In Your Heart
Cast :
Cho KyuHyun
Cho JaeHyun
Warning : alur kecepetan, gak sesuai EYD, and sorry for typo(s).
Kyuhyun dan Jaehyun itu kembar identik. Jadi 'Jaehyun' di sini bukan Ahn Jaehyun yaa, jangan salah loh! XD. Setelah baca chapter ini, bakal tau kok Kyu sakit apa. Happy reading~~~~! :D
.
.
.
"Bisakah kita berbicara di mobil saja, Appa?"
Kemudian Kyuhyun dan Appa-nya beranjak dari tempat itu, mereka masuk ke mobil. Di dalam mobil, Kyuhyun tetap saja tak bicara, ia hanya diam sambil menundukkan kepalanya. Sementara sang Appa hanya menatap putra-nya itu dengan tatapan sedih.
"Aku merasa, akhir-akhir ini sering sekali kelelahan. Sudah sekitar 1 bulan ini, setiap aku akan tidur, dadaku selalu terasa sakit, seperti terhimpit, aku juga agak sulit bernafas. Badanku juga sering sakit, bahkan jika aku tidak melakukan pekerjaan apapun. Juga, tadi pagi, tiba-tiba aku merasa badanku lemas, seperti akan pingsan."
Kyuhyun akhirnya membuka suara, ia mengakui semuanya dengan kepala yang masih menunduk. Memang benar, itu yang ia rasakan kurang lebih selama satu bulan ini.
"Lalu sekarang, apa yang kau rasakan? Sekarang ini? Jujurlah Kyuhyun."
Kyuhyun mengangkat kepalanya, berusaha berani bertatap muka dengan Appa-nya. Ia menangis, perlahan air matanya turun begitu saja.
"Dadaku sakit, Appa. Kepalaku juga." Suara Kyuhyun bergetar, ia tidak berbohong, memang benar seperti itu. Bahkan ia sudah merasa seperti itu sejak pagi tadi.
Perlahan laki-laki itu meraih tubuh Kyuhyun, mengeratkan-nya pada tubuhnya sendiri. Mengusap serta mencium puncak kepala Kyuhyun perlahan. Pertahanan Kyuhyun akhirnya runtuh juga di depan Appa-nya.
"Menangislah. Hanya ada Appa di sini."
Akhirnya Kyuhyun menumpahkan emosinya, topeng 'baik-baik saja' yang selalu ia pakai selama ini akhirnya terbuka juga. Semakin hari, semua terasa semakin sulit untuk disembunyikan. Kyuhyun terus menangis sementara sang Appa berusaha membuatnya sedikit tenang, mengingat Kyuhyun tidak boleh terlalu tertekan.
"Lepaskan, Kyu. Lepaskan semua bebanmu selama ini." Kata Appa Kyuhyun sambil mengelus punggung Kyuhyun dengan perlahan.
Kyuhyun sedikit terkejut ketika merasa sang Appa menyentuh wajahnya, kini matanya bertemu dengan mata Appa-nya yang terlihat teduh itu.
"Kyuhyun-ah, dengarkan Appa baik-baik."
Kyuhyun hanya mengangguk.
"Appa, Eomma, Jaehyun, kami semua sangat menyayangimu. Kau jangan pernah berpikiran kau ini merepotkan, menyusahkan, pembawa sial, atau apapun itu, jangan pernah punya pikiran seperti itu Kyuhyun-ah. Kau dan Jaehyun itu seakan tak ada bedanya, Appa dan Eomma juga sangat bangga memiliki putra kembar seperti kalian. Kalian tampan, pintar, Jaehyun suka olahraga dan kau, suaramu bagus, permainan piano-mu juga bagus sekali Kyuhyun-ah. Jangan mengira Tuhan sedang menghukummu sekarang. Kau tau mengapa Tuhan memberimu penyakit mematikan seperti itu?"
Kyuhyun hanya diam sambil terus menatap manik hitam sang Appa, ia mendengarkan kata-kata Appa-nya dengan tenang.
"Karena kau adalah orang yang spesial di dunia ini, karena kau adalah orang yang kuat. Kau punya keluarga yang selalu menguatkan, menjaga, dan mendukung-mu. Kau punya kami, Kyu. Dan kami juga punya kau, Kyuhyun. Eomma tidak pernah menyesal melahirkanmu dengan keadaan yang seperti ini, tidak ada alasan bagi kami untuk menyesal. Kau hanya perlu menguatkan dirimu saja. Kau boleh bercerita pada Eomma, Appa, atau Jaehyun jika ada masalah. Sebenarnya Appa menunggu saat seperti ini Kyu, saat dimana kau mau menumpahkan segala kesakitan itu pada Appa, saat dimana kau mau mengeluh di depan Appa. Dengan begitu kita bisa mengatasi itu bersama, bukankah itu jauh lebih mudah daripada kau menghadapi semuanya sendirian?"
"Lalu sekarang aku harus bagaimana, Appa? Hidupku tak lama lagi."
"Jangan seperti itu, jangan putus asa Kyuhyun-ah, jangan takut pada apapun. Percayalah, serahkan semua pada Tuhan, biarkan Tuhan yang mengatur semuanya. Jalani hidupmu dengan sebaik-baiknya. Apapun yang kau rasakan, jangan pernah menyimpan itu sendirian."
Kyuhyun kembali merangkul sang Appa. Appa-nya benar, ia tak perlu menyembunyikan apapun lagi
"Maafkan aku, Appa. Bolehkah sebentar saja aku memelukmu seperti ini?"
"Tentu saja, Kyuhyun-ah.."
.
.
Malam harinya, Jaehyun terpaksa belajar di kamar Kyuhyun. Adiknya itu pulang dari Rumah Sakit dengan mata sembab, bahkan Kyuhyun tidak berbicara sepatah kata pun. Jaehyun sudah terbiasa dengan sikap Kyuhyun yang seperti itu. Jaehyun juga tak akan bertanya apapun pada Kyuhyun, karena jika ia bertanya sudah pasti adiknya itu tak akan menjawab. Jaehyun biasa menemani Kyuhyun, kemudian dengan sendirinya Kyuhyun akan bercerita.
"Hyun-ah?"
"Apa? Akhirnya mau bercerita juga. Kenapa? Ada Apa?" Kata Jaehyun tanpa menoleh pada Kyuhyun dan tetap menulis sesuatu di buku-nya.
"Aku punya satu permintaan, Hyun."
"Memang apa yang ingin kau minta?"
"Aku ingin aku tidak pernah dilahirkan."
Apa?
Kegiatan Jaehyun terhenti, ia menoleh pada Kyuhyun yang sedang berbaring di tempat tidurnya.
"Apa-apaan." Kata Jaehyun sambil kembali melanjutkan kegiatan belajarnya. Berusaha menyembunyikan air matanya yang mulai menetes. Hatinya seperti tersayat mendengar perkataan Kyuhyun tadi. Jaehyun berharap ia mendadak tuli sekarang, sungguh, Jaehyun tak ingin mendengar apapun lagi dari Kyuhyun.
"Kalau kau tidak ada, lalu aku bagaimana?" sekuat tenaga Jaehyun menjaga suara-nya tidak bergetar.
"Kau? Ya... sendirian Hyun. Aku kan tidak ada. Kau tidak punya saudara kembar."
"Aishh, tega sekali."
"Justru kau yang begitu tega padaku, Hyun."
"Aku?"
"Kau tak kasihan melihatku hidup dengan keadaan seperti ini?"
Jaehyun benar-benar terdiam.
"Jika aku tak ada, kau tak perlu merawat orang sakit, Hyun."
Air mata Jaehyun menetes lagi, ia bertanya-tanya kenapa Kyuhyun tiba-tiba seperti ini. Sama sekali bukan seperti Kyuhyun yang kuat, yang pernah ia kenal.
"Eomma tak perlu memasak makanan khusus untuk-ku, juga Appa dan kau juga tak perlu susah payah membawaku ke Rumah Sakit ketika aku sedang kambuh."
Hening. Kyuhyun menghentikan perkataannya sejenak.
"Dan aku tak perlu minum obat seperti ini setiap hari. Tak perlu kesakitan seperti ini. Kau tau Hyun... rasanya lelah sekali."
"Aku harus ke kamar mandi Kyuhyun-ah, maaf." Secepat kilat Jaehyun membereskan bukunya, Kemudian berlari keluar dari kamar Kyuhyun sambil berusaha menyembunyikan wajahnya dari pandangan Kyuhyun.
Kyuhyun tersenyum.
"Kau tak sekuat yang ku kira Hyun, kau masih takut jika aku pergi, kan?" Kyuhyun tau benar Jaehyun telah menangis sejak tadi.
"Lalu bagaimana jika aku benar-benar meninggal? Kau akan tidur di pemakaman, begitu? Kau tidak makan, tatapanmu kosong sepanjang hari, wajahmu pucat, kau seperti kehilangan semangat. Apa kau akan seperti itu, Jaehyun-ah?" Kyuhyun hanya terkekeh kecil. Ia kemudian mengambil ponsel-nya, sepertinya ia sedang memanggil seseorang.
"Perutmu sakit? Apa kau diare? Aku belum selesai bicara, Hyun."
Ya, Kyuhyun sedang memanggil Jaehyun.
"Ah... ternyata aku ada banyak tugas Kyuhyun-ah. Lanjutkan besok saja, ya?"
"Aku tak ingin menunggu, Jaehyun-ah. Aku tak bisa memastikan besok aku masih bisa bertatap muka denganmu. Aku tak bisa berjanji. Kau tau Hyun, aku tak suka jika kau diam-diam menangisi-ku seperti itu."
"Kau biacara apa sih,Kyu? Kalau mengantuk ya tidur saja, tak usah melantur seperti itu. Aku benar-benar banyak tugas!"
"Ya sudah, aku tidur. Jangan menyesal kalau besok aku tidak bangun!"
Kyuhyun menutup telepon-nya begitu saja. Sementara Jaehyun benar-benar bingung dengan adiknya itu. Apa yang membuat Kyuhyun menjadi seperti itu? Jaehyun benar-benar perlu mengetahuinya. Dengan langkah tergesa, Jaehyun menuju ke kamar Kyuhyun.
"Buka pintunya, Cho Kyuhyun!" teriak Jaehyun dari luar kamar Kyuhyun.
Dengan sangat perlahan Kyuhyun berusaha bangun, sesekali merintih ketika rasa sakit itu terasa menusuk dadanya. Kyuhyun menggigit bibir bawahnya. Mencoba meraih apapun yang bisa ia capai agar tubuhnya tetap seimbang. Kyuhyun membuka pintu itu, tangannya segera meraih pundak Jaehyun agar tidak terjatuh.
"Kau tega sekali, aku sudah seperti ini malah kau suruh membukakan pintu, padahal pintu-nya tidak dikunci."
Kyuhyun mengernyit, ia merasa rasa sakit itu semakin menusuk saja, tubuhnya terhuyung kemudian ia jatuh di pelukan Jaehyun, dan tentu saja, Jaehyun dengan sigap menggendong Kyuhyun menuju tempat tidurnya.
"Salah siapa tidak memberitahu pintunya tidak dikunci, kenapa harus turun dari tempat tidur?"
Jaehyun memperhatikan Kyuhyun yang memejamkan matanya, keningnya sesekali berkerut.
"Bangun sebentar, kau harus minum obat."
Jaehyun membantu Kyuhyun duduk. Tangannya merangkul pundak Kyuhyun,
"Ughh... tidak bisa Hyun, sakit sekali." Tangan Kyuhyun refleks memegang dadanya yang terasa semakin sakit.
"Perlahan saja, bersandar padaku, Kyu. Perlahan-lahan." Jaehyun berusaha membuat Kyuhyun duduk dan bersandar pada tubuhnya, bagaimanapun juga Kyuhyun harus segera meminum obatnya. Jaehyun langsung memberikan sebutir pil juga meminumkan segelas air putih pada Kyuhyun.
"Sudah? Berbaring lagi, ya?"
Kyuhyun mengangguk, ia kembali memejamkan matanya. Jaehyun kembali membantu Kyuhyun berbaring. Jaehyun mengambil sebuah sapu tangan dari saku-nya, mengusap wajah Kyuhyun yang penuh dengan keringat agar anak itu lebih nyaman. Tangannya Kemudian menggenggam tangan Kyuhyun, Kyuhyun membalas genggaman Jaehyun dengan sangat erat.
Wajah Jaehyun terlihat sangat khawatir, ia mengusap tangan Kyuhyun yang terasa sangat dingin itu. Adiknya benar-benar kesakitan jika sudah seperti itu. Jaehyun sering mendapati Kyuhyun kambuh seperti ini, ia sengaja tak memanggil Eomma atau Appa-nya jika ia masih bisa mengatasi ini sendiri, lagi pula Kyuhyun juga tak ingin jika Eomma dan Appa-nya melihatnya kesakitan seperti tadi.
Perlahan genggaman Kyuhyun melemah, Jaehyun sedikit lega, wajah Kyuhyun sudah tidak sepucat beberapa saat yang lalu.
"Tidurlah, Kyu...Kyu-ya..." Jaehyun tersenyum, ia berbisik pelan sambil menyentuh hidung Kyuhyun.
'Tuhan, aku masih ingin bersamanya.' Jaehyun menatap lekat wajah adiknya itu. Niatnya bertanya pada Kyuhyun akhirnya tertunda, ia tak ingin membuat Kyuhyun semakin terbebani.
.
.
.
5 bulan berlalu semenjak hari itu, Kyuhyun juga tetap menjalani kegiatan rutin seperti kuliah dan check-up, ia juga merasa keadaannya lebih baik. Entah mungkin keajaiban Tuhan memang sedang terjadi padanya. Bahkan sekarang Kyuhyun tengah mempersiapkan diri mengikuti lomba Piano yang diselenggarakan sebuah Universitas musik ternama di Seoul. Kyuhyun sengaja tidak kuliah di Universitas musik walaupun ia pintar bermain piano. Menurutnya bakat musik yang dimilikinya itu karena hobi semata. Ia tetap lebih tertarik pada pelajaran eksak yang memang dari kecil sudah di-senanginya. Ia hanya sesekali mengikuti lomba seperti ini jika ia punya waktu luang di tengah jadwal kuliahnya saat ini.
Seperti sekarang ini, Jaehyun sedang tertawa terbahak-bahak mendengar Kyuhyun bernyanyi dengan nada yang dipelesetkan dan lirik yang sepenuhnya menyindir Jaehyun. Kyuhyun berkata bahwa ini pemanasan sebelum ia berlatih dengan lagu yang benar-benar akan dimainkannya ketika lomba. Kyuhyun sering menjadi pemenang ketika lomba, itu karena ia bermain dengan cara yang berbeda dengan peserta lainnya. Biasanya, peserta hanya akan bermain piano dengan teknik-teknik sulit yang dipelajarinya, atau hanya bernyanyi sambil bermain piano. Kyuhyun biasanya akan bernyanyi pada awal permainannya, biasanya tempo-nya akan lambat di awal lagu, Kyuhyun hanya bernyanyi sampai setengah lagu atau hanya menyanyikan bagian refrain kemudian melanjutkan lagu menggunakan teknik piano yang sudah disiapkannya dengan tempo yang semakin cepat, kemudian kembali dengan tempo yang sangat lambat pada bagian akhir. Ketika di tanya mengapa Kyuhyun melakukan itu, ia bilang karena ia ingin suasana yang berbeda saja.
"Ketika kau menang nanti, kau ingin aku membelikan apa?" tanya Jaehyun tiba-tiba.
"Kau tau sepatuku, kan? Tren sepatu seperti itu sudah lama, aku ingin yang baru, kau belikan ya, Hyun?"
"Apa? Itu baru beli 2 bulan yang lalu, Kyuhyun!? Apa-apaan ini! Tidak mau!"
"Kalau menurutmu itu masih bagus ya pakai saja, lalu belikan aku yang baru."
"Kau ini selalu seperti itu, dasar setan!"
"Apa? Aku tidak dengar? Hahahaha!"
"Awas kau!"
Jaehyun berlari ke arah Kyuhyun, kemudian menggelitik pinggang Kyuhyun. Mereka berdua tertawa bersama, wajah keduanya benar-benar sama ketika mereka tertawa seperti itu. Ya, semoga saja Kyuhyun benar-benar menerima sepatu baru dari Jaehyun.
.
.
.
Sore itu, sepulang kuliah Jaehyun berencana membelikan sepatu untuk Kyuhyun, kebetulan hari ini Kyuhyun tidak ada jadwal kuliah, jadi ia bisa lebih leluasa untuk membelikan sepatu. Jaehyun memang begitu pada Kyuhyun, entah pada lomba piano nanti Kyuhyun menang atau tidak, ia tetap akan memberikan sepatu itu. Menurutnya, melihat Kyuhyun bersemangat seperti itu, ia sangat bahagia. Kyuhyun memang bukan orang yang muda putus asa, walaupun dengan keadaan seperti itu.
"Ada yang bisa saya bantu?"
"Saya ingin melihat koleksi sepatu terbaru."
"Untuk siapa?"
"Ah, untuk saya."
"Baiklah, mari ikut saya."
Jaehyun mengekor di belakang pegawai toko itu.
"Ini koleksi terbaru toko kami, silakan melihat dan memilih dulu."
"Baiklah, terima kasih."
Jaehyun berencana membelikan sepatu bernuansa biru pada Kyuhyun. Tanpa berlama-lama Jaehyun memutuskan membeli sepatu berwarna biru tua dengan strip putih dan merah tua pada kedua sisinya, juga dihiasi dengan tali bermotif putih berukuran sedang. Sederhana memang, tapi menurutnya itu manis, dan cocok untuk Kyuhyun. Harganya memang agak mahal, tapi bagi Jaehyun apa sih yang tidak untuk saudara kembarnya itu.
20 menit kemudian Jaehyun sampai di rumah, ia sempat was-was jika Kyuhyun curiga mengapa ia pulang se-petang ini, tapi untungnya Kyuhyun tidak curiga. Saat ia pulang ke rumah, adiknya itu malah mengajaknya masuk ke kamarnya.
"Ada apa, Kyu?" tanya Jaehyun heran, Kyuhyun hanya meringis saja sejak tadi.
"Hehe, pilihkan baju untuk lomba piano-ku besok ya?"
"Ah, ku kira ada apa. Ya, biar ku pilihkan saja, kalau kau memilih sendiri pasti akan jelek, seleramu juga jelek."
"Ya! Kau mengataiku lagi, Hyun."
"Ck, cepat tunjukkan padaku baju yang mana saja yang sudah kau pilih?"
Kyuhyun membuka lemari yang ada di kamarnya, kemudian mengeluarkan beberapa kemeja dan jas yang menurutnya bagus ketika dipakai lomba nanti. Jaehyun memperhatikan beberapa jas dan kemeja yang sudah Kyuhyun pilih. Jaehyun Kemudian memilih kemeja hitam polos dan jas putih yang berpinggir hitam pada bagian kerah dan sakunya. Ia juga memilihkan Kyuhyun dasi putih bermotif garis diagonal yang timbul.
"Ini, cobalah dulu."
Jaehyun duduk di atas tempat tidur milik Kyuhyun, Kyuhyun berbalik badan menghadap cermin yang ada pada lemari-nya. Kyuhyun mulai melepas sweater-nya, dan mengambil kemeja yang tadi sudah dipilih Jaehyun.
"Kau seperti tidak pernah makan saja, kurus sekali."
"Ini sudah agak gemuk, Hyun."
"Gemuk apanya?"
Kyuhyun tidak menjawab dan kembali sibuk memakai pakaiannya.
"Pakaikan ini, ah, bagaimana sih caranya memakai dasi yang bagus?"
Jaehyun berdiri, memakaikan dasi itu pada Kyuhyun, Kyuhyun tampak memperhatikan Jaehyun dengan serius.
"Sudah, seperti itu."
Kyuhyun kemudian memakai jas-nya.
"Bagaimana? Apa aku tampan?"
"Jelas kau tampan, kalau cantik namanya perempuan, Kyu."
"Ya! Aku serius!"
"Iya, iya kau tampan. Sepertiku."
"Aissh, bisa-bisanya."
Jaehyun sedikit merapikan jas Kyuhyun, perasaan tak menyenangkan tiba-tiba merasuk ke dalam hatinya, ia merasa sedih dan ingin menangis. Kyuhyun, tampak sangat tampan dengan pakaian seperti itu. Entah kenapa, Kyuhyun terlihat berbeda memakai jas yang ia pilihkan itu.
"Ah, ini akan menjadi jas kesayanganku, Hyun. Ini bagus sekali."
"Ya sudah, cepat rapikan itu, jangan sampai kotor, lomba-nya besok, akan repot kalau harus mencuci jas itu lagi."
"Baiklah, terimakasih Hyung."
"Ya, sama-sama. "
Jaehyun keluar dari kamar Kyuhyun dan langsung menuju kamarnya sendiri. Ia masih memikirkan perasaan aneh yang menghampirinya, tapi Jaehyun berusaha tenang. Mungkin itu hanya perasaannya saja. Ia Kemudian beranjak ke kamar mandi.
.
.
Selesai mandi, Jaehyun beranjak ke ruang makan untuk makan malam. Di sana sudah ada Kyuhyun, Appa, serta Eomma yang masih sibuk menata makanan di meja.
"Sudah kau rapikan, Kyu?" tanya Jaehyun.
"Apa-nya yang di rapikan?"
"Kemeja-kemeja yang tadi kau keluarkan ketika memilih kostum untuk lomba besok?"
"Apa maksudmu? Aku baru saja datang dari Rumah Sakit bersama Appa."
Deg!
Mata Jaehyun melebar, tubuhnya mendadak lemas. Ia berusaha mengalihkan pandangannya dari Kyuhyun.
"Apa kau baru bangun tidur? Mungkin tadi kau bermimpi?" kata Kyuhyun tanpa curiga akan apapun.
Jaehyun menunduk, tidak mungkin ia bermimpi. Lalu itu tadi siapa? Kalau bukan Kyuhyun, lalu siapa?
"Sudahlah Jaehyun, mungkin Kyuhyun benar. Mungkin kau tadi bermimpi seolah-olah mimpi itu nyata. Ayo cepat makan." Eomma berusaha mencairkan suasana.
Jaehyun makan dengan tidak fokus, pikirannya masih tertuju kepada kejadian sore tadi. Ia benar-benar heran dan setelah makan malam, Jaehyun kembali ke kamarnya. Hatinya menjadi sangat tidak tenang.
"Apa Kyuhyun sedang mengerjaiku?" Jaehyun bergumam sendiri.
.
.
.
Esok paginya, Jaehyun bangun dengan perasaan yang lebih tenang. Ia keluar dari kamarnya, aroma masakan sang Ibu sudah tercium, jika sudah begitu berarti ia harus membangunkan Kyuhyun. Tanpa ragu ia melangkah menuju kamar Kyuhyun, ia tau ini masih pagi, tapi Kyuhyun juga harus bersiap-siap untuk lomba. Ia membuka pintu kamar Kyuhyun.
"Kyu bangun, kau har..." perkataan Jaehyun terhenti.
Sedetik kemudian ia merasa seperti de javu.
Di jam yang sama, suasana pagi hari yang sama, dan juga perasaan yang sama, hanya saja Jaehyun merasa waktu berjalan lebih lambat daripada saat itu. Seketika tubuh Jaehyun kaku, seakan kejadian mengerikan itu terulang kembali tepat di depan matanya. Kyuhyun, adiknya itu terbaring di lantai dengan bibir yang membiru dan dengan napas yang amat berat dan terdengar menyakitkan. Terdengar jelas bagaimana Kyuhyun sesekali merintih kesakitan, adiknya itu seperti di ambang kematian. Semuanya, bahkan suara rintihan Kyuhyun, sama persis dengan kejadian 10 tahun yang lalu. Perlahan kerja otak Jaehyun melambat. Ia hanya bisa berbisik lirih memanggil nama Kyuhyun.
"Hyung... tolong aku..." Kyuhyun berusaha mengangkat tangannya yang bergetar. Ia merasa hawa dingin menyergap ke seluruh tubuhnya, udara di sekitarnya seakan menghilang begitu saja, belum lagi rasa menusuk yang tajam di dadanya. Perlahan pandangannya memburam, ia hanya bisa melihat seseorang sedang berdiri di hadapannya, itu Jaehyun, iya benar itu Jaehyun, tapi kenapa Jaehyun hanya diam saja dan tidak menolongnya?
Hati Jaehyun berdesir, mata sayu Kyuhyun bertemu dengan matanya yang berkaca-kaca. Sungguh, suara Kyuhyun terdengar mengerikan. Jaehyun menggelengkan kepalanya, otaknya sungguh tak bisa bekerja lagi.
"eomma, eomma..." bisikan halus terus saja keluar dari bibir Jaehyun yang bergetar.
"Kyu...Kyuhyun...eomma...Kyuhyun...andwae..."
Jaehyun mulai meracau tidak jelas, langkahnya perlahan mundur. Sampai ia mendengar suara Appa dan Eomma-nya memanggil nama-nya dan Kyuhyun, lalu setelah itu, Jaehyun tak mengingat apapun lagi.
.
.
.
Jaehyun terbangun ketika ia mendengar suara nyaring dari ponselnya. Jaehyun bertanya-tanya mengapa ia bisa ada di kamar Kyuhyun, lalu Kyuhyun? Bagaimana dengan Kyuhyun?
"Yeoboseyo, Appa?"
"Maafkan Appa, adikmu baru saja pergi... untuk selamanya."
Jaehyun merasa.. dunia baru saja runtuh.
.
.
Hari itu juga Kyuhyun dimakamkan, Jaehyun tidak ikut ke pemakaman untuk mengikuti prosesi pemakaman. Jaehyun memilih datang setelah yang lain pulang.
1 jam berlalu, Jaehyun akhirnya berangkat ke pamakaman. Raut wajahnya agak pucat, juga sorot matanya yang kosong. Sampai di tempat pemakaman, ia keluar dari mobil dengan membawa sebuket bunga dan juga sebuah bungkusan. Ia berjalan menuju makam Kyuhyun. Suasana memang sudah sepi, Jaehyun lega ia datang di saat yang tepat.
"Annyeong Kyuhyun-ah..." Jaehyun tersenyum, ia duduk bersimpuh, tidak peduli dengan tanah yang bisa saja mengotori jas hitamnya.
Perlahan Jaehyun meletakkan sebuket bunga juga sebuah bungkusan yang tadi ia bawa.
"Ini sepatumu. Aku sudah berjanji akan membelikanmu sepatu, kan? Ku letakkan di sini saja ya, aku tidak mau memakainya, aku tidak suka dengan warnanya." Jaehyun tersenyum lagi.
Tangan Jaehyun perlahan terulur memeluk nisan hitam itu.
"Cho Kyu Hyun." Jaehyun mengeja nama yang ada di nisan itu.
"Aku masih belum percaya Kyu, ku pikir kau sudah baik-baik saja. Bolehkah aku menangis sekarang?"
Hening.
Tidak ada yang menjawab pertanyaan itu, jika begitu artinya 'iya', bukan? Berarti Jaehyun boleh menangis sekarang.
"Kyuhyun-ah... mianhae..."
Hujan.
Jaehyun mendongak, baginya langit justru seperti sedang mentertawakannya kali ini. Tapi Jaehyun merasa tubuhnya tidak basah kuyup walau hujan sedang turun dengan derasnya. Jaehyun kemudian menoleh. Ia mendapati Kyuhyun tengah berada di belakangnya sambil memegang payung.
"pulanglah Hyung."
"tapi Hyung masih ingin menemani Kyuhyunie di sini"
"Aku tidak di sini, Hyung. Aku tetap bersama Hyung, kok"
Jaehyun terdiam.
"aku tetap bersama Hyung, di situ."
Kyuhyun menunjuk dada Jaehyun.
Jaehyun menyentuh dadanya. Kyuhyun benar, ia akan selalu berada di hatinya.
"pulanglah hyung, ini bawa payungnya. Terima kasih sepatunya, kau benar-benar menepati janjimu. Bahkan aku belum sempat ikut lomba itu."
Jaehyun hanya tersenyum.
"oh iya Hyung. Tentang kejadian kemarin itu, itu hanya bayanganmu saja. Tapi terimakasih ya, jas ini benar-benar cocok untukku.
Jaehyun baru sadar jika Kyuhyun yang ia lihat saat ini sedang memakai jas putih yang dipilihkannya kemarin.
"ah, sama-sama Kyuhyun-ah."
"Hyung pulang ya, Kyu? Gomawo... uri dongsaeng..."
Jaehyun membungkuk sebagai tanda penghormatan terakhir untuk adiknya. Saat Jaehyun mengangkat kepalanya, ia tak melihat siapapun di sana. Tapi Jaehyun sama sekali tak terkejut atau heran. Ia bisa mengerti semuanya ini. Perlahan Jaehyun beranjak pergi dari tempat itu.
.
.
.
.
Kyuhyun menatap punggung kakaknya yang semakin jauh dengan air mata yang terus mengalir. Banyak sekali hal-hal yang sudah ia rencanakan bersama dengan Jaehyun. Tapi semua harus berakhir sampai di sini.
"Hyung, kau tau... di tempatku sekarang ini, indah sekali. Aku akan mengajakmu ke tempat ini suatu hari nanti." kata Kyuhyun lirih.
-END-
Ceritanya gantung-kah? :D pas nulis chapter ini, tiba-tiba muncul ide buat Sekuel. Ada yang mau? XD
Terimakasih banyak buat yang sudah nge-review dan yang sudah membaca tapi belum sempat nge-review. Jangan malu-malu buat nge-review ya. Mau kritik atau saran terserah kalian :D, saya menerima semuanya, toh itu juga untuk perbaikan fanfic saya selanjutnya.
Sekian dari saya, ditunggu banget reviewnya yaaaahh... :)
Annyeong~
