#Naruto POV

Seseorang pernah berkata bahwa bumi dipenuhi oleh kebencian. Manusia adalah makhluk yang tidak dapat saling memahami.


Disclaimer : Naruto belongs to Masashi Kishimoto

Author : NikStar96

Pairing : NaruHina

Genre : Action, Sci-Fi, Romance

Warning: Typo(s), AU, mungkin sedikit OOC

Chapter 1: Mysterious Hand

Naruto adalah seorang anak SMA yang bersekolah di Konoha Gakuen yang terletak di Tokyo, Jepang. Ia sedang berjalan menuju sekolahnya. Sepanjang perjalanan, ia selalu memasang wajah datar seolah-olah tidak memiliki perasaan. Wajahnya selalu kelihatan tenang dan dingin. Padahal dibalik wajahnya yang terkesan cool itu, tersimpan rasa sakit yang sangat menusuk dadanya. Rasa sakit itu membuatnya selalu sesak napas. Namun ia dapat mengontrol pernapasannya dengan baik dan dapat mengembalikan ketenangan emosinya dengan singkat.

Setelah sampai di sekolah, ia melihat seorang gadis yang memperhatikan dirinya dibalik pohon yang berada di taman sekolah.

"Hinata? Sedang apa dia?" Gumam Naruto.

Hinata yang sadar keberadaannya telah diketahui Naruto memalingkan wajahnya dan berlari bersembunyi dibalik pohon yang lain. Pipinya yang memerah menunjukkan rasa malunya terhadap Naruto.

"Na..Naruto-kun. Dia melihatku. Bagaimana ini? Hatiku belum siap untuk ini. Oh, Kami-sama. Apa yang harus kulakukan?" Gumam Hinata.

"Baiklah. Tidak boleh takut lagi. Aku harus berani." Dengan sisa keberanian yang terkumpul, Hinata mencoba untuk menyapa Naruto. Namun...

"Hinata, kau sedang apa?" Naruto tiba-tiba datang menghampiri Hinata dimana wajah Naruto yang sudah sangat dekat dengan wajah Hinata. Hinata pun menyadari bahwa mata sapphire milik Naruto menatap mata amethyst miliknya.

"Kyaaaaaa..." Hinata berteriak dan karena kaget, ia pun terjatuh di tanah.

"O..Ohayou, Naruto-kun." Sapa Hinata sambil mencoba berdiri.

Naruto yang semula kaget dengan teriakan Hinata mencoba menolong Hinata berdiri dengan tetap memasang ekspresi cool-nya.

"Kau adalah gadis teraneh yang pernah kukenal, Hinata. Kamu tidak apa-apa kan?" Kata Naruto datar.

"Aku tidak apa-apa, Naruto-kun." Jawab Hinata sambil tersenyum.

"Yasudah. Lain kali kau harus berhati-hati dalam menjaga keseimbangan." Kata Naruto kembali dengan nada datar.

"Umm. Iya, Naruto-kun. Arigatou." Jawab Hinata.

"Baiklah. Aku masuk kelas dulu." Kata Naruto sambil langsung meninggalkan Hinata dengan cepat.

Hinata yang melihat sikap Naruto yang dingin membuatnya bersedih. Hinata sudah lama mengenal Naruto sejak mereka bersekolah di SMP yang sama. Ia mengenal Naruto sebagai anak laki-laki kurus berkacamata yang lumayan pintar dalam pelajaran, namun kurang berbakat dalam olahraga. Naruto tidak pernah memasukkan seragamnya ke dalam celana sehingga penampilan Naruto terlihat tidak rapi dan acak-acakan. Naruto juga suka berbuat jahil di sekolah sehingga semua guru mem-blacklist Naruto sebagai anak nakal nomor satu di sekolah.

Walau begitu, Naruto sering menjadi korban kekerasan oleh geng sekolah itu karena Naruto selalu menolong korban Bullying. Hal itu membuat Naruto pernah babak belur oleh mereka karena Naruto tidak memiliki kekuatan untuk menghadapi anggota-anggota geng tersebut sekaligus. Kebaikan hatinya dalam menolong orang lain dan sikap tidak menyerahnya membuat Hinata sangat mengagumi Naruto.

Namun, sejak Naruto kembali bersekolah setelah sekolah libur selama tiga minggu, Hinata dan seluruh warga sekolah melihat ada yang lain dari Naruto.

Penampilan Naruto berubah drastis. Tubuh Naruto menjadi sedikit lebih berotot. Diwajahnya kini terdapat tiga pasang bekas luka gores yang terlihat seperti kumis rubah. Ia sekarang memasukkan seragamnya ke dalam celana sehingga penampilannya menjadi rapi dan lebih maskulin dari biasanya. Naruto kini tidak lagi menggunakan kacamata. Naruto juga telah mengubah gaya rambutnya. Awalnya Naruto memiliki rambut pirang acak-acakan. Namun, sekarang rambut Naruto sudah dipotong pendek sehingga terlihat lebih rapi.

Ciri khas yang melekat pada diri Naruto adalah ia suka mengakhiri kalimat yang dia ucapkan dengan kata 'dattebayo' disaat ia senang ataupun gelisah. Namun, entah kenapa ia tidak pernah lagi mengucapkan kata 'dattebayo' pada akhir kalimatnya sekarang.

Perubahan yang paling membuat Hinata sedih dan menangis adalah tangan kanannya yang sudah tidak ada lagi serta sikap dinginnya. Walaupun begitu, Hinata tidak berani menanyakan penyebab hilangnya tangan kanan Naruto serta perubahan sikapnya.

Hinata sendiri pada awalnya adalah gadis pemalu yang tidak punya teman. Bukan karena sombong, tetapi karena sikap malunya membuat ia menjadi pribadi yang tertutup. Setelah lulus SMP dan menjadi anak SMA, Hinata tumbuh menjadi gadis yang cantik.

Hinata memiliki mata lavender amethyst yang sangat Indah. Rambut indigonya yang panjang begitu indah dan halus. Kecantikannya membuat seorang murid perempuan bernama Shion iri kepadanya sehingga Shion dan kelompoknya selalu mem-bully Hinata. Namun Hinata sudah memiliki teman yang dapat ia percaya dan akan melindunginya dari kelompok Shion, yaitu Ino dan Sakura. Bahkan Naruto terkadang melindungi Hinata walau pada akhirnya Naruto dihajar oleh pacar Shion.

Naruto selalu menolong Hinata saat Hinata diganggu orang lain. Setiap kali Naruto babak belur dihajar oleh orang-orang yang mengganggu Hinata, Hinata kemudian menolong Naruto dengan mengobati lukanya. Karena Naruto selalu menolong Hinata, hubungan mereka kian akrab. Terkadang Hinata selalu mengajak Naruto untuk makan siang bareng baik di kantin maupun di tempat lain. Hinata juga kadang membuat bekal khusus untuk Naruto. Naruto tentu saja selalu menerimanya karena masakan Hinata benar-benar lezat.

Hubungan mereka kian dekat. Kedekatan mereka yang sudah cukup lama menimbulkan perasaan khusus Hinata kepada Naruto. Hinata menyadari bahwa ia mencintai Naruto. Namun Hinata malu untuk mengungkapkan perasaannya kepada Naruto. Sebaliknya, Naruto menganggap Hinata sebagai sahabat yang sangat berharga baginya. Ia akan melakukan apapun untuk menolong dan melindungi Hinata. Kedekatan mereka tentu membuat para penggemar laki-laki Hinata iri dan semakin tidak menyukai Naruto.

Namun, sekarang Naruto berubah. Seperti bukan Naruto yang Hinata kenal. Memang Naruto masih bersikap baik dan perhatian dengan Hinata. Namun entah karena alasan apa, Naruto seolah-olah menjauhi Hinata. Tentu saja hal itu menyakitkan hati Hinata.

Perubahan Naruto yang sangat drastis dan terkesan cool ternyata membuat para siswi SMA tersebut yang semula menghina Naruto kini menjadi penggemarnya. Tentu saja hal itu membuat Hinata sedikit cemburu. Namun ia tidak bisa melakukan apa-apa. Karena Naruto bukanlah miliknya seutuhnya.

-oOoOo-

Hari sudah siang. Naruto bersiap untuk pulang. Namun...

"Bocah." Ucap seseorang dengan suara yang aneh. Naruto yang mendengar itu menoleh ke tasnya dan mengambil sesuatu.

"Ada apa, Kurama?" Jawab Naruto.

"Ada yang sedang memancarkan radiasi." jawab seseorang yang ia sebut sebagai Kurama.

Setelah mendengar itu, seketika tubuh Naruto membeku. Ia mengepalkan tangan kirinya kuat-kuat. Awalnya Naruto merasakan kebencian dan kemarahan yang sangat besar dalam pikirannya. Namun..

"Fufufu. Akhirnya, yang kutunggu-tunggu tiba juga." kata Naruto sambil tertawa dengan senyum yang begitu dingin.

Naruto merasa tubuhnya memanas, darahnya mendidih, dan jantungnya bergejolak. Ekspresinya mengatakan bahwa ia sudah tidak sabar untuk bertemu dengan orang itu.

"Yosh. Ayo bertarung." ujar Naruto sambil memasang sesuatu di tangan kanannya yang putus.

Naruto merasa tubuhnya seperti disengat listrik setelah memasang benda aneh yang berbentuk seperti rubah. Namun, kepala rubah itu berubah bentuk menjadi seperti tangan besi yang lengkap dengan jarinya.

"Baiklah. Dia berada 115 meter dari sini." ucap sesuatu. Ternyata yang selama ini berbicara dengan Naruto adalah tangan kanan palsunya yang ia beri nama Kurama.

Naruto berlari sangat cepat. Kecepatan larinya hampir melebihi 60 kph. Kecepatan yang sangat mustahil dimiliki oleh manusia normal. Ia menuju lokasi yang diberitahu Kurama, yaitu atap sebuah hotel yang berada di dekat sekolah.

*BRAAAKKKK*

Naruto menendang pintu hotel dengan sangat keras sampai hancur. Disana ia melihat seseorang yang berambut merah memakai jubah dan celana jeans hitam.

Naruto melihat orang itu sedang menghajar segerombolan orang yang kelihatan seperti Yakuza. Gerombolan tersebut babak belur dibuatnya.

Sasori melihat Naruto dengan tatapan datar. Ekspresinya kelihatan tenang di situasi seperti ini.

"Sepertinya kau menginginkan sesuatu dariku. Siapa kau? Mengganggu saja." Katanya sambil mencekik salah satu anggota Yakuza itu.

"Kau tidak perlu tahu siapa aku. Karena aku selalu seperti ini jika bertemu dengan orang sepertimu." Ujar Naruto dingin.

"Kau bukan bagian dari kami ya? Baiklah. Walaupun kau tak mau memberi tahu namamu, setidaknya aku akan memberi tahu namaku. Namaku Sasori." Katanya dengan tenang.

"KAUUU..." Naruto yang melihat ekspresi tenang sasori membuatnya seperti diremehkan.

"Kenapa kau kelihatan begitu tenang? Apa kau meremehkan kami?" Tanya Kurama bingung.

"Oooh. Jadi tangan palsumu bisa bicara? Imut sekali. Aku sama sekali tidak meremehkan kalian. Sebaliknya. Aku merasakan radiasi abnormal darimu. Dan itu sangat menarik. Kau seperti ingin membunuhku karena alasan tertentu." Jawab Sasori dingin.

"Kau juga tidak perlu tahu alasanku untuk bertarung denganmu." Kata Naruto.

"Huh. Jadi kalian mau bertarung denganku? Baiklah. Mungkin saja akan lebih menarik dibandingkan dengan Yakuza-Yakuza ini." kata Sasori angkuh sambil melempar anggota Yakuza itu ke dinding.

"Heh. Akan ku hapus tampang sombongmu dengan tanganku." kata Naruto sambil mengepalkan tangan kanan palsunya kearah Sasori.

Naruto sejenak mengamati Sasori. Ia kelihatan sangat muda. Bahkan wajahnya terlihat lebih muda dari Naruto. Wajahnya terlihat seperti seorang anak berumur 14 tahun.

"Fisiknya cukup bagus. Dan dia juga sangat tenang. Jangan gegabah, Naruto." Kata Kurama mengingatkan.

"Aku tahu. Tapi ada sesuatu yang mengganggu pikiranku. Tubuhnya terlihat dewasa. Tetapi wajahnya kelihatan sangat muda. Bahkan lebih muda dariku." ujar Naruto.

"Huh. Kalian selalu berunding sebelum bertarung ya? Apa itu berguna?" kata Sasori sambil berlari ke arah Naruto

*WUUSSHHHH*

Tiba2 saja Sasori sudah ada di depan Naruto. Sasori mengepalkan tangannya bersiap untuk memukul.

"Apa?" gumam Naruto kaget.

*BUUGH*

Naruto yang kaget membuat Kurama bereaksi dan memblok pukulan Sasori. Hampir saja pukulan itu mengenai wajah Naruto.

"Sudah kubilang jangan lengah, bocah!" kata Kurama.

Kurama kemudian menjatuhkan Sasori. Setelah itu, Kurama mengubah bentuknya lagi seperti kepala rubah dan bersiap menggigit Sasori. Namun Sasori menghindari serangan itu. Dia mundur dan menjaga jaraknya dengan Naruto.

"Tangan palsu aneh yang dapat memanjang ya? Huh." Pikir Sasori.

Sasori kembali berlari ke arah Naruto. Naruto juga sudah bersiap akan segala kemungkinan.

Mereka melanjutkan pertarungan. Mereka saling melakukan kontak fisik atau lebih tepatnya adu fisik. Mereka saling menendang, memukul, bertahan, dan menyerang dengan gaya mereka masing-masing. Pertarungan jarak dekat yang sungguh hebat. Gerakan mereka sangat cepat sampai tidak dapat diikuti oleh penglihatan manusia biasa.

Naruto dan Kurama berbagi peran. Kurama memfokuskan dirinya pada pertahanan dan Naruto berperan dalam menyerang.

*BUGGH*

Kurama berhasil memblok pukulan Sasori yang mengarah kepada Naruto sehingga membuat Sasori kehilangan keseimbangan.

"Kesempatan." Gumam Naruto

"HUUOOO!" Naruto berteriak untuk mengeluarkan seluruh tenaga dan kekuatannya pada satu pukulan yang mengarah ke perut Sasori, namun...

*BUGH*

"Apa? Aku berhasil mengenai perutnya. Tetapi kenapa malah tanganku yang terasa sakit?" Gumam Naruto heran.

"Fufufu." Tawa Sasori sambil bersiap melakukan serangan balik. Belum sempat Naruto selesai berpikir, Sasori bersiap memukul perut Naruto.

*BUGH*

Kurama kembali memblok serangan Sasori.

"Bocah, mundurlah!" Seru Kurama.

Naruto menurut dan segera mundur untuk menjaga jarak dengan Sasori.

"Kau tidak apa-apa, bocah?" Tanya Kurama.

"Iya. Tapi pukulanku tidak menimbulkan rasa sakit di perutnya, tetapi malah tangan kiriku yang sedikit terasa sakit. Padahal aku sudah memfokuskan tenagaku pada tangan kiriku." Kata Naruto.

"Pukulannya kuat sekali. Kekuatan tangannya sebanding denganku, Naruto. Seperti besi yang dibenturkan dengan besi. Dengan kata lain, kekuatan fisikmu tidak akan mempan terhadapnya." Kata Kurama.

"Benarkah itu, Kurama? Bagaimana perbandingan kekuatan fisikku dengannya?" Tanya Naruto.

"Sebagai acuanmu, jika kekuatan fisikmu bernilai 30 poin, dia memiliki kekuatan bernilai 57 poin. Pertarungan jarak dekat tidak ada gunanya. Jangan berbuat ceroboh, Naruto." Jawab Kurama.

Naruto yang mendengar itu sedikit kesal. Namun ia kemudian menjaga jaraknya terhadap Sasori. Dia akan melakukan pertarungan jarak jauh. Kurama mengerti dan segera mengubah bentuknya menjadi tangan kembali. Bagian jari telunjuk dan jari tengahnya dibuka seperti membuka tutup termos sehingga terdapat lubang di jari tersebut.

Dengan perlahan, Naruto mengambil sebuah pisau lipat disaku celananya dengan tangan kirinya. Dengan menekan sebuah tombol, ia mengeluarkan mata pisau itu dari ganggangnya. Ia memegang pisau itu di tangan kirinya dengan posisi mata pisau berada dibawah.

Kemudian Naruto mengepalkan ibu jari, jari manis, dan jari kelingking tangan kanan palsunya serta menyisakan jari telunjuk dan jari tengah sehingga berposisi seperti pistol. Setelah itu, Naruto memasukkan amunisi khusus dalam tangan kanan palsunya.

Tangan kiri Naruto memegang pisau, sedangkan tangan kanan sekarang berposisi seperti sebuah pistol yang siap menembak. Gaya bertarung ini cukup efektif karena apabila terjadi serangan mendadak pada titik buta (di belakang atau di punggung), Naruto dapat mengayunkan pisaunya kebelakang dan melakukan serangan balik.

"Ada sesuatu yang membuatku penasaran, Kurama. Apa kau mau mendengarkanku?" Tanya Naruto.

"Sebenarnya, aku juga ingin memastikan sesuatu. Aku tidak melihat dimana AI Gear yang dia gunakan. Jika aku dapat melacak lokasinya, itu semua karena Gearnya. Tapi aku sama sekali tidak melihatnya. Kau juga sebaiknya dengarkan aku." Ucap Kurama.

"Huh. Kalian selalu berbisik-bisik ya? Aku benci menunggu dan membuat orang lain menunggu. Ku serang saja duluan." Kata Sasori sambil maju menuju Naruto.

Naruto yang melihat Sasori berlari kearahnya tidak membuat dirinya kehilangan ketenangan. Naruto membidik Sasori dalam jarak tembaknya.

*DORRRR*

Tembakan itu berhasil mengenai dada kiri Sasori, namun...

"Fufufu. Sayang sekali ya." Kata Sasori.

"Sudah kuduga. Ternyata kau mengenakan Armor ya?" Kata Naruto.

"Naruto, Pertahanannya sangat kuat. Kyuubi Handgun tidak akan cukup untuk menembus armornya. Aku akan melakukan suatu pertaruhan. Kali ini kau harus menggunakan Kyuubi Gatling Gun." Kata Kurama.

"Pertaruhan? Baiklah. Jelaskan padaku!" Seru Naruto.

Setelah itu, Naruto kembali fokus. Ia akan melancarkan serangan balasan. Naruto mengubah posisi jarinya. Kini ia membuka tutup pada tiga jari lainnya, sehingga semua jari tangan kanan Naruto berlubang. Kemudian, ia mengambil amunisi Gatling Gun di tasnya, menggulungnya di badannya, serta memasangkannya pada tangan kanannya.

"Persiapan selesai." Kata Naruto.

Naruto mengarahkan jari-jarinya yang berlubang kepada Sasori pertanda ia akan menyerang.

#Sasori POV

"Posisi tangan dan amunisi itu. Apa dia akan menembakku secara membabi buta? Memang pelindung tubuhku keras. Tetapi jika aku diserang secara bertubi-tubi seperti itu, tentu pelindungku akan rusak dan hancur. Dengan kata lain, jika aku terus menghindar dan menunggu dia kehabisan amunisi. Kemenanganku sudah ditentukan."

#Normal POV

*DORRT DORRT DORRT DORRT DORRT...*

Pergelangan tangan kanan itu ternyata berputar. Dengan Kyuubi Gatling Gun, ruang lingkup dan jangkauan tembakan menjadi luas. Namun Sasori dengan cekatan menghindar dengan mulus.

#Kurama POV

"Tembak. Terus menembak. Kyuubi Gatling Gun memiliki ruang lingkup yang luas. Walaupun dia bisa menghindar. Dia tidak akan sempat membuat serangan balik. Dia akan menunggumu kehabisan amunisi. Disinilah kesempatan kita."

"Dia hanya akan fokus dengan kecepatan tembakanmu karena Kyuubi Gatling Gun menembak dengan sangat cepat sehingga dia tidak akan sempat melihat pergerakan kakimu."

"Setelah kau kelihatan kehabisan amunisi, dia akan memastikan ketersediaan amunisimu dan melancarkan serangan balasan. Jangan pernah berikan dia kesempatan untuk melakukannya."

"Setelah amunisi habis, lakukanlah serangan kejutan. Larilah secepat mungkin kearahnya. Saat itu kau lengah karena belum bersiap-siap. Tapi aku sudah mengukur bahwa walaupun dia lebih kuat secara fisik darimu, kau memiliki kecepatan, kelincahan, dan reflek yang lebih baik darinya. Gunakan kelebihanmu itu."

"Sambil berlari, aku akan secepatnya berubah menjadi Kyuubi Claw. Dengan kekuatanku ditambah dengan kekuatanmu, gunakan itu untuk merobek tubuhnya."

#Normal POV

Naruto mengikuti semua rencana Kurama. Naruto menembak dan terus menembak sambil tetap fokus terhadap gerakan Sasori. Dari reaksi dan gerak mata Sasori, terlihat bahwa dia hanya berfokus pada tembakan Naruto. Dengan kecepatan tembakan seperti itu, mustahil bagi Sasori untuk melancarkan serangan balik. Sasori harus menunggu sampai amunisinya habis untuk melancarkan serangan balik.

"Benar kata Kurama. Dia hanya berfokus pada tembakanku saja. Setelah itu, dia pasti akan menyerangku setelah amunisiku habis." Pikir Naruto.

*DORRT DORRT DORRT..Ssshhh*

Amunisi Naruto habis. Sasori yang sejak tadi terus bergerak untuk menghindari tembakan Naruto berusaha untuk berdiri diam sejenak. Ia memastikan apakah Gatling Gun tersebut telah kehabisan amunisi. Dan ternyata benar. Sasori pun bersiap melakukan serangan balik. Namun...

*WUSSSHHH*

"Apa? Sejak kapan...?" Sasori kaget melihat Naruto yang tiba-tiba berada dihadapannya. Kyuubi Gatling Gun Naruto sudah berubah lagi menjadi tangan kanan, namun kali ini dengan cakar logam yang sangat tajam di jari-jarinya. Memang benar. Secara kecepatan, Naruto lebih unggul dari Sasori.

Sasori berusaha memblok serangan Kyuubi Claw-nya Naruto yang akan mengarah pada jantungnya. Namun, serangan Naruto sangatlah cepat dan kuat sehingga serangan itu berhasil membuat tangan kiri Sasori putus.

"Cih." Gumam Naruto kesal.

Walau sempat kesal karena gagal menyerang dengan sekali serangan, Naruto dapat langsung menenangkan emosinya. Dengan cepat ia mengarahkan serangannya ke jantung Sasori. Namun yang berhasil diserang Naruto hanyalah armor Sasori yang sepertinya retak. Retakan armor Sasori jatuh ke lantai. Setelah serangan itu, Naruto kembali mundur untuk menjaga jarak dengannya.

"Gagal ya." Kata Naruto kesal.

"Walaupun begitu, kau berhasil membuat tangan kirinya putus dan menghancurkan sedikit armor di…Dadanya?"

Suara Kurama yang memelan membuat Naruto bingung.

"Kau bisa melakukan itu ternyata?" Kata Kurama.

"Ada apa, Kurama?" Tanya Naruto Bingung.

"Aku pikir sungguh aneh jika pukulannya setara dengan kekuatanku. Lihat tangan kiri dan dadanya, Naruto."

Naruto melihat Sasori. Betapa terkejutnya dia ketika melihat tangan kirinya yang telah putus tidak berdarah sama sekali.

"Kalian berhasil melukaiku sampai aku kehilangan tangan kiriku. Fufufu. Tangan kiriku sudah rusak dan tidak dapat kugunakan lagi. Dan kau juga telah melukai dadaku. Rasanya tidak nyaman jika terus ditutupi oleh kain seperti ini" Kata Sasori sambil melepaskan jubahnya.

Naruto melihat Sasori yang sudah tidak memakai baju dengan terkejut.

"Jadi begitu. Tidak heran jika aku sama sekali tidak melihat AI Gear di sekitarmu. Daripada bekerja sama dengan AI Gear, kau ternyata bersatu dengannya dan menjadi Cyborg." Kata Kurama menyimpulkan semua yang sudah dilihatnya.

"Jadi ini rahasiamu? Kenapa kau melakukan itu?" Tanya Naruto tetap dengan ekspresi terkejut.

" Aku mengubah diriku menjadi robot untuk meningkatkan kekuatanku serta untuk bertahan hidup dari penyakit kanker yang kuderita." Kata Sasori.

Setengah manusia setengah robot itu mengeluarkan sesuatu dibalik punggungnya yang berbentuk seperti sayap yang tajam. Dia juga mengeluarkan sesuatu seperti tali dibalik perutnya untuk berdiri.

"Rupanya aku harus memperlihatkan ini kepada kalian. Kalian ternyata benar-benar kuat. Fufufu. Akan kuperlihatkan kekuatan tubuh yang tidak dapat membusuk. Ini adalah seniku." Kata Sasori.

TBC


Terima kasih buat teman-teman yang sudah membaca fanfic pertama saya ini. Cerita ini terinspirasi dari Kiseijuu. Mohon maaf apabila ada banyak kesalahan dalam cerita ini.^^