Diclaimer : Selamanya dan masih selalu milik Paman Tite Kubo
Title: Little Wing
Pairing : Ichigo x Rukia
All Stars :
Kuchiki Rukia, Ichigo Kurosaki, Renji Abarai, Gin Ichimaru, Toushiro Hitsugaya,dll.
Genre :
Friendship 50% Romance 30% Mistery 20%
Rate : T
Author : Hwarang Ichikurasaki
Chapter 3
"Aku menemukannya!" teriak salah satu polisi yang menyisir lokasi kecelakaan itu.
Akhirnya semua orang mengikuti polisi yang menemukan Ichigo beserta motornya. Mereka langsung membawa Ichigo ke rumah sakit karena keadaan Ichigo sangat mengkhawatirkan. Polisi yang lain mencoba mencari identitas Ichigo, setelah polisi menemukan identitas Ichigo mereka langsung mengabari keluarga Ichigo.
-Dirumah Ichigo dan kawan-kawan-
Semua orang tertidur di ruang tamu, Gin dan Hitsugaya tidur di sofa dengan posisi bersebelahan. Renji tidur meringkuk dikarpet, sedangkan Rukia tidur dikursi.
TOK TOK...
Mendengar ketukan pintu Rukia langsung terperanjat dan berteriak.
"Ichigo?" teriak Rukia sangat keras sehingga membangunkan teman-temannya.
Rukia segera berlari membuka pintu dan diikuti teman-temannya, setelah sampai dipintu Rukia dengan segera membuka pintu itu.
CEKLEKK...
"Selamat pagi! Maaf pagi-pagi mengganggu tidur kalian," ucap seseorang didepan pintu.
"Selamat pagi! Pak Polisi? Ada keperluan apa anda datang ke rumah kami pagi-pagi buta seperti ini?" tanya Hitsugaya heran.
"Apa benar ini kediaman Ichigo Kurosaki?" tanya pak polisi itu.
Renji, Hitsugaya, Gin dan Rukia saling bertatapan, mereka terlihat sangat bingung.
"Iya, ini kediaman Ichigo Kurosaki," jawab Renji pada pak polisi itu.
"Apa kalian keluarganya?" tanya pak polisi itu lagi.
"Kami sahabat Ichigo, orang tua kami tinggal diluar kota," jelas Gin.
"Begini, kedatangan kami pagi-pagi kesini ingin mengabarkan kalau saudara Ichigo sekarang ini berada di rumah sakit, karena tadi malam mengalami kecelakaan," jelas pak polisi pada mereka.
"Apa? Terus keadaan Ichigo bagaimana?" tanya Rukia tidak percaya.
"Keadaannya lumayan mengkhawatirkan, untuk itu kami mohon kalian segera menemui sahabat kalian di rumah sakit," ucap pak polisi.
"Baik! Kami akan segera kesana," ucap Hitsugaya pada pak polisi.
"Saya mohon bapak bersedia menunggu kami, karena kami tidak tahu Ichigo dirawat dimana," pinta Gin pada pak polisi.
"Baiklah kalau begitu," jawab pak polisi.
"Kalau begitu silahkan bapak tunggu didalam dulu, biar kami bersiap-siap," tawar Rukia pada pak polisi itu sambil mempersilahkan masuk.
"Baiklah," jawab pak polisi sambil masuk kedalam rumah.
-Setelah beberapa saat-
Rukia, Renji, Hitsugaya, Gin dan pak polisi sudah sampai dirumah sakit dimana Ichigo dirawat. Disana terlihat ada seorang suster, lelaki setengah baya, ibu yang juga setengah baya, dan satu anak perempuan yang seumuran dengan Rukia.
"Sus bagaimana keadaan teman kami?" tanya Rukia khawatir.
"Apa kalian keluarga pasien yang sedang dirawat didalam?" tanya suster itu balik.
"Iya, kami keluarga sekaligus sahabatnya," jawab Gin pada suster itu.
"Bagaimana keadaan teman kami?" tanya Renji yang juga kelihatan khawatir.
"Tenang, teman kalian sudah melewati masa kritisnya," jawab suster itu.
"Benarkah?" tanya Rukia agak lega.
"Iya, tinggal menunggu pasien sadarkan diri," jawab suster itu seolah menenangkan semuanya.
"Alhamdulillah kalau begitu," ucap Hitsugaya lega.
"Maaf! Tadi malam kami tidak sengaja membuat teman kalian terperosok kedalam jurang," jelas laki-laki setengah baya itu tiba-tiba.
"Bapak yang menabrak teman kami?" tanya Renji penasaran.
"Bukan! Ayah tidak menabrak teman kalian, sepertinya teman kalian berusaha menghindari mobil kami, sehingga motornya terperosok kedalam jurang," jelas perempuan perparas cantik dengan rambut diikat keatas.
"Iya, karena semalam hujan sangat deras dan mungkin kita sama-sama ingin menghindari satu sama lain sehingga mobil kami menabrak pohon dan mobil teman kalian terperosok kedalam jurang," jelas lelaki setengah baya itu lagi.
"Sungguh! Kami tidak ada maksud untuk mencelakakan teman kalian," imbuh wanita setengah baya yang mungkin adalah istri lelaki setengah banya itu.
"Kami bisa mengerti, bapak tidak usah khawatir," ucap Gin sambil menepuk bahu lelaki setengah baya itu.
"Terimakasih anak muda," balas lelaki setengah baya itu.
Sementara Renji, Rukia, Hitsugaya tersenyum lebar memperhatikan Gin yang bersikap bijaksana itu.
"Suster! Apa boleh kami melihat keadaan teman kami?" tanya Rukia pada suster.
"Iya! Silahkan!" jawab suster itu.
Kami semua akhirnya masuk kedalam ruangan dimana Ichigo sedang dirawat, didalam ruangan itu terlihat Ichigo tertidur tidak berdaya. Setelah bebapa saat kemudian akhirnya Ichigo sadarkan diri. Dan semua orang yang ada diruangan terlihat sangat bahagia.
"Ichigo! Kau sudah siuman? Alhamdulillah," ucap Rukia sambil memegang tangan Ichigo.
"Ru...kia?" tanya Ichigo terbata-bata.
"Iya, kami semua ada disini menunggumu Ichigo," ucap Hitsugaya yang berada disamping kanan Ichigo.
"Hitsugaya?" ucap Ichigo sambil menoleh kearah Hitsugaya.
"Bagaimana keadaanmu Ichigo?" tanya Renji yang terlihat sedikit khawatir.
"Aku... aku sudah tidak apa-apa, kalian tidak usah cemas seperti ini," ucap Ichigo berusaha menenangkan teman-temannya.
"Alhamdulillah kalau begitu," ucap Gin yang terlihat lega.
Ichigo hanya menyunggingkan senyumannya, ia merasa sangat beruntung mempunyai sahabat seperti mereka. Dan Ichigo sebenarnya merasa bersalah atas kejadian waktu di restoran itu, dia merasa seperti anak kecil.
"Maafkan kami?" ucap lelaki setengah baya itu pada Ichigo.
"Tidak perlu minta maaf, itu semua salahku sendiri," jawab Ichigo sambil menoleh kearah lelaki setengah baya itu.
"Iya, bapak tidak perlu minta maaf! Sudah jelas-jelas Ichigo yang salah kok!" ucap Renji sambil cengengesan.
Lelaki setengah baya itu tersenyum lega, seolah olah sangat bahagia.
"Sepertinya ayah dan ibu capek!" ucap anak dari lelaki itu.
"Ayah Cuma kurang tidur," jawab lelaki itu.
"Sebaiknya ayah pulang dan Istirahat, biar aku yang berada disini," tawar anak perempuan itu.
"Kau tidak apa-apa disini?" tanya lelaki itu.
"Iya!" jawab anak perempuan itu dengan tersenyum.
"Baiklah kalau begitu, bu mari kita pulang saja," ajak lelaki itu pada istrinya.
"Baiklah kalau begitu," jawab wanita setengah baya itu.
"Anak-anak semua, bapak pulang dulu ya? Ini kartu nama bapak, kalau ada apa-apa tolong hubungi bapak," ucap lelaki itu sambil menyerahkan kartu namanya pada Hitsugaya.
"Oh iya, silahkan bapak pulang saja," jawab Hitsugaya.
Akhirnya lelaki itu pulang bersama istrinya, hanya anak mereka yang masih tinggal di rumah sakit untuk memantau keadaan Ichigo.
"Namamu siapa?" tanya Ichigo sambil menatap gadis yang diketahui anak dari orang yang hampir ditabraknya.
"Hinamori Momo," jawab gadis itu sambil menatap Ichigo.
"Salam kenal, aku Ichigo!" ucap Ichigo sambil memperkenalkan diri.
"Aku Rukia!" ucap Rukia yang juga ikutan memperkenalkan diri.
"Aku Gin Ichimaru," ucap Gin dengan senyuman mautnya.
"Aku Renji Abarai," Ucap Renji serius.
"Hitsugaya! Kau tidak memerkenalkan dirimu?" tanya Ichigo pada Hitsugaya yang sejak tadi memandang keluar, dan berdiri didekat jendela dan melihat pemandangan darisana.
"Aku?" tanya Hitsugaya tidak mengerti.
"Ya, tentu saja kau pendek!" ejek Renji pada Hitsugaya.
"Apa kau bilang babon?" tanya Hitsugaya kesal.
"Eits… jangan berantem disini, ini rumah sakit tahu!" sela Rukia mendamaikan sahabatnya itu.
"Kalau tidak dirumah sakit kau akan kubunuh babon!" ucap Hitsugaya marah.
"Memang kau berani anak kecil?" ejek Renji.
"Sudahlah, berhenti bertengkar!" bentak Rukia.
Akhirnya setelah Rukia membentak mereka, Renji dan Hitsugaya bisa diam. Sedangkan Gin, Ichigo dan Momo hanya senyam-senyum memandangi pertengakaran kecil yang lucu itu.
"Sebaiknya aku mencari sesuatu yang bisa dimakan dulu ya?" ucap Momo sambil berdiri.
"Ide bagus itu, aku juga lapar," ucap Renji dengan mengelus-elus perutnya.
"Benar juga, kita kan belum makan apa-apa pagi ini," timpal Rukia.
"Ok, mau kutemani mencari makanan Momo?" tawar Gin pada Momo.
"Tidak usah, kalian disini saja," tolak Momo hati-hati takut menyinggung Gin.
"Okelah kalau begitu," jawab Gin dengan senyuman mautnya.
"Kalian tunggu disini ya? Aku akan segera kembali," ucap Momo sambil melangkah keluar ruangan.
"Aku keluar sebentar!" ucap Hitsugaya sambil melangkah keluar ruangan.
"Mau kemana dia?" tanya Renji pada kawan-kawannya.
"Aku tidak tahu," jawab Gin.
-Ditempat lain-
Momo sedang sibuk memilih-milih makan di minimarket didekat rumah sakit, dia bingung mau membeli makanan apa untuk teman-teman barunya.
"Yang mana ya?" ucap momo pelan sambil melihat-lihat makanan didepannya.
"Mereka paling suka ini," ucap Hitsugaya yang tiba-tiba ada disamping Momo sambil menyodorkan keripik singkong.
"Kau?" tanya Momo kaget.
"Namaku Toushiro Hitsugaya!" ucap Hitsugaya memperkenalkan dirinya.
"Aku Hinamori Momo," ucap Momo malu-malu.
"Kau sekolah dimana?" tanya Hitsugaya sambil memilih-milih makanan dan diletakkannya dikeranjang yang dibawa Momo.
"Aku sekolah di SMA Karakura," jawab Momo berusaha menutupi nervousnya.
"SMA Karakuara? Berarti kita satu sekolahan dong?" tanya Hitsugaya penasaran yang langsung menatap tajam Momo.
"I… ya! Aku kelas 2 B," jawab Momo sambil menunduk saking groginya.
"Ternyata kita satu sekolahan, dan aku sama sekali tidak pernah melihatmu," ucap Hitsugaya sambil mengambil roti kegemarannya.
"Aku sebenarnya mengenal kalian, siapa yang tidak kenal dengan anak populer seperti kalian," ucap Momo kemudian.
"Siapa yang populer? Biasa saja kok!" jawab Hitsugaya santai.
"Semua orang mengatakan seperti itu, sebenarnya sejak aku kecil aku sudah mengenalmu Shiro Chan," ucap Momo tetap menunduk.
"Shiro Chan? Kenapa kau bisa tahu nama kecilku Momo?" tanya Hitsugaya tidak percaya.
"Tentu saja aku tahu, sewaktu TK kau pernah menolongku saat aku jatuh," jelas Momo.
"Benarkah? Jadi? Kau anak yang dulu itu?" ucap Hitsugaya tidak percaya sambil mengingat-ingat kejadian dulu itu.
"Iya!" jawab Momo grogi.
Hitsugaya sedikit salah tingkah waktu itu, dia benar-benar tidak menyangka kalau Momo adalah anak yang dulu pernah dia tolong, dunia ini sungguh sempit.
"Hmm... aku tidak menyadarinya, sepertinya makanannya sudah cukup. Sebaiknya kita segera kembali," ucap Hitsugaya menutupi groginya dan kemudian berjalan menuju kasir.
Dengan grogi Momo mengikuti Hitsugaya ke kasir. Setelah mereka membayar belanjaannya, mereka langsung kembali ke rumah sakit.
"Makanannya sudah datang," teriak Momo yang baru memasuki ruangan.
Semua orang langsung menoleh kearah suara, Renji, Rukia, Gin dan Ichigo juga sangat terheran-heran melihat Hitsugaya bersama Momo. Hitsugaya dengan gaya cool nya kemudian duduk dikursi sambil memainkan ipodnya, sementara yang lain memandang Hitsugaya dengan penuh tanda tanya yang sangat besar. Rukia kemudian mendekati Momo, sambil meminta makanan yang Momo bawa.
"Momo! Kenapa Hitsugaya bisa bersamamu?" tanya Rukia menyelidiki.
"Un... itu! Tadi Shiro Chan tiba-tiba ada di mini market dan membantuku memilih makanan untuk kalian," jelas Momo.
"Shiro Chan?" tanya Rukia, Renji, Gin dan Ichigo bersamaan yang kagetnya bukan main.
Ada banyak pertanyaan yang terbesit diotak mereka masing-masing. Selama ini tidak ada yang memanggil Hitsugaya dengan nama kecilnya itu. Hitsugaya yang merasa namanya disebut-sebut pun akhirnya mengamati manusia disekelilingnya.
"Ada apa?" tanya Hitsugaya tidak mengerti.
"Tidak ada apa-apa Shiro Chan!" ucap Momo sambil menggoyang-goyangkan tangannya.
"Momo? Jangan panggil aku seperti itu," ucap Hitsugaya malu.
"Kenapa?" tanya Momo kecewa.
"Aku sudah tidak terbiasa dipanggil seperti itu," jawan Hitsugaya hati-hati takut menyinggung perasaan Momo.
"Sudahlah tidak perlu dibahas!" sela Rukia mencairkan suasana.
"Betul sekali, aku juga sudah lapar! Ayo kita makan saja," ucap Renji yang sadar akan keadaan Momo dan Hitsugaya.
"Aku juga sudah lapar!" imbuh Gin yang langsung mengambil keripik singkong kesukaannya.
Mereka asyik menikmati sarapan paginya, tapi tidak bagi Ichigo. Karena Ichigo sama sekali tidak dibagi makanan yang sebanyak itu oleh teman-temannya.
"Kalian ini tega sekali ya? Teman lagi sakit kalian malah pesta makanan," ucap Ichigo kesal.
"Maaf Ichigo!" ucap Momo merasa bersalah.
"Tidak apa-apa kok Momo, Ichigo hanya iri saja karena dokter melarang dia makan sembarangan," jelas Rukia sambil mengunyah roti dimulutnya.
"Kenyangnya!" ucap Renji sambil menepu-nepuk perutya yang buncit.
"Sepertinya aku ingin ke toilet!" ucap Gin yang kemudian langsung berlari terbirit-birit ketoilet.
"Aku mau cuci tangan dulu ah, Gin tunggu aku!" teriak Renji dan menyusul Gin.
"Momo, aku ingin bicara sesuatu," ucap Hitsugaya sambil menatap Momo.
"Iya, baiklah," jawab Momo.
Akhirnya Hitsugaya dan Momo meninggalkan ruangan itu, dan tinggalah disana Rukia dan Ichigo. Sungguh suasana yang kaku, Ichigo mulai tidak enak. Dan bisa dikatakan kalau Ichigo nervous, kalau Rukia sih biasa-biasa saja.
"Rukia!" panggil Ichigo memecahkan keheningan.
"Yo Ichigo! Ada apa?" tanya Rukia.
"Boleh aku minta tolong diambilkan minum?" pinta Ichigo pada Rukia.
"Baiklah, karena kau sedang sakit aku akan menurutimu," jawab Rukia yang kemudian beranjak dari tempat duduknya kemudian mengambil minum dimeja dan menyerahkannya pada Ichigo.
"Ini!" ucap Rukia.
"Tanganku sakit Rukia! Bisakah kau meminumkannya?" pinta Ichigo.
"Hnn... baiklah!" ucap Rukia yang kemudian mulai meminumkan minuman itu pada Ichigo.
Ichigo merasakan sesuatu didalam dirinya, jantunganya terpacu cepat sekali. Apalagi saat tangan Rukia menyentuh dadanya, dan hal itu refleks membuat Ichigo juga membantu Rukia mengepaskan posisi gelas agar Ichigo mudah meminumnya. Saat tangan Ichigo menyentuh tangan Rukia, Ichigo sangat grogi dan mungkin lebih tepatnya salah tingkah.
"Rukia!" panggil Ichigo.
"Ya!" jawab Rukia.
"Aku..."
~~~ T B C ~~~
HYAAA...
Maaf kalau chapter ini mengecewakan, Hwarang bener-bener tidak punya ide.
Dan kupikir ada banyak typo diatas...
Maklum sekarang sudah jam 0:1 am jadi ne mata sudah sangat lelah...
Hahaha...
Mohon Review ya para Senpai...*tersenyum lebar meniru gaya Gin*
Balasan Review chapter 2:
Fajariku Nagasi: Makasih dah memuji karyaku yang tidak karuan ini…*mulai gaje-geje gimana gitu*
Avia chibi-chan: Nah… masalah pairingnya liat aja ntar, tapi tentu saja Ichiruk. Kenapa Rukia meninggal nanti akan ada dichapter agak akhrir.
Mika de Zaoldyeck: Hehehe… maaf yak? Bukan maksudku lhoh… aku menghormati beda agama kok! Semoga dirimu juga demikian…*ngarep* untuk pengingatan tanda bacanya Hwarang ucapkan terimaksih yak? Maklum Hwarang masih amatiran.
Ciel L. Chisai: hehehe… mereka nanti akan punya pasangan masing-masing kok, jadi yang dibahas tidak hanya Ichiruk mulu *padahal pairingnya Ichiruk, Hwarang ki piye toh*
Riztichimaru: Tenang aja, Ichi tidak akan semudah itu matinya. Hah… aku juga tidak habis pikir sama Rukia…*Lhoh Hwarang kie piye toh? Yang buat siapa yang g tahu siapa* maslah penulisan ya? Tengkiyu dah diingetin, akan kuperhatikan itu baik-baik.
Aine Higurashi: Yee… tapi Ichi kan selamat dari malapetaka itu…*malapetaka kayak apa aja* wkwkwkwk
So-Chad 'Luph pLend': Masih nanya lagi, tentunya kecelakaan…Plakk *digampar So chad karena tidak menjawab*
Sava kaladze: Haloo juga Sava *jadi inget Safa dan marwah gw, sinetron bangettt* wkwkwk. Makasih atas infonya yak? Ntar akan kuganti
aRaRaNcHa : Hahaha... aku juga tidak mengerti akan cerita ini? *lhoh...maksudnya?*
ada banyak lika-liku disini...*berasa kayak buat sinetron gw* wkwkwk
aya-na rifa'i: Lhoh...Ichi ni belum mati taux...*misuh-misuh gaje*
Ruki Yagami: Hahaha...tenang-tenang Ruki, sekaratnya dah berhenti kok. Sabar bu...nanti Ichi tak guyur air comberan biar sadar..hahahaha *dijitak sama Ichigo*
Ichironami: aku dah tahu dari awal kalu kau sotoy...wkwkwkwk Plakk...*kena gamapar Ichironami* benar juga sih, Grimmjow pengganggu, tapi kenapa aku ngefans yak? *bingung* tenang Ichigo ga mati kan?
Girlinlightblue: jangan loncat-loncat... ntar kepala nya kepentok lhoh...hahahha...terimasih dah merasa puas *Hwarang mulai terharu dan tentunya super duper lebay*
Buat semuanya yang sudah membaca crita yang super duper aneh ini, Hwarang mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya...
