Cuap-Cuap Penulis di Awal Tulisan
Yah, saya terlalu menikmati penulisan ini. Terutama momen USUK dan sikap wagu Kiku. Entah mengapa, menggambarkan watak iseng, kaku, pemalu, canggung dan pintarnya selalu menjadi keasikan tersendiri buat saya, dimana dalam chapter ini, sikapnya terhadap Kirana bisa diimplementasikan dengan kalimat : jane koe wis tresno ning sejen, yo aku iso opo to cah ayu (kalau kamu sudah cinta dengan pria lain, aku bisa apa lah, cantik). Well, it's kind of amusement for me, ehehe. Mein gott, saya memang dodol kadang. Ja, selamat menikmati.
Chapter 2
Hetalia Axis Power © Himaruya Hidekazu
Random Life of High School Couple
Lazuardi
.
.
.
Di salah satu sisi sekolah, Kiku sibuk membaca buku filsafat sementara tangannya asik mengelus-elus Emi, kucing kesayangan (penjaga sekolah) yang memang sangat manja saat bersamanya. Baginya, tak ada yang lebih damai dari suasana seperti ini. Andai ada segelas teh dan kue manju, maka semuanya akan sempurna.
Saat matanya memandang lurus, tanpa sengaja ia melihat Kirana dengan pakaian renang panjangnya (yang mirip dengan pakaian selam) tampak duduk di sisi kolam renang dengan rambut terurai. Matanya tertegun. Entah mengapa, angin seolah memanjakan pandangannya. Rambut panjang hitam Kirana yang melambai, dengan sosoknya yang duduk anggun bersama Faqih dan murid perempuan lainnya membuatnya terpaku. Perlahan, tangannya menggapai kamera DSLR, lalu memotret Kirana dengan lensa tele-nya. Terima kasih kepada chichiue yang mendukung hobi fotografinya, sehingga ia bisa mengambil foto objek jauh dengan kualitas baik.
Sudah berapa lama ia memendam kebiasaan ini? Yah, enam bulan, tujuh bulan mungkin? Selama ini Kiku hanya bisa memandang Kirana dari jauh, terima kasih kepada sikap pengecutnya. Dan selama berbulan-bulan ini memendam rasa, ia harus puas dengan mengagumi makhluk Tuhan paling seksi itu dari balik lensa, keker, atau foto. Ia tak akan sampai hati mengungkapkan perasaannya pada Kirana.
Saat ia menurunkan kameranya, tanpa sengaja matanya kembali bersirobok dengan Kirana. Jantungnya kembali menabuhkan suara beritme festival obon: 'dung dung dung dung' dalam frekuensi cepat.
"Senpaaaaai!" sapa Kirana dari jauh sembari melambaikan tangannya.
Kiku hanya mengangguk sekali diikuti senyum tipis, kemudian mengalungi kameranya. Ia beranjak berdiri, lalu kabur dari spotnya, mengabaikan Emi yang protes saat diturunkan dari pangkuannya. Bertahanlah, hatiku!
Kirana menyapaku dengan ramah.
Kirana melambaikan tangannya padaku.
Ia tersenyum manis padaku.
Dalam pakaian renangnya.
Seketika ia merasakan dorongan yang mendesak dari hidungnya. Shimatta, kenapa baru segini saja ia sudah lemah! Dimana jiwa samuraimu yang kuat itu, Honda Kikuuu!
Di depan wastafel, ia mencuci muka dan membersihkan hidungnya yang masih sedikit mimisan.
Mha, pria sekuat apapun sudah sewajarnya akan lemah saat berhadapan dengan wanita yang mereka cintai, bukan?
.
.
.
"Kau kenal Kiku Honda, ana?" tanya Thai pada Kirana saat gadis itu mengerjakan tugas presentasinya.
"Ia satu klub denganmu kan?" tanya Lani. Ia duduk di sebelah Kirana sementara gadis itu mengetik di depan laptopnya.
"Ya, aku mengenalnya. Kenapa?" sahut Kirana.
"Benar tak, kalau ia suka membawa foto tokoh anime kesukaannya di dompet?" tanya Faqih.
Kirana ternganga. "Darimana kau dapat berita seaneh itu? Setahuku tidak."
"Ah, berarti cuma isu tu."
"Tapi masa' sih? Oke, taruhlah itu memang benar..." Kirana memandang Faqih dan yang lainnya. "Emangnya kenapa? Lagipula, kukira dia... nggak mungkin seaneh itu kan?"
"Lho, senior kita yang satu itu kan memang aneh, ana?" ucap Thai sembari mengibaskan tangannya, tertawa. "Otaku, hobinya mengambil foto-foto pasangan pria, dan menyimpannya."
"Apa?" Kirana ternganga. Ia baru tahu ternyata ada orang lain yang melakukan hal seperti itu selain dirinya. Partner baru! Ia baru tahu, kalau selama ini senpainya tidak hanya otaku, tapi yaoi lovers juga!
"Iya, aneh sekali kan? Kau bisa bayangkan, mengambil foto pasangan pria! Hobi yang..." Lani memutar bola matanya.
"Lho, memang apa salahnya? Aku juga suka mengambil foto pasangan pria sebagai hiburan pribadi," ucap Kirana, agak tersinggung.
"Masalahnya ia laki-laki Kirana! Apa kau tak heran jika seorang pria menyukai yaoi?" ucap Thai menjabarkan. "Aku malah curiga ia punya orientasi yang berbeda."
"Benar lah tu. Pria macam Kiku tak pernah nampak dengan awek. Bisa jadi," Faqih mengangguk-angguk.
"Begini, teman-teman..." Kirana menghentikan aktivitasnya. "It's not I'm sided to him, tapi jujur, apa yang salah? Mungkin agak aneh, tapi apa hak kita menjudgenya sedemikian rupa? Contohnya aku. Aku pecinta yaoi, apakah itu aku berarti menyukai hubungan sesama jenis? Tidak kan? Aku normal dan masih suka pria."
"Macem mane pria kau ni Indon. Kalo kau memang suka pria, tak pelaklah kau beritahu aku siape yang kau sukai disini tu," Faqih memberi pandangan; beri tahu aku sekarang, kau tak boleh menolaknya.
"Nah, aku setuju ucapan Faqih. Ayo beri tahu..."
Kirana mengerutkan kening. "Kok... jadi seperti ini? Kenapa aku jadi diminta memberitahu siapa orang aku suka?"
"Nah, aku hanya ingin tahu apa kau memang benar-benar menyukai seorang pria?" Lani memandangnya dengan tatapan penuh arti.
Kirana menggaruk kepalanya. Jannnnn, kok dadi koyok ngene? (Siaaal, kenapa jadi seperti ini?). Kirana memandang keempat ketiga temannya dengan pandangan ; aku kudu jawab opo?
"Don't gimme that look. Tak mempan buat ku," Faqih mengibaskan tangannya.
Kirana bingung. Selama ini ia memang tak pernah terlihat dekat dengan siapapun. Bahkan termasuk kedekatannya dengan Faqih tak lebih dari hubungan pertemanan karena mereka berdua dari negara yang bertetangga. Lalu siapa nama yang harus ia sebut?
Lagipula jika ia memang menyebutkan sebuah nama pun, apa tidak heboh jadinya? Apa ada jaminan jika mereka akan bungkam? Bisa jadi setelah ini ia akan jadi bahan gosip akibat teman se-Asia Tenggaranya.
Jan, nek wis ngene yo aku keder tenanan. Biyuuuung. (Yah, kalau udah begini aku jadi bingung beneran. Mamaaaa...)
"Oke, oke..." Kirana melirik ke arah lain, dan tiba-tiba sebuah bayangan terlintas di kepalanya. "Senior kita. Ivan Braginsky."
"Aaaaaah, pria Rusia itu? Uuuwhh, seleramu tak buruk, Kirana!" Thai tepuk tangan beberapa kali, tapi sesaat kemudian wajahnya berubah. "Tapi... bukankah ia memang agak menyeramkan? Kau tahu, bahkan kelas XII pun banyak yang takut dengannya. Ia memang manis namun..."
"...mengeluarkan aura penuh intimidasi," Lani mengangguk, melanjutkan.
"Apakah kalian akan mengurusi masalah pribadiku sekarang? Atau kalian belum puas?" Kirana memandang mereka dengan wajah annoyed. Kiran memang tipikal perempuan yang sangat tidak suka jika kehidupan pribadinya dicampuri.
"Ah, jadi macam tuh laki yang kau suka, Ndon..." Faqih melipat tangannya ke dada. "Aku baru tau..."
"Tentu saja," Kirana mengerling ke arah lain, "you don't ask so you wouldn't know."
"Yah, yang penting sekarang aku tau lah," Faqih tersenyum sinis.
Dibalik senyuman getir Kirana hanya bisa menghela nafas panjang. Kenapa sih, hobi mereka ikut campur urusan pribadi orang? Kirana tak pernah habis pikir. Ia bukanlah orang yang suka saat masalah pribadinya dicampuri orang lain, tapi ia tak punya pilihan saat orang-orang ini menanyakannya.
Ia menghela nafas panjang.
Ia berharap, setelah semua ini, ia tak membuat sekolah gempar dengan gosipnya yang tersebar dimana ia dikabarkan dekat dengan Ivan. Oke, pria itu memang pernah mengantarnya sekali pulang ke rumah, but that's it. Ia memang merasakan hatinya cukup senang dengan pria tersebut dan mengaguminya layaknya fans pada idolanya, tapi cuma itu.
Mudah-mudahan, ini tak akan berimpas buruk.
.
.
.
Menjelang mata pelajaran Matematika, Kiku kaget melihat sosok Kirana berada di kelasnya. Terlebih lagi duduk di sebelah mejanya. Ia memandang Kirana dengan tatapan penuh tanda tanya. Kenapa ia disini, pikirnya.
"Hai senpai..." sapa Kirana lembut.
Kiku mengangguk sekali, kemudian beranjak duduk di kursinya. Gadis ini ada di kelasnya, great. Sudah sejak kemarin ia terganggu dengan berita tentang Kirana yang katanya menyukai Ivan, dan selama itu sepanjang malam ia tak tidur memikirkan isu tersebut. Apa itu semua memang benar?
Diliriknya Kirana. Bagaimana jika ia menanyakannya?
Tunggu. Bukankah itu berarti ia mengambil pusing akan urusan Kirana? Dan bukankah itu juga bisa menjadi tanda bagi gadis itu, bahwa jika ia menanyakannya, bukan tidak mungkin Kirana akan menanyakan padanya, kenapa ia bertanya.
Harus jawab apa?
Muzukashi... –sulit juga...
Belum sempat Kiku membuka mulut, Ibu Valka dan Ibu Carla masuk ke ruangan. Sudah tak aneh bahwa di sekolah di Finlandia, setiap pelajaran, akan ada dua guru yang masuk; satu sebagai pengajar dan yang satunya sebagai asisten.
"Ya, berhubung ada sedikit kebijakan, untuk satu bulan ini, kelas kita akan mendapat tambahan baru dari kelas 10. Kirana Danadyaksa, silahkan perkenalkan dirimu..."
Kirana berdiri. "Perkenalkan, nama saya Kirana Danadyaksa, dan selama sebulan ini saya akan mengikuti kelas ilmu eksakta di kelas kalian, jadi mohon bantuannya."
Kiku mengerutkan kening? Kelas eksakta saja? Kalau begitu, bagaimana dengan pelajaran lainnya?
"Perlu kalian tahu, bahwa Kirana sengaja menjalani kelas percobaan disini selama sebulan terkait dengan kemampuannya yang lebih dibidang ilmu pasti, jadi jika ia lolos, ia diizinkan untuk mengikuti kelas kalian ke depannya, bersamaan dengan yang lain. Nah, untuk murid terbaik disini," seluruh pandangan tertuju ke arah Kiku, "aku mohon bantuanmu untuk membantunya saat ia tak mengerti materi di kelas kita."
Kiku mengangguk sekali.
Kirana menoleh ke arah Kiku? Oh, jadi pria jepang ini adalah murid terbaik? Ia baru tahu, mengingat sekolah di Finlandia tidak menerapkan rangking, sangat sulit bagi kita untuk mengetahui siapa yang terpintar. Tapi, mendengar ucapan Bu Valka, Kirana akhirnya tahu.
Kiku bukan murid sembarangan.
Pelajaran pun dimulai. Selama 40 menit mereka diajarkan berbagai soal matematika dan diizinkan untuk bertanya saat tidak paham. Bu Carla mengitari kelas, mengajari secara langsung saat beberapa murid yang lambat agak kesulitan memahami.
"Untuk soal nomor 21, Kirana? Mungkin kau ingin mencobanya?" tawar bu Valka sembari menyodorkan kapur.
Kirana mengangguk. Dalam waktu lima menit saja, ia berhasil menyelsaikan soal Integral bertingkat itu tanpa kesulitan.
"Kau memang berbakat. Selanjutnya, mungkin?" pinta Bu Valka lagi setelah mengecek jawaban Kirana dan tidak menemukan kesalahan pada jawabannya.
Kirana memandang soal di buku yang dipegangnya. Setelah mencoba menjawab setengah, Kirana buntu. Ia mulai bingung.
"Bingung?" tanya Bu Valka melihat Kirana hanya menggeleng dengan senyum tersungging.
"Tak masalah. Ada yang bisa melanjutkan?"
Kiku mengangkat tangannya. Kirana memberikan kapur itu pada Kiku, dan sesaat, jemari mereka bersentuhan.
Kiku terdiam sejenak.
Kenapa tidak bisa lebih lama lagi?
"Kiku?" panggil Bu Valka membuyarkan lamunannya.
"Eh, sumimasen..." Kiku terkesiap, kemudian membetulkan kacamatanya. Ia memandang soal itu sejenak, lalu melanjutkan hitungan Kirana yang tidak selesai di papan tulis.
Kirana bersiul pelan melihat jawaban tersebut. As expected from first rank, eh?
"Jawabanmu betul," ucap Bu Valka sembari memandang papan tulis, lalu mengalihkan pandangannya ke arah murid-murid. "Kita beri tepuk tangan dulu utuk mereka."
Suara tepuk tangan pun membahana saat Kiku kembali ke kursinya. Ketika ia membetulkan posisi duduknya, Kirana mengacungkan jempol ke arahnya diikuti tulisan di kertas yang ditunjukkan ke arahnya.
Honda-senpai is the best! Nyu! :3
Kiku menunduk, tersenyum setelah menjawab tulisan tersebut dengan ucapan 'arigatou' yang lirih. Pipinya memanas mendapat pujian seperti itu, terlebih lagi dengan ucapan 'nyu' di ujung kalimat tersebut yang membuatnya geli. Rupanya, gadis itu lucu juga.
Tiba-tiba saja, sebuah kertas dilempar ke arah Kirana. Gadis itu menoleh melihat gulungan surat itu, menolah ke belakangnya. Suasana masih tenang.
Apa benar kau menyukai Ivan?
Eduardo
Kirana ternganga, menoleh ke arah pria yang berasal dari Estonia tersebut. Pria itu melemparkan pandangan penuh tanya. Ia mendengus kesal. Kenapa berita itu sudah menyebar secepat ini bahkan hingga ke kelas senior? Teman-temannya memang menyebalkan. Ini sudah pasti disebarkan oleh mereka, pikirnya. Kirana menghela nafas panjang, mengabaikannya.
Sebuah kertas terlempar lagi ke arahnya. Kirana berdecak. Ia membuka surat tersebut.
Kirana... aku dengar lho. Aku dengar beritanya... dan aku cukup senang dengan hal tersebut. Kapan-kapan kita kencan yuk?
Ivan ^J^
Kirana ternganga. Ia menoleh ke arah Ivan, dan pria itu tersenyum ramah padanya. Buruk, buruk. Benar kan dugaannya. Ucapan itu akan menyebar cepat layaknya ebola hanya dalam sehari saja. Inilah yang paling ia takutkan, dan semua asumsinya benar-benar terjadi. Bagaimana ia menghadapi Ivan jika sudah seperti ini keadaannya? Ia memandang buku catatannya dengan hati kacau.
Sepanjang pelajaran, gadis itu tak bisa berkonsentrasi. Ia bukannya marah jadi bahan gosip, tapi ia juga bukan orang yang suka jadi pusat perhatian. Melihat kenyataan ini, sudah jelas semua pandangan para murid terutama murid perempuan pasti tertuju padanya (dengan tatapan membunuh pastinya), mengingat Ivan termasuk dalam jajaran pria populer idaman perempuan meski ia juga ditakuti dengan wataknya yang bisa mengerikan tiba-tiba. Kirana mendesah lagi, membenci kenyataan ini.
Selamat tinggal, masa SMA-ku yang damai...
Tanpa sengaja, saat ia berusaha kembali fokus pada pelajaran, matanya tanpa sengaja memandang Alfred yang sedang mencolek-colek bahu Arthur. Saat Arthur menerima surat Alfred, dilihatnya wajah pria itu merona, kemudian berusaha kembali fokus pada soal di depannya.
He? Apa-apaan itu?
Heran, ia menulis sesuatu di kertas, lalu memberikannya pada Kiku. Kiku membacanya.
Senpai, apa Arthur dan Alfred memang ada 'main'? Kau paham maksudku, lah.
K.
Kiku hampir saja tersedak akibat tulisan tersebut. Apa maksudnya dengan 'kau paham maksudku, lah'? Kiku melirik ke arah Kirana dengan tatapan terbelalak. Otaknya berpikir.
Masaka...-yang benar saja...
Apa... gadis ini tahu kebiasaan rahasiaku?
Kirana merasa wajahnya memerah seketika. Sebagai pria yang ketahuan mencintai yaoi, hal tersebut jelas memalukan, apalagi jika kesukaannya diketahui gadis yang ia sukai sejak lama. Mau ditaruh dimana mukanya? Sebagai pria yang sangat menjunjung tinggi harga diri, hal tersebut jelas membuatnya wajahnya terasa seperti dilempar kotoran. Lalu, bagaimana ia harus merespon?
"Senpai..." bisik Kirana lagi dengan wajah penuh rasa ingin tahu.
"Ehemm... kurasa kalian bisa melanjutkan pembicaraan di luar, Kiku dan Kirana..." suara Bu Valka mengagetkan mereka. Kirana dan Kiku menoleh seperti gerakan slow motion ke arah guru mereka, kehilangan kata-kata.
"Kalian boleh keluar..." ucap Bu Valka dengan senyuman tersungging.
Sial, batin Kirana sembari beranjak dari bangkunya, diikuti Kiku yang tampak begitu malu dengan wajah memerah.
Di lorong, keduanya terdiam, berdiri bersebelahan layaknya orang bodoh.
"S-senpai... kenapa kau tak menjawab suratku?"
Kiku hanya melirik ke arahnya dengan pandangan setengah jengkel (sebab karena gadis itulah ia dikeluarkan dari kelas, bukan?!), kemudian menghela nafas.
"Isu," sahutnya pendek.
"Eh? Tapi kulihat sikap Arthur sepertinya...berbeda?" tanya Kirana dengan wajah antusias.
"Ma..." Kiku melirik ke arah lain, berpikir. Apa gadis ini tak akan ilfeel padanya jika ia membeberkan apa yang ia tahu? Ia cukup tahu rahasia para pasangan pria disini, meski jelas itu Top Secret. Tapi merlihat keantusiasan gadis ini, ia tak enak juga. Disamping itu adalah hal memalukan untuk para pasangan tersebut, tak ada yang menjamin gadis ini akan bungkam sepertinya. Tapi, disisi lain, jika ia memberi tahu, itu sama saja menjatuhkan harga dirinya sebagai senior yang cukup dihargai karena kemampuan akademisnya?
"Kenapa senpai diam? Aku kan ingin tahu?"
"Kenapa kau bertanya?" tanya Kiku akhirnya.
"Aku hanya..." Kirana menggaruk pipinya, "penasaran. Mirip seperti hiburan untukku jika aku mengetahui bahwa pasangan-pasangan seperti boys love dan sebagainya itu ternyata ada disekitarku. Iseng, mungkin?!"
"Maksudmu... kau seorang fujoshi?" tanya Kiku dengan kening berkerut.
"Hai! I'm proud to be fujoshi!" Kirana menjotos udara, membuat Kiku memundurkan kepalanya.
"Ano ne... Kirana-san... hal tersebut kurasa... sebenarnya agak memalukan, menurutku."
"Eh, kenapa?" tanya Kirana heran dengan matanya yang besar, memandang wajah senpainya penuh tanda tanya. Wajahnya tak begitu dekat, tapi cukup melampaui zona privasi Kiku, dan itu jelas membuat Kiku sesak nafas.
Wajah Kiku yang tadinya kembali normal sontak mulai merona. Jantungnya kembali berpacu melihat tatapan innocent itu menatapnya penuh kepolosan. Kantung ketenangan di hatinya serasa ditekan oleh rasa gugup dan canggung yang teramat. Tentu saja. Ia tak pernah sedekat ini dengan perempuan sebelumnya (kecuali ibunya dan adiknya), terlebih lagi ini Kirana. Gadis yang berhasil menggetarkan hatinya, mengguncangkan dunianya yang monokrom
Matanya yang besar, bulu mata yang lentik dan lekukan wajahnya yang seolah terpahat sempurna itu...
Shikarishite, watashi no kokoro! –Bertahanlah, hatiku!
"Senpai?" Kirana mendekatkan wajahnya lebih dekat.
Aaaaaaaa, naze anata wa totemo sekkin shite iru? –Kenapa kau begitu dekat?
Tolong izinkan aku kembali dalam kesadaranku sepenuhnya, Kirana-san. Dengan jarak ini, aku bisa-bisa mati karena gugup!
"A, ano...emmm..." Kiku memundurkan kepalanya dengan wajah memerah. Pipiku panas, panaaas!
"Kenapa senpai jadi kaku begitu?"
Aku begini karena kau, Kirana!
"Senpai, aku hanya menanyakan tentang masalah Arthur, tapi kenapa kau yang malah kaku? Kau tidak seperti mereka kan?"
"Chigaimasu!" sambar Kiku dengan wajah kaget. Bagaimana bisa gadis ini menganggap ia 'sama' dengan mereka? #ifyouknowwhatimean
"Lha, terus kenapa?" sahut Kirana. "Jadi, benar tidak?"
"Kukira... hal tersebut terlalu memalukan untuk dibicarakan, bukan, Kirana-san?!"
"Itulah sebabnya aku bertanya padamu. Bukankah kudengar, katanya senpai memiliki hobi yang tidak biasa? Suka memotret pasangan-pasangan..." Kirana membuat tanda kutip di kepala dengan dua tangannya.
SHIMATTAAAAAA! DIA MENGETAHUINYAAAAAAAAAA!
Kiku ingin sekali rasanya membenamkan kepalanya seperi burung unta saat ketakutan.
Shineba ii no yo, watashi wa mou, kinishinai... –mati sajalah, aku tak peduli lagi...
"Eeeeeh..." Kiku kehilangan kata-kata. Apa yang harus kukatakaan, Kami-sama?
"Aaaah, tsumaranai–membosankan," Kirana berdecak, melipat tangannya sambil mendesah. "Kupikir aku kira aku menemukan partner in crime untuk mencari foto-foto tersebut, tapi sepertinya, aku salah orang."
Eh?
Kali ini Kiku yang menoleh kaget ke arahnya. "Shashin? –foto?"
"Iya, foto. Aku suka mengabadikan momen-momen BL, you can call me weird because of this tho, but that's kind of amusement for me. Tapi itu bukan masalah lagi. Kayaknya aku memang salah orang."
"M-maksud Kirana-san... apa Kirana-san suka mengambil gambar... seperti pasangan yaoi, begitu?"
"Iya. Kan sudah kubilang bahwa aku adalah fujoshi," desah Kirana.
Kiku terbelalak. Suka mengambil foto juga sepertinya? Kiku tertegun dengan wajah hampa.
Jujur saja, alasan ia menyukai Kirana bertambah satu lagi.
.
.
.
Ivan mengambil coat selututnya yang disampirkan di kursi. Tubuh tingginya tampak menjulang dibanding murid lain, membuat ia terlihat lebih mencolok dan berkharisma –tubuh yang tinggi memang cocok dengan semua model pakaian. Kaus turtle neck putih, coat hitam selutut, dan celana jeans hitam. Sempurna untuk menjadi figur model. Apalagi dengan senyumnya yang selalu tersungging, tak heran jika banyak perempuan yang tergila-gila padanya. Ia termasuk pria yang menempati jajaran most wanted man oleh para perempuan di sekolah tersebut, selain Gilbert, Alfred, Arthur, dan Ludwig.
Dan itulah yang membuat Kirana merasa hidupnya makin apes saat sadar bahwa Ivan memasang mata padanya. Ivan adalah pria populer!
"Dobryy den' , krasivyy, (selamat siang cantik)," sapa Ivan ramah diikuti senyum manisnya ketika Kirana melintas.
Matek, koe, jan! (Habislah hidupmu, Kirana, habislah!)
Kirana memandang tatapan murid sekitar, lalu tersenyum getir pada Ivan. "Hai Ivan."
"Tadi kau dihukum karena mengobrol di kelas bukan?" Ivan mencolek hidung Kirana. "Gadis nakal..."
Tatapan gadis di sekitar mereka semakin gahar.
Kirana merasa semakin kecil akibat tatapan para siswi.
"Eh, yaa..." Kirana melirik ke arah lain.
"Baiklah, kau boleh menyalin catatanku, asal kau makan siang denganku, bagaimana?"
"Kakaaaaaaaakkkk!" sebuah teriakan terdengar dari ujung lorong. Seorang wanita berambut pirang dengan tatapan gahar dan membunuh seolah menusuk Kirana dari jauh. "Kak ty smeyesh' podnyat yego, chem ya! (Berani-beraninya kau memilih ia daripada aku!)"
Kirana memukul keningnya
Oh, aku matek tenanan ki (oh aku mati beneran ini)!
Natalya, adik angkat Ivan yang mengerikan!
"Lari sekarang!" seru Ivan tiba-tiba
"He?!" sahut Kirana bingung.
Ivan sontak menarik pergelangan tangan Kirana. Gadis itu merenghik kesakitan. Sial, tangan itu mencengkram lengannya agak keras, dan ketakutannya kini berbaur dengan rasa sakit di tangannya. Menyembunyikan wajah kesakitannya, gadis itu berlari mengikuti kemana Ivan membawanya. Ivan membawanya menuju belakang gudang yang berada di sudut komplek sekolah. Saat keduanya merasa aman, Ivan pun berhenti.
"On stranno (dia memang aneh)," gerutu Ivan sembari menyeka keringatnya, kemudian memandang Kirana. "Kau baik-baik saja, da?"
"Aku baik-baik saja," Kirana terbungkuk, mengambil nafas panjang, sebelum akhirnya menegakkan tubuhnya. Ia melirik ke arah lengan kanannya, dan melihat noda rembesan darah di kaos lengan panjang biru mudanya, cukup kentara. Ia mendecih pelan. Lukanya berdarah lagi. Ia bisa membayangkan seperti apa luka yang ada dibalik lengannya.
"Bagaimana jika kita makan saja? Kurasa Natalya pasti sudah cukup lelah mencari kita, atau bisa jadi sudah diamankan para guru..."
"Ah, ya..." Kirana mengangguk. "Kau benar."
Mengabaikan rasa sakit di tangannya, gadis itu berjalan mengekori Ivan. Pria itu terlibat lebih menjulang darinya, karena tinggi tubuhnya hanya 155 cm, sementara pria itu mungkin lebih dari 180-an. Di belakang Ivan, Kirana tertegun melihat punggung besar dan Ivan, dan ia melirik ke arah lain.
Bagaimana aku bisa menyukai pria seperti ini, jika aku sudah bisa membayangkan bagaimana responnya saat ia mengetahui seperti apa aku sebenarnya?
"Kirana?"
Kirana menoleh, kaget. "Ya?"
"Kenapa kau tak mau berjalan bersamaku?"
"Ah, maaf..." Kirana mempercepat langkahnya di sebelah Ivan, meski hatinya meruntuk, bahwa ia memiliki kaki pendek sehingga tak bisa menyeimbangkan langkahnya dengan langkah Ivan yang lebar.
Di tempat makan, tanpa sengaja Alfred menangkap pemandangan Kirana dan Ivan yang makan bersama. Ia menyikut rusuk Arthur.
"Would you be a good man, you wanker? I'm trying to eating! (Bisa tidak kau diam, bodoh? Aku sedang makan)!" seru Arthur sewot pada Alfred.
"Dude, I'm just trying to tell you. Look! (Bro, aku hanya ingin memberitahumu. Lihat)," Alfred menunjuk ke arah Ivan yang kini sedang mengobrol dengan Kirana sembari menikmati borscht miliknya.
"Well, that's new..." Arthur mengangkat alis tebalnya sembari tersenyum. "Tapi aku memang mendengar dari adik kelas bahwa Kirana menyukai Ivan."
"Dan kurasa Ivan juga menyukainya," Alfred menyambar kentang gorengnya. "Kau ingat? Ivan beberapa kali memberi pertanda, dan kurasa Kirana memahami sinyal tersebut. Terutama saat Ivan menemani Kirana ketika kita ke luar ke bar? Aku yakin, Ivan pasti yang menawarkan diri duluan."
"Bagus kalau begitu. Cocok. They would make a good couple, then (Mereka akan jadi pasangan yang serasi, kalau begitu)," Arthur memakan potongan ikan yang sudah dipotongnya.
"Yah... aku pikir juga begitu..." Alfred mengangguk, kemudian seenaknya memakan ikan yang menempel di garpu Arthur sebelum pria Inggris itu melahapnya.
Arthur membeku. "You git! That's my last piece!" teriaknya tak terima.
Alfred tersenyum jenaka. "Well, you can take another plate again if you want, Iggy (kalau begitu, kau bisa ambil lagi)."
"Y-YOU..." Arthur ternganga. "That would be different! (Pasti beda rasanya)!"
"Well, then... bagaimana jika aku memberimu rasa yang lebih enak dibanding potongan ikan tersebut, hm?" Alfred mengangkat alisnya dan Arthur memundurkan kepalanya dengan wajah memerah. "Aku tahu kau mengerti maksudku."
Wajah pria Inggris itu semakin memerah.
Tentu saja aku paham, tapi... ini bukan saat yang tepat membicarakan hal tersebut, benaknya menjerit.
"Jangan samakan dengan hal itu!" Arthur merasa wajahnya semakin panas.
"Jadi secara tidak langsung, kau tidak mau?" tanya Alfred, memasang wajah pura-pura kecewa.
"B-bukan begitu..." Arthur mengalihkan wajahnya ke arah lain, "a-aku hanya tak suka kau m-membicarakannya disini, dan lagipula..."
"'Lagipula'?" ulang Alfred sembari merapatkan tubuhnya ke arah Arthur.
"...lagipula, ini dan itu jelas rasanya sangat berbeda..." watak malu-tapi-mau Arthur mulai muncul. Tangannya kini turun, tepat di bawah meja, menyembunyikan rasa malunya. Alfred tertawa kecil, kemudian menggenggam tangan Arthur di bawah meja dengan sayang.
"I understand, I know you want it," Alfred mengangguk kecil. Setelah melirik sejenak ke arah sekitar, ia mengecup pipi Arthur.
Mereka tak tahu, bahwa seorang pria dengan rambut hitam dan kamera berlensa telenya kini sudah berhasil mengambil momen tersebut. Posisi mereka yang berada di dekat jendela hall yang mengarah ke lapangan membuat mereka menjadi objek yang mudah difoto.
Kiku yang memang punya seventh-sense akan yaoi moment melepas lensa telenya dengan santai.
Setelah memesan segelas jus manggis, ia melenggang menuju salah satu meja, tak jauh dari Alfred dan Arthur berada.
"Yo, Kiku! Apa isi kotak bekalmu hari ini?" sapa Alfred saat melihat pria Jepang itu duduk di dekatnya.
"Ma..." Kiku yang kaget dengan sapaan Alfred membuka kain pembungkus kotaknya, lalu memandanginya, "onigiri, sosis, dan telur..."
Alfred mengintip kotak bekalnya, memperhatikan isi bekal hias itu dengan wajah sumringah. Kebutulan posisi Kiku tepat di bangku yang ada di depan mejanya, jadi tak sulit untuk menengok isi bekalnya.
"Aku minta telurnya!" Alfred menancapkan garpunya mengambil salah satu potongan tamagoyaki di kotak bekal Kiku dan dengan innocent memakannya.
Kiku hanya membeku memandangi pria itu.
Ia jelas tak terbiasa dengan hal semacam itu. Baginya sikap Alfred cukup tak sopan, namun disisi lain ia tak bisa melarangnya. Ia tak cukup mampu menahannya.
Yah, ia akui ia adalah orang yang 'tidak enakan' pada orang lain.
"Hm, enak! Kau memang pintar memasak, Kiku!" puji Alfred sembari mengacungkan jempolnya.
"A-arigatou atas pujiannya," Kiku mengangguk sekali dengan takzim, kemudian mengambil sumpitnya, bersiap makan. "Itadakimasu..."
Saat ia menikmati makanannya, ia memandang sekitar sementara tangan kirinya sesekali menjepit sosis dan memasukkannya ke mulut. Tiba-tiba ia tertegun dengan keberadaan Ivan yang kini berdua dengan Kirana, menikmati makan siang mereka.
Tiba-tiba, makanannya serasa jadi pasir.
Apa... mereka benar-benar berkencan? J-jika memang ya, bukankah itu berarti kesempatan untuknya sudah tidak ada lagi?
"Anooo, Alfred-san..." Kiku menoleh ke arah Alfred. Pria itu menoleh. "Apa Kirana-san memang berkencan dengan Ivan-san?"
"Hm, mereka?" Alfred menoleh ke arah mereka kemudian kembali memandang Kiku. "Entahlah. Kau juga sudah mendengar isu bahwa Kirana menyukai Ivan bukan? Kurasa itu mungkin saja."
"Eh? Maksudmu dengan 'mungkin saja'?" Kiku memiringkan kepalanya.
"Beberapa hari lalu kami keluar dan minum-minum dengan Ludwig, Ivan dan yang lainnya. Menjelang pulang Ivan sengaja mengantarkan Kirana pulang ke rumahnya, meski waktu itu kami punya mobil untuk mengantarnya. Disamping itu... Ivan juga memang pernah berkata bahwa ia... memiliki ketertarikan pada Kirana..." sambung Arthur panjang.
Ah, Kiku ingat sekarang. Ia juga ingat sebuah kalimat yang menyentilnya saat itu. Jadi, rupanya, Kirana bahkan diantar pulang oleh Ivan? Sebuah perkembangan cepat! Bahkan ia yang sudah menyukai Kirana selama enam bulan lebih pun belum melakukan apa-apa! Ia benci mengakui, tapi nyalinya memang terlalu kecil untuk bersikap seperti Ivan. Ia khawatir, gadis itu malah akan menertawakannya.
He is not a true gentleman, after all.
"Memangnya kenapa?" tanya Arthur heran saat Kiku tampak tercenung.
"Iie, betsuni... ah, maksudku, tak apa. Aku hanya bertanya saja," Kiku menggeleng, berusaha menyembunyikan wajah resahnya.
Keduanya tak tahu, bahwa hatinya terasa retak saat itu.
TBC
Lazu : almost 4000, or 4000 already ? Oh yeah, udah lebih dari 4000 kata. I sure do enjoy writing this alot.
Kiku : ano... Lazu-san, aku ingin bertanya.
Lazu : hah? *nyaut dengan gaya engkong-engkong betawi numpu satu tangan di lutut dengan kaki kiri ditekuk ke atas sementara kaki kana menempel pada lantai. Choki-choki di mulut*
Kiku : *kaku* a... bukan aku tak sopan, t-tapi jika memang aku murid yang pintar di akademis, kenapa aku tak masuk jajaran 'most wanted men'? Sumimasen... sebelumnya.
Lazu : *ngenyot choki-choki, mikir bentar* kenapa ya? Mungkin dimataku, alih-alih cool, kamu lebih mirip 'kawaii', gitu? Menurutku sih gitu...
Kiku: Ja... watashi wa... Kawaii, desu yo, ne?
Lazu : udah nggak usah bingung, cepet jawab repiu! *lempar kertas jawaban repiu ke arah Kiku*
Kiku : *nahan emosi, megang kertas kenceng-kenceng* ah, hai... untuk Uchiha Iggyland penulis bilang 'minta maaf atas kesalahannya', tapi mungkin untuk mengedit yang sudah ada penulis terlalu mala... -chotto! Lazu-san! Kenapa kau menulis kalau mengedit saja malas! Lazu-san!
Lazu : *mengbaikan sambil rebahan di bawah kipas*
Kiku : *nahan jengkel* dan soal koreksi kata 'bruder' itu akan dilakukan di kedepannya. Terima kasih banyak. Dan soal USUK... *wajah memerah melihat tulisan selanjutnya, lalu berdeham* eh, sudah dicantumkan di chapter ini... mungkin secara halus. Pertanyaan penulis adalah apa selanjutnya mau dibuat eksplisit? Atau implisit saja? Penulis... *wajah Kiku makin merah ngeliat tulisan di kertas* bisa melakukannya tergantung permintaan...
Lazu : cepetan tutup...
Kiku : *mendelik jengkel* h-hai, sekian dulu dari penulis dan kami, karakter yang dipinjem penulis, saran kritik silahkan cantumkan pada review tanpa harus takut digigit (penulisnya dah jinak kok) jadi... *membungkuk dalam ala para samurai* arigatou gozaimasu.
Ja, mata ashita ne.
PS: Kalau bingung dengan gaya penulisan saya atau apalah, ngomong aja. Dengan cara yang baik tentunya. Saya terima kok ^^
