Chapter 15

Nano, Log In

"Maji de Watashi ni Koi Shinasai!/Love Me, Seriously!"

Warning:

Mungkin akan sangat OOC, EYD salah kaprah dan banyak typo dan cepat atau lambat bakal ada SongFic dan pastinya Kata-kata kasar yg frontal.

Disclaimer:

Naruto: Masashi Kishimoto

Highschool DxD: Ichie Ishibumi

Love Live School Idol Project: KLab (Reader: itu produser gamenya goblok *Yaoming face* Auth: biarin cuk daripada ada yg ngepermasalahin, orang di fandomnya aja gak ada yg make disclaimer *yaoming face*

~.~.~.~

Chapter 15: My World: Novelis (Kemunculan Pythagoras)

Opening Song: Neko-Destiny

Mendengar suara sirine polisi berbunyi dan juga teleponnya yg berdering membuat Naruto yg saat itu sudah menyalakan motornya terpaksa mematikannya lagi lalu mengangkat telepon masuk.

"Moshi-moshi! Naruto disini."

"Game datang silih berganti tapi sang kesatria ku selalu abadi."

"Jangan mengganti ungkapan dari Tupac. Lagipula apa maksudmu Otou-sama?"

"Sebenarnya aku tadi menghack satelit kepolisian jepang untuk menemukan posisimu dan aku menemukan hal yg menarik sekaligus aneh."

"Kali ini apa lagi? Jangan bilang bahwa kau melihat Loch Ness ataupun Jormugand di permukaan laut?"

"Mana mungkin hal seperti itu ada, itu hanya dongeng dan mitologi. Aku menemukan air laut terpecah seolah dilewati oleh kapal tapi saat kulihat ternyata tidak muncul koordinat maupun gambar kapalnya. Menurutmu bagaimana?"

"Hanya GoG yg bisa melakukan hal seperti itu. Permukaannya pasti sudah dilapisi oleh sebuah materi yg bisa memerangkap gelombang dari satelit. Jadi intinya?"

"Kau sudah mendengar sirine polisi bukan? Jadi kenapa kau harus menanyakan intinya padaku?"

"Kalau begitu aku akan bertanya yg lain. Apa yg diangkut kapal itu? Tidak mungkin Pythagoras bukan?"

"Tentu saja bukan Pythagoras karena Pythagoras sendir telah sampai di jepang 1 jam yg lalu dengan penerbangan Italia-Jepang. Jika aku menghubungkan kapal ini dengan informasi dari pusat data GoG maka isinya yg paling mungkin adalah Gelang Orpheus tiruan."

"Jadi Jepang adalah tujuan pertama Pythagoras? Yare... yare... sepertinya aku akan kerepotan mulai sekarang."

"Apa rencanamu?"

"Itu mudah saja. Gas Metana."

"Membunuh?"

"Entahlah. Mereka hanyalah pion, yg ingin kubunuh adalah pemimpinnya lalu kastilnya akan kuhancurkan."

"Sudah kuduga, dendam anak muda karena cinta itu memang merepotkan. Ngomong-ngomong kau bersama Rias Gremory bukan? Tadi aku sempat melihatmu dengannya lewat satelit."

"Itu benar. Lalu kenapa?"

"Dia itu mirip Kushina tapi bukan M. Jadi kusarankan malam ini kalian berdua..."

"Mati saja sana."

Tut... tut... tut...

Akhirnya Naruto menutup telpon dari Minato yg notabene nya adalah ayahnya dengan kesal karena Minato telah keluar jalur dari topik awal mereka.

"Siapa tadi Naruto-kun?" Tanya Rias setelah Naruto menutup telponnya.

"Ayahku."

"Heh... siapa namanya? Kalau anaknya saja sepertimu seberapa jeniusnya dia?"

"Entahlah, dia bilang bisa menghitung seratus operasi hitung baik itu perkalian, pengurangan, akar kuadrat ditambah persegi ajaib 10x10 dengan total tiap-tiap sisinya adalah 60 hanya dalam waktu 3 menit."

"Heeh... sudah kuduga dia lebih mengerikan darimu." Mendengar serangkaian hal-hal mustahil bagi orang lapangan sepertinya membuat Rias sweatdrop.

"Jangan salah sangka dulu. Otou-sama itu S, jadi penyebab dia bisa menghitung secepat itu adalah agar dia bisa segera bermain dengan Okaa-sama."

Blusssh...

"Ber-bermain?"

"Begitulah, si Tsundere yg M dan yg S. Keluargaku ini paling unik sejagat tahu." Kata Naruto dengan bangganya.

Dreeet... dreeet... suara telpon yg berdering lagi membuat Naruto menyuarakan sumpah serapah di hatinya karena pasti akan dihadapkan dalam hal merepotkan karena nama yg tertulis disana adalah IRUKA.

"Moshi-moshi! Naruto disini."

"Segera datang kesini Naruto."

"Dimana?"

"Pelabuhan Tokyo. Aku dan Shirohara memerlukan bantuanmu sekarang."

'Yare... yare... ternyata hidupku tidak bisa tenang jika hidup normal seperti ini. Entah kenapa aku kangen kehidupan NEET ku meski hanya 2 bulan berjalan.'

"Baiklah, aku segera datang."

Tut... tut... tut...

"Dari siapa Kaneki-kun?" Sama halnya seperti tadi setelah telpon berakhir Rias bertanya tapi kali ini dia memanggil Naruto dengan nama Kaneki.

"Dari Iruka-san. Apa kau keberatan kalau pulang sendiri, Rias?"

"Tentu saja keberatan. Seorang laki-laki harusnya bertanggung jawab karena telah memulainya."

"Jadi kau mau ikut? Kusarankan pakai jaketmu karena mungkin saja urusan ini akan sangat lama."

"Sudah kupakai!" Dan benar saja sebuah jaket merah berlengan panjang tanpa hoodie kini telah selesai membalut seragam Rias.

"Tidak ada pilihan lain. Baiklah kau boleh ikut." Dengan kalimat itu Naruto dan Rias pergi dari TK Kuoh untuk menuju ke apartemen Naruto. Kenapa tidak ke pelabuhan Tokyo? Tentu saja Naruto ingin mengambil topeng Kaneki.

05.45 PM Pelabuhan Tokyo.

Sesampainya Kaneki dan Rias di pelabuhan tokyo, yg terlihat bukanlah para pekerjanya melainkan para polisi yg sudah berkumpul disana, baik itu dari kota Tokyo Maupun Kuoh karena memang kota itu bertetangga.

Sadar bahwa dia dan Rias hanya akan menarik perhatian banyak pasang mata karena ada sepasang sejoli yg bisa masuk pelabuhan yg ditutup oleh garis polisi, Kaneki dan Rias memutuskan untuk segera mencari Iruka dan Shirohara.

"Hoy! Kaneki!" Mendengar namanya/julukannya dipanggil, Kaneki langsung mencari arah sumber suara dan menemukan Shirohara dan Iruka di dermaga lalu segera menghampirinya. Disana Iruka dan Shirohara tengah melihat sebuah kapal pesiar meski tidak terlalu besar tapi namanya juga kapal pesiar sudah pasti mewah bukan? (Kapal Queen Mary)

"Jadi apa kasus kali ini?"

"Imigran gelap, Pembajakan kapal, Kapal asing tanpa awak, Kapal hantu atau apalah, kami juga sebenarnya tidak tahu. Hanya saja kapal itu tiba-tiba muncul di satelit kepolisian jepang."

Satelit kepolisian pada zaman ini adalag satelit yg memancarkan gelombang untuk

"Logam Lithium." Itulah kata yg diucapkan Naruto saat melihat sedikit pantulan sinar dari arah kapal. Tapi bukan dari kaca melainkan dari seluruh bagiannya.

"Heh? Kau mengatakan sesuatu Kaneki-kun?"

"Iya. Seluruh permukaan kapal terlihat mengkilap dari sini dan lapisan itu adalah logam lithium, tapi kapal hantu juga menarik soalnya kapal itu sama seperti kapal yg tenggelam 12 abad yg lalu. Mungkin saja kapal kutukan Queen Mary."

Lithium adalah logam dengan kerapatan yg paling renggang sedangkan Queen Mary adalah kapal pesiar yg dibuat 12 abad yg lalu dan dikabarkan berhantu.

"Ku-kutukan?" Kata Rias dengan wajah pucat pasi. Sejak dulu dia memang membenci hal-hal seperti itu.

"Itu hanyalah dongeng untuk menakuti anak kecil. Kapal itu memang terlihat seperti Queen Mary tapi ada sebuah lapisan yg Kaneki bilang adalah logam Lithium, itu artinya ini kapal yg berbeda." Jelas Shirohara mencoba menenangkan Rias.

"Itu benar. Kapal Queen Mary telah tenggelam 12 abad yg lalu saat pelayaran perdananya, sekarang pasti sudah hancur di dasar laut." Timpal Iruka.

"Baiklah... mungkin aku sedikit berlebihan tapi ketauhilah kalau kita hanya punya 2 pilihan aman dan 1 pilihan beresiko kali ini." Kata Kaneki menginterupsi Iruka.

'Logam Lithium disusun dengan sangat sempurna sampai-sampai sanggup memerangkap gelombang dari satelit. Renggangan-renggangan di Lithium cukup besar untuk dimasuki oleh sebuah gelombang itu artinya cara memerangkapnya adalah membiarkan gelombang memasuki renggangan lalu kapalnya bergerak jadi saat gelombang itu memantul jalur kembalinya bukan di renggangan tadi melainkan sudah terperangkap di dalamnya jadi tidak ada banyak gelombang yg bisa keluar. '

"Apa pilihan amannya?" Saat mendengar ada pilihan aman maka Shirohara dan Iruka langsung bertanya pada Kaneki.

"Tenggelamkan atau ledakkan. Pilihan beresikonya ialah menyusup langsung ke kapal tapi mengingat pasti ada awak di dalamnya kuyakin mereka tidak akan menyerah semudah itu. Mungkin 1 atau 2 anggota kepolisian akan mati."

"Tunggu sebentar Kaneki-kun! Kalau diledakkan bukannya bahan bakarnya nanti akan mencemari laut?"

"Kau benar, Rias. Makanya pilihan yg terakhir adalah tenggelamkan. Kau pernah mendengarku mengatakan Gas Metana bukan?"

"Hm.. pernah saat kau ditelpon ayahmu. Untuk apa Gas Metana?"

"Tentu saja menenggelamkan kapal itu. Ukurannya lebih besar dari Titanic sudah pasti aku butuh tabung gas metana 10 kg sekitar 10 buah."

"Bagaimana caranya?"

"Gas Metana bisa mengurangi kepadatan dari air dengan busa yang sangat mungkin untuk naik ke permukaan dan kemudian dengan cepat menggulingkan kapal yah... meski harus kuakui butuh banyak anggota penyelam dan gas metana tapi kalau kita hanya memfokuskan pelepasan gas di sebelah sisi saja itu akan mempercepat tenggelamnya kapal dan menghemat banyak faktor pendukung."

"Bagaimana menurutmu, Shirohara?"

"Gas Metan ya? Kurasa pelabuhan ini punya cukup banyak gas. Baiklah aku akan menyuruh anak buahku untuk melakukan rencanamu, Kaneki."

"Shirohara-san aku punya permintaan."

"Apa itu?"

"Suruh anak buahmu untuk membawakanku sebuah gelang yg ada di dalam kapal itu."

"Baiklah, walaupun aku yakin bahwa anak buahku tak akan menemukan gelang yg kau maksud."

"Bagaimana kau bisa seyakin itu?"

"Ada banyak jenis gelang yg ada di sebuah kapal pesiar karena semua penumpangnya adalah orang kaya. Jadi bagaimana anak buahku menemukan gelang yg kau maksud dan bukannya menemukan gelang dari emas?"

"Gelang itu sangat berbeda dari kebanyakan gelang. Sudah pasti seseorang yg pertama kali melihatnya akan langsung tahu."

"Baiklah terserahmu saja."

Sementara Rias yg melihat Kaneki bersikeras dengan gelang tadi hanya bisa bertanya-tanya apa gunanya gelang Orpheus di pikirannya sendiri karena tidak mau mengganggu bagaimanapun dia tidak mau mengganggu Kaneki.

Operasi Penenggelaman Kapal...

Mengatur alat komunikasi yg menempel di telinga dan sekitar mulutnya, Kaneki yg kali ini bertindak sebagai pemandu bagi grup penyelam.

"Baiklah kalian bisa mendengarku?"

"Dengan jelas pak!" Jawab mereka serentak.

'Apa suaraku terdengar seperti orang tua?'

"Langsung saja menyelamlah di bawah kapal kira-kira 4-5 meter di bawah nya lalu pilihlah salah satu sisi yg akan digulingkan. Selanjutnya bagi menjadi 3 kelompok, kelompok 1 di depan dengan 3 anggota, kelompok 2 di tengah dengan 4 anggota dan kelompok 3 di belakang dengan 3 anggota. Beri jarak tiap kelompok minimal 3 meter lalu lepaskan penutup tabung secara bersama-sama. Sudah paham?"

"Baik!" Jawab mereka serempak *lagi*.

"Laksanakan!"

Setelah penggulingan sebuah kapal pesiar Queen Mary (kw)...

"Bagaimana Shirohara-san? Apa anak buahmu menemukan gelang yg kuminta?"

"Aku tidak tahu gelang seperti apa yg kau minta tetapi Yata menemukan banyak sekali gelang seperti ini." Jawab Shirohara sembari menyerahkan gelang Orpheus (tiruan) kepada Kaneki.

Gelang itu berwarna seperti emas yg kusam dengan sepasang ukiran yg menyerupai mata burung hantu dengan moncong yg tajam. (Liat di anime Phi Brain atau fb saya)

Terlihat biasa bukan? Tapi siapa yg menyangka kalau gelang seperti ini mengandung banyak sekali zat stimulan di dalamnya yg meningkatkan secara paksa daya pikir manusia. Manusia yg bodoh pun jika menggunakan gelang ini dikatakan mampu menggunakan sampai 75% otaknya apalagi jika gelang ini dipakai oleh pemegang gelar yg jelas IQ nya lebih dari 190 (kecuali Nightingale).

"Terima kasih telah membawakanku gelang ini. Kalian bisa menginterograsinya bukan? Jika mereka tidak mau bicara lepaskan saja sebuah kecoak atau kalau kau punya upayakan sebuah Isopoda raksasa di dekatnya. Terlihat jelas tangannya pengguna obat anti serangga jadi bisa dipastikan mereka tak tahan dengan itu."

"I-isopoda r-raksasa?"

"Kau takut dengan hewan seperti itu Rias?"

"T-tentu saja tidak. Mereka hanyalah isopoda, crustacea yg tinggal di laut jadi tidak mungkin ada di darat bukan?"

"Ah... lalu yg ada di dekat kakimu itu apa? Bukankah itu kutu laut raksasa?" Mendengar kata Kutu Laut Raksasa dan merasakan ada sedikit senggolan di kakinya tak pelak membuat Rias kaget sekaligus jijik. Memangnya ada perempuan di dunia ini yg tidak jijik dengan Isopoda raksasa?

"KYAAAAAA!" Saat merasakan senggolan yg kedua Rias langsung berteriak dan secara reflek memeluk Kaneki.

"JAUHKAN KUTU LAUT DARIKU!"

"Hahaha... tenang saja Rias! Itu hanyalah anjing polisi."

"Are...?" Kini otak Rias sedang masuk proses pengolahan informasi yg terlalu ekstrim. Fakta dia mempercayai ucapan Kaneki bahwa anjing yg menggeliat di sekitar kakinya adalah sebuah kutu laut raksasa membuatnya malu setengah mati karena berteriak di tempat umum.

"Kau takut dengan Isopoda raksasa bukan?" Simpul Kaneki setelah semua reaksi Rias tadi.

"Hmp! Bu-bukannya aku takut dengan Kutu laut raksasa dan sebagainya, aku tadi hanya kaget saja."

"Terserahmu saja Tsundere-Princess"

"Siapa yg kau bilang Tsundere heh?"

"Tentu saja si pemegang gelang dari Florence Nightingale di depanku ini." Rias yg dasarnya memang tempramental langsung saja menjewer telinga Kaneki dengan keras.

"Ittai! Apa yg kau lakukan? Apa kau ingin dihukum? Apa kau ingin hancur? Atau kau ingin kubelah?" Dan sepertinya jiwa S yg diwarisi Kaneki dari Minato akhirnya keluar lagi yg membuat bulu kuduk Rias merinding dan tak berani berkata apa-apa untuk membalas pertanyaan Kaneki.

"Pasangan yg aneh. Bukankah begitu, Iruka?"

"Kadang aku berfikir kenapa dia bisa dekat dengan banyak wanita melalui kasus? Dulu saat jaman kita masih muda kenyataan sangat berbanding terbalik dengan apa yg dijalaninya sekarang."

"Haah... mau bagaimana lagi? Perempuan sekarang lebih banyak dari laki-laki jadi kita harus bersyukur jika ada laki-laki yg bisa membuat banyak perempuan jadi pasangannya karena itu artinya menekan angka pelecehan."

Sepertinya kedua kepala kepolisian berbeda kota itu sedang bernostalgia tentang masa lalu mereka. Masa dimana mereka masih aktif (meski sekarang juga aktif) sebagai polisi yg turun langsung di lapangan dan dengan pangkat yg rendah.

"Iruka-san, Shirohara-san! Aku pulang dulu. Ayo Rias!"

"Ja-jangan menarik tanganku. Itu memalukan."

"Kau memang Tsundere, Rias."

"A-apa kau bilang."

"Bukan apa-apa. Ayo mampir sebentar ke suatu tempat, kita punya undangan yg harus dihadiri!"

"Undangan? Dari siapa?" Tanya Rias penasaran.

"Pythagoras." Jawab Kaneki dengan tenang disertai seringai yg tertutupi oleh topengnya.

'Kau tidak akan mengajakku duel bukan? Kau tahu bahwa kau sudah pasti kalah jadi apa yg akan kau lakukan untuk membunuhku, Pythagoras?'

Dengan berakhirnya percakapan itu, Kaneki dan Rias pergi meninggalkan Pelabuhan Tokyo menuju ke tempat yg ada di undangan Pythagoras.

Undangan Pythagoras? Kapan Kaneki mendapatkannya?

Flashhback!

Sesaat setelah menyampaikan rencana untuk menenggelamkan kapal Queen Mary kw yg tiba-tiba muncul di perairan Tokyo tanpa terdeteksi satelit, handphone Naruto bergetar di saku celananya.

"Moshi-moshi! Naruto disini."

"Seharusnya kau menggantinya menjadi "Moshi-moshi! Einstein disini." Atau semacamnya. Dengan begitu kau akan lebih terkenal dan mudah kukenali, Einstein."

"Ho... Pythagoras ya? Mau apa kau menelponku? Mengajakku Duel Game? Atau mungkin membunuhku?"

"Hilangkan persiapanmu untuk duel, aku pasti kalah saat ini. Tapi jangan lupakan bahwa pasti aku akan membunuhmu."

"Biar kutebak. Kapal tiruan Queen Mary itu dibuat GoG bukan? Mustahil rasanya menyusun Lithium cair biasa menjadi perangkap gelombang dari satelit dan di dalamnya terdapat Gelang Orpheus tiruan juga."

"Benar sekali! Tapi bisakah kau menyimpulkan tindakanku dan GoG saat ini?"

"Kau berusaha menguasai jepang lalu dengan begitu produksi Gelang Orpheus bisa kau tingkatkan sampai berkali-kalu lipat karena produksi di jepang berjalan 24 jam sedangkan di Italia pekerjanya dihimbau untuk tidak bekerja melebihi jam 6 malam."

"Hahaha... kau benar sekali. Ngomong-ngomong kau tidak bertanya aku mendapat nomormu dari siapa?"

"Tidak perlu, aku sudah tahu. Sebelum menelponku kau pasti sudah menelpon Newton bukan?"

"Jadi seperti itu pernyataan tak terbantahkan dari Einstein? Aku kagum dengan caramu memikirkannya sesingkat ini. Apa kau punya permintaan? Anggap saja aku memberimu kesempatan untuk merasakan kesenangan sebelum kau mati."

"Kalau begitu bisakah kau menunggu sampai setelah Inter High Cup selesai? Aku tidak ingin melewatkannya."

"Waah... kau ikut ekskul basket? Kalau begitu aku juga akan masuk sekolah selama di jepang dan mengikuti ekskul basket agar kita bisa bertanding! Bagaimana menurutmu?"

"Terserahmu saja. Memangnya berapa umurmu sekarang?"

"16 tahun. Tunggulah aku dan timku di final nanti! Jangan sampai kalah ya!"

"Tentu saja aku tidak akan kalah. Lalu apa yg sebenarnya ingin kau bicarakan denganku saat ini?"

"Sebenarnya aku mengundangmu ke taman yg ada di sekitar Istana Kekaisaran di Tokyo lebih tepatnya di Higashi Gyoen (Taman Timur). Sekarang sudah sepi jadi kita bisa sedikit bertegur sapa."

"Tapi masalahnya sekarang aku bersama Nightingale, apa ini harus?"

"Tidak masalah. Hanya Nightingale bukan? Dan ya! Ini harus kalau kau tidak datang maka aku akan menaruh bom di apartemenmu."

"Aku benar-benar diawasi. Baiklah tunggu sebentar sampai kapal Queen Mary buatan GoG berhasil kutenggelamkan."

Tu... tut... tut...

Kaneki menutup telpon dari Pythagoras lalu memasukkan kembali handphone miliknya ke saku seolah tidak terjadi apa-apa.

Flashback END!

06.00 PM Taman Timur Istana Kekaisaran (Higashi Gyoen)

Setelah sampai menuju tempat yg dikatakan Pythagoras, Kaneki tak henti-hentinya menahan sweatdrop karena saat perjalanan tadi menemukan tulisan "Jalan Ditutup" yg mengindikasikan bahwa Pythagoras lah dalang dari semua ini.

Turun dari motor, Naruto dan Rias kini sedang berjalan menyusuri Taman Timur untuk mencari seorang pemuda berambut putih bergelar Pythagoras.

"Kalian lama sekali, Einstein dan juga Nightingale." Kata sebuah suara yg entah darimana datangnya.

"Dimana asal suaranya?" Kata Rias panik. Dia takut kalau pemuda yg dikatakan Naruto bergelar Pythagoras itu bisa menjadi tak terlihat seperti di film-film sci-fi maupun superhero.

'Kiri, Kanan, Depan, Belakang tidak ada, Bawah mustahil jadi sudah pasti di Atas!'

"Harusnya kau melakukan hal itu sejak tadi, Pythagoras." Sapa balik Naruto sembari mendongak ke atas diikuti oleh Rias dan akhirnya menemukan orang yg mereka cari a.k.a Pythagoras sedang melayang 4-5 meter diatas tanah tanpa bantuan tali dsb.

"Akhirnya aku menemukanmu, Einstein. Ngomong-ngomong sebagai pemegang gelar yg sama, kau dan paman Hagoromo terlihat sangat berbeda. Apa kau menginginkan Gelang Orpheus? Dengan begitu kau bisa menjadi pemegang gelar Einstein sejati."

"Langsung saja intinya. Ini sudah malam yg pasti aku harus mengantar Nightingale pulang."

"Baiklah karena kau bersikeras seperti itu. Bagaimana kalau kau memainkan game sebentar disini? Tenang saja, ini bukan Duel tapi tetap saja kau harus memikirkannya dengan cepat. Waktumu 2 menit, bagaimana?"

"Game seperti apa? Rias, tetaplah di belakakngku."

"Hm! Tapi janji berhati-hatilah."

"Ada banyak game yg bisa kau dapatkan dari taman ini dan semuanya adalah game perhitungan. Tapi aku akan memberimu kata kunci game yg aku maksud. Dengarkan baik-baik karena aku hanya mengatakannya satu kali." Setelah mendengar kata satu kali, Naruto mencoba membuat telinganya bekerja sebaik-baiknya untuk menangkap suara.

"Kata kuncinya adalah: Yg Paling Mudah, Pythagoras, Pascal, Newton, Segitiga lalu 3 warna yg paling dominan di taman ini. Angka berapa yg kau dapat? Mulai!"

"Pythagoras dan Segitiga, yg dimaksud adalah Teorema Pythagoras lalu Pascal dan Newton, yg dimaksud adalah Teorema Binomial dimana Pascal sering dikaitkan dengan Teorema Binomial padahal jauh sebelum itu Newton pernah menjelaskan mengenai teorema binomial umum yang berlaku untuk setiap eksponen (perkalian yg diulang). Lalu 3 warna paling dominan disini adalah warna Hijau (Rumput, Daun dsb), Coklat (Kayu, Kursi taman dsb) lalu yg terakhir adalah Putih (cahaya lampu). Bunga-bunga tidak dihitung karena tertutup oleh gelap alias warna hitam tapi hitam juga tidak dihitung karena warna itu hanya turunan dari cahaya putih yg mengenai benda padat dan menghasilkan bayangan yg menutupinya ataupun juga karena tidak mendapat cahaya karena matahari sudah terbenam lalu untuk menghasilkan angka, itu artinya adalah Kode Desimal RGB dimana kode warna ditulis menggunakan kode angka desimal."

"Kode Desimal RGB hijau adalah 0 128 0, coklat 165 42 42 lalu Putih 255 255 255. Teorema Binomial yg paling mudah dari angka-angka tadi adalah (1654242+255255255) pangkat 128, aku bisa mengabaikan angka 0 di depan dan belakang." (Maaf soal pangkat nya, app author buat nulis fic ini gak bisa nulis pangkat jadi gitu aja deh)

"(1654242+255255255) lalu dikalikan dengan hasil penjumlahannya seperti mengalikan pangkat biasa sebanyak 128 kali. Jadi hasilnya adalah..." Setelah berhasil memecahkan teka-teki Pythagoras hanya dengan kata kunci super absurd, Naruto kini dihadapkan kepada game yg sangat sulit karena ada angka di dalamnya.

Tapi jika Naruto menyerah dengan kelemahannya maka dia tidak pantas disebut sebagai pemegang gelar Einstein. Maka dari itu, Naruto sudah menyiapkan otaknya untuk angka-angka seperti ini setelah pertemuannya dengan Edison.

"Berapa jawabanmu Einstein? Waktumu tinggal sedikit loh." Kata Pythagoras a.k.a Toneri mencoba membuyarkan konsentrasi Naruto yg saat ini sedang menghitung jawaban dari game ini di otaknya.

"Jawabannya adalah 1.1191822x10 pangkat 34650." Jawab Naruto dengan tenang.

"Mengesankan. Kau terlihat sangat mengesankan saat menyelesaikan Game, Einstein. Kenyataan bahwa kau menghitung semua angka-angka tanpa memasuki Phi Brain sungguh mengesankan." Kata Pythagoras memuji Naruto.

"Sudahlah. Ayo kita pergi, Rias."

"Hm! Aku juga sudah lapar sekali."

"Kalau kau lapar kenapa kau tidak bilang dari tadi? Seharusnya kita bisa makan sebentar sebelum kesini."

"Soalnya kalau kita makan bersama itu artinya kencan." Jawab Rias dengan wajah yg menunduk merah.

"Apa kau bilang?"

"Bukan apa-apa! Hanya perasaanmu saja."

Setelah meninggalkan Pythagoras di taman dengan keadaan yg masih melayang, Naruto dan Rias pergi menuju tempat Naruto memarkirkan motornya.

"Naruto-kun, apa dia tadi punya kekuatan super? Atau jangan-jangan setiap pemegang gelar punya kekuatan itu?" Tanya Rias membuka percakapan *lagi*. Sebenarnya saat melihat Pythagoras melayang dia sudah ingin menanyakan hal ini kepada Naruto.

"Jangan berpikiran yg aneh-aneh. Pythagoras melayang karena Efek Meissner."

"Efek Meissner? Bagaimana caranya?"

"Tanah tepat di bawah Pythagoras melayang sebenarnya telah ditanami oleh magnet yg sangat kuat lalu di sepatu Pythagoras ada sebuah material superkonduktor yg telah diaktifkan. Pengosongan medan membuat tubuhnya seperti melayang tapi yg sebenarnya terjadi adalah kakinya yg menopang tubuhnya dan kakinya ditopang oleh pengosongan medan antara Superkonduktor dan Magnet. Paham?"

"Hehehe... tidak sama sekali." Kata Rias dengan watados meski kenyataannya dialah yg membuat Naruto menjelaskan panjang lebar seperti tadi.

"Sudahlah aku akan mengantarmu pulang sekarang."

"Hm! Terima kasih untuk hari ini. Sejujurnya aku menikmatinya meski banyak insiden yg terjadi."

"Kalian semua sama saja."

"Kalian semua? Siapa yg lain?"

"Tentu saja Sona, Maki dan Akeno."

"Heeee! Jadi aku yg keempat?"

06.45 PM Rumah Keluarga Gremory

Venelana Kranjar atau yg kini telah berganti marga menjadi Gremory saat ini tengah resah menunggu kepulangan putrinya. Sirzech bilang dia bersama dengan Naruto Namikaze.

Ya! Naruto Namikaze, pemuda yg mengalahkan putrinya dalam permainan catur. Meski dia adalah anak dari teman lamanya di sekolah dulu a.k.a Minato dan Kushina tapi tetap saja dia khawatir pada keselamatan mereka berdua.

Sementara itu diluar dugaannya Sirzech sendiri yg biasanya akan panik pada adiknya jika pulang terlambat kini bertingkah biasa-biasa saja dan saat ditanya olehnya dia hanya menjawab.

"Naruto adalah juniorku. Junior yg baik tidak akan mengecewakan Seniornya."

Dan di lain pihak Suaminya sendiri sedang membicarakan hal penting dengan Minato yg entah kenapa secara tiba-tiba datang kesini.

Mendengar suara sepeda motor berhenti di depan gerbang membuat Venelana langsung pergi ke pintu depan untuk memeriksa siapa yg datang.

"Okaa-sama!" Kata itu meluncur dari mulut seorang perempuan berambut merah yg sedang berlari kearahnya dengan tangan yg siap memeluk.

Hup! Sepasang Ibu dan Anak itu bisa berpelukan lagi setelah berpisah.

"Rias! Kemana saja kau hari ini?"

"Maaf tidak memberi kabar. Aku dan Naruto-kun ada urusan."

"Urusan? Jangan-jangan kau telah dewasa, Rias?"

"Aku memang sudah dewasa, Okaa-sama!"

"Ada apa ribut-ribut disini? Oh... Rias kau sudah pulang, darimana saja?" Mendengar suara istri dan ankanya dari luar rumah terpaksa membuat kepala keluarga Gremory yg saat itu terlibat pembicaraan dengan Minato mengakhiri pembicaraannya dan memeriksa ke luar rumah diikuti oleh Minato.

"Etto... aku dari Akiba sora ini."

"Hoy! Naruto! Kesini sebentar!" Panggil Minato saat melihat orang yg mengantar Rias adalah Naruto.

'Ada apa Minato-Ojiisan memanggil Naruto-kun?'

Mendengar namanya dipanggil, Naruto langsung turun dari motornya dan pergi menemui Minato.

"Otou-sama? Kenapa ada disini?"

"Yah... hanya memberitahu keluarga Gremory. Kau sendiri darimana saja?"

"Melakukan hal biasa."

"Tu-tunggu dulu! Kenapa Naruto-kun memanggil Minato-Ojiisan dengan sebutan Otou-sama?"

"Bukankah sudah jelas kalau Minato adalah ayah Naruto."

"Benarkah itu, Okaa-sama?"

"Tentu saja. Minato itu ayah Naruto Namikaze."

"Kalau begitu kenapa Naruto-kun memakai marga Namikaze bukannya Uzumaki seperti Naruko-chan?"

"Kalau soal itu sebenarnya Margaku yg asli adalah Namikaze." Kali ini Minato sendiri yg menjawab pertanyaan Rias.

Melihat sudah tidak ada hal yg bisa dibicarakan lagi, Naruto langsung pamit pulang diikuti oleh Minato.

"Kalau begitu saya pamit pulang Lucius-san, Venelana-san."

"Aku juga pamit Lucius, Venelana."

"Baiklah hati-hati di jalan."

Di Luar Gerbang Rumah Keluarga Gremory...

Di luar gerbang masuk rumah keluarga Gremory terlihat seorang pemuda dan seseorang yg terlihat awet muda berambut pirang dan terlihat seperti anak kembar. Meski kenyataannya yg membedakan mereka saat ini adalah apa yg mereka naiki.

Naruto saat ini menaiki motor sport berwarna hitam sedangkan Minato sendiri menaiki sebuah mobil sport. Sama-sama sport tetapi berbeda level dam selera.

"Bagaimana menurutmu dengan Pythagoras, Naruto?" Ucap Minato membuka percakapan.

"Dia lebih berbahaya dari yg kukira. Persentaseku untuk tetap hidup di dalam rencananya mungkin kurang dari 45%."

"Meski begitu kau sudah mempersiapkan rencana balasan bukan?"

"Entahlah. Aku juga masih bingung saat ini."

"Hm.. jadi begitu. Aku percaya bahwa kau tidak akan mati secara menyedihkan, Naruto."

"Sebaiknya jangan terlalu percaya."

"Mana mungkin aku bisa seperti itu. Kau adalah anakku sendiri. Segera pulanglah ke apartemenmu lalu pulang ke rumah kita."

"Akan kucoba secepatnya."

~.~.~.~

Chap 15: END!

A/N: nyahahaha... update di sela-sela Uji Nyali its so kampreting. Sorry kalo ada TyPo yg membuat kesulitan membaca itu karena saya tidak punya waktu untuk mengkoreksi ulang. Yg dibicaralan Minato dan Lucius itu tentang status Rias yg jadi pemegang gelar Nightingale selanjutnya.

Daftar pemegang gelar:

1. Pythagoras: Otsutsuki Toneri

2. Enigma: ?

3. Antonionette: ?

4. Da Vinci: Nishikino Maki

5. Galileo: Sona Sitri

6. Edison: Himejima Akeno

7. Nightingale: Rias Gremory

8. Newton: Minato Namikaze

9. Einstein: Naruto Namikaze

10. Aristoteles? Enaknya ditambahin Aristoteles gak?

Jangan asal nebak dulu. Dulu aja banyak yg salah nebak Edison dan Pythagoras,emang lu kira sexy orange hair itu cuman ada 1? Terus loli black hair juga cuman 1? :v

Q: Kenapa fic ini gak ada lemonnya padahal rated M?

A: Rated M gak selalu harus sepaket sama lemon. Lagipula kalo orang yg gak sekedar mbaca nih fanfic sebenernya malah ngajak berbuat kejahatan.

Q: Kenapa fanfic ini dibuat crossover? Kenapa gak pake semua char Naruto?

A: Alasannya saya gak suka dengan fandom Naruto. Fandom dimana banyak BL bertebaran membuat saya berfikir 6 kali untuk menempatkan fic ini di fandom Naruto dan dulu pas saya publish chap 1 fandom NaruDxD gak serame sekarang jadi ikut ngeramein sekalian lah.

Thanks! Buat author AlyaUzumaki yg udah bantu ngedeskripsiin Gelang Orpheus meski akhirnya absurd juga. :3

Nano, Log Out.