Naruto by Masashi Kishimoto

Fic by Benjiro 'ANBU Tora' Hirotaka

.

.

NARUTO'S ANSWER

Yes, i want

.

.

.

"Dokter-dokter, cepat tolong gadis ini!" Naruto tergesa-gesa memasuki gedung utama Rumah Sakit Konoha. Dari wajahnya, dia terlihat sangat khawatir dengan keadaan gadis yang berada dalam gendongannya itu.

Beberapa suster yang mendengar teriakan sang Hokage segera bertindak cepat. Gadis Hyuuga yang berada digendongan sang Hokage segera mereka pindahkan ke ranjang dorong untuk pasien. Para suster itu segera mendorongnya ke ruang IGD. Begitu akan ikut memasuki IGD, Naruto ditahan oleh seorang suster.

"Maaf, tuan Hokage. Anda silahkan menunggu diluar!"

"Tapi Hinata..." Naruto ingin membantah kata-kata suster itu.

"Maaf ini sudah prosedurnya. Kami akan segera memeriksanya, tuan Hokage."

Naruto pun mengalah. Dia hanya pasrah saat suster itu menutup pintu IGD. Rona kecemasan tetap saja belum hilang dari sang Hokage muda itu. Dia pun hanya bisa mondar-mandir tak karuan didepan pintu seperti orang bingung.

"Naruto? Apa yang kau lakukan disini?" suara seseorang menyapanya. Naruto melihat kearah sumber suara. Sakura berdiri dihadapannya dengan tampang heran.

"Sakura, tolong bantu aku!" suara Naruto terdengar memohon.

"Ada apa? Apa yang terjadi? Mana Hinata? Bukankah kau mau bicara dengannya?"

"Justru itu masalahnya. Waktu aku sedang bicara dengannya, dia malah jatuh pingsan." Naruto tersenyum miris.

"Memang apa yang kau katakan, baka? Jangang bilang kalau kau berkata yang tidak-tidak pada Hinata!" suara Sakura terdengar mengancam.

"Aku tidak bicara macam-macam kok," Naruto berusaha membela diri. " Aku hanya berkata bahwa aku akan mencintainya seumur hidupku. Lalu aku tanya pada Hinata, apa dia mau jadi istriku? Itu saja."

Bukk!

Sebuah pukulan yang tidak terlalu keras sukses mendarat tepat diperut sang Hokage.

"Baka! Kenapa kau malah langsung melamarnya? Tentu saja mungkin dia kaget. Kenapa kau selalu terburu-buru sih, Naruto?"

Pemandangan ganjil sedang terjadi. Seorang Hokage sedang diomeli oleh seorang gadis. Tapi dasar Naruto, dia malah berkata sambil memasang tampang tak merasa bersalah.

"Eh, salah ya? Aku kan cuman..."

Perkataan Naruto tertahan. Seorang ANBU bertopeng macan sudah berlutut dihadapannya dan Sakura.

"Maaf, tuan Hokage. Anda diminta segera kembali ke gedung Hokage untuk menghadiri rapat. Para tetua desa sudah menunggu anda," kata ANBU itu. Tampang Naruto langsung berubah serius.

"Bilang pada mereka untuk menunggu sebentar lagi! Aku masih ada urusan disini."

"Tapi ini penting, tuan Hokage. Anda diminta kehadirannya segera!"

"Sial. Baiklah!" Naruto lalu berkata pada Sakura. "Tolong jaga Hinata untukku. Kabari aku kalau dia siuman. Aku pergi dulu."

Naruto lalu pergi diikuti oleh ANBU bawahannya itu. Sakura hanya bisa tersenyum melihat kepergian kawannya itu.

'Dasar Naruto itu. Main langsung lamar-lamar saja,' batin Sakura. ' Tapi kapan ya aku dilamar oleh Sasuke? Aku jadi iri padamu, Hinata.'

.

.

.

Perlahan, Hinata dapat mendengar suara-suara disekitarnya walau masih agak samar-samar. Ketika dia coba membuka matanya, dia hanya melihat ruangan tempat dia berbaring semuanya serba putih. Setelah semua nampak jelas, ternyata dia tidak sendiri. Sudah ada tiga orang dengan tiga ekspresi berbeda mengelilinginya.

Disebelah kanannya, Sakura menatapnya dengan tersenyum manis. Disebelah kirinya, Hanabi menatapnya dengan muka tenang. Hanya orang dihadapannya yang terlihat sangat khawatir. Orang itu Hiashi Hyuuga, ayahnya.

"Dimana ini?" tanya Hinata begitu menyadari dia tidak sedang berada dikamarnya.

"Ini di Rumah Sakit, Hinata!" Sakura yang menjawab. "Naruto yang membawamu kesini."

"Apa yang sudah dilakukan dia padamu, anakku?" tanya Hiashi agak sewot. "Jangan karena sudah jadi Hokage, dia bisa melakukan apa saja."

"Tenanglah dulu, ayah. Kak Hinata kan baru sadar." Kali ini Hanabi yang berbicara. Dia pun lalu bertanya pada kakaknya yang sedari tadi hanya diam mendengarkan yang lain bicara. " Kak Hinata sudah baik kan?"

"Aku sudah tak apa-apa. Memang apa yang terjadi sampai aku bisa ada disini?"

Hiashi Hyuuga ingin berkata lagi tapi segera ditahan Hanabi. Justru Sakura yang tersenyum penuh arti pada Hinata.

"Justru kami yang harus bertanya padamu, Hinata. Apa yang sudah Naruto katakan padamu? Bukankah kalian sedang membicarakan sesuatu?"

"Itu...itu..."

Hinata tidak melanjutkan perkataanya. Dia jadi ingat lamaran tiba-tiba Naruto untuk menjadi istrinya. Semburat merah terlihat dikedua pipinya. Dia hanya bisa tersipu malu.

Drap! Drap! Drap!

Suara langkah kaki terburu-buru sepertinya sedang mendekat kekamar dimana keempat orang itu berada. Tak lama, pintu kamar terbuka. Seorang pemuda berambut blonde dengan jubah bertuliskan Rokudaime dibagian belakangnya, nampak terengah-engah berdiri didepan kamar.

"Sakura, bagaimana Hina...!"

Naruto tak jadi melanjutkan kata-katanya begitu menyadari ada empat pasang mata yang menatapnya heran.

"Naruto! Kebetulan sekali. Masuklah! Hinata baru saja bangun," kata Sakura setelah tahu siapa yang datang.

Naruto menutup pintu kamar lalu melangkah mendekati ranjang dimana Hinata terbaring. Tak lupa dia tersenyum kepada Hiashi dan Hanabi. Hinata? Semburat merah semakin terlihat jelas diwajahnya.

"Bagaimana rapatnya, Naruto?" tanya Sakura setelah Naruto sudah berdiri disampingnya.

"Sudah beres. Begitu selesai, aku langsung kemari." Naruto lalu bertanya pada Hinata. "Apa kau sudah baikkan, Hinata?"

"A...a...aku sudah tak apa-apa, Naruto. Terima kasih!" jawab Hinata tergagap.

"Baguslah. Aku jadi khawatir waktu kau tiba-tiba saja pingsan." Naruto tersenyum lebar menandakan kelegaan.

Tak ingin mengganggu, Sakura berkata pelan pada Naruto mewakili dua Hyuuga yang lain.

"Naruto, tuan Hiashi ingin tahu apa yang kau katakan pada Hinata sehingga membuatnya jadi seperti ini!"

Naruto tidak langsung menjawab. Tanpa diduga semua yang ada disitu, Naruto menggenggam tangan kanan Hinata dan menatap gadis dihadapannya itu dengan tatapan lembut. Lalu tatapannya beralih kepada ketiga orang yang lain. Setelah mengambil nafas sejenak, dia pun akhirnya berkata.

"Aku dengan senang hati akan mengulangi apa yang sudah ku katakan pada Hinata."

Sakura dan Hanabi terlihat tersenyum. Hanya Hiashi yang terlihat penasaran dengan mata melotot ingin tahu apa yang akan dikatakan oleh Naruto.

"Tuan Hiashi, dihadapan anda aku melamar Hinata!" suara Naruto terdengar tegas. Hiashi hanya diam terkejut dengan apa yang dikatakan oleh sang Hokage. "Hinata, menjawab apa yang sudah kau nyatakan dulu, aku akan bilang kalau aku juga mencintaimu. Maukah kau jadi istriku? Aku berjanji akan mencintaimu seumur hidupku sampai maut memisahkan kita."

Hinata yang sedari tadi sudah deg-degan tak karuan tidak langsung menjawab. Dia melihat kearah Sakura, Sakura mengangguk. Dia melihat kearah Hanabi, Hanabi juga mengangguk. Hinata lalu melihat kearah ayahnya. Hiashi diam sejenak. Tapi setelah itu dia tersenyum lalu mengangguk. Pandangan Hinata beralih ke mata biru Naruto.

"I..i..iya. Aku bersedia jadi istrimu, Naruto. Aku juga berjanji akan mencintaimu seumur hidupku sampai maut memisahkan kita."

Naruto tersenyum bahagia. Lega, mungkin itu juga yang dia rasakan setelah tadi menunggu jawaban Hinata. Naruto mengangkat tangan Hinata lalu mengecup punggung tangan itu.

"Terima kasih, Hinata."

Semua mata kini tertuju kearah Hiashi seakan meminta pengesahan. Yang ditatap hanya tersenyum.

"Mana mungkin aku melarang anakku menikah dengan seorang Hokage?"

Semua tersenyum bahagia.

.

.

.

A/N : Semoga chap ini bisa mengobati rasa penasaran kalian yang ingin tahu dengan apa jawaban Hinata setelah dilamar Naruto. Terima kasih untuk semua yang sudah mereview dan mem-fave fic ini. Maaf saya belum bisa mereview replay-nya. Terakhir, Naruto ada untuk Hinata. Hinata kuat karena Naruto. So, say yes for NaruHina ok!

REVIEW?