Light Story 5 : Ciuman
-JennyVDL,Indonesian-
Itu adalah hari yang tenang lainnya, Schneizel telah menyelesaikan rapat penting. Yah, tentu saja berakhir dengan sukses besaarr, seperti biasa. Tapi ada satu hal yang mengganggu pikiran Kanon. Ia telah hidup dengan pangeran itu selama bertahun-tahun, jadi ia dapat merasakan sesuatu yang berbeda dengan tuannya itu. Seperti ada sesuatu yang sedang direncanakan oleh tuannya.
Schneizel keluar dari ruangan rapat dan menuju ruangannya, tentu dengan Kanon dibelakangnya. "Teh, tuan?" tawar Kanon. "Tidak, terima kasih." Schneizel duduk di kursinya.
Kanon mengangguk dan duduk di sofa. Ia kemudian membolak-balik halaman kertas untuk rapat selanjutnya. Ia tidak menyadari sang pangeran yang sedang menatapnya, bergairah. Ia menemukan hal yang menarik dalam file itu dan mendongak ke pangerannya.
"Schn-Schneizel-sama?" Ia akhirnya menyadari pandangan tuannya. Ia mencoba tetap tenang.
"Ya?" Ia tidak berhenti menatap Kanon.
"A-, Ada yang kau ingin aku lakukan, tuan?" Kanon bisa melihat tuannya yang kemudian menyeringai.
"Ya, ada. Mendekatlah." Kanon berdiri dan mendekat pada tuannya dan sekarang berdiri di hadapannya. Tapi kemudian Scheizel mengisyaratkannya agar mendekat lebih dekat, dekat, lebih dekat. Baiklah! Itu SANGAT-AMAT dekat! Kemudian,
"Cium aku"
Kanon tertegun.
"Sch-Schneizel-sama?" Pipinya merona.
"Haruskah kuulang?"
"T-tidak, tapi...-"
"Ini PERINTAH, Kanon."
Diam untuk sesaat . . . .
"B-baik" Ia mengangguk dengan ragu. Mukanya MERAH.
Kanon mendekatkan bibirnya, dekat, dekat, semakin dekat.
Ia menutup matanya, tidak berani menatap sang pangeran yang menyeringai senang. Kanon benar-benar gemetaran.
Sangat pelan, bibirnya menyentuh bibir tuannya. Ciuman yang lembut dan singkat.
Tapi, apakah menurutmu Schneizel akan mengakhiri ciuman itu begitu saja? NGGAK MUNGKIN!
Schneizel melingkarkan salah satu tangannya pada pinggang Kanon, dan yang satu lagi mendekap rambut pinknya, mendorong kepalanya, sehingga bibir mereka terkunci rapat. Scneizel menjilat bibirnya dan Kanon bergetar. Kanon sadar tidak ada gunanya menahan lidah itu. Ia membuka mulutnya, berserah sepenuhnya.
Schneizel masuk dengan lembut. Kanon bisa merasakan lidah didalamnya, dengan lembut memberikannya kenikmatan. Kanon menyandarkan lengannya di bahu Schneizel.
Itu adalah ciuman yang hangat dan lembut, Kanon berterima kasih atas kebahagiaan itu. Itu adalah ciuman pertamanya, dan ia berterima kasih lagi, karena ciuman itu bersama pangerannya, pangeran yang ia cintai.
Ia menyadari sebutir air mata mengalir di pipinya.
-JennyVDL_Indonesia-
No comment lah . . . .
Gw sangat menikmati saat-saat membuat fict ini. Sangat.
Ku harap, I wish, CLAMP bakal bikin scene ini, ciuman SchneizelxKanon, ya Tuhaannn...
Hiks.
Catatan : Saya telah membuat versi Inggrisnya dan saya juga membuat cerita ringan lainnya! Cek saja profileku dan selamat membaca! Maaf kalau ada salah2 kata! Aku ini masih pemula! Terakhir, thanks for reading! JennyVDL, command you, Review!*geass mode:on.
