Chapter 6
Nano, Log In
"Maji de Watashi ni Koi Shinasai!/Love Me, Seriously!"
Warning:
Mungkin akan sangat OOC, EYD salah kaprah dan banyak typo dan cepat atau lambat bakal ada SongFic.
Disclaimer:
Naruto: Masashi Kishimoto
Highschool DxD: Ichie Ishibumi
Love Live School Idol Project: KLab (Reader: itu produser gamenya goblok *Yaoming face* Auth: biarin cuk daripada ada yg ngepermasalahin, orang di fandomnya aja gak ada yg make disclaimer *yaoming face*
ALERT: Hohoho... sebenarnya ngeliat review orang tentang shiritori yg mengecewakan maupun yg salah itu mengurangi health point diri saya,tapi tak apalah namanya juga review. Ok! Kali ini bakal saya beri alasan kenapa shiritori nya seperti itu:
1. Genre ff ini adalah Parody sedangkan game Perwujudan Shiritori saya parody kan dari anime NGNL.
2. Cara Naruto menang yg sulit kalau saya membuat perwujudan Shiritori sama seperti yg sebenarnya makanya saya meniadakan salah satu aturan dalam perwujudan sambung kata ini.
~.~.~.~
Chapter 6: My World: Case (Two Childhoods and the Case part 2)
Opening Song: May'n - Brain Diver
"Boleh aku duduk disini, Hoshizuka-san?" Tanya Naruto pada siswi yg diketahui bermarga Hoshizuka di depannya.
"Tentu saja, Namikaze-san." Balas Karin mempersilahkan.
"Apa yg ingin kau bicarakan denganku Namikaze-san?"
"Kau terlalu percaya diri Maki, belum tentu dia ingin berbicara denganmu."
"Yah... mungkin saja dia ingin berbicara soal tugas Kurenai-sensei, Sona. Siapa tahu?"
"Etto... Sitri-san, maukah kau ikut denganku ke ruang kepala sekolah?" Karena tak ingin mengganggu mereka lebih lama Naruto langsung ke inti masalahnya.
"Ruang kepala sekolah? Kenapa?" Tanya balik Sona dengan kening mengkerut menandakan dia bingung.
"Ini ada kaitannya dengan yg tadi pagi."
Setelah mendengar kata tadi pagi otak Sona langsung paham bahwa masalah ini adalah masalah pembunuhan murid Akademi Kuoh yg bernama Tobiichi Byakuya.
"Kapan kita kesana, Namikaze-kun?" Setelah tahu topik masalahnya saat ini Sona terlihat antusias dilihat dari nada bicaranya.
"Sekarang untuk melaporkan dan nanti setelah pulang sekolah untuk sidang." Jawab Naruto santai.
"Sidang?" Tanya Sona dengan kening mengkerut. Dia benar-benar tidak paham cara berpikir pemuda di depannya ini.
"Ayo kesana sebelum bel masuk." Lalu Naruto berdiri dari duduknya untuk bersiap pergi.
"Karin, ini uangnya tolong bayarkan pada Hitomi-san. Aku buru-buru." Tak ingin ditinggal Naruto akhirnya Sona memutuskan untuk langsung mengikutinya, tentunya setelah meninggalkan uang kepada karin untuk membayar minumannya.
Headmaster Room (biar gaya sekali-kali pake bahasa inggris)
"Permisi!" Ucap Naruto sedikit keras sembari membuka pintu ruang kepala sekolah dan mendapati sang kepala sekolah sedang berbicara dengan seseorang.
"Masuklah Namikaze-kun, Sitri-san." Kata kepala sekolah mempersilahkan masuk.
Tanpa basa-basi kedua siswa dan siswi Kuoh Gakuen tahun pertama itu langsung masuk ke dalam dan tentu saja tak lupa menutup pintu.
"Jadi... saat ini kepolisian tidak bisa menyelesaikan kasus pembunuhan Byakuya Tobiichi hari ini juga, Iruka-san?"
"Kami mohon maaf sebesar-besarnya. Hari ini kami berniat menyelesaikan kasus pembunuhan berantai di kota Kuoh dan Tokyo yg kami khawatirkan akan semakin banyak memakan korban. Semua petugas di kepolisian Kuoh dan Tokyo hari ini sangat sibuk."
"Ano... jika boleh kami berdua akan menyelesaikan kasus ini, kepala sekolah." Kata Naruto menyuarakan sarannya yg tentu saja membuat Sona terkejut.
"Me-memangnya kau bisa Namikaze-kun?" Tanya Sona dengan suara tergagap, tentu saja dia masih kaget dengan usul pemuda di sampinya ini.
"Bukan aku, tapi kita Sitri-san."
"Apa saja yg diperlukan untuk membuktikannya, Namikaze-kun?" Tanya kepala sekolah yg saat ini merasa senang karena ada seorang siswa yg mencoba memecahkan kasus ini agar dia segera bisa mengabari orang tua Byakuya siapa pelaku pembunuhan anaknya.
"Sebuah ruangan yg cukup besar untuk sidang lalu semua teman-teman sekelas Tobiichi Byakuya."
"Kau mengira bahwa pembunuhnya adalah teman sekelasnya?" Tanya Iruka tak percaya pada pemuda culun di depannya ini langsung menyimpulkan bahwa pembunuhnya adalah teman teman sekelas Byakuya.
"Aku tidak mengiranya Iruka-san, itu adalah fakta."
"Lalu kapan kau akan memulai sidang untuk mengungkap pembunuhnya, Namikaze-kun?" Merasa sedikit diacuhkan disini maka membuat Sona berinisiatif bertanya.
"Bukankah sudah kubilang tadi? Setelah pulang sekolah. Kepala sekolah, apa anda bisa mengatur kelas 2B untuk datang ke auditorium setelah pulang sekolah?"
"Tentu saja Namikaze-kun. Aku juga akan menyuruh guru lainnya untuk kesana."
"Sebelum saya dan Sitri-san kembali ke kelas, bolehkah saya meminta nomor handphone anda, kepala sekolah?"
"Tentu saja."
1 Nomor Handphone Kemudian... (scene break macam apa ini!)
"Baiklah karena sebentar lagi bel masuk kami pamit dulu kepala sekolah, Iruka-san." Dengan itu Naruto dan Sona pergi meninggalkan ruangan kepala sekolah dan segera kembali ke kelas mereka.
MEANWHILE SAAT PERJALANAN
"Kau membawanya bukan, Sitri-san?"
"Membawa apa?"
"Membawa topeng dan baju anehmu kemarin." Kata Naruto singkat, padat tapi tidak jelas.
"Kemarin?"
"Baiklah kita akan mengulangnya. Apakah kau membawa baju dan topeng anehmu itu, Miku?"
'Ba-bagaimana dia bisa tahu kalau aku adalah Black Lotus Miku? Pikir Sona.. Pikirkanlah siapa dia.' Saat ini Sona sangat terkejut dan tidak menyangka bahwa identitasnya akan terbongkar oleh teman sekelasnya sendiri yg bahkan baru di kenal.
"Jangan-jangan... kau adalah..." Perkataan Sona harus terputus karena diinterupsi oleh suara Naruto.
"Ya, aku adalah Kaneki."
Sekarang suasana menjadi sangat canggung karena perbuatan Naruto yg tiba-tiba saja membongkar identitas Sona sebagai Miku.
"Apa rencanamu yg sebenarnya, Namikaze?" Tanya Sona dengan nada berbahaya.
"Kita akan membongkar kasus ini bukan sebagai murid Kuoh Gakuen, tapi sebagai Kaneki dan Miku. Dengan begitu kita tidak akan menarik banyak perhatian." Jelas Naruto singkat.
"Itulah sebabnya kau meminta nomor kepala sekolah?" Tanya Sona memastikan.
"Tentu saja, Game baru saja dimulai." Jawab Naruto dengan menampilkan seringai rubahnya.
SKIP TIME (Pulang Sekolah di Auditorium)
Saat ini suasana Auditorium sangat ramai karena di dalamnya terdapat semua guru yg mengajar di Kuoh Gakuen, kepala kepolisian kota Kuoh A.K.A Umino Iruka, Ketua OSIS yg bernama Sarashiki Tatenashi (Dari anime Infinite Stratos 2) dan semua siswa kelas 2B.
"Maa... maa... kapan ini akan dimulai kepala sekolah? Aku sudah bosan menunggu disini." Kata seorang pria paruh baya yg memiliki warna rambut yg bisa dibilang aneh, rambut itu berwarna coklat tapi bagian poni nya berwarna pirang.
"Bersabarlah sedikit lagi Azazel." Kata kepala sekolah mencoba menenangkan Azazel yg sekaligus menjabat sebagai wakil kepala sekolah Kuoh Gakuen.
Tiba-tiba Handphone kepala sekolah mengeluarkan bunyi tanda ada SMS masuk. Tapi sms itu sangat aneh dan dari nomor yg tidak dilenal, isinya adalah:
No: ************
Subjek: penting.
Isi: panggil kami berdua Miku dan Kaneki.
'Apa maksudnya panggil kami berdua Miku dan Kaneki? Jangan-jangan...'
Dan tak lebih dari 20 detik pertanyaan yg berkecamuk di otak kepala sekolah terjawab sudah, karena saat ini pintu ruang Auditorium telah dibuka oleh sepasang remaja asing yg memakai topeng. Yg tinggi mempunyai rambut putih dan memakai topeng yg tidak menutupi seluruh wajahnya tapi bergambar mulut yg sedang menyeringai sehingga terlihat menyeramkan. Dan remaja yg satunya memakai topeng yg menutupi seluruh wajahnya dan bermotif perban dan memakai jaket merah maroon berhoodie sehingga menutupi rambutnya.
"Maafkan kami Lucius-san, kami datang sedikit terlambat karena kami berdua tersesat di jalan kehidupan." Kata Seorang remaja berambut putih.
Mengacuhkan tatapan heran dari orang-orang di sekitarnya, kepala sekolah langsung saja menjawab mereka.
"Tidak apa-apa Kaneki-san, Miku-san."
"Kaneki? Miku? Kenapa kalian ada disini? Bukannya kalian harusnya membantu kepolisian mengungkap kasus pembunuhan berantai di kota?" Tanya Iruka kepada mereka berdua.
Iruka bukanlah orang bodoh. Saat pertamakali mereka berjumpa di ruang kepala sekolah, Iruka ingat bahwa nama mereka adalah Namikaze dan Sitri sedangkan yg datang kesini adalah Kaneki dan Miku. Itu artinya Namikaze dan Sitri yg ditemuinya tadi merupakan orang yg seringkali membantu kepolisian kota Kuoh. Penjelasan yg logis bukan?
"Ah... aku berniat melaporkannya nanti malam. Tidak apa-apa kan?"
"Kalau kau masih perlu waktu ya silahkan."
"Bisakah kita mulai acara tebak-tebakan ini?" Kali ini yg berbicara adalah Miku yg sedari tadi diam disamping Kaneki.
"Itu benar! Ayo kita segera bongkar kasus membosankan ini." Kata Kaneki menyetujui pendapat Miku.
Penyelesaian Kasus Byakusa Tobiichi
Status:
Tersangka: 29 orang
Terbebas dari sangkaan: 0
"Baiklah... kita mulai dari barang buktinya. Sebuah pisau yg menancap di jantung korban. Itu artinya apa Miku-chan?" Kata Kaneki mengawali pembahasan kasus ini.
"Apa maksudmu 'apa artinya' hah?" Tanya seorang siswa 2B yg berbadan gemuk.
"Pisau itu tidak hanya untuk membunuh korban, tapi si pelaku secara tidak langsung telah memberikan petunjuk kepada kita lewat pisau itu." Kali ini yg menjawab bukanlah Kaneki melainkan Miku.
"Pisau yg menancap di jantung itu bisa menghancurkan jantung, sekarang pikirkanlah... mirip seperti apakah bentuk jantung itu?" Lanjutnya.
"Ya, itu benar. Bentuk jantung mirip dengan kartu hati dalam kartu bridge. Itu artinya pembunuhan ini didasari oleh rasa dendam, benci maupun cemburu pelaku kepada korban dalam hal percintaan." Kata Kaneki memberitahukan kesimpulan pertamanya.
"Kenapa kau bisa yakin dengan hal itu?" Protes salah satu siswa dengan tampang bosan.
"Perbuatan hasil emosi manusia terutama remaja secara tidak langsung didasari oleh hal yg membuat mereka emosi. Misalnya saat kau sakit hati karena seseorang dan kau berniat membunuh orang itu maka secara sadar atau tidak sadar maka kau akan menyasar hal yg membuatmu ingin membunuhnya yaitu hati. Jantung sering di identikkan dengan hati karena bentuknya hampir sama."
"Para siswi silahkan minggir. Pembunuhnya adalah laki-laki." Lanjutnya.
Dengan senang hati para siswi kelas 2B pun langsung menyingkir dari tengah-tengah bulatan yg dibentuk oleh kursi dan meja sebagai tempat duduk guru karena itu artinya mereka tidak bersalah.
Status:
Tersaangka: 14
Terbebas dari sangkaan: 15
"Baiklah sekarang adalah bagaimana pelaku bisa masuk ke toilet?"
"Apa maksudmu, Kaneki-kun? Bukankah pasti dia menyerang Byakuya saat dia keluar." Tanya kepala sekolah tak mengerti.
"Di bagian lubang kunci aku melihat keanehan. Salah satu bautnya belum terpasang dengan sempurna itu artinya pelakunya mempunyai obeng."
"Lalu apakah kita harus mencari siapa saja yg membawa obeng di sekolah ini, Kaneki-kun?" Kali ini Miku yg bertanya.
"Tidak perlu. Sekarang aku punya 1 permintaan. Bawakan aku tas Byakuya Tobiichi."
"Akan kubawakan!" Teriak seorang murid yg mempunyai tindik di telinganya dan berambut orange kemerah-merahan langsung berlari kembali ke kelasnya untuk mengambil tas Byakuya.
Setelah murid yg diketahui bernama Daimon Leon itu telah meninggalkan auditorium Kaneki melanjutkan ucapannya yg akan membuat semua orang disana terkejut.
"Dialah pembunuh Tobiichi Byakuya." Kata Kaneki dengan tenang. "A-apa kau bisa membuktikannya, Kaneki-kun/-san?" Kata Sona dan kepala sekolah bersamaan.
"Itu mudah saja, Byakuya Tobiichi mempunyai kebiasaan yg sedikit aneh yaitu dia tidak pernah sarapan dan lebih memilih membawa bekal ekstra yg akan dimakannya sebelum kelas dimulai. Tapi kenapa dia ke Toilet? Karena bagaimanapun dan dimanapun seorang pelajar akan mendeskripsikan Toilet sekolah dengan kata menjijikkan sehingga jarang yg memakainya. Jika kalian bertanya darimana aku bisa tahu kebiasaan Byakuya-san itu karena aku bertanya pada beberapa murid sebelum aku kesini."
"Itu artinya bekal yg dibawanya telah dicampur oleh obat pencuci perut sehingga dia terpaksa ke Toilet lalu saat dia telah selesai dan akan keluar dari WC tiba-tiba sang pembunuh masuk dengan cara membobol pintu dan membunuhnya." Lanjutnya.
"Tapi itu tidak membuktikan kenapa Leon-kun yg membunuhnya." Kata seorang siswa lain membela leon.
"Dia tahu apa yg aku lakukan. Saat ini aku sedang bertaruh dengan mataku bahwa sekarang dia sedang membuang bekal yg dibawa oleh Byakuya-san dan juga merapikan pintu toilet untuk membuktikan bahwa aku salah."
Tak lama setelah acara debat mereka selesai,datanglah Leon dengan membawa tas Byakuya Tobiichi.
"Ini Kaneki-san."
"Letakkan di depanku, aku akan memeriksanya."
Setelah berkata seperti itu Kaneki langsung menggeledah tas Byakuya dan benar saja, kini bekalnya tidak ada.
"Sebenarnya aku punya satu alasan lain mengenai keterlambatanku. Aku menghack seluruh CCTV di sekolah ini." Kata Kaneki dengan tenang tak memperdulikan keterkejutan dari beberapa guru dan murid disana terutama Leon.
"Baiklah, aku pernah mendengar sebuah cerita legenda dari negara Indonesia yg mengatakan bahwa arwah orang yg mati dibunuh itu tidak langsung pergi ke alam lain tapi menetap di alam manusia. Bagaimana kalau kita membuktikan legenda itu saat ini juga." Kata Kaneki sembari mengeluarkan laptopnya dan membuka saluran CCTV yg dia hack lalu memutar adegan yg terjadi beberapa menit yg lalu.
Dan hasilnya? Disana terlihat seorang siswa berambut orange kemerah-merahan sedang mengencangkan baut yg ada di sekitar lubang kunci salah satu pintu di toilet.
"Dengan segala bukti yg kupunya, Daimon Leon. Kau adalah pembunuh Byakuya Tobiichi."
"I-itu tidak mungkin! Aho! Aho! Aho! Aho! Aho! Aho! Aho! (Terserah mau diulang sampe berapa kali tergantung selera masing-masing) Kalau aku adalah pembunuhnya kenapa aku mau kesini untuk menghadiri sidang ini bukannya lari dan kenapa aku mau mengambilkan tas Byakuya!"
"Itu karena...
"Aho! Aho! Aho! Aho! Aho! Aho! Aho! Aho! Aho! Kepalamu pasti terbentur sesuatu sampai kau tidak bisa berpikir dengan jernih, Kaneki-san." Belum sempat Kaneki memberikan alasannya perkataannya dipotong oleh Leon.
"Bisa kau diam sebentar...
"Aho! Aho! Aho! Aho! Aho! Aho! Aho! Aho! Aho! Aho! Detektif yg tidak kompeten sepertimu seharusnya diberhentikan saja dari kepolisian!"
Kesabaran Kaneki kini telah habis. Dia telah marah dan itu bukanlah hal yg menyenangkan jika kau minta pendapat author. Tanpa membuang waktu Kaneki langsung menghampiri tempat Leon yg kini sedang berdiri juga dan saat mereka berdua sudah berhadapan.
Dug!
Tanpa basa-basi pula Kaneki langsung menghantamkan lututnya ke perut Leon untuk membuatnya diam.
"Aku bisa membuktikan kau adalah pembunuhnya bahkan tanpa video CCTV tadi. Kode yg ada di belakang mayat Byakuya adalah 730N. Jika kita balik maka 7 akan menjadi L, 3 akan jadi E, 0 akan jadi O dan itu adalah namamu bukan Daimon LEON." Kata Kaneki dengan nada yg dingin. Tatapan matanya kini menatap Leon yg masih berlutut kesakitan di depannya dengan pandangan yg sangat rendah, seperti seorang raja dengan budak.
"Iruka-san! Bisa kau urus berandalan yg satu ini, aku akan langsung pergi ke apartemenku dan memecahkan kasusnya?"
"Tentu saja, Kaneki-kun."
"Tetap sesuai jadwal, Miku?"
"Tentu saja, aku akan kesana sesuai jadwal dan jangan macam-macam denganku." Kata Miku dengan nada yg tak kalah berbahaya dari nada Kaneki tadi.
"Memangnya bisa kugunakan untuk apa B cup-san?" Balas Kaneki dengan seringai rubah yg tertutupi oleh topengnya.
"A-apa kau bilang?"
"B cup-san."
"Kaneeki!"
Kali ini Miku benar-benar marah karena harga dirinya sebagai seorang wanita telah dilecehkan oleh pemuda di depannya ini. Sayangnya apa yg dikatakan pemuda itu benar apa adanya, tapi bukan berarti harus dikatakan di tempat umum dan secara frontal bukan?
"Kaneki-san, Miku-san! Bisakah kalian pergi ke ruanganku sebentar?" Sayangnya sebelum Miku berhasil membalas Kaneki sebuah suara menginterupsi mereka.
"Baik!" Balas Kaneki dan Miku bersamaan.
02.30 PM Ruang Kepala Sekolah
"Langsung saja Naruto-kun, Sona-san. Apa orangtua kalian tahu tentang kalian yg sebenarnya?" Kata kepala sekolah mengintrogasi dua sejoli yg tak dia duga adalah detektif misterius yg membantu kepolisian kota Kuoh selama ini.
"Tentu saja Otou-sama tahu tentang hal ini, tapi dia membiarkanku melakukannya karena dulu dia juga seperti itu."
"Apa ibumu tahu Sona-san?"
"Tidak, Otou-sama dan aku merahasiakan ini dari Okaa-sama. Sebagai gantinya saat aku melakukan penyelidikan, aku diawasi dari jauh oleh seorang bodyguard." Kata Sona sembari melepas hoodie jaket dan topengnya membuat wajah dan rambut hitamnya terekspos.
"Bagaimana denganmu, Namikaze-kun?"
"Ibu dan ayahku tahu." Balas Naruto yg kini telah melepas topeng dan wig nya.
"Mereka tidak khawatir?"
"Awalnya Okaa-sama sangat menentangku tapi setelah beberapa hari dia setuju. Terima kasih kepada Otou-sama yg selalu mendukungku dan membuat Okaa-sama sekarat setiap malam."
'Hoy! Hoy! Minato! Apa kau mencoba membuat istrimu sendiri menjadi M?' Batin sang kepala sekolah horor.
"Namikaze-kun, entah kenapa aku merasa bahwa perkataanmu tadi tidak jatuh di konteks yg tepat untuk anak seusiamu."
"Kedewasaan itu tidak diukur dari umur, Sitri-san. Terlalu banyak faktor yg mempengaruhinya." Balas Naruto sengit.
"Hanya itu saja yg ingin kutahu. Kalian boleh pulang." Kata kepala sekolah kepada NaruSona.
"Baik!"
04.00 Apartemen Naruto
Saat ini Naruto telah berada di dalam apartemen kesayangannya,duduk santai di sofa sembari tangannya memegang kertas yg berisi not-not dan lirik lagu dan tanpa ragu langsung menyanyikannya sedikit.
Hitomi no oku ni, hisomu kioku ga
oto mo, naku hakudō suru
A new dawn Yomigaeru hateshinai sutōrī
"Album kali ini saja kah? Lagipula lagu utamanya juga berjudul sama. Scarlet Story, Magenta, Leia, Nevereverland, Destiny, Now or Never dan Born to be."
"Dalam 3 jam akan datang anak gadis kesini, apa yg harus kulakukan? menyiapkan cemilan, bersih-bersih, mandi lalu ganti baju kurasa itu sudah cukup." Kata Naruto mengakhiri monolognya. Mungkin jika ada orang lain disini dia sudah dianggap gila karena berbicara sendiri, tetapi sebenarnya yg idiot adalah orang yg mengiranya orang gila. Apa mereka pernah membaca hasil riset beberapa dekade yg lalu tentang otak dan pikiran?
Oke, sebagai informasi saja. Hasil riset itu menyatakan bahwa otak dan cara berpikir seorang jenius tidak jauh berbeda dengan orang gila.
07.00 PM Masih di Apartemen
Tok... tok... tok...
Terdengar suara pintu diketuk tanda ada seseorang diluar yg ingin masuk.
"Masuk saja! Itu tidak kukunci!" Teriak Naruto dari arah dapur.
"Permisi. Namikaze-kun! Dimana kopernya?" Sesaat setelah masuk ke dalam apartemen Naruto tanpa tahu waktu Sona langsung saja to the point.
"Ah... soal itu... aku sudah memecahkannya dan kita akan melaporkannya langsung ke Iruka-san."
"Langsung?"
"Jika itu maumu, Kau tidak makan? Aku membuat sup jagung hari ini."
Mendengar kata sup jagung dan makan membuat Sona langsung berinisiatif menyusul Naruto ke dapur sekalian mengawasi apakah pemuda itu mencampurkan semacam obat perangsang di mangkoknya.
"Aku tidak akan mencampurkan obat kedalam sup ini seperti yg kau pikirkan Sitri-san."
"Bagaimana kau tahu apa yg kupikirkan?" Sona kali ini harus berhati untuk tidak berfikir yg aneh-aneh saat di dekat Naruto kalau benar dia bisa membaca pikiran.
"Cold Reading. Kau hanya perlu penguasaan emosi yg bagus dan percaya pada intuisimu. Tidak perlu trik seperti pesulap-pesulap itu."
"Apa kau bisa menggunakannya setiap saat, Namikaze-kun?"
"Jika aku mau. Urusanku saja sudah terlalu banyak kenapa aku harus tahu urusan orang lain. Itu merepotkan." Naruto kini mengangkat sup jagungnya yg sudah selesai dimasak. Memakan makanan yg hangat di saat seperti ini memanglah waktu yg tepat.
"Kuharap kau tidak berbohong." Sona tetap menatap sup jagung yg kini dimasukkan ke dalam 2 mangkok untuknya dan Naruto karena bagaimanapun dia tidak ingin menyesal karena telah lalai.
08.00 PM
"Jadi sekarang katakan kepadaku bagaimana kau bisa memecahkan kasus ini dengan bukti yg sangat minim." Tuntut Sona yg saat ini telah menghabiskan sup jagungnya yg ketiga sembari tangannya membuka lensa kontak yg dia pakai dan menggantinya dengan yg baru. 3 sup jagung? Sejujurnya dia belum makan sejak tadi siang karena memikirkan bagaimana seorang Naruto mengenalinya meski dia sudah menyamar hingga membongkar kedoknya sebagai Black Lotus Miku dan hasil yg dia peroleh dari proses berpikir panjangnya hanyalah Naruto menebaknya karena dirinya dan Miku mempunyai ukuran payudara yg sama . Tentu saja dia punya buktinya,dia bukanlah orang yg asal menjawab tanpa menggunakan teori dan pembuktian.
"Kasus ini belum terpecahkan sepenuhnya, aku hanya memecahkan beberapa hal yg cukup penting."
"Apa itu?"
"Dimana ponsel korban, pekerjaan pelakunya dan apa yg sebenarnya ditulis korban sebelum mati."
"Jelaskan padaku!"
"Yg mana?"
"Semuanya!" Kata Sona dengan nada menuntut. Siapa suruh juga pemuda itu telah memancing rasa ingin tahunya.
"Ponsel korban ada di tangan pelaku. Pekerjaan pelaku adalah sopir taksi dan yg ditulis korban bukanlah RACHE seperti yg kau bilang tapi RACHEL." Kata Naruto yg kini masih saja menatap koper korban seperti ada yg tertinggal.
"Aku akan menyuci mangkoknya, kalau kau masih penasaran pecahkan sendiri. Petunjuknya telah kutulis di kertas yg kuletakkan dibawah koper ini." Lanjutnya sembari pergi meninggalkan Sona yg buru-buru mengangkat koper berwarna pink itu dan mengambil kertas dibawahnya lalu membacanya.
'SMS nomor ini maka kau akan tahu dimana ponsel korban.' Tanpa menunggu lama Sona telah membuka IOS nya dan mengetikkan pesan singkat lalu dikirimnya menuju nomor yg tertera di kertas itu.
Tanpa menunggu lama pula sebuah balasan menghampiri Smartphone miliknya. 'Dibalas? Ini aneh. Jika orang lain yg menemukannya maka kemungkinan besar tidak akan membalasnya. Tapi itu lain lagi jika yg membawanya adalah pelaku maka dia akan panik dan membalas pesan singkat yg diterima agar mereka yg mengirim pesan menduga korban masih hidup. Jadi ini alasan kenapa ponselnya dibawa pelaku.' Puas dengan kesimpulan pertamanya membuat Sona kembali penasaran dan membaca petunjuk kedua.
'Pekerjaan pelaku bukanlah pekerjaan yg rahasia dsb. Sebaliknya pekerjaannya sangatlah terbuka tetapi menguntungkan untuk menjadi pembunuh. Bisa berkeliaran dimana-mana tanpa ada yg mencurigai. Kata Naruto-kun pekerjaan pelaku adalah sopir taksi. Itu memang benar, mau berapa kalipun sopir taksi melintas yg diperhatikan bukanlah sang sopir melainkan penumpangnya. Belum lagi tidak akan ada yg akan mencurigai sopir taksi karena alasannya terlalu lemah.'
'Yg ketiga. Kata yg hendak ditulis bukanlah RACHE tetapi RACHEL. Rachel? Aku memang pernah mendengar Naruto-kun bilang dia mirip orang inggris dan nama Rachel itu cukup mainstream di inggris. Tunngu apa ini, lihat label yg ada di koper? Bukankah itu hanyalah alamat e-mail? Tunggu sebentar! E-mail? Jadi Rachel itu adalah passwordnya. Ponsel yg ada di pelaku dan sebuah E-mail yg pasti tersinkronisasi dengan fitur GPS, dengan ini kita bisa melacak pelaku.' Sona kini nampak girang sekaligus takjub dengan terpecahnya beberapa hal vital dalam kasus ini dan tentu saja karena kemampuan menyimpulkan Naruto.
"Kau sudah tahu alasannya?" Sebuah suara dari dapur yg mendekat ke arahnya telah menginterupsi pemikiran Sona.
"Ya. Apa kau yg memecahkannya sendiri, Namikaze-kun?"
"Tentu saja, karena aku memiliki banyak waktu luang jadi aku mencobanya dan ternyata berhasil."
"Kalau begitu, ayo segera laporkan kepada Iruka-san!" Kata Sona sembari tangannya menyeret lengan Naruto.
"Hoy! Hoy! kau melupakan topeng kita." Setelah terlepas dari cengkeraman Sona, Naruto langsung memakai topeng anehnya dan wig putih sedangkan Sona kembali memakai topeng muminya.
08.30 PM (Kantor Polisi kota Kuoh)
"jadi, apa kami sudah harus melakukan tindakan?"
"Saat ini bukan waktu yg tepat, Iruka-san. Lawan kalian adalah seorang jenius. Aku yg akan turun tangan sendiri."
"Kalau seperti itu bukannya nanti kau dalam bahaya, Kaneki-kun?"
"Memang benar kalau aku dalam bahaya, tapi percayalah Miku. Bahaya seperti itu belum cukup untuk membunuhku."
Kini suasana ruangan Iruka nampak sedikit panas karena keinginan seorang Kaneki di depannya ini untuk membiarkannya mengurus pembunuh berantai yg telah memakan banyak korban jiwa seorang diri.
"Kapan kau akan melakukan rencanamu?"
"Tanggal 6 malam minggu ini. Sekaligus aku terlalu malas jika harus pergi jauh-jauh hanya untuk naik taksi."
"Apa maksudmu sebenarnya Kaneki-kun?"
"Kau tidak sadar, Miku? Lihatlah catatan pembunuhan maka kau akan sadar bahwa pembunuhan ini seolah dijadwalkan oleh seseorang. Hari senin, selasa dan rabu pembunuhan banyak terjadi di sekitar Saitama lalu hari Kamis dan jumat pembunuhan banyak terjadi di Tokyo. Sedangkan kota Kuoh adalah hari Sabtu dan Minggu." Masih dengan tangan yg memegang laporan pembunuhan berantai itu Naruto mengakhiri penjelasannya.
"Jadi maksudmu ada yg mensponsori pembunuh itu?"
"Ya." Jawab Naruto singkat.
"Jadi intinya adalah kau mengira pembunuh berantai itu adalah sopir taksi yg disponsori oleh suatu organisasi untuk membunuh orang dengan cara meracuninya?"
"Itu benar sekali, Iruka-san."
Meanwhile di tempat lain
"Kau memang hebat bahkan meski kau tidak menyandang gelar apapun Namikaze Minato." Kata seseorang yg memakai topeng porselen bergambar orang yg sedang tersenyum.
"Sampai-sampai anakmu kini dianggap pantas menyandang gelar Einstein. Sayang sekali gelang itu sudah hancur karena kecerobohan pemegang gelar Einstein terdahulu. Bisa dipastikan bahwa pemilik gelar Einstein pada jaman ini tidak sejenius pendahulunya."
"Ini masih permulaan Kaneki tidak, maksudku Naruto Namikaze sang pemegang gelar Einstein. Akan kupastikan seseorang yg merepotkan sepertimu tidak akan hidup terlalu lama." Lanjutnya dengan seringai kejam yg bisa dilihat andai dia melepas topengnya.
Back To Naruto side
"Miku, bisa kita bicara berdua saja?"
"Boleh saja kalau laporan ini sudah selesai."
"Laporan kalian berdua sudah cukup. Kami akan mengawasi setiap sopir taksi yg melintasi kota Saitama, Tokyo dan Kuoh menurut jadwalmu untuk meminimalisir korban."
"Kalau begitu kami berdua akan pergi. Ayo Miku!" Kata Kaneki berpamitan dengan Iruka sekaligus menyeret tangan Miku untuk segera pergi darisana.
"Ah... kami pamit Iruka-san!" Kata Miku terakhir kalinya sebelum dirinya benar-benar keluar dari ruangan Iruka.
"Dasar, Remaja jaman sekarang." Mau tidak mau Iruka hanya menggeleng melihat pemandangan tadi.
09.00 PM (Cafe Ichiraku)
Saat ini Kaneki dan Miku sedang berada di sebuah Cafe yg bernama Ichiraku yg terletak di pinggir jalan protokol kota Kuoh. Karena mereka berdua memakai topeng dan berpenampilan aneh maka tak jarang ada orang lain di jalan yg berfikir bahwa mereka couple yg sedang melakukan cosplay.
"Oh, ternyata itu kau Kaneki-kun! Sudah lama kau tidak kesini. Biar kutebak, kali ini kau membawa kekasihmu kan? Apa kalian berencana melakukan 'itu'?"
"Jangan mengatakan hal yg bodoh, Teuchi-jiisan. Kalau aku melakukannya aku sudah pasti dibunuh Okaa-sama keesokan harinya."
"Baiklah jika aku salah sangka tapi pesanlah apa saja sesukamu dan juga aku akan membawakan lilin kesini." Kata Teuchi sembari dirinya pergi ke dapur untuk mengambil lilin untuk pelanggan spesialnya itu.
"Kau pesan apa, Miku?"
"Pasta dan Black Coffe." Jawab Miku singkat dan sedikit jengkel pada pemuda di depannya ini karena tahu kearah mana pembicaraannya dengan Teuchi.
"Kalau begitu, Teuchi-san! Kami pesan 1 Pasta, 1 Ramen spesial dan 2 Black Coffe."
"Baiklah, segera datang!." Jawab Teuchi dari arah dapur. Apa pelanggan lain tidak terganggu? Tentu saja tidak karena saat ini Cafenya sedang sepi karena kasus pembunuh berantai itu yg menyebabkan orang-orang takut keluar malam untuk sekedar makan atau berkumpul bersama teman di Cafe miliknya.
(Setelah 1 pasta, 1 ramen dan 2 coffe kemudian) *skip time macam apa ini!*
"Langsung saja Kaneki-kun. Apa yg ingin kau bicarakan denganku?" Tanya Miku yg telah selesai memakan pasta dan sekarang akan menyesap coffe miliknya.
"Apa gelar milikmu?"
"Apa maksudmu gelar?"
"Aku punya tebakan bahwa kau adalah Galileo tapi itu masih tebakanku. Makanya aku ingin tahu langsung darimu."
"Kau sudah mengetahuinya, kenapa malah bertanya padaku?"
"Ternyata kau memang pemegang gelar Galileo. Dan temanmu yg bernama Nishikino Maki adalah pemegang gelar Da Vinci bukan?"
"Aku tidak tahu, tapi itu mungkin saja jika mengingat bakatnya di bidang seni."
Semenjak Naruto membahas masalah ini entah kenapa suasana di sekitar mereka menjadi sangat canggung dan menegangkan. Itu karena mereka adalah para anak-anak yg hanya muncul dalam beberapa dekade sekali yg diberkahi kemampuan untuk memaksimalkan kemampuan otak mereka melebihi manusia biasa.
"Masih ingat kalau pembunuh berantai itu disponsori oleh sebuah organisasi?"
"Iya, lalu?"
"Organisasi itu adalah GoG." Kata Naruto kepada Sona dengan volume suara yg kecil mengingat kerahasiaan informasi yg dikatakannya ini.
"K-kau bercanda kan? Dua dekade lalu organisasi itu telah dilenyapkan oleh para pemegang gelar terdahulu sebelum kita." Reaksi yg ditampilkan Sona ini sama seperti apa yg dibayangkan Naruto. Shock, Kaget, Tidak Percaya bercampur menjadi satu.
"Memang benar jika itu masih tebakanku. Kuharap kau bersiap-siap Galileo-chan." Kata Naruto sembari memakai topengnya lagi lalu berdiri dari tempatnya dan berjalan kearah pintu meninggalkan Sona yg masih memikirkan sesuatu tentang dirinya.
"Apa gelarmu, Kaneki?"
"Itu tidak penting. yg penting sekarang cepatlah keluar dan biarkan aku mengantarmu sampai ke depan gerbang rumahmu. Tidak baik membiarkan seorang gadis pulang sendirian malam-malam."
"Tu-tunggu dulu! Bagaimana dengan makanannya?"
"Aku sudah menaruh uangnya disana. Sekarang aku akan mengantarkanmu pulang jadi cepatlah."
Setelah mendengar perkataan Kaneki yg telah meninggalkan uang disana tanpa basa-basi Sona pun langsung memakai topengnya dan berlari menuju keluar cafe.
09.35 PM (Gerbang luar kediaman sitri)
Saat ini Kaneki dan Miku telah sampai di depan gerbang kediaman Sitri yg megah. Melihat bahwa tidak ada penjaga disini Kaneki menyimpulkan bahwa di sekeliling rumah ini terdapat banyak cctv untuk mengamati gerak-gerik mencurigakan seseorang.
"Cukup sampai disini saja, Kaneki-kun. Tadi itu teka-teki yg menarik, ajari aku memasak sup jagung lain kali ya?"
"Baiklah, itu tidak masalah. Kalau begitu Jaa Ne!"
"Hm, Jaa Ne! Kaneki-kun!" Tanpa membuang waktu setelah berpamitan dengan Kaneki, Miku langsung berlari memasuki pintu gerbang yg tidak dikunci yg juga merupakan tanda bahwa ayahnya tahu akan kepergiannya. Tapi semuanya tidak berjalan mulus seperti sebelum-sebelumnya disaat dia pulang, sang ibu yg biasanya sudah tertidur maupun sedang pergi untuk mengunjungi kediaman Rias ataupun Akeno.
Malam ini,Miku/Sona sangat ingin mengumpat dengan suara sekeras-kerasnya sesaat setelah dia membuka pintu rumah. Terlihat disana seorang pria dalam kondisi terikat dan disampingnya ada seorang wanita yg mirip dengan Sona hanya saja dengan warna mata onyx sedang menatap tajam kearahnya. Tatapan dari makhluk terkuat yg mampu membuat Sona tak berdaya sedikitpun.
"Kemana saja kau malam-malam begini, Sona Sitri?" Kata sosok wanita itu mengintimidasi Sona dengan nada menakutkan.
"Dan ceritakan padaku semua rahasiamu sebelum kau menemukan seragammu hangus terbakar beserta namamu yg dicoret dari daftar siswi Kuoh Gakuen."
"Etto... itu akan membutuhkan penjelasan panjang Okaa-sama. Dimulai dari saat aku berumur..."
Dan malam itu di kediama Keluarga Sitri dipenuhi dengan penjelasan panjang lebar Sona atas semua rahasianya sebagai Black Lotus Miku.
4 april, 02.30 AM (Apartemen Naruto)
Naruto's Dream start
Scene 1 (kelas)
"Ne... ne.. Naruto-kun!" Tanya seorang siswi berambut indigo yg duduk disamping Naruto.
"Kenapa Hinata?"
"Kenapa nilaimu selalu lebih tinggi dariku?"
"Entahlah, aku juga tidak tahu."
Scene 2 (kelas)
"Ne.. ne.. Naruto-kun. Bagaimana caranya mengalahkan computer ini?" Masih dengan perempuan yg sama,tapi yg ditanyakannya berbeda.
"Buat gertakan lalu putar balikkan keadaan. Itu adalah strategi mendasar dalam bermain kartu."
Naruto's Dream end
Semua ingatan-ingatan menyenangkan itu seolah berputar kembali di kepala Naruto. Ingatan yg membuat kepribadiannya yg semula sangat tertutup kini mulai bisa membuka diri. Tapi karena suatu kejadian, dirinya pernah menjadi lebih tertutup daripada sebelumnya dan sempat hancur sebelum akhirnya dia sekarat (Masih lama tuh kejadiannya! Stop woy! Jangan spoiler mulu -_-)
Naruto's Dream End
Saat ini sudah waktunya seorang Namikaze Naruto untuk bangun dari tidurnya. Meski kata orang biasa tidur 5 jam sangat tidak memberi kepuasan tapi nampaknya hal itu tidak berlaku padanya. Terlepas dari semua fakta itu Naruto saat ini yg masih memejamkan matanya meski sudah bangun beberapa menit yg lalu merasakan sesuatu yg aneh. Yaitu:
1. Tubuhnya terasa sedikit berat.
2. Harum yg tidak asing baginya.
3. Telapak tangannya kini sedang memegabg sesuatu yg mulus.
"Apa ini? Kulit mulus? Wangi cytrus dan Rambut panjang, lalu dia sekarang memelukku." Saat mengatakan itupun Naruto masih memejamkan matanya dan hanya mengandalkan tangannya yg bebas, pendengaran, peraba dan penciumannya.
Dan saat dia membuka matanya lalu menyibak selimut yg menutupi badan kekarnya, yg dia temukan di samping tubuhnya adalah seorang remaja perempuan yg hanya memakai pakaian dalam berwarna orange untuk tidur dan jangan lupakan kedua tangannya kini masih memeluk Naruto meski sempat turun karena Naruto bangkit dari posisinya semula.
"Bukankah sudah kubilang untuk mengabariku sebelum mau kesini, Naruko? Dan juga ada apa dengan pakaian tidurmu, udara diluar masih dingin loh... Dimana piyama bentuk hewanmu itu?"
"Habisnya kalau aku kesini tanpa menghubungi Onii-chan maka aku bisa menyusup kedalam kamarmu. Untuk piyama dan pakaian tidur, selama aku bisa memeluk Onii-chan saat tidur maka aku tidak memerlukan pakaian seperti itu." Balas sosok itu dengan mata yg juga mulai terbuka sehingga memperlihatkan mata indah berwarna merah ruby sosok yg sedari tadi memeluk Naruto.
"Ohayou, Onii-chan!"
Cup! Sebuah kecupan bersarang di bibir Naruto.
~.~.~.~
Chap 6: END!
A/N: pasti pada nebak chapter depan lemon. Salah! Cuman lime kok. Dan untuk sekedar info aja kalo novel Guilty Crown yg dikarang Naruto di fic ini berbeda dengan anime Guilty Crown. Judulnya terlalu menarik sih (Guilty Crown/Mahkota Pendosa *?*) makanya saya buat jadi salah satu unsur di fic ini,nih perbedaannya yg paling mencolok:
Guilty Crown anime:
·Shu x Inori
Guilty Crown di fic ini:
·Haru x Sora
Perbedaan yg lain adalah di fic ini Haru mempunyai guru bernama Garo yg mengasuhnya sejak kecil dan juga untuk menyelesaikan konflik di bumi Haru terpaksa membunuh jadi menurut saya judul Guilty Crown cocok karena membunuh juga merupakan dosa besar.
Nano, Log Out!
