A/N: Kumpulan drabble Sasusai. I accept prompt challenge, send your prompts to me, kirimkan lewat PM or review satu kalimat prompts kalian. Nanti itu akan menjadi kalimat pertama drabble yang akan saya buat. Let see what I can write.
.
Second challenge! By K-chan.
K-chan said, "Bising langkah kaki dan lalu lalang kendaraan membangunkanku dari tidur yang tidak berkualitas." (Saya ganti kata ganti orang ketiga)
.
Naruto © Masashi Kishimoto
.
.
High – Quality, Restful Sleep
.
Bising langkah kaki dan lalu lalang kendaraan membangunkannya dari tidur yang tidak berkualitas. Sasuke membenamkan wajahnya ke dalam bantalnya untuk beberapa saat sebelum dia bangkit, menendang selimutnya dan berjalan, sedikit berlari ke arah pintu, membukanya untuk mencari salah satu sumber suara gaduh yang mengganggu tidurnya. Dia sangat lelah, seluruh badannya seolah mati rasa dan kepalanya berdenyut-denyut membuat suasana hatinya yang biasanya buruk menjadi lebih buruk lagi.
Sasuke melangkah dengan langkah yang berat, dia menggeram begitu melihat sosok pucat yang berlari ke arah dapur.
Apa-apaan.
"Sai!" sosok yang dipanggil segera mematung, kedua tangannya memeluk sebuah mangkuk yang sepertinya berisi jagung brondong. Mata pemuda bernama Sai itu sedikit terbuka lebar mendapati sang pemilik rumah berdiri di depan pintu dapur, tampak kusut dan… marah. Sangat marah.
"Oh, umm, hai. Sasuke," sapanya lirih dengan senyuman khasnya yang nyaris tak pernah dia tinggalkan. "Aku- uh, sedikit sibuk."
Dan pemuda itu kembali beranjak, hendak menuju ke tempatnya berada sebelumnya. Namun Sasuke masih belum selesai berusan dengannya. jadi pemuda berambut gelap itu mengulurkan kakinya tepat ketika si kulit pucat melewatinya dan BRAK! Suara dentuman yang sangat keras menggema di seluruh penjuru ruangan dibarengi oleh jeritan singkat dan disusul dengan erangan dari si kulit pucat yang kini tergeletak di lantai. Jagung berondongnya berserakan di hadapannya.
"Aduuh.." Sai segera bangkit, duduk di lantai yang dingin sambil mengusap-usap rahangnya yang sepertinya memar karena benturan yang keras. Dia mendongakkan kepalanya untuk menatap Sasuke dan bibirnya sedikit cemberut.
"Bangun," perintah Sasuke dan Sai segera menurutinya.
"Bisakah kau marah padaku nanti saja?"ujar Sai sebelum Sasuke sempat membuka mulutnya lagi. "Please?" dan setelah memberinya puppy eyes terbaiknya Sai segera melesat ke ruang tamu dan Sasuke segera memutar matanya begitu menyadari apa yang sebenarnya dilakukan si pucat itu sedari tadi.
Sasuke memijit-mijit dahinya begitu dia sampai di ruang tamu, mendapati Sai sedang duduk di sofa dengan kedua mata gelap yang tertuju pada TV layar datar 29 inch-nya, melihat TV Show kesayangannya. Dua buah cangkir kosong dan teko teh yang isinya hanya tinggal setengah, piring dengan sisa saus yang menempel di seluruh permukaannya, satu piring besar yang berisi beberapa cookies dan kotak jus dan beberapa kaleng soda yang sepertinya sudah kosong berserakan di atas meja. Sasuke menduga bahwa itu semua adalah alasan mengapa Sai membuat suara gaduh dengan berlarian di dalam rumahnya, mengambil makanan dari dapur dan kembali ke depan TV secepat yang dia bisa. Dan dilihat dari lingkaran hitam di bawah kedua mata besarnya (dan juga tidur Sasuke yang tidak nyenyak), Sasuke yakin pemuda itu tidak tidur semalaman. Sai dan acara-acara TV kesayangannya.
Sasuke menghela nafas panjang sebelum kemudian berjalan ke arah TV, menarik kabel TV dari stop kontak, membuat ruangan menjadi sepi seketika dan mata gelap Sai terbelalak dengan lebar.
"Sasuke!" Sai merengek. "Kenapa dimatikan kan sedang seru!" Pemuda yang sedikit lebih tinggi itu menerjang ke arahnya, hendak merebut kabel TV dari Sasuke namun pemilik rambut raven itu dengan mudah mendorongnya kembali ke atas sofa. Sasuke berusaha menahan dirinya untuk tidak menghancurkan TV layar datar di belakangnya, mengingat bahwa dia telah susah payah mengumpulkan gajinya yang tidak seberapa untuk membelinya.
Sasuke mengacungkan jarinya, membuat Sai yang merengek terdiam. "Satu," desisnya. "jangan berlarian di dalam rumah. Bukankah aku sudah sering bilang terutama ketika aku sedang tidur!" Sai hendak membuka mulutnya untuk protes namun Sasuke segera mengacungkan jari kedua. "Dua, tidak ada acara TV yang konyol di tengah malam dan pagi buta! Dan for fuck's sake, volume, Sai! Volume! Kau pikir ini gedung bioskop?!" Sai hanya menggigit bibir bawahnya dan menatap laki-laki di depannya dengan gelisah. Sasuke memang selalu terlihat menyeramkan. Namun Sasuke yang marah adalah hal yang paling menyeramkan yang pernah Sai temui.
"Dan yang ketiga," lanjut Sasuke. "Cepat bereskan meja ini atau kau akan merasakan akibatnya!" Dan Sasuke tidak perlu mengulanginya dua kali.
.
Sasuke sedang berbaring di atas sofa ketika Sai kembali – selesai mencuci semua piring dan gelas kotor dan membereskan jagung berondongnya yang berserakan di lantai. Sai berdeham, membuat Sasuke membuka matanya dan mendongak untuk melihat ke arahnya. Pemilik mata onyx itu mengulurkan tangannya, menangkap tangan Sai dan menariknya untuk duduk di atas sofa.
"Kenapa lama sekali!" geram Sasuke sembari menggeser posisinya, menaruh kepalanya di atas paha Sai dan kembali memejamkan matanya. "Jangan bergerak dan jangan bersuara sampai aku bangun, apapun yang terjadi!" Dan Sai hanya mengangguk patuh walau Sasuke tidak bisa melihatnya.
Akhirnya. Sasuke menghela nafas lega sambil mengubah posisi tidurnya menyamping, membenamkan wajahnya ke tubuh si pemuda berkulit pucat itu, menghirup aroma tubuhnya kuat-kuat. Akhirnya setelah semalaman tersiksa dia bisa mendapatkan tidur berkualitasnya lagi. Harusnya Sai tahu kalau dia tidak bisa tidur nyenyak tanpa dirinya. Dan harusnya Sai tidak menomorduakannya dengan acara-acara TV yang konyol. Sasuke mendengus pelan. Mungkin minggu depan dia akan melamar Sai, lalu menikahinya dan menjual TV brengsek 29 inch-nya dengan dalih untuk biaya pernikahan mereka. Ya, dan Sai tidak akan mengeluh karenanya.
