Disclaimer: Shingeki no Kyojin from Isayama Hajime
Rated T, just for fun.
Typo(s) tolong dimaafkan
Enjoy
Jantungnya berhenti sesaat.
Apa yang telah dilihat oleh pemuda ini?
Ah, mungkin hanya imajinasinya saja. Tapi tidak, ini terlalu nyata untuk bisa menjadi khayalan belaka. Uap ini, terlalu panas. Saking panasnya sampai membuat pemuda itu terbangun dari bisikan kebohongan oleh dirinya sendiri.
Di hadapannya menjulang sesosok raksasa yang membuat dirinya tenggelam dalam bayang-bayang.
Manusia.
Mereka penguasa bumi.
Setidaknya pernah menguasai bumi.
Makhluk yang terlahir dengan akal dan nafsu. Terlahir dengan sifat egois dan serakah. Penguasa yang kejam dan tamak. Pada akhirnya jatuh di tangannya sendiri. Tenggelam dalam keegoisan.
Sekarang mereka merangkak kembali, belajar berdiri sendiri. Mereka akhirnya merasakan perasaan yang mereka telah lama ciptakan, rasa takut.
Perasaan takut si lemah. Takut akan si kuat. Rasanya ditindas oleh yang lebih kuat. Apakah manusia telah belajar?
Tidak ada tempat untuk berlari, hanya satu tempat untuk bersembunyi.
Angin berhembus. Jubah yang dikenakan pemuda itu hampir terbawa angin. Tubuhnya bergetar. Badannya membeku di saat itu. Pemandangan mengerikan ditayangkan di hadapannya.
Sosok raksasa.
Titan.
Bertubuh besar dengan badan yang kekar. Tidak ada kulit yang membalut otot-otot yang menyembul. Otot wajahnya terlihat dengan jelas. Tampaknya dia tidak menunjukan ekspresi apa-apa.
30, tidak, sekitar 40 meter tingginya.
Matanya bergerak. Menatap ke bawah. Ke arah si pemuda itu. Suasana horor muncul seketika itu juga. Rasa takut yang besar menghantui diri pemuda itu.
Kudanya meringkik. Meronta-ronta, gelisah. Sempurna menggambarkan keadaan penuggangnya.
Sang pemuda terbangun. Ia menganalisa keadaannya. Otaknya berputar dengan cepat. Dengan sigap, ia pacu kudanya menjauh dari sang raksasa. Dengan harapan di hatinya.
Istana Kerajaan, Pusat Kerajaan
"Dunia ini makin lama makin keras, Heh?"
"Ya... Anda bisa mengatakannya begitu."
"Titan, ya? Aku sempat berpikir, kenapa mereka ada dari awal?"
"Huh? Apa maksud Anda?"
"Tidak, tidak usah dipikirkan. Lagi pula, Jameen, bagaimana keadaan pasukan di garis depan?"
"Seperti yang diperkirakan, mereka bertemu dengan Titan. Tapi, Titan ini kelas 40 meter. Jauh lebih tinggi dari Titan yang selama ini kita hadapi."
"Hmm..."
Ruangan Raja Keluarga Reiss. Di dalamnya terdapat dua orang yang sedang berbincang sembari bermain catur. Salah satu dari mereka adalah Raja Reiss itu sendiri. Sementara yang satu lagi adalah Jendral Pertahan Kerajaan. Mereka terlihat seperti hanya berbasa-basi belaka. Tapi, tidak butuh seorang jenius untuk mengetahui mereka sedang membahas masalah yang sangat penting.
"40? Rasanya mereka makin berkembang saja. Check." Sang Raja dengan wajah yang menunjukan perasaan malas perlahan menjawab sambil menggerakan bidak ratu-nya.
"Tentu saja,Yang Mulia. Mereka adalah makhluk yang mengerikan. Kita hanya dapat berdoa saja mulai dari sekarang." Jawab Jendral dengan wajah pucat.
"Mereka makhluk yang mengerikan?" Tanya Raja.
"Te, tentu saja! Dalam waktu beberapa tahun saja mereka telah memusnahkan hampir 1/3 umat manusia! Mereka tentunya adalah makhluk yang kabur dari Neraka!" Jawab Jendral dengan tergesa-gesa dan wajah penuh ketakutan.
"Ki, kita beruntung karena dapat bertahan di dalam tanah selama ini, ta, tapi mereka pasti akan menemukan kita! PASTI!" Lanjut Si Jendral.
Sang Raja yang mendengar balasan itu terdiam sejenak, lalu menatap jendralnya dengan tatapan tajam.
"Kau, apa kau benar-benar seorang yang layak menjadi Jendral?" Tanya Raja dengan nada mengejek.
"Makhluk yang mengerikan, katamu? Heh, apanya yang mengerikan?" Sang Raja melanjutkan dengan nada yang percaya diri.
Ia menggerakan bidak benteng-nya.
"Giliranmu."
Si Jendral termenung sejenak mendengarkan perkataan rajanya. Dengan gelisah, ia menggerakan Kuda-nya.
"Ch, check." Kata Sang Jendral.
Raja tersenyum.
"Umat manusia, telah bertahan dari berbagai bencana. Kita sebagai makhluk bodoh yang terlahir tanpa apa-apa ke dunia ini, terus-menerus mengasah akal kita. Itulah yang membuat kita menjadi penguasa bumi, walaupun banyak makhluk lain yang lebih kuat dari kita." Jawab Raja.
Dia menggerakan benteng-nya untuk memakan kuda Jendral.
"Kita menebang hutan, mengusir hewan buas, menjelajahi samudera, mengeruk bumi. Kita makhluk lemah yang selamanya menjadi makhluk terkuat."
Jendral membeku mendengar jawaban Raja. Pikirannya menjadi tidak jernih. Ada perasaan aneh di dalam hatinya. Perasaan takut akan apa yang ada di depan mata, bercampur rasa percaya diri dengan apa yang ada di dalam dada.
Si Jendral menggerakan pion-nya.
Melihat itu, Sang Raja berdiri. Sambil tersenyum ia menggerakan Ratunya.
"Hei, Jameen, kita sudah berteman sejak kita masih remaja. Dulu aku melihat sesuatu dalam dirimu yang sekarang sudah tidak ada lagi." Kata Sang Raja sambil membalikan badannya.
"Yang aku lihat adalah tekat kuatmu. Tekat yang membuat apa yang tidak mungkin menjadi mungkin. Itulah tekad yang membuat manusia menjadi penguasa dunia. Huh, aku tidak melihatnya lagi dalam dirimu. Aku sangat kecewa." Sang Raja perlahan berjalan menuju pintu keluar.
"Di antara semua sifat manusia, ya, sifat manusia, kebencian, rasa dendam, amarah, ketamakan, serakah, dan bodoh, ada sifat yang aku selalu suka dari manusia. Yaitu bertekad kuat, memegang teguh yang benar, pantang menyerah, dan selalu belajar dari kesalahan."
Sang Raja membuka pintu, tapi terdiam sejenak di depan pintu.
"Menurutku manusialah makhluk yang paling mengerikan. Bukan karena sifat kejam dan bar-bar kita. Tapi karena segala ketidaksempurnaan yang kita miliki. Kita makhluk yang berkali-kali terjatuh, pecah, hancur, tapi selalu menemukan jalan untuk kembali lagi, belajar dari masa lalu, dan menguasai masa depan."
Suasana tegang tiba-tiba terhenti. Ruangan menjadi hening. Hanya suara angin yang berhembus pelan yang terdengar di ruangan itu.
"Ingat kata-kata itu! Ah, aku lupa..."
Yang Mulia berjalan keluar ruangan. Sebelum menutup pintu, ia melanjutkan perkataannya.
.
.
.
"Checkmate."
To Be Continued
Author's Note
YES, akhirnya ada waktu untuk menulis fic ini lagi. Maaf karena lama baru Update lagi, Nich!
Huuuh, rasanya author gak bisa nulis panjang-panjang per chapter...jadi...sabar aja!
He he he terimakasih atas reviewnya... Author akan mencoba membuat fic ini menjadi lebih menarik lagi, Deh!
Terima Kasih karena sudah membaca tulisan saya.
Tolong maafkan segala kesalahan saya.
