Disclaimer: JK. Rowling buat Harry Potter-nya, dan Westlife buat Flying Without Wings-nya ^^
Warning: OOC, alur kecepeten, typo, DMHP, slash, dsb :P

-ooooo-
...Nah, bagiku yang selalu bangun disampingmu...
...Untuk melihat sang matahari terbit di wajahmu...
...Untuk mengetahui kalau aku bisa mengatakan aku mencintaimu...
...Di berbagai kesempatan dan di berbagai tempat...
...Kau tempat dimana hidupku dimulai...
...Dan kau juga tempat dimana hidupku berakhir...
...Aku terbang tanpa sayap...
...Karena kau adalah hal yang sangat special bagiku...
-ooooo-

Semua mata yang ada di Ruang Bersama Slytherin menatap tajam pada sepasang mata kelabu milik pemuda bangsawan itu. Mereka tak percaya dengan pengakuan yang keluar dari mulut seorang Draco Malfoy. Tapi, tidak semuanya... Ada beberapa yang sudah mengetahuinya dan malah tersenyum bangga mendengar pengakuan dari Draco barusan.

"Jadi, kau jatuh cinta dengan... Harry?" tanya Ron yang sepertinya masih tidak percaya dengan pernyataan Draco di beberapa menit yang lalu. Draco pun mengangguk dengan tegas.

"Yes, I love him. With all of my heart, Weasley," jawab Draco dengan sangat yakin. Ron tak sanggup menatap mata kelabu milik Draco. Dan ia pun beralih menatap seseorang yang ada disampingnya, Ginny Weasley, yang tak lain adalah adiknya sendiri.

Ginny, sahabat sekaligus kekasih... Er, baiklah, mantan kekasih Harry Potter ini juga tak kalah kagetnya dengan Ron Weasley, kakaknya. Bagaimana tidak? Baginya, Draco Malfoy merupakan rival terbesarnya Harry. Tapi ternyata Draco sangat mencintainya, Ginny bisa melihat dari sorot pandangan mata pemuda Slytherin itu. Matanya begitu jujur, dan sangat meyakinkan kalau ia begitu mencintai Harry Potter. Bahkan dalam hati Ginny pun berkata, mungkin rasa cintanya pada Harry Potter kalah dengan rasa cinta Draco terhadap Harry. Apalagi Draco telah memendam perasaan cintanya selama bertahun-tahun. Sebagai perempuan, ia bisa merasakan bagaimana perihnya perasaan pangeran Slytherin itu.

"Kenapa kau sampai begitu mencintainya, Malfoy?" akhirnya gadis berambut merah panjang itu bertanya agar ia tak penasaran lagi. Draco menatap Ginny, bukan tatapan tajam sebagai musuh lagi... Ia menatapnya dengan sangat lembut, seperti sedang melihat saudaranya sendiri.

"Karena ia adalah sumber kebahagiaanku, sumber dimana aku bisa bertahan untuk menjalani hidupku yang sangat muak ini..." ucap Draco dengan senyuman yang amat sangat tulus. Masih senyuman yang sama, ia menatap Luna dan berkata "Dan hanya Harry lah yang bisa membuatku terbang... tanpa sayap."

"Maksudmu, seperti menggunakan Firebolt?" tanya Ron yang dibalas dengan tatapan tajam dari semua orang. Ron pun tertegun dan sweatdrop. "Baiklah, aku hanya bercanda," lanjutnya. Dan semua mata kini kembali serius lagi ke Draco. Luna memberikan senyuman lebar ke Draco, ia lega karena Draco telah menemukan sumber kebahagiaannya, telah menyadari kalau Harry Potter adalah seseorang yang sangat berharga dalam hidupnya.

"Dan aku benar-benar minta maaf padamu, Weasley. Karena telah menyebutmu dengan Weasel," Ron kaget dengan permintaan maaf Draco. Walaupun ia tahu sebelumnya Draco pun sudah minta maaf padanya, tapi ia kira permintaan damai dari Draco hanyalah bualan semata. Tapi ternyata tidak, pangeran Slytherin itu adalah lelaki yang sangat baik. Ia benar-benar tak menyangka dengan sisi Draco yang sebenarnya, ia masih sangat kaget. "Dan kau Granger, karena sudah mengataimu mudblood, I'm really sorry," Hermione tersenyum lebar mendengar kalimat mantan sahabatnya itu. Keheningan kembali terjadi, Severus tersenyum melihat murid-muridnya yang akur seperti ini. Padahal dulu Gryffindor dengan Slytherin sangat susah untuk disatukan. Tapi syukurlah semua berkembang dengan baik dan menjadi damai.

"Ron..." ujar Ron yang memecahkan keheningan, "Panggil saja aku Ron, Draco," lanjutnya. Draco sedikit tak percaya dengan apa yang didengarnya barusan, apakah Ron kini sudah resmi menjadi sahabatnya? Draco pun mengangguk dan dihiasi dengan senyumnya yang sangat menawan. Hermione tampak sangat senang kalau kekasihnya itu akhirnya mempercayai Draco yang benar-benar ingin menjadi sahabat mereka.

"Oh! Dan jangan lupa kau harus memanggilku dengan Hermione juga, Draco!" Hermione pun angkat bicara meminta Draco untuk memanggilnya dengan nama depannya. Lagi-lagi, Draco mengangguk dengan bahagia. Ginny juga meminta hal yang sama seperti kakaknya dan Hermione, dan Draco mengabulkannya dengan senang hati. Ia tak menyangka kalau orang-orang yang ada dihadapannya kini sangat mendukung perasaannya. Ia kira dengan hanya menyimpan perasaannya sendiri akan lebih baik, ternyata tidak. Karena kita membutuhkan orang lain untuk mengerti diri kita, untuk selalu memberikan dukungan pada kita, karena dalam hubungan yang sangat erat itu... Mampu memberikan kita kebahagiaan. Karena kebahagiaan kita adalah kebahagiaan mereka juga, begitu pun sebaliknya.

Tanpa sengaja mata kelabu milik Draco bertemu pandang dengan mata silver milik Astoria, gadis yang dulu pernah menyatakan cintanya pada Draco. Terlihat penyesalan yang amat dalam tersorot dari mata kelabu milik Draco. Namun Astoria memberikan senyuman sebagai balasan dari permintaan maaf Draco. Senyuman yang bisa diartikan dengan 'Tidak apa-apa, asal kau bahagia, aku pun turut bahagia.' Draco tersenyum melihatnya, ia bersyukur karena Astoria juga bisa menerima perasaannya terhadap Harry.

Ia menyadari hal baru, bahwa persahabatan juga termasuk harta yang berharga baginya. Seandainya dari dulu ia bisa merasakan kehangatan semua ini, mungkin Draco akan lebih menghargai hidup dari dulu. Ia sangat berterima kasih dengan Severus, karena dengan detensinya itu ia dapat menemukan arti sebuah persahabatan dan kejujuran.

"Aku akan selalu mencintainya. Selamanya. Andai kata aku sudah tak mengingat wajahnya lagi, atau sudah tak mengingat suaranya lagi, aku akan selalu mengingat satu hal... Bahwa aku selalu mencintainya," semua orang di Ruangan Bersama Slytherin itu terharu mendengar pernyataan Draco.

Draco tersenyum pahit, "Tapi sekarang," ia tak mampu untuk melanjutkan kalimatnya karena ia tak bisa menahan butiran kristal yang akan segera jatuh dari kelopak matanya. Dengan segenap tenaga yang ia kumpulkan, ia melanjutkan kalimatnya, walau dengan nada yang bergetar karena menahan tangis, "Aku tak akan pernah melihatnya lagi, karena Harry Potter sudah tiada, Aku..."

"SIAPA YANG TIADA!"

Semua yang ada diruangan bercahayakan cahaya hijau itu mematung dengan kehadiran sesosok pemuda bermata hijau emerald dari Gryffindor setelah ia keluar dari jubah tak terlihat sepeninggalan ayah dari pemuda berkacamata itu. Terlebih dengan Draco, matanya yang merah seperti ingin menangis itu kini terbuka sangat lebar.

"HARRY! Sudah kubilang jangan keluar dulu sebelum kuberi petunjuk untuk kau keluar!" protes Ron yang sambil berlari ke arah Harry, yang tidak lain berada di belakang Luna. Terlihat Hermione yang sedang menutupkan wajahnya dengan tangan kanannya. Sedangkan Luna beserta Ginny hanya menghela nafas. Pansy, Theo, Blaise, dan Astoria sweatdrop melihatnya. Severus pun juga membenamkan kepalanya di tangan kanannya. Sedangkan Draco? Ia masih berfikir keras, apakah ini nyata? Ilusi? Mimpi? Begitu banyak pertanyaan yang ada di pikiran Draco sekarang.

Tanpa menghiraukan Ron, Harry segera melangkahkan kakinya dengan cepat ke tempat dimana Draco berada. Ia menarik Draco dari tempat duduknya dan membuatnya berdiri, "Aku disini Mal- maksudku, Draco! Aku belum tiada! Siapa yang bilang begitu!" protes Harry. Situasi ini benar-benar membuat Draco bingung setengah mati. Harry Potter muncul dihadapannya kembali! Ditambah dengan Harry yang memanggil nama Draco dengan nama depannya. Sebelum Draco sempat mengucapkan sesuatu, Harry sudah memeluknya dengan erat. Sangat erat.

"Aku belum tiada! Dan aku juga mencintaimu, Draco!" Draco masih terdiam, makin mematung. Sedangkan yang lain, termasuk Severus, juga diam seribu bahasa melihat pemandangan yang belum pernah dilihat mereka seumur hidup. Harry Potter, memeluk seorang Draco Malfoy, ditambah dengan panggilan barunya terhadap Draco! Sungguh keajaiban langka!

"Pot- uhm, Harry?" Draco melepaskan pelukan Harry dan memegang kedua pipi mulus milik Harry, "Benarkah itu... Kau?" Harry mengangguk dengan kuat. Dan tanpa ba bi bu lagi, Draco mengucapkan sebuah mantra.

"PETRITICUS TOTALUS!"

Otomatis semua yang ada diruangan itu, minus Severus, sudah tak mampu lagi untuk bergerak. Ron yang sudah mau kabur pun juga berhenti di tengah jalan. Dengan modal deathglare kebanggaannya, Draco menatap semua sahabatnya.

"Jelaskan. Semua. Apa. Yang. Terjadi. Sekarang. Juga," perintah Draco. Pangeran dari Slytherin itu memang tak suka jika dibohongi, apalagi kebohongan yang hampir membuatnya gila ini.

"Finite Incabtatum," dengan ucapan mantra dari Severus, semua orang yang berada disini telah terbebas dari mantra yang baru saja Draco ucapkan, "Kalian duduk kembali, dan jelaskanlah semua pada Draco," Draco mendelik kesal pada Severus karena telah menghentikan mantranya. Ia, Harry, dan yang lainnya pun segera duduk kembali.

Mereka semua tampak tegang. Draco tak habis fikir kenapa mereka semua tega memperlakukannya seperti ini. Terlebih lagi, kenapa Severus juga ikut-ikutan!

"Ini semua ide Hermione dan Pansy!" adu mereka serempak sambil menunjuk ke arah Pansy dan Hermione. Mereka berdua pun langsung kaget.

"H-Hei! Tapi kalian juga kan setuju dengan ide kami, berarti kalian juga harus bertanggung jawab!" protes Hermione, "Iya betul! Itu kan hanya pemikiran kami, dan kalian juga lah yang menyusun rencana itu kan!" tambah Pansy. Karena Draco tak mengerti dengan pembicaraan mereka, ia meminta Hermione dan Pansy untuk menjelaskan semuanya. Mereka pun setuju.

Awalnya, Hermione sedang mengobrol dengan Pansy. Pertamanya sih ngobrol tentang hal yang biasa, tapi lama-lama Pansy membicarakan soal Draco yang terlihat seperti suka sama Harry dari tingkah lakunya. Hermione pun setuju! Akhirnya mereka juga menanyakannya pada sahabat-sahabatnya masing-masing. Pansy meminta pendapat dari Astoria, Blaise, dan Theo. Pihak Slytherin sangat setuju dengan pendapat Pansy! Mereka juga merasakan kalau Harry mendapatkan perlakuan khusus dari Draco. Hermione pun meminta pendapat dari Ron, Ginny, dan Luna. Mereka juga setuju dengan pendapat Hermione. Walaupun pada awalnya, Ron tak bisa menerima pernyataan Hermione itu. Tapi 3 wanita itu membujuknya agar Ron setuju.

Keesokan harinya, mereka berkumpul untuk menyusun rencana agar sang pangeran dan sang pahlawan itu bisa bersatu dan saling jujur dengan perasaannya.

Beberapa hari kemudian, mereka sedang mencari waktu yang pas untuk memulai aksi mereka. Ron dan Blaise membuat ramuan yang bisa membuat orang pingsan untuk beberapa jam kedepan. Dimasukkannya ramuan itu ke dua buah roti, dan menaruhnya di piring makan siang milik Harry dan Draco secara diam-diam. Setelah dua pemuda yang terkenal itu memakan rotinya, semua orang yang kemarin terikat rapat untuk mempersatukan mereka berteriak keberhasilan di dalam batinnya. Dan setelah makan siang usai di Aula Besar, Draco dan Harry menuju tempat favourite mereka, yup! Di tepi danau. Lagi-lagi, suara kemenangan bergeming di batin sahabat-sahabat mereka berdua.

Mereka mengikuti Draco dan Harry secara diam-diam ke tepi danau. Dan tak lama lagi, ramuan itu bereaksi! Harry dan Draco sudah tak sadarkan diri. Berhubung efek dari ramuan itu hanya untuk setengah jam, Ron, Blaise, dan Theo segera mengangkat mereka berdua ke St. Mungo. Tentu saja dengan mantra "Fidelius" agar mereka tak terlihat.

Setelah menemukan kamar yang kosong, Draco direbahkan di kasur sedangkan Harry di kasur sebelah. Harry masih terikat dengan mantra Fidelium dan masih tak terlihat. Disini, Hermione menggunakan mantra "Obliviate" untuk menghapus beberapa memori tentang Harry Potter pada Draco. Mereka sengaja tak menghapus memori Harry karena rencananya bakal tidak ampuh nantinya. Sebelum mereka berdua bangun, Hermione menggunakan mantra "Ennervate!" untuk menyadarkan Draco. Pemuda pirang itu pun akhirnya tersadar, dan disini lah awal keberhasilan mereka. Hermione yang mengobrol di tepi danau bersama Draco pun merupakan bagian dari susunan rencana mereka! Misi pertama sukses!

Dan malam hari pun tiba. Mereka tak takut kalau nantinya Harry dan Draco bertemu di Aula besar untuk makan malam. Karena sahabat-sahabat Draco tahu kebiasaan Draco yang sedang tidak mood, yaitu tak pernah mau makan. Dan tebakan mereka benar! Sahabat-sahabatnya Harry pun tak perlu repot-repot agar mencegah Harry untuk ke aula besar. Karena Blaise yang kasihan melihat Draco tak memakan apapun, akhirnya ia mengorbankan coklat Honeydusknya untuk Draco. Tak disangka, setelah bertemu dengan Draco habis makan malam, ia begitu kaget dengan sahabatnya yang kelihatan kacau seperti itu. Jujur, ia tak tega membohongi sahabatnya kalau Harry sudah tiada, tapi demi kesatuan mereka... Akhirnya ia berbohong juga.

Keesokan paginya, Theo dan Blaise dikagetkan dengan tempat tidur Draco yang kosong. Mereka berdua segera mengasih tahu Pansy begitu pun juga Astoria dan akhirnya mereka mencari Draco bersama-sama. Tapi itu tidak bertahan lama, karena kelas pertahanan terhadap ilmu sihir hitam akan segera dimulai. Dengan terpaksa mereka menyudahi aktifitas mencarinya itu. Hermione, Ginny, dan Ron pun juga tak melihat Draco.

Tiba-tiba Pansy baru menyadari sesuatu. Ia baru ingat kalau sekarang giliran Luna! Yaampun, kenapa ia bisa lupa dengan kebiasaan Draco yang kalau tidak mood tak pernah mau ngapa-ngapain selain menenangkan diri. Hal ini membuat mereka menghela nafas lega. Luna pun menjalani tugasnya dengan sangat baik! Misi ke dua, sukses!

Harry bingung dengan perlakuan Ron yang selalu mengajaknya kemana-mana, ia akhirnya merasa jenuh juga. Pemuda berkacamata ini sangat merindukan sosok pangeran dari asrama Slytherin itu. Ia bingung kenapa sejak kemarin pemuda itu tak ada? Bahkan dikelas Severus pun ia tak hadir. Akhirnya secara diam-diam ia keluar untuk mencari Draco, tentu saja tempat yang difikirkannya adalah tempat favourite mereka berdua, tepi danau.

Ron berteriak histeris ketika menyadari kalau Harry sudah tak ada disampingnya. Ia mendapat pukulan dari Hermione ketika ia mengadu kalau Harry sudah tidak ada dan mengaku kalau ia sedang lengah saat itu. Hermione, Ron, Ginny, Pansy, Blaise, Theo, dan Astoria pun segera berlari ke suatu tempat, kemana lagi tujuan mereka kalau bukan ke tepi danau.

And great! Disana mereka melihat Harry dan Draco sedang berdua! Mereka sungguh panik. Bagaimana ini? Batin mereka.

"STUPEFY!"

Dengan sebuah mantra, Draco dan Harry langsung tak sadarkan diri. Tapi Hermione dan kawanannya bingung, siapa yang mengucapkan mantra itu? Mereka saja baru tahu ada mantra yang seperti itu. Ternyata, pas mereka menoleh kebelakang... Terdapat sesosok Severus Snape bersama Luna Lovegood. Padahal tadi Luna sedang kena detensi dari Severus, ternyata Luna hanya di beri detensi untuk mengasih tahu dimana Draco. Ketika Severus melihat pemandangan dimana Draco yang sedang ingin mencium Harry, dengan refleks Severus langsung mengucapkan mantra itu. Ia sebagai ayah baptis dari Harry Potter tak rela melihatnya berciuman dengan Draco Malfoy. Tapi setelah mendengar penjelasan dari Hermione, Severus berubah fikiran dan menerima perasaan Draco. Severus pun membantu rencana mereka agar Harry dan Draco bisa bersatu.

Untuk yang kedua kalinya, Harry dan Draco dibawa ke St. Mungo. Hanya saja kali ini mereka berbeda kamar, Severus membawa Harry ke kamar lain. Sedangkan Draco diurus oleh sahabat-sahabatnya. Hermione mau menghilangkan ingatan Draco tentang pertemuannya dengan Harry tadi, namun hal itu dibantah oleh Severus. Mereka pun menurut saja. Sedangkan ingatan Harry yang bertemu Draco tadi dihapus oleh Severus. Ternyata kelengahan Ron membuat keberuntungan juga.

Setelah Draco bangun, mereka langsung memasang wajah serius. Padahal dalam hati mereka ingin tertawa melihat Draco yang ngotot kalau ia bertemu dengan Harry di tepi danau tadi. Mungkin jika mereka ikut sebuah pementasan Drama Teater, mereka bakalan sukses besar karena aktingnya yang sangat meyakinkan.

Ron yang sedikit jahil pun mencoba memanas-manasi Draco dan tak menyangka kalau reaksinya sampai ingin meninjunya. Untung saja Severus datang di saat yang tepat dan menyuruh Draco untuk keruangannya karena detensi.

Dan akhirnya mereka berkumpul disini, dari awal memang sudah ada Harry Potter di ruangan bersama Slytherin ini. Ron dan Hermione bilang ke Harry kalau mereka ingin memperlihatkan sesuatu yang special padanya tetapi ada syaratnya, yaitu ia tak boleh keluar dari invisible cloak nya apapun yang terjadi. Kecuali kalau Ron memberinya aba-aba untuk keluar dari jubah itu. Akhirny a mereka pun deal. Tapi tidak disangka, Harry keluar dari jubahnya! Karena ia kaget mendengar kata tiada dari mulut Draco.

"Jadi, begitulah," jelas Hermione dengan nada yang ragu, "Ku harap kau tidak marah, Draco."

Draco menghela nafas dan mengangguk kecil, "Baiklah, ada baiknya juga kalian melakukan ini," jawab Draco sambil tersenyum kecil. Draco benar, dengan kejadian yang mereka rencanakan pada akhirnya berjalan dengan baik dan penuh makna.

Mereka semua pun meminta maaf pada Harry yang dengan terpaksa membuatnya pura-pura meninggal. Cukup menyesalkan juga bagi Draco karena Harry melupakan kejadian tadi di tepi danau. Apalagi memori yang sudah dihapus tak bisa dikembalikan lagi.

"Tapi kalian bisa memulai membuat memori yang lebih indah lagi bukan?" tanya Ginny pada mereka berdua. Harry dan Draco pun mengangguk dengan tersenyum.

-ooooo-

Makan malam di aula besar telah usai, dan sekarang adalah waktu istirahat bagi Draco. Ia menyandarkan dirinya di sebuah pohon dekat tepi danau. Ia menutup matanya merasakan dinginnya angin malam.

"Keberatan jika aku disini, Draco?" tanya seorang pemuda dengan sambaran petir didahinya. Draco tersenyum ketika pemuda itu mucul.

"Tentu saja tidak, love," jawab Draco dengan lembutnya. Ia menarik tangan Harry dan memposisikannya di depan pemuda pirang itu, "Biarkan kita seperti ini ya," pinta pemuda bermata kelabu itu sambil melingkarkan tangannya di pinggang milik pahlawan dari Gryffindor itu. Harry pun menyetujuinya dengan sebuah anggukan.

Draco menopangkan dagunya di bahu milik Harry. Ia makin mempererat pelukannya, seakan tak mau melepaskannya sedetik pun. Kali ini, Draco benar-benar tak mau kehilangan Harry. Ia akan menjaga sumber kebahagiaannya itu, selamanya.

"Aku mencintaimu, Harry," ujar Draco yang sambil mencium pipi mulus milik Harry dari belakang.

"Aku juga mencintaimu, Draco," balas Harry yang sambil mempraktekan kembali apa yang dilakukan oleh Draco tadi. Jarak mereka pun semakin mendekat, Draco menuntun kepala Harry agar ia semakin mendekat dengan bibir merah miliknya. Dan dengan perlahan, akhirnya bibir Draco bertemu dengan bibir merah milih Harry. Pangeran Slytherin itu begitu senang ketika Harry membalas ciumannya.

Setelah selesei dengan aktifitas sebagai pasangan baru itu, Harry dan Draco pun tertawa kecil.

"Aku akan selalu mencintaimu, Harry," ucap Draco tiba-tiba, "Karena hanya kaulah, yang mampu membuatku terbang tanpa sayap," lanjutnya yang sambil mencium kening Harry.

-ooooo-

Setiap orang sedang mencari sesuatu
Satu hal yang membuatnya lengkap
Kau akan menemukannya di tempat yang asing
Tempat dimana kau tidak memperkirakannya

Beberapa menemukannya di wajah anak-anak mereka
Beberapa menemukannya di mata kekasih mereka
Siapa yang bisa menyangkal kebahagiaan
Jika kau telah menemukan kebahagiaan itu
Kau akan terbang tanpa sayap

Ada yang menemukannya dan berbagi di setiap pagi
Ada yang dalam kehidupan soliter mereka
Kau akan menemukannya dalam kata-kata orang lain
Sebuah garis sederhana yang bisa membuatmu tertawa atau menangis

Kau akan menemukannya dalam persahabatan yang terdalam
Pilihan dimana kau menghargai semua kehidupanmu
Dan ketika kau tahu berapa banyak hal yang berarti
Kau telah menemukan hal yang spesial
Kau dapat terbang tanpa sayap

Jadi, yang tidak mungkin dapat tampak mungkin
Kau harus berjuang untuk setiap mimpi
Karena siapa tahu yang mana yang telah kau lepaskan
Akan membuatmu lengkap

Nah, bagiku yang selalu bangun di sampingmu
Untuk menyaksikan sang matahari terbit di wajahmu
Untuk mengetahui bahwa aku bisa mengatakan aku mencintaimu
Dalam berbagai kesempatan dan berbagai tempat

Ini hanyalah hal kecil yang aku tahu
Itu adalah hal-hal yang membuatmu menjadi milikku
Dan itu seperti terbang tanpa sayap
Karena kau spesial bagiku
Aku terbang tanpa sayap

Dan kau tempat dimana hidupku dimulai
Dan kau juga akan sebagai tempat dimana hidupku berakhir

Aku terbang tanpa sayap
Dan itulah kegembiraan yang kau bawa
Aku terbang tanpa sayap

-ooooo-

THE END

-ooooo-

(A/N)

hohohoh~~ Akhirnya tamat juga nih fanfict ^^a Masih dalam tahap belajar,, soalnya ini fict pertama Rika ^^/ Hehe,, Alurnya teh ketebak gak sih? Tadinya mau angst,, cuman gak jadi ah... soalnya kasian ama Draco... LOL XD *plaak*

Aku mau ngebuat sekuel nya, disuruh ama temen,, tapi masih bingung ^^a hehe.

Eh ya! yg mau add fb Rika ke sini aja ya, *digebukin karena masih promosi fb* XD

Kritik dan saran selalu diterima ^^

Arigatou~~! m(_ _)m *waves* XDD