Disclaimer: JK. Rowling
Warning: OOC, alur kecepeten, typo, DMHP, slash, dsb :P
-ooooo-
...Karena kau special bagiku...
...Hal sekecil apapun yang kau lakukan padaku...
...Aku akan merasakan terbang tanpa sayap...
...Karena siapa tahu, hal kecil itu...
...Akan membuatku memilikimu sepenuhnya...
-ooooo-
Draco Malfoy, pangeran dari asrama Slytherin itu kembali merenungkan diri sambil menikmati udara di tepi danau tersebut. Angin yang menerpa tubuh Draco cukup membuat Draco kedinginan, namun Draco sendiri tak menghiraukannya. Gadis Ravenclaw yang bersamanya beberapa saat tadi telah berpamitan dengan Draco karena ia bilang masih ada urusan yang harus ia kerjakan. Gadis eksentrik dari Ravenclaw itu telah menyadarkan Draco akan suatu hal yang penting, dan sepertinya Draco sangat berterima kasih pada Luna Lovegood maupun Hermione Granger yang telah menjadi curhatan hatinya secara tidak sengaja.
Draco tersenyum pahit menatap pemandangan yang ada di hadapannya. Biasanya Draco melihat 'dia' disini, bahkan seingat dia mereka saling mengobrol di tempat ini.
Ya, dia. The-boy-who-lived, atau Harry Potter.
Ia mengingat di tahun pertamanya memasuki Hogwarts. Disanalah pertama kali Draco melihat Harry Potter, pemuda berkaca mata dengan bekas luka sambaran petir didahinya. Mata hijau itu berhasil menarik sepasang mata kelabu milik pemuda bangsawan itu. Mungkin dari sini lah, awal ketertarikan dari seorang Harry Potter bagi Draco Malfoy. Senyuman Harry, sifat Harry, perilaku Harry, kebaikan Harry, semua yang ada pada dalam diri Harry membuat Draco jatuh cinta padanya.
Waktu terus berjalan hingga Draco telah memasuki usia remajanya. Perasaannya terhadap Harry semakin kuat dan meningkat, Ia telah mengenal rasa cemburu. Ia cemburu dengan kehadiran Cho, Luna, Hermione, dan Ginny. Ia kesal karena Harry dikelilingi oleh wanita-wanita cantik itu. Bahkan bukan hanya dengan wanita saja yang ia cemburui, Cedric dan Ron pun juga!
Ketika Harry sedang berduaan dengan seseorang, Ingin sekali rasanya Draco memisahkan mereka berdua. Namun ia terus menerus mengurung niatnya itu. Karena itu adalah perbuatan yang sangat tidak Malfoy-ish baginya.
Draco menghela nafas, sudah berapa kali di mengeluh? Mungkin sudah yang kebelasan kalinya.
Lagi-lagi Draco merasa bodoh karena telah menjadi Death Eater, telah bertingkah yang tidak baik pada teman-temannya, dan telah menyakiti Harry. Ia malu ketika trio Gryffindor itu telah menyelamatkan hidupnya dua kali. Ia malu kepada Hermione dan Luna karena telah cemburu pada mereka, padahal sebenarnya mereka sudah tahu perasaan Draco terhadap Harry. Kebaikan mereka membuat hati Draco mencair, setelah perang besar ia ingin berdamai dengan yang lainnya. Dan Hogwarts pun akhirnya tak ada lagi perang asrama, Hogwarts telah menjadi satu.
Memang ada yang aneh baginya, kenapa hanya Harry yang tak ia ingat setelah perang besar itu? Apa mungkin... alam bawah sadar Draco ingin melupakan kepedihan karena telah ditinggalkan oleh Harry? Apa ini alasan kenapa ia tak bisa mengingat tentang Harry? Karena sugestinya sendiri? Atau memang terbentur sesuatu? Draco pingsan saja sudah membuatnya bingung tak karuan, ditambah hilangnya beberapa ingatan tentang Harry Potter. Draco merasa seperti orang gila sekarang.
Pemuda berambut pirang itu selalu berharap dalam hatinya, kalau saja ia diberi kesempatan untuk bertemu dengan Harry sekali lagi saja. Ia akan berperilaku sesuai dengan perasaannya, ia akan merubah dirinya, ia akan membuang sifat egoisnya, dan ia akan berusaha untuk selalu jujur dengan apa yang ada dalam hatinya. Tapi, apa permohonannya itu dapat dikabulkan? Mengingat orang yang dicintainya sudah tak ada lagi.
"Malfoy! Apa yang kau lakukan disini?"
Ah, great. Draco telah mulai mendengar suara milik orang yang dicintainya. Tapi syukurlah Draco bisa mendengar suara itu walaupun itu hanya imajinasinya.
"Hei, Malfoy!" Draco membuka matanya dan bertemu dengan sepasang bola mata emerald yang sedang menatap kearahnya. Draco menghela nafas sambil memutarkan kedua bola matanya menghadap kebawah. Hebat sekali imajinasi mu, Draco! Yang tadinya hanya sebuah suara, kini muncul sesosok pemuda yang dicintainya tepat dihadapannya.
"EARTH TO MALFOY!" teriak pemuda berambut hitam itu sambil mengguncang-guncangkan bahu milik pangeran Slytherin yang ada di depannya. Sang pangeran Slytherin membuka matanya lebar-lebar, merasakan guncangan yang diberikan oleh imajinasinya itu. Tunggu... Jika ini hanyalah imajinasi belaka, kenapa dia bisa menyentuhnya?
"Potter..." Draco masih menatap sepasang mata emerald milik Harry dengan tatapan yang tak percaya. Harry Potter, pemuda yang gugur dalam perang besar melawan Voldemort itu... Kini ada di hadapannya?
"Kau... Benar-benar Harry Potter?" tanya Draco yang masih tak berkedip satu kalipun karena terlalu serius memandang pemuda dihadapannya itu.
"Apa yang kau katakan? Tentu saja ini aku, bodoh!" balas Harry sambil menjitak kecil kepala Draco. Biasanya, Draco sudah protes kalau diperlakukan seperti ini. Jangankan Protes, sekarang saja sepertinya otaknya telah berhenti berkerja. Draco tersenyum lebar, membuat Harry Potter mematung karena cengiran anak bangsawan itu.
"Ha... Haha, hahaha. HAHAHA!"
What. The. Hell.
Harry benar-benar dibuat bingung oleh tingkah Draco. Tawa Draco yang membahana membuat bulu kuduknya merinding. Sangat tidak Malfoy-ish.
"Er... Malfoy?" tegur Harry dengan pelan. Tawa Draco yang mulai mereda membuat Harry sedikit tenang dan berani untuk menegurnya lagi. Draco menatapnya. Tapi kali kini bukan dengan tatapan bingung, melainkan dengan senyumannya yang jarang sekali dilihatkan pada orang-orang.
"It's really you, Potter! It's really you!" ujar Draco yang sambil memeluk Harry dengan sangat erat, sepertinya Draco benar-benar tak ingin melepaskan pemuda berambut coklat itu selamanya. Kaget, senang, sedih, semua menjadi satu dalam diri Draco. Pemuda yang dicintainya akhirnya ada disisinya, dihadapannya kembali, dalam pelukkannya.
"M-Malfoy! Apa yang kau lakukan!" Harry sangat terkejut diperlakukan seperti itu oleh Draco. Ia melepas pelukan Draco dan menatap Draco dengan lekatnya.
"Kau masih hidup kan Potter! You're still alive!" ucap Draco dengan sangat bahagia. Matanya memancarkan kebahagiaan yang tiada tara. Harry tak mampu mengucapkan satu kata pun ketika melihat beberapa butiran kristal yang jatuh dari kelopak mata milik pangeran Slytherin itu. Draco kembali memeluk Harry, kali ini berbeda... Tak ada perlawanan dari Harry.
"Aku tahu kau masih hidup Potter, aku tak percaya dengan omongan mereka yang telah mengatakanmu telah tiada." Draco menciumi rambut Harry. Tangannya mengelus lembut pada rambut hitam milik Harry. Baru kali ini ia bisa merasakan aroma Harry sedekat ini.
"A-aku? Tiada! Meninggal maksudmu?" tanya Harry yang kaget mendengar kalimat Draco. Draco pun mengangguk.
"Tapi lupakan lah, yang penting sekarang kau ada disini," ucap Draco dengan nada yang bergetar karena menahan tangisannya. Kali ini ia mengeluarkan air matanya karena bahagia, bukan sedih karena telah ditinggalkan. Draco melepas pelukannya, dan mencium kening Harry. "Aku mencintaimu, Harry." akhirnya, Draco Malfoy mengungkapkan cintanya pada Harry Potter! Dan sukses membuat Harry mematung! Ia menatap Draco dengan pandangan yang susah dijelaskan dengan kata-kata. Bagi Harry, hari ini adalah hari yang sangat membingungkan baginya... Perubahan sifat Draco yang sangat drastis, ditambah dengan pengakuan cintanya!
"A-aku..." oh, lihat lah wajah Harry sekarang! Begitu merah seperti tomat. Mungkin hanya di depan Draco ia rela memperlihatkan wajahnya yang seperti ini. Atau hanya Draco yang bisa membuat wajah Harry seperti ini? Entahlah, yang jelas sekarang Draco sudah tak tahan lagi melihat wajah Harry yang baginya begitu imut. Tangannya meraih dagu Harry, wajahnya mulai mendekati wajah Harry, dan dengan perlahan kelopak mata Harry mulai tertutup. Jarak mereka semakin lama semakin dekat... Dan...
-ooooo-
"Draco! Syukurlah kau sadar~!" teriak Pansy yang sambil memeluk Draco. Lagi-lagi, ia berada di st. Mungo... Padahal bukankah tadi dia...
"Kau pingsan lagi Malfoy, di tepi danau..." jelas Ginny.
"Kau benar-benar aneh Malfoy! Akhir-akhir ini kenapa kau pingsan terus sih... Bikin khawatir saja!" protes Ron.
Draco melongo mendengar kalimat teman-temannya itu. Pingsan? Di tepi danau?
"Bagaimana bisa! Aku sama sekali tak mengingatnya kenapa aku bisa pingsan..." Bantah Draco. Teman-temannya hanya menghela nafas. Draco mengingatnya jelas, kondisinya hari ini sehat. Apalagi tadi, disampingnya... Terdapat sesosok Harry Potter. Kenapa ia pingsan?
"Profesor Snape dan Luna yang telah menemukan mu, Malfoy!" Jelas Hermione. "Profesor Snape khawatir karena kau tak hadir dalam kelasnya, dan dengan terpaksa Luna mengantarkannya untuk bertemu dengan mu karena hanya Luna yang tahu keberadaanmu. Namun ketika mereka telah sampai, mereka telah melihatmu yang sudah tertidur lemas didekat pohon." lanjutnya lebih detail.
"Lalu... Dimana Potter? Tadi aku bersamanya di tepi danau." tanya Draco. Semua orang memandangnya dengan tatapan heran. Ada juga yang memandangnya dengan tatapan cemas.
"Apa maksudmu, Draco?" Tanya Luna sambil memegang bahu Draco.
"Harus berapa kali kami memberi tahu mu, Malfoy? Harry Potter sudah..."
"SHUT UP!"
Kalimat Ron terputus dengan teriakan Draco yang tiba-tiba. Ruangan itu menjadi hening seketika.
"Kalian bohong! aku tahu kalian bohong," pancaran mata kelabu Draco terlihat begitu marah. "Aku bersama Potter tadi siang! Sudahlah, tak ada yang perlu disembunyikan!" lanjut Draco dengan penuh emosi. Semua orang memandang Draco dengan cemas. Ada yang tidak beres dengan diri Draco.
"Draco, aku tahu ini berat bagimu... Tapi cobalah terima kenyataan." Pansy mencoba memberikan saran ke Draco. Namun sarannya itu hanya dibalas dengan tatapan tajam dari Draco. Alhasil, Pansy hanya menundukkan wajahnya.
"Aku tahu ini berat Malfoy, tapi inilah kenyataannya! Kau harus menerimanya dengan lapang dada." tambah Hermione. Draco menundukkan kepalanya, mencoba mengendalikan emosinya.
"Tapi aku melihatnya dengan jelas! Dan aku bisa mendengar suaranya dengan sangat jelas, aku juga bisa menyentuhnya, aku yakin itu nyata!" Draco masih mencoba untuk meyakinkan teman-temannya. Namun yang didapat hanya tatapan iba.
"Itu tidak mungkin, Malfoy!" Bantah Ginny.
"Tapi itu yang aku alami tadi, Weasley! Aku tak berbohong!" Draco membalas perkataan Ginny dengan sangat emosi.
"Draco..." tutur Luna yang masih menggemgam bahu Draco. Pemuda bermata kelabu itu menatap mata Kelabu milik Luna.
"Kau percaya padaku kan, Luna?" Tanya Draco dengan penuh harapan. Ia berharap kalau Luna mempercayainya. Tapi sayangnya, tak ada satu pun jawaban yang keluar dari mulut Luna. Kenapa? Kenapa tidak ada yang mau mempercayainya?
"Er... Pardon me, Malfoy. Tapi, sepertinya ada yang salah dengan otak mu..."
"AKU TAK GILA, DAMN IT!" dengan sigap tangan Draco menarik kerah baju milik Ron dan tangan kirinya telah mengepal sangat kuat, siap untuk meninju wajah Ron. Namun...
"He's already died, Mr. Malfoy." tangan kiri Draco mendadak tak bisa digerakkan karena ditahan oleh sang pemilik suara barusan. Draco menoleh kebelakangnya, dan mendapatkan sosok yang sangat ia kenal... Severus Snape.
Draco menepis genggaman Severus dengan kesal.
Sebenarnya ada apa ini!
Aku tak gila! Jelas-jelas ia nyata! Aku bisa merasakan hembusan nafasnya, aku bisa mendengar suaranya, aku bisa mencium aromanya, dan aku bisa menyentuhnya! Ini nyata, ya... Ini nyata! Ini bukan halusinasi! Aku tak gila! Kenapa semua orang bilang kalau dia sudah meninggal!
Draco terus berteriak dalam batinnya. Ia yakin bahwa bertemu dengan Harry Potter adalah sebuah kenyataan, bukan khayalan semata.
"Detensi untukmu Mr. Malfoy, karena sudah tak mengikuti kelasku. Cepat ke ruanganku sekarang juga." perintah Profesor Snape pada Draco. Dan tanpa basa-basi lagi, Ia segera keluar dari ruangan itu.
Draco melepaskan kerah baju Ron dengan cara mendorongnya. Ron tampak kesal dan mencoba untuk membalas perbuatan pemuda keturunan bangsawan itu, namun Hermione dan Ginny menahannya. Sedangkan pangeran Slytherin itu mulai berjalan keluar ruangan sambil menutup pintu dengan emosi. Semua yang ada diruangan itu terdiam sesaat.
"Sepertinya kau terlalu berlebihan, Ron!" protes Hermione yang sambil memukul Ron menggunakan buku yang ia pegang sedari tadi.
-ooooo-
Draco telah tiba diruangan Profesor Snape. Ia dipersilahkan masuk dan duduk di hadapan Profesor Snape. Draco dimintai penjelasan kenapa dirinya tidak hadir dalam kelasnya, dan Draco pun menjelaskan semuanya dengan apa adanya. Termasuk penjelasan ketika ia bertemu dengan Harry Potter. Kelihatan sekali wajah sedih Severus melihat murid kesayangannya itu.
"Dia sudah tidak ada, Mr. Malfoy. Semua orang sudah tahu itu..." Bahkan Severus Snape pun menyangkalnya.
"Tapi tadi aku benar-benar melihatnya dengan mata kepalaku sendiri, sir! Sungguh, aku tak bohong! Dan ini bukanlah imajinasiku!" Draco membantah Profesor Snape. Ia benar-benar tak mengerti dengan semua ini.
"Mr. Malfoy, saya tahu perasaan mu. Saya pun turut berduka cita dengan wafatnya Mr. Potter. Tapi kita tak boleh terpuruk... Karena hal itu akan sia-sia dan hanya membuat Harry Potter sedih." Severus mencoba untuk menyadarkan muridnya itu. Ia telah menganggap Draco sebagai anaknya, layaknya Harry juga. Ia tak mau Draco terganggu dengan ketiadaan Harry.
"Apa yang kau rasakan terhadap Harry Potter, Mr. Malfoy?" Ujar Severus tiba-tiba. Draco mendelik mendengar permintaan gurunya itu. Tidak lagi, jangan bilang gurunya yang satu ini juga mengetahui perasaannya.
"Tentu saja dia rival bagiku, sir." Draco mencoba menjawab pertanyaan Profesor Snape dengan hati-hati, ia tak mau gurunya yang satu ini mengetahuinya. Severus menatap Draco untuk beberapa detik. Mungkin ia sedang mencari kejujuran dari sepasang mata kelabu milik pemuda berambut pirang itu.
"Masih berani menyangkalnya? Mr. Malfoy?" uh oh, Draco menelan ludahnya. 3 orang sudah yang tahu tentang perasaanya. Seandainya ada lubang disekitar sini, pasti Draco masuk ke lubang itu dari pada berhadapan dengan Snape. Tapi setelah difikir-fikir lagi, tak ada salahnya kalau ia harus jujur dengan perasaannya.
"Well I... love him, sir." ucap Draco yang sambil menatap lurus gurunya itu. Severus mengangguk dan beranjak dari tempat duduknya. Ia menghampiri Draco sambil menepuk pundak muridnya itu.
"Well done, Mr. Malfoy," Draco masih tetap berdiam diri. "Detensimu kali ini adalah, ungkapkan perasaanmu tentang Harry Potter di depan teman-temanmu." Lanjut Severus.
Draco melebarkan matanya. Dia? Mengungkapkan perasaannya? Di depan semua orang! Demi Merlin! Tiga orang yang tahu perasaannya saja sudah cukup membuatnya ingin berada di sebuah jurang!
"But, sir!"
"Tidak ada tapi-tapian Mr. Malfoy, ku tunggu kau di Ruangan Bersama Slytherin." perintah Severus. Dengan terpaksa Draco menyetujuinya. Ia berjalan lesu menuju Ruangan Bersama Slytherin yang terletak di bawah danau Hogwarts.
Ruang Bersama Slytherin berbentuk panjang, rendah, dan dihiasi oleh cahaya lampu berwarna hijau gelap. Ia terus melangkahkan kakinya, dan akhirnya ia bertemu dengan mereka . Profesor Snape, Pansy, Theo, Blaise, Hermione, Ron, Ginny, Luna, dan Astoria yang sedang duduk tenang menantinya. Jantung Draco berdetak dengan cepat! kini waktunya iya harus jujur. Raut wajah teman-temannya bingung, sebenarnya apa yang akan dikatakan oleh Draco Malfoy?
"Ceritakanlah pada kami, Draco Malfoy." ujar Severus.
Draco menarik nafasnya dalam-dalam. Rasa ragu nya ia keluarkan bersamaan dengan helaan nafasnya. Ia menatap semua mata teman-temannya satu persatu. Dan tak lama Draco menutup matanya sejenak, mencoba untuk mengumpulkan secercah keberanian. Dan akhirnya, Draco membuka kelopak matanya secara perlahan. Bibir merah milik Pangeran Slytherin itu mulai bergerak mengucapkan sesuatu.
"Baiklah, akan ku ceritakan."
TBC
-ooooo-
(A/N)
Sungguh payahnya diriku yang tak pintar mendeskripsikan sesuatu TTwTT *dilemparin tomat*
Apa alurnya masih kecepeten? Ternyata diundur lagi,, wkwkwk Tadinya dikira chap. 3 Selesei,, tapi gak seru ah *halah* Kayaknya Chap. 4 baru tamat XDD
Hayoo~ Hayooo~~ Apakah Harry masih hidup? Hmm? XDD
Chap. 4 mudah2a besok aku publish,, hehehe :D
Nih harusnya fict aku upload dari pagi! Tapi ternyata Baka Aniki belum selesei juga minjem modem! Cih =3= *digebukin aniki*
Eh ya! Kalau mau gambar2 Drarry add aja fb Rika! Rika ngoleksi gambar2 Drarry~~ Juga Tom/Dan! XD *gakadayangtanya*
hehe, yaudahlah. Makasih dah mau baca ^^
Kritik dan saran selalu diterima~~ Arigatou Minna-san~~! *bows*
