Chapter 8
Nano, Log In
"Maji de Watashi ni Koi Shinasai!/Love Me, Seriously!"
Warning:
Mungkin akan sangat OOC, EYD salah kaprah dan banyak typo dan cepat atau lambat bakal ada SongFic.
Disclaimer:
Naruto: Masashi Kishimoto
Highschool DxD: Ichie Ishibumi
Love Live School Idol Project: KLab (Reader: itu produser gamenya goblok *Yaoming face* Auth: biarin cuk daripada ada yg ngepermasalahin, orang di fandomnya aja gak ada yg make disclaimer *yaoming face*
~.~.~.~
Chapter 8:My World: Case (Case Closed & Start the Story)
Opening Song: May'n - Brain Diver
"Di-dimana aku?" Kata sebuah tubuh yg kini sedang terbalut sebuah jaket berwarna hitam, membuka matanya dan menemukan dirinya di tempat asing tentunya akan membuat semua orang bertanya-tanya dimana mereka bukan?
"Kau sudah bangun? Kita ada di taksi sekarang, aku akan mengantarmu pulang."
"Pulang? Lalu bagaimana dengan Okaa-sama?"
"Okaa-sama sudah dijemput Otou-sama, dia ada di rumah sekarang."
"Oh."
Dan hanya itulah akhir dari percakapan sepasang kakak beradik itu. Naruko yg melihat kakaknya sedang memikirkan sesuatu tentu saja tidak ingin mengganggu konsentrasinya, tapi Naruko belum meminta maaf soal peristiwa yg tadi pagi sehingga dia berinisiatif untuk melakukannya saat ini juga.
"Ne! Onii-chan." Kata Naruko mencoba mengalihkan perhatian kakaknya yg sedari tadi terlihat memikirkan sesuatu.
"Hm, kenapa?" Balas Naruto dengan cuek tapi raut mukanya masih menunjukkan tanda-tanda bahwa dibalik tulang terngkoraknya kini sedang terjadi proses berpikir.
"Soal kejadian tadi, Naruko minta maaf." Setelah mengatakan itu kepala Naruko langsung menunduk menatap lantai taksi dengan tatapan menyesal.
"Apa yg kau lakukan? Itu tadi sudah kewajibanku menjagamu, bukan?" Sungguh Naruto saat ini sangat benci melihat Naruko yg merasa bersalah atas kejadian di gedung tua disamping taman. Tidak tahukah jika dia tadi juga menikmati gamenya?
"Baik, kita sudah sampai. Silahkan turun." Kata sang sopir menginterupsi mereka berdua.
"Naruko, cepat turun dan langsung masuk ke rumah."
"Heeh! Jadi Onii-chan tidak mau mampir sebentar?" Tanya Naruko sembari tangannya membuka pintu taksi lalu keluar.
"Maaf, aku ada urusan yg sangat penting. Aku tidak bisa mampir saat ini, sampaikan salamku kepada Otou-sama ya!"
"Hm..." lalu dengan secepat kilat Naruko langsung mencium pipi Naruto yg saat ini tidak dihalangi oleh kaca taksi yg telah diturunkan Naruto untuk berbicara dengan Naruko yg sudah berada di luar.
Setelah itu sang sopir langsung menjalankan kembali taksinya setelah mendapat perintah dari Naruto. "Kemana kita, tuan?"
"Ke tempat dimana kau menyuruhku menelan kapsul beracun." Jawab Naruto dengan absurdnya.
"Yare... yare... sepertinya penyamaranku terbongkar." Kata sang sopir yg kini melepas wig dan topi yg selama ini membuat wajahnya terlihat tua dan kini nampaklah seorang laki-laki berparas tampan tapi sedikit badas dan berambut hitam (Izaya Orihara dari Durarara).
"Lantai taksi bekas air yg mengering tanda ada yg masuk kesini dalam keadaan yg basah, belum lagi kursinya yg sedikit lembab itu artinya ada yg naik taksi ini dalam keadaan basah. Tapi jika kau adalah sopir taksi biasa pasti kau tidak akan menerima penumpang yg basah karena itu akan membuat kenyamanan penumpang lain terganggu, itu jika kau adalah sopir taksi biasa beda lagi ceritanya kalau kau adalah pembunuh berantai yg menyamar sebagai sopir taksi." Jelas Naruto kepada orang di depannya yg masih saja menyetir taksi yg mereka kendarai. "Gedung kosong?" Tanya nya mencoba berspekulasi kemana dia akan dibawa.
"Ya, sebuah kehormatan bisa membunuhmu pemilik gelar Einstein." Masih bergelut dengan setir taksi, laki-laki yg merupakan pembunuh itu menjawab pertanyaan Naruto.
"Yaa... ya... terserahmu saja." Reaksi Naruto kali ini sungguh diluar perkiraannya. Biasanya dia melihat calon korbannya ketakutan maupun shock tapi kali ini dia melihat calon korbannya tenang-tenang saja.
Melihat Naruto yg masih santai dan bergelut dengan smartphone miliknya mau tak mau membuat pembunuh berantai yg mempunyai nama asli Izaya Orihara itu sweatdrop melihat calon korbannya dengan lihai membuat gerakan mengetik sebuah pesan.
Sementara Naruto kini masih saja tenang sembari tangannya mengetik sebuah pesan kepada Sona,Shirohara dan Iruka. Skenario untuk melawan pembunuh berantai jenius yg menggunakan permainan emosi sudah tersusun rapi di otaknya.
Dan saat taksi yg ditumpanginya berhenti di depan gedung tua menandakan bahwa dia baru saja masuk ke dalam Dungeon. Dungeon dalam sudut pandang Naruto diartikan kurang lebih sama dengan sudut pandang para gamer tapi tentu saja Dungeon dalam sudut pandang Naruto lebih berbahaya daripada sudut pandang gamer. Kalau gamer hanya melawan musuh virtual tapi jika Naruto yg dia lawan adalah seseorang yg ahli dalam bidang tertentu.
Misalnya saat dia di test oleh Minato. Dia dibawa di dalam gedung yg tidak dia kenal dan menghadapi berbagai pernyataan yg sangat mengerikan dari ahli psikologi yg dipilih langsung oleh Minato. Dalam test itu Naruto dikabari bahwa semua keluarganya dibunuh, bukti yg dibawa juga sangat meyakinkan yaitu foto mayat Naruko, Kushina dan Minato. Tapi para pengetes itu melupakan satu hal, yg mereka test adalah seorang anak yg mengetahui betul kemampuan ayahnya. Singkat kata diakhir test itu Naruto bisa bertahan dari siksaan mental yg mengerikan itu bahkan menyimpulkan semua foto yg dibawa mereka palsu dan juga membuktikan mereka semua adalah suruhan Minato.
Setelah mengalami kejadian yg jauh lebih mengerikan dari ini maka wajar saja jika Naruto masih bisa tenang seperti sekarang.
"Turun, lalu masuk ke dalam gedung." Perintah Izaya sembari tangannya menodongkan sebuah pistol di depan kepala Naruto. Dan tentu saja langsung dituruti Naruto tanpa menjawab apapun.
Setelah masuk ke dalam gedung Izaya menyuruh Naruto duduk di kursi yg membelakangi jendela, sedangkan Izaya duduk di depan kursi Naruto dan saat ini mereka hanya dipisahkan oleh lebar sebuah meja yg tak lebih dari 60 cm.
"Lalu, apa yg kita mainkan?" Tanya Naruto tak terpengaruh posisi pistol yg masih mengarah ke kepalanya.
"Hahaha... kau sangat aneh anak muda. Menganggap Kenja no Game adalah game biasa, kepalamu pasti sudah terbentur sesuatu nak." Izaya kali ini tak bisa menahan tawanya. Jujur saja dia tidak mengerti pemikiran pemuda di depannya itu.
Kenja no Game adalah game yg mempertaruhkan nyawa pemainnya untuk mendapatkan harta karun yg biasanya berupa nyawanya sendiri maupun nyawa orang lain.
"Maaf, aku terlalu banyak tertawa sampai perutku sakit. Ini bukanlah game yg rumit, sebaliknya game ini sangat sederhana tapi juga sangat mematikan." Nada bicara Izaya kali ini sudah berubah dari yg semula funny menjadi serius, terlihat jelas bahwa dia mencoba mengintimidasi Naruto dengan perubahan itu.
"Seperti apa?" Tanya Naruto mencoba memperinci penjelasan game ini. Dia tidak bisa memenangkan sebuah game yg tidak dia tahu sebelumnya kecuali kalau dia bisa memasuki Phi Brain, suatu keadaan dimana otaknya bekerja berkali-kali lipat dari kondisi normal yg membuatnya mempunyai kecepatan pemrosesan data yg juga bertambah cepat sehingga memungkinkannya mempelajari game yg tidak dia kenal sebelumnya saat pertama kali bermain bahkan mengalahkan mereka yg sudah berpengalaman di game itu.
Mengacuhkan pertanyaan Naruto, Izaya malah mengeluarkan 2 buah tabung obat dari saku nya. Dapat dilihat disana ada 2 kapsul obat yg sama meski kenyataannya...
"Hanya permainan tebak-tebakan, pilihlah mana saja yg kau suka lalu telanlah. Aku akan menelan yg tidak kau pilih. Diantara kedua tabung itu ada 1 yg beracun dan 1 yg aman. Kalau kau menelan tabung yg aman maka kau akan hidup dan aku akan mati karena menelan kapsul yg beracun begitu juga sebaliknya." Jelas Izaya singkat sekaligus memulai game nya.
"Ini adalah game yg bodoh dan aku tidak menyangka kau telah membunuh banyak orang dengan game ini." Komentar Naruto.
"Selama ini yg aku alami bukanlah keberuntungan, tapi karena kejeniusanku aku bisa bertahan sampai sekarang. Menyedihkan bukan? Sebagai seorang jenius aku berakhir di pekerjaan ini."
"Ya, kau memang menyedihkan. Aku tidak mau bermain, ini cuma buang-buang waktuku saja." Mengacuhkan suara pelatuk pistol yg ditarik, Naruto masih saja berjalan menuju pintu.
"Jika kau menyentuh gagang pintu maka kau akan mati." Sebuah ancaman dari Izaya membuat Naruto menghentikan langkahnya lalu berbalik agar mereka berhadapan.
"Silahkan saja, tembak aku sekarang. Lagipula bukannya kau ingin membunuh pemegang gelar Einstein ini?" Menjulurkan lidahnya dan menarik kebawah kantung matanya (gaya khas Einstein). Itulah yg dilakukan Naruto yg saat ini mencoba mengejek Izaya dan game yg menurutnya bodoh.
"Kau yg memintanya sendiri." Tanpa ragu Izaya langsung mengarahkan pistol itu ke wajah Naruto lebih tepatnya dia membidik dahinya.
10 detik
Sudah 10 detik Izaya berada di posisi membidik dahi Naruto tapi belum menembaknya. Dan tentu saja hal itu membuat Naruto yakin satu hal.
Pistol itu hanyalah pemantik api.
"Apa kau perokok?"
"Waah... akhirnya ada juga yg menyadari jika ini hanyalah pemantik api."
"Aku bisa mengenali yg asli saat aku melihatnya."
"Jadi, kau akan tetap pergi?"
"Tentu saja. Aku hanya membuang waktu saat ini."
Melihat bahwa targetnya akan pergi tentu saja membuat Izaya sedikit gusar. Ada kemungkinan bahwa Naruto akan membocorkan identitasnya sebagai pembunuh berantai kepada kepolisian setempat. Jadi dia akan memprovokasi Naruto untuk bermain game ini. But Wait! Bukannya dia adalah pembunuh? Kenapa dia tidak membunuh Naruto saat ini juga? Jawabannya sangatlah sederhana. Sebenarnya dia tidak mau di cap sebagai pembunuh karena dia tidak melakukan ini atas kehendaknya sendiri, tentu saja saat ini dia diancam kalau tidak mau memainkan peran ini sebagai pembunuh oleh seseorang yg menyandera kedua adiknya.
"jadi inikah anak dari Namikaze Minato? Kau bahkan terlalu takut untuk memainkan permainan kecil ini. Aku meragukanmu bahwa kau adalah pemegang gelar Einstein."
Mendengar provokasi Izaya mau tak mau membuat langkah Naruto terhenti saat baru saja membuka pintu.
"Aku pernah mendengar rumor bahwa Minato adalah pemegang gelar Newton dan Ibumu Uzumaki Kushina adalah pemegang gelar Nightangle yg telah meletakkan gelar itu seenaknya sendiri karena tidak suka. Tidak kusangka bahwa anak mereka adalah seorang pengecut seperti ini."
Kali ini kesabaran Naruto telah habis. Provokasi yg dilakukan Izaya ternyata lebih hebat dari pada perkiraannya, itulah yg diharapkannya dari seorang jenius.
"Jika itu maumu ayo kita selesaikan ini!" Naruto membalik badannya lalu mengambil sebuah tabung obat yg ada di meja, mengeluarkan kapsulnya dan sebagai langkah akhir diterawangnya kapsul itu meski dengan cahaya yg terbatas.
Lalu dia akhirnya sampai di tahap ini, tahap terakhir yaitu menelan kapsulnya. Kembali membelakangi jendela dengan jarak yg cukup jauh dari izaya dan menghadapkan badannya ke kanan, Naruto menelan kapsul miliknya sedangkan Izaya yg melihat itu menunggu beberapa menit untuk gilirannya.
Belum sampai satu menit sebuah suara di iringi teriakan yg menggambarkan rasa sakit menghampiri gendang telinga Naruto. Disana, seorang Izaya tertambak tepat di perutnya membiarkan kapsul yg belum sempat dia telan jatuh ke tanah.
Rumah Sakit
"Di-dimana ini? Ukh..." Saat Izaya yg baru saja mencoba mendudukkan dirinya dari posisi tidur telentang, rasa sakit di bagian perut telah menyambutnya menyebabkan punggungnya terbanting di kasur yg empuk.
"Kau telah bangun?" Saat sebuah suara yg familiar itu menghampiri gendang telinganya mau tidak mau Izaya langsung membuka matanya dan mencari asal suara itu.
Sebuah suara yg sama dengan orang yg telah menelan pil beracun saat bermain game dengannya.
"K-kau, masih hidup?" Saat matanya menangkap rambut berwarna pirang dan dua bola mata saphire yg mengingatkannya dengan seseorang, dia sadar bahwa dugaannya benar. Orang itu adalah si pemegang gelar Einstein. Tapi bagaimana bisa? Bukannya dia sudah menelan pil yg beracun?
"Ya, aku tidak benar-benar menelan obat itu."
"Lalu?"
"Itu hanya trik sederhana karena matamu rabun. Sebenarnya saat itu aku melewatkan obatnya di sebelah mulutku sehingga tidak memasukinya."
"Bagaimana kau tahu kalau aku rabun?"
"Saat kau melihat ke spion belakang, aku melihatmu harus menyipitkan mata agar bisa melihat jelas."
Mengetahui trik kecil yg dilakukan orang di depannya ini membuat Izaya merasa seperti orang bodoh. Harusnya dia mengikuti saran bos nya untuk memakai kacamata tapi ya sudahlah, nasi telah menjadi nasi goreng jadi sekarang dia telah tertangkap dan tidak bisa apa-apa.
"Jadi, dia adalah pembunuh berantai itu? Kelihatannya kau masih cukup muda untuk pekerjaan seperti itu." Perkataan dari arah pintu tadi mengalihkan perhatian Naruto.
"Iruka-san, Shirohara-san, Sona-chan? kenapa kalian baru datang?" Tanya Naruto pada 3 orang yg baru saja membuka ruang perawatan Izaya.
"Etto... aku tadi sedang menerima kasus lagi setelah mendengar kasus ini selesai dan pelakunya dibawa kesini, jadi aku perlu waktu yg sedikit lama untuk menangani kasus itu dan pergi ke rumah sakit di kota lain bukan?" Jawab Shirohara membela dirinya yg terlambat.
"Mata merah dan bau sake, kau pasti habis merayakannya dengan orang se kantor."
"Hahahaha..." Menanggapi perkataan Naruto tadi Shirohara hanya bisa tertawa canggung.
"Dan kau?" Kali ini giliran Iruka yg menerima mata penuh selidik Naruto.
"Aku terlambat karena anak buahku tidak membiarkanku kesini, alasannya mereka ingin aku merayakannya saat itu juga. Karena aku menembak si pelaku."
"Ho... sepertinya kau jujur, Iruka-san. Lalu yg terakhir kau?" Setelah puas dengan jawaban Iruka, Naruto mengalihkan direksinya ke satu-satunya perempuan di ruangan itu.
"Kenapa kau bertanya seperti itu? Harusnya aku yg bertanya kepadamu. Kenapa kau tidak masuk sekolah?" Tanya balik Sona dengan nada sedih dan ekspresi yg tidak bisa dilihat Naruto karena wajahnya sedang menunduk.
"Kau mendapat E-mail bahwa Einstein telah terbunuh bukan?" Kali ini Naruto sangat yakin bahwa GoG telah memberikan kabar bohong bahwa dia telah mati karena menelan obat beracun kepada Sona.
"Ya." Jawab Sona singkat.
"Hal seperti itu tidak akan cukup untuk membunuhku tahu."
"TAPI TETAP SAJA ITU BERBAHAYA!" Kesabaran Sona telah habis, dia tahu sebenarnya tidak boleh berteriak di rumah sakit karena akan mengganggu pasien tapi saat ini prinsip menuruti peraturan tidak berlaku padanya.
"Yg kau hadapi adalah seorang jenius yg membunuh menggunakan racun, kau tahu kan? Racun! Meskipun tertelansedikit saja itu membahayakan nyawamu!" Sona kali ini menumpahkan segala emosi yg terpendam di hatinya. Tidak tahukah Naruto bahwa dia sebenarnya sangat senang saat mengetahui bahwa masih ada pemegang gelar selain dirinya? Tidak tahukah Naruto betapa cemasnya dia saat Naruto tidak masuk sekolah lalu akhirnya dia menerima E-mail dari GoG tentang Einstein yg terbunuh?
Sona sendiri tidak tahu kenapa dia harus menyandang gelar Galileo dan harus berurusan dengan GoG yg ingin memanfaatkan para pemegang gelar seperti dirinya dan Naruto. Dia hanya ingin menjadi gadis Normal yg suatu hari nanti menikah dan menjadi ibu rumah tangga, tapi kelihatannya untuk menggapai itu tidaklah mudah. Tunggu sebentar! Galileo Galilei adalah penemu teleskop pertama yg artinya alat optik sedangkan Sona sendiri pemakai alat optik (kacamata) mungkinkah alasannya sangat sederhana seperti itu?
Sayangnya momen menyedihkan bagi Sona kini telah berakhir saat Naruto memeluknya dengan rasa posesif seolah tidak membiarkannya menjadi milik siapapun kecuali dirinya seorang.
"Percayalah padaku, aku tidak akan mati. Aku akan menghancurkan GoG seperti yg dilakukan pemegang gelar ini sebelum kita."
Masih memeluk erat tubuh mungil Sona, Naruto mengucapkan itu tepat disamping telinga Sona yg secara langsung membuat Sona merasa 'panas'.
"Apa menurutmu suasana disini panas, Iruka-san?"
"Ya, aku merasa tiba-tiba AC disini mati, Shirohara-san."
Mendengar suara yg tak asing baginya mengucapkan kalimat itu tak ayal membuat Sona langsung melepaskan pelukan Naruto dan kembali menundukkan wajahnya dalam dalam berharap tak ada yg bisa melihat rona di wajahnya yg membuatnya terlihat sangat berbeda dari biasanya.
"Jadi... apa yg akan kalian lakukan padaku?" Saat mereka semua sibuk dengan drama kecil ala anak remaja di depan mereka, Izaya menanyakan sebuah hal yg umum ditanyakan oleh para tersangka yg tertangkap.
"Atas nama kepolisian kota Kuoh, kau akan dituntut atas semua pembunuhan lalu...
"Kau bisa bebas dengan syarat tidak boleh melakukan hal seperti ini lagi lalu aku akan membantumu menyelamatkan kedua adikmu."
Belum sempat Iruka menyelesaikan perkataannya sudah dipotong dahulu oleh Naruto.
"Bagaiman kau tahu tentang mereka?"
"Biar kulihat disini... Izaya Orihara, jika kau tidak memainkan peran yg aku siapkan untukmu bersiaplah menerima kenyataan bahwa adikmu telah mati." Mengeluarkan sebuah handphone dari sakunya lalu membacakan isi pesan singkat dari nomor yg tidak dikenal, Naruto menjawab pertanyaan Izaya.
"Kami tidak bisa menuntutmu karena kau tidak melakukannya atas kehendakmu sendiri."
"Naruto-kun, apakah itu pesan dari..."
"Ya Sona, ini pesan dari mereka." 'Lebih tepatnya 'Pythagoras.'
"Apa yg kalian maksud sebenarnya?" Mendengar percakapan dua insan tuhan berbeda gender di depannya yg tidak ia mengerti membuat Iruka tak kuasa menahan hasratnya untuk bertanya.
"Tidak apa-apa Iruka-san, hanya masalah kecil kok."
"Dan kenapa kau bilang kami tidak bisa menuntutnya, Namikaze?"
"Bacalah ini!" Bukannya menjawab pertanyaan Shirohara, Naruto malah melamparkan handphone Izaya kepada Shirohara dan menyuruh kedua kepala kepolisian beda kota itu membaca pesan masuk.
"Hm... jadi selama ini kau diancam oleh seseorang ya?"
"Aku turut prihatin padamu Izaya-san. Memang benar jika kami tidak bisa menuntutmu karena kau dikendalikan oleh seseorang. Tapi maukah kau berkerja sama dengan kami?"
"Bekerja sama?" Tanya Izaya balik.
"Ya, dengan begitu kami harap dapat menemukan orang yg menyandera adikmu lalu kami bisa membebaskan mereka."
"Baik, tentu saja saya bersedia Shirohara-san."
Menyimpulkan jika kedua kepala kepolisian beda kota itu telah selesai Naruto langsung mengambil alih pembicaraan.
"Iruka-san, Shirohara-san! Bisa kalian keluar dari ruangan ini? Dan juga nanti kalian baru boleh masuk kalau aku bilang boleh."
"Memangnya ada apa Naruto?"
"Sudahlah Iruka-san. Para remaja juga punya urusan sendiri." Setelah mengatakan itu Shirohara menarik Iruka keluar ruangan bersama dirinya meninggalkan Izaya, Naruto dan Sona yg masih berada disana.
"Apa yg akan kau lakukan selanjutnya, Naruto-kun?" Tanya Sona kepada Naruto.
"Menipu seseorang." Tapi sayang, jawaban yg diberikan Naruto tidak dapat memuaskan rasa penasaran Sona, malahan Sona kini terlihat makin penasaran.
Mengacuhkan pandangan Sona yg penuh selidik kearahnya, Naruto mengeluarkan sebuah pistol yg entah didapatnya dari mana lalu menyerahkannya ke Izaya.
"A-apa maksudmu Naruto-kun?" Melihat Naruto yg mengeluarkan pistol dan menyerahkannya ke orang yg berstatus pembunuh berantai tentu saja membuat Sona kaget sekaligus bingung akan jalan pikiran Naruto. Meski dia adalah Galileo tapi dia tidak bisa menebak jalan pikiran Naruto/Enstein yg menurutnya terlalu aneh.
"Apa maksudmu, Einstein?" Kondisi Izaya pun juga tak beda jauh dengan Sona, bingung dan kaget.
"Apa kalian tidak bisa melihat kodeku? Aku bilang menipu seseorang lalu menyerahkan pistol, menurutmu apa yg terjadi selanjutnya?"
"K-kau akan memalsukan kematianmu untuk menipu GoG?"
"Itu benar sekali, Galileo-chan."
"Hoy! Hoy! Bukankah kita bisa menggunakan darah dari rumah sakit?"
"Pythagoras bukanlah orang bodoh Izaya. Menurutku dia bisa menentukan mana yg palsu dan asli dalam sekali lihat." 'Seperti diriku.'
Sekali lagi sampai author sendiri heran kenapa banyak banget scene diamnya para character. Sona yg menunduk dan memikirkan apa yg akan dilakukan Naruto untuk menipu GoG, Izaya yg sedang merenung memikirkan sesuatu dan Naruto yg nampak tenang menunggu balasan Izaya dan reaksi Sona atas balasan Izaya.
"Kau sudah siap bukan?" Tanya Izaya mencoba memastikan kesiapan Naruto.
"Tentu saja. kau pikir aku ini siapa?"
"A-apa yg akan kau lakukan sebenarnya Naruto-kun?" Sona kali ini sudah sangat panik saat melihat pistol yg dipegang Izaya diarahkan kepada Naruto.
"Ini akan sakit, bocah."
"Rasa sakit yg akan kurasakan tidak akan sesakit apa yg telah kurasakan." Itulah perkataan terakhir yg mereka dengar sebelum akhirnya...
DOR!
Suara tembakan yg terdengar sampai ke penjuru rumah sakit tak ayal membuat semua pasien dan pekerjanya panik, termasuk Iruka dan Shirohara yg mendengar suara itu dari balik pintu yg memisahkan mereka dan ruang perawatan Izaya.
Tanpa pikir panjang Iruka langsung mendobrak pintu kamar perawatan Izaya dan menemukan Naruto yg tergelatak telentang di lantai dengan darah di sepanjang tangan kanannya sedangkan Sona yg terlihat shock atas apa yg baru saja dilihatnya, tentu saja dia dan Shirohara yg melihat Izaya memegang pistol langsung mengambil pistolnya lalu memborgolnya. Tapi belum sempat Iruka memukul tengkuk Izaya untuk membuatnya tak sadarkan diri, sebuah suara menginterupsi kegiatannya.
"Jangan lakukan itu!" Kata Naruto yg telah berhasil membiasakan diri dengan rasa sakit di tangan kanannya. Mencegah Iruka untuk melumpuhkan Izaya.
"Kenapa kau melarangku?"
"Ini adalah rencanaku. Diamlah dan jangan bertanya lagi."
"Cih! Aku benar-benar tidak tahu apa yg kau pikirkan bocah."
"Hahaha... kenapa seorang kepala kepolisian kota Kuoh sepertimu dengan mudah menuruti apa perkataan remaja yg bahkan belum genap 17 tahun."
"Diamlah baka-shiro. Kau belum tahu saat dia telah marah."
"N-Naruto-kun." Sebuah suara feminim mengalihkan perhatian semua kaum adam yg ada di ruangan itu.
"Yo! Sudah lepas dari shock?" Bukannya berteriak kesakitan karena ditembak, Naruto malah bersikap seperti biasa-biasa saja.
"K-kenapa kau bersikap seolah tidak terjadi apa-apa!" Sona memeluk Naruto dengan berlinang air mata (shock) yg tentu saja membuat Naruto yg baru saja mencoba mendudukkan dirinya kembali terjatuh karena ditimpa badan mungil Sona.
"Etto... bisa beri kami sedikit privasi disini?"
"Tentu saja, ayo kita pergi Iruka."
"Ya... ya... terserahmu saja." Setelah berkata itu maka Iruka dan Shirohara kembali keluar ruangan demi memberi NaruSona privasi, meski mereka juga bingung dengan privasi apa soalnya Izaya kan juga ada disana?
Setelah kedua kepala kepolisian beda kota itu meninggalkan ruang perawatan Izaya yg membuat suasana disana langsung kembali seperti semua, tenang dan sunyi.
"Ah... ini gawat! Aku harus mengeluarkan pelurunya. Bisa ambilkan aku alkohol, gunting dan perban?"
"Akan kubawakan!"
Setelah berkata seperti itu Sona langsung pergi untuk membeli apa yg dikatakan Naruto tadi.
"Jadi, apa rencanamu untuk menyelamatkan adikku?" Setelah kepergian Sona, Izaya kembali menanyakan kepada Naruto tentang rencananya.
"Mungkin masih butuh waktu yg sedikit lama untuk membebaskan mereka tapi... aku berjanji akan membawa mereka pulang padamu, Izaya."
"Kutunggu janjimu itu, Einstein."
Kriiieeeet...
"Naruto-kun! Ini perban, alkohol dan guntingnya."
"Ah.. terima kasih Sona."
Setelah pengeluaran sebuah peluru dari bahu kemudian... (Scene break macam apa ini?)
Saat ini situasi di ruang perawatan Izaya telah kembali seperti semula setelah sebelumnya terjadi ketegangan akibat ulah Naruto yg meminta Izaya menembak dirinya untuk memalsukan kematiannya.
(Mungkin ada yg bingung bagaimana caranya. Singkatnya Izaya memfoto Naruto yg bersimbah darah lalu mengirimkan fotonya ke GoG.)
"Mau ikut denganku, Sona?"
"Kemana?"
"Entahlah, mungkin kencan?"
"K-kencan?" Wajah Sona tak ayal langsung menjadi merah setelah Naruto berkata 'kencan'.
"Kau tidak mau?" Tidak mendengar balasan dari Sona, Naruto berpikir bahwa Sona tidak mau.
"Ba-baiklah! Aku ikut. T-tapi jangan macam-macam denganku!"
"Kalau begitu, Kami pergi dulu Izaya!"
"Terserahmu." Jawab Izaya acuh tak acuh.
05.00 PM (Taman)
"Ini untukmu." Kata Naruto sambil menyodorkan sebuah kopi kaleng pada Sona.
"Terima kasih."
Dan entah ini yg ke berapa kalinya mereka kembali saling diam seolah tidak tahu apa yg harus dibicarakan. Sona yg sudah tak tahan lagi mencoba memecah keheningan ini.
"Jadi, kau adalah Einstein?"
"Ya. Mengejutkan bukan?"
"Sebenarnya tidak. Ngomong-ngoming Naruto-kun, apa rencanamu untuk menghancurkan GoG?"
"Entahlah, yg pasti aku akan melakukannya sendiri."
"Sendiri?"
"Ya. Aku tidak bisa membiarkanmu ikut campur hal berbahaya semacam ini."
'D-dia mengkhawatirkanku?'
"Naruto-kun~" Kata Sona dengan wajah yg sudah sangat merah dan kini perlahan tapi pasti mendekatkan wajahnya ke wajah Naruto.
"Hm?" Sementara itu Naruto yg melihat Sona mendekatkan wajahnya hanya diam dan menanti apa yg akan dilakukan Sona.
Di sisi lain Sona kali ini sudah mantap dengan niatnya untuk mencium pemuda di depannya ini sebagai tanda terima kasih karena telah mengkhawatirkannya. Sekaligus dia ingin Naruto menjadi orang yg mengambil first kiss nya.
5 cm
4 cm
3 cm
Sona bisa merasakan nafas hangat yg keluar teratur dari hidung Naruto yg membuat wajahnya semakin panas.
2 cm
Dreeeet! Dreeeert!
Oh... sungguh malang nasib Sona. Padahal jarak antara wajah mereka sudah sangat dekat tapi bunyi handphone yg bergetar mau tak mau membuat Sona kembali memundurkan wajahnya dengan cepat untuk melihat siapa yg mengirim pesan disaat yg sangat tidak tepat seperti saat ini.
Tapi keinginannya untuk membalas sms itu dengan 1001 sumpah serapah langsung diurungkannya karena melihat sebuah nama Okaa-Sama.
"Etto... Naruto-kun! Aku harus pergi sekarang juga. Tapi sebelum itu..."
Kali ini Sona melakukannya dengan cepat karena tidak mau terganggu seperti tadi. Ciuman singkat itu dilayangkannya ke pipi Naruto.
"Sampai jumpa!"
"Hm.. sampai jumpa."
Setelah pamitan kecil tadi Sona langsung berjalan pergi untuk pulang ke rumahnya meninggalkan Naruto yg masih duduk di kursi taman.
Sementara itu Naruto yg baru saja dicium oleh seorag gadis meski di pipi masih saja memasang ekspresi datarnya dan menatap kepergian Sona. Dia sedang bingung dengan suatu hal.
Bagaimana caranya merobohkan sebuah gedung yg sangat kokoh? Belum lagi gedung itu mempunyai pilar yg katanya berkali-kali lipat lebih kuat dari beton biasa.
Berbagai cara sudah berseliweran di kepalanya mulai dari menggunakan TNT di segala sisi juga dalam skala besar sampai menggunakan bom atom skala yg sangat kecil.
"Haaaah... rencana itu masih sangat lama. Lebih baik aku pulang saja." Setelah berkata seperti itu Naruto langsung menghabiskan minuman miliknya lalu berjalan pulang ke apartemen kesayangannya.
Meanwhile Sona Side
"Jadi, apa kau punya pembelaan Sona?" Suara itu datang dari seorang wanita paruhbaya yg terlihat sangat marah.
"Su-sudahlah Ellie, bukankah kita tahu kalau dia punya urusan." Dan suara ini berasal dari Alexander Sitri yg mencoba menenangkan istrinya.
"Ini tidak bisa dimaafkan Alex!"
"T-tapi Okaa-sama! Saat itu aku mendapat kabar bahwa temanku dalam bahaya, tapi ternyata itu hanya kabar bohong yg disebarkan organisasi itu. Saat aku mendapat sms darinya aku langsung pergi menemuinya dan memastikan keadaannya." Sebuah alasan yg sangat rasional dilayangakn Sona berharap dapat menurunkan kemarahan Okaa-san nya.
"Kalau hanya menemui dan memastikan pasti tidak akan memakan waktu sampai selama ini kan? Kau telah telat pulang berjam-jam." Lupakan soal tadi,Okaa-san nya malam semakin marah.
"Oh... biar kutebak! Teman yg kau maksud itu adalah Kaneki bukan? Orang kurang kerjaan yg mempunyai hobi seperti dirimu? Bisa kau jelaskan siapa yg ada di foto ini, Sona Sitri." Lanjut Ellie Sitri sembari menunjukkan foto dua orang berbeda gender yg hampir berciuman.
"Fo-foto itu..."
"Heeh... jadi ini dia si Kaneki ya? Tanpa topeng anehnya itu."
"O - Okaa-Sam.."
"Kau mencoba mencium seseorang yg baru saja kau kenal di depan umum. Meski saat itu sepi tetap saja itu memalukan, Sona."
"Dengarkan penjelasanku dulu."
"Tidak ada yg perlu dijelaskan lagi, Sona. Jauhi orang yg bernama Kaneki it.."
"OKAA-SAMA!" Tak tahan dengan prasangka jelek ibunya kepada Kaneki membuat Sona berteriak untuk memotong perkataan ibunya. Meski itu tidak baik tapi hanya itu satu-satunya cara agar ibunya bisa diam.
"Kaneki-kun adalah orang baik. Alasan kenapa dia memanggilku adalah karena dia telah menangkap pelaku kasus pembunuh berantai itu seorang diri."
"Dan sebenarnya pembunuh itu di sponsori oleh GoG yg artinya aku juga pasti terlibat di dalamnya. Seharusnya aku bisa kembali ke sekolah setelah menjenguk Kaneki-kun tapi... tadi siang dia melakukan sesuatu hal yg bodoh untuk melindungiku."
"Sesuatu hal yg bodoh?" Tanya Alex dan Ellie Sitri secara bersamaan, entah mereka sendiri sadar atau tidak.
"Pembunuh itu dikirim GoG ke jepang untuk membunuh Kaneki-kun dan pasti selanjutnya yg jadi targetnya adalah aku. Kaneki-kun menyuruh pembunuh itu menembaknya untuk memalsukan kematiannya lalu saat pembunuh itu membuat laporan tentang keberhasilannya dia juga menulis di pesan bahwa Galileo telah pergi meninggalkan jepang."
"Aku tadi merawat luka Kaneki-kun jadi aku tidak bisa kembali ke sekolah lalu aku tertidur saat merawat Kaneki-kun sampai sore. Itulah alasan kenapa aku bisa pulang telat hari ini." Lanjutnya.
'Hm... jika Sona berkata jujur maka orang yg bernama Kaneki itu tidak buruk juga.'
"Tapi itu tidak memberi alasan yg cukup kenapa kau menciumnya?"
"Ah... soal itu sepertinya... aku menyukainya."
"Yare-yare! Ternyata putriku sudah dewasa." Kata Satu-satunya laki-laki di ruangan itu.
"Tidak semudah itu." Sayangnya meski sang ayah menyalakan lampu hijau tapi tidak dengan sang ibu.
"Heh?"
"Tidak semudah itu bagi Kaneki untuk mendapatkanmu Sona. Setidaknya dia harus setara denganmu."
"Setara? Dia pernah mengalahkanku bermain Perwujudan Shiritori lalu dia juga sekelas denganku. Sampai saat ini aku belum melihatnya kesusahan dalam mata pelajaran tertentu."
"Kalau begitu paling tidak dia harus mengalahkanku sekali."
"Mengalahkan Okaa-sama?"
"Ya, seperti mengalahkanku dalam sebuah permainan kecil."
Dreeeet! Dreeeet! Dreeet!
"Telepon? Dasar si bakaneki,bagaimana dia tahu nomorku?" Kata Sona membaca tulisan di handphone miliknya.
"Jadi itu dari Kaneki ya? Berikan padaku Sona." Tanpa menunggu perintah 2 kali Sona langsung menyerahkannya ke Okaa-sama nya.
"Moshi-moshi! Apa benar ini nomor Sona Sitri?"
'Cukup sopan. Berbeda dengan panampilannya.'
"Iya, ini nomor Sona Sitri."
"Kalau begitu bisa saya bicara dengannya, Obaa-san?"
'D-dia memanggilku Obaa-san? Apa aku terlihat setua itu!'
"Hey! Kaneki-Boy! Aku menantangmu! Jika kau bisa mengalahkanku maka kau bisa bicara dengan Sona."
"Menantang?"
"Pion D4." Setelah mendengar kode yg tak asing baginya Kaneki tahu bahwa dia sekarang sedang di tantang bermain catur tanpa bertatap muka maupun melihat bidak dan papan.
"Catur? Pion F6."
"Pion E4. Waktu berpikir hanya 10 detik jika lebih dari itu maka kalah."
"Baiklah Obaa-san. Pion D5."
"Jangan memanggilku Obaa-san! Aku belum setua itu. Pion makan D5."
"Tapi bukankah anda adalah Ibunya Sona? Pion G5."
"Kaneki-kun! Perempuan akan marah jika kau menanyakan umurnya!" Sona yg mendengar Kaneki secara terang-terangan membahas soal umur di depan wanita langsung memperingatkannya.
"Oh! Sona? Kenapa dengan Okaa-san mu?"
"Entahlah."
"Pion F4." Tak membiarkan mereka berdua berbicara lebih banyak, Ellie kembali memotong percakapan mereka dengan gilirannya.
"Pion makan F4."
"Knight C3."
"Pion E5."
"Pion makan E5."
"Pion makan E5."
"Knight B5."
"Bishop C5."
"Pion D6."
"Pion makan D6."
"Knight makan D6, Check!" Dan Check pertama ini jatuh ke tangan Ibu Sona tapi itu belum cukup untuk mengalahkan Kaneki.
"King F8."
'Dia tidak memakan knight ku? Kelihatannya musuhku kali ini cukup sombong.' Merasa sedikit diremehkan oleh lawannya,wanita yg bernama Ellie Sitri itu sedikit jengkel.
"Bishop B5."
"Pion F3."
"Pion makan F3."
"Knight F6."
"Knight C4."
"Queen D7."
"Pion A4."
"Pion E4."
"Pion makan E4."
"Knight makan E4."
'Dia mengincar rook? Tidak akan kubiarkan.'
"Pion H4."
"Bishop makan G1."
"Rook makan G1."
"Knight C3. Castling dan Check."
'A-apa? Castling dan Check secara bersamaan?'
"Queen E2."
"Queen makan E2,checkmate."
"Heh?
"Aku bilang Checkmate Obaa-san!"
"Checkmate?"
"Saat Obaa-san tadi memerintahkan untuk menutupi check dari Queen, aku punya sebuah Knight yg siap di depan sedangkan Obaa-san malah melakukan kesalahan dengan memindahkan Queen dari tempat asalnya untuk menutupi check dari Queen ku tapi itu artinya Obaa-san tidak punya bidak lain untuk memakan Queen ku selain raja, jadi jika saya memakan bidak Queen Obaa-san dengan Queen ku maka checkmate."
"Haaah... aku kalah dari bocah ingusan... ini Sona." Kata Ellie Sitri disertai hembusan nafas keputus asaan.
"Apa itu artinya..."
"Belum! Bisa saja dia tadi menggunakan papan catur untuk melawanku tadi lewat telepon."
"Haaah... terserah Okaa-sama sajalah."
"Etto... Sona-san! Apa aku membuat kesalahan?"
"Tidak Kaneki-kun. Kau menyelamatkanku sekali lagi."
"Menyelamatkan? Aku baru saja mengalahkan Okaa-san mu dalam bermain catur bahkan tanpa papan dan bidak. Bagaimana bisa disebut menyelamatkan?"
"Itu... Ra-Ha-Si-A. Ngomong-ngomong bagaimana dengan lagu untuk tugas dari Kurenai-sensei?"
"Aku sudah membuatnya. Kalau kau?"
"Aku juga. Sebenarnya ada apa sehingga kau menelponku jam segini?"
"Sebenarnya aku mau bertanya padamu tentang sebuah hal yg sangat penting, jawablah dengan jujur."
'Ber-bertanya padaku? Menjawab jujur? Bukankah ini seperti adegan dalam anime-anime romance dimana sang hero sedang menyatakan cintanya kepada sang heroine.'
"B-baik."
"Hmp... haaaah... Bagaimana caranya meruntuhkan gedung yg sangat kokoh dengan bom?"
"Heh?"
"Bagaimana caranya meruntuhkan gedung yg sangat kokoh dengan..."
Tut... tut...
"Dasar Bakaneki itu." Komentar Sona dengan suara kecil dan wajah yg sangat merah atas perbuatan Kaneki tadi. Padahal dia tadi telah membayangakan Kaneki adalah pangeran berkuda yg menyelamatkannya dari ibu tiri yg kejam.
Meanwhile in Naruto Side
"Ditutup? Mungkin dia ingin tidur cepat hari ini." Setelah mengatakan itu Naruto kembali melanjutkan aktivitas memasakanya meski dengan bahu yg tertembak.
~.~.~.~
Chap 8: END!
A/N: hahaha... sesuai dugaan ane pasti ada yg nge flame lime nya :) alasan ane bikin lime yg kaya gitu adalah:
·Gak kepikiran gimana caranya biar lawan maennya orgasme kalo cuman diraba-raba/dijilat doank.
Sebenarnya bagian kushina itu cuman side aja dan harusnya gak usah terlalu dipikirin karena saya cuman pengen ngebuat kesan kuat keluarga yg "aneh" :v tahu keluarga Hideyoshi Kinoshita kan? Ini plesetannya.
Merusak moral? Sebenernya sih saya sadar itu tapi logika saya berkata lain. Fic ini rated M dan biasanya usia orang yg udah masuk kategori boleh baca fic M itu udah bisa membedakan mana yg baik dan buruk jadi saya langsung tancap gas. Dan soal peringatan sebenarnya saya pas di chap 6 kelupaan nulis. #khilaf -_-
Kalo gitu jadinya saya gak akan bikin lime maupun lemon lain selain di chap 7 buat fic ini, jadi yg baca fanfic cuman buat LEMON maupun LIME saya saranin berhenti baca fic ini karena saya gak akan buat lagi.
Nano, Log Out
Chap 9: My World: Sing (It's Time For Singing!)
