#Naruto POV

Seseorang pernah berkata bahwa bumi dipenuhi oleh kebencian. Manusia adalah makhluk yang tidak dapat saling memahami.


Disclaimer : Naruto belongs to Masashi Kishimoto

Author : NikStar96

Pairing : NaruHina

Genre : Action, Sci-Fi, Romance

Warning: Typo(s), AU, mungkin sedikit OOC

Chapter 4: Friend and Foe

#Naruto POV

"Aku mencintaimu, Naruto-kun."

Aku tertegun. Tubuhku bergetar. Napasku memburu. Hatiku berdebar. Aku merasakan denyut jantungku berdetak sangat cepat. Aku tidak bisa berkata apa-apa. Perasaan apa ini? Mengapa aku begitu bahagia mendengarnya?

*GYUUT*

Hinata semakin mempererat pelukannya. Aku merasakan kehangatan tubuhnya. Tubuhnya sedikit bergetar. Aku tidak mengerti perasaan apa ini. Yang kuketahui adalah aku senang mendengar pengakuan Hinata.

"Hinata, apa maksudmu?" Tanyaku pelan.

Hinata terdiam sejenak memikirkan sesuatu. Kemudian dengan suara lembutnya, dia berkata...

"Naruto-kun, karena kita selalu bersama, aku menyadari bahwa aku menyukaimu. Kedekatan kita menimbulkan perasaan khusus kepadamu. Semakin lama perasaan ini berkembang, dan aku mengetahui bahwa ternyata beginilah rasanya jatuh cinta. Aku sangat mencintaimu, Naruto-kun. Karena itu, aku ingin menjadi lebih dari seorang sahabat bagimu. Aku ingin menjadi milikmu sebagai kekasihmu, Naruto-kun. Aku akan selalu ada disampingmu. Aku akan selalu memelukmu. Aku akan menjadi sandaranmu jika kamu ingin menenangkan diri dari semua masalahmu. Aku akan menjadi tempatmu untuk pulang. Karena itu, kamu tidak perlu menanggung semua bebanmu sendirian. Tidak ada yang perlu kamu sembunyikan, Naruto-kun. Aku akan menjadi pendengar yang baik bagimu. Aku akan bersamamu dalam menghadapi berbagai masalah."

Perkataannya begitu indah. Aku merasakan kehangatan. Aku sama sekali tidak mengerti. Tetapi aku bahagia mendengarnya.

Jantungku semakin berdebar. Terus berdetak dengan cepat seperti instrumen perkusi yang sedang digunakan pada acara paduan suara, marching band, atau acara musik lainnya. Aku merasakan kebahagiaan yang sudah lama tidak kurasakan. Bahkan kebahagiaan ini tak pernah kurasakan sebelumnya. Tetapi aku tetap tidak mengerti tentang perasaan ini. Kenapa hatiku berdebar? Kenapa Hinata bisa membuatku sebahagia ini disaat aku tidak dapat merasakan sifat kemanusiaanku lagi?

Namun, sejenak aku merasakan keraguan dalam pikiranku. Aku menyadari bahwa aku masih memiliki tujuan. Tujuan yang mungkin akan menuntunku dalam kegelapan. Pikiranku berusaha untuk mengalahkan perasaanku. Maafkan aku Hinata. Maaf. Aku sungguh minta maaf.

#Hinata POV

Aku semakin mempererat pelukanku. Tapi, aku merasa Naruto-kun melonggarkan pelukannya.

"Eh?"

Naruto-kun melepaskan pelukanku?

Sejenak mata kami berpandangan. Tapi aku merasakan sesuatu yang tidak enak dari matanya.

"Ada apa, Naruto-kun?" Tanyaku khawatir.

Naruto-kun hanya diam. Dia seperti berusaha memikirkan sesuatu. Aku tidak mengerti apa yang dia pikirkan. Tapi dari sorot matanya, aku menyadari ada yang tidak beres.

"Naruto-kun? Kenapa kamu tidak menjawab?" Tanyaku lagi.

Tapi Naruto-kun tetap tidak menjawab seruanku.

Naruto-kun cukup lama dalam keadaan seperti ini. Aku merasa sepertinya dia tidak sadarkan diri. Aku khawatir jika dia benar-benar kehilangan kesadaran. Sebenarnya apa yang terjadi? Naruto-kun terlihat seperti mayat. Aku semakin takut dengannya.

"Naruto-kun? Apa yang terjadi? Kenapa kamu melepaskan pelukanku? Kamu baik-baik saja, Naruto-kun? Apa yang sedang kamu pikirkan? Tolong sadarlah! Aku takut kamu bersikap seperti ini. Ayo sadarlah, Naruto-kun! Naruto-kun?"

Aku mengatakan itu sambil memegang bahunya untuk mengguncang tubuhnya. Aku panik dengan keadaannya. Aku terus mengguncang tubuhnya agar dia memperoleh kesadaran.

Satu menit setelah mengguncang tubuhnya…

"Eh? Apa yang terjadi?"

Syukurlah Naruto-kun bisa kusadarkan. Aku sangat khawatir dengan sikapnya yang aneh itu. Aku pun melepaskan tanganku dari bahunya.

"Hinata? Kenapa kamu menangis?"

Eh? Aku menangis?

Sejenak aku menyentuh pipiku perlahan. Pipiku terasa basah. Aku tidak menyadari bahwa aku sudah menangis dari tadi.

"Tentu saja aku menangis, Naruto-kun no baka. Kenapa kamu malah bertanya padaku? Seharusnya aku yang bertanya apa yang terjadi sebenarnya kepadamu. Apa kamu tahu betapa khawatirnya aku saat melihat sikapmu seperti itu tadi? Kamu seperti tak bernyawa di hadapanku. Apa kamu tahu betapa takutnya aku saat mengira aku kehilangan kamu, Naruto-kun?" Jawabku sambil menangis terisak-isak.

"Hinata?"

Naruto-kun memanggil namaku lagi. Dari suaranya, sepertinya dia merasa bersalah. Aku menghadapkan wajahnya kepadanya. Kemudian…

*GYUUT*

Aku memeluknya lagi dengan erat. Aku bersandar di dada bidangnya. Benar-benar hangat dan menenangkan.

*DEG DEG*

*DEG DEG*

*DEG DEG*

Telingaku semakin menempel di dada bidang Naruto-kun. Aku mencoba untuk mengetahui bagaimana suasana hatinya. Jantungnya berdetak sangat cepat. Irama jantungnya terdengar seperti suara instrumen perkusi yang banyak digunakan pada acara paduan suara, marching band, atau acara musik lainnya.

"Naruto-kun? Jangan membuatku khawatir lagi. Kamu bisa menyampaikan isi hatimu padaku. Kamu bisa mempercayaiku." Kataku lembut.

Namun aku tidak merasa Naruto-kun membalas pelukanku. Aku semakin khawatir dengannya.

"Hinata." Panggil Naruto-kun dengan suara yang serius.

Aku menoleh kearahnya. Aku menatap matanya. Lagi-lagi mata itu terlihat sedih. Aku sangat khawatir melihat sorot matanya. Aku tidak tahan melihat sorot mata itu.

"I..Iya? Ada apa, Naruto-kun?" Tanyaku gugup.

Aku mengharapkan akhir yang bahagia. Namun aku juga sudah mempersiapkan hatiku akan segala kemungkinan yang bisa saja terjadi. Aku sudah siap mendengar jawaban Naruto-kun.

"Maafkan aku, Hinata. Aku sangat menyayangimu. Tetapi aku menyayangimu hanya sebagai seorang sahabat. Aku tidak bisa menjadi kekasihmu, Hinata. Tolong maafkan aku. Kamu bisa mengerti kan, Hinata?"

Aku hanya terdiam. Aku tak bisa berkata apa-apa. Hatiku sakit mendengarnya. Tubuhku seakan tersayat karena respon yang tidak sesuai dengan harapanku.

"Naruto-kun? Kenapa?" Tanpa sadar air mataku mengalir di pipiku.

"Maaf, Hinata. Aku mempunyai bisnis yang harus kuselesaikan. Bisnis ini adalah urusan yang sangat pribadi. Aku tidak ingin berbagi masalahku dengan siapapun. Aku benar-benar menyayangimu sebagai sahabat. Tetapi kumohon. Biarkan aku menyelesaikannya sendiri."

Aku tidak dapat berkomentar. Aku hanya bisa menangis. Walaupun sudah mempersiapkan diri, tetap saja ditolak oleh Naruto-kun itu menyakitkan. Hatiku tidak sanggup menerima penolakan Naruto-kun. Tapi aku juga sedih karena walaupun Naruto-kun menganggapku sebagai sahabat, dia tetap tidak memberitahu apa yang sebenarnya terjadi padanya. Walaupun begitu, aku menghargai dan menerima keputusan Naruto-kun dengan setengah hati.

#Normal POV

Setelah Naruto menolak cinta Hinata, mereka meninggalkan taman itu untuk pulang. Naruto tetap mengantar Hinata sampai kerumah karena dia tidak mau Hinata pulang sendirian. Sepanjang perjalanan, keduanya hanya diam. Suasananya sangat canggung. Tidak ada yang mau membuka pembicaraan sedikitpun.

"Nak, minta nak."

Tiba-tiba seorang pria tua pengemis datang menghampiri Naruto dan Hinata.

"Maaf, saya tidak punya uang." Tolak Naruto.

Naruto memang tidak menyukai pengemis. Memang dia kasihan. Tetapi menurutnya, memberikan uang tidak akan merubah nasib pengemis itu.

"Nak, minta nak. Saya belum makan sejak seminggu lalu, nak."

Pengemis itu tetap bandel. Dia terus mengikuti Naruto dan Hinata. Naruto menjadi emosi.

"Nak, minta..."

*BUAGH*

Naruto memukul wajah pria tua itu sampai jatuh ke tanah.

"BERISIK. Sudah kubilang aku tidak punya uang, ORANG TUA SIALAN. PERGI! PERGI!" Usir Naruto emosi.

"Mo..Monster." Pria tua itu lari ketakutan meninggalkan Naruto dan Hinata.

Hinata tidak percaya akan apa yang dilakukan Naruto. Itu terlalu kejam. Hinata menatap wajah Naruto. Ekspresinya begitu dingin tanpa perasaan.

"Naruto-kun? Aku tak menyangka kamu akan memukul pengemis itu. Naruto-kun yang ku kenal tidak akan berbuat setega itu pada orang yang lemah. Kamu benar-benar berubah. Kamu begitu dingin." Kata Hinata kecewa.

"Tapi.. Hinata?"

"Aku benci Naruto-kun." Kata Hinata berlari meninggalkan Naruto.

Naruto merasa bersalah. Dia mencoba mengejar Hinata untuk menjelaskan perbuatannya.

"Hinata, tunggu." Kata Naruto menarik tangan Hinata. Namun..

*BUGH*

*GRRT*

*DUAGH*

"ARGGH." Naruto menjerit kesakitan. Ternyata Hinata memukul Naruto, memelintir tangan kirinya, dan membantingnya ke tanah.

"Jangan ikuti aku." Kata Hinata meninggalkan Naruto.

Naruto merasa sakit di bagian perut dan tangan kirinya. Dengan rasa sakit itu, dia mencoba untuk berdiri.

"Uggh. Teknik itu?" Pikir Naruto.

Naruto melihat sosok Hinata semakin menjauh dari penglihatannya.

"Maafkan aku, Hinata."

-oOoOo-

-Di Rumah Naruto-

"Bocah?" Panggil Kurama.

"Ng?" Gumam Naruto merespon Kurama sambil berbaring di tempat itu.

"Aku ingin tahu apa yang terjadi saat kau diikat oleh Sasori? Karena saat itu, kau melamun selama 20 menit dan itu tidak normal." Tanya Kurama.

Naruto mengingat sekilas pertarungan sebelumnya. Saat itu, waktu seakan berhenti berputar. Semua lingkungan sekitar berubah menjadi putih. Dia tidak dapat bergerak. Dia hanya melihat visualisasi aneh di sekitarnya. Dia mengira dia akan mati.

"Bukan apa-apa." Kata Naruto.

Kurama hanya bingung. Dia tidak puas dengan jawaban Naruto.

"Kurama. Apakah kekuatan radiasi dapat menghilangkan kemanusiaan seseorang?" Tanya Naruto.

"Apa maksudmu?"

"Saat aku kehilangan keluargaku, aku merasakan sakit yang menusuk. Rasa sakit yang membuatku sesak napas. Seolah-olah jantungku tertusuk oleh pedang Zabuza. Padahal aku ingin menangis. Tetapi aku tidak menangis saat itu. Walaupun aku berusaha mencoba untuk menangis, air mataku tetap tidak ada yang keluar. Begitu juga saat pertarunganku dengan Sasori, aku merasakan kesedihan saat melihat bagaimana kondisi keluarga Sasori. Aku merasakan kepedihan yang sangat besar saat nenek itu serta ibunya menangis. Bahkan Hinata juga tidak tahan untuk menangis. Tapi aku tidak dapat menangis sama sekali. Saat aku menyakiti hati Hinata, aku juga ingin sekali menangis. Tetapi aku tidak bisa. Aku seperti kehilangan kemampuanku untuk menangis. Apa aku normal?"

Kurama bingung akan pertanyaan Naruto.

"Kau adalah manusia normal. Kau berbeda dengan diriku." Kata Kurama.

"Entahlah. Aku merasa kehilangan sesuatu yang berharga. Sesuatu yang menandakan diriku sebagai manusia." Kata Naruto.

Kurama tidak mengerti sikap Naruto. Dia hanyalah kecerdasan buatan. Jadi untuk apa menanyakan sifat manusia kepadanya?

"Tidak berguna." Gumam Kurama.

-oOoOo-

-Konoha Gakuen, di aula sekolah-

Semua murid berkumpul di aula untuk mendengar pengumuman.

"Baiklah anak-anak. Seperti yang kalian tahu, hari ini kepala sekolah baru akan menjalankan tugasnya." Kata Guru yang berdiri di panggung aula.

Naruto tidak mempedulikan itu. Dia merasa bosan harus berdiri di aula untuk mendengarkan pengumuman itu.

"Baiklah. Saya persilahkan Momochi Zabuza-san untuk datang kemari."

"Zabuza?" Seketika tubuh Naruto panas mendengar nama itu.

Seorang pria yang mengenakan jas maju ke atas panggung aula.

"Nama saya Momochi Zabuza. Mohon bantuannya buat rekan-rekan sekalian." Katanya.

"Wah. Kepala sekolahnya cakep, ya." Kata seorang murid perempuan di dekat Naruto.

"Iya benar. Kyaaa.. Sepertinya aku jatuh cinta kepadanya." Kata seorang murid perempuan di samping murid perempuan sebelumnya.

"Huh. Biasa saja. Aku yang berdiri disini justru lebih ganteng daripada kepala sekolah itu." Ujar seorang murid laki-laki di belakang mereka.

Kedua murid perempuan itu memandang murid laki-laki itu dengan tatapan meremehkan.

"Pfftt. Ahahahaha." Kedua murid perempuan itu menertawakan murid laki-laki itu.

Sementara itu, Naruto memandang Zabuza dengan tatapan dingin. Amarah dan dendam kini menguasai jiwa Naruto sepenuhnya. Dia ingin sekali membunuh Zabuza. Namun...

*WUUUSHSH*

Zabuza juga menyadari keberadaan Naruto. Dia tersenyum sambil memancarkan radiasi yang menusuk kulit Naruto. Menatap Naruto dengan senyum dan sorot mata yang tak kalah dinginnya..

"Aura membunuh itu." Pikir Naruto sambil mengepalkan tangan kirinya kuat-kuat untuk menahan amarahnya.

-oOoOo-

-Di Kelas 2B-

"Baiklah. Pecahkan soal-soal ini dengan mengikuti rumus yang sudah saya paparkan." Kata Shikaku, guru Matematika.

Naruto mengerjakan soal tersebut dengan malas. Saat Naruto sudah menyelesaikan 3 dari 10 soal…

"Selamat pagi, bapak/ibu guru serta anak-anak kami sekalian. Mohon maaf karena sudah mengganggu proses belajar mengajar yang sedang berlangsung. Pengumuman. Bagi siswa yang bernama Namikaze Naruto, kelas 2B diminta supaya datang ke kantor kepala sekolah sekarang juga. Saya ulangi. Bagi siswa yang bernama Namikaze Naruto, kelas 2B diminta supaya datang ke kantor kepala sekolah sekarang juga. Demikianlah pengumuman ini disampaikan. Atas perhatian rekan-rekan sekalian saya mengucapkan terima kasih." Kata Zabuza lewat speaker pengumuman yang tertempel di dinding atas kelas.

"Apa maunya?" Pikir Naruto.

Semua orang dikelas juga bertanya-tanya. Naruto kemudian meninggalkan kelas tanpa permisi pada Shikaku dengan membawa tas. Sikap Naruto tentu membuat Shikaku jengkel.

Naruto berjalan menuju kantor kepala sekolah. Dia harus melewati kelas 2A, kelas Hinata untuk sampai kesana.

"Naruto-kun?" Sekilas Hinata melihat Naruto yang berjalan melewati kelasnya. Dia bingung kenapa Naruto disuruh ke kantor kepala sekolah.

-oOoOo-

-Di Kantor Kepala Sekolah-

"Permisi." Kata Naruto masuk.

"Silahkan duduk, Namikaze-kun." Kata Zabuza.

Naruto tetap berdiri memandang wajah Zabuza dengan sinis.

"Apa kau sudah mengetahui siapa diriku sebenarnya?" Tanya Zabuza.

"Ya." Jawab Naruto singkat.

"Fuh. Apa itu cara merespon kepala sekolah yang benar?" Kata Zabuza.

Naruto tidak menghiraukan perkataan Zabuza. Dia terus menatap Zabuza dengan tatapan membunuh.

"Apa kau ingin membunuhku?" Tanya Naruto.

"Kau tidak perlu bersikap dingin. Aku tidak ingin membunuhmu sekarang. Aku kemari karena aku suka mengajar. Karena itulah menjadi seorang kepala sekolah. Aku tidak menyangka kau sekolah disini. Aku mengenalmu dari bekas luka yang ada di pipimu karena alasanku menggores pipimu adalah agar aku dapat mengenalmu. Kebetulan yang mengejutkan." Kata Zabuza santai.

"KAUU.." Naruto tidak dapat menahan emosinya.

"Hentikan, bocah! Jangan buat keributan disini." Seru Kurama.

Zabuza tersenyum dingin terhadap Naruto.

"Tangan kananmu lebih bijak. Jika kita bertarung disini, bukan hanya kita saja yang terluka. Tetapi orang-orang disini juga akan ikut terluka." Kata Zabuza.

"Itu benar, Naruto. Bertarung disini hanya akan merugikan kita. Lagipula, dia adalah salah satu anggota inti Akatsuki. Jangan gegabah." Kata Kurama.

Naruto kesal. Dia memedam amarahnya dengan mengepalkan tangan kirinya.

*DREET*

Zabuza tiba-tiba berdiri. Dia berjalan kearah Naruto dan memojokkannya ke dinding.

"Hei? Apa maksudmu, sialan?" Tanya Naruto marah.

Zabuza menatap Naruto dengan tatapan dingin.

"Aku memanggilmu untuk memberikan peringatan. Jika kau telah menjadikanku musuhmu dan berbuat macam-macam terhadapku, aku bisa membantai dua kelas hanya dalam waktu 13 detik saja. Apa kau mengerti, Naruto?" Kata Zabuza sambil mengarahkan pedangnya ke arah Naruto.

Naruto membatu. Dia ingin membunuh Zabuza. Tetapi karena ancaman Zabuza membuat Naruto berpikir dua kali untuk bertarung dengannya di sekolah.

Naruto pun meninggalkan ruang kepala sekolah. Dia berjalan menuju kelasnya kembali.

"Bunuh. Akan kubunuh. Aku pasti akan membunuhnya." Gumam Naruto sambil mengepalkan tangan kirinya.

Selain itu, terlihat Zabuza sedang mengamati Naruto yang meninggalkan ruangan kepala sekolah.

"Omoshiroi." Guman Zabuza tersenyum dingin.

-oOoOo-

-Setelah itu, saat pulang sekolah-

Naruto berjalan untuk pulang sekolah, namun dia mendengar sesuatu yang berasal dari sebuah rumah yang rusak.

*BRUAKK*

"Aaaggghhh." Terdengar suara orang berteriak kesakitan. Naruto kemudian mendatangi sumber suara itu.

"Hosh. Hosh." Terlihat Hinata, Sakura, dan Ino bersama dengan Shion, dua teman gadis Shion, serta tiga pria suruhan Shion yang babak belur. Hinata terlihat lelah karena telah menghajar tiga orang pria suruhan Shion yang mengganggu dirinya, Sakura, dan Ino.

Shion dan kedua teman gadisnya takut melihat Hinata.

"Apa? Bagaimana bisa dia melawan?" Pikir Shion kaget.

Ino dan Sakura hanya terkagum melihat keberanian Hinata yang belum pernah mereka lihat sebelumnya.

"Kau selalu menggangguku dan aku hanya diam. Tapi kali ini benar-benar keterlaluan. Teganya kau menyuruh laki-laki mesum untuk melecehkan kami, Shion. Kau pikir kami perempuan apa?" Kata Hinata.

"Huh. Jangan sombong, Hinata!"

Tiba-tiba Toneri, pacar Shion datang ikut campur bersama dengan tiga orang temannya. Membuat kumpulan laki-laki itu bertambah jadi tujuh orang. Tampang mereka terlihat tidak bersahabat.

Shion senang akan kedatangan pacarnya. Dia merasa kemenangan ada di depan mata.

"Sial. Aku hanya bisa bertarung maksimal dengan lima orang saja. Dengan jumlah mereka, apa aku bisa?" Pikir Hinata.

"Kau sudah berani melawan pacarku ya, gadis Hyuga. Kami tidak akan menggodamu. Kami akan menghajarmu. Serang dia!" Kata Toneri sambil menyuruh anak buahnya.

Hinata bersiap akan segala kemungkinan. Namun..

"Pengecut."

Semua kaget dengan suara itu. Ternyata suara itu berasal dari Naruto. Naruto ternyata telah berada di atap rumah. Dari tadi dia sedang mengamati pertarungan Hinata.

"Huh. Si CACAT." Kata Toneri.

Naruto turun kebawah. Dia memandang mereka dengan sinis.

"Daripada si PENGECUT." Kata Naruto.

"Oh ya? Aku suka tatapanmu. Serang si cacat itu!" Kata Toneri.

Dua orang maju menyerang Naruto. Tapi...

*DUGH*

Naruto bergerak cepat dan menendang 'adik' orang yang disebelah kanan dengan kaki kanannya sehingga orang itu tidak bisa bergerak.

*BUGH*

Kemudian dengan sigap Naruto memukul perut orang disebelah kirinya dengan tangan kirinya.

*GRRT*

Setelah itu, Naruto meraih tangan kanan orang disebelah kirinya dan memelintir tangan kanannya.

*DUAGH*

Kemudian Naruto melempar orang disebelah kirinya itu ke arah orang yang berada di sebelah kanannya tadi.

"UARRGGH." Mereka berteriak kesakitan.

Semua orang heran. Mereka tidak menyangka bahwa Naruto dapat bertarung. Namun Toneri tetap berusaha bersikap cool dengan menyerang Naruto.

"Terima ini, ORANG CACAT." Kata Toneri mengarahkan tinjunya kearah Naruto. Namun...

*TAPH*

Naruto dengan mudah berhasil menangkap tinju Toneri dengan tangan kirinya. Dia menatap Toneri dengan tatapan membunuh.

Toneri menyadari bahwa Naruto itu berbahaya. Toneri takut dengan tatapan mata Naruto. Dia kemudian melepaskan tangannya dari tangan Naruto.

"Ayo pergi." Suruh Toneri kepada keenam anak buahnya.

Shion yang melihat itu heran. "Hei, apa maksudmu, sayang?" Tanya Shion.

"Aku pergi. Kita PUTUS." Kata Toneri.

Toneri dan keenam anak buahnya berjalan meninggalkan mereka.

"Sorot mata itu. Tatapan membunuh itu. Dia berbahaya. Kita akan kalah jika bertarung dengannya." Pikir Toneri ketakutan.

Shion syok dengan perkataan Toneri.
Naruto kemudian menghampiri Shion dan menatapnya dingin.

"Hei. Aku peringatkan kepadamu. Jangan pernah ganggu Hinata lagi!" Kata Naruto dingin.

Shion ketakutan. Dia ingin kabur dari Naruto.

"Kyaaaa.. Naruto-kun keren." Kata dua orang pengikut Shion.

"DIAM, dasar bodoh! Kita pergi." Seru Shion.

Setelah kelompok Shion pergi, Naruto datang menghampiri Hinata, Ino, dan Sakura.

"Kalian tidak apa-apa?" Tanya Naruto.

Hinata heran karena setahunya Naruto tidak bisa berkelahi. Dia juga sepertinya mengenal gerakan Naruto.

"Kami baik-baik saja, Naruto. Terima kasih." Kata Sakura.

Naruto kemudian memandang Hinata.

"Aku tidak menyangka kau bisa bertarung, Hinata." Komentar Naruto.

"Itu.. Sebenarnya aku memang diajarkan teknik bertarung dari ayah. Tapi ayah selalu berkata bahwa teknik itu hanya boleh kugunakan jika situasinya benar-benar mendesak seperti tadi." Kata Hinata.

"Tapi itu sungguh hebat, Hinata-chan." Puji Sakura.

"Benar. Kau menyembunyikan kemampuanmu dari kami. Huh. Tapi tetap saja itu mengagumkan. Arigatou, Hinata." Kata Ino.

Naruto paham akan penjelasan Hinata.

"Baiklah. Kami ingin pergi ke mall dulu, Naruto. Sampai jumpa." Kata Ino.

"Hati-hati." Kata Naruto melambaikan tangan.

Naruto sekilas melihat ekspresi Hinata. Sepertinya Hinata belum memaafkannya.

"Huft. Apa kau akan bersikap seperti ini terus, Hinata?" Gumam Naruto.

-oOoOo-

Naruto duduk melamun dibawah pohon yang ada di sekitar rumah tua itu. Dia tidak menyadari bahwa seseorang sudah memperhatikannya dari tadi.

"Namikaze Naruto." Ucap seseorang menghampiri Naruto.

Naruto menoleh ke arah seseorang yang menghampirinya.

"Uchiha Sasuke dari kelas 2A?"

"Kau mengenaliku ternyata." Kata Sasuke.

"Semua orang di sekolah mengenal kepopuleranmu. Ada urusan apa kau mendatangiku, Sasuke-kun?" Kata Naruto.

"Bicara disini tidak enak. Bagaimana kalau kita pergi ke bekas gedung kantor yang ada dibalik rumah tua ini?" Kata Sasuke.

"Baiklah." Kata Naruto curiga.

-oOoOo-

-Di bekas gedung kantor redaksi Hokage Magazine-

Naruto dan Sasuke masuk ke bekas gedung kantor redaksi sebuah majalah melalui jendela yang pecah. Suasana didalam gedung itu gelap, kumuh, dan penuh dengan Graffiti.

"Kau mau bicara apa?" Tanya Naruto.

Sasuke menatap Naruto dingin. Kemudian dia menjawab...

"Sebenarnya yang ingin kubicarakan adalah aku ingin bertarung denganmu, Namikaze Naruto."

Naruto terheran akan perkataan Sasuke. Dia merasa ada yang aneh.

"Apa maksudnya? Apakah dia pengguna radiasi? Tetapi selama di sekolah tidak ada yang mencurigakan darinya." Pikir Naruto.

"Apa kau pengguna radiasi?" Tanya Naruto.

"Benar. Aku pengguna radiasi. Aku tertarik denganmu karena aku merasa perubahan drastismu itu tidak mungkin bisa kau peroleh hanya dalam waktu tiga minggu tanpa suatu alasan. Aku juga sudah mengamati pertarunganmu tadi. Padahal saat tangan kananmu masih ada, kau adalah orang ceroboh yang tidak bisa bertarung. Tetapi setelah tangan kananmu hilang, kau menjadi orang yang tenang dan bahkan bisa menghajar 7 orang dengan mudah. Tentu saja hal itu memperkuat dugaanku bahwa kau sama denganku." Jelas Sasuke.

Naruto tertegun. Dia tidak menyangka kalau Sasuke yang dianggapnya sebagai orang populer di sekolah ternyata memiliki radiasi.

"Jadi dia juga anggota Akatsuki? Tapi kan dia masih anak SMA?" Pikir Naruto.

"Kurama!" Naruto memanggil Kurama. Kurama keluar dari tas Naruto kemudian bersatu dengan tangan kanan Naruto.

"Aku sudah mendengarnya, Bocah." Kata Kurama.

Sasuke menatap mereka berdua dingin.

"AI Gear?" Gumam Sasuke.

*BZZT BZZT CIP-CIP*

Tiba-tiba tubuh Sasuke mengeluarkan listrik. Listrik itu mengelilingi tubuh Sasuke seakan-akan melindungi dirinya.

"A.. Apa itu?" Kata Naruto heran. Dia tidak percaya Sasuke bisa mengeluarkan listrik.

"Dia adalah salah satu contoh pengguna radiasi tanpa AI Gear yang pernah kujelaskan." Kata Kurama.

"Jadi seperti inikah orang yang tidak menggunakan AI Gear?" Tanya Naruto.

"Bukan begitu. Zabuza saja tidak memiliki AI Gear. Tubuhnya tidak bermutasi. Kekuatan radiasinya hanya memaksimalkan potensi fisiknya sama sepertimu. Namun sepertinya Zabuza lebih hebat darimu sehingga dia tidak perlu AI Gear. Karena tidak ada AI Gear, aku tidak bisa mendeteksi baik Zabuza maupun lawan dihadapanmu. Bermutasi atau tidak bukanlah menjadi keharusan untuk menggunakan AI Gear." Jelas Kurama

Naruto memahami penjelasan Kurama. Tetapi dia masih tidak menyangka kalau ada manusia bisa mengeluarkan listrik.

"Karena radiasi, tubuhnya bermutasi sehingga sel-sel dalam tubuhnya dapat mengalirkan listrik. Jika tidak karena Nanomachine, dia tidak akan dapat menahan kekuatan listrik itu karena energi listrik akan menyakiti dirinya dan membunuhnya." Jelas Kurama lagi.

"Bagaimana cara mengalahkannya?" Tanya Naruto.

"Aku belum tahu. Untuk saat ini, kita harus berposisi bertahan." Kata Kurama.

Sasuke menatap mereka bosan.

"Apa kalian sudah bersiap? Aku sudah bosan."

Naruto menatap Sasuke dingin. Dia mengambil pisau lipat yang ada ditasnya, mengeluarkan mata pisau itu, dan memegangnya dengan tangan kirinya. Naruto kemudian mengepalkan Kurama ke arah Sasuke.

"Kau akan kalah." Kata Naruto percaya diri.

"Hn." Gumam Sasuke tersenyum simpul.

Naruto dan Sasuke sudah memasang kuda-kuda. Mereka bersiap-siap menunggu siapa yang akan menyerang duluan. Namun, Sasuke dari tadi tidak bergerak. Sepertinya dia juga dalam posisi bertahan. Hal itu tentu menguji kesabaran Naruto.

"Sial. Kenapa sejak tadi dia tidak menyerangku?" Pikir Naruto.

Keduanya tetap tidak menyerang. Karena sudah kehabisan kesabaran, Naruto pun menyerang duluan.

*WUUSSSHH*

"Dasar bodoh." Gumam Kurama.

*drap drap*

Naruto berlari kearah Sasuke secepat mungkin.

"Rasakan ini." Kata Naruto sambil mengarahkan tinju Kurama ke arah kepala Sasuke. Namun…

*WUSSSHH*

Sasuke menghilang dari hadapan Naruto.

"Dia menghilang? Dia pasti berada di belakang atau di atasku." Pikir Naruto

"HUOOOOO." Naruto menyadari Sasuke sudah berada di belakangnya. Dia mengayunkan pisaunya ke belakang. Namun…

*WUUSSHH*

"Apa? Hilang lagi? Cepat sekali." Pikir Naruto Kaget.

"Di sebelah kananmu." Kata Sasuke yang ternyata sudah berada di sebelah kanan Naruto.

Naruto kehilangan keseimbangan. Bahkan Kurama tidak sempat bereaksi dengan kecepatan Sasuke.

*BZZT CIP-CIP*

*BUGH*

"AAAAAAAAAAAAAAAAAAARRRRRRRRGGGGGGGGGGGGHHHHH."

Sasuke berhasil memukul Naruto dengan tangan kirinya yang dialiri dengan kekuatan listrik. Pukulan itu cukup kuat sampai membuat Naruto terlempar sekitar 8 meter darinya. Tubuh Naruto terlihat kejang-kejang setelah menerima serangan itu. Dengan serangan yang dialiri listrik itu, Naruto merasakan sakit yang sangat dalam sampai terasa ke tulang rusuknya.

"Inilah kekuatanku. Chidori Nagashi." Kata Sasuke.

"UGGHH." Naruto berusaha bangkit berdiri. Dia merasa tubuhnya kaku.

"Naruto, kau tidak apa-apa?" Kata Kurama.

"Lumayan. Kau sendiri bagaimana, Kurama?" Tanya Naruto.

"Aku merasa serangan itu sedikit merusak bagian mesinku. Aku sudah bilang kita harus bertahan untuk mengamati pola serangannya." Protes Kurama.

"Dia tidak menyerang dari tadi. Aku tidak tahan." Kata Naruto membela diri.

"Huh. Kali ini, kita hanya harus bertahan. Jangan coba-coba menyerangnya seperti tadi. Serangan itu sangat berbahaya. Jika terlalu sering menerima serangan itu, sistemku akan rusak." Kata Kurama.

"Jadi apa yang harus kita lakukan, Kurama?" Tanya Naruto.

"Jika ada kesempatan, kita bisa saja lari. Tapi ruangan tertutup ini tidak memungkinkan untuk lari. Kau menyadari kecepatannya, kan? Kecepatan itu bukanlah kecepatan manusia normal. Kecepatannya melebihi Sasori, bahkan melebihi dirimu. Naruto. Dia tidak akan membiarkan kita kabur dari tempat ini. Ini adalah daerahnya." Kata Kurama.

"Jadi tidak ada cara untuk mengatasi kecepatannya?" Tanya Naruto

"Sebenarnya setelah serangan itu, aku memperoleh hipotesis. Pada saat dia akan menyerang, dia akan bergerak dengan kecepatan kilat. Untuk dapat bergerak dengan kecepatan seperti itu, dia harus mengalirkan energi listrik ke seluruh tubuhnya. Jika dia tidak bisa mengendalikannya, dia tidak akan bisa mengontrol koordinasi antara otak dan otot." Kata Kurama.

"Apa maksudmu, Kurama?" Tanya Naruto yang masih bingung akan penjelasan Kurama.

"Apa kau menyadari saat dia akan memukul kita, gerakannya menjadi sedikit lambat? Saat itu, dia harus menghentikan pengeluaran energi listriknya untuk sementara agar dia dapat berhenti dan menyerang. Jika dia terus mengeluarkan energi listrik ke seluruh tubuhnya, tubuhnya akan menolak keinginan otaknya untuk berhenti atau menyerang sehingga dia akan kehilangan keseimbangan dan menabrak tembok atau terjatuh." Kata Kurama menjelaskan.

Naruto mulai memahami penjelasan Kurama.

"Jadi apa tindakan kita sekarang?" Tanya Naruto.

"Walaupun dalam posisi bertahan, larilah kearahnya dan berpura-puralah menyerang. Dia akan mengira kalau kita akan menyerangnya. Sambil berpura-pura menyerang, sebisa mungkin kau harus menghindari serangannya. Tapi jangan terlalu mencolok agar dia tidak mengetahui rencana kita. Hindarilah serangannya seolah-olah kita ingin menyerangnya tetapi dia tidak memberi kesempatan untuk itu. Aku akan ikut membantumu dalam bertahan dan berpura-pura menyerang. Aku ingin memastikan sesuatu." Kata Kurama.

"Ada apa? Kenapa kau lama sekali? Cepat serang aku!" Kata Sasuke tidak sabaran.

Naruto berusaha untuk bangkit berdiri.

"Maaf membuatmu menunggu. Tubuhku tadi kesemutan. Aku baru bisa bergerak sekarang. Jadi bersiaplah, SASUKE!"

"Kuharap kau dapat memberikan hiburan yang menarik, NARUTO!"

Kedua petarung itu sama-sama akan melancarkan serangan mereka.

TBC


Terima kasih sudah membaca cerita saya ini.:)

Chapter ini berfokus pada tiga hal, yaitu situasi dimana Naruto menyakiti perasaan Hinata, kedatangan Zabuza, dan pengenalan Sasuke. Dan supaya ga bingung, member Akatsuki disini benar-benar berbeda dengan yang canon. Saya juga hanya akan menampilkan beberapa member saja disini.

Oh iya. Maaf karena baru sekarang membalas reviewer yang tidak berakun. Saya baru tahu kalau harus dibalas disini.-,- Buat yang berakun, saya sudah membalasnya lewat inbox.

- narto: Thx sudah membaca, sob.

- Zero Akashi: Sip. Thx sudah membaca, sob.:)

- Guest: Thx atas masukannya, sob. Sudah saya perbaiki.:)

- hqhqhq: Terima kasih atas kripikya, sob.:)

- JeFF: Terima kasih, sob. Ngomong-ngomong jangan panggil kakak dong. Cukup panggil Nikstar aja.-,-

- TheGreatAsian: Wah. Dimana,sob? Saya sudah cek tetapi saya ga melihat Naruto mengucapkan Naruto-kun pada POV-nya sendiri. Jika boleh bisakah sobat memberi tahu saya yang mana letak kesalahan saya? Mungkin ada yang terlewat dari mata saya.-,- Oh iya, saya laki sob. hehe.:D Thx buat saran dan kunjungannya sob.:)

- BakaCouple: Thx sob sudah membaca cerita saya.:)

Sekali lagi terima kasih buat yang sudah membaca cerita ini. Mohon maaf apabila masih ada kesalahan dalam fic ini.

Akhir kata, kritik dan saran yang membangun sangat saya harapkan. Jadi mohon bagi kripiknya.:D