."
"Luna. Panggil saja aku Luna, Draco."
Lagi-lagi, kalimat Draco diputus seenaknya. Draco hanya mengangguk dan menyetujui permintaan Luna.
"Kau bohong Draco, cobalah ceritakan masalahmu padaku, siapa tahu aku bisa membantu?" Tanya gadis Ravenclaw itu. Kedua mata abu-abu itu saling menatap satu sama lain. Akhirnya, Draco pun kalah dalam pertandingan tatap-menatap itu.
"Aku hanya sedih, tak bisa menyelamatkan orang yang aku cintai... Aku memang bodoh." Draco menenggelamkan wajahnya ke lututnya.
"Kau berhasil melindunginya Draco... Kau tak bodoh." Jawab Luna tersenyum. Draco menegakkan wajahnya kembali dan menatap Luna dengan bingung...
"Memang kau tahu siapa yang ku maksud?" Tanya Draco setengah terkejut.
"The boy who lived, Harry Potter." Jawab Luna. Draco sama sekali tak percaya bahwa Luna mengetahuinya, bahkan sebelumnya Hermione juga menyadarinya. Apakah insting perempuan itu kuat sekali?
"Well, he's not lived again." Gumam Draco dengan nada yang lirih. Tak lama setelah Draco mengatakan kalimat itu, sebuah jitakan mendarat dikepalanya. Hampir saja Draco mau marah ke Luna, tapi niatnya terhenti ketika menatap wajah sedih Luna.
"He's still the boy who lived, Draco! He Lived in our Heart! In our memories!" Protes Luna. Pangeran Slytherin itu menatap Luna dengan tatapan yang tak mudah untuk dideskripsikan. Namun akhirnya remaja keturunan bangsawan itu tersenyum mendengar kalimat Luna.
"Kau benar, dia masih hidup... Di dalam diri kita." Ucap Draco yang sambil memegang dadanya. Luna mulai tersenyum lagi.
"Boleh ku bercerita sesuatu padamu, Draco?" Tanya Luna. Pemuda yang ada disampingnya mengangguk pelan.
"Suatu hari, ada seseorang yang sedang mencari sesuatu, satu hal yang membuatnya lengkap..." Ucap Luna yang sedang memulai ceritanya.
"Seseorang itu terus mencari hal yang sangat special itu, namun ia tak pernah menemukannya... Dan pada akhirnya, ia menemukan hal itu di tempat yang tak ia duga." Draco mulai serius dengan cerita Luna.
"Tapi, ketika ia telah menemukannya... Ia malah menyangkal kedatangan hal itu. Ia mengacuhkannya. Dan tanpa disangka... Hal yang dia cari dari dulu menghilang lagi dari sisinya. Hanya penyesalan yang ia hadapi. Ia berusaha mencari hal itu lagi, dan ketika ia menemuinya kembali... Ia begitu menghargai kedatangannya." Luna telah menyelesaikan ceritanya.
"Menurutmu, hal apa yang dicari oleh seseorang itu?" Tanya Luna ke Draco. Namun, Draco tak mempunyai ide untuk menjawab pertanyaan Luna. Ia hanya menaikkan bahunya, tanda tak mengerti.
"Hihi, hal itu... Tak lain tak bukan, adalah kebahagiaannya, Draco~" Jawab Luna yang sambil tertawa.
"Setiap orang mampu menemukan kebahagiaannya masing-masing. Bagiku, kebahagiaanku ada pada daddy, dan teman-temanku." Luna meneruskan kalimatnya dengan mata yang berbinar-binar.
"Bagaimana dengan mu Draco? Apa kau telah menemukan kebahagiaanmu sendiri?" Tanya Luna ke pangeran Slytherin itu. Draco tercekat mendengar pertanyaan Luna.
"Entahlah..." Balas Draco bimbang. Luna menepuk bahu Draco.
"Kalau begitu, cepatlah kau menemukannya... Karena jika kau telah menemukannya, maka kau akan merasakan sesuatu yang sangat hebat!" Tutur Luna dengan antusias.
"Merasakan seperti apa?" Tanya Draco bingung. Luna tersenyum dan mulai beranjak dari posisi duduknya. Ia memajukan langkahnya satu langkah dan merenggangkan tangannya. Ia menutup matanya dan mendongakkan kepalanya menghadap langit, merasakan angin yang berhembus menerpa wajah pucatnya.
"It feels like..." Luna mulai membuka kelopak matanya, dan menoleh kebelakang. Menatap bola mata kelabu milik pemuda bangsawan itu.
"You're flying without wings..." ujar Luna yang sambil tersenyum.
TBC
-ooooo-
(A/N)
Whoaaa! Akhirnya jadi juga nih chapter, padahal niatnya mau buat sampe dua chapter aja. Tapi sampe tiga aja deh XDD hehe. Maaf ya yg chapter pertama sempat terkecoh kalau itu Oneshoot. Penyakit pikun Rika mulai kambuh sih.. Wkwkwk jadinya lupa ngasih catatan kalau masih berlanjut XDD
Dan maaf kalau agak aneh,, soalnya Rika baru pertama kali buat TTwTT Jadi, mohon bantuannya ya :) kritikan bisa lewat riview maupun message XD
Arigatou~ m(_ _)m *bows*
