Chapter 16
Nano, Log In
"Maji de Watashi ni Koi Shinasai!/Love Me, Seriously!"
Warning:
Mungkin akan sangat OOC, EYD salah kaprah dan banyak typo dan pastinya Kata-kata kasar yg frontal.
Disclaimer:
Naruto: Masashi Kishimoto
Highschool DxD: Ichie Ishibumi
Love Live School Idol Project: KLab (Reader: itu produser gamenya goblok *Yaoming face* Auth: biarin cuk daripada ada yg ngepermasalahin, orang di fandomnya aja gak ada yg make disclaimer *yaoming face*
~.~.~.~
Chapter 16: Lost Time Memory.
Opening Song: IA (Vocaloid) - Outer Science
19 Mei 20xx
06.50 AM (Ruang kepala sekolah Kuoh Gakuen)
Saai ini Naruto berada di ruang kepala sekolah bersama siswi lain yg dia kenal sebagai pemegang gelar Galileo, Edison, Da Vinco dan Nightingale. Kenyataan mereka disana atas perintah kepala sekolah membuat Naruto menebak bahwa Minato sudah memberitahu orang tua Rias.
Lain pikiran Naruto lain juga pikiran para siswi yg mewarisi gelar tinggi para ilmuwan disana. Mereka semua terlihat tidak bersahabat padahal nyatanya mereka semua dulu adalah teman masa kecil dan selalu masuk sekolah yg sama.
"Jadi ada apa kepala sekolah memanggil kami semua?" Ucao Naruto langsung to the point. Dia juga butuh waktu membuat rencana yg matang untuk mencoba mematahkan rencana pembunuhan dari Pythagoras.
"Minato Uzumaki sebagai pemegang gelar Newton sudah menceritakan semua tentang gelar kalian padaku. Dengan ini aku menyatakan bahwa kalian semua akan masuk ke klub khusus." Mendengar gelar Newton belum lagi nama Minato membuat Sona langsung mengajukan pertanyaan atas semua ini.
"Tunggu sebentar kepala sekolah. Apa maksud anda Minato Uzumaki pemegang gelar Newton?"
"Kalian tahu sendiri bukan Minato Uzumaki? Dialah pemegang gelar Newton seperti kataku tadi. Mungkin aku harus meralatnya menjadi Minato Namikaze." Mendengar marga Namikaze tak pelak membuat Akeno, Sona dan Maki terkejut.
"Kalau Minato-Ojiisan adalah Namikaze itu berarti..."
"Kau benar Akeno. Naruto Namikaze adalah anak dari Minato dan Kushina Uzumaki. Hanya saja sekarang dia memilih untuk memakai marga Namikaze agar dia tidak dikenal orang lalu hidup mandiri jauh dari rumah." Mendengar penjelasan singkat dan fakta yg belum pernah mereka ketahui tentang pemegang gelar Einstein membuat para siswi disana memandang Naruto dengan mata yg menuntut sebuah penjelasan minus Rias yg telah mendengar cerita dari Orangtuanya mengenai Naruto.
Ditatap dengan tatapan bak singa betina oleh 3 perempuan sekaligus tak membuat Naruto merubah mimik wajah seriusnya. Dengan dandanan yg mengindikasikan seorang remaja kuper, Naruto malah menatap balik mereka dengan tatapan datarnya.
"Kenapa?"
"Tidak apa-apa, hanya saja kelihatannya kau berhutang banyak cerita pada kami Naruto-kun."
"Hm.. jadi begitu ya... Akeno. Menurutmu cerita apa yg menjadi hutangku Sona?"
"..." Tak ada jawaban dari Sona.
"Maki?"
"..." Sama dengan Sona, Maki pun tak menjawab pertanyaan Naruto dan malah membuang muka ke samping.
"Baiklah akan kuceritakan di ruang klub nanti. Lalu kepala sekolah, bagaimana kegiatan saya di klub basket?"
"Kalau soal itu aku sudah mengurusnya. Guy-sensei akan membiarkanmu berlatih sendiri dan saat Inter High Cup kau diperbolehkan ikut. Namamu juga belum tidak akan dicoret disana."
"Tapi ketahuilah kepala sekolah. Akibat dari pindahnya saya ke klub khusus akan membuat cerita menjadi kacau."
"Cerita menjadi kacau? Apa maksudmu?"
"Sebenarnya jauh-jauh hari, Author fanfic ini telah mempersiapkan rencana untuk memparodikan episode The Hound of Baskerville dari Sherlock Holmes. Jadi jika saya pindah klub maka saya tidak ikut Training Camp dan jika saya tidak ikut Training Camp maka rencana dari Author akan sia-sia."
"Biarkan saja. Memangnya kau pikir ini fanfic Gintama 17++ dengan banyak parody?"
"Bukan begitu kepala sekolah. Genre utama fanfic ini sebenarnya memanglah parody."
"Lalu kenapa kau merasa kasian dengan Author fanfic ini?"
"Harus anda tahu bahwa jari kelingking dan jempol Author fanfic ini sebenarnya sedang sakit. Saya khawatir ototnya putus jika dipaksakan untuk menulis chapter yg diluar rencananya."
"Ho... aku tidak tahu jika Author harus menahan sakit saat mengetik fanfic ini."
"HEYAAAAH! APA YG SEBENARNYA KALIAN BERDUA BICARAKAN! AUTHOR? CHAPTER? SHERLOCK HOLMES? GINTAMA?" Teriak Rias tak tahan dengan pembicaraan Lucius dan Naruto yg sangat tidak mereka mengerti.
"Ehem! Intinya kalian semua akan dimasukkan ke klub khusus." Kata Lucius kembali ke plot cerita.
"Kepala sekolah, saya punya pertanyaan."
"Pertanyaan apa, Maki-san?"
"Apa nama Klub nya?"
"Kalau soal itu pikirkan saja sendiri. Oh ya, kalian juga harus melakukan kegiatan klub sama seperti klub-klub lain dan tentu saja namanya harus mengindikasikan kegiatan di dalamnya."
"Bagaimana kalau Klub Peneliti Enskripsi Enigma?"
"Baka Akeno. Enskripsi Enigma telah dipecahkan oleh Alan Turing dan kelompoknya selama perang dunia kedua."
"Hmp! Lalu apa usulmu, Sona?"
"Klub Peneliti Paradise Lost."
"Sona no Baka."
"A-apa katamu Maki?"
"Paradise Lost adalah puisi karya John Milton yg katanya di dalamnya mengandung dialog antara Galileo dan John Milton sendiri. Jika menamainya seperti itu sama saja egois."
"Lalu seperti apa usulmu?"
"Bagaimana kalau Klub Peneliti Lukisan?"
"Itu malah sangat egois, Maki."
"Lalu apa saranmu Rias."
"Hm... bagaimana kalau..."
Teeeet... teeeet... teeeeet...
Sayangnya suara bel masuk yg berbunyi memotong perkataan Rias yg belum sempat menyampaikan usulnya.
"Karena sudah masuk maka kami semua pamit untuk pergi, kepala sekolah."
"Hm... baiklah. Putuskan namanya hari ini dan katakan saja ke Rias."
"Kalau begitu kami permisi, kepala sekolah." Kata Naruto lalu keluar dari ruangan kepala sekolah. Meski dia bilang KAMI tapi nyatanya dia pergi meninggalkan Akeno, Rias, Sona dan Maki yg baru selesai berdebat nama klub.
'Naruto-kun... kau tega sekali.' Batin mereka semua setelah sadar bahwa mereka ditinggalkan Naruto.
"Hoy! Apa kalian akan terus diam disitu?"
'Sudah bel masuk!'
"Kalau sudah tidak ada yg dibicarakan lagi, kami akan pergi ke kelas masing-masing. Permisi kepala sekolah." Dengan Sona sebagai perwakilan mereka pamit kepada kepala sekolah.
Setelah mereka semua keluar dari ruangannya dan hanya menyisakan dirinya sendiri, Lucius berguman dengan lirih.
"Dasar anak muda jaman sekarang."
07.05 AM (Ruang kelas 1A)
Di ruang kelas 1A kini terdapat pemandangan yg menarik. Bukan karena keterlambatan guru yg mengajar melainkan karena seorang siswi baru bergaya rambut twintail dan berwarna pirang berdiri di depan kelas mereka. Jila dilihat sekilas maka dia mirip dengan Namikaze Naruto.
"Baik! Maat kali ini Sensei terlambat 5 menit. Ya... itu karena Sensei harus menjemput murid baru di ruang administrasi, bisa kau memperkenalkan diri Uzumaki-san?"
'Apa yg dilakukan Naruko disini? Ini terlalu mengejutkan dan mendadak.'
"Baik sensei! Namaku Uzumaki Naruto. Kesukaanku adalah ramen."
"..."
"Sudah, itu saja?" Tanya Kakashi sweatdrop.
"Hmp!" Untuk menjawab pertanyaan Kakashi, Naruko hanya mengangguk.
"Sensei! Apa saya boleh bertanya kepada Uzumaki-san?" Kata Maki meminta izin kepada Kakashi untuk bertanya kepada Naruko, tentunya dengan mengangkat tangan dulu.
"Silahkan Nishikino-san."
"Apa hubunganmu dengan Namikaze Naruto?" Meski telah tahu bahwa Uzumaki Minato adalah ayah dari Namikaze Naruto yg artinya Uzumaki Naruko adalah saudara Naruto tetapi Maki ingin memastikannya sekarang. Sejujurnya dia juga melihat gelagat Sona yg akan mengangkat tangan jadi dia mendahuluinya.
"Namikaze Naruto adalah Kakakku." Naruko menjawab pertanyaan dengan senyum penuh arti yg ditujukan kepada Naruto di pojok ruangan.
"Karena tidak ada pertanyaan lagi, mari kita mulai peran hari ini."
02.00 PM (Ruang klub khusus *no name*)
Di sebuah ruangan bergaya klasik ala abad pertengahan terlihat ada 6 orang sedang duduk melingkar mengikuti bentuk meja. Diantara mereka ber enam ada 5 perempuan dan 1 laki-laki, jika dilihat dari posisi mereka saat ini kelihatannya mereka akan mengadakan rapat.
"Baiklah kita akan memulai rapat untuk menentukan nama klub ini." Kata Naruto yg kemudian sukses mengalihkan perhatian Akeno, Rias, Sona dan Maki yg sedang menatap Naruko dengan tajam. Tapi dia tidak bisa senang dulu karena kini gilirannya yg ditatap tajam oleh mereka ber empat.
Ditatap dengan tatapan tajam yg meminta penjelasan, Naruto terpaksa mengundur jalannya rapat untuk memberi penjelasan pada mereka semua dan mengakhiri kesalah pahaman ini.
"Baiklah akan kujelaskan. Yg disampingku ini adalah adikku, seharusnya dia memang masih kelas 3 Junior Highschool tapi kelihatannya dia mengambil accel."
"Alasannya?"
"Tentu saja karena Naruko ingin bersama Onii-chan!" Yg menjawab pertanyaan dari Akeno bukanlah Naruto melainkan Naruko.
"Aku juga punya satu pertanyaan, Naruto-kun."
"Apa itu, Sona?"
"Apa adikmu itu boleh bergabung ke klub ini? Bukankah ini klub khusus yg di dalamnya berisi pemegang gelar seperti kita semua?"
"Karena adikku ini ceroboh jadi aku meminta kepala sekolah mengijinkannya. Dari awal dia memang sudah mewarisi kejeniusan Tou-san sama sepertiku tapi sayangnya dia tidak mau menggunakannya sampai akhirnya sekarang dia memutuskan memilih accel."
"Bukannya Naruko tidak ingin menggunakan otak Naruko, tetapi Onii-chan dan Otou-sama terlalu cepat dalam banyak hal melebihi Naruko." Kilah Naruko dengan pipi menggembung khas anak kecil.
'Terlalu imut! Dadanya juga lebih besar dariku. Berakhir sudah.' (Sona)
'I-imut. Tapi kenapa dadanya lebih besar dariku? Memangnya dia Hestia?' (Maki)
'Ara... ara... punya adik Naruko lebih kecil dari punyaku. Terlalu cepat jika kau pikir bisa menggoda Naruto-kun dengan dada besar.' (Udah tahu kan?)
'Kau aman. Punya Naruko masih kecil jika dibandingkan punyamu, Rias.' (Rias *genius face*)
"Maa... maa... sudahlah Naruko, menjadi jenius itu sebenarnya menyusahkan."
"Bisa kita mulai rapat ini? Okaa-san memintaku membantunya memasak untuk memasak makan malam hari ini." Kata Rias menginterupsi percakapan NaruNaru.
"Kalau begitu akan kusingkat saja. Bagaimana kalau kita menentukan nama klub ini menggunakan game?"
"Menggunakan game?" Beo mereka semua tanpa terkecuali.
"Hm! Intinya aku akan memberikan game kepada kalian semua anggota klub, tentu saja kalian harus menjawabnya. Jika jawaban benar maka usulnya akan kuterima tapi jika tidak ada yg bisa maka aku yg akan memutuskan. Bagaimana? Kalian semua berani?"
Melihat satu sama lain, kelima siswi disana menganggukkan kepala tanda setuju.
"Dengarkan baik-baik. Awalnya ada 5 rumah yg berbeda-beda dan Setiap penghuni menyukai satu jenis minuman tertentu, merokok satu mererk rokok tertentu dan memelihara satu jenis hewan tertentu. Tidak ada satupun dari kelima orang tersebut yang minum minuman yang sama, merokok merek rokok yang sama dan memelihara hewan yang sama seperti penghuni yang lain.
Orang Inggris tinggal di dalam rumah berwarna merah.
Orang Swedia memelihara anjing.
Orang Denmark senang minum teh.
Rumah berwarna hijau terletak tepat di sebelah kiri rumah berwarna putih.
Penghuni rumah berwarna hijau senang minum kopi.
Orang yang merokok PallMall memelihara burung.
Penghuni rumah yang terletak di tengah-tengah senang minum susu.
Penghuni rumah berwarna kuning merokok Dunhill.
Orang Norwegia tinggal di rumah paling pertama.
Orang yang merokok Marlboro tinggal di sebelah orang yang memelihara kucing.
Orang yang memelihara kuda tinggal di sebelah orang yang merokok Dunhill.
Orang yang merokok Winfield senang minum bir.
Di sebelah rumah berwarna biru tinggal orang Norwegia.
Orang Jerman merokok Rothmans.
Orang yang merokok Marlboro bertetangga dengan orang yang minum air.
Pertanyaannya adalah siapa yang memelihara ikan ?" kata Naruto panjang lebar.
"Itu hanyalah teka-teki yg dibuat Albert Einstein beberapa abad yg lalu. Jawabannya adalah orang Jerman." Jawab Sona dengan malas.
"Salah!"
"Heh? Bukannya yg dikatakan Sona itu benar?" (Akeno)
"Naruto no Baka! Jawabannya memang Jerman." (Rias)
"Lalu apa jawaban sebenarnya?" (Maki)
"Jawabannya adalah orang Norwegia. Itu benar kan, Onii-chan?"
"Benar. Jawabannya adalah orang Norwegia."
"Tu-tunggu dulu! Bukankah orang Norwegia memelihara kucing?"
"Game yg dibuat Einstein tidak se sederhana itu. Ini juga menyangkut permainan semantik, intertekstualitas, sosial-kultur dan semacamnya. Pertama kali aku memikirkan game ini aku juga sempat kebingungan bahkan sampai berdebat dengan Otou-sama. Itu karena aku menemukannya dalam bahasa inggris sedangkan Otou-sama dalam bahasa jepang."
"Lalu apa bedanya? Itu hanya translate bahasa, tidak akan merubah maksud."
"Maksudnya memang tidak berubah, Rias-Nee. Tapi pasti ada kejanggalan jika dibandingkan dengan versi aslinya."
"Naruko! Kau tadi memanggilku apa?"
"Rias-Nee, Apa tidak boleh?"
"Hmp! Kau boleh memanggilku seperti..."
"Naruko!" Kali ini yg memanggil Naruko adalah Maki.
"Hm?"
"Diantara kami semua, kau yg paling muda bukan?"
"Benar."
"Kalau begitu kau harus memanggilku, Rias, Sona dan Akeno dengan sebutan Nee-chan atau sebagainya, mengerti?"
"Baik! Maki-Nee!"
Melihat rencananya untuk membuat adik Naruto memanggilnya dengan sebutan Nee-san gagal karena ulah Maki, Rias menatap Maki yg sedang tersenyum mengejek kepadanya.
'Dasar maniak lukisan!'
"Ehem! Bisa kita lanjutkan masalah pembahasan game buatan Einstein?"
"Tentu saja bisa."
"Dengarkan baik-baik. Jika kita menggunakan versi bahasa jepang maka kita hanya menemukan gagasan baku nan mainstream:
·Kuning, Norwegia, Air, Dunhill, Kucing
·Biru, Denmark, Teh, Marlboro, Kuda
·Merah, Inggris, Susu, Palmall, Burung
·Hijau, Jerman, Kopi, Rothmans, Ikan
·Putih, Swedia, Bir, Winfield, Anjing"
"Tapi jika kita menggunakan bahasa Inggris yg seperti ini:
The Brit lives in the red house
The Swede keeps dogs as pets
The Dane drinks tea
The green house is to the left of the white house
The green house's owner drinks coffee
The person who smokes Pall Mall rears birds
The owner of the yellow house smokes Dunhill
The man living in the centre house drinks milk
The Norwegian lives in the first house
The man who smokes Marlboro lives next to the one who keeps cats
The man who keeps the horse lives next to the man who smokes Dunhill
The owner who smokes Winfield drinks beer
The German smokes Rothmans
The Norwegian lives next to the Blue House
The man who smokes Marlboro has a neighbour who drinks water
To the left means anywhere on the left and not only next to the left. Maka kita akan menemukan gagasan lain yaitu:
·Hijau, Norwegia, Kopi, Pallmall, Burung
·Biru, Jerman, Air, Rothmans, Kucing
·Putih, Swedia, Susu, Marlboro, Anjing
·Merah, Inggris, Bir, Winfield, Kuda
·Kuning, Denmark, Teh, Dunhill, Ikan. Hal ini terjadi karena kata the left of the white house tidak harus berarti tepat di sebelah kirinya rumah berwarna putih."
"..."
Tidak ada tanggapan apapun dari Rias, Akeno, Maki dan Sona. Mereka terlalu kaget karena game bisa berubah jawaban jika di translate ke bahasa lain.
"Jadi itu artinya Naruko boleh menentukan nama untuk klub ini!" Kata Naruko dengan riang sembari menghambur memeluk Naruto.
"Jangan salah dulu, kau tidak berhak untuk itu."
"Heh? Bukankah Naruko berhasil menjawabnya dengan benar?"
"Kau bukan anggota. Meski sudah mendapat izin tapi kau belum resmi masuk klub, Naruko. Jadi dengan kemenanganku aku menamakan klub ini Klub Puzzle."
"Ha! Onii-chan curang!" Protes Naruko tak terima.
"Aku bukannya curang. Sudah kubilang bukan untuk mengecek peraturan 2 kali sebelum kau menyesal?"
Naruko hanya mengangguk.
"Lain kali, lebih berhati-hatilah." Ucap Naruto sembari mengelus-elus puncak kepala adiknya itu.
Merasakan puncak kepalanya dielus-elus oleh sang kakak di depan umum membuat wajah Naruko sontak memerah karena malu.
Deeg!
"Onii-chan! Kau tidak apa-apa!" Kata Naruko panik saat melihat kakaknya tiba-tiba memegangi kepala bahkan sampai berlutut di lantai pertanda kesakitan.
"Naruto-kun!"
"Tidak apa-apa. Aku hanya perlu aspirin saja."
"Akan kuambilkan." Tapi sebelum Sona pergi meninggalkan ruangan, Naruto telah jatuh pingsan.
Naruto Dream...
Kini scene berubah ke ruang kelas dimana Naruto 2 tahun yg lalu sedang sibuk dengan bukunya. Jika sekarang dilihat lebih teliti maka Naruto akan terlihat sedikit berbeda dengan Naruto yg selama ini muncul karena mata sebelah kanannya ditutupi oleh sebuah penutup mata. (Penutup mata ala takanashi rikka, misaki mei dsb)
Di belakang Naruto ada seorang siswi yg merupakan perempuan yg selalu mengganggunya. Kata mengganggu mungkin sudah tidak cocok karena orang di belakangnya itu sudah berlaku 11 : 12 layaknya stalker yg mengikutinya kemana-mana.
"Ada apa Hinata? Kau ingin mengagetkanku lagi? Sudah kubilang kau tidak akan bisa melakukannya."
Sementara itu perempuan yg duduk di belakangnya hanya bisa tersenyum malu dan menggaruk kepalanya yg tidak gatal.
"Naruto-kun! Ayo kita makan!" Berdiri dari tempat duduknya, Hinata tiba-tiba menggaet tangan Naruto untuk mengajaknya makan.
"Lepaskan Hinata! Aku tidak lapar."
Kruyuuuuk...
Mendengar perutnya berbunyi setelah mengatakan tidak lapar tentu saja membuat siapapun malu tak terkecuali Naruto.
"Hm... kau dengar bukan? Perutmu sendiri sudah berbunyi Naruto-kun."
"Baiklah ayo. Tapi kali ini saja kutraktir."
"Hm... traktir? A-apa jangan-jangan nanti kau meminta balasannya padaku dan itu adalah..."
"Hentikan pikiran kotormu itu, aku tak tahan mendengarnya."
"Kalau begitu ayo ke kantin!"
Kantin...
Sesampainya di kantin mereka berdua langsung menjadi pusat perhatian semua murid yg ada disana. Pasalnya seorang Uzumaki Naruto yg dikenal pendiam bahkan ada yg bilang dia anti sosial sedang makan berdua dengan seorang siswi sekelasnya.
Hinata yg ditatap oleh puluhan murid disana menjadi tidak enak dan nafsu makannya hilang berbeda dengan Naruto yg acuh tak acuh dan melanjutkan makan ramennya.
"Naruto-kun!"
"Hmp?"
"Ayo segera kembali ke kelas."
"Sebentar lagi. Paling tidak habiskan dulu minumanmu Hinata, lagipula kelas juga belum dimulai."
Teeeet... teeeeet...
Mendengar bunyi bel pertanda masuk, Naruto langsung berdiri meski nyatanya ramennya belum habis dan langsung mengajak Hinata kembali ke kelas.
"Ayo kembali."
"Are... bukannya tadi kau bilang sebentar lagi?" Tanya Hinata mencoba menggoda Naruto.
"Terserahmu saja. Kalau tidak mau maka kutinggal." Setelah mengatakan itu, Naruto langsung saja pergi meninggalkan Hinata.
"Tu-tunggu Naruto-kun!"
Keesokan Harinya...
Sama seperti biasanya, saat jam istirahat Naruto masih bergelut dengan buku-buku yg entah apa isinya di kelas, dan seperti biasa pula ada Hinata yg duduk di belakangnya.
Meski benci mengakuinya, Naruto sadar bahwa alasan dia tidak kesepian meski jarang bergaul di sekolah adalah Hinata. Tapi bagaimanapun juga seseorang yg di stalk pasti tidak suka dengan sang penstalkernya.
"Hinata!" Panggil Naruto membuka percakapan.
"Hm?"
"Katakan padaku."
"Katakan apa?"
"Alasanmu selalu mengikutiku. Jika itu tidak penting maka kusarankan kau menjauhiku saja."
'Daripada sesuatu terjadi padamu.'
"Kenapa aku harus menjauhimu? Dan juga kau berkata seolah-olah kau itu berbeda dari orang lain, Naruto-kun. Jadi sebenarnya kau ini apa? Vampir? Ninja? Youkai? Dewa yg dikutuk? Makhluk mitologi? Zombie?"
"Semua yg kau sebutkan salah. Aku hanyalah Incubus."
"Incubus?"
"Itu adalah ras yg merupakan kebalikan dari Succubus dalam jenis kelamin. Succubus adalah perempuan dan Incubus adalah laki-laki. Aku hanya makan dengan menyerap energi manusia melalui hububgan seks."
"Bohong! Nyatanya kemarin kau makan ramen."
"Kau belum tahu siapa yg kuperkosa setelah aku makan ramen kemarin. Sejujurnya semua makanan manusia yg kumakan rasanya seperti kotoran, sangat tidak enak. Tidak ada istilah permen manis dalam kamusku yg ada hanyalah bibir para perawan yg terasa manis, jadi aku sarankan kau menjauh dariku sebelum aku memperkosamu karena aku sekarang sedang lapar."
"..."
Mendengar tidak ada sahutan dari Hinata membuat Naruto sedikit khawatlr.
"Hinata?"
Setelah menengok ke belakang yg dia temukan adalah sebuah tubuh perempuan berambut Indigo yg lemas tergeletak di belakang bangkunya.
"Orang sepertimu tidak akan bisa bertahan dengaku. Posisiku sekarang sangat sulit dan mustahil jika harus melindungimu juga. Kuharap kau baik-baik saja, Hinata."
Sehari sebelum libur musim panas...
Sama seperti hari-hari sebelumnya, sekarangpun Naruto sedang berada di sekolah. Bedanya adalah sekarang akan libur musim panas.
"Ohayou Naruto-kun!"
"Hinata? Kenapa kau masih mengikutiku?"
"Hm... memangnya aku harus menjauhimu?"
"Harus."
"Untuk apa?"
"Untuk keselamatanmu sendiri."
"Memangnya kau sudah terinfeksi virus T? Atau bahkan sudah terkutuk oleh wabah putih? Atau mungkin tanpa sengaja kau tergigit oleh Gastrea?"
*wabah putih: wabah yg disebabkan oleh nanomachine dan dapat menghasilkan penyakit yg tidak bisa disembuhkan manusia di movie 2 gintama.*
*Gastrea: semacam monster yg mengubah manusia menjadi monster bila tergigit dan tingkat korosifnya 50% *?* di anime Black Bullet.*
"Mana mungkin seperti itu. Hanya saja ini terlalu rumit untuk dijelaskan."
"Baiklah terserahmu saja. Ngomong-ngomong maaf aku tidak bisa berkunjung ke rumahmu musim panas ini."
"Memangnya siapa yg mengundangmu?"
Jleeeeeb!
"Sebenarnya tidak ada. Hanya ingin saja jika aku tidak diajak orangtuaku ke hawai untuk liburan."
"Hawai?"
"Hm! Kami berangkat dini hari nanti."
"Berhati-hatilah."
"Na-Naruto-kun, kau mengkhawatirkanku?"
"Kali ini akan kuakui. Aku memang khawatir."
"Kali ini? Berarti dulu kau juga pernah mengkhawatirkanku bukan?"
"Asal kau tahu saja, tidak ada orang di dunia ini yg tidak mengkhawatirkan seseorang yg ceroboh meski itu adalah musuhnya sendiri."
"Ungkapan yg aneh. Ngomong-ngomong karena ini hari terakhir kita bertemu maka..."
Cup!
"A-apa yg kau lakukan?" Kata Naruto tergagap setelah mendapat ciuman dari Hinata.
"Hanya memberi hadiah sebelum aku pergi."
Libur Musim panas hari 1
08.00 AM Rumah Keluarga Uzumaki
Liburan musim panas adalah liburan yg ditunggu-tunggu oleh anak sekolah di jepang, tidak terkecuali Naruto dan Naruko. Buktinya sekaranga adalah mereka sedang sedang asik bermain, Naruko sedang membuka laptop dan bermain game disana sedangkan Naruto sibuk dengan kertas-kertas glyg penuh dengan game menurutnya sendiri di tangannya.
"Onii-chan! Ayo main berdua bersama Naruko."
"Tidak bisa. Saat ini aku sedang sibuk."
"Ayolah Onii-chan!"
"Tidak."
Sementara itu Kushina yg mendengar Naruko mengajak kakaknya tetapi selalu ditolak hanya tersenyum maklum. Anak sulungnya ini memang kelewat serius, tapi dia juga tidak bisa menyalahkan Naruto karena bagaimanapun semua yg dilakukan Naruto adalah persiapan untuk dirinya saat bertemu atau bahkan berhadapan dengan pemegang gelar lain.
Karena kebisingan oleh suara Naruto dan Naruko, Kushina yg awalnya sedang menonton TV terpaksa membesarkan volumenya agar dia bisa mendengar acara infotaimen ala ibu rumah tangga.
"Breaking News? Sudah jarang sekali sejak terakhir kali ada selaan seperti ini." Gumannya saat melihat ada Breaking News yg sudah sangat jarang ada.
"Maaf kami menyela acara anda untuk Breaking News. Satu-satunya pesawat dengan rute penerbangan Jepang-Hawai dini hari ini mengalami gagal mesin dan jatuh di perairan samudra. Dalam insiden ini tidak ada yg selamat karena semua penumpang terkunci di kursi masing-masing. Mari kita sebagai warga jepang mendoakan semua korban sebagai sesama warga jepang."
"Heh... semoga saja arwah mereka semua bisa pergi dengan tenang." Doa Kushina setelah mengetahui isi beritanya.
"Tu-tunggu dulu! Okaa-sama, tadi itu penerbangan rute mana?"
"Hm? Rute Jepang-Hawai. Memangnya ada apa, Naruto?"
"Ti-tidak mungkin. Ini tidak mungkin!" Mendengar bahwa rute penerbangan yg jatuh adalah Jepang-Hawai, Naruto langsung berlari menuju kamarnya untuk memastikan sesuatu.
"Tidak mungkin bukan jika GoG yg melakukan semua ini?" Menyalakan komputer di kamarnya, Naruto langsung melakukan hacking pada satelit penerbangan jepang dan mencari server yg mengatur penerbangan rute Jepang-Hawai.
Dia melakukan ini kurang dari 10 menit yg artinya hal ini sangatlah mudah. Satelit Penerbangan seharusnya mempunyai proteksi diri yg sangat tinggi dan sangat sulit dibobol oleh siapapun, jika ada hal seperti ini maka artinya ada yg melakukan hacking sebelumnya.
"Tidak mungkin. Ini sabotase, GoG." Kata Naruto tak percaya setelah melihat di server penerbangan Jepang-Hawai penuh dengan virus komputer.
Tes... tes... tes...
Air mata Naruto mau tak mau harus menetes kala otaknya kembali ke topik utama yaitu Hinata telah mati. Meski begitu dia juga tidak mungkin melupakan bahwa GoG lah yg berada dibalik semua ini.
"Kenapa? Kenapa harus Hinata? Kenapa harus dia yg menjadi incaran mereka? KENAPAA!"
2 BULAN kemudian...
Play: IA - Lost Time Memory
Naruto POV
Ini sudah 2 bulan sejak peristiwa itu, sebuah peristiwa besar yg mengubah hidupku. Salah satu alasan kenapa aku bisa bertahan tanpa teman selama ini adalah karena Hinata selalu mengikutiku di sekolah sehingga aku tidak merasa kesepian.
Tapi sekarang hari-hari indah seperti itu tidak akan terulang lagi karena dia telah mati. Sudah 2 bulan lamanya aku juga mengurung diri di kamarku untuk mengingat hari-hariku selama bersamanya, percuma saja pergi ke sekolah jika tanpa keributan yg dia buat.
"Ini semua salahku. Seharusnya aku tidak mencintainya, seharusnya aku menghindarinya lebih jauh. Seharusnya... seharusnya... seharusnya aku yg mati."
Terisak lagi dan lagi, penyesalan yg tiada henti ini rasanya semakin menghancurkanku. Menghancurkan apa yg telah aku bangun selama ini hanya dalam waktu 2 bulan.
Naruto POV End
"Onii-chan! Makan malam sudah siap!" Teriak Naruko dari luar kamar Naruto berharap agar Onii-channya itu mau makan bersama lagi bersama keluarga.
"Tinggalkan aku sendiri, Naruko."
"Tapi Otou-sama bilang..."
"Aku tidak peduli. Tinggalkan aku sendiri." Kata Naruto semakin dingin.
Tak lama kemudian ada seseorang yg mengetuk pintu kamar Naruto.
Tok Tok Tok!
"Cih... siapa lagi sekarang." Gerutu Naruto sembari berjalan gontai ke arah pintu. Penutup mata kanannya basah karena air matanya sendiri.
Kriieet... Duagh!
Saat Naruto membuka pintu sebuah pukulan langsung bersarang di pipinya. Meski tahu akan ada pukulan yg datang tapi Naruto sudah terlalu lelah untuk sekedar menghindarinya.
"Reflekmu menurun, kau terlihat menyedihkan. Seorang pemegang gelar Einstein tidak seharusnya begini." Kata seseorang yg memukul Naruto barusan.
"Ini reaksi yg wajar bukan, Otou-sama? Aku baru saja kehilangan satu-satunya temanku." Naruto menjawabnya dengan enteng seolah jni adalah hal biasa dan tentu saja jawaban itu membuat Minato marah.
Buak!
Satu tendangan bersarang di perut Naruto.
"Itu salahmu karena kau menghindarinya dan tidak mau membuat teman."
"Kalau aku berteman maka temanku hanya akan dalam bahaya."
Buaak!
Satu pukulan lagi kini mendarat di wajah Naruto. Tidak seperti sebelumnya kali ini Minato memukulnya di dahi dengan sangat keras yg membuat Naruto mundur beberapa langkah.
"Tapi itu lebih baik daripada seperti ini ANAK BODOH!"
"Kau tidak akan mengerti Otou-sama. Sampai kapanpun orang sepertimu TIDAK AKAN MENGERTI!"
Duagh!
Naruto membenturkan dahinya dengan sangat keras dengan dahi Minato sampai membuat Minato terjatuh ke belakang, dia sudah tak peduli jika harus gegar otak karenanya.
Bruuk!
Tubuh Naruto ambruk karena terlalu pusing dan juga kelelahan akibat serangkaian serangan Minato belum lagi kelelahan mentalnya. Yg pasti sebelum kehilangan kesadaran dia mengucapkan sebuah kata dengan sangat lirih tapi masih dapat di dengar Minato dan membuatnya tersenyum.
"Terima kasih. Otou-sama."
"Dasar anak yg merepotkan."
Setelah peristiwa itu hidup Naruto seolah di reset lagi. Sempat sekarat karena dihajar Minato, Naruto kini melanjutkan hidupnya meski belum bisa sepenuhnya melupakan Hinata.
Dia mencoba lebih terbuka dan hangat kepada semua orang di sekitarnya, tapi meski begitu dia juga punya dendam pada GoG yg ada di balik kematian Hinata.
Naruto Dream End...
"Kenapa aku memimpikan hal seperti itu." Membuka matanya, Naruto dapat melihat disana ada Akeno, Sona, Maki dan Naruko yg memandanganya dengan tatapan khawatir.
"Onii-chan tidak apa-apa?"
"Tidak apa-apa. Kau sudah menceritakan semua pada mereka bukan, Naruko?"
"Bagaiamana Onii-chan tahu?"
"Sebenarnya aku juga memimpikan hal itu jadi kupikir aku juga mengigaukannya."
"Benar Naruto-kun. Naruko sudah menceritakan semuanya pada kami."
"Lalu apa tanggapanmu Sona? Uzumaki Naruto hanyalah seorang sampah yg tidak bisa melupakan masa lalunya dan tidak pantas menyandang gelar Einstein, sekarang aku Namikaze Naruto bukan Uzumaki lagi."
"Kau tidak seperti Naruto yg aku kenal. Uzumaki maupun Namikaze bagiku kau sama tetap Naruto-kun." Kata Maki lalu memeluk Naruto di sebelah kanan.
"Meski Maki mengatakan hal yg benar, tetap saja dia mencuri kesempatan." Lalu Akeno yg tak mau kalah ikut memeluk Naruto sebelah kiri.
"Naruko tidak mau berpisah dengan Onii-chan!" Iku memperburuk suasana, Naruko juga ikut memeluk Naruto dengan menaiki ranjangnya.
Sementara itu satu-satunya anggota yg belum memeluk Naruto disana terlihat sedang memikirkan sesuatu.
'Naruko dan dadanya mengambil 2/5 bagian, Akeno dan dadanya mengambil 2/5 bagian, Maki dan dadanya yg menyedihkan mengambil 1/5 bagian, sekarang 270 derajat sudah terisi.'
"Naruto-kun!"
"Ada apa So..."
Cup! Sona mencium Naruto tepat di pipinya.
"...na?"
"KAU CURANG!"
~.~.~.~
A/N: nyahaha... Rias udah pulang dulu jadi gak bisa ikut. Sebenarnya apa yg saya tulis diatas tentang jari saya itu memang benar, kelingking dan jempol suka sakit saat ngetik di hp. Mungkin posisinya tangan aja yg salah gegara hp author juga cuman Low-End jadi gak terlalu besar.
Buat yg suka review: OK NEXT, NEXT, LANJUT dsj saya harap untuk tidak mereview seperti itu lag, bukannya melarang sih tapi saya mohon pengertiannya sajai. Alasannya? Karena jujur saja saya merasa tertekan setelah membaca review seperti itu dan juga tolong mengerti kalau menulis fic ini sangat susah karena saya harus menyusunnya supaya tidak tumpang tindih ceritanya.
Baiklah karena ada yg review seperti yg diatas pas suasana hati saya kacau maka fic ini saya nyatakan HIATUS dengan alasan author yg tertekan sehingga menghambat saya dalam menulis. Bisa jadi saya telantarin sih tapi ya...
Q: Setelah Pythagoras kalah pairnya jadi harem?
A: Pythagoras gak akan kalah tapi mati, kan dia udah bilang gak akan nantang Naruto duel game.
Soal umur saya akan jujur saja 14 tahun menuju 15 tengah tahun nanti. Dah gitu aja biar gak jadi perdebatan. Btw angka yg paling banyak dipilih oleh orang jika disuruh memilih antara 1-100 adalah angka 7. 7x2= 14. -_-
Nano, Log Out
