Third challenge! From Leomi no Kitsune.

Leomi said, "Kekonyolan ini berawal dari sepasang sepatu, dapat mempertemukan sepasang belahan jiwa, cinta sejati."

.

Naruto © Masashi Kishimoto

.

.

Shoes, Cold - Rainy Night and Let Me Drive You Home

.

Kekonyolan ini berawal dari sepasang sepatu, dapat mempertemukan sepasang belahan jiwa, cinta sejati. Senyuman kecil mengembang di bibir Sai ketika dia teringat bagaimana sepasang sepatu telah mengubah hidupnya.

Saat itu adalah hari yang dingin di bulan November. Hujan turun rintik-rintik ketika Sai memasuki sebuah café, menghela nafas lega ketika kehangatan menyambutnya.

"Selamat malam, selamat datang," seseorang di balik kasir menyapanya, seorang laki-laki muda - mungkin seusia dengannya – yang berwajah sangat tampan, dengan mata gelap dan rambut yang sedikit berantakan. Sai terpaku untuk beberapa detik sampai kemudian dia mengangguk kecil dan berjalan ke arahnya.

"Menunggu hujan reda?" Ujar laki-laki itu begitu Sai sudah berada di depan mejanya. Sai menarik kedua sudut bibirnya sedikit, membiarkan pertanyaan itu menggantung tanpa jawaban. "Caffé Latte, please," ucapnya kemudian setelah melihat menu beverages yang mereka punya. "Caffe Latte," ulang laki-laki bermata onyx itu sebelum berbalik untuk membuat minumannya.

Sai kembali melihat-lihat daftar menu selagi menunggu pesanannya selesai. Pemuda berambut pendek itu sudah membaca ulang daftar makanan dan minuman di sana untuk kedua kalinya ketika pemilik mata onyx itu meletakkan minumannya di depannya. "Caffe latte." Sai mengalihkan pandangan matanya pada laki-laki itu sembari tersenyum kecil kemudian mengambil cangkirnya dan membayarnya.

"Tidak memesan makanan sekalian? Kami punya… cake dan sandwich." Sai sudah hampir berbalik ketika laki-laki itu bertanya. Pemilik kulit pucat itu menggelengkan kepalanya. "Lain kali," ucapnya sembari melirik name tag di seragam lawan bicaranya sebelum kemudian berbalik untuk mencari tempat duduk. Pemuda berusia 23 tahun itu menaikkan alisnya ketika menyadari bahwa dia adalah satu-satunya pengunjung di café itu malam itu.

Sai mengambil tempat di sebelah jendela, menaruh kopinya di atas meja sebelum melepas mantelnya. Hujan turun semakin deras dan pemuda berkulit pucat itu mendesah pelan. Sudah hampir tengah malam, dan melihat sepinya café ini kemungkinan jam tutupnya tidak akan lama lagi. Sai merutuki kebodohannya yang tidak membawa payung ketika hendak berangkat kerja siang tadi (dan juga atasannya yang membuatnya lembur hingga larut malam sehingga dia harus terjebak di tengah hujan seperti ini).

Pemuda itu terlalu larut dalam lamunannya – menerawang ke luar jendela – sehingga dia tidak menyadari ada seseorang yang berjalan ke mejanya sampai orang itu menaruh cangkirnya dan menarik kursi, mendudukinya. Sai mengerjapkan matanya beberapa kali sebelum menatap orang itu – si pelayan café.

"Keberatan?" Sai menggeleng dengan cepat. "Sepertinya hujannya akan awet."

"Yah."

"Tidak banyak bicara, hm?"

Sai hanya tersenyum kecil. Mata besarnya menatap laki-laki di depannya yang sedang meminum kopi dari cangkirnya, mengamati fitur wajahnya yang harus dia akui nyaris sempurna. Sai bertanya-tanya apa yang dilakukan pemuda setampan ini di tempat seperti ini. Jika dia adalah pencari bakat dari sebuah agency, dia pasti akan memaksanya bergabung dengan agency-nya untuk menjadi seorang model, pemain film, atau mungkin- pemain film dewasa. Opsi yang terakhir membuatnya sedikit tergelak dan Sasuke – Sai kembali melirik name tag-nya – melihatnya dengan sedikit heran.

"Teringat sesuatu yang lucu?" Tanya pemuda tampan itu.

"Membayangkan sesuatu yang lucu."

"Oh."

"Apa kau sendiri?" Sai mengedarkan pandangannya ke sekeliling café. Dia tidak melihat pelayan yang lain sedari tadi.

"Berdua. Namun karena tidak ada pelanggan – terima kasih pada hujan yang turun tiba-tiba ini – rekanku ada di belakang, mungkin sedang menaikkan kakinya di atas meja dan melihat sitcom membosankan di TV."

Sai tertawa kecil. "Jika aku sudah di rumah saat ini mungkin aku sedang melihat sitcom yang membosankan itu."

"Oh."

"Acaranya tidak sebegitu membosankan, percayalah. Kau harus melihatnya"

"Oh, hentikan." Sasuke memutar matanya, membuat Sai kembali tergelak. "Cukup satu orang di dunia ini yang memaksaku melihat acara sampah itu."

"Owh. Deep."

"Ah. Sorry." Sasuke berdeham dan kembali meminum kopinya sementara Sai mengayunkan tangannya, memberi gesture bahwa itu bukan masalah. Pemuda berkulit pucat kemudian kembali melihat ke arah jendela dan seketika itu juga wajahnya menjadi sedikit cerah mendapati hujan yang sepertinya akan reda dalam waktu dekat.

"Sepertinya perkiraanmu salah," ucapnya. Sasuke mengerutkan dahinya sebelum mengikuti arah pandang Sai. Kedua alisnya terangkat. "Kau akan kembali sekarang?"

"No shit, Sherlock," jawab Sai sarkastik sambil tertawa renyah. Sasuke hanya tersenyum kecil dan Sai sepintas melihat ada kekecewaan di wajahnya. Namun pemuda itu menampar dirinya sendiri dalam pikirannya, menuduh bahwa dirinya pasti sangat kelelahan dan mengantuk sehingga mulai berhalusinasi. Jelas pemuda tampan ini hanya sedang bersikap ramah pada pelanggan, tidak lebih.

Sai mengambil mantelnya dan bangkit, diikuti oleh Sasuke. Mereka berjabat tangan sebelum mengucapkan perpisahan dengan sopan. Sai baru melangkah beberapa langkah ketika Sasuke yang tepat di belakangnya tidak sengaja menginjak tali sepatunya, membuat pemuda berkulit pucat itu sukses kehilangan keseimbangan dan terjatuh di atas lantai yang keras dengan wajah menghadap ke bawah.

Sai tidak mengerti apa yang terjadi ketika tiba-tiba dunia berputar dan wajahnya menghantam lantai dengan keras. Pemuda bertubuh ramping itu hanya mematung dengan mata yang terbuka lebar dan ketika akhirnya dia menyadari apa yang terjadi, tidak ada yang lebih Sai inginkan selain menghilang, lenyap bersama udara.

Wajah Sai merah padam ketika Sasuke yang panik membantunya berdiri. Pemuda itu tidak henti-hentinya meminta maaf padanya dan mata onyxnya yang indah terbuka lebar ketika dia melihat wajah Sai. "Tunggu di sini," ucapnya setelah mendudukkan Sai di kursi. Dia segera berlari ke meja kasirnya dan kembali membawa sebuah sapu tangan, menggunakannya untuk mengelap hidung Sai yang berdarah. Dan wajah Sai semakin merah padam, dia sama sekali tidak merasakan ada darah yang menetes dari hidungnya.

"Uh, aku tidak apa-apa," ucapnya sambil menahan malu, mengambil sapu tangan dari Sasuke. Sepatu sialan! Jeritnya dalam hati.Sai bersumpah dia akan membuang sepatunya begitu pulang nanti dan tidak akan lagi memakan sepatu yang bertali.

"Kau mimisan dan dahimu memar," ujar Sasuke, bersikukuh untuk mempertahankan sapu tangannya di tangannya, menekannya di hidung Sai. "Buka sedikit mulutmu dan jangan telan darahnya." Sai menuruti perintahnya dan sedikit mencondongkan badannya ke depan. "Aku benar-benar minta maaf, harusnya aku lebih memperhatikan jalanku tadi." Sasuke terus meminta maaf untuk beberapa kali dan Sai kembali meyakinkannya bahwa itu bukan salahnya dan dia tidak apa-apa.

Sasuke bernafas lega ketika akhirnya darah berhenti mengalir dari hidung Sai. Dia hendak mengambil sesuatu untuk mengkompres dahinya yang sedikit memar namun pemuda berkulit pucat itu mencegahnya. "Aku harus segera pulang, sebelum hujan kembali turun," ucapnya. Sasuke tampak berpikir, mengerutkan dahinya dan menggigit bibir bawahnya sebelum akhirnya menganggukkan kepalanya, seolah dia telah memutuskan sesuatu.

"Sepuluh menit," serunya kemudian.

"Huh?"

"Beri aku waktu sepuluh menit untuk menutup café, dan aku akan mengantarmu pulang."

"Apa?"

"Lima menit. Oke? Setidaknya biarkan aku mengganti pakaianku. Tenang saja, aku membawa mobil."

"Hah? Hei, kau tidak perlu-"

"Lima menit."

Dan enam menit kemudian Sasuke telah mengganti seragamnya dengan kemeja dan celana jeans, melingkarkan lengannya ke bahu Sai untuk menuntunnya keluar. "Kau tidak menutup café-nya?" Sai bertanya ketika Sasuke sudah membuka pintu untuknya. Pemuda bermata onyx itu kemudian mengacungkan ibu jarinya ke belakang dan Sai memutar kepalanya, mendapati seorang pemuda berambut pirang di balik meja, sedang menguap dan sedetik kemudian tersenyum lebar kepadanya ketika menyadari bahwa dia memperhatikannya.

"Selamat bersenang-senang!" seru pemuda berambut pirang itu tepat sebelum Sasuke menutup pintu café.

.

.

Suara ketukan di pintu membuat Sai keluar dari lamunan kecilnya. Pemuda berambut gelap itu segera menutup kotak sepatu lamanya dan mengembalikannya di atas lemari. Kedua sudut bibirnya ditarik ke atas sembari berjalan ke arah pintu depan, siap menyambut seseorang di balik sana. Tidak terasa sudah tiga tahun berlalu sejak malam itu. Sasuke – yang ternyata adalah pemilik café itu – telah melamarnya enam bulan yang lalu dan sudah hampir dua tahun mereka tinggal bersama. Jika bukan karena kejadian konyol yang melibatkan sepatu usangnya itu, mungkin Sai akan keluar dari café itu tanpa sempat mengenal Sasuke lebih jauh lagi. Terkadang hal-hal kecil selalu berdampak sangat besar bagi kehidupan seseorang dan Sai sangat paham akan hal itu.

.

.