"Jadi, kau masih mencintainya, Ichigo?"

"Tidak, hanya saja… Aku 'tak bisa melupakannya."

Chapter 3: Past Love.

By:Himawari Ichinomiya

Disclaimer: Bleach©Tite Kubo

Gendre: Shonen-ai, Yaoi, Romance, Humor, Drama.

Pairing: GrimmHitsu, IchiHitsu. (dan sewaktu-waktu hanya akan muncul salah satu!)

Rated: M

Summary: "A-apa? Kenapa kalian juga ada di sini?" ucap hitsugaya. "Ayo kita pergi berdua saja, mungil!" ucap Grimmjow, menggandeng tangan Hitsugaya, meninggalkan Ichigo terdiam di depannya. Ada apa dengan Ichigo di chapter kali ini? Study tour yang mendebarkan di Kyoto!

Warning!: Dalam fic ini akan terdapat banyak unsur OOC, YAOI, Typo(s) dan banyak hal GeJe lainnya. Bagi anak di bawah umur dan pembenci yaoi ataupun LEMON, tolong segera keluar dari fic ini, sebelum punya pikiran untuk nge-Flame saia. So, Dun like? Dun read!

Tetap nekad baca? Gak tanggung kalo nantinya jadi fujoshi atau fudanshi, ya~?

~Happy Reading!~

\(o_o\)~oo0oo~(/o_o)/

Pagi ini di lapagan sekolah Karakura Senior High School terlihat begitu ramai, siswa dan siswi semuanya sibuk berbincang dengan kawan mereka masing-masing, di dekat mereka terdapat beberapa koper yang lumayan besar ukurannya. Beberapa saat lagi, mereka akan berangkat menuju Kyoto untuk tujuan study tour selama empat hari. Kini guru pembimbing sedang sibuk mengumpulkan anak-anak didiknya untuk diabsent sebelum berangkat menggunakan Bus pariwisata yang sudah disewa khusus untuk para siswa.

"Toushirou Hitsugaya, ada?" teriak Yoruichi selaku pembimbing kelas sepuluh satu untuk study tour kali ini. Wanita yang umurnya masih muda itu sibuk memicingkan matanya mecari salah satu siswa yang tak kunjung menjawab absensinya. "Yang namanya Hitsugaya Toushirou, ada atau tidak?" ulang guru itu denga sedikit teriakkan lebih keras.

"Saya, Sensei!" jawab Hitsugaya sambil mengacungkan tangannya tinggi-tinggi agar dapat terlihat. Yoruichi sensei yang melihat Hitsugaya, segera meng-chek list daftar absensi di tangannya.

"Ya! Semua sudah datang!" ucap guru itu puas sambil menutup buku absensi yang sudah diisi lengkap." Sekarang kalian boleh masuk ke dalam bus yang sudah bertanda 'kelas sepuluh satu'!" lanjutnya seraya menunjuk bus yang dimaksud. Tanpa aba-aba lagi, siswa dan siswi kelas itu berbondong-bondong memasuki bus.

Hitsugaya berjalan menuju kursi yang letaknya agak di belakang. Remaja berrambut keperakan itu duduk di sebelah jendela, matanya yang berwarna emerald menatap jendela bus yang sudah mulai berjalan meninggalkan area sekolahnya. "Haaaahh…." Pemuda mungil itu menghela nafas, tangan kirinya menopang dagu, dan matanya yang emerald masih melihat jalanan.

"Akhirnya aku bisa menjauh dari kedua biang onar itu!" ucapnya lirih.

.

.

.

Disisi lain, kelas sebelas IPA satu….

Grimmjow mengistirahatkan tubuhnya, dan duduk di kursi yang bersebelahan dengan pemuda berrambut orange bernama Ichigo Kurosaki. Pemuda bermata biru muda itu menatap Ichigo yang sedari tadi diam di tempat duduknya, Ichigo melamun sambil menatap jalanan yang dilewati oleh bus yang mereka naiki. Aneh! Padahal, biasanya pemuda strawberry itu akan cenderung berbuat jahil dan tertawa-tawa bersama temannya di saat study tour seperti ini.

"Hei, kenapa kau lesu begini, orange?" ucap Grimmjow dengan tatapan dan nada mengejek.

"Bukan urusanmu, Grimmjow." Tungkas Ichigo kasar, tanpa mengalihkan pandangannya sedikit pun dari jendela. Mereka berdua kini kembali dalam keheningan, kontras dengan siswa lain yang sibuk bernyanyi-nyanyi dan bergembira sepanjang perjalanan.

"Ada apa?" Tanya Grimmjow pendek, memecah keheningan mencekam di atara keduanya. Bukannya khawatir atau semacamnya, pemuda berrambut biru muda ini hanya merasa penasaran dengan perubahan sikap Ichigo yang tidak biasanya. Pemuda berrambut orange itu menoleh dan menatap rival bermata biru muda di sebelahnya. Bibirnya masih bungkam, sedangkan matanya menatap Grimmjow serius.

"Orihime…" Ucap bibir Ichigo lirih. "Orihime Inoue." Lanjutnya lagi, kali ini dengan suara yang lebih jelas.

"Jangan-jangan, yang kau maksud…"

"Ya, Inoue ada di Kyoto juga." Ucap Ichigo, memotong perkataan rivalnya itu. Wajah Grimmjow tidak menunjukkan perubahan sama sekali, matanya masih menatap Ichigo yang sudah beralih dan kembali menatap jalanan.

"Kau ingin menemuinya di Kyoto?" Tanya pemuda biru muda itu pada akhirnya.

"Aku... tidak tahu." Balas Ichigo, yang kini menudukkan kepala kedalam telapak tagannya, sedikit frustasi.

.

.

.

Setelah perjalanan yang cukup melelahkan selama enam jam, rombongan study tour SMA Karakura sampai pada penginapan milik yayasan sekolah yang cukup elite itu. para siswa sibuk menurukan barang-barangnya dengan semangat. Murid-murid itu sudah dibagi kamarnya. Satu kamar berisi tiga siswa untuk kelas sepuluh, sedangkan kelas yang lebih atas, seperti kelas sebelas, satu kamar untuk dua orang. Diskriminasi sekali bukan? Walaupun begitu, tidak ada seorang pun yang perotes, semua begitu larut dalam kebahagiaan dan kesibukan masing-masing menata bajunya di dalam lemari sementara yang sudah disiapkan oleh penginapan.

Pria bermata emerald itu kini juga sedang sibuk mencari kamar tempatnya tidur, di tangan sebelah kanannya memegang secarik kertas yang berisi keterangan nomor kamarnya, sedangkan tanga lainnya menarik travel bag yang ukuranya lumayan besar.

"Kamar nomor sepuluh di lantai satu bagian timur." Gumamnya pelan sambil membaca kertas yang dipegangnya. Tak lama kemudian Hitsugaya menemukan kamar yang sedari tadi dicarinya.

"Lho? Hitsugaya-san sekamar deganku?" Tanya sosok yang tiba-tiba sudah berada di belakangnya. Hitsugaya meoleh menatap asal suara itu, didapatinya seorang pemuda dengan perawakan sedang kini menatapnya, seulas senyuman ramah mengembang di wajahanya.

"Oh, ternyata kau, Yamada…" balas Hitsugaya, pemuda berrambut hitam yang bernama lengkap Hanatarou Yamada itu kembali tersenyum. Pemuda berrambut keperakan itu bersyukur mendapat teman sekamar yang ramah dan tidak berisik.

"Ahaha... mohon bantuannya selama empat hari ini, ya!" ucapnya sambil sedikit membungkuk sopan. Hitsugaya tersenyum melihat tingkah teman sekamarnya ini.

"Kau berlebihan, Yamada." Balas Hitsugaya masih dengan senyuman. "Ngomong-ngomong, bukannya kamar anak kelas sepuluh itu diisi tiga orang? Siapa yang satu lagi di kamar ini?" lanjut Hitsugaya.

"Ah, Rikichi-san dari kelas sepuluh empat. Dia juga ditempatkan di kamar ini." Jawab Hanatarou sambil berpikir. Setelah percakapan singkat itu, keduanya masuk kedalam kamar dan membereskan pakaian mereka ke dalam lemari. Saat sudah pukul enam sore, siswa kelas sepuluh di jadwalkan untuk mandi dan setelahnya baru kelas sebelas, untuk menghindari terlalu penuhnya osen.

Selain tempatnya yang cukup elite, penginapan milik sekolah mereka ternyata juga memiliki fasilitas pemandian air panas alami. Kebanyakan siswa yang jarang menemukan onsen alami di perkotaan tentu saja menikmati kesempatan jarang ini. Hitsugaya yang merupakan salah satu dari mereka, langsung menyediri untuk menikmati onsen dengan aksen bebatuan itu. pemuda bermata emerald itu menjauh dari keramaian dan menyendiri di tempat yang tertutup oleh batuan yang ukurannya cukup besar sehingga tubuhnya tak terlihat orang lain. Hitsugaya menikmati ketenangan di sana, matanya menatap langit yang mulai berbintang, dilihatnya pula daun momiji yang masih belum berguguran karena belum memasuki musim gugur. Hitsugaya begitu menikmati keteangan dan tanpa sadar pria mungil itu tertidur.

Entah sudah berapa lama pemuda berambut keperakan itu terlelap. Tak ada yang membangunkannya karena tubuh Hitsugaya yang tertutupi oleh bebatuan ukuran besar, sehingga tak seorang pun melihatnya. Hingga dia tersadar dengan suatu teriakan keras.

"Asyik! Onsen! Ayo kita bertanding menyelam di dalam air Ichigo!" teriak Keigo yang bersemangat karena melihat onsen terbentang luas di hadapannya.

"Tidak! Seperti anak-anak saja!" balas pemuda berrambut orange itu datar sambil menatap Keigo. Pemuda berrambut cokelat itu melompat dan menceburkan diri kedalam air dengan keras, membuat cipratan airnyamengenai Hitsugaya yang masih tertidur di balik bebatuan.

"Ngh…"erang Hitsugaya, dan mulai membuka matanya. Betapa kagetnya keadaan yang dilihat pemuda berrambut perak itu saat ini. Ternyata kini giliran kelas sebelas untuk mandi! 'Perasaanku mulai nggak enak, nih…' batin Hitsugaya, ternyata benarlah perasaannya. Mata emerald itu menangkap sosok berrambut biru muda dan berbadan cukup kekar itu hanya berlilit kain pendek di pinggangnya.(Hima nosebleed bayangin ini.). Tak jauh dari sana, terlihat pemuda berrambut Orange yang juga hanya berlilit handuk pendek di pinggangnya mulai memasuki onsen.

"Mati aku! Kenapa harus ketemu mereka lagi, sih?" ucap pemuda mungil itu lirih. Untung saja sosoknya tertutup bebatuan! Kalau tidak, pasti saat ini dia akan menjadi bahan bullying Ichigo dan Grimmjow. Tanpa disangka-sangka, Grimmjow menoleh pada arah Hitsugaya! Dengan segera pemuda bermata emerald itu menundukkan badannya agar tak terlihat Grimmjow. 'hampir saja!' batin Hitsugaya sambil menghela nafas lega. Grimmjow meyeringai ketika melihat di sela batu besar ada sosok mungil yang dikenalnya, Grimjow memeri isyarat tangan pada Ichigo, digerakan jari telunjukya, pertanda bahwa pemuda iru muda itu memanggil Ichigo dan menyuruhnya untuk mendekat. Ichigo yang mengerti kode tangan Grimmjow itu hanya mendekat kearah pemuda bermata biru muda itu dengan wajah bingung.

"Ada apa?" Tanya Ichigo pelan berusaha tak seorang pun mendengar perkataannya. Tanpa suara Grimmjow menunjuk sosok mungil yang sedikit terlihat dari balik bebatuan itu.

"Sepertinya kita punya tamu lain di sini." Jawabnya sambil menyeringai. Ichigo yang mengerti siapa sosok mungil itu hanya tersenyum jahil. "Ayo kita beri sedikit kejutan pada tamu yang tak diundang ini." Lanjutnya. Tanpa disangka-sangka, Grimmjow dan Ichigo datang mendekat ke arah Hitsugaya. Pemuda mugil itu masih belum sadar bila kedua senpai yang sedari tadi dihindarinya tahu bila pemuda mungil itu bersembunyi di balik bebatuan.

"Menghindari seseorang, Toushirou?" Hitsugaya terbelalak kaget ketika melihat sosok yang berada di belakangnya. Ichigo dan Grimmjow terseyum jahil melihat sosok manis tanpa pakaian itu.

"Ke-kenapa kalian bisa tau?" Ucap Hitsugaya terbata-bata karena melihat senpai yang susah payah dihindarinya sedari tadi kini berada tepat di belakangnya.

"Tubuhmu yang menggiurkan itu tidak dapat ditutupi batu tau." Grimmjow menyeringai melihat juniornya ini mulai gugup. Hitsugaya sibuk menutup tubuhnya dengan tangan begitu mendengar perkataan Grimmjow tadi.

"Ja-jangan macam-macam!" ujuarnya kasar, berusaha menutupi rasa gugup dan malunya. Meski tubuhnya yang polos pernah ditatap langsung oleh kedua senpainya itu saat making love, tetap saja rasanya canggung!

"Hmmm? Nggak boleh macam-macam?" ucap Grimmjow berlagak polos. Melihat gelagat ini Hitsugaya kembali memperbesar jaraknya dengan kedua orang biang onar ini. "Kenapa? Kami Cuma ingin satu macam aja, kok. Bukan macam-macam." Lanjut pemuda biru muda itu sambil tersenyum jahil.

Dengan cepat Grimmjow mengangkat tubuh mungil Hitsugaya dan meletakkan pemuda mungil itu di panguannya, pemuda berrambut biru muda itu mengunci mulut Hitsugaya dengan ciuman ganas. Lidah Grimmjow menjilat-jilat bibir bawah Hitsugaya, melumat dan menghisapnya membuat bibir mungil yang awalnya berwarna kemerahan itu kini menjadi lebih merah dan bengkak. Puas dengan area depan bibir pemuda mungil itu, kini Grimmjow mencoba menerobos masuk kedalam mulut Hitsugaya, yang tentu saja pemuda mungil keras kepala itu tak membiarkannya!

Ichigo yang melihat ini langsung duduk di sebelah Hitsugaya, membuat posisi pemuda bermata emerald itu berada di tengah. Setelah itu, Ichigo mulai menjilat telinga Hitsuga dengan tempo lamban yang menggoda lidah Ichigo bermain dengan liar di daerah lubang telinga pemuda mungil itu, tidak hanya menjilat, pemuda berrambut orange itu juga menggigit-gigit kecil daun telinga Hitsugaya. Walaupun begitu ternyata Hitsugaya tidak juga membuka mulutnya. Membuat Grimmjow dan Ichigo semakin tertantang. Tangan Ichigo mulai meraba-raba daerah terlarang Hitsugaya yang terrendam oleh hangatnya air onsen, sedangkan Grimmjow, tangannya memilin-milin titik sensitive yang mulai mengeras di dada pemuda berambut perak itu.

"Enggghhhh…." Hitsugaya akhirnya mengerang pelan, membuat bibirnya sedikit terbuka. Grimmjow yang tidak menyia-nyiakan kesempatan ini langsung memasukkan lidahnya ke dalam bibir mungil Hitsugaya. Lidah Grimmjow langsung menjilati semua ruang di dalam mulut Hitsugaya dan mengajak lidah Hitsugaya untuk beradu, Hitsugaya yang tak mau kalah akhirnya membalas permainan lidah Grimmjow, membuat siliva-siliva keluar dari bibir mungil itu, tanda ganasnya permainan yang mereka mainkan. Ichigo yang tidak mau kalah, memindahkan sasarannya dari telinga Hitsugaya, ke leher jenjang pemuda bermata emerald itu. Menjilatnya berkali-kali, kemudian menggigitnya keras kemudian diisapnya bekas gigitan itu sehingga timbul tanda kemerahan yang begitu kentara.

Grimmjow melepaskan ciumannya dan mulutnya kini beralih pada titik sensitive di dada Hitsugaya, dia kembali memilin-milin titik sensitive itu, kemudian mulai mengeluarkan lidahnya dan menjilat nipple itu.

"Ah… Haahh… Grimmjow sen-senpai… ngh…. Ichigo senpai. Ahnn…" desah Hitsugaya, membuat Ichigo dan Grimmjow tersenyum mesum.

"Jangan keras-keras, Toushirou…" ucap Ichigo sambil memasukkan kedua jarinya kedalam mulut Hitsugaya. "Atau… kau ingin orang lain menonton kita?" lanjut Ichigo berbisik di telinga Hitsugaya. Pemuda itu begidik ketika harus membayangkan banyak orang akan menontonnya saat seperti ini. Alhasil, Hitsughisap-hisap dua jari panjang Ichigo di dalam mulutnya agar meredam desahannya sendiri. Entah kenapa, Ichigo mengangkat tubuh Hitsugaya dari pangkuan Grimmjow membuat pemuda biru muda itu menghentikan aktivitasnya. Belum sempat Grimmjow dan Hitsugaya memperotes, Ichigo sudah memasukkan kejantanannya dalam lubang Hitsugaya, memuat pemuda mugil itu ingin memekik keras. Ichigo yang mengerti hal itu langsung mengunci bibir Hitsugaya dengan bibirnya, digerakkan tubuh mungil itu naik turun tanpa melepaskan kuncian bibirnya.

"Mhhh… mhhh…enggghhh!" desah Hitsugaya yang tertahan oleh bibir Ichigo. Ichigo menaik turunkan tubuh Hitsugaya cepat. Kejatanan Ichigo yang besar dan panjang berkali-kali menusuk sweet spot Hitsugaya. Setelah tak beberapa lama kemudian tubuh Hitsugaya mengejang dan pemuda berrambut perak itu melengkungkan tubuhnya, pertanda bahwa pemuda bermata emerald itu sudah mencapai batas.

"Se-senpai…. Emmmhh!" Hitsugaya menahan desahannya agar tak terdengar teman-teman Ichigo yang tidak jauh dari sana. Hitsugaya megeluarkan semua hasratnya yang sedari tadi tertahan, membuat dinding rectumnya berkontraksi dan mencengkram kejantanan Ichigo degan kuat, akhirnya tidak lama kemudian Ichigo ikut mengeluarkan hasratnya di dalam tubuh mungil itu. Cairan putih ketal mengambang di permukaan air osen, tanda megakhiri kegiatan panas Ichigo dan Hitsugaya.

"Haahh… hahh… ka-kau gila! SAKIT TAU!" teriak pemuda berrambut perak itu. Hitsugaya sudah tidak peduli lagi bila omongannya akan didengar teman-teman Ichigo dan Grimmjow! Hitsugaya beranjak dari tempatnya dan pergi sambil mengumpat-umpat. Teman-teman sekelas Ichigo dan Grimmjow menatap pemuda mungil itu keluar sambil marah-marah hanya bisa terdiam.

"Ichigo! Siapa tadi? Bukannya itu anak kelas sepuluh?" Teriak Hisagi ke arah Ichigo, teman-temannya begitu heran. Kenapa bisa ada anak kelas sepuluh? Bukakah sekarang saatnya anak kelas sebelas untuk mandi? Sedangkan, Pemuda orange yang ditanyai itu hanya terdiam di tempatnya, Grimmjow masih heran dengan perubahan sikap Ichigo.

"Kau tadi kenapa?" Tanya Grimmjow heran. Kini Ichigo dan pemuda biru muda itu duduk bergabung bersama teman-teman mereka. Disandarkannya puggug yag terasa agak pegal ke dinding bebatuan.

"Aku… hanya kehilangan kendali." Ucap Ichigo pada akhirnya. Ichigo mendongak menatap langit yang bertabur bintang-bintang. Hatinya sendiri juga tak mengerti alasan mengapa ia begitu kalut tadi. Pemuda orange itu memejamkan matanya dan bergumam pelan.

"Inoue….."

.

.

.

Hitsugaya kembali dari onsen sambil terus mengumpat-umpat Ichigo di sepanjang jalan menuju kamarnya. Entah kenapa, Hitsugaya merasa begitu kesal pada Ichigo. Pemuda orange itu rasanya seperti making love dengan orang lain! Pemuda mungil itu merasa asing dengan sikap Ichigo padanya tadi. Hitsugaya menghela nafas frustasi. "Ichigo-senpai… tadi kenapa, ya?"

Tak lama kemudian Hitsugaya sampai di kamar dan langsung menjatuhkan dirinya ke atas kasur. Tiba-tiba Hanatarou datang dan membangunkan pemuda berrambut perak itu.

"Hitsugaya-san, kemana saja kau?" Tanya Hanatarou yang melihat Hitsugaya telah kembali ke kamar. Pemuda berrambut keperakkan itu membuka matanya kembali dan terduduk di atas kasur.

"Tadi aku tertidur di onsen." Jawabnya singkat. Sepertinya mood pemuda bermata emerald itu memburuk kali ini. Hanatarou hanya mengangguk-angguk mengerti.

"Kau terlihat pucat Hitsugaya-san, sebaiknya kau tidur. Besok kita harus memulai tour keliling kota." Ucap Hanatarou simpati melihat Hitsugaya yang terlihat tidak sehat. Pemuda bermata emerald itu tersenyum melihat teman sekamarnya yang begitu bersimpati dan peduli. Dalam hati Hitsugaya bersyukur karena sekamar dengan pria yang tidak setipe kepribadiannya dengan Rangiku(tipe suka bertanya yang tidak-tidak pada Hitsugaya).

Hitsugaya kembali merebahkan tubuhnya di atas kasur empuk penginapan, dan tak lama kemudian, pemuda bermata emerald itu sudah berada di alam mimpi.

.

.

.

Matahari bersinar begitu cerah, awal yang baik bagi siswa dan siswi SMA Karakura melakukan hari pertama mereka study tour, para siswa kelas sepuluh dan kelas sebelas memiliki jadwal perjalanan tersendiri. Saat ini kelas sepuluh satu (kelas Hitsugaya) sedang melakukan perjalanan pada tempat wisata budaya yang dikenal sebagai taman Ryōan-ji, yang berarti taman kuil naga damai. Yoruichi sensei kali ini juga memimpin jalannya study tour untuk kelas sepuluh.

"Ryōan-jiadalah sebuah kuil Zen. Kuil tersebut merupakan bagian dari sekolah pemikiran Myōshinji dari cabang Rinzai dalam agama Buddha Zen. Lokasi kuil, aslinya merupakan milik dari keluarga Fujiwara.

Kuil ini juga terkenal dengan taman batu Zen yang diperkirakan dibangun sekitar tahun 1400. Taman tersebut terdiri dari lima belas batu yang diletakkan sedemikian rupa, sehingga jika kita melihat ke taman itu dari sudut manapun selain dari atas, kita hanya bisa melihat empat belas batu setiap saat." Jelas Yoruichi sensei panjang lebar sambil menunjuk batu-batu yang sedang dimaksud. Sedangkan para siswa sibuk mencatat keterangan dari-nya, karena setelah study tour ini, keterangan itu akan dibuat menjadi makalah yang wajib dikerjakan bagi setiap siswa.

Hitsugaya yang termasuk siswa rajin dan unggulan, tentu saja menulis keterangan-keterangan penting itu pada notes kecil yang selalu dia bawa-bawa khusus study tour kali ini. Tangan mungilnya sibuk mencatat, sedangkan matanya berkali-kali melihat guru yang sedang menjelaskan di depan rombongan itu dengan serius. Beberapa saat kemudian, Yoruichi sensei memberikan sedikit waktu bebas untuk siswanya berkeliling kuil dan sekedar memeli souvenir kecil. Saat Hitsugaya hendak pergi berkeliling kuil, lengan pemuda mungil itu ditarik oleh seseorang ke balik pohon.

"Ssstt!" desisnya berusaha membuat Hitsugaya diam, sosok itu menutup bibir mungil Hitsugaya dengan telapak tangannya. Pemuda bermata emerald itu mendongak ke atas, didapatinya pemuda berrambut dan bermata biru muda itu membekapnya, di samping sosok itu, terdapat pemuda dengan rambut orange menyolok juga member isyarat agar Hitsugaya diam. Setelah dirasa cukup aman pemuda bernama Grimmjow itu melepaskan dekapannya pada Hitsugaya.

"Haaah! Hah!" pemuda berambut keperakkan itu terengah engah karena cukup lama juga Grimmjow membekapnya. "Kenapa kalian bisa disini?" Tanya Hitsugaya setelah cukup bisa mengatur nafasnya. Pemuda mungil ini heran, bagaimana bisa dia bertemu dengan Grimmjow dan Ichigo? Bukankah mereka seharusnya sedang tour di Istana Nijo (二条城) bersama dengan siswa kelas sebelas lainnya?

"Bolos." Ucap Ichigo ringan, sedangkan Grimmjow menyeringai menatap Hitsugaya. Pemuda bermata emerald itu tidak habis pikir, bagaimana bisa mereka bolos dengan tenangnya saat study tour di tempat yang tak dikenal begini? Apa mereka berdua tidak takut tersesat? Batin Hitsugaya dalam hati.

"Kami sudah kenal baik kota ini, Toushirou." Ucap Ichigo Seakan bisa membaca pikiran Hitsugaya. Pemuda mungil itu manggut-manggut mengerti. "Ayo ikut kami, Toushirou!" lanjutnya sambil menggandeng tangan Hitsugaya.

"Tapi.. bagaimana dengan keterangan yang harus di kumpulkan di tempat bersejarah lainnya, kalau aku bolos?" Tanya Hitsugaya ragu-ragu, mengingat dia harus mengumpulkan makalah tentang study tournya setelah ini. Grimmjow medengus medengar yang dikataka pemuda mugil itu.

"Apa gunanya internet? Kau bisa mecari iformasi lewat sana 'kan?"jawab Grimmjow meyakinkan.

"Bagaimana kalau diabsen?" ucap Hitsugaya berkilah.

"Tidak akan! Tahun lalu kami juga kabur dari study tour, dan kami baik-baik saja." Kali ini Ichigo ikut menimpali. Hitsugaya terdiam dan berpikir-pikir lagi.

"Sudahlah! Ikut saja!" ucap Grimmjow sambil menarik tangan Hitsugaya dan membawa pemuda mungil itu keluar dari area kuil. "Kami akan mengajakmu ke tempat wisata yang tidak ada di daftar tujuan sekolah kita!" lanjutnya.

Grimmjow dan Ichigo mengajak Hitsugaya berkeliling ke tempat-tempat menarik di daerah Kyoto. Misalnya, Studio Film Toei Eigamura yang terkenal, Stasiun JR Kyoto yag terkenal megah da sebagai salah satu pusat transportasi terpenting di Jepang, bahkan ketiganya sempat ke Kyoto Tower, menara tertinggi di kota tersebut. Grimmjow, Ichigo dan Hitsugaya berjalan beriringan di jalan-jalan sempit yang banyak terdapat pedagang kaki lima menjajakan souvenir bagus, tapi murah. Pemuda mungil itu membelikan sebuah gelang dan pena untuk one-sannya Hinamori.

"Kau lapar, Toushirou?" Tanya Ichigo, saat ketiganya duduk di sebuah taman yang lumayan ramai. Hitsugaya yang ditanyai begitu kontan menoleh menatap pria berambut orange di sebelah kanannya.

Hitsugaya menggeleng pelan."KRUYUK~~" ya, ampun! Ternyata perut pemuda mungil itu berbunyi! Keras pula! Ichigo dan Grimmjow yang mendengarnya jadi terkekeh mengejek. Hitsugaya membuang muka sambil cemberut, melihat kedua senpainya itu tersenyum dan juga menahan tawa.

"Baiklah, ayo kita pergi makan Obanzai (masakan rumahan Khas daerah Kyoto)." Ajak Grimmjow sambil mulai beranjak dari tempat duduknya. Ichigo dan Hitsugaya tak lama kemudian ikut bangkit dari tempat duduknya dan mengikuti Grimmjow. Setelah cukup mengisi perut mereka, Hitsugya menatap jam tangan yang terlingkar manis di pergelangan tangannya. "Jam dua siang." Ucap pemuda bermata emerald itu. "Setelah ini kita ke mana?" lanjut Hitsugaya, agaknya dia meikmati perjalanan mereka bertiga kali ini.

"Grimmjow kau… lebih baik membawa Toushirou kembali ke rombongan sekolah." Ucap Ichigo. Entah kenapa sikap pemuda orange itu kembali menjadi aneh.

"Lalu, kau sendiri bagaimana?" Balas Grimmjow kesal, mata biru mudanya menatap Ichigo serius.

"Aku… aku ada urusan lain." Ichigo memalingkan muka dari tatapan Grimmjow.

" Orihime Inoue?" tungkas Grimmjow to the point. Hitsugaya mulai bingung dengan maksud perkataan senpai biru muda itu. 'Rasanya aku pernah mendengar nama itu sebelumnya.' Batin Hitsugaya dalam hati. "Kau ingin menemui Inoue, bukan?" lanjut Grimmjow serius.

"Ya, aku berniat pergi menemuinya." Jawab pemuda orange itu, Hitsugaya dapat melihat kesediha di mata Ichigo. Entah kenapa, pemuda bermata emerald itu merasa tak nyaman juga dengan sikap Ichigo yang tidak seperti biasanya.

"Jadi, kau masih mencintainya, Ichigo?" Tanya Grimmjow heran. Dia masih berusaha agar Ichigo batal menemui Inoue.

"Tidak, hanya saja… Aku 'tak bisa melupakannya." Jawab Ichigo sambil menunduk sedih, wajahnya begitu terlihat kusut dan putus asa.

"Ayo kita pergi berdua saja, mungil!" ucap Grimmjow tiba-tiba, seraya menggandeng tangan Hitsugaya dan beranjak meninggalkan yang Ichigo terdiam di depannya. "Kau membuatku kesal Ichigo. Aku tak menyangka, jika kau sebodoh ini!" lanjutnya, lalu segera pergi. Setelah cukup jauh dari posisi Ichigo, Grimmjow menghentikan langkahnya, begitu pula Hitsugaya.

"Senpai, sebenarnya Inoue itu siapa?" Tanya Hitsugaya yang sedari tadi penasaran siapa sebenarnya wanita ini.

"Kau pasti sudah pernah medengar nama itu ketika Ishida mengatakannya di taman belakang sekolah." Ucap Grimmjow mulai menjelaskan. Hitsugaya terdiam sejenak, berpikir sebentar, mencoba mengingat lagi nama itu.

" Ya, rasanya memang aku pernah mendengar namanya!" ucap Hitsugaya mengakui, walaupun tidak seberapa ingat dengan jelas. Grimmjow diam sebentar, mencoba berpikir akan dimulai dari mana ceritanya. Tidak lama kemudian pria berambut biru muda itu menghembuskan nafas sejenak dan mulai bercerita.

"Dulu, Inoue juga bersekolah di SMA Karakura. Karena kakaknya di pindah tugaskan, akhirnya gadis itu pindah ke Kyoto. Saat Inoue masih di SMA Karakura, dia adalah kekasih Ichigo, tapi setelah pindah sekolah, dia sama sekali tak pernah menghubungi si strawberry itu. Maka dari itu, kali ini dia berencana utuk meluruskan semuanya." Jelas Grimmjow, mata biru mudanya menatap langit. Hitsugaya yang melihat ini diam-diam tersenyum, pemuda mungil ini mengerti bahwa kini Grimmjow telah menganggap Ichigo sebagai temannya, bukan hanya sekedar rival.

"Ayo kita ikuti Ichigo! Dia pasti masih belum jauh, lagi pula aku tau di mana sekolah gadis yang berama inoue itu !"usul Grimmjow tiba-tiba, dia juga tau bahwa Hitsugaya juga, pasti tidak akan tenang hatinya sebelum melihat apa yang sebenarnya terjadi. Sebenarnya Hitsugaya malas untuk melakukan yang namanya membuntuti Ichigo ini, 'seperti stalker saja!' batin Hitsugaya dalam hati. Tapi, karena terbakar api cembu-eh, maksud author api penasaran, keduanya kini mengikuti Ichigo diam-diam.

Grimmjow dan Hitsugaya megikuti lagkah Ichigo yang berjalan meyusuri jalanan besar kota tersebut, mereka beberapa kali menaiki bus dan berjalan dalam jangka waktu yang lumayan lama, Grimmjow dan Hitsugaya masih mengikuti Ichigo dengan jarak yang cukup jauh tapi juga cukup untuk mengawasi pemuda orange itu. Tidak lama kemudian, sampailah Ichigo dengan orang-orang yang masih membuntutinya di gedung besar yang bertuliskan,'Kyoto Senior High School'. Ichigo menunggu sambil bersandar di tembok gedung sekolah itu, tangannya sibuk mengutak-atik I-phone apple sambil sesekali menggunakan head set-nya. Banyak orang berlalu-lalang yang melihat pemuda orange itu, tapi seperti biasa, Ichigo sama sekali tak peduli. Entah dia pura-pura bodo atau memang bodo beneran. Hitsugaya dan Grimmjow masih sabar membuntuti Ichigo, mereka berdua bersembunyi di balik gang kecil yang tak jauh dari posisi Ichigo sekarang.

"Hei, mungil! Lihat, Inoue datang!" ucap Grimmjow sambil menunjuk orang yang dimaksud. Hitsugaya segera melihat arah yang ditunjuk oleh pemuda bermata biru muda itu. Dilihatnya sesosok wanita cantik berambut orange panjang dan bertubuh proporsional mendekati Ichigo. Pemuda berambut orange itu sadar bila ada seorang gadis mendekat, Ichigo berhenti menatap layar I-phone nya dan menatap gadis itu. Hitsugaya dan Grimmjow menajamkan pendengarannya, berharap bisa mendengar pembicaraan Ichigo dan Inoue.

"Kurosaki-kun? Bagaimana kau bisa ada di sini?" ucap Inoue heran.

"Aku sedang sedang study tour, jadi sekalian saja kemari." Jawab Ichigo datar. Tiba-tiba ada seorang pemuda dengan seragam yang sama dengan Inoue datang dan menepuk pundak gadis itu.

"Jadi pulang bareng 'kan?" ucap pemuda berwajah dingin dan berkulit putih pucat itu ke arah inoue.

"Eh? Ulquiorra-san!" ucap Inoue terkaget-kaget sambil menoleh ke arah belakang. Sosok yang dipanggil Ulquiorra itu tak merubah raut wajahnya sedikit pun.

"Siapa dia?" ucap Ulquiorra menunjuk Ichigo yang berdiri di hadapan Inoue dengan jarinya

"Kau sendiri siapa, HAH?" tungkas Ichigo kasar, tak terima rasanya diperlakukan dengan begitu tidak sopan oleh orang yang baru dikenalnya.

"Aku? " ucap Ulquiorra membeo. "Aku pacar Orihime." Lanjutnya dengan wajah tenang.

"Jadi… ini pacar barumu, Inoue?" ucap Ichigo gusar.

"Ma-maafkan aku Kurosaki-kun!" ucap Inoue terbata dan gugup, wajahnya yang cantik itu di tundukannya kebawah.

Tanpa diketahui mereka, Hitsugaya dan Grimmjow mendengar dan melihat semua kejadian itu. Hitsugaya mengepalkan tangannya geram melihat Inoue.

"Kenapa? Padahal aku khawatir kau tidak menghubungiku setelah kau pindah ke Kyoto." Ucap Ichigo getir, suaranya terdengar begitu lemah dan putus asa. "Ternyata kau sudah punya penggantiku di sini." Lanjut Ichigo sambil melirik sinis ke arah Ulquiorra.

Hitsugaya yang melihat ekspresi sedih ichigo, jadi semakin geram pada Inoue. Tidak pernah dilihatnya Ichigo memiliki raut wajah serapuh tadi! Benar-benar tak bisa dimaafkan!

"I-ini bukan salahku Kurosaki-kun!" ucap Inoue membela diri. "Bukankah wajar saja bila kita berpisah? A-aku tidak bisa pacaran jarak jauh Kurosaki-kun…" lanjutnya lagi sambil mulai menangis terisak-isak. Ichigo hendak membelai air mata Inoue tapi…

PLAK!

Sebuah tamparan telak mengenai wajah Inoue yang cantik! Ichigo menoleh melihat sosok di sebelahnya yang menampar Inoue, dan ternyata orang itu adalah Hitsugaya. Pemuda mungil itu mendengus puas melihat bekas tamparannya terlihat jelas di wajah mulus Inoue.

"Jadi, hanya karena hubungan jarak jauh kau boleh selingkuh, Hah?" bentak Hitsugaya lagi di depan Inoue. Habis sudah kesabarannya melihat dari jauh kejadian ini.

"Sudahlah, Toushirou! Aku menentang kekerasan pada perempuan!" ucap Ichigo, berusaha melerai keduanya.

"Ayo, kita pergi Ichigo senpai! Kita tinggalkan gadis rendahan ini bersama pacar barunya yang tersayang!" ucap Hitsugaya kesal, seraya menarik tangan Ichigo dan menggenggamnya erat dan menajaknya pergi. Dibawanya Ichigo ke tempat Grimmjow menunggu, di sebuah gang kecil yang tak jauh dari sana.

"Sudah ku duga bila kau akan mengikutiku, Grimmjow." Ucap Ichigo ketika melihat Grimmjow terduduk di bangku gang kecil itu, sambil tersenyum sinis ke arah rivalnya yang berambut biru muda. Grimmjow membalasnya dengan cengiran jahil.

"ok! Senpai-senpai semuanya! Sekarang sudah waktunya untuk kembali ke penginapan!" ucap Hitsugaya yang mengintrupsi pertengkaran keduanya, pemuda mungil itu memperlihatkan jam tangannya yang sudah menunjukan pukul enam sore. Tiba-tiba Ichigo menarik tangan mungil Hitsugaya, membuat pemuda mungil itu jatuh ke dalam pelukannya.

"Arigatou, Toushirou. Kau membuatku merasa lega tadi." Ucap Ichigo sambil tersenyum tulus ke arah Hitsugaya. Ichigo memperdekat wajahnya dengan bibir Hitsugaya dan mengecup bibir itu lembut, tanpa ada permainan lidah atau yang lainnya, hanya kecupan lembut yang begitu penuh kasih sayang. Pemuda mungil itu ber-blushing ria akibat ulah Ichigo tadi, sedangkan Grimmjow hanya mendengus kesal melihat keduanya yang kini menjadi lebih akrab.

"Sepertinya kau mulai bisa melakukan permainan kali ini dengan lebih serius." Ucap Grimmjow pada Ichigo. Pemuda berambut orange itu menoleh kea rah Grimmjow dengan wajah serius.

"Ya, sekarang aku benar-benar menginginkannya." Ucap Ichigo serius, kemudian memalingkan wajahnya dan menatap Hitsugaya yang berjalan di depannya.

"Yah, memang itulah yang ku tunggu darimu." Balas Grimmjow sambil menyeringai.

.

.

.

.

Akhirnya Hitsugaya dan duo onar Karakura, kembali ke penginapan ketika tepat pukul tujuh malam membuat ketiganya dihukum habis-habisan oleh Iba-sensei dan Yoruichi sensei. Ketiganya di hukum tidak diperbolehkan keluar penginapan saat jam bebas! Bayangkan saja, betapa membosankannya jika kita harus menunggu di dalam penginapan, ketika yang lain sedang asyik berpesiar keliling kota! Hitsugaya yang melakukan sesi hukumannya dengan tertib hanya terbaring di kasur kamar tidur penginapannya sambil teruntuk bosan.

TOK! TOK! TOK!

Hitsugaya merengutkan dahinya bingung. 'Siapa yang masih ada di penginapan saat jam bebas begini?' batin pemuda mungil itu dalam hati. Hitsugaya berjalan mendekat kea rah pintu dan membuka knopnya.

"Ke-kenapa kalian ada di sini?" ucap Hitsugaya tergagap melihat kedua senpai yang paling suka mengganggunya itu ada di depan pintu kamarnya.

"Untuk apa?" ucap Ichigo membeo. "tentu saja untuk bolos hukuman! Ayo pergi, Toushirou!" lanjut Ichigo lagi.

"Hah, pergi untuk apa?" balas Hitsugaya kaget. Sudah dihukum masih juga nekad bolos hukuman?

"tentu saja untuk pergi kencan!" ucap Grimmjow, seraya menarik Hitsugaya dan mengajaknya keluar penginapan.

Sepertinya hidupku akan menjadi lebih merepotkan lagi!

~~TBC~~

Moshi-moshi minna-san! Gomen, hima ap detnya lama! Lagi mati ide, sih! Ini juga maksa-maksain ide! Hima merasa pada chap kali ini alurnya agak cepat, ya? Maafkan hima kalo begitu…

Gomen, hima nggak bisa bales repiu untuk kali ini! Soalnya hima cepet-cepet ngetiknya! (sekarang aja mau mulai les!

Ok, sampe di sini dulu. Jaa ne~! sampe ketemu di chap berikutnya!

Mind give me review for my mistake in this chapter?