#Naruto POV
Seseorang pernah berkata bahwa bumi dipenuhi oleh kebencian. Manusia adalah makhluk yang tidak dapat saling memahami.
Disclaimer : Naruto belongs to Masashi Kishimoto
Author : NikStar96
Pairing : NaruHina
Genre : Action, Sci-Fi, Romance
Warning: Typo(s), AU, mungkin sedikit OOC
Chapter 2: Destination Blackout
-Di sebuah rumah-
"Hinata, ada apa?" Tanya Ino bingung melihat Hinata yang terlihat tidak bersemangat.
"Oh. Ah. Tidak apa-apa, Ino-chan." Jawab Hinata sambil tersenyum.
"Apa kau memikirkan Naruto?" Tanya Ino menggoda.
"Eeehh? Tidak kok tidak. Aku tidak.. Aku tidak sedang memikirkan Naruto-kun kok." Jawab Hinata terbata-bata.
"Ayolah, Hinata. Kau tidak bisa menyembunyikannya. Lihat tuh. Pipimu merah. Hehe." Kata Ino sambil tertawa kecil.
Hinata hanya terdiam dan menunduk malu.
"Hei, Hinata. Kalau dipikir-pikir, sejak libur sekolah selesai, Naruto semakin hari semakin aneh saja ya."Kata Ino lagi.
"Umm." Hinata mengangguk. Terlihat ekspresi kesedihan setelah mendengar itu.
"Ayolah. Bagaimana kita bisa menyelesaikan tugas kelompok kita jika kamu tidak bersemangat? Kau kan lebih pintar dariku. Ayo bersemangat dong, Hinata." Kata Ino.
"Umm. Gomen, Ino-chan. Ayo kita kerjakan sama-sama." Ucap Hinata sambil tersenyum.
"Baiklah. Aku akan mengambil cemilan yang tersisa didapur. Lagipula tuan rumah harus menjamu temannya yang berkunjung. Tunggu sebentar ya, Hinata." Kata Ino sambil tersenyum.
"Arigatou, Ino-chan. Mungkin dengan sedikit cemilan dapat mengembalikan semangatku." Ucap Hinata sambil tersenyum.
-oOoOo-
-Sementara itu-
"Kau terkena kanker?" Tanya Naruto terkejut.
"Benar. Tetapi sejak aku bersatu dengan AI Gear-ku, penyakit kanker yang kuderita selama ini lenyap." Kata Sasori.
"Apa maksudnya? Kenapa penyakit kankernya tidak lenyap? Bukankah dia telah memperoleh kekuatan dari Radiasi itu?" Tanya Naruto.
"Walau dia memiliki kekuatan radiasi, radiasi itu hanya akan memberi kekuatan untuk memaksimalkan potensi fisik dan mental manusia. Radiasi itu tidak memiliki kemampuan untuk menyembuhkan penyakit walaupun kau menginjeksikan Nanomachine kedalam tubuhmu." Kata Kurama menjelaskan.
"Benar. Walaupun Nanomachine berhasil mengontrol radiasi yang ada dalam tubuhku, Nanomachine tidak dapat menyembuhkan penyakit yang kuderita. Radiasi, Nanomachine, serta AI Gear hanyalah alat manusia untuk berperang. Jika aku bersatu dengannya, aku akan memperoleh kekuatan abadi. Dan inilah hasilnya. Penyakit kanker yang kuderita selama ini hilang dan aku bertambah kuat." Kata Sasori.
Naruto terlihat gemetar. Namun ia dapat dengan segera menenangkan dirinya.
"Aku ingin bertanya satu hal. Kenapa kau menghajar Yakuza-Yakuza itu?" Tanya Naruto
"Aku membunuh Bos mereka saat dia tidur dengan seorang wanita jalang di kamar hotelnya. Aku terlalu fokus dengan Bos mereka sampai aku lupa dengan wanita itu. Wanita itu berhasil kabur dan dia berteriak minta tolong. Saat itulah aksiku ketahuan. Aku kemudian berlari menuju lantai paling atas agar tidak terlalu terjadi keributan didalam hotel. Sehingga aku bisa menghabisi anggota-anggota Yakuza itu dengan tenang." Kata Sasori.
"Bukankah aksimu juga bakal menimbulkan keributan? Besok mungkin aksimu akan termuat di koran. Dan anggota-anggota Yakuza yang lain mungkin akan mencarimu." Kata Naruto.
"Huh. Aku tidak peduli." Kata Sasori dingin.
"Terus apa alasanmu membunuh Bos mereka?" Tanya Naruto.
Sasori seketika menutup matanya seakan ingin mengingat sesuatu. Setelah beberapa saat, dia membuka matanya kembali.
#Sasori POV
"Tiga tahun yang lalu, saat aku masih berumur tujuh tahun, aku mempunyai sebuah keluarga. Yang terdiri dari ayah, ibu, serta diriku sendiri. Ayahku adalah seorang pemilik cafe. Dan ibuku adalah seorang ibu rumah tangga. Ayah dan ibuku masih sangat muda. Ayah sangat tampan dan ibu sangat cantik. Kehidupan kami juga berkecukupan. Aku sangat bahagia bisa hidup bersama dengan kedua orang tuaku. Walaupun aku terkena kanker, aku berusaha untuk tetap bahagia. Aku berjanji untuk membanggakan mereka."
"Suatu hari, aku berkunjung ke cafe ayah. Aku sudah biasa bermain bersama para karyawan disana. Saat itu, ayahku sedang tidak berada di cafe karena ada urusan."
"Beberapa saat kemudian, sekelompok Yakuza datang ke cafe ayah. Mereka terdiri dari lima orang, termasuk bos mereka. Bos mereka terpeleset dan jatuh di lantai cafe kami. Bos mereka marah dan menyuruh seluruh karyawan cafe meminta maaf. Padahal disitu sudah tertulis peringatan bahwa lantai sedang licin."
"Walaupun sudah meminta maaf, Bos mereka tetap merendahkan martabat karyawan cafe ayah. Dengan tidak hormatnya, ia menghajar seluruh karyawan laki-laki dan melecehkan karyawan perempuan. Karena ayahku tidak ada di lokasi, para karyawan harus menurut perkataannya."
"Setelah beberapa lama, ayahku datang. Ayahku yang melihat hal itu marah dan menghajar mereka semua. Ayahku pun mengusir mereka semua. Ayah tidak takut dengan mereka walaupun mereka adalah Yakuza."
"Setelah kejadian itu. Bos mereka dendam dengan ayah. Merekapun menyelinap kerumah kami saat kami semua tertidur."
"Saat aku membuka mataku, aku kaget menyadari bahwa aku berada dikamar ayah dan ibuku. Dengan posisi kedua tangan serta kakiku dan ayah terikat dengan kuat. Mulut kami juga disumbat dengan sapu tangan dan ditutup dengan kain yang diikat dengan kuat."
"Aku menyaksikan pemandangan yang rendah dimana ibuku telanjang bersama dengan bos mereka. Sedangkan anggota mereka berada diluar kamar. Pemandangan yang menjijikkan dan membuatku sakit adalah melihat ibuku diperkosa oleh orang lain di depan mataku dan ayahku."
"Hal itu membuat ayah marah dan meronta-ronta. Namun, setelah beberapa lama, dia menembak ayahku tepat dikepalanya dengan pistol berperedam."
"Hatiku sakit. Aku marah. Namun aku tidak dapat berbuat apa-apa. Setelah ayah dibunuh, hanya akulah yang menyaksikan semua pemandangan yang menjijikkan itu sendirian."
"Setelah menyelesaikan aktivitas hinanya, ia membuat ibu pingsan dan memukul perutku sehingga aku tidak sadarkan diri. Sedangkan mereka membawa mayat ayahku dan membuangnya ke tempat yang sampai sekarang belum kutemukan."
"Setelah kejadian itu. Ibuku menjadi gila. Dia seperti tidak mengenalku. Dia pernah hampir mencelakakan diriku. Sehingga nenekku harus memasung kakinya. Penyakitku juga bertambah parah. Disaat aku kehilangan harapan hidup. Seorang yang menyebut dirinya sebagai Pain membawaku dan memberiku kekuatan. Aku meninggalkan rumah dan mengikutinya. Dengan kekuatan yang diberikannya, aku berhasil membalaskan dendamku."
#Normal POV
Naruto yang mendengar itu seketika membatu. Ia memahami penderitaan Sasori. Setelah mendengar itu, hatinya menjadi sakit. Dadanya terasa sesak. Naruto mulai sesak napas.
"Bocah, tenangkan dirimu!" Seru Kurama.
Naruto berusaha untuk mengembalikan ketenangan dirinya. Namun...
*WUUUSSSHHH*
Sasori tiba-tiba sudah berada di hadapan Naruto.
"Gawat." Pikir Kurama.
Sasori mengepalkan tangan kanannya bersiap untuk memukul Naruto. Namun..
*BRUUKK*
Kurama berhasil memblok serangan Sasori, tetapi serangan Sasori sangat kuat sampai Kurama bisa terlepas dari tangan Naruto. Kurama sang tangan kanan pun terlempar jauh dari arah Naruto. Jarak yang cukup jauh dengan Naruto membuat mesin Kurama padam seketika.
"Uggghh. Sial. Kurama terlepas. Jarakku dengan Kurama cukup jauh sekitar 10 meter. Kurama tidak akan bisa terkoneksi dengan Nanomachine yang ada didalam tubuhku jika jaraknya sejauh itu. Aku harus memancingnya." Pikir Naruto.
Sasori yang melihat Naruto tanpa tangan kanannya mencoba menyerang Naruto kembali. Kecepatan Sasori lebih baik dibandingkan saat awal mereka bertarung. Karena Sasori menggunakan tali yang ada diperutnya untuk bergerak dan bermanuver dengan cepat. Kemudian ia mengarahkan senjata yang ada di punggungnya kearah Naruto.
Naruto berusaha menghindar. Ia berusaha mencapai jaraknya dengan Kurama untuk mengambil Kurama dengan tangan kirinya. Namun, walaupun jarak antara Kurama dengan Naruto sudah hampir sangat dekat, Naruto tidak mampu mengambil Kurama karena serangan Sasori yang sangat cepat.
"HUOOOO!" Sasori berteriak melancarkan serangan bertubi-tubi.
Naruto memang dapat menghindar. Namun ia juga beberapa kali terkena pukulan dan tendangan Sasori. Pakaian sekolah Naruto kini tersobek-sobek karena senjata yang ada di punggung Sasori.
"Hosh. Hosh. Hosh." Naruto terlihat kelelahan. Namun ia tetap bangkit.
Sasori yang melihat sikap Naruto menjadi sedikit gentar.
"Kenapa? Kenapa kau terus berdiri? Kenapa tidak menyerah saja? Apa kau tidak takut mati?" Tanya Sasori.
"Aku tidak akan mati. Sebelum aku mencapai tujuanku, aku tidak akan menyerah. Aku tidak akan mati semudah itu. Aku akan terus berdiri untuk mencapai tujuanku." Kata Naruto.
Naruto kemudian terdiam untuk beberapa saat. Ia menundukkan kepalanya dan memikirkan sesuatu. Setelah itu, ia mengarahkan wajahnya kepada Sasori.
"Aku tidak akan menarik kata-kataku. Itulah jalan hidupku." Kata Naruto kepada Sasori dengan cengiran khasnya.
Sasori yang mendengarkan perkataan Naruto menjadi terheran-heran. Namun ia kembali tertawa.
"Hahahahaha. Kau ini sangat menyebalkan. Matilah." Kata Sasori sambil menyerang Naruto.
"Gerakannya lebih cepat dari sebelumnya. Tapi aku tetap dapat menangkis serangannya." Pikir Naruto.
Sasori hampir saja dekat dengan Naruto. Namun, sebelum Naruto sempat menangkis serangan itu...
*WUUSSSHH*
"Kau pasti berada dibelakangku. Jangan meremehkanku." Kata Naruto
Sasori telah berada di belakang Naruto. Naruto mengayunkan pisau yang ada di tangan kirinya untuk menyerang Sasori yang ada di belakangnya. Namun Sasori dapat menangkis serangan itu. Naruto tidak kehilangan ketenangannya. Dia pun melakukan tendangan berputar dengan kaki kanannya sehingga Sasori terlempar karena serangan itu. Namun...
*GYUUUNNGG*
Sasori yang melayang karena tendangan Naruto tiba-tiba langsung menembakkan tali yang ada di perutnya ke arah Naruto.
"Uggh, celaka." Pikir Naruto kaget karena tidak dapat menghindar.
*KRRTT*
Tali itu berhasil menangkap dan melilit tubuh Naruto. Dengan cepat Naruto ditarik ke arah Sasori.
*Traannk*
Tarikan Sasori yang kuat dan cepat membuat pisau Naruto terjatuh ke lantai.
Setelah jarak Naruto dan Sasori sangat dekat. Sasori memeluk Naruto agar ia tidak dapat melepaskan diri.
"Apa yang mau kau lakukan?" Tanya Naruto ketakutan.
"Aku akan meledakkan diriku. Ayo kita mati bersama." Jawab Sasori dengan tenang.
.
"Sistem penghancuran diri sendiri diaktifkan."
.
Terdengar suara yang aneh dari Sasori. Mata Sasori juga berubah menunjukkan angka.
Naruto yang mengetahui Sasori akan meledakkan dirinya sontak kaget. Namun, seketika tubuh Naruto dan Sasori membatu, atau lebih tepatnya waktu terlihat berhenti berputar. Naruto kebingungan dengan apa yang dialaminya.
#Naruto POV
"Apa ini? Tubuhku kaku. Aku tidak bisa bergerak. Waktu seakan berhenti berjalan. Tetapi aku masih bisa berpikir. Apa yang sebenarnya terjadi?"
.
.
"Sistem ini akan aktif pada hitungan..."
.
.
"Siapa yang berbicara itu? Kenapa dia mengucapkan kata-kata dengan lambat? Apa waktu benar-benar berhenti?"
.
.
.
"10"
"Sepuluh? Kenapa ada seseorang yang mengucapkan angka sepuluh. Suaranya sangat memekakkan telinga." Pikirku ketakutan.
.
.
.
"9"
"Tolong. Suara itu semakin mengerikan. Hentikan. Hentikan suara mengerikan itu!" Aku benar-benar ketakutan saat suara itu semakin besar.
.
.
.
"8"
Aku melihat sekelilingku. Semuanya terasa gelap dan tidak ada cahaya. Kemudian suara mengerikan itu muncul semakin pelan walau aku tetap bisa mendengarnya. Lalu, aku menyadari sesuatu.
"Fufufu. Aku bodoh sekali. Aku baru ingat kalau aku akan mati dengan Sasori. Tapi kenapa hitungan mundurnya begitu lambat?"
.
.
.
"7"
"Oh iya. Aku tidak bisa mengucapkan salam perpisahan. Eh? Aku kan tidak punya siapa-siapa. Untuk apa aku mengucapkan salam perpisahan?"
.
.
.
"6"
Sejenak aku merasakan sesuatu.
"Perasaan apa yang menusuk kulitku ini? Apa tubuhku disapa oleh angin? Sejuk sekali."
*WUUSSSSHH*
Tiba-tiba sebuah cahaya yang menyilaukan disertai dengan angin yang kencang mendatangiku. Aku melihat sesosok wanita yang sangat cantik. Aku terkagum sekaligus terheran dengan itu. Setelah aku melihatnya beberapa saat, aku menyadari sesuatu.
"Hinata?"
Aku terpana melihat sosok Hinata yang sedang berada di depanku. Bola mataku tidak bisa lepas dari keindahan mata amethyst-nya yang sangat menenangkan jiwaku.
.
.
.
"5"
"Aku baru sadar kalau kau begitu cantik dan anggun, Hinata. Benar sekali. Akhir-akhir ini aku selalu menjauhimu. Maafkan aku, Hinata. Aku tidak ingin kau terlibat dalam masalahku. Tetapi kau adalah satu-satunya temanku. Kau adalah sahabatku. Aku menyayangimu, Hinata. Maafkan aku ya, Hinata. Aku tidak bisa memberikan salam perpisahan kepadamu. "
.
.
.
"4"
"Hei, Hinata. Apa kau masih mengingat... Ah sudahlah, aku tidak akan sempat menceritakannya."
.
.
.
"3"
Sesaat kemudian, aku melihat lagi dua sosok yang bersinar. Mereka terlihat seperti orangtuaku. Dan benar. Mereka adalah ayah dan ibu.
"Tou-chan? Kaa-chan? Bagaimana kabar kalian disana? Apa kalian merindukanku? Aku tentu sangat merindukan kalian. Aku ingin menangis. Tapi kenapa? Kenapa aku tidak dapat menangis? Kenapa aku tidak dapat mengeluarkan air mata sedikitpun? Apakah kalian mengetahui penyebabnya?"
"Kalian semua pasti kecewa denganku. Bahkan aku tidak berhasil balas dendam. Maafkan Naruto kalian yang payah ini ya, Tou-chan, Kaa-chan, Hinata?"
.
.
.
"2"
"Tou-chan, Kaa-chan, aku akan bertemu dengan kalian lagi. Hinata, sekali lagi aku minta maaf karena tidak sempat mengucapkan salam perpisahan. Tetapi Hinata, terima kasih untuk semua perhatian yang kau berikan kepadaku."
Dan setelah aku mengatakan semua itu, ketiga sosok itu menghilang dari hadapanku.
.
.
"1"
"Selamat tinggal, Hinata."
.
.
.
.
.
Sejenak, waktu benar-benar berhenti berputar. Tubuhku tidak dapat bergerak. Kulitku tidak dapat merasakan apa-apa. Pikiranku kosong. Tetapi aku masih dapat menggerakkan kedua bola mataku.
Aku berusaha melihat sekelilingku. Semuanya serba putih. Aku melihat kebawah. Seperti aku tidak menginjak lantai.
" ...o?"
Aku mendengar seseorang memanggil namaku. Suaranya terdengar samar-samar. Begitu pelan sehingga terdengar seperti bisikan.
" ..ruto?"
Aku mendengar suara itu. Namun suara itu semakin kuat. Aku berusaha untuk lebih mendengar suara itu.
Namun, tiba-tiba cahaya menyilaukan menyinari bagian tangan kananku. Aku merasakan sesuatu menempel di tangan kananku.
"Naruto?"
Aku kaget mendengar suara yang sudah mulai jelas kudengar itu. Kuperhatikan tangan kananku yang ternyata merupakan sumber dari suara itu.
Perlahan cahaya yang menyilaukan itu meredup dan aku dengan jelas melihat...
"Kurama?"
Seketika semua area sekitar yang semula putih berubah menjadi normal. Aku kebingungan dengan suasana absurd yang kualami.
#Normal POV
"Hei, Naruto, kau kenapa? Bangun!" Kata Kurama.
"Apa? Apa yang terjadi? Kurama? Bagaimana bisa?" Tanya Naruto yang sudah memperoleh kesadarannya.
"Aku juga ingin menanyakan hal yang sama. Tapi itu nanti saja. Coba perhatikan lawanmu!" Kata Kurama
Naruto melihat Sasori terbaring tak berdaya. Tubuhnya kejang-kejang seperti kesetrum listrik. Naruto hanya bingung dengan apa yang terjadi
"Aku menjinakkan bom yang ada di dalam tubuhnya." Kata Kurama.
"Bagaimana caranya?" Tanya Naruto.
"Saat kau berada dalam jangkauanku dan hampir mengambilku, sistemku dapat langsung aktif dalam jangka waktu yang sedikit. Sehingga mau tidak mau, aku harus melompat untuk menempel di punggung Sasori." Kata Kurama.
"Kenapa dia tidak menyadari keberadaanmu?" Tanya Naruto lagi.
"Sederhana saja. Tubuhnya adalah gabungan dari komponen-komponen AI Gear dengan daging manusia sehingga dia menjadi Cyborg. Karena telah menjadi Cyborg, memori AI Gear tersebut telah terhapus sehingga AI Gear-nya tidak dapat berpikir, berbicara, atau mengatakan dimana keberadaanku kepada Sasori. Disaat aku menempel, aku memindai radiasi serta data yang ada di Nanomachine-nya agar aku dapat memancarkan radiasi yang sama dengan Nanomachine-nya, sehingga Sasori tidak akan menyadari diriku yang menempel padanya. Dengan data yang kuperoleh serta kamuflaseku, aku berhasil menghentikan bom itu." Jelas Kurama.
Naruto mengerti akan penjelasan Kurama. Sambil bergerak untuk mengambil pisaunya yang jatuh, dia mendekati Sasori yang terkapar di lantai.
"Uggghhhh." Sasori terlihat tidak berdaya.
"Kau. Kenapa kau ingin bunuh diri? Kau terlalu muda untuk mati." Tanya Naruto.
"Fuh. Kau tahu, Naruto. Saat aku masih anak-anak, aku bercita-cita menjadi seorang penyanyi. Namun, setelah kejadian itu, aku tidak bisa bernyanyi lagi. Aku tidak dapat menyanyikan lagu yang gembira maupun sedih. Aku menyadari bahwa tujuanku adalah balas dendam. Dan aku bertekad setelah membalaskan dendamku, aku akan kembali kepada ayahku. Aku tidak mempunyai tujuan lagi dan aku tidak memiliki orang yang menyayangiku. Untuk apa aku hidup?" Jawab Sasori santai.
Naruto membatu mendengarnya. Ia memikirkan sesuatu. Jika dia telah berhasil membalaskan dendam, apa yang akan dia lakukan setelah itu?
Namun setelah itu, ia menoleh ke arah Sasori dan berkata...
"Dasar. bukankah kau memang masih anak-anak? Kau salah. Seburuk apapun kejadian yang menimpa keluargamu, ibumu tetap mencintaimu. Aku yakin, dia semakin bersedih disaat kau pergi meninggalkannya. Bahkan disaat-saat terakhir pun, orang tua kita akan mengungkapkan rasa sayangnya kepada kita sebelum ajal menjemput. Itulah yang terjadi padaku." Kata Naruto.
Bola mata Sasori sedikit membulat mendengarkan hal itu.
"Huh. Baiklah. Ngomong-ngomong tolong ambilkan jubahku, Naruto. Ada yang harus kulakukan." Kata Sasori tersenyum.
Naruto melihat senyum polos itu. Ia tergerak untuk mengambil jubah Sasori dan memberikan itu kepadanya.
"Aku ingin bertanya kepadamu. Apa kau tau tentang organisasi serta orang yang bernama Zabuza?" Tanya Naruto.
"Zabuza, ya? Dia adalah seseorang yang terkenal dengan julukan Silent Killer. Aku jarang bertemu dengannya. Aku juga tidak begitu tahu kemampuannya karena aku bukan anggota inti Akatsuki. Sedangkan untuk Akatsuki, Akatsuki adalah organisasi yang akan menyelamatkan dunia ini." Kata Sasori.
"Apa maksudmu?" Tanya Naruto bingung.
*drap drap drap*
Tiba-tiba segerombolan orang yang membawa berbagai senjata tajam dan senjata api datang mengepung Naruto dan Sasori.
"Kau. Berani-beraninya kau membunuh Oyabun." Teriak salah seorang dari mereka.
"Sial. Yakuza-Yakuza itu ternyata sudah memanggil bantuan." Gumam Naruto.
"Naruto, mereka terlalu banyak. Mereka lebih dari 100 orang. Walaupun dengan kekuatan radiasi, manusia tetap tidak bisa menang apabila dia terlalu kalah jumlah."Bisik Kurama.
"Cukup, Naruto. Ini adalah urusanku." Kata Sasori yang sudah memakai jubahnya sambil berusaha untuk bangkit berdiri.
"Kau? Apa kau baik-baik saja?" Tanya Naruto. Naruto merasa ada yang mengganjal di hatinya. Mengapa dia begitu perhatian terhadap musuh?
"Naruto, berikan ini kepada keluargaku." Kata Sasori sambil memberikan sesuatu.
"Ini, foto keluarga?" Pikir Naruto.
"Disitu telah tertulis alamatnya. Tolong sampaikan kabar tentang apa yang akan terjadi padaku." Kata Sasori.
"Apa maksudmu?" Tanya Naruto cemas.
"Aku akan meledakkan diri bersama mereka semua. Selain dengan bom, aku dapat meledakkan diri jika mesinku rusak. Kau harus kabur dengan melompat dari gedung ini."Kata Sasori tenang.
Naruto yang mendengar itu tidak dapat berbuat apa-apa.
"Inikah yang kau maksud dengan ada yang harus kau lakukan?" Meskipun memprotes tindakan Sasori, Naruto menyadari bahwa itu adalah jalan yang dia pilih.
"Sistem penghancuran tubuh diaktifkan"
.
.
"Sasori?" Panggil Naruto yang tidak percaya dengan apa yang akan Sasori lakukan.
"Sistem ini akan diaktifkan dalam hitungan..."
"10"
.
.
"Cepat pergi!" Teriak Sasori.
"Bocah. Kita harus lari. Jika tidak, kita akan mati." Kata Kurama.
"9"
.
.
Naruto yang mendengar itu segera lari. Ia hendak melompat turun dari gedung tersebut.
"Dia mau melompat, apa dia gila?" Kata salah satu anggota Yakuza.
Naruto berlari dengan kecepatan tinggi dan melompat. Hal itu membuat mereka syok.
Namun, Naruto berhasil mendarat. Aksi nekat Naruto ditonton banyak orang. Semua orang yang ada disekitar tempat itu terkejut sekaligus terkagum. Tidak mempedulikan tatapan mereka, Naruto langsung berlari cepat.
"8"
.
.
"Lawan kalian adalah aku" Kata Sasori.
"Kau sombong sekali. Apa kau tidak lihat dengan jumlah kami? Kau tidak akan punya kesempatan." Kata seseorang dari mereka.
"7"
.
.
"Itu suara apa?" Tanya Yakuza-Yakuza itu.
Sasori tidak memberikan mereka kesempatan berpikir. Dia berlari menyerang dengan sangat cepat.
"6"
.
*JLEB*
*JLEB*
*JLEB*
"UAAARRGGH"
Sasori berhasil membunuh tiga diantara mereka.
"5"
.
.
Gerombolan Yakuza yang melihat itu menyadari bahwa itu adalah tantangan perang. Mereka pun langsung mengeroyok Sasori.
"HUOOOOO!" Teriak Yakuza-Yakuza itu.
"4"
.
.
Sasori pun menyerang mereka. Sasori bergerak sangat lincah dan cepat. Seluruh senjata, baik senjata tajam maupun senjata api yang Yakuza itu bawa tidak ada yang mempan.
"Tidak mempan? Dia bahkan tidak merasakan sakit." Kata seorang dari mereka.
"3"
.
.
Sasori bergerak sangat cepat. Kecepatannya tidak dapat dilihat dengan mata manusia normal. Ia menusuk tubuh musuh hanya dengan tangan kananya. Dia berhasil membunuh 15 orang dalam waktu 4 detik.
"Gerakan itu. Dia bukan manusia." Kata salah seorang dari mereka gemetaran.
"Kau.. Kau benar, aniki. Ngomong-ngomong, apa kau mendengar suara hitungan mundur itu, aniki." Kata seseorang disampingnya.
"2"
.
"Suara itu, suara itu adalah bom. Dia akan meledak. Kita semua akan mati. Kita harus lari." Teriak salah satu Yakuza itu ketakutan.
Gerombolan Yakuza yang ketakutan itu semakin ketakutan disaat mendengar itu. Mereka pun berusaha kabur.
"Tidak akan sempat. Matilah bersamaku." Teriak Sasori sambil menutup matanya.
"1"
.
.
.
#Sasori POV
Aku membuka mataku saat mendengar angka satu. Namun, aku tidak bisa bergerak. Yang dapat kulihat adalah sebuah visualisasi dimana para Yakuza yang berada disekelilingku perlahan-lahan menghilang. Tubuhku seperti ditarik berpisah dari dunia nyata.
"Apa maksud dari semua ini?" Pikirku.
Setelah beberapa lama, semua lingkungan sekitar berubah menjadi putih. Begitu tenang dan damai. Seolah-olah aku berada di Surga. Jadi ini fenomena yang akan dialami seseorang sebelum mati? Waktu yang berhenti berputar.
Sejenak, aku memikirkan ayah, ibu, dan nenek Chiyo.
"Kaa-san, aku akan pergi. Bagaimanapun perasaanmu terhadapku, aku akan selalu mencintaimu. Apa Kaa-san bangga? Aku berhasil membalaskan dendam Tou-san. Aku sangat lega telah menyelesaikan tujuanku."
"Baa-san, apa kau masih tetap cerewet seperti dulu? Jika iya, tolong jangan terlalu cerewet pada Kaa-san. Jagalah dia. Aku sangat merindukan kalian."
"Tou-san, sebentar lagi aku akan ketempatmu. Aku berhasil membunuh orang yang telah menghancurkan keluarga kita. Tou-san bangga kan dengan ku?"
#Normal POV
*DUUUAAARRR*
Suara ledakan itu mengagetkan banyak orang, termasuk Naruto. Langkah kakinya berhenti ketika mendengar suara ledakan itu.
"Sasori?" Gumam Naruto yang melotot melihat ledakan besar itu. Ledakan itu menghancurkan lantai atas hotel tersebut. Dengan ledakan itu, mustahil mereka bisa selamat.
-oOoOo-
#Hinata POV
"Ino-chan, aku pamit dulu, ya." Kataku sambil meninggalkan rumah Ino-chan. Ino-chan melambaikan tangannya kepadaku dan aku membalas lambaian tangannya. Namun, saat aku sudah berada di tengah perjalanan pulangku, aku mendengar suara ledakan.
*DUUUAAARRR*
"Suara ledakan itu, sepertinya berada di sekitar lingkungan sekolahku." Aku bergerak menuju lokasi ledakan. Karena jarak rumah Ino-chan dengan sekolah tidak terlalu jauh, aku dapat sampai ke lokasi ledakan dalam waktu 15 menit.
Aku terkejut melihat hotel yang berada di dekat sekolah kami meledak. Aku melihat lantai atasnya benar-benar hancur. Kobaran apinya begitu besar dan asapnya menyebar sampai ke bawah. Asap itu membuatku sesak. Aku bergegas meninggalkan lokasi tersebut karena aku tidak tahan asap.
Namun disaat aku sudah mulai bergerak, aku melihat sosok yang sangat familiar di sebuah gang di sekitar lokasi ledakan. Seorang pria dengan mata sapphire dan surai kuningnya terduduk di dekat tempat sampah. Itu Naruto-kun.
"Naruto-kun?"
Naruto-kun terkejut saat mendengar suaraku. Sepertinya dia tidak menyangka bisa bertemu denganku. Namun setelah melirikku sebentar, ia menundukkan kepalanya sehingga aku tidak dapat melihat wajahnya. Aku mencoba untuk duduk berbicara dengannya.
"Naruto-kun?" Dia tetap tidak melirikku walau sudah kupanggil untuk kedua kalinya. Sikapnya membuatku sedih. Namun aku ingin sekali memperbaiki hubunganku kembali dengannya.
"Naruto-kun, ayo kita pulang." Kataku sambil tersenyum tulus kepadanya. Tanpa sadar butiran air mataku terjatuh dan membasahi pipiku.
Setelah mengucapkan itu, Naruto-kun mulai melirikku.
"Hinata." Aku kaget, Naruto-kun memanggil namaku dengan suara lembutnya yang sangat kurindukan. Tiba-tiba Naruto-kun membelai wajahku dan mengusap air mataku. Sentuhan hangatnya membuatku bahagia.
Naruto-kun bangkit berdiri dan tidak lupa membantuku untuk berdiri dengan lembut.
"Iya, Hinata. Tapi sebelum itu, aku ingin pergi ke suatu tempat. Maukah kau menemaniku?" tanya Naruto-kun lembut.
TBC
Terima kasih buat semua yang sudah membaca cerita saya. Mohon maaf buat segala kekurangan yang ada di fic saya. Buat yang bingung kenapa updatenya masih chapter 2, saya mendapat saran dari reader bahwa chapter 1 dan 2 sebelumnya lebih baik disatukan aja. Saya juga kembali memeriksa fic saya. Ternyata ada banyak error dalam cerita saya. Sehingga saya memutuskan untuk menyatukan chapter 2 sebelumnya ke chapter 1. Saya juga merapikan fic dan memeriksa kata-kata yang salah supaya enak dibaca. Jika masih ada kekurangan, saya memohon maaf yang sebesar-besarnya.
Sekali lagi, terima kasih sudah membaca, teman teman.:)
