Chapter 10

Nano, Log In

"Maji de Watashi ni Koi Shinasai!/Love Me, Seriously!"

Warning:

Mungkin akan sangat OOC, EYD salah kaprah dan banyak typo dan cepat atau lambat bakal ada SongFic dan pastinya Kata-kata kasar yg frontal.

Disclaimer:

Naruto: Masashi Kishimoto

Highschool DxD: Ichie Ishibumi

Love Live School Idol Project: KLab (Reader: itu produser gamenya goblok *Yaoming face* Auth: biarin cuk daripada ada yg ngepermasalahin, orang di fandomnya aja gak ada yg make disclaimer *yaoming face*

~.~.~.~

Chapter 10: My World: Sing (Meeting Da Vinci)

Opening Song: Nano - Scarlet Story

06.00 PM Kediaman Nishikino

"Benarkah Otou-sama?" Malam itu terdengarlah suara perempuan dari dalam rumah yg bisa dibilang besar.

"Tentu saja. Dengan ini kau bisa melihat Lukisan Vermeer yg ditemukan itu sebelum hari pamerannya." Kali ini adalah sebuah suara yg cukup berat tanda bahwa itu adalah suara pria paruhbaya.

"Okaa-sama! Ayo kita kesana sekarang juga!"

"Ini sudah gelap, Maki." Kali ini yg menjawabnya adalah seorang wanita yg bisa ditebak adalah ibu dari Nishikino Maki.

"Kalau begitu aku akan kesana sendiri. Mengamati karya sang jenius yg dikira telah hilang, vermeer."

"Kau ini Da Vinci, kenapa tidak buat sendiri?" Tanya Ibu dari Maki.

"Okaa-sama! Aku tidak bisa melukis saat aku tidak mempunyai inspirasi."

"Lalu bagaimana caranya agar kau memperoleh inspirasimu lagi?"

'Yosh! Mereka terjebak.'

"Dengan membatalkan pertuna..."

"Tidak bisa." Belum sempat Maki menyelesaikan tuntutannya agar inspirasinya kembali, perkataannya telah dipotong lebih dulu oleh Okaa-san nya.

"Kenapa tidak bisa?" Tanya Maki semakin menuntut.

"Maki, ini demi keselamatanmu juga. Kau tahu bukan organisasi yg mengincar pemegang gelar sepertimu mulai menunjukkan wajahnya lagi setelah sekian lama."

"Tapi kenapa harus dengan dia? Si Phenex brengsek itu?"

"Dulu kakekmu Nishikino Souji telah membuat janji bahwa jika mereka mempunyai anak atau cucu yg berbeda jenis kelamin maka mereka akan menikahkannya. Karena anak mereka laki-laki semua maka sekarang giliran cucu mereka."

Mendengar alasan yg dipenuhi dengan kesucian janji itu bahkan membuat seorang pemegang gelar Da Vinci seperti Nishikino Maki tidak akan bisa menolak. Meski sebenarnya dia ingin memilih kekasihnya sendiri bukan dijodohkan seperti saat ini.

"Hmp! Kalau begitu aku pergi ke Galeri." Dengan pamitan kecil itu Maki pergi ke Galeri kota Kuoh. Tempat dimana lukisan Vermeer yg diduga hancur ditemukan kembali. Tapi sebenarnya sayang sekali karena Maki tidak tahu apa yg harus dihadapinya nanti.

Meanwhile at Naruto Side

"Kaneki, apa kau benar-benar yakin bahwa itu Kenji Matsumoto?" Tanya Iruka memecah kesunyian diantara mereka.

"Begitulah. Aku sangat yakin bahwa itu adalah penjaga Galeri dan satu-satunya penjaga galeri yg dilaporkan menghilang adalah Kenji Matsumoto."

"Buktikan." Mendengar tantangan kecil dari Iruka mau tak mau membuat senyum Kaneki mengembang meski tertutupi topeng anehnya.

"Baiklah... apa yg kita temukan di mayat ini? Pakaian yg formal bisa jadi dia akan pergi kencan atau menghadiri acara penting tapi terlihat murahan jadi bisa dipastikan bahwa itu adalah seragam. Varises di kakinya menunjukkan dia sering jalan-jalan saat bekerja tapi punggungnya yg lembek menunjukkan bahwa dia sering duduk-duduk saat bekerja jadi banyak duduk dan banyak berjalan. Ada pengait walkie talkie bisa jadi masinis ataupun security, tapi alarm di jam tangannya menunjukkan shift malam ditambah tombolnya yg keras bisa dipastikan jika dia bekerja di shift malam. Tiket di saku dan hal-hal lainnya adalah sebagai penguat bukti, hanya dengan itu saja sudah pasti terpecahkan siapa mayat ini karena pekerjaan yg cocok dalam kriteria tadi hanyalah penjaga Galeri. Dan Kenji Matsumoto adalah satu-satunya penjaga Galeri yg hilang secara misterius jadi bisa dipastikan bahwa itu adalah dia." Jelas Kaneki panjang lebar pada Iruka.

"Jadi bagaimana kalau kita pergi ke Galeri yg kau maksud itu?" Tawar Iruka pada Kaneki. Kalau kaneki bilang seperti itu maka kemungkinan akan selalu ada dan jika ada kemungkinan bahwa lukisan itu palsu artinya ada seorang dalang kejahatan dibalik semua ini.

"Kenapa?"

"Hm... aku tidak pernah meragukan analisismu selama ini dan jika kau bilang bahwa lukisan yg akan dipamerkan itu palsu maka akan terbentuk kemungkinan."

"Baiklah, lagipula aku kebosanan di apartemen. Kuharap ini bisa menjadi lebih menarik lagi." Dan persetujuan yg diiringi harapan Kaneki tadi mengawali malam yg tidak pernah mereka bayangkan sebelumnya.

06.30 PM Galeri (tempat kenji matsumoto bekerja)

Saat ini Kaneki dan Iruka telah sampai di Galeri tempat Kenji Matsumoto bekerja dan seperti yg mereka duga bahwa saat ini suasana sangat ramai karena persiapan pameran lukisan Vermeer yg akan diadakan beberapa hari lagi. Tapi sayangnya mereka yg bekerja disana tidak tahu bahwa lukisan itu palsu.

"Ini polisi, kami akan mengecek keamanan di dalam." Kata Iruka pada kedua security yg ada di depannya ini sembari tangannya menunjukkan lencana nya sebagai seorang polisi.

"Baiklah anda boleh masuk. Tapi kami harus memeriksa orang yg ada di belakang anda."

Setelah 1 pemeriksaan kemudian...

"Baiklah dia juga boleh masuk. Maaf telah membuat anda menunggu." Kata seorang security meminta maaf.

"Tidak apa-apa. Lagipula itu prosedur standart bukan? Kalau begitu ayo Iruka-san." Dan mereka berdua pun melanjutkan perjalanan mereka untuk bertemu dengan orang yg telah mengklaim menemukan lukisan vermeer.

Di sisi lain (Pythagoras)

Masih di ruangan yg sama dengan kemarin dan juga topeng yg sama, pemimpin organisasi GoG (Game of God) seseorang dengan gelar tinggi Pythagoras terlihat menerawan jauh dari meja kerjanya.

"Menurut laporan, Izaya sudah berhasil membunuh pemegang gelar Einstein tapi kenapa aku masih saja merasa gelisah? Beberapa hari lagi akan ada pameran lukisan Vermeer di jepang. Ada kemungkinan bahwa Da Vinci akan keluar saat itu." Gumannya pada diri sendiri sampai sebuah suara lain memasuki gendang telinganya.

"Tuan Pythagoras, GoG di jepang menemukan seorang remaja yg diduga adalah pemegang gelar Da Vinci." Suara itu datang dari seorang pria yg baru saja masuk ke ruangan itu disertai nada yg penuh hormat.

"Masih diduga? Apa yg dilakukannya sehingga dengan mudahnya mendapat status diduga oleh GoG?"

"Dia datang beberapa hari sebelum pameran lukisan itu. Dia juga kelihatannya sangat menyukai seni."

"Hanya kemungkinan kecil kah? Kalau begitu masukkan dia ke dalam Kenja no Game yg dibuat GoG di Galeri itu."

"Baik. Sesuai perintah anda." Dengan itu maka orang tadi melaporkan tentang Da Vinci telah meninggalkan Pythagoras untuk memberitahu ke GoG jepang untuk memancing orang yg mereka maksud ke dalam Kenja no Game.

"Enigma, Newton, Antionette, Da Vinci, Edison, Nightangle, Galileo dan terakhir adalah Einstein dua dekade lalu kakek menuliskan bahwa hanya Einstein yg dapat menggunakan hampir seratus persen otaknya itupun dengan menggunakan Gelang Orpheus. Jika gelang itu telah hancur pasti pemegang gelar Einstein tidak akan sekuat pendahulunya dan itu artinya aku tidak harus takut padanya." Kata Pythagoras pada dirinya sendiri.

Gelang Orpheus adalah sebuah gelang yg mampu memaksa otak pemakainya untuk mencapai tahap Phi Brain. Gelang yg sangat mengerikan tapi juga berguna disaat yg bersamaan. Meski begitu resiko bagi pemakai gelang itu sangatlah besar karena bagaimanapun memaksimalkan kerja otak memerlukan energi jadi pasti nanti seseorang yg mencapai Phi Brain akan kelelahan, pingsan atau bahkan mati karena kehabisan energi, belum lagi beban yg diterima otak belum tentu bisa ditahan sang pemakai.

"Tapi tetap saja meski darahnya asli dari tubuh Einstein aku merasa bahwa Einstein masih hidup." Lanjutnya sang pemegang gelar Pythagoras itu.

Back To Galeri

"Ini sangat indah! Aku tidak akan bosan melihat lukisan seperti ini!" Kata Maki setelah melihat berbagai macam lukisan yg menurutnya sangat indah tersaji di depan matanya. Dia juga telah sampai di galeri tahu :P (Pengen tahu lukisannya kaya gimana?

"Aku turut senang jika anda merasa senang." Kata Seseorang berpakaian formal seperti seorang manager kepada Maki.

"Ano.. jika boleh tahu sebenarnya dimana lukisan ini ditemukan Kakuzu-san?"

"Lukisan Vermeer itu ditemukan di ruangan rahasia yg ada di bawah tanah di negara belanda. Kami menduga dulu lukisan ini pernah dicuri dan disimpan disana sampai kami menemukannya kembali."

"Meski begitu ini sangatlah mahal, perdana menteri jepang bahkan sampai mengeluarkan dana sebesar puluhan juta yen untuk membeli lukisan ini."

"Hahaha... kalau masalah itu mungkin perdana menteri jepang sangat tertarik dengan seni lukis."

"Sepertinya juga begitu."

"Ho... jadi ini lukisan palsu itu." Sebuah suara tak dikenal itu tertangkap di gendang telinga Maki yg tentu saja membuatnya melihat sumber suara itu dan mendapati seseorang tak dikenal dan memakai topeng aneh ada di belakangnya.

"Hoy! Kaneki! Kita masih memeriksanya ingat?"

"Pemeriksaan sudah selesai 30 menit yg lalu. Ini adalah eksekusi. Kakuzu Hikigaya kau sebagai penanggung jawab lukisan Vermeer palsu ini aku nyatakan bersalah atas pemalsuan lukisan bersejarah dan pembunuhan berencana pada Kenji Matsumoto." Dan tentu saja pernyataan Kaneki yg satu ini mengagetkan mereka semua kecuali Iruka yg hanya bisa menghela nafasnya.

"Apa maksudmu lukisan ini palsu?" Tanya Kakuzu balik kepada orang di depannya ini. Dia tidak menyangka jika akan bertemu pemegang gelar Einstein saat ini padahal niatnya hanya menjalankan perintah GoG pusat untuk mencoba kemampuan perempuan yg diajaknya berkeliling ini untuk mengetahui apakah dia benar-benar pemegang gelar Da Vinci atau tidak.

"Alasan kenapa Kenji Matsumoto dibunuh adalah karena dia tahu lukisan ini palsu." (Mau tahu lukisannya kaya gimana? Buka link: facebook* ?fbid=1580326475581170&id=100008114980726&set=a.1385977671682719.1073741828.100008114980726&refid=17&_ft_&_tn_=E) (tahu kan harus ganti * jadi .)

"Aku turut berduka atas hal itu tapi itu tidak membuktikan kenapa lukisan Vermeer yg ada di depan matamu sendiri itu adalah yg palsu."

"Pembuktian hanyalah sebagai bentuk keformalan. Aku tahu bahwa lukisan itu palsu dan game ini sudah berakhir."

"Tidak secepat itu Einstein. Game belum berakhir."

'E-Einstein? Dia itu Einstein?'

"Iruka-san, pergilah dari sini. Nanti akan kupanggil lagi."

"Terserahmu saja. Aku tidak tahu apa yg akan kau lakukan dan lebih baik aku tidak tahu sama sekali." Lalu tanpa bertanya apa-apa lagi Iruka langsung pergi meninggalkan Naruto, Kakuzu dan Maki.

"Ano... sebenarnya ada apa ini?" Tanpa kenal suasana yg sudah mulai memanas karena pertemuan antara GoG dan pemegang gelar tinggi, Maki bertanya seolah tanpa beban apapun.

"Nishikino Maki, maksudku Da Vinci."

'D-dia tahu kalau aku Da Vinci?'

"Dan kau adalah Einstein? Jadi selama ini Kaneki-san yg ada di TV adalah Einstein?"

"Ya, aku adalah Einstein. Jangan berlagak bodoh di saat seperti ini. Kakuzu Hikigaya adalah pengikut GoG."

"Heh? Benarkah?" Tanya Maki tak percaya.

"Itu benar. Karena kau telah menebak bahwa lukisan ini palsu maka kenapa kita tidak lanjutkan permainan tadi?" Tawar Kakuzu kepada Kaneki.

"Permainan?" Beo Maki.

"Waktunya?" Tanya Kaneki memastikan waktu yg dia dapat.

Dreeet... Dreeet... Dreeet...

'Selalu ada telepon disaat yg tidak tepat. Kali ini siapa?'

"Moshi-moshi!"

"10!" Bukannya dijawab dengan sopan salam Kaneki malah dijawab dengan angka tapi jika didengar dari suaranya itu adalah suara anak kecil.

'Ini hitung mundur. Anak kecil sebagai sandera. Bom!' Dan otak Kaneki langsung dapat menyimpulkan apa maksud dari perkataan orang yg menelponnya tadi.

"9!"

"Apa yg membuat lukisan ini palsu apa atau bagaimana!"

"8!"

"Tunggu sebentar! Ada apa ini sebenarnya." Tanya Maki yg tak tahu menahu soal situasi yg ada di depannya ini, yg dia tahu hanyalah Kaneki a.k.a Einstein sedang melihat lukisan vermeer itu dengan intens lalu Kakuzu yg sedang menyeringai.

"7!"

"Jika sampai hitungan nol dan aku belum bisa menjawab maka bocah yg sedang menelponku ini akan mati. Diam saja dan lihatlah."

"6!"

"Pikirkan Kaneki! Kenji-san bisa tahu tapi kenapa aku tidak?"

"5!"

"4!"

"Kenji-san adalah penyuka bintang bisa berarti..."

"3!"

"Dilangitnya ada yg aneh, sesuatu yg berhubungan dengan bintang tapi aneh dan tidak masuk akal."

"2!"

"Cepat selesaikan Kaneki!" Teriak Maki pada Kaneki karena hitung mundurnya telah sampai 2. Sementara itu Kaneki malah tersenyum menyeringai di balik topengnya.

'Terpecahkan!'

"1!"

"Kau harus mengucapkan selamat tinggal lada bocah ini, Einstein." Kakuzu kali ini benar-benar melakukan tekanan mental pada Kaneki untuk mengacaukan konsentrasinya.

"Supernova Van Buren!"

...

Setelah meneriakkan sebuah nama supernova yg asing bagi hampir semua orang tiba-tiba hitung mundur itu berhenti meninggalkan suasana yg sepi senyap.

"Tolong aku! Aku mohon!" Kali ini suara yg keluar dari handphone Kaneki bukan hitung mundur lagi tetapi permintaan tolong.

"Ba-bagaimana kau bisa tahu?" Tanya Kakuzu dengan tampang kaget yg tak pernah ditunjukkannya kepada siapapun. Bagaimana tidak? Supernova Van Buren adalah sebuah ledakan bintang yg terjadi pada abad ke 18 dan itu kurang lebih sudah 3 abad yg lalu. Meski ada buku yg memuat tentang peristiwa itu tapi jaman sekarang banyak orang yg tidak menghiraukannya sejak ditemukannya dunia online.

"Mudah saja. Titik di langit lukisan itu terlalu besar jika hanya melambangkan bintang, jadi sudah jelas kalau itu Supernova. Mengingat Supernova Van Buren adalah Supernova paling awal yg terjadi di abad 16+ maka sudah sangat terlihat kepalsuan lukisan ini. Bagaimana bisa Supernova yg hanya muncul pada abad ke 18 sudah dilukis dalam abad ke 16?" Jelas Kaneki pada Kakuzu.

Sementara kedua orang di depannya sedang beradu tatapan maut Maki hanya bisa terpukau dengan kemampuan analisis Kaneki. 'Diakah Einstein? Aku saja tidak menyadari kalau itu adalah lukisan palsu.'

"Ah... sepertinya kau benar. Titik itu terlalu terang untuk sebuah bintang. Pasti yg menggambarnya adalah kakek-kakek atau nenek-nenek."

"Kau juga tahu pelukisnya?" Belum terima dengan kekalahannya dengan Einstein Kakuzu juga harus menerima kekalahannya sekali lagi, kali ini dengan Da Vinci.

"Heh? Beneran? Aku tadi hanya asal tebak soalnya orang yg sudah tua biasanya selalu kacau dalam komposisi warna gelap terang."

"Kh... kalian memang menang kali ini anak-anak pemegang gelar tinggi. Tapi bagaimana kalau kita bermain lagi?" Di dalam kalimat tadi selain ada pengakuan kekalahan, Kakuzu juga menyertakan tantangan baru.

"Game lagi? Baiklah. Aku terima tantanganmu ."

"Kalau begitu Einstein dan Da Vinci silahkan ikuti aku." Lalu mereka bertiga pergi ke sebuah tempat.

Ruangan Rahasia (masih di dalam galeri)

Setelah mengikuti Kakuzu kini Kaneki dan Maki sampai di sebuah ruangan yg bahkan mereka tidak tahu ada ruangan seperti ini di Galeri Kuoh. Sebuah ruangan yg dikelilingi oleh dinding putih polos dan hanya ada 1 yaitu pintu yg mereka lewati untuk masuk. Yg paling menonjol dari ruangan itu adalah sebuah tombol yg dikelilingi cermin pelindung dan sebuah keypad 3x3 yg menempel di dindingnya dan bertuliskan angka-angka 1-9 membuat Kaneki menyadari sebuah hal dalam game ini.

'Aku dan Maki akan diperangkap dalam ruangan ini lalu kami harus menemukan kombinasi angka dari lukisan-lukisan yg ada di ruangan ini untuk membuka kaca pelindung itu dan menekan tombolnya untuk bisa keluar.'

"Ruangan yg penuh dengan lukisan!" Melihat setidaknya ada 25 lukisan yg terpajang di dinding membuat mata Maki langsung berbinar-binar. Kenapa bisa seperti itu, bukannya dia Da Vinci? Kalau soal itu sebenarnya lukisan di dinding itu bukanlah lukisan biasa melainkan lukisan para pelukis terkenal jaman dulu dan bisa dijamin bahwa kali ini semua yg ada disini asli.

"Apa maksudnya ini?" Tanya Kaneki sembari mengamati sekelilingnya.

"Kali ini kita bermain Kenja no Game. Taruhan kalian adalah nyawa kalian berdua lalu taruhanku adalah semua lukisan yg ada di dinding ini. Dulu GoG lah yg mencuri semua lukisan ini dari seluruh Galeri terkenal di penjuru dunia demi membuat sebuah Kenja no Game." Setelah itu Kakuzu pergi ke luar ruangan itu disertai seringai liciknya yg tidak bisa dilihat Kaneki karena dia telah berbalik.

Suara pintu besi yg tertutup mengalihkan perhatian Kaneki yg sedari tadi mengamati dan tidak menemukan hal-hal yg menarik (selain tombol tadi). Sementara di sisi lain Maki masih saja melihat-lihat lukisan itu dan kadang memotretnya bersama dirinya (jarang-jarang selfie bareng lukisan terkenal).

Zeeessss...

Suara gas mulai terdengar memasuki ruangan tertutup yg ditempati Kaneki dan Maki saat ini. Gas itu berwarna putih tapi tidak menyebar di udara melainlan menggenang di bawah.

"Gas yg menggenang di bawah dengan kata lain bukan gas beracun meski begitu tetap saja jika sudah sampai ke atas dan terhirup paru-paru akan berbahaya. Baiklah akan aku mulai, This Is our Game Time!" Kata Kaneki sembari menarik sebuah kantung matanya ke bawah disertai lidahnya yg menjulur ke luar (gaya khas Einstein).

10 Menit kemudian...

Setelah sepuluh menit ruangan itu tertutup dan gas sudah sampai di mata kaki mereka, Kaneki segera membuat tindakan agar waktunya tidak semakin terbuang.

"Da Vinci!" Panggil Kaneki kepada satu-satunya orang di ruangan terisolasi ini selain dirinya.

"Hm? Kenapa?" Balas Maki dengan wajah yg tidak terlihat terbebani oleh apapun.

"Ayo kita susun kembali semua lukisan ini disini. Sesuaikan dengan bentuk bingkainya. Bingkainya ada 5 jenis dan masing-masing jenis ada 5 lukisan yg sama jadi kita akan menyusunnya 5x5."

"Baik!"

13 menit kemudian...

Setelah semua lukisan tersusun dengan rapi maka sekarang muncul sebuah teka-teki baru bagi mereka berdua.

"Selanjutnya bagaimana Einstein?" Tanya Maki yg telah selesai meyusun sebuah lukisan terakhir.

"Ada terlalu banyak hal yg bisa dijadikan teka-teki disini. Apakah ini persegi ajaib? Atau hal yg lain?"

Kali ini mereka terlalu banyak membuang waktu tidak seperti tindakan pertama mereka tadi dan hasilnya gas yg tadi hanya sampai mata kaki telah sampai di lutut kaneki.

"Hm... kalau dipikir-pikir susunan lukisan ini sedikit unik." Komentar Maki pada hasil kerjanya.

"Unik?" Kata Kaneki kebingungan.

"Begitulah. Meskipun lukisannya ada 25 tapi pelukisnya hanya ada 5 dan juga lukisannya seperti berkelompok."

"Berkelompok?"

"Hm.. benar seperti itu. Kalau diurutkan dari kanan ke kiri maka pelukisnya adalah Donatello, Masolino da Panicale, Carlo Carra, Voltolino Fontani dan Leonardo Da Vinci." Oh.. yeah! Maki kali ini menunjukkan kapasitasnya sebagai seorang penyandang gelar Da Vinci si jenius bidang seni.

"Donatello, Masolino da Panicale, Carlo Carra, Voltolino Fontani dan Leonardo Da Vinci. Hanya itu fakta yg kita punya, biasanya aku akan langsung menyambungkan semua inisial pelukisnya menjadi DMCVL tapi kali ini kita tidak bisa memasukkan huruf untuk membuka tombolnya."

"Oh... ngomong-ngomong mereka semua berasal dari Italia."

"Italia? D, M, C, V, L Berarti ini angka romawi."

"Angka romawi?" Tanya Maki tidak mengerti.

"Dalam angak romawi alfabet D adalah 500, M adalah 1000, C adalah 100, V adalah 5 dan L adalah 50, mereka digabungkan di dalam satu ruangan artinya di jumlah maka jawaban untuk memenangkan Kenja no Game ini adalah 1655."

Setelah mengetikkan angka 1655 di key pad yg menempel di dinding tadi tiba-tiba kaca yg selama ini menutupi tombol yg menempel di dinding langsung terbuka, tentu saja tanpa pikir panjang Kaneki langsung memencetnya.

Zeeees... (suara pintu besi terbuka diiringi gas yg keluar juga dari ruangan)

Dan benar saja kini terdengar suara pintu besi yg terbuka menghampiri gendang telinga mereka berdua tapi saat melihat keluar yg mereka temukan adalah tubuh Kakuzu berlumuran darah.

Melihat seseorang yg berlumuran darah membuat Maki langsung mengalami yg namanya *shock*. Tubuhnya menegang, matanya terbelalak dan dia merasa ketakutan setelah melihat sesuatu yg lebih mengerikan dari adegan berdarah di film horror psikopat yg pernah ditontonnya yaitu tubuh manusia asli yg berlumuran darah di depan matanya.

"Iruka-san!" Kata Kaneki memastikan bahwa orang yg menembak Kakuzu adalah Iruka. Jika bukan, berarti dia harus berhadapan dengan orang bersenjata kali ini.

"Yo! Kalian baik-baik saja bukan?" Suara balasan itu datang dari arah pintu yg masih ditutupi gas disertai bayangan tubuh seseorang yg bergerak menuju ke tempat Kaneki. Melihat postur tubuh dan suara yg tidak asing baginya Kaneki menyimpulkan bahwa pemilik bayangan itu adalah Iruka.

Sementara itu Maki yg melihat bayangan Iruka semakin mendekat ke arahnya langsung ketakutan dan kali ini karena sudah tak tahan dia memeluk Kaneki dengan sangat erat dari belakang.

"Hoy! Hoy! Da Vinci, kenapa kau ini?"

"A-aku takut. Darah, orang mati, didepan mata." Meski jawabannya terdengar jelas tapi untuk seseorang dengan gelar Da Vinci maka akan terlihat aneh jika menjawab dengan cara seperti itu, maka Kaneki menyimpulkan bahwa Maki mengalami shock.

"Semuanya sudah berakhir. Kau aman disini Da Vinci."

"Ah! Ngomong-ngomong soal gelar. Kau adalah Einstein bukan?" Meski tadinya ketakutan karena shock, Maki langsung kembali menjadi dirinya semula setelah Kaneki menyinggung gelar nya entah sengaja atau tidak.

"Iya, itu gelarku. Lalu ada apa?"

"Aku hanya penasaran saja."

"Kalau begitu aku akan pulang. Kasus telah berakhir begitu pula dengan gamenya."

"Kuharap kita bertemu lagi. Tidak, maksudku sampai bertemu di sekolah!"

"Kau juga Scarlet Princess!" Jawab Naruto yg sudah pergi agak jauh dari Maki.

'Tu-tunggu sebentar! Scarlet Princess! Bagaimana dia tahu? Tidak ada yg tahu identitasku kecuali ayah dan ibu jadi dari siapa dia tahu!'

"Haaah... Naruto-kun itu memang menarik. Tidak heran kalau nantinya aku jadi yg kedua setelah Sona." Menyadari kesalahannya berbicara membuat Maki malu setengah mati.

"A-apa yg aku katakan tadi! Itu tidak mungkin! Yah, meskipun mungkin tapi aku harus membatalkan acara pertunangan ini dan itu sangat mustahil!"

"Tunggu sebentar! Jika Naruto-kun adalah Kaneki dan Kaneki adalah Einstein bukankah itu artinya Einstein itu adalah Nano? Yah... meski buktinya masih belum cukup tapi kurasa itu benar."

'Aku jatuh cinta dengan Nano tapi aku tidak pernah menduga jika Nano adalah salah satu orang buatan Einstein. Apa ini artinya aku juga jatuh cinta dengan Naruto?' Karena memikirkan banyak hal selama perjalanannya Maki tak sadar bahwa dia telah sampai ke tempat dimana dia bertemu Kaneki/Einstein yaitu di depan lukisan vermeer yg palsu.

"Lebih baik aku pulang saja." Dengan keputusan itu Maki berjalan menuju pintu keluar.

07.30 PM (apartemen Naruto)

Setelah mengganti pakaiannya seperti biasanya, melepas topeng dan wig putihnya kini Kaneki telah bertransformasi lagi menjadi Naruto. Lalu apa yg sedang dia lakukan? Sebenarnya dia sedikit kasihan dengan Da Vinci. Entah iseng atau apa muncullah sebuah ide dari otaknya untuk setidaknya sedikit menghibur Scarlet Princess yg menurutnya sedang bersedih karena perjodohannya.

Dibukanya laptop kesayangannya lalu setelah membuka browser dan masuk ke situs Nico Nico Douga dengan menggunakan id: Nano. Itu artinya dia sudah tidak bisa mundur lagi. Tapi bagaimana caranya menghibur seseorang seperti Nishikino Maki?

"Sekarang bagaimana caranya untuk menghibur princess kita? Hm... apakah kita akan berbicara tentang seni, teka-teki atau yg lain? Aku tidak bisa memutuskannya." Keadaan seperti inilah yg paling dibenci Kaneki yaitu keadaan dimana dia tidak bisa memutuskan sebuah hal yg seharusnya sepele.

"Berbicara tentang seni hanya akan membuatnya mengingat game tadi. Teka-teki? Dia bukan Sona yg punya otak detektif sepertiku. Hm... mungkin aku bisa mengajaknya membuat lagu sebagai Nano." Setelah memutuskan apa yg akan dibicarakan dengan Maki, Naruto langsung membuka kolom chat dengan Scarlet Princess ygg kebetulan sedang online.

Thiis Is Chat!

Nano: Ara... ara... bagaimana kabar princess kita saat ini?

Scarlet: Diamlah Nano-kun, aku saat ini sedang bad mood.

Nano: oh... PMS?

Scarlet: P-PMS! sangat tidak sopan berbicara hal seperti itu kepada perempuan tahu. Apalagi ini bukan urusanmu.

Nano: Heeeh... urusan pribadi ya? Atau mungkin urusan hati?

Scarlet: Bukan urusanmu! Dasar tukang ikut campur urusan orang!

Nano: Baiklah... karena aku diusir disini lebih baik aku log out.

Scarlet: Begitu lebih baik.

Nano: Padahal aku ingin mengajakmu berduet loh...

Scarlet: Berduet? Lagunya seperti apa?

Nano: hm... lagu romantis, judulnya Romeo and Cinderella.

Scarlet: Romantis? Maaf saja aku tidak bisa. Minggu ini aku akan bertunangan.

Nano: Hm... biar kutebak, perjodohan bukan?

Scarlet: Bukan urusanmu, Baka!

Nano: Kaiau bisa ceritakan padaku semuanya. Kita kan sesama Utaite dan aku tidak mungkin bisa kehilangan rivalku di NND karena pertunangan itu. Lagipula kau juga sebenarnya ingin menolak pertunangan itu bukan, Da Vinci?

Scarlet: Siapa kau sebenarnya Nano-kun?

Nano: Einstein.

Meanwhile reaksi Maki

"Na-Nano adalah Einstein? Itu berarti Kaneki adalah Naruto, dan Naruto adalah Nano dengan kata lain selama ini aku sekelas dengan Einstein?" Kata Maki yg kini percaya dengan opininya tadi saat di Galeri setelah melihat jawaban terakhir dari Nano.

"Tapi... apa maksudnya tidak mungkin bisa kehilangan rivalku itu sebenarnya tidak bisa kehilanganku?"

Blussh...

Wajah Maki kontan saja memerah. Jika saja dia tidak sedang berada di kamarnya seperti saat ini dia yakin Okaa-sama nya yg kelewat protektif itu akan langsung membawanya ke rumah sakit maupun menyuruhnya langsung tidur di ranjang.

"Tidak! Tidak! Tidak! Berpikirlah lebih jernih Maki. Kata Otou-sama mencurahkan masalah kita pada orang lain akan membuat hati sedikit lebih tenang. Baiklah! Akan kuceritakan semuanya."

Back To Chat!

Nano: Princess!

Nano: Hoy! Princess-chan!

Scarlet: Jangan spam disini, Naruto-kun.

Nano: Habisnya kau terlalu lama diam, jadi kupikir kau tadi diserang oleh calon tunanganmu.

Scarlet: Hentikan menuduh orang tanpa bukti, Naruto-kun.

Nano: Baik-baik! Princess-chan :*

Blush... (sfx: blushing)

Scarlet: Apa-apaan emoji tadi, hah! Aku ini calon tunangan orang lain.

Nano: Ah... sayang sekali kalau begitu. Padahal aku berniat melamarmu loh... aku bahkan sudah menyiapkan cincin pertunangan kita sejak kita pertama bertemu di kelas A.

Nano: (foto cincin pertunangan bertuliskan Scarlet Princess di dalam dan bertahtakan bacan *plaaak!* bertahtakan berlian merah ruby)

Blush... (sfx: blushing)

Scarlet: Tidak mungkin! Itu bohong bukan?

Nano: Memang bohong.

Jleeeb! (Tahu sendiri kan ini sfx apa?)

Scarlet: Tidakkah kau sadar telah mempermainkan hati seorang perempuan disini, Naruto-kun.

Nano: Benarkah? Jujur saja aku juga tidak terlalu mengerti apa maksud perkataanmu tadi, yg pasti aku juga merasa sedikit sakit saat mendengarmu akan bertunangan.

Scarlet: Pasti bohong lagi.

Nano: Sayangnya kali ini tidak. Bukan hanya padamu tapi juga pada Galileo.

Scarlet: Galileo? Siapa pemegang gelar itu?

Nano: Sona Sitri.

Scarlet: Sudah kuduga jika Sona-chan orangnya.

Nano: Kapan pertunangan itu diadakan?

Scarlet: Minggu tanggal 12 april. Memangnya kenapa?

Nano: Kalau aku mengacau sedikit saja, boleh bukan?

Scarlet: Mengacau? Lebih tepatnya?

Nano: Kenapa kita tidak menunggu saja di hari minggu? Selamat malam Princess-chan!

Scarlet: Tunggu sebentar!

Scarlet: Naruto-kun!

Scarlet: Naruto!

Naruto Side...

Menutup browser di laptopnya lalu membuka sebuah file, itulah yg dilakukan Naruto disaat Maki marah-marah di chat mereka karena ditinggalkan begitu saja. File yg dia buka bertuliskan *Pemegang Gelar Tinggi*

Ya, Naruto saat ini tengah membaca sebuah file yg berisi data-data tentang pemegang gelar tinggi seperti dirinya. Jika dia ditanya 'dapat darimana?' pasti dijawab 'Otou-sama.' Yah... melakukan hacking bukanlah sesuatu yg sulit bagi seorang Namikaze atau yg sudah berganti marga menjadi Uzumaki Minato.

Namikaze/Uzumaki Minato adalah seseorang yg mendapatkan gelar newton. Meski tidak turun langsung di lapangan seperti anaknya sang pemegang gelar Einstein tapi dia adalah yg paling tangguh dibalik layar. Kekuatan fisiknya juga bukan main-main jika dilihat dari beberapa kejuaraan beladiri yg dimenanginya sewaktu masih sekolah. Apakah dia tidak menumpul? Kata Naruto saja 'Butuh puluhan tahun lagi jika kau ingin melihat Otou-sama kesulitan memenangkan game Persegi Ajaib.' Itu artinya dalam intelegensi Minato sama sekali tidak menumpul.

"Ho... karakteristik berbagai macam pemegang gelar?" Melihat sebuah judul yg menyita perhatiannya Naruto langsung membaca artikel itu tersebut.

Isi artikel:

Karakteristik Berbagai Macam Pemegang Gelar:

1. Pythagoras: Pemegang gelar ini adalah mereka yg berbakat. Ambisi yg kuat dan rela melakukan apapun demi tujuannya, itulah ciri khas pemegang gelar Pythagoras.

2. Enigma: Pemegang gelar ini adalah mereka yg terobsesi dengan tujuan yg besar. Saat melihat seseorang bermain game yg telah dibuatnya, pemegang gelar Enigma akan diam dan menunggu tanpa memberitahu peraturan game yg mereka buat. Game buatannya selalu penuh dengan hal-hal berbahaya yg dapat mengancam nyawa banyak orang.

3. Antonionette: Pemegang gelar ini adalah mereka yg suka berbaur dengan masyarakat sekitarnya. Sama seperti Enigma, biasanya pemegang gelar ini lebih tertarik dalam membuat game daripada menyelesaikannya. Bedanya kalau Enigma membahayakan banyak orang sedangkan Antonionette hanya si pemain.

4. Newton: Newton adalah gelar bagi mereka yg tidak turun langsung di jalan tapi sebenarnya mempunyai posisi besar, kuat dan dia sebenarnya juga jenius.

5. Da Vinci: Pemegang gelar ini adalah mereka yg 100% berbakat dalam bidang seni. Meski begitu bukan berarti dalam hal lain dia tidak bisa apa-apa.

6. Edison: Gelar yg dimiliki oleh mereka yg jenius dalam sesuatu yg berhubungan dengan angka. Mereka adalah seorang pencipta yg bahkan dapat menciptakan bom (skala kecil) hanya dengan gula dan beberapa alat lain.

7. Galileo: Gelar Galileo adalah gelar yg diberikan kepada mereka yg cepat dalam hal berfikir. Seperti asal mula nama gelarnya, orang yg mendapat gelar Galileo biasanya memakai kacamata.

8. Nightangle: Berbeda dari gelar-gelar yg lain, jika semua tadi adalah milik orang-orang jenius di dunia ini maka Nightangle berbeda. Gelar itu adalah gelar yg diberikan khusus kepada perempuan yg memiliki sifat keibuan, terampil ,kuat dan juga bisa akrab dengan pemegang gelar lain.

9. Einstein: Pemegang gelar yg satu ini adalah yg paling ditakuti oleh Pythagoras, Enigma dan Antonionette karena kemampuannya untuk membuat kesimpulan yg tak terbantahkan. Biasanya mereka yg mendapat gelar Einstein adalah orang-orang yg menggunakan gelang orpheus. Mengingat gelang orpheus yg telah hancur maka diragukan akan ada seseorang yg cukup jenius untuk mendapat gelar ini.

10. (Belum Ditemukan lagi)

~.~.~.~

Chap 10: END!

A/N: Ok! Saya sadar kalo saya memang plin plan dalam update TAPI entah kenapa rasanya pengen banget segera menyelesaikan fic ini -_- lalu buat fic lain. Daripada saya buat fic lain lalu nelantarin salah satunya.

Rada bingung pas bagian Galileo? Ok, gwe jelasin!

Galileo adalah penemu Teleskop Pertama di dunia. Teleskop masuk ke dalam alat optik begitu juga kacamata -_- jadi bagi mereka yg mendapat gelar Galileo akan jadi hal lumrah jika mereka memakai alat optik (kacamata).

Q: "Kok Minato tahu apa aja yg dialami Naruto?"

A: "Biarlah cerita yg menjawabnya."

Q: "Kemana Rias dan Akeno? Kenapa belum muncul lagi?"

A: "Karena belum masuk rutenya mereka. Akeno dulu baru Rias, sekarang masih rutenya Maki."

Q: "Enigma?"

A: "Enigma disini saya ambil dari nama sebuah mesin yg digunakan NAZI untuk membuat kriptografi/pesan yg dikodekan untuk mengkoordinasi pasukan mereka selama perang melawan sekutu. Tapi Alan Turing (pemecah kode enigma) gak akan masuk kesini kok :3 tenang aja!"

Note: ini publish ke 4 kalinya untuk memperbaiki link lukisan vermeer. Maaf ya ^_^

Nano, Log Out!