Disclaimer: Shingeki no Kyojin from Hajime Isayama

Rated T, just for fun

Enjoy


Shingeki no Kyojin: Reality Convert Chapter 3: The Old Stories


Langit merah menandakan malam akan tiba, burung-burung terbang tinggi ke angkasa, pohon-pohon tumbang membuat bumi bergetar tiada henti, langkah raksasa datang mendekati.

Gigi tajam penuh dengan bercak darah. Tatapan kosong bagaikan jurang tampa dasar. Orang-orang berlari untuk hidupnya. Berteriak ke sana ke mari, seperti ada yang bisa menolong mereka.

Kini umat manusia terkena pukulan besar. Didorong menuju kepunahan. Para raksasa yang tampa ampun menghabisi mereka terus bermunculan. Bagaikan dewa, mereka terus hidup tiada yang mati. Terus bertambah. Sedangkan umat manusia terus berkurang.

Seorang anak kecil berlutut di hadapan puing-puing desanya. Sebuah pembantaian terjadi di depan matanya. Air mata mengalir membasahi kedua pipinya. Tangannya penuh dengan darah. Tidak, ia justru berada dalam genangan darah. Melihat keluarganya berada di tangan para raksasa. Ia tidak dapat berbuat apa-apa. Ia hanya bisa menunggu untuk bertemu lagi dengan keluarganya di suatu tempat yang jauh di atas sana.

Inilah para Titan.


Archipelago, 740 Masehi.

Sudah 2 tahun sejak kemunculan 32-D ke masa ini. Tapi populasi Titan sudah 1/3 dari populasi umat manusia. Sekarang para Titan sudah menguasai Eropa Barat, Eropa Utara, Eropa Selatan, Timur Tengah, Afrika Utara, dan sebagian Asia Tengah.

Kabar munculnya Titan sudah terdengar oleh seluruh umat manusia di semua pelosok dunia. Berbagai upaya telah dilakukan untuk mengalahkan para Titan, tapi semua percuma saja. Sekarang, prioritas utama adalah untuk 'berlari' dari para Titan serta mempertahankan keberadaan umat manusia selama mungkin.

Di kepulauan ini, sudah mengungsi 4200 orang dari Asia. Karena melihat dari arah pesebaran para Titan, maka tempat ini seharusnya tempat terakhir yang didatangi oleh Titan. Juga ditambah dengan bentuk tempat ini yang merupakan kepulauan dan dikelilingi lautan, serta para Titan yang diketahui tidak bisa serta tidak aktif di daerah perairan membuat tempat ini menjadi lokasi mengungsi utama selain dengan Amerika melalui Selat Bering.


Eropa Barat, 741 Masehi

Sebuah kerajaan di ambang kehancuran masih berdiri disini. Sebuah kerajaan yang dipimpin oleh keluarga Reiss. Mereka berhasil bertahan hidup di antara para Titan. Sekarang mereka hidup di dalam tanah. Ya, rencana pergerakan bawah tanah. Perlu diketahui bahwa Kerajaan keluarga Reiss berisi pemikir-pemikir terbaik dunia pada masa itu.

Mereka mempunyai rencana besar, yang didasari oleh peristiwa yang dialami oleh Geonard Liensel, salah seorang prajurit kerajaan.

"Huh, mereka benar-benar menyebalkan!"

"Diamlah Geo, kita harus terus mengikuti serta mempercayai perintah dari komandan kita."

"Tapi jangan seenaknya saja menempatkan kita ke garis depan terluar kerajaan! Siapa tahu jika kita bertemu dengan raksasa jelek itu?"

"Be, benar juga katamu, tapi pasti ada alasan tertentu mengapa mereka menempatkan 200 prajurit di garis terluar ini."

"Cih, kau masih sama saja dari dulu!"

Dua orang prajurit bercakap-cakap mengenai keberadaan tidak aneh jika mereka mempertanyakannya. Mereka beserta kurang lebih 200 prajurit lainnya ditempatkan di garis terluar kerajaan yang biasanya tidak dijaga dan hanya diamati oleh kelompok pengamat dari kejauhan. Berada di daerah ini sangatlah berbahaya. Titan bisa datang kapan saja. Untuk berdiri di sini saja sudah sangat berbahaya.

Geonard dan teman-temannya akan mengalami sesuatu yang menarik.

"Hei, aku lelah dengan semua ini. Aku mau berjalan-jalan dulu. Kau mau ikut?" Dengan santainya Geonard mengulurkan tangannya ke temannya.\

"Maaf Geo, aku tidak mau. Aku cukup berjaga-jaga saja di sini." Jawabnya.

"Yah sudahlah. Aku duluan ya!" Lalu Geonard memacu kudanya secepat mungkin ke arah hutan.

Hutan itu sebenarnya sangat indah untuk Geonard yang memang terlahir sebagai pemburu. Kicauan burung dan suara gemericik sungai adalah musik di telinganya. Ia terus memacu kudanya melewati berbagai rintangan. Ia terus menerus melaju. Sampai ia sendiri lupa dengan arah tujuannya. Ia kebingungan.

Tapi,

Ia mendengar suara dari arah kirinya, suara apa?

Perlahan-lahan suara tersebut terdengar semakin keras. Suara langkah yang sangat besar dan berat. Tapi apa itu?

Keringat dingin mulai membasahi tubuhnya. Geonard semakin menajamkan pendengarnya. Apa itu? Apa itu? APA ITU?

Tiba-tiba suara itu berhenti.

Bersamaan dengan munculnya sosok raksasa tidak berkulit di depan Geonard.

To Be Continued


Author's Note

Aduh, akhirnya bisa juga Update lagi ceritanya. Terima kasih atas Reviewnya di chapter yang sebelumnya. Awalnya sih kepengen menyudahi ceritanya di chapter 2, tapi karena idenya tiba-tiba muncul jadi ingin ngelanjutin lagi...

YOSH! Semoga ceritanya menghibur, maaf jika ada kesalahan.

Review?