Chapter 11

Nano, Log In

"Maji de Watashi ni Koi Shinasai!/Love Me, Seriously!"

Warning:

Mungkin akan sangat OOC, EYD salah kaprah dan banyak typo dan cepat atau lambat bakal ada SongFic dan pastinya Kata-kata kasar yg frontal.

Disclaimer:

Naruto: Masashi Kishimoto

Highschool DxD: Ichie Ishibumi

Love Live School Idol Project: KLab (Reader: itu produser gamenya goblok *Yaoming face* Auth: biarin cuk daripada ada yg ngepermasalahin, orang di fandomnya aja gak ada yg make disclaimer *yaoming face*

~.~.~.~

Chapter 11: My World: Sing (Play The Game at the a Boss and Save the Princess)

Opening Song: Nano - Scarlet Story

10 April 20xx

03.00 AM (Apartemen Naruto)

Hari ini adalah H-2 dari jadwal pertunangan Nishikino Maki a.k.a Da Vinci. Lalu dimana tokoh utama kita? Apakah dia tidak akan menepati janjinya kepada Maki?

Jangan bercanda! Uzumaki Namikaze Naruto tidak akan melanggar janjinya. Saat ini sebenarnya Naruto tengah berada di situasi yg sangat genting antara hidup dan mati.

Suatu gerakan kini terlihat dari sebuah tubuh yg sedang menatap layar PC dengan malas dan juga tangan kanannya memegang sebuah telepon. Jika kita dapat melihat rambut pirangnya maka kita pasti tahu siapa dia sebenarnya.

"Aku tidak bercanda Naruto. Menangkan game ini kalau kau tidak ingin mati." Kata sebuah suara yg berasal dari telepon yg sedang dipegang Naruto.

"Itu bukan masalah untukku. Yg menjadi masalah untukku adalah kenapa kau menghalangiku, Tou-san?"

Tou-san? Ya! Naruto saat ini sedang bermain game dengan ayahnya. Tentu saja bukan game yg asing tapi juga tidak bisa dilihat sebagai game yg sepele karena taruhannya disini adalahh nyawa Naruto.

Di sebuah PC atau lebih tepatnya laptop berwarna putih yg berada di depan Naruto ada sebuah game yg ada di dalamnya. Game yg sebenarnya sangat sederhana yaitu menyusun kembali 'potongan-potongan lukisan' menjadi utuh kembali, mirip seperti puzzle tapi jauh lebih sulit karena bentuk tiap-tiap potongannya tidak beraturan.

"Jika dilihat sekilas warnanya adalah hitam tapi itu sebenarnya adalah gabungan dari berbagai macam warna. Goresan yg terasa tidak beraturan tapi bukanlah abstrak karena membentuk sebuah gambar itu artinya gaya surealisme. Hanya itulah petunjukku saat ini, meskipun menyusun semuanya langsung akan menjadi lebih mudah daripada mencari petunjuk." Analisa Naruto pada game di depannya ini. Dia bukanlah si jenius dalam hal seni tapi jika itu berhubungan dengan game maka berbeda lagi ceritanya.

"Seperti yg kuharapkan dari anakku. Tou-san sangat bangga padamu, Naruto."

"Mana ada seorang ayah yg bangga karena anaknya bisa lolos dari beberapa kali percobaan pembunuhan yg dilakukannya?"

"Lebih baik aku yg membunuhmu daripada kau terbunuh karena game dari GoG. Itulah insting keluarga."

"Insting keluarga? Ya sudahlah, waktunya tinggal 1.5 menit jadi aku akan langsung menyelesaikan gamenya. Aku tidak mau PC ini meledak di depan wajahku."

Setelah mengatakan itu Naruto dengan cekatan memilih sebuah potongan lukisan yg memiliki sudut rata dan diletakkannya ke bagian atas. Selanjutnya tinggal menyusun bagian - bagian yg lebih kecil sesuai dengan ukuran, proporsi, bentuk dan juga keselarasan warna agar membentuk sebuah lukisan.

Tepat 15 detik sebelum PC itu meledak, Naruto telah menyelesaikan gamenya. Lukisan itu adalah sebuah lukisan yg dibuat oleh software dan Naruto tahu siapa pembuatnya (siapa lagi kalo bukan minato?). Tapi yg menarik perhatiannya bukanlah fakta bahwa ayahnya yg telah repot-repot membuatkannya sebuah lukisan untuk game tapi apa yg ada di lukisan itu.

Seperti yg dibilang Natuto tadi, hasil campuran dari banyak warna akan menghasilkan sebuah warna yg sangat mirip dengan warna hitam yg membuat suasana lukisan suram. Tapi juga bukan fakta bahwa ini adalah lukisan suram yg telah membuat Naruto tertarik. Lalu apa yg membuat Naruto tertarik?

Gambar yg ada di lukisan itulah yg membuat Naruto tertarik. Disana terlihat seorang wanita yg sedang bertengkar dengan suaminya di depan anak-anak mereka yg masih kecil. Awalnya Naruto bingung dengan maksud lukisan ini tapi tak lama kemudian dia tahu apa maksud ayahnya.

Wanita yg digambarkan disini adalah Nishikino Maki sedangkan suaminya adalah Raiser Phenex. Itulah gambar yg ada di lukisan Minato yg konon katanya mempunyai persentasi kebenaran akan terjadi di masa depan lebih dari 70% mengingat Minato tidak asal melukis tapi juga memprediksi apa yg akan terjadi selanjutnya dengan data yg dimiliki. Raiser Phenex adalah tipe arogan, playboy dan juga suka menebar pesona maka hal seperti ini bisa saja terjadi.

"Tou-san melarangku menggagalkan pertunangan itu?"

"Ya! Aku melarangmu! Kalau kau masih saja bersikeras maka aku akan membunuhmu disana."

Meskipun Minato terlihat menentang tapi sebenarnya dia sangat senang begitu juga sebaliknya. Minato sebenarnya lebih tidak tegaan kepada anaknya melebihi Kushina tetapi karena Naruto bukanlah anak yg biasa maka Minato terpaksa berperilaku kebalikan dari apa yg dia rasakan sebenarnya agar Naruto tidak pernah sekalipun menumpul.

"Aku mengerti, kali ini buatlah yg berhubungan dengan angka. Aku menduga gelar Edison dimiliki oleh Himejima Akeno. Mungkin dengan begitu aku bisa memastikannya dengan reaksinya."

"Kau anak yg menyebalkan. Jangan memerintahku seolah kau adalah bos disini. Aku bisa saja ke apartemenmu lalu menghajarmu sampai sekarat seperti 2 tahun yg lalu."

"Jangan bicara tentang hal itu lagi di depanku, Tou-san." Tiba-tiba nada suara Naruto berubah menjadi dingin.

"Orang yg bahkan belum mampu melupakan yg terjadi di masa lalu tidak berhak untuk menyuruhku. Aku sangat benci pada 3 orang, yaitu: orang yg memerintahku, orang yg menentangku dan orang bodoh yg bahkan tidak bisa melupakan masa lalunya."

"Diamlah, ini tidak ada hubungannya dengamu." Suara dingin Naruto makin menjadi-jadi pertanda dia telah sangat marah. Bahkan Minato yakin saat ini jika mereka bertarung 1 lawan 1 maka dia akan mengalami keretakan tulang di beberapa alat geraknya meskipun bisa menang.

"Pikirkan baik-baik tindakanmu Naruto, GoG selalu mengawasi gerak-gerikmu."

"Akan kuingat itu."

Tut... tut...

Setelah perbincangan yg penuh akan emosi itu Naruto segera membuang PC yg ada di depannya ini. Dia tahu bahwa PC ini telah dimodifikasi oleh Minato dan tentunya selain dirancang untuk meledak juga telah disusupkan dengan berbagai alat stalker seperti microphone ataupun kamera mikro.

"Pertunangan Da Vinci akan digelar di sebuah gedung hotel mewah. Menyusup hanya akan berakhir sia-sia mengingat banyaknya tamu dan juga penjaganya. Kalau sudah seperti ini maka pilihan terakhirku adalah muncul saat acara dengan keributan." Kata Naruto pada dirinya sendiri. Saat ini dia sedang memikirkan rencana yg paling efisien dan tentunya dengan resiko tertangkap yg paling kecil.

"Topeng Menma akan menarik banyak perhatian, topeng Kaneki akan membuat keributan. Aku perlu topeng baru." Setelah itu Naruto menelpon seseorang. Lebih tepatnya seseorang yg selama ini membuatkannya topeng.

"Moshi-moshi! Uta-san?"

"Disini Uta, desu..."

"Aku perlu topeng baru."

"Ho.. Naruto ya? Topeng seperti apa?"

"Topeng yg menutupi seluruh wajah, monoton tapi tidak terlalu polos."

"Manusia atau hewan? Atau mungkin monster?"

"Manusia saja. Kutunggu besok, kirimkan saja ke apartemenku. Maaf mengganggu tidurmu."

"Baiklah, tidak apa-apa."

Tut... tut...

Suara telepon yg ditutup menandakan percakapan antara mereka berdua telah berakhir. Yg ditelpon Naruto tadi adalah Uta, Kazami Uta. Pengrajin topeng langganan Naruto yg juga mengetahui identitasnya yg lain sebagai Nano, Menma dan Kaneki.

"Sekarang tinggal membuat rencana pelarian diri. Gaun yg dipakai saat bertunangan biasanya bukanlah gaun yg besar tapi jika mengingat Raiser adalah salah satu orang bodoh yg tidak menggunakan otaknya maka bisa saja Maki langsung memakai gaun pernikahan."

"Itu berarti aku tidak bisa membawanya naik motor. Pikirkan Naruto... waktunya tinggal 2 hari lagi! Belum lagi aku harus memenangkan Game yg dibuat oleh Tou..." Tiba-tiba Naruto menghentikan bicaranya.

"Jadi begitu maksudnya Tou-san. Tidak ada yg aku khawatirkan sekarang."

06.55 AM (Ruang Kelas A)

Saat ini Naruto berada di ruang kelas A begitu pula dengan Sona. Tempat duduk mereka yg berjauhan nyatanya tidak menghalangi niat Sona untuk mendekati pemuda Namikaze ini.

"Ohayou, Naruto-kun." Sapa Sona mengawali pembicaraan mereka.

"Ohayou, Sona." Balas Naruto dengan pandangan yg masih tak bisa lepas dari buku fisika yg dibacanya.

"Sedang membaca apa?"

"Reaksi Termit dan Efek Meissner."

"Reaksi Termit? Maksudmu reaksi aluminium dengan oksida besi?"

"Iya."

"Untuk apa?"

"Suhu yg dihasilkan dapat mencapai 2500 derajat celcius atau 4532 derajat fahrenheit. Cukup panas untuk meleburkan pondasi gedung pencakar langit biasa tapi masih kurang jika terdapat besi karbon dengan konsentrasi lebih dari 1% di dalam pondasinya."

Dan dengan jawaban inipun Sona menyimpulkan bahwa Naruto masih memikirkan 'Bagaimana caranya menghancurkan gedung yg sangat kokoh menggunakan bom?' Seperti seminggu yg lalu.

"Haaah... kau ini bodoh ya? Kenapa masih memikirkan hal seperti itu? Memangnya apa yg ingin kau runtuhkan?" Komentar Sona disertai hembusan nafas lelah. Dia tidak percaya seorang pemuda bergelar Einstein di depannya memikirkan hal sepele seperti itu sampai seperti ini.

"Tidak apa-apa. Hanya mengumpulkan data selagi masih sempat. Ngomong-ngomong kau tahu dimana Da Vinci?"

"Da Vinci? Maksudmu pemegang gelar? Siapa namanya?" Berbeda dengan tadi yg terlihat malas kini Sona bertanya dengan antusias.

"Nishikino Maki." Jawab Naruto singkat.

"Heh! Nishikino Maki?"

"Ya."

'Dia lawan yg cuiup tangguh. Tapi Galileo tidak akan mudah kalah.'

"Dia tidak masuk sekolah hari ini. 2 hari lagi dia akan bertunangan. Kita semua diundang." Kata Sona menjelaskan alasan kenapa Maki tidak masuk sekolah.

"Jam berapa?"

"Hem... kira-kira jam 10 mengingat hari itu adalah hari minggu."

"Sudah kuduga. Kalau begitu bisakah kau pergi dari sini lalu kembali ke bangkumu?"

'Kalau begini terus aku akan kehilangan rivalku di NND dan juga lukisan Tou-san akan menjadi kenyataan. Bagaimanapun aku tidak akan kalah darinya. Tebakanku sementara adalah Tou-san mengajarkan Raiser tentang game yg akan kumainkan lalu Raiser yg akan memberiku game seolah-olah dialah yg membuatnya padahal itu adalah buatan Tou-san. Ditambah lagi Tou-san pasti membuatku sebagai orang yg bersalah.'

'Intinya adalah selesaikan game, lihat reaksi Akeno Himejima-san, selamatkan putri dari ramalan Tou-san.'

"Kau mengusirku? Jahat sekali." Wajah Sona kini sudah memerah dengan liquid-liquid bening yg sudah bersiap di jurang matanya siap untuk teejun menuruni pipinya.

"Tidak-tidak! Bukan seperti itu. Sebentar lagi Kakashi-sensei akan datang jadi cepatlah duduk di tempatmu."

"Berapa lama?"

"5 detik lagi."

5!

4!

3!

2!

1!

Sreeeek...

Terdengar suara pintu kelas yg digeser oleh seseorang dan jika dilihat lebah lama maka akan terlihat sarung tangan hitam, penutup wajah hitam dan juga rambut putihnya.

'Benar-benar 5 detik! Einstein memang mengerikan.'

"Baiklah, kita akan mulai pelajarannya. Keluarkan buku fisika kalian."

"Baik! Sense!"

Skip Time! (Pulang Sekolah/ekskul basket)

Seperti biasanya Naruto kini tengah latihan dengan klub basket dan seperti biasa pula latihan mereka berjalan bak Neraka yg paling luar. Fisik mereka ditempa beberapa kali lipat lebih keras dari biasanya setelah Naruto menciptakan Ignite Pass.

Ignite Pass adalah pass yg dilakukan Naruto dengan memukul bola disertai putaran searah jarum jam sehingga gesekan permukaan bola dan udara sendiri berkurang drastis menyebabkannya menjadi pass yg sangat keras dan mustahil untuk dihentikan orang biasa. Oleh karena itu mereka melatih tubuhnya terutama telapak dan pergelangan tangan agar cukup kuat untuk menangkap pass Naruto.

"Apa kau sudah lelah Issei? Kelemahanmu adalah tanganmu yg masih kaku untuk melempar maupun menangkap bola sehingga menyebabkanmu membutuhkan waktu ekstra dalam menangkap maupun melempar." Kata Guy-sensei setelah melihat Issei yg tepar setelah push up.

"Tidak! Ini masih belum apa-apa sensei!" Dengan begitu Issei melanjutkan latihan tangannya.

Mungkin ada yg bertanya dimana yg lainnya? Jawabannya adalah mereka terpisah di beberapa tempat untuk latihan. Issei mendapat bagian push up yg bisa dilakukan In door, Vali mendapat bagian berlatih bersama tim sepakbola untuk membiasakan kakinya yg memang lebih mudah lelah, Sairaorg yg mendapat bagian berlatih dengan klub beladiri bersama Naruto sementara itu yg paling nyeleneh adalah Sirzech dan Furihata yg mendapat bagian berlari halang rintang memutari lapangan.

"Kalian berdua siap?" Ucap sebuah suara memecah kesunyian yg sempat terjadi setelah Naruto dan Sairaorg memasuki arena.

"Baik." Jawab mereka berdua bersamaan.

"Kalau begitu Mulai!"

"Ini adalah pertarungan serangan tunggal. Kita hanya bisa menyerang lawan satu kali!" Sairaorg melesat ke arah Naruto dengan cepat dan tangannya sudah mengepal siap untuk memukul Naruto.

'Tenaga yg dimilikinya sangat besar, aku sudah jelas kalah dalam kekuatan. Tapi ada satu cara agar bisa imbang.' Lalu Naruto juga melesat dengan cepat ke arah Sairaorg dengan tangan yg sudah terkepal. Tidak seperti biasanya Naruto kini lebih mencondongkan badannya ke arah depan dan mempercepat larinya.

'Kecapatan bisa diubah menjadi kekuatan jika kau mencondongkan badanmu ke depan dan berlari sekuat tenaga.' Naruto mengingat pesan dari ayahnya.

3...

2...

1...

Duakkk...

Suara pertemuan antara kedua pukulan itu ternyata menghasilkan suara yg sangat keras seolah-olah tulang yg berada di balik kulit kedua tangan itu telah patah.

"Ittai!" Suara yg sangat tidak elit itu muncul dari mulut Naruto dan Sairaorg. Tak siap dengan gelombang kejut yg tiba-tiba mereka terima mengakibatkan tangan kanan mereka terasa mati rasa.

Sementara itu sensei yg mengajar klub beladiri dan murid-muridnya hanya bisa sweatdrop di luar arena.

"Dalam pertarungan serangan tunggal seharusnya jika lawan mencoba memukul wajah maka kita harus mengincar bagian yg lain seperti perut dsb. Bukannya memukul wajah juga. Ingat itu baik-baik." Katanya menasehati murid-muridnya.

"Baik shisou!"

Time Skip

12 april 20xx

03.00 AM (apartemen Naruto)

"Seperti biasa topeng buatan Uta-san memang bagus." Komentar Naruto pada topeng yg tengah dipakainya. Topeng itu mentupi seluruh wajahnya dengan warna putih dan corak garis wajah manusia yg sedang tersenyum menyeringai (topeng Hei di darker than black).

"Granat asap, Gas air mata Semuanya sudah siap. Sekarang tinggal baju apa yg aku pakai? Aku tidak mungkin menggunakan jas resmi disaat seperti ini." Dan kelemahan Einstein pun mengalahkan kejeniusannya kali ini. Hal sepele yg harusnya bisa dipikirkan dalam sekejap mata nyatanya membuat Naruto tidak bisa mencari jalan keluarnya.

"Tidak mungkin aku kalah oleh pemikiran primitif seperti itu. Kalau aku menggunakan jas maka pasti Otou-sama akan menyimpulkan aku adalah tamu undangan dari sekolah karena postur tubuh, dan laki-laki di Kuoh Gakuen yg diudang adalah aku sebagai teman sekelas lalu Sirzech dan Sairaorg yg orangtuanya merupakan teman sekelas orangtua Maki lalu Issei dan Vali dengan alasan yg sama. Apa yg harus aku pakai agar tidak menjerumus ke sekolah?"

"Sudahlah itu urusan nanti. Sekarang aku akan mengatur rute masuk dan keluar." Menyerah dalam pemikiran pemilihan baju yg akan digunakannya untuk mengacaukan pertunangan Maki, Naruto ganti memikirkan jalan yg akan dia gunakan untuk keluar dan masuk.

09.45 AM

"15 menit lagi acaranya akan dimulai. Saat sudah berjalan 10 menit aku akan masuk lewat pintu depan. Kurasa aku harus bersiap mulai sekarang karena game angka bukanlah keahlianku." Lalu Naruto pergi ke belakang gedung yg akan digunakan untuk acara pertunangan Maki. Saat ini dia memakai seragam ala cleaning service dan topi yg menutupi rambut pirangnya.

Meanwhile Sona Side...

"Kemana Naruto-kun ya?" Kata Sona mencari si pemegang gelar Einstein itu tapi tidak kunjung menemukannya.

"Kakashi-sensei, dimana Naruto?"

"Naruto? Entahlah... tapi kemarin dia berkata padaku bahwa dia ada urusan jadi tidak bisa datang."

"Oh... kalau begitu saya permisi sensei."

"Hm..." Mendengar gumanan yg menandakan kata 'Ya' itu Sona pergi meninggalkan Kakashi-sensei yg datang bersama murid-murid kelas A.

Setelah berjalan-jalan sebentar untuk mencari pemuda bergelar Einstein a.k.a Naruto, Sona tidak langsung percaya pada perkataan sensei nya tadi. Bisa saja Naruto membohongi mereka berdua untuk mengurus kasus yg akan terjadi di acara pertunangan ini.

Kasus? Dia adalah salah satu dari beberapa orang yg diberitahu kalau akan ada seseorang yg mengacau dalam pertunangan ini oleh Minato.

Flashback...

Di sebuah cafe di pinggir jalan terlihatlah 2 orang laki-laki yg saling berhadapan. Laki-laki yg satu terlihat calm sedangkan yg satunya terlihat badass.

"Jadi ada apa Minato-ojiisan?" Tanya laki-laki yg terkihat badass itu tak sabaran. Terlihat sekali dari penampilannya menunjukkan dirinya seorang bad boy.

"Aku tahu kau khawatir tentang besok Raiser tapi bersabarlah sedikit. Kita sedang menunggu seseorang."

"Siapa?"

"Sona-sitri."

Ckleeek...

"Maaf aku terlambat." Suara itu datang dari arah pintu masuk cafe. Disana terlihat seorang gadis berkacamata memasuki cafe itu.

"Bagaimana kalau sekarang mulai jelaskan semuanya pada kami berdua?"

"Haaah... baiklah. Aku akan langsung ke intinya saja. Besok saat pertunanganmu akan ada seseorang yg mengacau disana."

"Siapa dia? Berani-beraninya mengacau di pertunanganku."

"Aku juga tidak tahu. Pastinya besok dia akan menggunakan topeng."

"Jadi kalau ini tidak ada hubungannya denganku kenapa aku diundang kemari dan diberitahu hal ini?"

"Kalau alasan itu sebenarnya aku ingin kau memberitahukan hal ini kepada Alex dan Elena."

"Tunggu sebentar! Bagaimana Minato-ojiisan tahu kalau akan ada yg mengacau?"

"Lihatlah ini, Tomohisa menemukan surat ini di kamar Maki."

Isi Surat:

Aku akan menyelamatkanmu. Tunggulah aku tanggal 12 april nanti, sekarang aku masih harus mengatur semua persiapannya.

"Karena tanggal 12 adalah hari pertunangan maka bisa dipastikan dia akan mengacau saat itu."

"Surat yg misterius." Komentar Sona setelah membaca surat itu.

"Jadi yg menemukan itu adalah Ayah mertua..." Belum sempat Raiser selesai bicara, omongannya langsung dipotong oleh Minato.

"Calon ayah mertuamu."

"Itu sama saja. Apa lagi yg akan kauberitahu? Kurasa bukan hanya itu alasannya sampai aku dipanggil kesini."

"Bacalah ini. Ini adalah jati diri Maki yg lainnya." Kata Minato sembari tangannya menyodorkan sebuah dokumen yg cukup tebal ke depan Raiser.

"Dokumen apa ini?" Tanya Raiser sembari membuka dokumen di depannya.

"Jati diri yg lainnya?" Beo Sona.

'Seperti yg dibilang Naruto-kun.'

Setalah beberapa menit membaca dokumen itu akhirnya Raiser dan Sona selesai membacanya. Raiser juga sedikit terkejut karena mengetahui bahwa calon tunangannya bukanlah seorang gadis biasa tetapi gadis istimewa yg mendapat gelar Da Vinci.

Sementara Sona yg telah selesai membaca dokumen tentang Nishikino Maki/Da Vinci sedikit curiga kepada Minato.

"Darimana anda mendapatkan dokumen ini Minato-ojiisan?"

"Tomohisa yg memberikannya padaku. Aku juga sedikit terkejut saat pertama membacanya."

"Hem... kalau begitu apa aku harus memanggil polisi untuk mengawal pertunangan besok?"

"Itu tidak perlu. Kita akan melumpuhkannya disana Raiser."

"Kita?"

"Ya, kita berdua."

"Etto... kalau begitu aku akan pergi saja agar kalian tidak terganggu."

"Ya, pergilah Sona." Usir Raiser kepada Sona.

"Sampaikan salamku pada Alex dan Elena." Sebelum Sona keluar Minato menyempatkan diri untuk menitipkan salam kepada teman lamanya itu.

"Baik, Minato-ojiisan." Dengan begitu Sona meninggalkan mereka berdua di cafe itu karena tidak mau mengganggu pembicaraan.

Flashback END!

"Ngomong-ngomong apa yg dibicarakan Raiser dan Minato-ojiisan ya?"

"Gawat! Sudah jam segini, sebentar lagi akan dimulai."

Di sisi lain (Naruto)

Jika ada yg bertanya dimana tokoh utama kita maka jawabannya adalah dia berada tepat satu lantai diatas ruangan yg digunakan untuk acara pertunangan Maki dan Raiser.

"Tidak ada waktu untuk melubangi atap. Cih... tidak ada cara lain selain lewat pintu depan. Granat Asap, siap."

Melihat jam yg masih menunjukkan 10.05 Naruto kembali mengurungkan niatnya.

"Masih belum, aku harus sedikit bersabar lagi."

Setelah menunggu 5 menit kemudian Naruto mulai bergerak. Pakaian cleaning service yg dia gunakan tadi telah berganti dengan sebuah jaket putih polos dengan huruf N yg besar depannya beserta celana jeans berwarna hitam.

"Pintu depan sangat kokoh. Ada kartu khusus yg dibutuhkan untuk masuk belum lagi dijaga oleh 2 orang pengawal. Jadi yg harus aku lakukan adalah membuat pengawal itu membukakannya untukku dengan cara membuat keributan dari dalam."

Step 1 (Menyusup diam-diam)

Membuka celah ventilasi yg terhubung dengan banyak ruangan salah satunya ruang pertunangan, Naruto melemparkan 3 buah granat asap di dalamnya dan tentunya pemicunya sudah dicabut. Setelah itu Naruto keluar dari ruangannya dan segera berlari menuju ke ruangan pertunangan.

"Ruangan akan penuh dengan asap dalam waktu 1 menit, itu cukup untuk kesana lalu untuk menunggu asap hilang butuh waktu sekitar 1 menit juga. Itu artinya aku hanya punya 1 menit untuk mengatur nafas. Cih! Ini merepotkan seperti biasa."

Dan benar saja setelah sampai di depan ruangan pertunangan, pintu ruangan yg kokoh itu dibuka oleh 2 orang penjaga di luar karena mendengar suasana ribut yg tak lazim di dalam. Melihat hal itu Naruto di balik topengnya menyeringai dan segera masuk ke dalam ruangan yg masih dipenuhi asap hasil dari granat yg dilemparnya.

Seperti dugaannya kini dia bisa masuk kesana dengan mudah tanpa ketahuan oleh seorangpun. Kecuali...

Ckreek...

Dan seperti dugaannya bahwa dia telah ditodong oleh sebuah pistol. Asap yg masih belum hilang memang membuatnya tidak bisa melihat dengan jelas tapi dia sudah tahu siapa yg membidiknya saat ini.

"Kau sudah ditunggu dari tadi." Sebuah suara yg familiar menghampiri indera pendengaran Naruto.

"Ternyata aku ditunggu ya? Ini sedikit mengejutkan."

"Keluar juga kau, N!"

"Selamat atas pertunanganmu sebelumnya Raiser. Itupun jika kau benar-benar bisa bertunangan hari ini."

"Cih... aku tidak akan membiarkanmu."

"Bagaimana caramu melakukannya?"

"Aku menantangmu bermain game!"

Disisi lain (Sona)

"Ada apa ini sebenarnya." Sona tidak menyangka jika orang yg akan mengacau di pertunangan akan muncul disaat Raiser dan Maki akan memakai cincin pertunangan.

'Aku menantangmu bermain game!' Dari tempat Raiser terdengar suara yg menantang bermain game.

"Game? Apa yg dipikirkan Raiser saat ini?"

Setelah asap menghilang terlihatlah seseorang yg terlihat misterius karena memakai topeng. Dia menggunakan jaket berwarna putih dengan huruf N di depan dan juga celana jeans berwarna hitam.

"Siapa dia? Kenapa Raiser mengajaknya bermain game?"

"Mungkin dia adalah seseorang yg hebat dalam game, Sona." Sebuah suara yg familiar masuk ke dalam telinga Sona.

"Akeno? Bukankah tadi kau bersama Rias?"

"Ara... ara... tadi Rias langsung dikawal oleh Sirzech-senpai dan Sairaorg-senpai saat asap tadi mulai muncul."

'Keluarga yg protektif.' Jujur saja saat ini Sona merasakan yg namanya sweatdrop.

"Lalu kalau orang yg berada di balik semua ini hebat dalam game, menurutmu siapa?"

"Kalau itu aku kurang tahu, yg pasti sekarang kita harus menyingkir ke pinggir ruangan."

"Baiklah ayo."

Back to Naruto

"Game seperti apa?"

"Lihatlah lantai tempatmu berdiri. Ada banyak gambar angka disana. Carilah angka yg paling cantik dan indah diantara semua angka itu." (Lihat gambarnya di link ini: facebook* ?fbid=1581584215455396&id=100008114980726&set=a.1385977671682719.1073741828.100008114980726&refid=17&_ft_&_tn_=E )

"Hm? Angka? Ho... seperti dugaanku."

'Ini buatan Tou-san tapi Raiser lah yg ditunjuk oleh Tou-san untuk menantangku dalam game ini selain untuk mengalahkanku tapi juga menunjukkan kepada orangtua Maki bahwa dia mampu menjaga Maki dari GoG.'

"Waktumu adalah 2 menit untuk berfikir, setelah itu kau harus menjawabnya dengan tepat. Kalau kau benar akan aku kabulkan sebuah permintaanmu dan kalau kau salah maka kau akan ditembak ditempat." Janji sekaligus ancam Raiser.

"Lakukanlah yg terbaik, penyusup-san." Meski Minato mengatakannya dengan wajah tersenyum Naruto merasakan hal yg aneh dari senyuman Minato.

'Jangan bilang ini hanya pembukaan, game sebenarnya ada padamu Tou-san!'

"Yah, akan kulakukan yg terbaik. The Game has only just begin."

Mendengar kalimat itu Maki seolah terkena tamparan keras karena baru saja menyadari sebuah hal. Bahasa Inggris yg lancar, Jaket putih, huruf N dan topeng. Dari bukti itu semua bisa dipastikan bahwa dia adalah Nano.

"N - Nano-kun? Dia adalah Nano-kun." Kata Maki tak percaya. Air mata harunya tak kuasa keluar karena tak menyangka bahwa Nano a.k.a Einstein a.k.a Naruto akan berbuat sampai sejauh ini. Di lubuk hatinya yg terdalam dia sangat bersyukur karena Naruto menepati janjinya. Meski begitu dia juga khawatir karena saat ini Naruto sedang berada dalam sebuah game yg mengharuskannya mencari sendiri petunjuknya.

Merasa diperhatikan oleh seseorang yg berdiri di samping Raiser, Naruto menyapanya. "Hm.. tenang saja Princess. Aku akan membebaskanmu sebentar lagi."

"Itu akan terjadi jika kau bisa memenangkan game ini. Waktumu hanya 2 menit dan sekarang game dimulai!"

"Aku tahu." Lalu Naruto mengobservasi lantai tempatnya berpijak sekarang. Disana terlihat susunan angka yg sangat-sangat tidak beraturan dan dia harus menemukan angka yg paling cantik dan indah diantara banyak angka.

Step 2 (menangkan semua game)

Mengamati sususnan angka yg membuat bingung dengan sebuah pistol yg di todongkan ke kepala bukanlah hal yg mudah bagi orang biasa. Tapi Naruto bukanlah orang biasa, dia lebih seperti psikopat dalam hal berfikir.

'Semua susunan angka yg ada disini sangat tidak beraturan dan tidak ada petunjuk. Banyak positif dan sedikit yg negatif itu artinya bagian negatif ada untuk mengurangi bagian positif. Tou-san juga sebenarnya sedikit awam dengan game angka itu berarti jika dia menambahkan negatif diantara positif maka ada sesuatu yg tidak bisa dicapai hanya dengan penjumlahan.'

'Jika aku mengkonversi angka-angka ini ke alfabet maka tidak ada yg cocok dengan angka negatif. Itu artinya sesuatu yg tidak bisa dicapai hanya dengan penjumlahan adalah angka 1 alias huruf A dan itu adalah petunjuknya. Kemungkinan terbesar untuk mencari petunjuknya adalah menjumlahkan 1 digit angka terdepan (dari kiri) dan 1 digit angka paling belakang (dari kanan) dan itu berlaku di setiap baris.'

'Tidak! Bukan 1 digit tapi 2 digit sekaligus. Mengingat ada angka negatif yg berada di digit ke 2 dari belakang. Sekarang waktunya mengkonversi angka hasil penjumlahan 2 digit depan dan 2 digit belakang. 3+3+2+1= 9 kalau dikonversi secara alfabetis maka huruf I selanjutnya 6+6+3+3= 18 itu artinya huruf R, selanjutnya adalah huruf A, S, I, O, N, A, L. Kalau disusun maka menjadi kata Irasional. Irasional adalah bilangan yg pembagiannya tidak pernah berhenti dan tidak bisa ditulis dengan rasio 2 bilangan bulat. Ada 3 sistem bilangan di dunia yg memakai bilangan irasional yaitu: Sistem bilangan Desimal, Sistem bilangan Biner dan Sistem bilangan Heksadesimal. Mengingat bentuknya maka sistem Biner sangat tidak mungkin jadi pilihanku hanya Desimal dan Heksadesimal.'

'Tunggu sebentar! Desimal, Biner, Heksadesimal? Bukankah ini rasio emas? Itu benar! Ini rasio emas!' Menemukan fakta yg akan mengantarnya menuju pemikiran yg lebih rumit, Naruto menyeringai dibalik topengnya.

'Tapi nilai yg umum digunakan untuk pendekatan rasio emas adalah 1, 618 itu artinya Heksadesimal tidak lagi berlaku. Game ini sangat berbau kental dengan rasio emas dengan kata lain adalah Phi. Tapi di susunan angka ini tidak ada banyak angka yg bisa aku jadikan pendekatan untuk rasio emas. Itu artinya game ini tidak membutuhkan nilai pendekatan rasio emas tapi sesuatu yg lain.'

'Pikirkan Naruto... pikirkan apapun tentang rasio emas...' Disaat-saat seperti ini kelihatannya dewi keberuntungan berpihak pada Naruto.

'Apapun tentang rasio emas itu artinya Nilai, Pencetus pendekatan, Penemu bahkan sampai bentuk notasi. Notasi? Kalau tidak salah notasi Phi alias Rasio Emas itu adalah lingkaran yg tengahnya dipotong oleh sebuah garis lurus lalu di setiap ujung garis yg membelah lingkarannya terdapat garis horizontal yg pendek.' (Cari aja di google biar lebih paham)

'Jadi begitu! Angka cantik yg dimaksud Raiser bukanlah angka pendekatan rasio emas tetapi angka yg membentuk notasi rasio emas di susunan angka-angka ini. Karena banyaknya bilangan yg mendatar ada 9 maka aku harus membayangkan pusat lingkarannya ada di bilangan ke 5 mendatar. Meskipun banyaknya bilangan yg turun juga ada 9 tapi ini tidak membentuk persegi melainkan persegi panjang, kemungkinan yg paling besar adalah tidak semua angka disini harus disusun menjadi jawaban. Sekarang aku harus memikirkan batas-batasnya.'

'Jika aku membayangkan ada lingkaran yg bertitik pusat di bilangan ke 5 mendatar dan 5 menurun yg harus menyisakan 1 baris mendatar diatas dan di bawah itu artinya lingkaran itu hanya bisa menjangkau 3 baris yaitu baris bilangan mendatar ke 4, 5 dan 6. Lalu jika aku membayangkan titik pusat lingkaran itu dipotong oleh garis vertikal sampai ke 1 baris yg tersisa di atas dan bawah lalu membayangkan lagi ada garis horizontal pendek di setiap ujung garis yg memotong lingkaran maka akan jadi notasi Phi.'

'Masalahnya adalah bagaimana aku meyusun angka-angka ini. Tidak mungkin jika aku menyusunnya secara acak. Pasti ada petunjuk lain selain di susunan angka ini tapi ada di ruangan ini. Tunggulah sebantar Da Vinci, aku akan menyelamatkanmu dari pertunangan ini.' Setelah mengatakan nama Da Vinci seketika otak Naruto langsung merasa down. Harusnya dia menyadari hal ini dari awal agar tidak perlu kerepotan seperti ini.

'Da Vinci adalah salah satu tokoh yg kidal. Itu artinya dia bisa melukis dengan tangan kiri. Untuk melukis lingkaran dengan tangan kiri orang biasa akan memutar tangannya berlawanan dengan arah jarum jam tapi untuk orang kidal malah sebaliknya, yaitu memutar tangan searah jarum jam. Selanjutnya untuk menggambar garis vertikal biasanya semua orang sama yaitu dari atas ke bawah. Yg terakhir adalah garis horizontal kecil di ujung garis vertikal yg memotong lingkaran tadi, biasanya orang kidal akan menggambarnya dari kanan sedangkan orang biasa akan menggambarnya dari kiri. Urutan menyusunnya sudah aku ketahui. Terpecahkan.' (Yg saya coba deskripsikan bentuknya seperti ini: facebook* ?fbid=1581584832122001&id=100008114980726&set=a.1385977671682719.1073741828.100008114980726&refid=17&_ft_&_tn_=E )

Meanwhile Sona Side...

Di pinggir ruangan yg kini telah berubah menjadi arena game, Sona berkumpul bersama tamu-tamu yg lain dan tentunya orangtua nya.

"Akeno, Okaa-san! Bagaimana menurutmu dengan game yg diberikan Raiser pada penyusup itu?" Tanya Sona pada dua wanita yg berbeda umur di belakangnya.

"Entahlah aku tidak tahu apa maksud Raiser. Lalu apa maksud Tomohisa membuat hal seperti ini di acara pertunangan anaknya sendiri?"

"Sudahlah Elena, Tomohisa pasti punya alasan yg bagus untuk hal seperti ini. Mungkin saja Minato sudah tahu tentang penyusupan ini lalu memberitahu Tomohisa jadi dia melakukan game untuk menghindarkan putrinya dari hal-hal berbahaya."

Sementara itu Akeno masih diam tidak menjawab pertanyaan Sona, dia sedang konsentrasi dengan angka-angka yg masih dapat dia lihat dari sini karena dia cukup tinggi.

'Aku tahu bahwa maksud angka yg cantik tadi adalah Phi. Tapi tidak ada angka yg cocok untuk menyusun pendekatan Phi tingkat tinggi. Apakah mungkin hanya pendekatan Phi secara umum? Rasanya mustahil.'

"Akeno! Kenapa kau diam saja." Merasakan cubitan di pipinya dan sebuah suara yg tak asing di telinganya berhasil membebaskan Akeno dari lamunannya.

"Ara... ara... masih ditemani bodyguardmu Rias?" Melihat Rias yg masih dikawal oleh Sirzech dan Sairaorg tentu saja membuat Akeno tertawa.

"Sekali lagi kau menyinggung soal itu... aku tidak akan segan-segan memukulmu, Akeno." Rias yg sudah muak dengan ejekan dari Akeno mau tak mau harus mengancam sahabatnya ini agar tidak selalu menggodanya.

"Ba-baiklah... aku akan berhenti bicara." Akeno yg mengetahui Rias sedang masuk ke dalam mode marahnya tak mau mengambil resiko.

"Akeno, bagaimana menurutmu dengan game yg diberikan Raiser?"

"Game itu? Hm... bagaimana mengatakannya ya? Itu adalah game yg berhubungan dengan Phi."

"Pi?"

"Bukan Pi tapi Phi."

"Itu sama saja."

"Itu berbeda baka-rias. Pi biasanya diidentikkan dengan lingkaran sedangkan Phi tidak ada hubungannya dengan Pi karena berhubungan dengan rasio emas."

"Jadi menurutmu game itu berhubungan dengan rasio emas?"

"Begitulah."

'Meskipun sudah tahu sejauh ini. Aku tidak bisa membuat jawaban untuk memenangkan game ini.' Batin Akeno dengan ekspresi dongkol.

Back To Naruto...

"Waktumu sudah habis. Sekarang kau harus menjawabnya dengan benar." Kata Raiser mengakhiri waktu berpikir Naruto.

"Baiklah, tapi sebelum itu apakah aku boleh bertanya?"

"Bertanya apa?"

"Siapa yg membuat game ini?"

"Tentu saja aku. Dengan semua kemampuanku aku akan melindungi Maki."

"Kalau begitu kau tidak akan bisa melindunginya. Karena aku baru saja memecahkan game yg kau akui milikmu ini."

"A-apa? Kalau memang benar maka buktikan sekarang juga!" Tantang Raiser pada pemuda bertopeng di depannya ini.

"Baiklah. Jawabannya adalah 4.3246587656867436251451010138." Jawab Naruto dengan tenang.

"Bisa kau jelaskan rinciannya?" Setelah sekian lama diam akhirnya Minato angkat bicara. Dia sudah mengira bahwa Naruto akan kesulitan dalam game ini tapi bukan berarti Naruto tidak bisa menemukan jawabannya.

"Jangan berlagak bodoh, Minato. Kau tahu apa yg kupikirkan sehingga aku bisa menemukan jawaban game ini. Pembuat game ini adalah kau bukan Raiser."

"Apa ada masalah untuk itu?" Tanya Minato dengan watados.

"Tidak, malah sebaliknya. Aku merasa bersemangat. Sekarang aku minta Nishikino Maki diberi hak memilih untuk menghentikan akan melanjutkan atau membatalkan pertunangan ini."

"K-kau! Tidak akan kubiarkan."

"Hentikan Raiser. Kau sudah berjanji di depan semua orang di ruangan ini. Jika kau melanggar janjimu itu hanya akan mengotori nama keluargamu."

"Tapi! Minato-ojiisan."

"Terima kekalahanmu. Sekarang apa yg kau inginkan penyusup-san?"

"Aku menginginkan agar Nishikino Maki diberi kebebasan untuk memilih pertunangan ini dilanjutkan atau tidak!" Tak pelak pernyataan Naruto tadi membuat seisi ruangan gaduh membicarakan apa hubungannya dengan Maki.

"Sekarang bagaimana Nishikino Maki? Apakah pertunangan ini yg kau inginkan atau tidak?"

Bukannya menjawab pertanyaan Minato tadi, Maki malah berjalan ke arah Naruto meski sedikit kesusahan karena gaunnya yg besar menghalanginya bergerak tapi dia tidak menyerah. Setelah sampai di depan Naruto, Maki langsung memeluk pemuda itu. Meski orang di depannya ini memakai topeng tapi dia yakin bahwa pemuda itu adalah Naruto.

"Terima kasih. Pertunanga ini... DIBATALKAN!"

~.~.~.~

Chap 11: END!

A/N: Chapter yg paling nguras otak. Maaf soal gambarnya yg rada jelek :v modalnya cuman hp tuh -_-. Minato-ojiisan? Sebenarnya dulu orangtua Naruto berteman baik dengan orangtua Rias, Akeno, Sona dan Raiser. Mungkin cuman ini yg bisa saya ketik dan soal UPDATE chap 12 akan sedikit terlambat karena bagaimanapun saya harus mempersiapkan diri untuk Uji Nyali. Jadi bisa saja fic ini gak bakal diupdate sampe atau lebih dari 2 minggu karena itu. Masa sih Enigma dari film imitation game? Tapi saya gak tahu soal itu film. Saya tahu nya Enigma mesin pembuat kriptografi yg dipake NAZI. Kalau link gambar rusak atau bahkan ilang kaya di chap 10 mending cari di fb saya langsung namanya "Ikhwan Madiuncity Suite Actor"gak harus pake add kok,kalo soal gituan udah saya ganti publik privasinya. Dan soal step 3 yg melihat reaksi akeno emang belom tapi tunggu aja di chap depan.

Q: author suka mtk dan fisika?

A: imposibru -_-

Nano, Log Out