Naruto by Masashi Khisimoto
Fic by Benjiro 'ANBU Tora' Hirotaka
.
.
NARUTO'S ANSWER
And the answer is...
.
.
.
Seorang pemuda berambut pirang sedang berdiri di atap gedung Hokage. Pandangannya menyapu ke pahatan wajah yang terpampang dihadapannya. Pahatan wajah para shinobi yang telah menjadi bagian sejarah Konoha sebagai Hokage. Para shinobi yang telah diakui sebagai orang terkuat di desa. Dan sebentar lagi, pahatan wajah para Hokage itu akan bertambah satu.
Pemuda itu tersenyum. Dia biarkan angin lembut menyapa rambut dan wajahnya. Jubahnya yang bermotif api dibagian bawahnya juga melambai tertiup angin. Dikejauhan, dia bisa mendengar suara-suara anak kecil tertawa. Hari yang damai, pikirnya.
Memang pada akhirnya, kedamaian bisa kembali ke Konoha. Perang dunia ninja ke empat sudah lama berakhir. Perang yang sudah menelan banyak korban itu, dapat dimenangkan oleh pasukan aliansi dari lima negara besar. Madara Uchiha, orang yang telah menimbulkan perang ini, bisa dikalahkan oleh 2 orang pemuda yang bersahabat. Yang satu dari klan Uchiha juga, sedangkan yang satu lagi pemuda yang tidak saja menjadi pahlawan bagi desanya, pemuda ini juga menjadi pahlawan bagi dunia shinobi.
"Rokudaime, anda disini?" suara seorang gadis membuyarkan lamunan pemuda itu. "Saya mencari anda dari tadi."
Si pemuda menengok ke asal suara itu. Seorang gadis berambut pink panjang, berjalan sambil tersenyum ke arahnya.
"Sakura, sudah kubilang jangan panggil aku begitu kan!" si pemuda terlihat cemberut setelah Sakura sudah berdiri disampingnya.
"Tapi benarkan, Naruto. Kau Hokage Konoha sekarang," Sakura memasang tampang pura-pura heran.
"Benar juga, ya!" keduanya pun lalu tersenyum kembali. Mereka pun sibuk dengan pikiran mereka masing-masing.
"Naruto..." kata Sakura tanpa melihat ke arah sang Hokage.
"Iya...?"
"Terima kasih, ya."
"Untuk apa?" Naruto sedikit heran. Dia pun memandang kearah gadis berambut pink yang sudah dikenalnya ketika masih di akademi itu.
"Untuk semuanya. Untuk kedamaian yang kau buat untuk Konoha. Dan tentu saja, karena sudah membawa pulang Sasuke."
Sakura membalas tatapan Naruto. Mata hijau emerald-nya bertemu dengan mata biru shafire pemuda dihadapannya. Naruto mengalihkan pandangannya kembali ke arah pahatan wajah para Hokage.
"Tak apa. Lagi pula aku kan sudah berjanji pada Pain dan padamu, bahwa aku akan membawa kedamaian bagi dunia shinobi dan tentu saja membawa Sasuke kembali. Bukankah itu janjiku seumur hidup?" Naruto kembali menatap Sakura sambil tersenyum lebar. Sakura membalas senyum khas Naruto itu dengan senyuman juga.
"Ngomong-ngomong soal Pain dan janji, apa kau tidak melupakan sesuatu, Naruto?"
Kening Naruto sedikit berkerut. Wajahnya menyiratkan pertanyaan.
"Maksudmu?"
"Bukankah kau belum menjawab pernyataan cinta seseorang?" Sakura malah balik bertanya. "Aku tahu lho apa yang kau katakan pada Hinata sewaktu kalian bertemu di malam setelah Pain menyerang Konoha."
Flashback
Malam merambat datang. Konoha lebih tenang setelah siang yang benar-benar kacau dan sibuk.
Sakura berjalan menyusuri puing-puing bangunan yang sudah rata dengan tanah akibat serangan Pain. Dia baru saja dari rumah sakit yang tidak hancur terkena serangan. Sekarang dia dalam perjalanan pulang ke rumahnya untuk mandi dan berganti baju.
Sakura pulang bersama Hinata dari rumah sakit. Di sebuah pertigaan mereka berpisah. Tak beberapa jauh, Sakura mendengar suara Hinata mengaduh. Dia pun segera berbalik untuk melihat apa yang terjadi dengan kawannya itu.
Sakura khawatir dengan keadaan Hinata. Dia pun menyegerakan langkahnya. Ketika mendekati dimana Hinata berada, Sakura mendengar Hinata sedang berbicara dengan seseorang. Dia mengenali suara itu. Itu suara Naruto.
'Apa yang Naruto lakukan malam-malam begini?' batin Sakura. Dia pun diam menunggu ditempat yang tidak bisa dilihat oleh kedua sahabatnya, hanya sekedar ingin tahu.
Sakura dapat mendengar apa yang Naruto dan Hinata bicarakan. Sepertinya mereka membicarakan tentang perbuatan nekat Hinata tadi siang yang ingin menyelamatkan Naruto dari Pain.
Sakura berbalik pulang, tak ingin menggangu pembicaraan mereka. Tapi baru beberapa langkah, dia berhenti. Apa yang Naruto katakan pada Hinata, membuatnya diam terpaku.
"Sebelum aku memenuhi janjiku pada Sakura untuk membawa Sasuke kembali, aku tak bisa menjanjikanmu apa-apa."
Sakura termenung. Dia tak menyangka kalau Naruto masih menyimpan baik-baik apa yang menjadi permintaannya seumur hidup itu. Tak terasa, air mata meleleh dikedua pipinya.
'Terima kasih, Naruto!'
Flash back end.
Naruto terdiam. Dia jadi memikirkan gadis bermata indigo itu.
"Apakah dia masih mau menerimaku, Sakura? Bukankah aku sudah membuatnya menunggu sekian lama?"
Sakura tersenyum.
"Percayala, Naruto. Hinata sangat mencintaimu. Kalau dia mau, dia bisa saja menerima pria lain di hatinya. Tapi kenyataannya, dia masih mengharapkanmu. Aku tahu, karena aku juga wanita."
"Benarkah?"
"Tentu saja. Apakah sang Hokage Konoha jadi tidak percaya diri?"
Senyum jahil tersungging di bibir Sakura. Naruto hanya membalasnya dengan tersenyum lebar.
"Eh, Sakura. Bisakah kau bilang pada Izumo dan Kotetsu kalau aku pergi sebentar?" tanya Naruto sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Hn...kau tak pernah berubah, Naruto. Pergilah! Ku do'akan kau berhasil."
"Terima kasih, Sakura."
Naruto lalu melompat pergi. Sakura hanya tersenyum melihatnya.
.
.
.
Naruto menyusuri jalanan yang sudah agak lenggang. Sesekali dia tersenyum membalas sapaan para penduduk desa yang berpapasan dengannya. Dia sudah berganti pakaian biasa sekarang. Tujuannya apalagi kalau bukan kediaman utama klan Hyuuga. Tentu saja bukan untuk bertemu dengan para tetua klan, dia hanya ingin bertemu Hinata.
Sedari tadi, Naruto memikirkan kata-kata yang tepat untuk gadis berambut lavender itu. Dia akui kalau dirinya bukanlah tipe pemikir seperti Shikamaru. Selama ini, dia lebih banyak mengandalkan instingnya daripada otak. Makanya begitu tahu kalau salah satu tugas seorang Hokage adalah memeriksa laporan misi para Shinobi desa yang menumpuk, Naruto sering kabur ke Ichiraku Ramen sekedar untuk menghilangkan stres. Baginya, lebih baik bertarung dengan musuh yang paling kuat sekalian daripada harus memeras otaknya untuk bekerja.
Disebuah kelokan, dengan benaknya yang masih dipenuhi dengan susunan kata yang merepotkan, tanpa sengaja dia menabrak seseorang.
"Kyaa!" suara seorang gadis mengaduh.
"Ma...maafkan aku!" Naruto merasa bersalah. Tapi dia terkejut sendiri begitu melihat siapa gadis yang ditabraknya. "Eh...Hinata?"
Naruto seperti merasakan de javu. Aku pernah mengalami ini sebelumnya, pikir Naruto.
"Ro...Rokudaime? Maafkan saya!" Hinata menunduk untuk meminta maaf. Sepertinya dia tak menyangka akan bertemu Naruto ditempat seperti ini.
"Sudahlah, Hinata. Panggil saja aku seperti biasa. Kita masih temankan?" kata Naruto sambil tersenyum lebar.
Hinata merasakan wajahnya memanas saat melihat senyum itu. Dia mencoba menutupi hal itu dengan tetap menunduk.
"Ba...baik...Ro...eh... Naruto," katanya pelan.
"Kenapa mukamu merah, Hinata? Kau sakit?" tanya Naruto begitu melihat rona merah di wajah Hinata.
"A...aku tidak apa-apa, Naruto!" jawab Hinata sambil memalingkan mukanya kearah lain asal mata indigo-nya tidak bertemu dengan mata biru sang Hokage. Dia malu.
"Syukurlah," Naruto kembali tersenyum lebar. "Ku pikir kau sedang sakit. Kau memang mau pergi kemana, Hinata?"
"Aku ingin pergi ke tempat guru Kurenai," Hinata sepertinya sudah lebih tenang.
"Mari ku antar. Kebetulan aku juga ingin bertemu denganmu."
Keduanya pun lalu berjalan beriringan. Mau apa ya Naruto ingin bertemu denganku? Hinata malah sibuk menerka-nerka. Keduanya asyik dengan pikiran mereka masing-masing. Setelah agak lama, Naruto pun akhirnya bicara setelah mereka sebentar lagi melewati belokan yang menuju ke rumah guru Kurenai.
"Eh...Hinata, apa aku boleh menanyakan sesuatu padamu?" Naruto bertanya agak ragu.
"Naruto memang mau bertanya apa?" Hinata balik bertanya tanpa melihat ke arah pemuda yang berjalan disampingnya.
"Apa kau masih ingat kejadian waktu Pain menyerang desa? Apakah pernyataan yang waktu itu masih berlaku?"
Hinata jadi teringat pengakuan cintanya pada Naruto waktu itu. Tanpa mempedulikan lawannya, Hinata nekat datang membantu Naruto yang sudah tak berdaya dihadapan Pain. Dia hanya tak ingin Naruto terluka lebih dari saat itu. Diingatkan oleh Naruto, wajahnya semakin merona merah.
"Aku...aku..."
"Kau juga ingat apa yang ku katakan padamu malamnya saat kita tak sengaja bertemu?" tanya Naruto tanpa mempedulikan kegagapan Hinata. "Aku tak bisa menjanjikan apa-apa padamu sebelum memenuhi janjiku pada Sakura. Tapi, janji itu akhirnya bisa ku penuhi. Aku bisa membawa Sasuke kembali ke Konoha."
Naruto berhenti bicara sejenak. Hinata merasa ada yang masih dikatakan oleh Naruto. Dan itu membuat hatinya jadi berdebar-debar.
"Kali ini," kata Naruto kemudian. "Aku jadi ingin berjanji padamu, untuk selamanya mencintaimu. Dan ini janjiku seumur hidup."
Naruto menghentikan langkahnya. Dia lalu menghadap mata indigo Hinata sambil tersenyum yang mungkin takkan pernah bisa dilupakan oleh gadis Hyuuga itu.
"Maukah kau jadi istriku?"
.
.
.
A/N : Yohoho...Semoga ini bisa jadi kenyataan di manganya. Selamanya, gadis yang paling pas untuk Naruto itu tetap Hinata. Mind to REVIEW? ^_^
