"Pertama adalah giliranku!"
Chapter 4: Begin.
By:Himawari Ichinomiya
Disclaimer: Bleach©Tite Kubo
Gendre: Shonen-ai, Yaoi, Romance, Drama.
Pairing: Tebak sendiri! Ada perubahan extreme kali ini. Hima gak mau bocorin.*digampar readers*
Rated: M
Summary: Study tour membuat hubungan Ichigo, Grimmjow dan Hitsugaya menjadi berubah sedikit demi sedikit. Dan sekarang Grimmjow memiliki ide gila untuk memperpanas pertempurannya dengan Ichigo!
Warning!: Dalam fic ini akan terdapat banyak unsur OOC, YAOI, Typo(s) dan banyak hal GeJe lainnya. Bagi anak di bawah umur dan pembenci yaoi ataupun LEMON, tolong segera keluar dari fic ini, sebelum punya pikiran untuk nge-Flame saia.
So, Dun like? Dun read!
Tetap nekad baca?
Gak tanggung kalo nantinya jadi fujoshi atau fudanshi, ya~?
~Happy Reading!~
\(o_o\)~oo0oo~(/o_o)/
Saat ini di Ginza, yaitu salah satu distrik pada kota Tokyo, terlihat begitu ramai. Maklum saja, hari ini 'kan memang hari Minggu. Banyak orang berlalu-lalang di sana, dari anak-anak, remaja, bahkan dewasa dan lanjut usia juga ada. Seorang pemuda berambut biru muda dan bermata ocean blue sedang berdiri di persimpangan jalan Chuo dan Harumi, tepatnya di depan San-ai building. Pemuda bermata ocean blue itu untuk ke-sejuta kalinya menatap jam yang melingkar manis di tangan kirinya. 1.20 P.M.
"Huh.. " pemuda itu mendengus kesal, lalu celingukan mencari orang yang sedari tadi sudah ditunggunya. Tapi, tetap saja orang yang ditunggu-tunggu itu belum juga kelihatan batang hidungnya. Pemuda berambut biru muda itu semakin sebal, karena banyak wanita-terutama remaja- memperhatikannya dengan tatapan kagum yang tentu saja malah membuat pemuda keren ini risih.
Lima menit kemudian, dari arah Chuo-dori, seorang remaja bertubuh mungil, berambut keperakan dan bermata emerald berlari menuju arah pemuda berambut biru muda itu.
"Sudah.. .hah… menunggu…haah.. lama, Grimmjow-senpai?" ucap pemuda berambut keperakan yang bernama Toushirou Hitsugaya itu. Badannya menunduk dalam-dalam dan nafasnya terengah-engah karena berlari dari jarak yang cukup jauh, sedikit peluh menghiasi dahinya.
"Telat! Kau telat dua puluh menit." Ujar Grimmjow kesal, tanpa sedikit pun menatap Hitsugaya. Membuat pemuda mungil itu merasa bersalah karena terlambat. Memang salahnya, sih karena asyik mengerjakan tugas sampai nggak sadar kalau sudah waktu janjian. Pasti kalian bingung kenapa Hitsugaya sedang berada di Ginza dengan Grimmjow. Kejadian beberapa hari yang lalu kembali terexpose dalam benak Hitsugaya. Ya, hal yang membuatnya sekarang berada di Ginza bersama salah satu senior pembuat onar di SMA Karakura…
.
.
.
.
Beberapa hari yang lalu…
"Jadi, bagaimana kalau kau pergi denganku ke Shinjuku besok, Toushirou?" pemuda berambut orange itu duduk di sebelah bangku Hitsugaya, kedua tangannya yang kekar itu dilipat di depan dada. Saat ini Ichigo dan Grimmjow sedang berada di kelas Hitsugaya, sebagian besar murid kelas ini sudah diusir secara paksa oleh kedua biang onar SMA Karakura itu. Jadi, hanya ada mereka bertiga dikelas sepuluh satu.
"Tidak! Aku besok ujian kimia." Balas Hitsugaya datar dan tanpa sedikit pun mengalihkan pandangan dari buku yang dibacanya. Hal ini jelas-jelas membuat sang pemuda orange itu berdecak kesal. Ya, siapa juga yang bisa menolak aJakan kencan dari senior yang paling berandal dan mempesona di SMA Karakura? Kalau bukan Toushirou Hitsugaya tentunya.
"Kesal,ya Ichigo?" ucap pemuda berambut biru muda di sebelah Ichigo sambil tertawa mengejek dan dengan sukses mendapatkan balasan berupa death glare gratis dari si rambut orange.
"Mungil, kau mau pergi denganku ke Harajuku 'kan?" kali ini Grimmjow yang bertanya pada Hitsugaya. Pemuda bermata emerald itu menghela nafas dengan berat dan berhenti membaca buku.
"Sudah kubilang. Aku-sedang-ujian-kimia-besok." Jawab Hitsugaya penuh penekanan di setiap katanya. Kini Ichigo tertawa penuh kemenangan pada Grimmjow yang mengumpat-umpat kesal.
Sejak study tour dua minggu yang lalu, sikap kedua seniornya itu berubah. Yah, memang masih tetap ke kelas Hitsugaya setiap hari, menjemputnya bergiliran ke sekolah, dan tetap mengajaknya melanggar peraturan-yang tentu saja ditolak oleh Hitsugaya yang notabene murid teladan-. Hanya saja, kali ini tidak ada unsur pemaksaan lagi setiap harinya. Kaget? Hima juga kaget.
Belum sempat Grimmjow dan Ichigo menyatakan protesnya karena penolakan Hitsugaya, bel sudah berbunyi, menandakan setiap siswa kembali ke kelasnya masing-masing. Ichigo dan Grimmjow juga harus kembali ke kelasnya, sebelum dikuliti hidup-hidup oleh guru BP mereka-Iba sensei. Hitsugaya mendesah lega karena dua biang onar itu sudah pergi (walaupun dengan wajah masam dan menggerutu sepanjang koridor).
"Hei, Grimmjow. Aku tidak mau seperti ini terus." Ucap Ichigo pada pemuda bermata biru muda di sebelahnya. Mereka kini sedang berada di koridor, dan menuju kelas mereka- sebelas IPA satu. "Aku ingin Toushirou menjadi untukku saja, dan tidak berbagi denganmu seperti ini." Lanjut Ichigo. Semenjak pulang dari study tour , sikap Ichigo jadi lebih lembut pada Hitsugaya, pemuda orange itu sadar jika perasaannya kini benar-benar serius pada pemuda mungil itu, bukan sekedar bermain-main dan mengisi waktu luang seperti niatnya di awal permainan.
"Huh, rakus sekali. Ingin menguasai si mungil itu sendirian." Ujar Grimmjow dengan nada sinis sekaligus lirikan yang menusuk.
"Jangan, naïf. Kau sendiri juga menginginkannya menjadi milikmu sendiri 'kan?" tungkas Ichigo dengan nada merendahkan. Grimmjow terdiam dan tidak membalas, karena itu memang benar! Keduanya terdiam dan terus berjalan di koridor. Tapi, kali ini tujuan mereka berdua bukan ke kelas, melainkan atap sekolah. Apalagi niatnya kalo bukan bolos di jam pelajaran. Enak juga punya otak cerdas seperti mereka berdua, tidak perlu sering-sering masuk kelas, tapi nilai ulangan tidak ada yang di bawah tujuh. Sedangkan orang lain saja harus begadang semalaman untuk belajar, tapi nilainya tetap pas-pasan! Sungguh dunia itu tidak adil.
Grimmjow dan ichigo membaringkan tubuhnya di atas keramik atap sekolah yang berwarna abu-abu gelap itu. ketenangan dan hembusan angin yang lembut membuat keduanya begitu terhanyut dan pergi ke alam mimpi. Tapi tidak bagi pemuda berambut biru muda satu ini, dia tetap membuka matanya dan menatap langit yang tidak berawan. Tak ada hujan atau pun badai, tiba-tiba Grimmjow mendapatkan ide yang bagus! Ya, ide yang akan mengeluarkan mereka bertiga dari permainan aneh ini.
.
.
.
.
"Apa kalian bilang tadi?" Tanya Hitsugaya dengan mata terbelalak.
Saat ini sudah waktunya para siswa dan siswi Karakura Senior high school untuk pulang, dan seperti ritual keseharian Hitsugaya, pemuda mungil ini selalu dijemput di kelasnya oleh Grimmjow dan Ichigo. Tapi, yang bereda kali ini adalah senpainya yang bernama Grimmjow jeagerjeaques itu mendapatkan ide yang sangat 'brilian'.
"Ya, jadi kami memutuskan. Kau harus kencan bergiliran dengan kami. Setelah itu, kau harus memilih antara aku dan Ichigo yang menjadi kekasihmu." Ujar Grimmjow mantap. Sedangkan Hitsugaya hanya sweat droped. Bagaimana tidak? Jika mereka berdua 'lagi-lagi' memutuskan dengan seenak jidat mereka sendiri tanpa meminta pendapat Hitsugaya terlebih dahulu.
"Lalu? Siapa yang mendapat giliran pertama?" ucap pemuda bertubuh mungil itu pada akhirnya. Hitsugaya mememijat dahinya seakan frustasi, dan melirik kedua senpai di depannya.
"Pertama adalah giliranku!" jawab Grimmjow dengan senyum kemenangan di wajahnya. Sedangkan Ichigo mencak-mencak sebal karena kekalahan yang dideritanya.
"Hah? Gimana cara menentukan gilirannya?" Hitsugaya mengerutkan dahinya bingung.
Grimmjow dan Ichigo mengangkat bahu. "Hom-pim-pa." ucap mereka berdua bersamaan. Yang sukses mendapat jitakan tanda kasih sayang dari pemuda mugil berambut keperakan itu. Bagaimana bisa nasib kehidupan percintaannya ditentukan dengan 'hom-pim-pa'?
"Jadi, kutunggu kau hari minggu, jam satu siang di Ginza, depan San-ai building." Hitsugaya mengangguk dengan pasrah mendengar ajakan dari Grimmjow. Toh, dia nggak mungkin dapat membantah ucapan senpainya satu ini.
.
.
.
.
'Yeah, hal itulah yag membuatku di sini, di depan San-ai building, pusat perbelanjaan ter-elite di Tokyo.' Batin Hitsugaya samibil tertawa hampa.
"Hei! Sampai kapan kau mau diam saja di sana? Ayo!" ucap Grimmjow agak keras, membuat pemuda bermata emerald itu tersadar dari lamunannya sedari tadi. Membuat Hitsugaya sedikit gugup. "Kau tadi memikirkan apa, sih mungil?" lanjut pemuda itu dengan penasaran.
"Bu-bukan urusanmu!" tungkas Hitsugaya agak kasar, sambil memalingkan wajahnya yang sedikit memerah.
"Jangan-jangan… Kau memikirkan aku, ya?" goda Grimmjow dengan menyeringai lebar, yang membuat Hitsugaya semakin salah tingkah. "well, ayo kita pergi dari sini. Rasanya semakin banyak saja yang menonton kita berdua." Lanjutnya sambil melirik sekumpulan gadis yang cekikikan melihat mereka berdua. Sepertinya gadis-gadis itu adalah fujoshi.
Grimmjow menggandeng tangan Hitsugaya erat dan menariknya berjalan di tengah kerumunan warga Tokyo yang mengunjungi kawasan Ginza, membuat Hitsugaya sedikit blushing.Maklum saja, sampai saat ini Hitsugaya sama sekali belum memiliki pengalaman kencan sama sekali, walaupun jelas banyak yang tertarik padanya, tapi pemuda mungil itu cuek bebek dan tidak menanggapi. Ichigo dan Grimmjow yang mendekatinya secara extreme yang barulah mendapat perhatian (dengan terpaksa) dari pemuda berambut keperakan itu.
Mereka berdua berjalan masuk ke arah San-ai building. Dan kontan saja mata emerald Hitsugaya terbelalak! San-ai building adalah pusat perbelanjaan yang paling elite di Jepang! Barang-barang yang dijual di sana tentu saja barang bermerek selevel Gucci, Gosh, Chenel dan lain-lain.
"Uang di dompetku benar-benar tak bernilai di tempat ini." Ujar Hitsugaya yang melihat isi dompetnya.
Grimmjow menepuk bahu pemuda mungil itu pelan. "Aku yang bayar semuanya hari ini." Ucapnya menenangkan. Hitsugaya menggeleng, menandakan dia menolak.
"Enak saja! Aku bukan cewek matre yang pingin di bayari, tahu!" balas Hitsugaya sedikit gengsi. Masa' cowok dibayari cowok? Malu, dong!
Grimmjow merasa sebal dan senang juga mendengar ucapan pemuda mungil itu. Senag, karena setiap orang yang mendekatinya selalu mengincar nama besar keluarga Jeagerjaques dan uangnya. Tapi, pemuda mungil ini berbeda! Bahkan Hitsugaya tidak mau dibayari sedikit pun! Sungguh sifat yang membuat Grimmjow semakin tertarik dengan pemuda bermata emerald satu ini.
"Sejauh yang aku lihat, isi dompetmu itu bahkan tidak cukup untuk membeli sepiring nasi dan segelas air di sini." Ujar Grimmjow tenang sambil melirik isi dompet Hitsugaya.
'Ukh! Benar juga!' mau tidak mau, memang uangnya tidak cukup sedikit pun untuk membeli makanan. Yah bagaimana lagi? Di mall ini memang semuanya berlipat kali lebih mahal! Namanya juga mall elite. "Aku tidak mau ke tempat yang tak bisa dijangkau seperti ini!" ucap Hitsugaya pada akhirnya.
Grimmjow menghela nafas sedikit jengkel. "Sudah ku bilang, aku yang akan membayar semuanya hari ini." Hitsugaya tetap kekuh tidak mau dibayari. Akhirnya, mereka berdua keluar dari San-ai building dan berjalan keluar di area Chou-dori. Daerah ini sangat pas untuk para pejalan kaki, karena Chou-dori tertutup untuk kendaraan bermotor. Di sepanjang jalan ini, terdapat banyak toko, galeri lukisan dan galeri foto.
Grimmjow dan Hitsugaya berjalan-jalan santai dan memasuki berbagai galeri lukisan dan foto, hanya untuk sekedar melihat-lihat. Terdapat banyak foto-foto menarik, mulai dari foto sunset, sunrise, pemandangan, sampai foto bencana alam. Setelah mereka melihat galeri foto, mereka pergi ke galeri lukisan. Di sana mereka menemukan berbagai jenis lukisan. Dari lukisan abstrak, pemandangan bahkan tentang kegiatan sehari-hari pun ada!
"Hei mungil, kau tidak ingin membeli lukisan ini? Aku yang bayari, deh." Ujar Grimmjow menunjuk sebuah lukisan yang terpampang di depan mereka kali ini. "Kelihatannya kau tertarik sekali." Lanjutnya memperhatikan raut wajah Hitsugaya. Tawaran yang sungguh menggiurkan, tapi tentu saja ditolak dengan tegas oleh Hitsugaya. Memang, buat apa lukisan Piccaso asli ada di ruang tamu rumahnya? Mana ada yang mau percaya!
Puas dengan berjalan-jalan di sepanjang Chuo-dori, mereka berjalan berjalan keluar menuju ke Harumi-dori dan Showa-dori. Mereka berjalan menuju gedung teater Kabuki-Za, yang sayang sekali ternyata sedang direnovasi. Akhirnya mereka berjalan menuju kawasan Yarakucho, di sana mereka berjalan menuju Ginza Cine Phatos, sebuah gedung bioskop yang cukup tua dan letaknya di terowongan bawah tanah Harumi-dori. Mereka menonton beberapa film horror dan sukses membuat Hitsugaya berjengit ngeri. Grimmjow berkali-kali menyeringai senang ketika pemuda mungil itu memeluk tangannya saat sedang ketakutan.
Tak tersa sekarang sudah sore, perut mereka berdua sudah keroncongan minta diisi. "Aku lapar." Ujar Hitsugaya sambil memegangi perutnya yang mulai mengeluarkan suara aneh.
Grimmjow berpikir sejenak . "Aku tau tempat yang bagus." Ucap Grimmjow sambil menarik tangan Hitsugaya. Pemuda mungil itu nurut-nurut saja sedari tadi ditarik-tarik oleh Grimmjow. 'Perasaanku nggak enak, nih.' Batin Hitsugaya.
Sepuluh menit kemudian, sampai lah mereka di sebuah gedung tinggi bertingkat. Hotel Seiyou. 'Tuh, kan!' batin Hitsugaya, dan benar saja firasatnya!
"Jangan, menolak kali ini!" ucap Grimmjow yang melihat gelagat Hitsugaya akan menolak. Pemuda berambut biru muda itu menariknya masuk menuju kedalam hotel. 'Gimana, nih! A-aku belum siap 'melakukannya' berdua saja dengan Grimmjow senpai!' jerit Hitsugaya dalam hati, mengingat selama ini mereka making love bertiga dengan Ichigo. Memang aneh sekali kedengarannya, Hitsugaya lebih 'terbiasa' dengan bertiga dari pada sendiri-sendiri. Pemuda mungil itu yakin jika pikirannya kini sudah tak waras lagi.
Mereka memasuki hotel super mewah berbintang lima itu dengan sedikit gugup-untuk Hitsugaya-. Seorang pelayan berpakaian texuedo menghampiri mereka ketika baru saja melewati pintu masuk. "Bisa saya bantu, Jeagerjaques-sama?" Tanya pelalayan itu. 'Sepertinya Grimmjow senpai sudah terbiasa datang ke sini, pelayan saja sampai hafal namanya!'
"Tolong seperti biasa untuk dua orang." Jawab Grimmjow, lalu memerikan kartu creditnya ke pelayan itu untuk melakukan pembayaran di awal. "Sebaiknya cepat kita mulai, aku sudah tidak tahan." Ujar Grimmjow dan langsung mearik Hitsugaya lagi. 'Kami-sama! Tolonglah aku!' jerit pemuda mugil itu dalam hati.
.
.
.
"Kau suka? Kalau kurang, aku bisa memberimu lebih." Tanya Grimmjow di sela kegiatannya. Hitsugaya terkejut setengah mati melihat Grimmjow.
"Ja-jadi senpai mengajakku ke sini untuk MAKAN melon pan?" jerit Hitsugaya, membuat pengunjung lain melihat ke arah mereka. Pemuda mungil itu menunduk minta maaf karena keributannya, kemudian menatap Grimmjow yang sedang menyeruput coffe au lait dengan tenang.
Saat ini mereka sedang berada di ball room hotel Seiyou, ruangan mewah itu penuh dengan meja berhiaskan renda elegan ala Belgia. Berbagai kalangan terpandang memakan dinner dengan pakaian dan gaya yang begitu anggun. Di meja Hitsugaya dan Grimmjow terdapat beberapa cheese croissant, short cake, fruits cake dan melon pan, selain itu mereka di temani oleh moccachino dan coffe au lait.
"Di sini terkenal dengan melon pan-nya. Mangkanya aku mengajakmu kemari." Balas pemuda bermata biru muda itu, tangannya sibuk memotong-motong melon pan yang ukurannya lumayan besar.
"Bukan itu maksudku!" Ujar Hitsugaya kesal. "A-aku kira… kau akan…" pemuda mungil itu tak berani melanjutkan kata-katanya dan menunduk malu. 'Kotor sekali pikiranku!' Hitsugaya meruntuki nasibnya.
"Heh?" Grimmjow yang mengerti lanjutan dari kata-kata Hitsugaya yang terpotong jadi menghentikan kegiatan makannya dan menyeringai jahil. "Jadi… kau segitu inginnya ku sentuh? Kalau kau mau, sekarang juga boleh." Ujar pemuda itu menggoda Hitsugaya.
"Ti-tidak! Terima kasih!" tungkas Hitsugaya kesal. "La-lagi pula, kata-kata senpai itu ambigu tau! Mangkanya aku jadi mengira…" pemuda itu kembali menunduk dengan wajah memerah.
"Aku bilang 'jangan menolak' itu maksudnya jangan menolak untuk aku bayari. Disini makanannya tak mungkin terjangkau dompetmu, mangkanya aku bilang jangan menolak." Ujar Grimmjow menjelaskan.
"La-lalu maksud senpai dengan bilang 'tidak tahan' itu apa?" Tanya Hitsugaya kelabakan.
"Tentu saja aku sudah tidak tahan untuk makan. Aku suka sekali dengan melon-pan dan berbagai cake di sini. Mangkanya aku sering kemari." Kali ini Hitsugaya melongo mendengar ucapan senpainya itu. 'Sungguh buruk pikiranku untuk Grimmjow senpai!' batin pemuda mungil itu sangat menyesal.
"Kau pasti mengira aku akan melakukan yang tidak-tidak padamu 'kan?" Tanya Grimmjow dengan wajah kesal dan tersinggung.
"Gomen nee, aku tidak tau. Jangan marah, ya?" Hitsugaya memohon dengan raut wajah menyesal.
"Aku memaafkanmu. Tapi…"
"Tapi apa?" Tanya Hitsugaya.
"Give me kiss for your regretting." Ucap Grimmjow sambil menyeringai.
"A-apa? Tidak mau!" Hitsugaya menolak.
"Ya, sudah kalau begitu." Grimmjow beranjak dari kursinya dan hendak pergi meninggalkan Hitsugaya.
"Se-senpai! Tunggu, jangan pergi!" Hitsugaya panik melihat Grimmjow.
"Untuk apa aku kencan dengan orang yang tidak percaya padaku?" balas Grimmjow dengan nada dingin. Membuat pemuda mungil itu sangat menyesal.
"Oke! Aku akan menciumu." Ucap Hitsugaya yakin. 'Lucky!' batin Grimmjow, sambil tertawa dalam hati. Pemuda mungil itu memegang wajah Grimmjow dengan lembut dan mendekatkan bibirnya dengan bibir pemuda berambut biru muda itu. Hitsugaya menjilat bibir bawah Grimmjow dengan pelan dan canggung, kemudian Grimmjow membuka mulutnya agar mempermudah Hitsugaya. Pemuda mungil itu memasuki rongga mulut senpainya, dan menjilat setiap bagian di sana. Beberapa menit kemudian Hitsugaya melepaskan ciuman singkatnya. Grimmjow tertawa melihat Hitsugaya blushing, mengingat mereka kini berada di tempat umum.
"Dasar curang. Tau begini aku tidak akan menciummu." Ucap Hitsugaya kesal, tangannya dilipat di depan dada.
Grimmjow memegang dagu Hitsugaya, membuat mata emeraldnya bertemu pandang dengan mata ocean bluenya. "Kalau kau tidak menciumku. Maka aku lah yang akan menciummu." Balas Grimmjow sambil menyeringai.
"Sudah bisa ku tebak." Hitsugaya tersenyum.
Mereka berdua kembali melanjutkan makan malam yang tertunda. Pemuda mungil itu pada akhirnya mengakui selera makan Grimmjow, karena melon-pan hotel ini memang top! Enak sekali! Alhasil, Hitsugaya minta tambah sepiring melon pan lagi, beberapa cake dan ice cream, Grimmjow benar-benar tak habis pikir dengan nafsu makan Hitsugaya yang besar. 'Kemana semua karbohidrat yang dimakannya?' batin Grimmjow heran.
.
.
.
Langit sudah gelap, jalanan kini dipenuhi oleh kelap-kelip lampu jalanan dan lampu kendaraan yang berlalu-lalang seakan tidak ada habisnya. Malam yang begitu indah. Grimmjow dan Hitsugaya berjalan beriringan di tengah kerumunan pejalan kaki.
"Perutku terasa penuh." Gumam Hitsugaya lirih. Tangannya sibuk memegangi perutnya yang terasa sedikit kembung. Pemuda mungil itu berjalan pelan di Samping Grimmjow.
Pemuda berambut biru muda itu menangkap ucapan Hitsugaya. "Bagaimana kau tidak kembung? Kau makan melon pan ukuran besar, beberapa cake dan dua dessert." Ujarnya sambil melirik Hitsugaya. Pemuda mungil itu nyengir innocent.
"Maaf, itu ringtone handphoneku. Tunggu, sebentar." Grimmjow menjauh dari Hitsugaya, mengeluarkan BlackBerry boldnya dan menjawab telpon. Sayup-sayup Hitsugaya mendengar Grimmjow mengucapkan 'Sudah siap?' 'Bagus, aku ke sana'. Pemuda beramut biru muda itu mengakhiri pembicaraannya di handphone dan mendekat ke arah Hitsugaya. Grimmjow menggandeng tangan koheinya itu dan berjalan menuju Chuo-dori. "Ada yang ingin ku perlihatkan kepadamu." Ucapnya dengan nada bersemangat.
Setelah berjalan selama sepuluh menit, sampailah mereka di sebuah gang yang sangat gelap, bahkan mata emerald Hitsugaya tidak bisa melihat apa pun di sana. Pemuda mugil itu begitu kaget ketika Grimmjow melepaskan tautan tangannya dan pergi. "Senpai! Jangan tinggalkan aku!" teriak Hitsugaya, tidak ada jawaban dari Grimmjow. Hal ini membuat Hitsugaya sedikit takut, tangan mungilnya meraba-raba di dalam kegelapan. Tapi hasilnya nihil! Tidak ada siapa-siapa di sana.
CTIK!
Terdengar seseorang menjentikan jarinya. Hitsugaya menjadi terbengong-bengong dengan keadaan disekitarnya. Seketika gang kosong itu menjadi terang enderang dengan sinar lampu yang berkelap-kelip. Jalan yang semula ramai itu kini kosong. Toko-toko dan kedai ditutup, dan sekumpulan lampu kecil-kecil seperti bintang berada di setiap sudut jalan, yang sudah di tata rapi.
Tiba-tiba Grimmjow muncul di belakang Hitsugaya, dan mencium tengkuknya dengan lembut. "Kau suka?" bisik Grimmjow di telinga pemuda mungil itu.
Hitsugaya menoleh ke belakang dan menatap Grimmjow dengan senyum yang mengembang. "Senpai merencanakan ini?" tanyanya, Grimmjow merespon dengan anggukkan. Hitsugaya kembali menatap kejutan kecil dari senpainya itu.
"Terlalu cepat untuk senang, mungil." Ujar Grimmjow. Pemuda tampan itu kembali menjentikkan jarinya.
Duar! Duar! Duar!
Kembang api muncul bertubi-tubi di langit Tokyo. Dan sepesialnya, kembang api itu membentuk sebuah tanda hati berwarna perak di langit malam yang gelap gulita. Seperti bintang yang menari-nari. Tak cukup dengan ini, ketika kembang api selesai, terdengar sayup-sayup music jazz membahana lembut di tempat itu.
On the night like this,
there's so many thing i wanna tell you.
On the night like this,
There's so many thing I wanna show you.
Cause, when you alround I fell save and warm.
Cause, when you alround I can falling love every day.
Grimmjow memegang kedua tangan Hitsugaya lembut. "Aku bukanlah orang yang bisa mengucapkan kata-kata manis ataupun bertingkah lembut denganmu. Aku juga bukan orang yang mengobral kata-kata cinta dan berjanji yang muluk-muluk. Aku cuma bisa berjanji yang bisa dan akan kutepati." Grimmjow menghela nafas sebentar dan mengeratkan tautan tangannya pada Hitsugaya. "Aku mencintaimu, dan aku akan berusaha membahgiakanmu dengan caraku sendiri. Kuharap kau memilihku." Lanjutnya lagi.
Hitsugaya terdiam dan tak bisa berkata-kata, mata emeraldnya menangkap kesungguhan di mata Ocean blue yang kini ditatapnya dengan serius. Grimmjow memegang wajah Hitsugaya dengan lembut, seakan takut wajah yang begitu mempesonanya itu hancur. Pemuda berambut biru muda itu menutup matanya dan mengeleminasi jarak di antara keduanya. Hitsugaya pun lebih menuruti bahasa hatinya yang kini tak bisa dipungkiri. Mata emeraldnya terpejam, dan hanya merasakan sentuhan lembut di bibirnya.
Rasa yang begitu lembut seperti kapas, ciuman yang tidak menuntut atau pun mendominasi. Hanya ciuman yang menunjukan betapa besar cinta dan kesungguhan Grimmjow pada pemuda berambut keperakan itu. membuat seluruh syaraf Hitsugaya menjadi lumpuh seketika dan Cuma bisa merasakan sentuhan lembut dibibirnya. Ciuman yang mampu membuat siapa pun meleleh.
Hanya ada mereka berdua di sana. Langit kota Tokyo yang berkelap-kelip bagai merekam setiap bagian dari kesungguhan ini dengan sinarnya yang begitu tenang. Bulan yang berbentuk bulan sabit di langit pun seakan tersenyum menatap mereka berdua. Mungkin setiap halnya akan berbeda mulai dari sekarang.
~~TBC~~
.
.
.
Moshi-moshi minna san~! Ketemu lagi sama Hima…(^o^)v
Akhirnya ap det juga setelah begitu lama! Maklum aja, Hima 'kan baru selesai ulangan, selain itu juga Hima gak ada ide buat ap det fic ini. Yang ada malah ide buat oneshoot *digilas readers*
Ini pun Hima baru kepikiran buat ap det setelah diterror Chi-chan dengan repiunya di fic 'First Date' *Dijitak Chi-chan* dan disms sama Shinra-chan waktu asik-asik mikirin oneshoot.
Eniwei, soal lemon, kali ini nggak ada lemonnya! soalnya pada chap kali ini, Hima lebih menekankan pada perasaan masing-masing. Selain itu, lagu yang ada di akhir cerita itu lagunya mocca yang berjudul 'On the night like this.' Rasanya bener-bener pas sama keadaan yang Hima bikin! Aw~!
Selain itu, soal kawasan Ginza yang ada di fic kali ini, tempat ini beneran ada di jepang, karena hima cari refrensi angsung dari majalah dan internet. Jadi, kalau mau ke jepang dan nggak bawa guide book, baca aja fic hima lagi, sudah lengkap keterangannya! *dilempar readers ke jurang* (tapi ini beneren serius, lho! Hima nggak pernah ngarang semua tempat yang ada di fic ini dan di fic yang judulnya first date)
Ok! Sekarang balasan untuk repiu~~!
Anenchi ChukaCukhe: Chi-chan~!*hug*. Makasih udah mau repiu~! Map hima kali ini nggak munculin lemon… soalnya hima rasa juga ada saatnya Grimmjow ama Ichi lebih serius dengan Hitsu. Semoga gak kecewa…(^^)
Rika Love: makasih udah mau baca dan repiu~! Hima usahain selalu ap det seminggu sekali.
Hanabi Kaori: Hana-chan~! Aduh~! Rasanya kangen, deh sama hana-chan! Fb hima gak bisa di buka lewat hp… jadi gak enak jarang nyapa hana-chan sekarang…(-_-)a. gomen kalo kali ini nggak ada IchiHitsu~! Tapi di chap depan, semuanya full IchiHitsu.
Shirohana Yuki: moshi-moshi yuki-chan~! Hima sudah berusaha bikin sebaik-baiknya. Gimana pada chap ini? Apa alurnya kecepetan lagi?
Dark Uchikaze: Iya, nih si Hitsu itu mau tapi malu!*dihyourinmaru*. Repiu lagi, ya~! *ngarep*
Sky Fudanshi De Cuatro: Ah, maaf~! Kali ini juga rasanya pendek, ya critanya? Hima bener-bener minta maap! Semoga di chapter kali ini nggak terlalu kecewa.
Jeanne-jaques San: Kali ini sudah full sama GrimmHitsu, lho~! Gomen memang hima masih gak nyadar kalo banyak typo disana-sini. Semoga Jeanne-san suka sama sifat Grimm yang aku buat lebih jujur dan sedikit licik disini…
.
.
Ok, jagan lupa kalau ini belum tamat. Grimmjow juga masih belum tentu diterima sama si Hitsu. Jadi jangan keburu putus asa bagi yang mendukung si Ichi! *Dicero Grimm*
Kalau berkenan, silakan kasih saran saia tentang siapa yang bakal mendapatkan si Hitsu! Hima nggak keberatan kalo dikasih saran.
Ok, terimakasih bagi siapapun yang sudah membaca fic ini, apalagi sampai ngerepiu… jempol empat deh! Berkat dukungan dari kalian, hima menjadi bersemangat ap det!
Sampai jumpa di chap depan~! Jaa ne~!(/^o^)/
.
.
.
.
Mind to give me review for my mistake in this chapter?
