#Naruto POV
Seseorang pernah berkata bahwa bumi dipenuhi oleh kebencian. Manusia adalah makhluk yang tidak dapat saling memahami.
Disclaimer : Naruto belongs to Masashi Kishimoto
Author : NikStar96
Pairing : NaruHina
Genre : Action, Sci-Fi, Romance
Warning: Typo(s), AU, mungkin sedikit OOC
Chapter 3: Scar in The Heart
#Naruto POV
"Naruto-kun?"
"Suara itu? Hinata?" Batinku.
Aku tak menyangka dia menemukanku disini. Dia berjongkok dihadapanku. Aku melirik wajahnya sebentar. Lalu aku menundukkan kepalaku untuk menyembunyikan wajahku.
"Naruto-kun?"
Aku mendengarnya memanggilku. Suaranya terdengar lemah. Aku tidak bisa. Aku tidak mau meliriknya. Aku malu dengan keadaanku sekarang.
Sesaat aku tidak mendengar suara Hinata lagi. Mungkin dia kecewa denganku. Mungkin dia sudah pergi meninggalkanku. Itu lebih baik daripada menunjukkan wajahku kepadanya..
"Naruto-kun, ayo kita pulang."
Aku mendengar suara Hinata lagi. Suara yang penuh perasaan. Suara yang menenangkan jiwaku. Tetapi dia mengucapkan kalimat itu. Kalimat yang membuat pertahananku runtuh. Sudah lama aku tidak mendengar kalimat itu darinya. Suaranya begitu lembut.
Aku mengangkat kepalaku perlahan mencoba melirik wajahnya. Dia tersenyum tulus kepadaku.
Namun aku melihat butiran air mata terjatuh dan membasahi pipinya. Aku merasa bersalah.
"Hinata." Aku memanggilnya dengan lembut. Kemudian aku membelai wajahnya dan menyeka air matanya. Wajahnya begitu mulus dan lembut tanpa ada cacat sedikitpun. Ada rasa hangat di hatiku ketika menyentuh wajahnya.
Aku bangkit berdiri. Aku juga mengulurkan tangan kiriku untuk membantu Hinata berdiri.
"Iya, Hinata. Tapi sebelum itu, aku ingin pergi ke suatu tempat. Maukah kau menemaniku?" Kataku lembut.
Aku melihat ekspresi bahagia Hinata. Sudah lama aku tidak melihat ekspresi itu.
"Iya, Naruto-kun. Kita mau pergi kemana?" Tanyanya.
Setelah mengatakan lokasi yang ingin kutuju, kami berangkat bersama-sama. Sebelum itu, aku melepaskan blazer dan kemeja sekolahku sehingga aku hanya memakai kaos oblong hitam.
Selama perjalanan, Hinata menanyakan kenapa blazer dan kemeja sekolahku robek-robek. Aku hanya menjawab bahwa aku dihajar oleh sekelompok Yakuza, kemudian seseorang menolongku dan menyuruhku untuk kabur.
Satu jam kemudian, kami sampai di sebuah rumah kecil yang sangat sederhana.
*Ting Tong*
"Iya tunggu sebentar." Terdengar suara lemah seorang nenek.
"Ada perlu apa, anak muda?" Tanya nenek itu.
"Maaf mengganggu Baa-san. Kami hanya ingin menyampaikan sesuatu kepada anda." Kataku hormat.
"Baiklah. Silahkan masuk dulu." Kata nenek itu sambil mempersilahkan kami masuk.
Setelah masuk, aku menceritakan apa yang terjadi dengan Sasori. Tentu aku mengubah sedikit alur ceritanya. Aku mengatakan bahwa saat itu aku dihajar oleh sekelompok Yakuza. Lalu Sasori datang menolongku dan menyuruhku melarikan diri. Aku ingin membantunya, tetapi dia menyuruhku untuk memberikan foto ini pada keluarganya. Aku hanya berlari dan tiba-tiba terjadi ledakan besar di hotel dekat sekolah.
Setelah mendengar itu, nenek itu syok. Dia hanya bisa menangis. Dia tidak sanggup memikirkan cucunya yang sudah lama menghilang ternyata sudah tiada.
Setelah itu, kami dipersilahkan menemani nenek itu untuk bertemu dengan ibu Sasori.
Kondisinya sangat memprihatinkan. Rambutnya kusut tidak terawat. Wajahnya kusam. Tubuhnya begitu kurus.
Setelah nenek itu menceritakan apa yang terjadi dengan Sasori serta memberinya foto itu, matanya membulat seolah-olah tidak mempercayainya. Ia menangis dan berteriak histeris setelah mendengar cerita itu. Ia kemudian melihat foto itu. Foto yang memperlihatkan kenangannya bersama suami dan anaknya di Pantai Kuta, Bali.
"Akhirnya, dia menangis setelah sekian lama." Kata nenek itu.
Aku juga melihat kesedihan Hinata. Dia bahkan mengeluarkan air mata.
Ada sesuatu yang mengganjal di hatiku. Aku juga merasa sedih. Aku ingin sekali menangis. Tetapi air mataku tidak ada yang keluar. Kesedihan ini juga dapat hilang dengan cepat. Kenapa aku ingin sekali menangis? Kenapa aku bersedih atas kematian musuhku?
-oOoOo-
Setelah memberikan foto itu kepada keluarga Sasori, kami bergegas untuk pulang. Aku menawarkan diri untuk mengantar Hinata sampai ke rumahnya. Namun sebelum sampai dirumahnya, perutku berbunyi. Aku merasa lapar. Hinata yang mendengar suara perutku menawarkanku bekalnya. Dia mengajakku untuk duduk disebuah taman agar aku bisa mudah memakannya.
"Buka mulutmu dong!" Seru Hinata sambil menyuapi bento kepadaku.
Aku menyantap bekal Hinata. Seperti biasa, masakannya sungguh lezat. Terkadang, aku mengisengi Hinata saat menyuap makanan kepadaku.
Beberapa saat setelah menghabiskan bekal buatan Hinata, tiba-tiba Hinata membuka pembicaraan.
"Naruto-kun, bolehkah aku bertanya sesuatu?" Tanya Hinata
"Ada apa, Hinata?"
"Anu.. Kamu jangan marah, ya. Saat sekolah libur selama tiga minggu, apa yang terjadi dengan Naruto-kun? Anu... Maksudku tangan kananmu..."
Mendengar pertanyaan Hinata itu membuatku terasa sakit kepala. Sesaat memori-memori buruk itu terus menghantui pikiranku dan tervisualisasi di mataku.
-oOoOo-
##Flashback##
-Hari Ke-3 dari 21 Hari-
Aku dan orang tuaku sedang berada di mobil untuk pulang setelah perjalanan kami selama dua hari di Hakone. Namun aku merasa aneh. Ayah mengebut mobilnya dengan kecepatan yang tidak biasa. Hal itu tentu saja menggangguku.
"Tou-chan? Kenapa Tou-chan ngebut-ttebayo?" Tanyaku.
"Tou-san hanya ingin kita cepat pulang, Naruto." Jawab ayah.
"Tapi pelan dikit dong. Aku merasa mual jika kecepatannya seperti ini-ttebayo." Kataku protes.
Sepertinya ayah tidak mendengarkanku. Dia terus mengebut. Namun tiba-tiba...
"Tou-chan, awas. Di depan ada orang."
Belum sempat ayah mengeremkan mobil, mobil kami menabrak orang itu. Tetapi ada yang aneh. Kenapa? Kenapa malah mobil kami yang hancur?
*CRASSGH*
*BRRAG*
*PRANNG*
Mobil kami terlempar dan berguling-guling di jurang.
*JLEB*
"AAAAAAARRRRRRRRRRRGGGGHGH!"
Tanganku, tanganku. Aku tidak bisa merasakan tangan kananku. Yang kurasakan adalah rasa sakit yang mengerikan. Aku tidak berani melihat tangan kananku. Tapi rasa penasaran membuatku melirik perlahan tangan kananku. Namun, sebelum aku bisa menyimpulkan apa yang terjadi pada tangan kananku...
*CRRRAAAASSSHHH*
Aku merasa mobil kami menabrak pohon dengan kuat.
"Naruto, bertahanlah!"
"..ruto?"
"...to?"
Aku melihat ayah memanggilku, tetapi kesadaranku mulai menipis. Pandanganku menggelap. Aku tidak merasakan apa-apa lagi.
-oOoOo-
-4 Hari Kemudian-
Aku membuka mataku yang berat. Badanku terasa kaku. Seperti koma selama bertahun-tahun.
Aku mencoba melihat sekitar. Tapi aku merasa aneh. Aku tahu bahwa aku memakai kacamata. Tetapi kenapa semuanya kabur?
Dengan perlahan, aku melepas kacamataku dengan tangan kiriku. Setelah melepaskannya, aku dapat melihat dengan jelas. Tapi yang kulihat hanyalah warna hijau di sekelilingku.
Aku melakukan aktivitas memasang dan melepaskan kacamata sebanyak tiga kali untuk memastikan kebenaran. Dan kesimpulan yang kudapat adalah aku tidak membutuhkan kacamata lagi.
Sejenak aku tersadar bahwa aku berada di sebuah kapsul yang mengeluarkan asap berwarna hijau. Aku menggerakkan tangan kananku untuk membuka pintu. Tetapi. Aku merasa aneh lagi. Aku tidak dapat merasakan tangan kananku. Perlahan aku melihat tangan kananku.
Aku hanya terkejut. Mataku seolah copot melihatnya.
"AAAAAAAAAAAAAGGGGHHHHH!"
Aku berteriak histeris. Tangan kananku hilang. Aku mengingat sekilas bahwa pecahan kaca mobil telah memotong tanganku. Dan sekarang tanganku digantikan dengan benda aneh.
Setelah membuka pintu itu, aku terbatuk-batuk.
"Uhuk. Uhuk." Aku merasa seperti bernapas untuk pertama kalinya setelah sekian lama. Saat aku berusaha untuk bernapas normal...
"Menyerahlah, Kushina!"
Aku mendengar suara seseorang menyebut nama ibuku. Suaranya terdengar tidak bersahabat.
*TRANG TRANG TRANG*
"Kau pikir aku akan menyerah-ttebane? Tidak akan."
*TRANG TRANG*
"Suara apa itu? Seperti suara benturan logam." Pikirku.
Aku berjalan menuju asal suara itu. Sepertinya ada di ruang keluarga.
"KYYAAA."
"Itu suara Kaa-chan." Pikirku.
Akupun mempercepat langkahku. Betapa terkejutnya aku saat melihat posisi ibuku yang terpojok dengan seorang pria yang menutup mulutnya dengan perban yang mengarahkan pedang besarnya ke arah jantung ibu.
"Sudah berakhir."
Dia ingin menusuk ibu. Dengan cepat aku berlari kearahnya berusaha untuk menghentikan perbuatannya.
Ada perasaan yang aneh. Gerakan kami seolah melambat. Entah apa yang terjadi. Waktu bergerak begitu lambat. Aku melihat gerakan orang itu begitu lambat, seperti efek slow motion. Tetapi aku berusaha mempercepat langkah kakiku. Perlahan, aku dapat mengejar kecepatan ayunan pedang orang itu. Aku berlari. Berusaha untuk menghentikan pria mulut perban itu.
*JLEB*
Seketika dadaku menghangat. Waktu perlahan-lahan kembali normal. Dan aku merasakan sakit yang sangat menusuk didadaku. Tetapi aku hanya merasakan rasa sakit ini sementara saja. Setelah beberapa saat, rasa sakit ini hilang. Namun tubuhku kaku. Aku membatu dan tidak bisa bergerak.
Perlahan aku melihat mata pria mulut perban dan ibuku. Mereka hanya melotot kepadaku. Aku baru sadar.
"NARUTOOOOO..." Aku mendengar ibuku berteriak.
Dia telah berhasil menusuk jantungku.
"Uugggghhh." Aku mengerang kesakitan.
*jrrrssshh*
Pria mulut perban yang awalnya kaget itu mencabut perlahan pedangnya dari tubuhku.
Setelah mencabut pedang itu, dia memegang wajahku.
*srrt srrt srrt srrt srrt srrt*
Dia menggoreskan pedangnya ke pipiku. Anehnya, aku tidak dapat merasakan sakit atau perih.
Dia menggores pipiku sebanyak 6 kali, mulai dari pipi kanan dan kiriku. Setelah melakukan itu, dia melarikan diri.
Kesadaranku menipis. Semua perlahan-lahan menggelap. Aku ambruk dan tidak sadarkan diri.
-oOoOo-
-5 Jam Kemudian-
Aku membuka mataku perlahan.
"Naruto-kun, kamu sudar sadar?"
Aku langsung terbangun setelah mendengar suara itu.
"Siapa itu?" Tanyaku.
"Kamu bisa melihat layar monitor yang berdiri di sebelah kirimu, Naruto-kun."
Aku menghadapkan wajahku ke arah kiri. Aku melihat sebuah monitor aneh.
"Salam kenal, Naruto-kun. Namaku Katsuyu."
"Uwaaaaa." Aku terjatuh karena kaget.
Sebuah monitor yang bisa berbicara? Dia seperti robot yang kurus karena tubuhnya hanya terbuat dari tiang. Kepalanya adalah layar monitor LCD sedangkan tangannya adalah kabel yang dapat memanjang. Di bagian bawahnya terdapat roda yang digunakan untuk bergerak.
Setelah mengumpulkan ketenangan, aku menyadari sesuatu.
"Kenapa aku belum mati?"
Aku menyentuh dadaku. Tidak ada lubang sama sekali. Setelah menyentuh dadaku, tiba-tiba aku mengingat sesuatu.
"Kaa-chan? Dimana Kaa-chan?" Tanyaku.
"Ibumu sudah meninggal, Naruto-kun." Kata Katsuyu.
"Apa? kau pasti bercanda." Kataku kaget.
"Kamu pasti akan mengerti dari bekas luka di dadamu." Katanya lagi.
Aku langsung menuju sebuah cermin untuk memastikan sesuatu. Dan aku melihat bekas luka di dadaku. Bekas luka yang besar dan aneh. Aku juga menyadari perubahan fisikku yang drastis.
Tubuhku. Tubuhku terlihat lebih berotot dari biasanya. Padahal dulu aku begitu kurus.
Wajahku. Sekarang terdapat tiga pasang bekas luka gores. Aku terlihat seperti siluman rubah.
Dadaku. Lubang di dadaku menutup? Walaupun ada sedikit jahitan, tetapi bekas luka ini terlihat seperti disatukan daripada dijahit.
"Kushina-sama, telah mentransplantasikan jantungnya denganmu." Kata Katsuyu.
Mendengar pernyataan itu, aku kaget. Aku tidak percaya dengan perkataannya.
"Itu.. Itu bohong kan?" Tanyaku menyangkal perkataannya.
"Itu benar, Naruto." Kata seseorang.
Aku melihat tangan kanan palsuku yang ternyata merupakan sumber suara itu. Ternyata dia bisa berbicara.
"Salam kenal. Namaku Kurama." Katanya.
"Aku tidak perlu tahu namamu. Kenapa Kaa-chan melakukan itu?" Tanyaku.
"Jantungmu rusak setelah orang itu menusukmu. Setelah dia kabur, ibumu membawamu kesini. Kami mengatakan bahwa hidupmu tidak akan lama lagi. Ibumu memohon kepada kami untuk mentransplantasikan jantungnya kepadamu. Kami tentu melakukannya. Katsuyu mentransplantasikan jantung ibumu ke dalam tubuhmu dengan hati-hati. Kemudian Katsuyu menjahit dadamu. Untuk mempercepat penyembuhanmu, aku mengirimkan sinyal ke Nanomachine yang berada dalam peredaran darahmu agar dapat mengumpulkan sel-sel tubuhmu ke dalam satu titik dan menggunakan sel-sel itu untuk menutup lukamu."
Aku tidak dapat berkata apa-apa. Hanya kesedihan yang menusuk dadaku. Memang tidak berdarah. Tetapi dadaku terasa sakit.
"Jadi, semua itu, bukanlah mimpi?"
#Normal POV
"Maaf karena aku tidak dapat melindungimu. Karena baru pertama kali terkoneksi dengan Nanomachine yang ada di tubuhmu, aku tidak dapat langsung menyala." Kata Kurama.
Naruto tidak menghiraukan perkataan Kurama. Dia duduk dilantai dan menundukkan kepalanya.
"Naruto-kun, kamu harus pergi dari rumah ini. Aku akan meledak. Kamu lihat kapsul itu? Itu adalah transportasi yang bisa membawamu langsung ke rumahmu yang satu lagi." Kata Katsuyu.
"Apa maksudmu?" Tanya Naruto.
"Aku adalah AI Gear. Rumahmu adalah tubuhku. Serangan tadi menyebabkan banyaknya kerusakan di bagian mesinku. Aku diprogram untuk meledak apabila Kushina-sama meninggal. Saat sumber tenagaku yaitu Nanomachine Kushina-sama mati, program ini akan aktif. Aku akan meledak. Semua yang berada didalam rumah ini akan lenyap, termasuk laboratorium ini serta informasi-informasi yang ada dirumah ini."
"Naruto, kita harus pergi." Kata Kurama.
"Tidak. Biarkan aku menyusul orang tuaku. Jika ayahku tidak dapat melindungi ibu, ayahku juga pasti sudah tiada kan?" Kata Naruto.
"Naruto-kun, orang tuamu mengorbankan dirinya demi dirimu. Apa kamu mau menyia-nyiakan pengorbanan mereka? Pria bermulut perban tadi sudah membuat tangan kananmu terpotong dan harus diamputasi. Dia juga sudah menghancurkan keluargamu. Apa kamu tidak ingin membalas dendam? "
Naruto yang mendengar itu sontak bangkit. Dia mengepalkan tangan kirinya dengan kuat.
"Aku akan membunuhnya. Aku pasti akan membunuhnya." Kata Naruto dengan ekspresi yang tajam.
"Jika begitu, ambillah ini!" Kata katsuyu yang mengambil sebuah benda seperti flashdisk dengan tangannya.
"Apa ini?"
"Ini adalah informasi yang sudah dikumpulkan olehku, Minato-sama dan Kushina-sama. Kamu juga dapat melihat berbagai video yang berisi informasi. Dan data terbaru terisi di disk itu adalah, pesan terakhir Kushina-sama."
Naruto merasa sakit di dada saat Katsuyu mengatakan pesan terakhir ibunya.
"Aku mengerti." Kata Naruto sambil berlari menuju sebuah kapsul yang ditunjuk Katsuyu.
"Tunggu, Naruto-kun. Ada satu lagi yang ingin aku beri. Terimalah ini." Kata Katsuyu sambil memberikan sebuah benda.
"Ini? Pisau lipat kepunyaan Tou-chan." Naruto menerima sebuah pisau lipat.
"Kushina-sama menggunakan pisau lipat Minato-sama pada pertarungan terakhirnya tadi. Pisau itu sangat efisien digunakan ketika bertarung. Pisau itu juga memiliki energi listrik sebesar 4500 kilovolt. Kamu dapat menggunakannya sebagai stun gun." Kata Katsuyu menjelaskan.
Naruto menggenggam kuat pisau lipat itu.
"Terima kasih, Katsuyu. Ini sangat berharga bagiku. Baiklah. Aku berangkat." Kata Naruto sambil tersenyum.
Naruto berlari masuk ke kapsul itu.
"Aku pergi, Katsuyu." Kata Naruto sambil menekan tombol.
"Berhati-hatilah, Naruto-kun." Kata Katsuyu.
*BWUNGGG*
Kapsul itu berjalan menuju rute bawah tanah menuju rumah kedua keluarga Naruto.
*DUUUAARRR*
Suara ledakan terdengar bergema sampai ke telinga Naruto. Naruto hanya menutup mata. Dia sudah mengikhlaskan rumahnya.
"Rumahku, keluargaku, aku tidak menyangka akan jadi seperti ini. Padahal begitu menyakitkan. Begitu menyedihkan sampai terasa ke sumsum tulang belakangku. Aku ingin menangis. Tetapi kenapa? Kenapa air mataku tidak keluar setetespun?" Pikir Naruto.
-oOoOo-
-45 Menit Kemudian-
*BWUNGGSssh*
"Kita sudah sampai, Naruto." Kata Kurama.
Naruto keluar dari kapsul itu. Naruto takjub dengan ruangan itu. Ruangan itu memiliki layar monitor besar, laboratorium, serta berbagai jenis senjata api terpajang disitu.
"Ini dimana?" Tanya Naruto.
"Ini adalah ruangan rahasia yang berada di rumah keduamu. Informasi yang terdapat disini cukup banyak." Kata Kurama.
"Aku mengerti. Karena itulah hanya beberapa orang yang mengetahui rumah ini. Ayah selalu bilang agar tidak memberi tahu lokasi rumah ini. Tapi aku malah memberi tahu Hinata rumah ini karena aku tidak mau dibilang sombong olehnya. Aku lebih sering tinggal disini karena rumah kecil ini juga tidak begitu jauh dari sekolah. Ini adalah rumah cadangan yang digunakan apabila Katsuyu meledak." Kata Naruto.
"Ngomong-ngomong, kau itu apa?" Tanya Naruto lagi.
"Aku adalah AI Gear. Bisa dibilang, aku adalah tangan kanan palsu ciptaan ayahmu." Kata Kurama.
"AI Gear?" Gumam Naruto Heran.
"AI Gear adalah teknologi kecerdasan buatan yang dibuat sebagai senjata pelengkap kekuatan radiasi."
"Radiasi?" Gumam Naruto lagi.
"Kau pasti tahu bahwa Amerika pernah menghancurkan Hiroshima dan Nagasaki dengan bom nuklir. Penduduk yang masih hidup disana menerima radiasi itu dan memberikan mereka kekuatan. Tetapi kekuatan radiasi itu tidak dapat ditahan oleh tubuh manusia biasa karena radiasi itu bermutasi dalam tubuh manusia. Untuk menahan kekuatan radiasi itu, diciptakan suatu teknologi yang bernama Nanomachine. Nanomachine itu diinjeksikan ke tubuh manusia dan menyebar melalui aliran darah manusia. Alat itu dapat mengumpulkan, menahan, dan menyebarkan radiasi itu untuk memberikanmu kekuatan. Kau juga pasti merasakannya." Kata Kurama.
"Ya. Aku merasa lebih kuat. Panca indraku semakin tajam. Bahkan mata minusku hilang." Kata Naruto
"Aku adalah AI Gear yang bereaksi terhadap Nanomachine-mu. Jika aku terpisah darimu dalam jarak tertentu, aku akan padam seketika. Jika kau mati, mesinku serta memori yang ada dalam diriku akan rusak. Dengan kata lain, aku juga akan mati." Kata Kurama.
Naruto mengerti akan penjelasan Kurama. Iya pun berjalan ke sebuah monitor. Disana ada sebuah video player. Naruto memasukkan flashdisk yang diterimanya untuk melihat video pesan terakhir ibunya.
-oOoOo-
-Keesokan Harinya-
Sesuai instruksi yang dikatakan Kushina di video yang dia tonton, Naruto berjalan menuju kediaman keluarga Hyuga tanpa Kurama. Kushina mengatakan bahwa dia dan Minato belajar bela diri oleh ayah Hinata, Hyuga Hiashi. Naruto baru mengetahui bahwa ayah Hinata adalah seorang Prajurit Veteran Jepang yang menguasai teknik bertarung jarak dekat dan taktik khusus yang disebut dengan Gentle Fist. Teknik yang merupakan ciptaan orisinil darinya.
Naruto sampai di gerbang kediaman Hyuga.
"Naruto? Apa yang terjadi dengan tangan kananmu?" Tanya penjaga gerbang yang Naruto kenal dengan nama Ko.
"Hanya sebuah kecelakaan, Ko-san. Apa Hinata dirumah?" Tanya Naruto.
"Ti..tidak, Naruto. Dia sedang liburan bersama temannya." Kata Ko.
"Oh, begitu ya?" Respon Naruto.
"Jika kau perlu menemui Hinata-sama, aku akan menyampaikannya untukmu." Tawar Ko.
"Tidak perlu, Ko-san. Aku hanya ada keperluan dengan Hiashi-san. Tolong jangan pernah beri tahu Hinata soal kedatanganku, ataupun tentang tangan kananku." Kata Naruto.
"Tapi?"
"Aku mohon, Ko-san." Mohon Naruto sambil mengepalkan tangan kirinya.
Ko yang melihat ekspresi Naruto yang serius hanya bisa menghela napas.
"Fuh. Baiklah Naruto. Aku tidak akan memberitahukan apapun kepada Hinata. Mari. Aku akan mengantarmu bertemu Hiashi-sama."
Naruto dan Ko akhirnya menuju ke tempat ayah Hinata. Setelah sampai disana, Hiashi mempersilahkan Ko untuk meninggalkan mereka.
Naruto menjelaskan apa yang terjadi kepada Hiashi tentang tangan kanan, serta nasib keluarganya. Hiashi yang mendengar itu pada awalnya shock. Dia menyimak cerita Naruto dengan serius. Setelah mendengar semua kisah Naruto, Naruto memohon kepada Hiashi agar dia mau melatih Gentle Fist kepada Naruto.
"Baiklah, Naruto. Aku akan melatihmu. Apa kau mau memulainya besok atau sekarang?" Tanya Hiashi.
"Sekarang, Hiashi-san." Seru Naruto.
"Sudah diputuskan." Gumam Hiashi sambil tersenyum.
Gentle Fist adalah teknik bertarung militer yang diciptakan oleh Hiashi sendiri. Fokus dari teknik ini sendiri bukan untuk menghajar lawan, tetapi lebih berfokus kepada bagaimana seseorang dapat mengunci persendian lawan, membuang senjata lawan, menjatuhkan lawan ke tanah, serta menyerang area vital manusia seperti mata, leher, atau organ genital manusia. Teknik ini dapat digunakan dengan tangan kosong, senjata api, pisau, atau kombinasi dari semuanya.
-oOoOo-
-Hari Ke-9 dari 21 Hari-
Sehari berlalu setelah kejadian itu, berita tentang meledaknya sebuah rumah besar yang tidak diketahui pemiliknya tersebar di berbagai media. Polisi tidak dapat mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Ramainya pembicaraan tersebut membuat teori-teori konspirasi bermunculan.
Naruto tidak menghiraukan hal itu. Dia terus berlatih dan berlatih.
Naruto berlatih dengan Hiashi selama seminggu. Naruto dapat menguasai teknik yang diajarkan Hiashi dengan cepat.
Selain Gentle Fist, Hiashi juga mengajarkan Naruto bagaimana menggunakan senjata api dengan benar. Hiashi sangat kagum dengan perkembangan Naruto yang begitu pesat.
-oOoOo-
-Hari Ke-14 dari 21 Hari-
*DUGGH*
*KREEK*
Naruto memukul perut lawan berlatihnya, memegang tangan kanannya, dan berbalik untuk mencekik lehernya. Dia menjatuhkan senjata replika AK-47 yang dipegangnya. Kemudian menjatuhkan lawan berlatihnya ke tanah.
*DUAGGH*
"AAARRGGH." Teriak lawan berlatih Naruto kesakitan.
Setelah menjatuhkan lawan berlatihnya, Naruto membidik lawan berlatihnya dengan Handgun yang dipegang dengan tangan kiri.
Hiashi melihat heran posisi Naruto.
"Tak kusangka dia menguasai Gentle Fist hanya dalam waktu seminggu. Tapi posisi itu. Biasanya orang memegang pisau dengan tangan kirinya. Tetapi dia malah menggigit pisau itu dengan mulutnya dan menggunakan tangan kiri untuk memegang sebuah Handgun." Pikir Hiashi.
Hiashi berjalan ke arah Naruto.
"Naruto, sepertinya tidak ada lagi yang perlu kuajarkan padamu. Kau lulus. Kau hanya perlu mengembangkan teknikmu."
Naruto menghela napas lega.
"Arigatou Gozaimasu." Kata Naruto Hormat sambil menundukkan badannya.
Setelah itu, Naruto bersiap untuk meninggalkan kediaman Hiashi. Hiashi yang melihat Naruto bersiap untuk pergi menghampiri Naruto.
"Naruto, apakah kau akan melakukan sesuatu yang ceroboh?" Tanya Hiashi.
"Aku tidak akan melakukan sesuatu yang ceroboh, Hiashi-san. Aku tidak ingin mati. Aku hanya akan menjalankan tujuanku. Itu saja." Kata Naruto.
Hiashi melihat Naruto dengan khawatir.
"Fuh. Saat pertama kali Hinata membawamu kesini, kesan pertamaku tentangmu adalah bahwa kau adalah anak yang bodoh, konyol, ceroboh, dan terlihat suka berbuat onar. Tetapi setelah beberapa lama memperhatikan kedekatan kalian serta mendengar cerita Hinata tentangmu, aku menyadari bahwa kau adalah anak yang baik. Minato dan Kushina, mereka adalah temanku. Aku sangat berduka dengan kematian mereka."
"Hehehe. Anda tidak perlu khawatir. Aku tetaplah Naruto. Tapi aku tidak akan berbuat ceroboh." Kata Naruto sambil tersenyum sumringah.
"Huh." Hiashi menghela napas. Tidak begitu yakin dengan perkataan Naruto.
"Hiashi-san, sebelum aku pergi, aku mohon sekali lagi jangan pernah memberitahukan apapun yang terjadi padaku. Jangan pernah memberitahu kedatanganku disini. Untuk tangan kananku, biarkanlah dia mengetahuinya sendiri. Dia adalah sahabatku yang sangat berharga. Aku tidak ingin dia terlibat dengan masalahku." Kata Naruto.
"Aku mengerti." Ujar Hiashi.
Setelah itu, Naruto berjalan meninggalkan kediaman Hyuga. Perlahan-lahan Naruto menjauh dari hadapan Hiashi. Hiashi melihat punggung Naruto dari jauh sambil menaruh harapan kepadanya.
#Hiashi POV
"Naruto, aku tidak mengerti jalan pikiranmu sekarang ini. Dulu, aku dapat memahamimu dari perilakumu atau dari cerita Hinata. Sekarang, aku tidak dapat memahamimu lagi."
"Hinata selalu bersemangat ketika menceritakan segala sesuatu tentangmu, tentang apa yang terjadi padamu, atau tentang apa-apa saja yang sudah kalian lalui bersama. Dia bahkan pernah keceplosan mengatakan bahwa dia menyukaimu. Naruto, mungkin kau menyayangi Hinata sebagai sahabat, tetapi Hinata menyayangimu lebih dari seorang sahabat. Dia mencintaimu. Dia ingin memilikimu sebagai kekasihnya. Sebagai ayahnya, aku tentu memahami dirinya. Aku harap kau segera menyadarinya."
"Naruto, semoga kau menemukan jalan yang terbaik untukmu. Aku harap kau tidak akan dibutakan oleh balas dendam. Aku sudah menganggapmu sebagai anakku sendiri. Bahkan seperti menantuku sendiri. Karena itu, berhati-hatilah. Pulanglah dengan selamat dan kembalilah kepada Hinata, Naruto."
#Normal POV
Naruto berjalan keluar dari kediaman Hyuga. Setelah semua latihan keras bersama Hiashi, dia merasa lebih kuat dan lebih bertenaga. Dia mengepalkan tangan kirinya bertekad untuk membunuh orang yang telah menghancurkan keluarganya.
-oOoOo-
##Current Time##
#Naruto POV
"Hosh. Hosh. Hosh."
Aku kesulitan bernapas. Aku memegang dadaku. Rasanya sakit sekali setelah memikirkan kenangan buruk itu. Napasku terasa sesak. Seperti dicekik oleh seseorang yang begitu ingin membunuhmu.
"Naruto-kun, kamu kenapa? Bicara denganku. Naruto-kun?"
Aku mendengar suara Hinata. Dia memegang pundakku. Aku sadar dia menghawatirkanku. Aku berusaha menghirup napas dalam-dalam untuk mengembalikan ketenanganku.
"Fuuuuuuuhhhh"
Aku mengeluarkan napasku kuat-kuat.
"Naruto-kun? Kamu tidak apa-apa kan?" Tanya Hinata khawatir.
"Tidak apa-apa, Hinata. Asmaku kambuh lagi. Hehehe." Kataku menenangkan Hinata.
#Hinata POV
Asma? Sejak kapan Naruto-kun punya asma?
"Syukurlah. Aku sangat khawatir, Naruto-kun. Kamu sekarang terlihat seperti kakek-kakek saja. Hihi." Kataku sambil tertawa kecil mencoba menyembunyikan kecurigaanku.
"Mungkin aku memang sudah tua, Hinata." Jawabnya.
Aku tahu pasti ada sesuatu yang dia sembunyikan dariku.
"Naruto-kun, kamu belum menjawabku." Kataku mengingatkannya.
"Hehe. Tidak, Hinata. Ini hanya kecelakaan saja." Jawabnya.
Apa aku tidak dipercayainya? Dia mempunyai masalah dan dia menyembunyikannya dariku. Apa dia tidak mempercayaiku? Kenapa, Naruto-kun?
"Tapi kenapa? Kenapa kamu berubah? Kenapa kamu begitu dingin? Dan kenapa kamu menjauhiku?" Kataku kesal.
"Soal itu... Hinata, apa kau marah?" Tanyanya.
Aku tidak menjawab pertanyaan Naruto-kun. Aku hanya membuang muka. Aku tidak ingin melihat wajah Naruto-kun
"Hinata, ini tidak seperti yang kau bayangkan. Sungguh. Aku baik-baik saja." Katanya mengelak.
Setelah Naruto-kun mengelak dariku lagi, disitulah perasaan kesalku muncul. Kami sudah berteman sejak lama. Kenapa Naruto-kun tidak memberitahuku?
Namun, saat aku tidak mendengar suaranya lagi, aku perlahan meliriknya. Aku bisa melihat ekspresinya. Dia terlihat sedih. Seperti ingin menangis tetapi tidak dapat menangis.
Mungkin permasalahannya terlalu berat. Baiklah, Hinata. Kamu harus kesampingkan emosimu. Kamu harus menenangkannya.
Tapi bagaimana caranya? Apa dengan mengungkapkan perasaanku padanya, Naruto-kun akan bahagia?
Dengan malu-malu, aku mencoba menghampirinya dan berusaha menenangkannya..
#Naruto POV
*GREP*
"Eh?"
Aku merasakan perasaan yang hangat. Perasaan sakit didadaku seolah-olah diganti dengan kehangatan dan kenyamanan. Aku menyadari sesuatu.
"Hinata? Apa..."
Dia memelukku?
Pelukannya begitu hangat. Sangat menenangkan jiwaku. Sesaat aku terhanyut dalam kehangatan pelukan Hinata. Begitu nyaman dan damai. Aku sangat menyukai pelukan Hinata. Tanpa sadar, tanganku berusaha untuk meraih punggungnya. Aku berusaha untuk membalas pelukannya.
"Naruto-kun, kamu tidak perlu menanggung semua beban sendirian. Kamu pernah bilang bahwa tempatmu pulang adalah tempat dimana seseorang memikirkanmu. Apa kamu masih ingat, Naruto-kun?"
Aku mengingatnya. Kalimat itu adalah kalimat yang pernah kuucapkan pada Hinata saat ibunya meninggal untuk menghiburnya.
"Apa kamu tahu bahwa aku selalu memikirkanmu, Naruto-kun?"
Hinata, selalu memikirkanku?
"Aku selalu memikirkanmu, Naruto-kun. Aku memandangmu berbeda dari kebanyakan orang di sekolah. Menurutku, kamu adalah pria terkeren di sekolah. Kamu adalah orang yang tidak pernah menyerah akan segala hal. Dan aku sangat mengagumi Naruto-kun yang seperti itu."
Aku merasakan pelukan Hinata semakin erat.
"Naruto-kun, aku selalu memikirkanmu. Aku selalu mengagumimu. Kamu adalah panutanku."
Saat Hinata mengatakan itu, aku tersipu malu.
"Aku ingin berjalan bersamamu. Ingin selalu berada disampingmu. Ingin bergandengan tangan denganmu. Aku ingin selalu memelukmu dan menenangkan dirimu. Aku ingin menjadi sandaranmu disaat kamu sedih."
Aku terhanyut dengan perkataan Hinata. Suaranya begitu lembut dan manis. Suara yang sangat indah yang bahkan mengalahkan penyanyi seriosa papan atas sekalipun.
" Dan Aku juga... Aku... Aku juga ingin.. ingin.."
Sesaat aku mendengar Hinata terbata-bata dalam berbicara. Apa yang ingin dia katakan?
"Aku ingin menjadi milikmu, Naruto-kun."
Eh? Menjadi miliknya?
"Emm, kamu kaget ya?" Tanya Hinata.
Aku hanya terdiam. Aku berusaha untuk mengerti maksud Hinata.
"Naruto-kun. Aku ingin selalu menjadi milikmu. Aku ingin selalu bersamamu. Aku ingin terus memelukmu jika kamu sedih. Aku ingin bergandengan tangan denganmu. "
Aku merasakan kehangatan. Tapi aku tidak tahu apa artinya. Perkataannya membuatku sangat bahagia. Tetapi kenapa? Apa maksudmu, Hinata? Kenapa kau mengatakan hal itu dengan begitu lembut? Kenapa kau membuat hatiku bahagia? Dan kenapa hatiku bahagia saat mendengar semua yang kau katakan?
"Aku mencintaimu, Naruto-kun."
TBC
Buat yang masih bingung, cerita ini terinspirasi dari Kiseijuu. Wujud Kurama, si AI Gear atau lebih tepatnya tangan kanan palsu Naruto disini terinspirasi dari Kamen Rider Ryuki, yang di tangan kanannya ada alat yang bentuknya seperti naga buat masukkin kartu. Bagaimana tangan kanan Naruto bisa menembakkan peluru terinspirasi dari karakter Franklin di Hunter x Hunter. Katsuyu disini wujudnya terinspirasi dari Karen, istri komputer Spongebob. Konsep Gentle Fist dan gaya bertarung Naruto bersama Kurama disini terinspirasi dari CQC-nya Metal Gear Solid. Dan konsep Nanomachine juga terinspirasi dari Metal Gear Solid.
Untuk chapter kali ini berfokus pada masa lalu Naruto. Terima kasih buat teman-teman yang sudah mau membaca cerita saya. Jika masih ada kekurangan, saya mohon maaf yang sebesar-besarnya.
Kritik dan Saran yang membangun sangat saya harapkan.^^
