Chapter 12
Nano, Log In
"Maji de Watashi ni Koi Shinasai!/Love Me, Seriously!"
Warning:
Mungkin akan sangat OOC, EYD salah kaprah dan banyak typo dan cepat atau lambat bakal ada SongFic dan pastinya Kata-kata kasar yg frontal.
Disclaimer:
Naruto: Masashi Kishimoto
Highschool DxD: Ichie Ishibumi
Love Live School Idol Project: KLab (Reader: itu produser gamenya goblok *Yaoming face* Auth: biarin cuk daripada ada yg ngepermasalahin, orang di fandomnya aja gak ada yg make disclaimer *yaoming face*
~.~.~.~
Chapter 12: My World: Math (The Accident in Mall)
Opening Song: Dish - Flame
9 Mei 20xx
04.00 PM (Klub Basket)
"Yosh! Latihan hari ini cukup sampai disini saja." Kata Maito Guy memberi tanda kepada para anak didiknya yg sedang berlatih untuk mengakhiri latihannya.
"Baik, sensei!" Jawab mereka semua kompak.
"Grafiya, menurutmu bagaimana tim basket sekolah lain?"
"Kalau soal itu... sebenarnya kurang tahu tapi yg pasti kita harus waspada pada tim dari Sainan Gakuen."
"Sainan ya? Kau benar Grafiya. Mereka adalah tim yg paling dijagokan dalam Inter High Cup. Kemampuan kelima pemain starternya saat ini mungkin hanya bisa diimbangi oleh Sairaorg, Naruto dan kombinasi Vali-Issei. Yah... seperti apapun lawannya aku yakin pemain kita tidak akan menyerah."
"Sensei, apa anda sakit? Anda tidak seperti yg biasanya."
"Heh? Benarkah? Apa yg salah denganku? Katakan! Apa yg salah denganku!"
"Cara sensei berbicara sangat berbeda dari biasanya. Guy-sensei yg aku kenal adalah guru ceroboh yg selalu berbicara optimis dan berapi-api, belum lagi tentang apalah itu yg bernama semangat masa muda."
"Aku memiliki citra yg buruk di mata anak didikku sendiri. Ini sangat menyakitkan." Mendengar pernyataan dari Grafiya tentang dirinya yg biasanya membuat Guy-sensei pundung di pojokan.
"Meski begitu Guy-sensei adalah guru olahraga terbaik di sekolah ini. Aku yakin Sirzech-kun dan yg lainnya merasa senang diajar sensei." Hibur Grafiya tak tega pada sensei nya yg sedang down.
Loker Laki-laki
"Rasanya latihan kali ini rasanya tidak seberat beberapa minggu yg lalu."
"Apa kau bodoh, Issei? Kutarik kata-kataku tadi. Kau memang bodoh."
"Apa maksudmu Vali!"
"Beberapa minggu yg lalu tubuh kita belum terbiasa dengan teknik-teknik yg diajarkan sensei itu sebabnya tubuh kita menjadi lebih cepat lelah. Tapi sekarang tubuh kita mulai terbiasa jadi kita tidak akan mudah lelah seperti beberapa minggu yg lalu." Terang Sirzech kepada Issei mewakili Vali. Soalnya kalau yg menjelaskannya Vali ujung-ujungnya mereka akan bertengkar lagi.
"Dengar? Bahkan Sirzech-senpai lebih pintar darimu." Merasa tersinggung dengan ucapan Vali, Sirzech yg kebetulan duduk di dekat Vali menjewer telinganya.
"Kau ini bodoh ya, Vali? Aku ini senpai kalian berdua, sudah jelas aku lebih paham hal seperti ini."
"Pffft..." issei yg melihat Vali dijewer oleh Sirzech hampir tak kuasa menahan tawanya.
"Sirzech-senpai! Kalau begitu aku ingin bertanya."
"Bertanya apa, Naruto?"
"Apakah menurut senpai manusia dapat melayang dengan menggunakan Magnet, Nitrogen Cair dan Superkonduktor itu memungkinkan?" Sebuah pertanyaan aneh kini dilontarkan Naruto.
Sairaorg yg menduga pembicaraan akan lebih rumit mencoba memperingati Sirzech agar tidak menjawab pertanyaan Naruto. Tapi apa daya nya sebagai seseorang yg terlambat? Sirzech terlanjur menjawab pertanyaan Naruto.
"Melayang? Tentu saja bagi manusia itu mustahil." Jawab Sirzech dengan percaya diri.
"Hm... memang benar jika sekilas itu terdengar mustahil tapi di lain pihak aku menduga hal itu mungkin dengan bantuan Magnet, Nitrogen Cair dan Superkonduktor."
"Apa maksudmu, Naruto?" Tanya Sirzech bingung.
"Akan kusingkat saja, Efek Meissner."
"Efek Meissner?" Beo semua orang di ruangan itu.
"Benar, dengan kata lain pengosongan medan. Mungkin tidak bisa dikatakan melayang karena lebih tepatnya terkunci. Cara kerjanya sama seperti elekromagnet tapi tidak menggunakan konduktor biasa melainkan superkonduktor." Jelas Naruto singkat.
"Kalau sama seperti elektromagnet, kenapa harus ada nitrogen cair?" Tanya Furihata yg sedari tadi diam.
"Itu karena superkondurtor hanya bisa aktif saat suhunya mendekati nol kelvin jadi nitrogen cair adalah solusi tercepat untuk mencapai suhu itu."
"Meskipun kelihatannya mudah tapi aku masih belum mengerti maksudmu Naruto. Pengosongan medan magnet itu mungkin saja tapi bagaimana caranya seorang manusia melayang dengan itu?"
"Kau ini benar-benar bodoh Issei." Komentar Vali.
"Diamlah fetish pantat."
Twiiich! Muncul kedutan di dahi Vali.
"Akan kujelaskan padamu peremas ababil. Misalnya salah satu keramik disini terbuat dari superkonduktor dan diberi nitrogen cair sampai suhunya mendekati nol kelvin lalu kau melompatinya dengan mengggunakan sepasang sepatu yg terbuat dari magnet maka sepatumu akan terkunci di udara karena superkonduktor menetralisir medan magnet di sekitar sepatumu."
"Lalu bagaimana dengan tubuhnya?" Kali ini giliran Sirzech yg bertanya.
"Ada 2 kemungkinan. Kalau kakinya kuat menahan maka tubuhnya akan ikut melayang begitu juga sebaliknya. Benar bukan, Naruto?"
"Itu memang benar. Tapi menjaga keseimbangan di udara dengan alas medan magnet yg ternetralisir itu sangat sulit. Kecuali kau adalah seseorang yg berbakat."
'Hanya Vali dan Kau yg memahami pembicaraan ini. Berhentilah berbicara tentang fisika!' Batin semua anggota disana kecuali Vali dan Naruto.
"Ngomong-ngomong Naruto. Sepatumu kelihatannya rusak." Tak mau pembicaraan yg rumit ini berlanjut Sairaorg mengalihkan topiknya.
"Kau benar senpai. Ini gara-gara terpeleset saat latihan tadi, kelihatannya besok aku harus pergi ke mall untuk membeli sepatu yg baru."
04.45 PM (Apartemen Naruto)
Setelah selesai latihan Naruto segera pulang ke apartemennya. Apa dia tidak merindukan rumahnya? Tentu saja dia merindukannya. Tapi rumah itu tidak hanya ada di satu tempat. Tempat dimana hatimu merasa nyaman itulah yg namanya rumah.
Menyandarkan punggungnya di sofa yg empuk, Naruto mulai memikirkan apa yg dialaminya beberapa minggu ini.
"Beberapa hari setelah sekolah dimulai, aku terlibat dalam kasus yg berhubungan dengan GoG selanjutnya bertemu Galileo lalu tak lama kemudian bertemu Da Vinci. Hidupku sungguh malang." Menyadari tak ada gunanya meratapi tanpa bertindak, Naruto kemudian pergi le dapur untuk memasak.
"Kali ini apa yg akan aku masak?"
Akeno Side...
"Akeno! Bisa kesini sebentar?" Panggil seorang wanita paruh baya yg memakai kimono membuat siapapun yg memandangnya akan memikirkan hal yg sama yaitu Yamato Nadeshiko.
"Ada apa Okaa-san?" Balas sebuah suara diiringi derap langkah kaki yg mendekat.
"Ara... apa yg kau buat kali ini? Tanganmu kotor sekali." Dan seperti kata Asuka Himi atau yg telah berganti marga menjadi Himejima Himi setelah menikah dengan Barakiel. Dan sesuai perkataannya tadi, tangan Akeno terlihat kotor dengan noda dan beberapa luka kecil disana.
"Bukan apa-apa. Aku hanya sedikit membuat percobaan dengan TNT."
"TNT? Pastikan kau tidak meledakkan rumah ini."
"Tentu saja, Okaa-san! Kalau begitu apa yg ingin Okaa-san bicarakan denganku?" Setelah membuat ikrar Tak Meledakkan Rumah, Akeno bertanya tujuannya dipanggil kemari oleh Okaa-san nya.
"Sebenarnya aku ingin minta bantuanmu untuk mengambil kimono pesananku di mall. Besok aku dan ayahmu ada acara berdua untuk memimpin upacara di kuil dekat rumah kita."
"Jadi aku tidak boleh ikut upacara itu?"
"Tidak boleh."
"Kenapa?"
"Memangnya gadis perawan sepertimu bisa bertahan dari sake meski cuma seteguk?"
"So-soal itu aku masih dibawah umur dan juga jangan berkata perawan pada anakmu ini Okaa-san. Kata-kata itu seolah menyiksaku."
"Ara... ara... kalau begitu cepat iyakan permintaan bantuanku."
"Baik. Aku sendiri akan mengambil kimono pesanan Okaa-san di mall besok."
"Ara... sendiri? Kau tidak pergi dengan Namikaze itu?"
"Na-namikaze! Okaa-san tahu nama itu darimana?"
"Beberapa minggu lalu Venelana bercerita padaku bahwa kau kalah bermain kartu dengan seorang pemuda yg bernama Namikaze Naruto. Mengejutkan sekali! Ternyata kekalahan putriku jatuh di tangan seorang pemuda. Oh ya! aku baru ingat kalau menurut Venelana kau jatuh cinta padanya, Akeno."
"Ja-jatuh cinta? Terlalu cepat untuk menyimpulkan seperti itu. Memang benar kalau dia menarik tapi bukan berarti perasaan tertarik seperti itu bisa dianggap cinta bukan?" Meski menyangkalnya wajah Akeno tetap saja memerah.
"Terserah kau saja, Akeno. Tapi ingat satu hal..." menggantungkan ucapannya ekspresi ibu dari Himejima Akeno berubah menjadi serius.
"Ingat satu hal?" Beo Akeno. Ekspresinya yg semula kesal kini berubah menjadi serius mengikuti ibunya.
"Selalu pakai pengaman saat kalian berdua melakukannya sebelum menikah. Lalu peringatkan juga pada Namikaze itu untuk jangan terlalu terfokus dengan dadamu. Di beberapa tempat ada bagian yg jauh lebih penting." Kata Himi dengan nada serius.
"Haa! Tidak mungkin! Tidak mungkin secepat itu Okaa-san!" Dan kelihatannya pikiran Akeno sepanjang sisa hari ini akan dihantui oleh perkataan Okaa-san nya yg terakhir.
Back to Naruto...
Kembali lagi ke tokoh utama kita yg telah selesai memakan makan malamnya. Belakangan ini dia memikirkan hal-hal seperti serangan GoG selanjutnya maupun kapan Pythagoras akan datang menemuinya langsung. Apa dia takut? Ya, Dia sangat takut. Andai saja saat itu Naruto tidak bertemu Sona dan Maki maka sudah pasti dia tidak akan ketakutan seperti ini.
Yg ditakutkan Naruto bukanlah serangan mendadak GoG maupun Pythagoras yg akan datang menemuinya melainkan kedua pemegang gelar lain yg saat ini bisa Naruto kategorikan pemula diserang GoG ataupun ditemui oleh Pythagoras langsung.
Pemula? Sebenarnya Sona dan Maki saat ini masih berada di bawah level Naruto. Itu hal yg bisa dimaklumi karena bagaimanapun sejak kecil Naruto telah dilatih oleh Minato tentang kemampuannya, berbeda dengan mereka berdua.
"Kurasa aku terlalu berlebihan memikirkannya. Meski mereka belum bisa mencapai Phi Brain tapi mereka bisa diandalkan." Setelah sedikit menenangkan pikirannya dengan ucapan tadi, Naruto mengambil handphone miliknya lalu menelpon seseorang.
"Moshi-moshi! Minato disini."
"Bagaimana kabarmu, Otou-sama?"
"Kabarku baik. Bagaimana denganmu, Naruto."
"Disini aku baik-baik saja. Kalau begitu aku tidak akan basa-basi kali ini."
"Ho... tidak biasanya kau begitu."
"Bagaimana pendapat Otou-sama dengan rencana LHASAIOCLAB yg sempat kuajukan?"
"Jika kau bertanya pendapatku maka rencana itu sudah sangat matang. Hanya saja akan banyak orang yg sedih."
"Tidak apa-apa. Akan kutanggung semua itu."
"Kau benar-benar seperti psikopat, Naruto."
"Aku tahu itu. Paling tidak psikopat lebih baik dari sociopat."
"Bagiku itu semua sama saja. Ngomong-ngomong bagaimana sekolahmu?"
"Seperti biasanya tapi minus poin romansa."
"Masih belum bisa melupakan Hinata ya? Bagaimanapun kematiannya bukanlah salahmu Naruto."
"Itu salahku karena aku membiarkannya mendekatiku. Seharusnya aku bilang padanya bahwa aku adalah pemegang gelar Einstein sejak dia berusaha mengikutiku. Tapi semuanya sudah terlambat. Kecelakaannya dibuat oleh GoG." Nada bicara Naruto kini berubah menjadi dingin setelah Minato mengucapkan nama Hinata.
"Haah... coba lihatlah sisi positif nya sedikit. Karena kematiannya aku menghajarmu hingga sekarat dan membuatmu sadar akan sifatmu saat itu. Mungkin ini yg terbaik untuk orang disekitarmu tapi sayangnya bukan untukmu, Naruto."
"Aku tahu itu. Maka dari itu aku akan menjalankan rencana LHASAIOCLAB. Aku akan membalaskan dendamku pada GoG dan juga membunuh semua anggotanya."
"Kapan kau akan menjalankan misi itu?"
"Setelah Pythagoras keluar dari markas pusat GoG."
"Kalau kau menunggu Pythagoras keluar maka bukannya nyawamu dipertaruhkan?"
"Pythagoras itu ambisius, terlalu ambisius. Tidak sulit untuk membunuhnya saat aku tahu apa tujuannya."
"Dan apakah sekarang kau tahu tujuannya?"
"Masih belum. Yg pasti saat dia tahu aku masih hidup maka tujuannya pasti membunuhku."
"Dan kau tahu apa saja kemungkinannya jika itu terjadi?"
"Kemungkinan terbaik adalah aku mati bersama Pythagoras dan yg terburuk adalah aku mati sedangkan Pythagoras masih hidup."
"Pastikan kau selamat, Naruto. Kalau kau mati maka tidak ada yg bisa mengalahkanku."
"Kau terlalu sombong Otou-sama. Da Vinci, Galileo dan Edison seharusnya sudah cukup untuk mengalahkanmu meski mereka semua belum pernah sekalipun memasuki Phi Brain."
"Ngomong-ngomong soal Phi Brain, apa kau telah merasakan dunia hambar itu lagi?"
"Belum. Tapi aku punya firasat buruk untuk besok."
"Kelemahan dan caramu yg secara tidak sengaja memasuki Phi Brain itu sama. Sesungguhnya hal seperti itu sedikit memalukan."
"Siapa yg peduli dengan hal semacam itu. Game angka bukanlah keahlianku."
"Sudah kuduga kau akan berkata seperti itu. Apa sudah tidak ada hal yg mau dibicarakan lagi? Saat ini aku sedang sibuk."
"Tidak ada. Maaf mengganggu Otou-sama."
"Tidak apa-apa."
Tut... tut... tut...
Setelah pembicaraan itu selesai, Naruto langsung meletakkan kembali handphone miliknya dan tidak lupa merebahkan badannya yg masih pegal di sofa.
"Kelemahanku secara tidak langsung mengarahkanku menuju pintu masuk Phi Brain, ironi yg menyedihkan." Kata Naruto sembari melihat atap apartemennya tapi tak lama kemudian pandangannya mulai kabur.
Tidak mau terlelap di sofa karena kekenyangan, Naruto berdiri lalu bersiap untuk pergi ke kamar tidur dan tidur lebih awal hari ini.
Dreeet... dreeet...
Naruto yg belum sempat melangkahkan satu kakipun harus menunda kegiatannya itu karena mendengar suara handphone berdering.
"Telpon? Moshi-moshi! Disini Namikaze Naruto."
"Moshi-moshi Naruto-kun."
"Ada perlu apa denganku, Sona?"
"Em... sepertinya ini waktu yg tepat untuk menanyakan hal itu."
'Hal itu? Pasti tentang pertunangan Maki.'
"Saat semuanya datang ke pertunangan Maki kemana saja kau? Menyelidiki kasus?"
"Aku belum menangani kasus apapun sejak penemuan lukisan palsu di Galeri kota Kuoh. Tanggal 12 april aku memang ada kepentingan pribadi, lebih tepatnya janji. Makanya aku tidak bisa datang."
"Oh.. kepentingan pribadi. Kalau begitu ya sudah. Maaf mengganggu."
"Tidak apa-apa."
Tut... tut...
Setelah menutup telpon dari Sona, Naruto yg berniat melanjutkan jalannya ke tempat tidur harus tertunda untuk ke 2 kalinya karena hal yg sama. Suara handphone yg berdering tertangkap di indra pendengaran nya karena tak mau membuat orang yg menelponnya menunggu maka Naruto langsung mengangkatnya.
"Moshi-moshi Nano-kun."
"Oh.. Princess. Bagaimana kabarmu?"
"Kabarku baik-baik saja."
"Ada perlu denganku?"
"Etto... sebenarnya aku ingin berterima kasih padamu untuk tanggal 12 april kemarin. Aku tahu ini sangat terlambat dan aku minta maaf karena baru mempunyai keberanian untuk mengucapkan ini padamu sekarang."
"Tidak perlu memaksakan dirimu sampai seperti itu. Lagipula aku melakukannya karena aku tidak mau kehilangan rivalku di NND."
"Iya, aku tahu itu. Tapi tetap saja kau telah menyelamatkanku. Terima kasih."
"Sama-sama. Lalu apa ada hal lain yg perlu dibicarakan?"
"Kurasa tidak ada."
'Kalaupun ada aku akan mengajakmu kencan,Baka!'
"Kalau begitu akan kututup."
Tut... tut...
Setelah telpon itu ditutup, tanpa membuang waktu lagi Naruto meninggalkan handphone nya di sofa dan pergi ke kemarnya untuk tidur.
10 Mei 20xx
10.00 AM
"Sudah lama sekali aku tidak datang kesini. Tidak ada banyak yg berubah dari mall ini." Kata Naruto yg telah turun dari motor nya dan memandang bangunan besar di samping tempat parkir.
Bangunan itu adalah mall yg ada di kota kuoh sekaligus satu-satunya di kota ini. Karena keinginan pemerintah setempat maka hanya ini satu-satunya mall yg diperbolehkan dibangun di kota Kuoh. Pemerintah rupanya menganggap serius masalah tata ruang kota dan ruang terbuka hijau untuk rakyatnya dan hasilnya sekarang, selain maju mengikuti perkembangan zaman, kota Kuoh juga mempunya ruang terbuka hijau yg luas.
"Lantai 2 untuk kios-kios yg menjual alat-alat olahraga. Aku harus cepat-cepat." Dengan itu Naruto bergegas menuju lantai 2 dimana dia bisa membeli sepatu basket.
Di lain tempat...
"Akhirnya sampai juga. Terima kasih Oga-san." Kata Akeno sembari turun dari mobil.
"Tidak perlu. Itu sudah menjadi tugas saya." Balas seseorang yg mengemudi tadi. Dia adalah Oga, sopir pribadi keluarga Himejima.
"Ngomong-ngomong kau boleh pulang karena mungkin aku akan lama."
"Baik." Dengan itu Oga merubah arah mobilnya lalu pergi meninggalkan Akeno. Dia juga punya beberapa tugas yg harus diselesaikan dan tak kalah penting dengan tugasnya sebagai sopir.
"Lantai 1 kios makanan, lantai 2 kios alat olahraga, lantai 3 kios pakaian dan lantai 4 kios elektronik. Ini merepotkan... aku harus naik tangga sampai ke lantai 3." Kata Akeno disertai hembusan nafas yg menggambarkan kemalasan.
Naik tangga? Dimana lift atau eskalator nya? Sebenarnya mall ini juga dibangun dengan memperhatikan keamanan dan kesehatan masyarakat. Kalau orang-orang terlalu mengandalkan lift atau eskalator maka mereka akan menjadi malas bergerak. Cara menghilangkan lift juga berguna untuk mengurangi resiko pengunjung yg terjebak di lift saat kebakaran, gempa bumi ataupun listrik padam.
"Sudahlan, lebih baik langsung jalan daripada mengeluh."
Back to Naruto...
"Dimana kios yg menjual alat-alat basket? Seingatku dulu ada di pojok ruangan, tapi kenapa sekarang tidak ada. Meski luarnya tidak berubah banyak tapi susunan di dalamnya sungguh berbeda." Kata Naruto yg kini sedang mencari-cari kios yg menjual sepatu basket.
"Itu dia!" Setelah menemukan kios yg menjual sepatu basket, Naruto langsung berlari menuju kesana. Meski dia harus menghindari beberapa pengunjung yg hendak ditabraknya.
Disisi lain...
"Haah... ini cukup melelahkan. Kurasa aku harus sedikit berolahraga dengan Rias." Kata Akeno yg baru saja sampai di lantai 3.
"Sekarang kata Okaa-san kiosnya berada di pojok ruangan sebelah timur."
Time Skip! (Paling sulit ngejelasin belanja nya gimana. Apalagi kalo cewek -_-)
Back to Naruto...
"Akhirnya selesai juga. Dilihat dari manapun belanja itu sungguh merepotkan. Bahkan lebih merepotkan daripada memenangi Kenja no Game." Kata Naruto yg kini telah selesai membeli sepatu basket. Kini Naruto istirahat di cafe yg berada di lantai 1 ditemani secangkir kopi kalengan. (Intinya numpang duduk doang)
Awalnya kegiatannya itu berjalan dengan sunyi tapi setelah matanya melihat objek yg tidak asing baginya, Naruto langsung beranjak pergi dari tempat duduknya dan berjalan menghampiri nya.
"Lama tidak bertemu, Akeno-san." Sapa Naruto pada orang di depannya yg ternyata adalah Akeno Himejima.
"Na-Naruto-san? Sedang apa kau disini?" Balas Akeno tergagap karena tidak menyangka bahwa seseorang yg menghantui pikirannya sejak semalam (karena ulah Himi) berada di depannya.
"Hanya membeli sepatu. Lalu kau sendiri?" Tanya Naruto balik.
"Mengambil pesanan kimono milik Okaa-san dan juga membeli beberapa untuk diriku sendiri."
"Heeh... kimono ya? Jarang sekali wanita memakainya pada jaman sekarang kecuali pada hari-hari festival."
"Hm.. kau benar. Maka dari itu aku akan memberi mereka contoh yg baik."
"Contoh yg baik? Maksudmu seperti menjadi Yamato Nadeshiko?"
"Ya. Dengan menjadi Yamato Nadeshiko seperti Okaa-san."
"Kalau itu keputusanmu maka aku akan mendukungmu Akeno-san. Pasti orang yg menikahimu adalah orang yg sangat beruntung."
'Bicara apa kau ini? Kaulah orang beruntung itu Naruto no baka!'
"Kuharap juga begitu. Kau tahu tidak, saat pertunangan Maki terjadi hal yg menarik."
"Hal yg menarik?" Beo Naruto.
"Hm... disana datang orang misterius yg membatalkan pertunangan dengan cara menantang Raiser dan Minato-ojiisan. Sayangnya Raiser dan Minato-ojiisan kalah maka pertunangan benar-benar dibatalkan."
"Heeh... kelihatannya menarik." (Terdengar di luar)
'Apanya yg menarik! Aku hampir saja kehabisam waktu di game ke 2!' (Kenyataan di dalam)
Flashback...
"Pertunangan ini... DIBATALKAN!" Teriak Maki dengan keras dan masih memeluk pemuda berptopeng yg dia tahu bernama Namikaze Naruto.
"Tidak secepat itu penyusup-san." Kata Minato menanggapi pernyataan Maki.
"Heh? kenapa?" Tanya Maki balik kepada Minato. Saat tahu bahwa dia punya hak menentukan jalannya pertunangan ini karena Naruto, dia sangat senang. Tapi saat mendengar perkataan Minato tadi, rasanya ada sedikit rasa khawatir yg mengganjal di dadanya.
"Kau tahu bukan, jika keluargamu itu overprotective terhadapmu Nishikino Maki?"
"Overprotective adalah sikap melindungi yg dilakukan secara berlebihan dan untuk hal yg berlebihan, memenangkan 2 game itu sudah jadi hal yg lumrah. Maksudnya kau akan menantangku bukan, Uzumaki Minato?" Setelah sedari tadi diam, Naruto kini angkat bicara.
"Kau benar. Kuharap kau bisa memenangkan nya karena jika kau kalah maka Nishikino Maki kembali akan bertunangan dengan Raiser sebab hak yg kau berikan padanya belum sah."
"Terserahmu saja. Apapun game nya pasti akan kumenangkan."
"Aku hanya akan berbicara satu kali, jadi dengarkan baik-baik." Mendengar kalimat itu Naruto sadar game apa ini.
'Kalimat seperti itu hanya ada di game logika.'
Setelah melihat Naruto siap maka Minato langsung mengatakan game nya. Mengatakan? Itu benar. Dia tidak membaca tapi langsung berbicara di depan Natuto dengan pistol yg masih setia di tangannya menodong kepala putranya sendiri yg memakai topeng.
"Menma dan Kaneki baru saja berteman dengan Nano dan mereka ingin mengetahui hari ulang tahunnya. Nano lalu memberikan 10 pilihan, yaitu:
15 Mei, 16 Mei, 19 Mei, 17 Juni, 18 Juni, 14 Julii, 16 Juli, 14 Agustus, 15 Agustus dan 17 Agustus
Nano kemudian mengatakan kepada Menma dan Kaneki secara terpisah tentang bulan dan tanggal ulang tahunnya secara berurutan.
Menma dan Kaneki kemudian membuat pernyataan:
Menma : Saya tidak tahu kapan ulang tahun Nano, tetapi saya yakin Kaneki tidak mengetahuinya juga.
Kaneki : Awalnya saya tidak tahu ulang tahun Nano, tetapi saya sekarang tahu.
Menma : Berarti saya juga tahu ulang tahun Nano.
Jadi, kapan ulang tahun Nano?" Setelah berbicara panjang lebar dengan suara yg sepertinya cukup keras karena kini banyak tamu yg berbisik-bisik membicarakan game buatan Minato.
"Berapa waktuku?" Tanya Naruto. Dia tidak terkejut dengan game logika tingkat tinggi seperti ini karen dia tahu siapa sebanrnya ayahnya.
"Sama seperti tadi. 2 menit berfikir lalu menjawab. Kalau salah ditembak ditempat dan anggap saja ini hari sialmu."
'Ini adalah game logika tingkat tinggi. Benar-benar susah dan mustahil dimenangkan jika di dengar sekilas. Aku harus mengeliminasi mana yg salah dan mana yg mempunyai kemungkinan kalau begini jadinya.'
Di sisi lain... (Sona, Akeno, Rias dan parents)
"Apa-apaan game tadi Sona? Sama sekali tidak ada petunjuk berapa kalipun aku mengingat perkataan Minato-ojiisan." Kata Akeno tak mengerti apa-apa tentang game ini.
Mendengar jawaban yg tak kunjung datang dari sahabat berkacamata nya itu membuat Akeno sedikit khawatir.
"Sona, kau kenapa?" Tanya Akeno melihat Sona yg kelihatan sedang memikirkan sesuatu di dalam kepalanya.
"Sona! Akeno memanggilmu daritadi." Tanpa ragu lagi Rias yg sedikit jengkel dengan Sona menepuk punggung gadis berkacamata itu.
"Ittai.. apa yg kau lakukan, Rias?" Tepukan yg kelihatannya terlalu keras untuk tubuh mungil Sona tentu saja membuat Sona merasa kesakitan di punggungnya.
"Akeno daritadi memanggilmu tahu."
"Oh.. soal game yg dikatakan oleh Minato-ojiisan bukan?"
"Benar soal itu Sona. Bagaimana menurutmu?"
"Tidak ada petunjuk yg tersurat di setiap katanya. Ini adalah game logika tingkat tinggi dan yg aku pikirkan tadi adalah jawaban dari game ini."
"Dan kau sudah menemukan jawabannya, Sona?"
"Sayangnya belum, Rias."
Back to Naruto...
"Sekarang apa jawabanmu? Waktu telah habis dan jika kau salah menjawab maka akan kutembak ditempat." Ancam Minato pada penyusup yg tak lain adalah anaknya sendiri, Naruto. Sayangnya ancaman seperti itupun tidak akan merobohkan mental Naruto.
"Jawabannya adalah 16 Juli." Kata Naruto dengan tenang.
"Penjelasannya? Di game logika si pembuat bisa saja menuntut sebuah penjelasan kepada pemain." Tuntut Minato untuk menjelaskan kenapa Naruto memilih 16 Juli.
"Kemungkinan awal adalah 15 Mei, 16 Mei, 19 Mei, 17 Juni, 18 Juni, 14 Juli, 16 Juli, 14 Agustus, 15 Agustus dan 17 Agustus. Bila ulang tahun Nano adalah 18 Juni ataupun 19 Mei, maka Kaneki yang diberi tahu angka pasti langsung tahu karena angka 18 dan 19 tidak terdapat pada bulan-bulan lain."
"Sisa kemungkinannya: 15 Mei, 16 Mei, 17 Juni, 14 Juli, 16 Juli, 14 Agustus, 15 Agustus dan 17 Agustus. Bila Menma diberi tahu bahwa bulan ultah Nano adalah Mei atau Juni, maka Menma tidak akan bisa mengatakan, *tetapi saya yakin Kaneki tidak mengetahuinya juga.* Hal itu membuktikan bahwa Menma diberi tahu bahwa ultah Nano antara Juli atau Agustus."
"Sekarang, sisa kemungkinannya adalah 14 Juli, 16 Juli, 14 Agustus, 15 Agustus dan 17 Agustus. Kaneki diberi tahu tanggal. Dari perkataan Menma, Kaneki tahu bahwa Menma diberi tahu bulan Juli atau Agustus. Bila Kaneki diberi tahu tanggal 14, maka dia masih akan bingung karena terhadap 14 Juli dan 14 Agustus. Nyatanya dia berkata, *tetapi saya sekarang tahu.*. Berarti Kaneki tidak diberi tahu bahwa tanggalnya adalah 14."
"Pada tahapan ini, Kaneki telah mengetahui bahwa ulang tahun pada tanggal 16 Juli. Sebabnya adalah karena Nano telah memberitahu Kaneki bahwa tanggal kelahirannya adalah 16. Sebelumnya, sisa kemungkinannya adalah 16 Juli, 15 Agustus dan 17 Agustus. Bila Menma diberi tahu bulannya Agustus, maka dia masih akan bingung karena ada 15 Agustus dan 17 Agustus. Bila Menma diberi tahu bulannya Juli, maka dengan tereliminasinya tanggal 14 Juli maka satu-satunya sisa tanggal adalah 16 Juli. Oleh karena itu Menma berkata, *tetapi saya sekarang tahu.*"
Setelah mendengar penjelasan panjang lebar dari Naruto tadi, tiba-tiba sekua tamu yg ada disana diam tak berani berbiacra sedikitpun bahkan Raiser yg dari tadi membanggakan dirinya dan game buatan Minato yg diserahkan kepadanya hanya bisa menatap Naruto dengan tatapa tak percaya.
"Kenapa? Apa aku salah?"
"Jawabanmu benar penyusup-san."
'Haah... untung saja aku tadi biaa memikirkan sisanya sambil menjelaskan. Jika tidak, aku pasti sudah kehabisan waktu.'
Step 3 (lihat reaksi Akeno)
Ini adalah langkah yg Naruto benci karena dia harus mengamati sosok makhluk yg bernama perempuan. Meski begitu dia harus mengamati reaksi Akeno, lebih tepatnya ekspresi yg dibuatnya setelah Naruto menjelaskan bagaimana caranya menyelesaikan game logika tingkat tinggi ini.
'Yosh. Kau benar-benar Edison. Kuharap kau sadar akan posisimu, Akeno.'
"Apa aku boleh pergi sekarang?" Pamit Naruto pada Minato yg telah menurunkan senjatanya.
"Silahkan penyusup-san."
Flashback... END!
Disela-sela perbincangan mereka tiba-tiba handphone Naruto berdering dan langsung saja Naruto pamit kepada Akeno untuk ke toilet setelah membaca nama seseorang yg menelponnya.
"Ada apa Otou-sama?"
"Naruto, kau sekarang ada di mall bukan?"
"Benar. Ada apa?"
"Bersiaplah dan kalau kau bersama seseorang sembunyikan orang itu di titik buta kamera cctv. karena dalam 10 menit mall kota Kuoh akan invasi oleh kelompok bersenjata. Menurut data di GoG mereka hanya membawa pesan dari Pythagoras, kelihatannya game untukmu."
"Baik. Aku mengerti Otou-sama." Setelah itu Naruto menutup telponnya lalu pergi ke tempat Akeno berada.
"Akeno bisa kau percaya padaku?" Kini Naruto yg telah duduk kembali di depan Akeno kelihatannya sedang membujuk Akeno untuk melakukan sesuatu. Tentu saja bersembunyi!
"Hm.. aku bisa." Jawab Akeno disertai anggukan.
"Dalam 9 menit mall ini akan diserang oleh kelompok bersenjata. Mereka tidak berminat dengan uang maupun sandra. Mereka hanya membawa pesan. Maka dari itu pergilah ke toilet perempuan di lantai 2 dan selama mungkin tetaplah disana sampai aku panggi lagi."
"Ke-kelompok bersenjata? Lalu saat aku bersembunyi kemana kau pergi?" Tanya balik Akeno kepada Naruto.
"Aku ada sedikit urusan. Sekarang pergilah ke toilet di lantai 2. Aku akan menyelesaikan urusanku." Perintah Naruto dengan tegas.
"Baik. Tapi sebelum itu..."
Cup!
Ciuman singkat itu bersarang di pipi Naruto. "Anggap saja itu jimat keselamatanmu." Dan dengan itu Akeno pergi ke toilet di lantai 2.
Sepeninggalnya Akeno, Naruto sedang memikirkan sesuatu untuk menghalangi kelompok bersenjata yg hendak mengambil alih mall besar.
"Di langit-langit lantai 1-4 ada alat penyemprot air otomatis yg mendeteksi asap dan perubahan suhu yg ekstrim. Untuk membuat ledakan freatik (Ledakan Uap) maka aku membutuhkan wilayah yg sedikit luas lalu banyak air dan juga api yg panas untuk membuat air cepat menguap. Aku butuh Oksida Besi, Aluminium dan banyak logam yg tahan panas."
"Yg penting sekarang adalah memberitahu sekitar 200 orang yg berada di lantai 1 agar naik le lantai 2."
~.~.~.~
Chap 12: END!
A/N: Rumit dan kacau menurut saya di chapter ini. Sumpah sebenarnya saya sangat tidak puas dengan gaya menulis saya yg seperti ini tapi ya... sudahlah, yg ada silahkan dipakai daripada gak ada. Masih gak paham? Baca lagi tuh sambil searching di google tentang EFEK MEISSNER atau mungkin ledakan freatik dan yg paling penting maaf kalo ada typo dsb karena bagaimanapun ini ngetiknya nyuri-nyuri waktu. Bahkan pernah dari jam 8 abis belajar sampe jam 11. (Malah curhat -_- )
Q: Apa Naruto masih make kacamata di sekolah?
A: Saat KBM aja dia make kacamata dan dandan cupu. Tapi pelajaran olahraga dan ekskul dia balik ke penampilan cool nya.
