Chapter 5

Nano, Log In

"Maji de Watashi ni Koi Shinasai!/Love Me, Seriously!"

Warning:

Mungkin akan sangat OOC, EYD salah kaprah dan banyak typo dan cepat atau lambat bakal ada SongFic.

Disclaimer:

Naruto: Masashi Kishimoto

Highschool DxD: Ichie Ishibumi

Love Live School Idol Project: KLab (Reader: itu produser gamenya goblok *Yaoming face* Auth: biarin cuk daripada ada yg ngepermasalahin, orang di fandomnya aja gak ada yg make disclaimer *yaoming face*

~.~.~.~

Chapter 5: My World: Case (Two Childhoods and the Case part 1)

Opening Song: May'n - Brain Diver

"Jadi, kenapa kau kesini Iruka-san?" Tanya Naruto kepada kepala polisi kota Kuoh yg kini sedang duduk di sofanya.

"Tentu saja aku perlu bantuanmu, Kaneki-kun." Balas Iruka dengan tenang. But wait! Siapa kaneki?

"Jangan memanggilku dengan nama itu saat aku tidak memakai topeng dan wig. Kasus seperti apa kali ini?" Kata Naruto sembari mendudukkan dirinya di sofa.

"Pembunuhan seorang peramal, tidak ada yg misterius di tempat kejadian. Menurut saksi mereka mendengar suara tembakan 2 kali sebelum mereka menemukan ruangan yg ditempati sang peramal terkunci. Karena tidak bisa di dobrak maka saksi terpaksa membobol kunci kamar dengan cara menembaknya. Peramal itu ditemukan meninggal di kursi roda dengan mata yg tertembak." Jelas Iruka panjang lebar kepada Naruto.

"Siapa saksinya?"

"Seorang sopir dan pembantunya."

"Apa kau sudah membawa anjing pelacak, Iruka-san?"

"Sudah, tapi tetap saja hasilnya tidak ada. Bahkan tidak ada satupun barang bukti yg dapat kami temukan pada peristiwa itu."

"Kau tidak perlu mencari barang bukti, kau hanya harus menemukannya. Sekarang pertanyaan terakhir, apakah sang peramal menguasai bahasa asing yg juga dikuasai saksi?"

"Ya, bahasa arab. Selain peramal itu yg bisa berbahasa arab hanyalah pembantunya."

"Kalau begitu pelaku pembunuhan ini adalah sang pembantu." Serangkaian analisis yg ada di otak Naruto kini menghasilkan sebuah hasil yg sama. Yaitu pembantu adalah pelakunya.

"Bagaimana kau bisa menyimpulkan seperti itu?" Tanya Iruka yg saat ini mau tak mau harus merasa kaget karena semua oknum di kepolisian memikirkan bahwa peramal itu terbunuh oleh sniper *?* atau yg lain.

'Apa yg sebenarnya dipikirkan oknum kepolisian sih?' "Kedua tembakan itu adalah pengalih perhatian sebelum pembunuhan sang peramal. Saat kau berada di posisi saksi kau akan tahu bahwa posisi itu bisa menjadi posisi yg sangat nyaman untuk menyelamatkan atau bahkan sangat aman untuk membunuh. Saat mendengar suara tembakan dan meninggalkan orang tua yg memakai kursi roda dikamar yg terkunci, apa yg akan kau katakan Iruka-san."

"Jauhi jendela dan mendekatlah ke pintu agar aman. Kurang lebih seperti itu, Naruto."

"Setelah mendengar kalimat itu dengan bahasa arab tentu saja peramal itu langsung menurutinya karena dia tahu bahwa suara itu adalah suara pembantunya, lalu disinilah semua mulai semakin panas. Saat mendekati pintu peramal itu tidak langsung membuka pintu karena dia tidak memiliki kuncinya makanya dia mengintip melalui lubang kunci untuk memastikan bahwa itu benar-benar pembantunya, dan disaat yg bersamaan pembantu yg sudah mengambil pistol itu menembakkan pistolnya ke lubang kunci sehingga tembakan itu mengenai mata sang peramal." Jelas Naruto panjang lebar mengurutkan kejadian yg sebenarnya dari awal hingga akhir.

"Seperti biasa, kau bisa memecahkan kasus yg tidak bisa kami tangani sendiri." Kata Iruka dengan tersenyum kecil kepada pemuda nekat di depannya. Nekat? Mungkin sebuah flashback kecil bisa menggambarkan kenekatan Naruto.

FLASHBACK

"Dengan semua bukti yg ada, kami memutuskan saudara Teuchi dinyatakan bersalah atas semua tuduhan." Kata seorang hakim yg memimpin jalannya sidang.

"Apa kalian sudah memeriksa luka tusuk korban?." Tiba-tiba sebuah LCD yg harusnya menampilkan logo pengadilan malah kini terlihat menampilkan seseorang yg memakai topeng ANEH dan berambut putih. Aneh? Lihat saja, topeng hitamnya tidak menutupi seluruh wajah karena membiarkan mata kirinya terbuka lalu belum lagi sebuah gambar mulut yg sedang menyeringai menampilkan gambar gigi disertai resleting di bagian bawahnya membuat topeng itu semakin aneh (Topeng Kaneki di Tokyo Ghoul).

"Siapa kau? Dan bagaimana kau bisa menghack LCD ini." Tanya hakim ketua yg kini terkejut pasalnya keamanan teknologi pada zaman ini sudah berkali-kali lipat dibanding beberapa dekade sebelumnya.

"Biar kutanya sekali lagi. Apa kalian sudah memeriksa luka tusuk korban." Tanya orang itu sekali lagi.

"Tentu saja sudah." Kini yg menjawabnya bukan hakim tadi melainkan Morino Ibiki sang wakil kepala kepolisian kota kuoh.

"Lalu bagaimana menurut anda dengan penyelidikan kasus ini?" Tanya orang itu lagi.

Sebelum menjawab pertanyaan orang di LCD, ibiki berbicara kepada Iruka yg notabene nya adalah atasannya. "Iruka-san, cepat lacak sinyal orang yg menghack tadi. Saya akan mengulur waktu."

"Baiklah, mohon bantuannya Ibiki-san." Balas Iruka.

"Menurutku, penyelidikan sudah berjalan dengan baik. Kami menemukan bukti yg cukup untuk menyatakan Teuchi-san bersalah dalam kasus ini." Kata Ibiki menjawab pertanyaan orang itu untuk mengulur waktu.

"Berjalan dengan baik? Bukti? Jangan membuatku tertawa. korban dibunuh dengan ditusuk kemudian mayatnya digantung dengan tali di tempat yg cukup tinggi. Kalau Teuchi-san yg melakukannya itu mustahil." Jelas orang di LCD yg membuat mereka semua terkejut.

"Mustahil katamu?"

"Melihat luka tusukannya sangat jelas bahwa korban ditusuk dengan pisau daging. Sedangkan Teuchi-san sangat jarang memakainya karena sekarang dalam membuat ramen dia dibantu oleh istri dan anaknya yg menggunakan pisau mereka sendiri. Pisau daging milik Teuchi-san sudah pasti berkarat, tapi apa yg kalian temukan? Pisau yg masih baru? Jika kalian menyangkal dengan menuduh Teuchi-san membeli pisau beberapa hari sebelum pembunuhan itu juga mustahil karena pada beberapa hari yg lalu Ichiraku sangatlah sibuk. Lalu yg terakhir adalah karena mayatnya digantung di tempat tinggi. Tinggi Teuchi-san kira-kira 180 cm sedangkan mayatnya digantung di ketinggian lebih dari 2, 3 meter. jika kalian menuduh Teuchi-san yg menggantungnya maka itu mustahil meski dia telah menggunakan kursi sebagai pijakan maka mustahil juga karena kursi disana hanya setinggi 40 cm. Dan jika kalian bertanya bagaimana aku tahu semua itu? Sekarang berita di Televisi menampilkan TKP juga loh... baiklah waktunya menunjukkan siapa pembunuh yg sebenarnya!"

"Pembunuh adalah seorang koki. Memiliki tinggi sekitar 190 cm dan memiliki banyak pisau. Kenapa pisau itu ada di rumah Teuchi-san? Itu karena dia berniat menjebaknya. Dan siapa yg berani menjebak seseorang yg tidak bersalah meski sudah mengenalnya? Yg pertama adalah teman yg kedua adalah tetangga. Mengingat jika Teuchi-san adalah pendatang dari Sapporo maka sudah pasti jika dia dijebak tetangganya. Tanyakan kepada Teuchi-san siapa tetangganya yg mempunyai koleksi pisau daging dan memiliki tinggi seperti yg kukatakan. Baiklah mungkin hanya itu pembelaanku untuk Teuchi-san. Jaa ne!"

Lalu gambar orang yg tadi berbicara mengemukakan pendapatnya mengenai kasus ini menghilang bak ditelan bumi. "Bagaimana menurut anda Ibiki-san?" Tanya seorang inspektur kepolisian.

"Teuchi-san!" Panggil Ibiki pada tersangka Teuchi mengacuhkan bawahannya yg sedang bertanya.

"Ada apa inspektur?"

"Apakah anda mempunyai tetangga yg mirip dengan yg dideskripsikan orang tadi?" Tanya Ibiki pada Teuchi.

"Ya, namanya adalah Miyamoto Haizaki."

MEANWHILE At Iruka Side

"JANGAN BERGERAK!" Kata Iruka setengah berteriak mendobrak pintu apartemen sambil menodongkan sebuah senjata api. Apartemen? Ya, dia saat ini berada di alamat dimana sinyal hacker itu berasal.

Sedangka Naruto? Dia tidak terlalu tertarik dengan pengerusakan properti rumah yg dilakukan Iruka, selama dia mendapat ganti rugi karena pintunya dirusak itu tidak masalah.

"Siapa kau?" Tanya Iruka masih menodongkan senjatanya.

"Panggil saja aku Kaneki." Balas Naruto yg masih memakai topeng anehnya + wig berwarna putih dengan sorot mata bosan.

"Kenapa kau melakukan hack di pengadilan?" Tanya Iruka tanpa basa-basi.

"Karena ichiraku mempunyai ramen yg sangat enak. Teuchi-san adalah pemiliknya jadi jika aku membiarkan Teuchi-san tertangkap maka itu sama saja aku tidak bisa makan di tempat itu." Kata Naruto memberikan alasannya.

"Apa kau berusaha menipu kepolisian?" Kali ini Iruka sedikit membentak pemuda di depannya.

"Kalian saja yg tidak becus memecahkan kasus ini. Polisi yg tidak kompeten, kalian melewatkan banyak fakta meski itu hal kecil."

Belajar dari kesalahan para bawahannya kali ini membuat Iruka mau tidak mau harus mengakuinya. Mereka memang melewatkan banyak bukti dan akhirnya dia membuat sebuah penawaran dengan pemuda di depannya ini.

"Bagaimana kalau kau membantu kepolisian, dengan begitu aku bisa memberimu grasi dengan syarat kau tidak boleh bertindak seperti ini lagi."

Memikirkan tentang untung dan rugi bahkan jebakan sebagai kemungkinan terburuk membuat Kaneki diam beberapa saat.

"Baiklah Iruka-san. Lagipula aku bosan jika hanya melihat kepolisian membuat kesalahan dalam penyelidikan." Akhirnya setelah beberapa saat memikirkan konsekuensinya Naruto menerima penawaran Iruka.

FLASHBACK END

Terlalu sibuk mengingat awal pertemuan mereka berdua yg juga mengawali keterlibatan Naruto dalam berbagai pemecahan kasus kriminal. Mulai dari Teroris, Pembunuh berantai, Gembong Narkoba sampai mafia.

"Kau belum mengatakan alasanmu yg sebenarnya bukan, Iruka-san?" Tanya Naruto yg kini sudah mengganti seragam sekolahnya dengan Baju hitam dan Celana hitam, tangan kanannya kini memegang sebuah topeng hitam sama seperti yg dia pakai sebelum-sebelumnya dan tangan kirinya memegang sebuah wig berwarna putih. Apakah dia tidak mandi? Tentu saja dia mandi saat Iruka terlalu sibuk melamun tadi.

"Kau sudah tahu kenapa aku kesini bukan?" Jawab Iruka sekenanya.

08.00 PM Kantor Kepolisian Kota Kuoh

"Jadi, kasus kali ini seperti apa?" Tanya Kaneki yg saat ini tengah memakan Cup Ramen Instan. Apa dia tidak makan malam? Tentu saja sudah, hanya saja ini waktu yg sangat tepat untuk memakan makanan yg panas-panas mengingat ini masih masuk musim semi.

"Pembunuh berantai." Jawab Iruka santai.

"Kenapa kau tidak langsung membawaku ke TKP?" Tanya Kaneki (lagi) yg kini telah selesai menghabiskan Cup Ramennya dan melemparkannya ke tong sampah.

*mungkin ada yg bertanya kenapa Kaneki bisa makan padahal udah make topeng jawabannya adalah dia membuka resleting yg ada di gambar mulut topeng itu yg sengaja dia rancang sesuai dengan posisi mulutnya jadi kalo dibuka dia bisa makan dan minum.*

"Ada seseorang yg ingin kuperkenalkan padamu di Ruanganku." Jawab Iruka yg saat ini tengah berjalan memasuki lift untuk mencapai lantai dimana ruangannya berada.

'Seseorang? Mungkin dia adalah Black Lotus Miku yg sering dibicarakan di TV sebagai detektif yg misterius sama sepertiku.' Tebak Kaneki di sela-sela perjalanan.

Dan kini Naruto telah tiba di depan pintu ruangan Iruka. Tanpa basa-basi dia langsung membukanya tidak memperdulikan Iruka yg saat ini berjalan dibelakangnya. Dan jika ada reader bertanya apa yg Naruto lihat setelah masuk ruangan Iruka?

Jawabannya adalah saat ini dia menemukan sebuah gadis yg juga memakai topeng sama sepertinya hanya saja topeng gadis itu menutupi seluruh wajahnya dan menyisakan 2 lubang untuk melihat di bagian mata dan jangan lupakan bahwa topeng itu terlihat seperti dibalut oleh perban, padahal tidak. Untuk baju yg dipakai, gadis itu memakai sebuah baju dan celana panjang yg bermotif seperti peeban sehingga jika dilihat sekilas maka nampak seperti perban yg membungkus seluruh tubuhnya tapi ditutupi oleh jaketnya yg berwarna merah maroon berlengan cukup panjang tapi tidak menutupi seluruh tangannya dan berhoodie. Alhasil yg bisa dilihat saat ini adalah seorang gadis yg mempunyai tinggi kurang dari 175cm, memakai seluruh perban untuk membungkus seluruh tubuhnya, memakai perban yg dililitkan di wajahnya sehingga terlihat seperti topeng (padahal emang topeng) dan jaket merah maroon berhoodie lumayan panjang menutupi tubuh mungilnya sekaligus rambutnya. (Penampilannya seperti Eto dari Tokyo Ghoul root A)

"Dialah partnermu dalam kasus kali ini." Suara dari Iruka itu membuyarkan konsentrasi Kaneki saat mengidentifikasi gadis di sebelahnya.

"Bukankah dia Black Lotus itu? Seharusnya dia bisa memecahkan kasus ini sendiri." Komentar Kaneki yg saat ini sepertinya menyindir gadis disebelahnya.

"Sejujurnya, saya sudah mencoba itu Kaneki-san, tapi saya tidak bisa menemukan apapun sebagai bukti. Kasus kali ini tidak masuk akal." Balas gadis disebelah Kaneki.

"Benarkah? Memang serumit apa kasus itu?"

"Mengejutkan sekali, anda adalah Kaneki si jenius yg telah membantu polisi kota Kuoh memecahkan berbagai kasus yg sangat sulit tidak tahu berita ini." Balas sosok itu yg mungkin bisa kita artikan sebagai balasan atas sindiran yg dilayangkan Kaneki padanya tadi.

"Mau bagaimana lagi, ini adalah tahun ajaran baru jadi aku masih sangat sibuk-sibuknya saat ini." Celetuk Kaneki sekenanya dan kelewat jujur yg secara tidak langsung telah mengungkapkan salah satu dari sekian banyak misteri yg ingin diketahui publik darinya. Berapa umur Kaneki? Kelas berapa Kaneki? Apa Kaneki masih perjaka? Mungkin semacam itulah ^_^

'Dia adalah pelajar? Sama sepertiku. Mungkin dia adalah salah satu mahasiswa.' Pikir Miku atas fakta yg baru saja diterimanya. Kaneki adalah pelajar.

"Mayat itu akan membusuk duluan jika menunggu kalian selesai saling ejek seperti anak kecil. Kita akan ke TKP dan mencari bukti sebanyak-banyaknya." Kali ini Iruka terpaksa memotong acara saling ejek mereka untuk segera menuju ke TKP dan melakukan penyelidikan tentang korban.

08.30 Tokyo (gedung tua yg masih terawat dan kosong/TKP)

Disebuah gedung kecil berlantai 2 yg kini terlihat ramai karena banyaknya petugas polisi baik dari Kuoh maupun Tokyo berlalu lalang mencari petunjuk mengenai kasus pembunuhan yg akhir-akhir ini menghantui mereka. Kasus ini sebenarnya diragukan sebagai kasus pembunuhan karena korban menelan sendiri racun yg sangat berbahaya dan mematikan. Hal ini diduga sebagai bunuh diri tapi setelah muncul korban lain secara acak maka kepolisian di kota Kuoh maupun Tokyo mau tidak mau harus menanggapi kasus ini sebagai pembunuhan berantai meski kemungkinannya kecil.

Dan disinilah Kaneki, Miku dan Iruka, di sebuah ruangan yg cukup lebar dan disana terlihat seorang wanita atau mungkin lebih tepatnya mayat wanita paruhbaya yg sedang dalam keadaan tengkurap.

"Itulah korbannya. Waktu kalian adalah 5 menit sebelum kepolisian Tokyo mengirim mayat itu ke rumah sakit." Kata Iruka memberi waktu yg bisa dibilang sedikit bagi Kaneki dan Miku untuk menyelidiki apa yg terjadi dengan wanita di depannya ini sebelum mati.

"Apa yg dapat kita peroleh dalam waktu sesingkat itu?" Kata Miku dengan nada kesal mengingat kali ini dia hanya mempunyai waktu yg sangat terbatas.

"Sangat banyak Miku-san." Jawab Kaneki sekenanya sembari memulai penyelidikannya.

1. Tulisan di lantai= *?*

2. Cincin pernikahan= dalam bersih dan luar kotor. Bisa dipindah dengan mudah.

3. Kerah baju= dalam kering dan luar basah.

4. Perhiasan lain= bersih.

5. Rok= sedikit lekukan di bagian bawah.

6. Kaki dan sepatu= terdapat bercak lumpur.

'Sudah cukup jelas sampai saat ini, masalahnya adalah siapa pembunuhnya? Berburu korban di Tokyo dengan kata lain berburu di tempat ramai. Orang bodoh? Bukan, dia adalah seorang jenius. Mana kopernya? Ponselnya juga tidak ada. Bagiku kasus ini sudah terungkap 50%.' Kaneki saat ini sedang berfikir dengan otak jeniusnya melihat semua kemungkinan yg ada dan mungkin digunakan oleh pelaku pembunuhan kali ini.

"Bagaimana menurutmu Miku-chan?" Sudah mencapai batas kemampuannya memikirkan banyak kemungkinan gila yg mungkin dipakai oleh sang pelaku kini Kaneki bertanya kepada Miku yg saat ini juga memeriksa mayat korban.

"Seperti yg kubilang tadi Kaneki-kun, tidak banyak. Kau juga bukan?"

"Tidak, cukup banyak yg kupunya. Mungkin bisa menjawab 70% kasus ini jika aku bisa menemukan maksud tulisan ini." Balas Kaneki yg saat ini sedang melihat dengan seksama tulisan yg ditulis korban sebelum mati. E.

"Rache, artinya adalah Balas Dendam. Bahasa jerman, hanya ini yg bisa kusimpulkan. Wanita itu adalah orang jerman." Kata Miku menjelaskan arti dari kata yg ditulis korban di lantai kayu ruangan itu dan memberi kesimpulannya pada Kaneki.

"Baiklah waktunya habis. Kalian berdua minggirlah agar mayat itu bisa dipindahkan ke rumah sakit." Potong Iruka yg kini memasuki ruangan kembali dengan diikuti beberapa petuga medis yg akan menandu mayat korban.

"Sebentar Iruka-san, aku akan menyampaikan kesimpulanku. Apa kepala polisi Tokyo ada disini? Jika iya tolong ajak dia kesini dan biarkan mayat itu berada disini sebentar lagi." Kata Kaneki memohon kepada Iruka.

"Biarkankan mayat itu disini sebentar lagi, kalian berdua pergilah kebawah dan katakan kepada Shirohara untuk kesini secepatnya." Kata Iruka kepada kedua petugas kesehatan itu.

"Baik, Iruka-san." Balas salah satu petugas lalu kembali ke bawah untuk memanggil inspektur Shirohara.

2 menit kemudian (skip time paling nanggung -_- )

"Apa ada berita bagus Iruka?" Tanya Inspektur Shirohara kepada Iruka.

"Sepertinya begitu." Balas Iruka ambigu yg membuat Shirohara bingung.

"Korban adalah seorang warga negara asing yg sedang berlibur ke jepang, karena jika dilihat sekilas maka dia mirip seperti orang inggris. Sudah menikah tapi tidak bahagia dan akhirnya mempunyai selingkuhan itulah sebabnya cincin pernikahannya terlihat kotor dan jarang dibersihkan sedangkan perhiasannya yg lain rajin dibesihkan dan itu juga dasar bukti bahwa cincin pernikahannya sangat mudah untuk dipindahkan dari jari tangannya. Saat kejadian dia kehujanan itulah sebabnya kerah bajunya diangkat untuk menghangatkan tubuhnya, dia membawa payung tapi karena saat itu hujan terlalu deras payungnya rusak dan itulah sebabnya dia tidak memperhatikan langkahnya karena sibuk mencari tempat berteduh sehingga sepatunya berlumpur. Sampai saat ini tidak ada yg kubingungkan kecuali satu hal."

"Apa itu?" Kata Shirohara penasaran.

"Dimana kopernya?"

"Koper?" Entah disengaja atau tidak tapi saat ini Iruka dan Shirohara bertanya balik kepada Kaneki.

"Koper yg berukuran sedang jika dilihat dari lipatan yg dibuatnya di rok dan di dalam koper itu ada suatu hal yg penting." Kata Kaneki dengan nada serius.

"Tidak ada koper apapun saat penyelidikan, Kaneki." Kata Iruka memberitahu Kaneki bahwa anak buahnya tidak bisa menemukan bukti apa-apa.

"Kopernya tidak ada? Mustahil, itu pasti ada. Tapi dimana... Miku ayo kita mencarinya!" Kata Kaneki sembari menarik tangan Miku.

"Ke-kemana?" Tanya Miku dengan suara gugup karena dia baru diperlakukan seperti ini oleh orang yg baru dikenalnya.

"Mencari Kopernya." Balas Naruto singkat.

08.30 PM Tempat Sampah di sekitar TKP.

"Kenapa kita harus mencarinya disini? Bukannya itu idiot? Mencari barang bukti di tempat sampah." Kata Miku yg saat ini sedang mencari-cari koper korban yg Kaneki bilang ada di tempat ini.

"Otak orang idiot dan jenius itu hanya mempunyai sedikit perbedaan. Kali ini adalah orang jenius, aku tahu itu." Balas Kaneki menanggapi ucapan pedas Miku.

"Jalan disini adalah jalan satu arah, jadi pelaku tidak mungkin memutar balik mobilnya untuk membuang koper. Dan jika kau lurus terus maka kau akan sadar bahwa ini adalah tempat sampah terdekat dan terbesar dalam radius 1 km."

"Kenapa tempat sampah?" Tanya Miku yg saat ini benar-benar tidak tahu apa yg mereka lakukan. Dia hanya menjalankan perintah Kaneki karena bagaimanapun dialah yg tahu seluk beluk kasus ini.

"Seperti yg kukatakan sebelumnya. Orang bodoh hanya sedikit berbeda dengan orang jenius. Jika dia membuangnya disini maka koper itu hanya akan dianggap sebagai koper rusak. Ketemu!" Kata Kaneki dengan girang setelah menemukan koper yg dia tebak adalah milik korban.

Setelah mengangkat koper dan keluar dari tempat sampah mereka berdua duduk sejenak di trotoar.

"Jadi, kau akan apakan koper itu?" Tanya Miku memulai percakapan.

"Akan ku selidiki dan besok malam akan kubawa hasilnya ke Iruka-san. Kau ikut?" Tanya Kaneki.

"Menyelidiki? Sendiri? Aku ikut." Balas Miku cepat setelah tahu bahwa detektif di depannya ini ingin menyelidiki kasus mereka sendirian.

"Terserahmu saja. Alamatku ada di Jl. ***** No 6 Kota Kuoh. Akan kutunggu jam 7, dan kita akan melaporkan hasilnya ke Iruka-san jam Setengah Sembilan."

"Satu setengah jam? Apa itu cukup?"

"Entahlah, hanya saja besok aku mendapat firasat yg cukup buruk." Balas Kaneki. Firasat? Apa dia masih percaya hal itu meski nyatanya bukan termasuk ilmiah? Ya, dia masih percaya pada firasat karena itu tandanya dia masih memiliki hati nurani.

09.30 PM Apartemen Naruto

"Baiklah, sekarang apa isi koper ini." Kata Naruto yg kini telah melepas topeng dan wignya.

"Ponsel... ponsel... dimana ponselnya? Laptopnya juga tidak ada, perampok? Bukan ini jelas-jelas pembunuhan tapi dimana ponselnya?" Kata Naruto berbicara pada dirinya sendiri.

"Kemungkinan pertama adalah ponselnya masih ada di tempat sampah, kemungkinan kedua ponselnya terjatuh yg ketiga dan terakhir ponselnya berada di tangan pelaku. Make up dan Power Bank, tidak ada modem? Itu artinya dia tidak punya laptop." Setelah membuka koper itu dan memeriksa isi di dalamnya maka Naruto menemukan fakta bahwa korban kali ini tidak mempunyai laptop melainkan Smartphone.

"Lebih baik kupikirkan besok saja. Lagipula aku belum melihat blog dan memeriksa apakah teka-teki itu sudah ada yg berhasil menjawabnya." Kata Naruto sembari mengeluarkan laptopnya dan menyambungkannya dengan Broadban yg dipasang Minato di apartemennya lalu segera mengecek blognya.

"Semua jawaban ngawur, tidak ada teorinya. Hoo... ternyata kau juga menjawabnya ya, Black Lotus?"

Komentar Black Lotus

Jawabannya adalah penjara. 5 langkah ke depan/belakang menunjukkan bahwa tempat itu sempit. Tidak akan berubah meski sudah dilakukan 1000 kali artinya di tempat itu kau tidak akan bisa merubah apa-apa. Hanya waktu yg bisa menentukan apakah kau bisa berjalan lebih dari 5 langkah atau tidak artinya di tempat itu hanya waktu yg bisa menentukan apakah kita bisa keluar darisana atau tidak. Dan tempat yg dimaksud adalah 'PENJARA'

"Kurasa hanya jawaban ini yg benar. Baiklah waktunya tidur." Kata Naruto sembari mematikan dan menutup laptopnya, cuci tangan/muka/kaki, buka baju dan ganti celana lalu tidur.

3 April 2071

02.00 AM Apartemen Naruto

Seperti biasa di jam segini Naruto sudah bangun dari tidurnya dan melanjutkan plot untuk LN jilid terakhirnya sebagai penutup seri LN "Guilty Crown" yg dikarangnya sendiri.

Guilty Crown, sebuah Light Novel yg saat ini bisa dikatakan naik daun baik di jepang maupun di luar negri. Sebenarnya itu hanya novel ringan yg bercerita tentang seorang pemuda bernama Haru yg sejak kecil bersama sang paman harus mengembara untuk mengakhiri konflik di bumi ini dengan kekuatan Blaze mereka.

Menurut para fans, judul LN ini diambil karena kisah dari Haru yg harus menanggung dosa atas apa yg dilakukannya dan sang guru untuk mengakhiri konflik di bumi yaitu Membunuh.

LN ini juga sudah diadaptasi menjadi Anime oleh rumah produksi TOEI menjadi sepanjang 3 season yg masing-masing season sepanjang 2 Cours (1 cours = 12 episode), 6 OVA dan 3 Film layar lebar. Dan jika ditanya siapakah penulis Novel itu para fans hanya menjawab Menma. (Berhenti woy! :3 itu bahan buat arc depan)

"Deadline nya masih panjang dan aku sudah 70% jadi. Apa aku harus menurunkan kecepatan? Tidak mungkin, kurasa aku akan menulis novel baru." Kata Naruto yg kini sedang menatap laptopnya dengan wajah yg bisa diartikan bosan.

"Persetan dengan novel yg hampir jadi. Lebih baik aku memulai pemanasan sedikit lebih pagi hari ini. Lagipula otakku juga jenuh." Ucapnya sembari keluar menuju teras untuk melakukan push up.

06.45 (Koridor sekolah)

Naruto yg awalnya sedang berjalan dengan santai di koridor mengingat dia telah berlari sejauh 1 km dari tempatnya memarkirkan motor kini mendadak menghentikan langkahnya karena melihat para siswa sedang berkerumun di toilet dan dia juga mendengar teriakan ketakutan dari beberapa siswa perempuan.

"KYAAAA...! PANGGIL SENSEI SEKARANG!" Teriak seorang siswi histeris melihat apa yg ada di toilet.

'Orang-orang berkumpul artinya ada yg menarik perhatian dan tidak biasa terjadi, siswi menjerit histeris karena takut. Biasanya perempuan takut dengan darah dan jika kusambungkan dengan opini pertama hasilnya adalah pembunuhan di toilet sekolah.' Pikir Naruto melakukan analisa apa penyebab para siswa dan siswi berkumpul meski dengan data yg sangat sedikit. Tapi, karena dia juga penasaran akhirnya dia memutuskan untuk melihat juga.

Dan saat dia telah tiba di tempat dimana dia bisa melihat seonggok mayat yg sedang duduk di WC dengan pintu yg terbuka dan sebilah pisau yg menancap di jantungnya. Melihat pemandangan itu membuat Naruto dengan segenap kemampuannya mencoba mengamati sesuatu di sekitar area pembunuhan agar dia bisa segera menuntaskan kasus yg paling dibencinya ini. Pembunuhan karena dendam.

1. Pisau yg masih tertancap di jantung korban masih mengalirkan sedikit darah.

2. Lubang Kunci terlihat baik-baik saja tapi Naruto yakin bahwa lubang kunci itu telah di sabotase sedemikian rupa karena dia melihat sebuah baut yg belum tertancap dengan sempurna.

3. Sebuah kode yg dia lihat dengan samar-samar di belakang tubuh korban yaitu 730N yg ditulis korban sebelum mati.

"Etto... Miyazono-san, siapa nama korban itu?" Tanya Naruto kepada seorang perempuan di samping kirinya berambut biru yg juga merupakan teman sekelasnya.

"Tobiichi Byakuya, kelas 2 A." Jawab Miyazono Sayaka singkat. Terdengar jelas bahwa dia juga sedang shock.

"Oh... souka. Pembunuhan berencana yg didasari kecemburuan, sangat sulit membuat pelaku mengakui perbuatannya." Kata Naruto lirih tapi sayangnya ucapannya tadi didengar oleh seorang siswi yg baru saja sampai di sebelah kanannya.

"Apa maksudmu dengan kecemburuan sebagai dasar pembunuhan ini, Namikaze-kun?"

"Menusuk di jantung korban, itu bukan hanya untuk membunuh korban tetapi juga sebagai isyarat untuk balas dendam Sitri-san."

Mendengar bahwa pemuda di depannya tahu sesuatu yg mengusik rasa ingin tahunya membuat Sona langsung saja menarik tangan pemuda itu dan menyeretnya ke... ATAP. Tempat mereka bisa berbicara tentang hal-hal absurd bagi anak sekolahan seperti kasus pembunuhan tanpa ada yg mengganggu.

ATAP SEKOLAH

"Jadi, kenapa aku diseret kesini?" Naruto yg baru berhenti diseret paksa oleh Sona untuk menuju ke atap tanpa basa-basi langsung menanyakan apa yg ada di dalam pikirannya.

"Hah... hah... jelaskan padaku kenapa kau menganggap pembunuhan Byakuya-senpai didasari oleh rasa cemburu dan dendam, juga kaitannya dengan pisau yg menusuk jantung." Kata Sona dengan deru nafas yg melebihi kata normal.

"Kau tidak tahu?"

"Tentu saja. Kalau aku tahu, aku tidak akan bertanya padamu."

"Pertama pikirkanlah bentuk jantung, jika jantung ditusuk maka kemungkinan akan pecah atau bahkan hancur. Cobalah berpikir dengan petunjuk tadi lalu jika sudah maka sambungkan antara keduanya."

'Bentuk jantung... bentuk... bentuk... kalau tidak salah bentuk jantung itu menyerupai bentuk hati di dalam kartu. Ditusuk, hancur dirusak itu artinya adalah menghancurkan hati seseorang dan orang itu adalah Byakuya-senpai.' Setelah bergelut beberapa menit dengan pikirannya akhirnya Sona tahu apa yg dimaksud oleh Naruto.

"Kau sudah paham?" Tanya Naruto memastikan.

"Tentu saja, kau pikir aku siapa."

"Kalau begitu aku akan pergi ke kelas. Kau juga segera pergi ke kelas jika tidak ingin terlambat." Dengan itu Naruto pergi meninggalkan atap sekolah dan Sona yg masih mengatur nafasnya.

SKIP TIME (istirahat)

Saat ini Naruto sedang berjalan santai menuju ke arah kantin untuk menemui seseorang.

Seseorang yg mungkin bisa dia ajak untuk memecahkan kasus pembunuhan Byakuya.

"Boleh aku duduk disini Hoshizuka-san?" Tanya Naruto kepada siswa perempuan yg sedang duduk ditengah-tengah Maki dan Sona.

~.~.~.~

Chap 5: END! _

A/N: word lebih panjang? Jangan ngarep lu -_- LEMON? Kemungkinan muncul lemon adalah 1:300 jadi jangan terlalu ngarep. Soalnya author juga kalo nyoba ngetik lemon malah kebawa suasana.

Next Chap: My World: Case (Two Childhoods and the Case part 2)

Nano, Log Out